ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving image) serta kemampuan sutradara mengolah kisah menjadi sajian visual yang memikat turut mendukung hal tersebut. Film ini berfokus pada tahapan kreasi seniman, mulai dari pencarian ide, latihan, hingga persiapan teknis menjelang pementasan. Seluruhnya menjadi bagian dari perjalanan panjang penciptaan karya seni.
Kisah tersebut terekam dalam film dokumenter pergelaran karya seni intermedium Huni Hana Jnana, karya para dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Film ini merekam proses persiapan hingga pelaksanaan pertunjukan diseminasi karya seni intermedium tersebut, yang merupakan bagian dari hasil Program Penciptaan Dosen Seni dan Desain (P2DSD) II Tahun 2026.
Film dokumenter seni pertunjukan ini merupakan karya penciptaan berbasis hibah dari Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP2MP) ISI Bali. Tim peneliti diketuai oleh Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa, S.Sn., M.Sn., dengan anggota Gede Basuyoga Prabhawita, S.Sn., M.Sm., dan I Wayan Agus Mahardika, S.Kom., M.Sn. Film berdurasi sekitar delapan menit, dengan teaser satu menit, tersebut telah tayang di kanal YouTube.

Film dokumenter seni (art documentary) ini tidak hanya menampilkan hasil akhir pertunjukan, tetapi juga menangkap esensi latihan, persiapan di balik layar, konsep kreatif seniman, hingga interaksi dengan penonton. Melalui karya ini, film tidak sekadar berfungsi sebagai alat perekam statis, tetapi juga hadir sebagai karya seni baru yang mengungkap dan menafsirkan esensi karya seni lainnya.
“Penciptaan Film Dokumenter Pergelaran Karya Seni Intermedium ‘Huni Hana Jnana’ merupakan sebuah film dokumenter yang mengangkat Cipta Pergelaran Seni Intermedium ‘Huni, Hana, Jnana’,” kata Ketua Tim, Desak Putu Yogi, di sela-sela acara diseminasi dalam rangkaian Setanggi Puspa Budaya, perayaan Hari Museum Indonesia 2026 di Museum Rudana, Ubud, Senin, 19 Oktober 2026.
Cipta Pergelaran Seni Intermedium Huni, Hana, Jnana mengintegrasikan berbagai medium, yakni tari, musik, seni rupa, dan teknologi digital, ke dalam satu kesatuan pertunjukan yang kolaboratif sekaligus eksperimental. Dalam karya ini, tubuh ditempatkan sebagai pusat pengalaman artistik sekaligus ruang representasi yang memediasi hubungan manusia dengan lingkungannya.
Pergelaran Seni Intermedium Huni, Hana, Jnana digarap melalui tiga bagian yang kemudian dipadukan menjadi satu sajian seni yang utuh. Bagian HUNI diteliti oleh Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si., yang bertindak sebagai ketua peneliti HUNI. Bagian HANA dipimpin oleh Dr. I Wayan Budiarsa, S.Sn., M.Si., sedangkan bagian JNANA diketuai oleh Guntur Eko Prasetyo, S.Pd., M.Sn.

“Cipta Pergelaran Seni Intermedium ‘Huni, Hana, Jnana’ ini menjadi menarik untuk diangkat ke dalam film dokumenter sebagai bentuk dokumentasi proses penciptaan kreatif yang terjadi di balik layar pergelaran,” jelas Desak Putu Yogi.
Dengan merekam proses kreatif para seniman dalam menyiapkan karya untuk ditampilkan di atas panggung, film ini menawarkan nilai edukasi sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah pertunjukan diwujudkan. Penonton diajak melihat bahwa pertunjukan yang megah tidak tercipta secara instan. Salah satu contohnya ialah pencarian gerak yang sesuai dengan tema, yang melalui pengulangan dan penyesuaian hingga ditemukan bentuk yang tepat.
Film ini memperlihatkan kerja keras, disiplin, dan latihan panjang yang membentuk sebuah pertunjukan. Rekaman tersebut memberikan gambaran mengenai metodologi berkesenian sekaligus memperluas apresiasi terhadap profesi di balik layar, seperti sutradara, penata panggung, penata cahaya, dan kru. Sebagai contoh, ketika tari bernuansa Jawa dipadukan dengan iringan gamelan bernuansa tradisional Bali, dibutuhkan pemikiran dan kreativitas untuk menemukan harmonisasi yang tepat di atas panggung.

Jika dalam pementasan penonton biasanya hanya menyaksikan hasil akhir, film ini justru memperlihatkan tahapan yang mengantarkan pertunjukan tersebut ke panggung. Jauh sebelum pementasan berlangsung, ada perdebatan gagasan, pencarian solusi estetika, dan kolaborasi antarseniman yang turut menentukan bentuk akhir karya. Melalui dokumentasi ini, proses penciptaan memperoleh tempat yang penting, setara dengan pertunjukan yang akhirnya disaksikan penonton.
Selain merekam proses kreatif, film ini juga berfungsi sebagai arsip budaya dan sejarah. Gagasan, emosi, serta teknik yang digunakan para seniman pada zamannya dapat dipelajari oleh generasi mendatang. Berbeda dengan seni panggung yang berlangsung dalam waktu terbatas dan berakhir ketika pementasan usai, dokumentasi film memungkinkan proses penciptaan tersebut ditinjau kembali.
Penggarapan film ini turut merekam sisi manusiawi para seniman, mulai dari rasa lelah, kecemasan, dan frustrasi ketika menghadapi kendala hingga kebahagiaan saat suatu adegan berhasil diwujudkan. Rekaman tersebut membangun kedekatan emosional atau empati antara penonton dan seniman, sehingga perjalanan penciptaan karya dapat dipahami bukan hanya melalui hasil visual, tetapi juga melalui pengalaman orang-orang yang terlibat di dalamnya.


Menurut Desak Putu Yogi, konsep intermedium yang diangkat dalam pergelaran ini menarik untuk dipaparkan melalui karya dokumenter karena menawarkan nilai kebaruan (novelty) yang dapat memperkaya pengetahuan dan pengalaman penonton.
Sementara itu, orisinalitas karya diwujudkan melalui transformasi hasil penelitian lapangan ke dalam film dokumenter bergaya eksposisi. Film ini memadukan visualisasi dan narasi untuk menggambarkan proses penciptaan karya dalam Cipta Pergelaran Seni Intermedium Huni, Hana, Jnana.
“Kebaruan (novelty) penciptaan ini terletak pada bagaimana film dokumenter menggambarkan proses penciptaan karya Seni Intermedium ‘Huni, Hana, Jnana’ secara eksploratif, kolaboratif, dan berbasis riset,” pungkas Desak Putu Yogi.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























