BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan bekerja, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan kata, ungkapan, dan metafora. Melalui pengamatan terhadap lingkungan sekitarnya, masyarakat membangun hubungan antara benda yang satu dengan benda lainnya. Sesuatu yang dianggap memiliki kemiripan bentuk, warna, sifat, atau perilaku kemudian digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang berbeda. Di sinilah metafora bekerja, bukan sekadar sebagai permainan kata, melainkan sebagai cara manusia memahami realitas.
Salah satu fenomena menarik dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat petani kopi di Desa Pucaksari. Busungbiu, Buleleng, Bali khususnya penggunaan ungkapan mematan yuyu (mata ketam) untuk menggambarkan buah kopi pada fase pertumbuhan tertentu (sebesar mata yuyu). Ungkapan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menggunakan bagian tubuh hewan sebagai sumber perbandingan untuk menjelaskan karakteristik buah tanaman. Buah kopi yang sedang diamati tidak semata-mata disebut berdasarkan nama biologisnya, tetapi dipahami melalui kemiripan visual dengan mata ketam.
Mengapa masyarakat menggunakan istilah mematan yuyu, bukan istilah lain? Apa yang membuat mata ketam menjadi referensi untuk menggambarkan buah kopi? Pertanyaan ini menarik karena di balik sebuah metafora sederhana terdapat proses kognitif, pengalaman ekologis, dan pengetahuan lokal yang diwariskan melalui praktik kehidupan sehari-hari.
Alam sebagai Sumber Metafora
Dalam kehidupan masyarakat petani, bahasa tumbuh dari pengalaman langsung dengan alam. Petani tidak hanya mengenal tanaman melalui nama dan klasifikasi biologis, tetapi juga melalui perubahan bentuk, warna, tekstur, dan kondisi pertumbuhannya. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui pengamatan yang berulang dan pengalaman bekerja di kebun.
Ketika masyarakat menggunakan ungkapan mematan yuyu, mereka sedang melakukan proses kategorisasi berdasarkan kemiripan visual. Mata ketam menjadi ranah sumber (source domain), sedangkan buah kopi menjadi ranah sasaran (target domain). Karakteristik visual mata ketam diproyeksikan untuk membantu menjelaskan karakteristik buah kopi. Dalam perspektif semantik kognitif, proses ini dapat dijelaskan melalui teori metafora konseptual George Lakoff dan Mark Johnson. Keduanya menjelaskan bahwa metafora bukan hanya perangkat retorika, tetapi juga bagian dari sistem berpikir manusia. Manusia memahami sesuatu yang relatif sulit dijelaskan melalui pengalaman yang lebih konkret dan dekat dengan kehidupannya.
Mata ketam merupakan objek yang dikenal masyarakat melalui pengalaman sehari-hari, sedangkan perubahan bentuk buah kopi menjadi objek yang diamati. Kemiripan keduanya memungkinkan terbentuknya hubungan konseptual yang kemudian diwujudkan dalam ungkapan mematan yuyu.
Dengan demikian, metafora tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang tanaman tidak selalu dibangun melalui terminologi ilmiah. Pengetahuan itu juga berkembang melalui pengamatan ekologis dan pengalaman empiris yang kemudian dikodekan ke dalam bahasa.
Mematan Yuyu dan Kecerdasan Ekologis Petani
Ungkapan mematan yuyu juga dapat dibaca sebagai representasi kecerdasan ekologis masyarakat petani. Seorang petani kopi tidak hanya memahami tanaman berdasarkan waktu tanam dan waktu panen. Ia juga mengenali tahapan pertumbuhan melalui perubahan morfologi buah.Perubahan tersebut diamati secara terus-menerus. Dari buah yang masih kecil, berkembang, mengalami perubahan warna, hingga mencapai kematangan. Dalam proses itu, masyarakat menciptakan istilah berdasarkan karakteristik yang dianggap paling menonjol.
Metafora mematan yuyu menunjukkan bahwa tubuh hewan dapat menjadi referensi untuk memahami bagian atau bentuk tumbuhan. Hubungan antara dunia fauna dan flora hadir dalam sistem pengetahuan masyarakat melalui bahasa.Fenomena ini mengingatkan kita bahwa lingkungan alam bukan hanya sumber penghidupan ekonomi, tetapi juga sumber pembentukan pengetahuan dan kebudayaan. Kebun kopi, misalnya, tidak hanya menghasilkan buah yang dapat dijual, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang membentuk kosakata lokal.
Dalam perspektif ekolinguistik, hubungan tersebut menarik karena bahasa merekam interaksi manusia dengan lingkungan ekologisnya. Kosakata dan metafora yang berkembang dalam masyarakat petani dapat menjadi jejak bagaimana manusia mengamati, mengategorikan, dan memberi makna terhadap alam.
Metafora sebagai Warisan Pengetahuan Lokal
Persoalan yang perlu diperhatikan adalah apakah ungkapan mematan yuyu masih dikenal oleh generasi muda atau hanya digunakan oleh petani yang telah lama menggeluti perkebunan kopi. Jika ungkapan tersebut semakin jarang digunakan, kita tidak hanya berhadapan dengan kemungkinan hilangnya sebuah istilah lokal. Kita juga berhadapan dengan penyusutan pengetahuan ekologis yang tersimpan di dalamnya.
Generasi muda mungkin mengenal buah kopi melalui istilah yang lebih umum atau penjelasan berdasarkan ilmu pertanian. Pengetahuan tersebut tentu penting, tetapi pengalaman dan metafora lokal juga memiliki nilai tersendiri. Keduanya dapat saling melengkapi. Di sinilah dokumentasi bahasa lokal menjadi penting. Ungkapan seperti mematan yuyu perlu dicatat bersama konteks penggunaannya, bentuk buah yang dirujuk, penjelasan penutur, serta wilayah tempat ungkapan tersebut digunakan. Dokumentasi semacam ini dapat memperlihatkan bahwa bahasa masyarakat petani memiliki sistem pengetahuan yang kaya dan tidak dapat dipandang sebagai sekadar bahasa komunikasi sehari-hari.
Bahasa, Alam, dan Cara Masyarakat Memahami Dunia
Pada akhirnya, mematan yuyu memperlihatkan bahwa metafora lahir dari kedekatan manusia dengan lingkungan. Masyarakat tidak membutuhkan istilah yang rumit untuk menjelaskan sesuatu yang mereka lihat. Mereka cukup mengambil objek yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, kemudian menggunakannya sebagai pembanding.
Mata ketam menjadi cara untuk membaca buah kopi. Seekor hewan kecil menjadi sumber inspirasi dalam memahami pertumbuhan tanaman yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa bahasa bekerja melalui pengalaman, pengamatan, dan kreativitas kognitif penuturnya.
Kita sering menganggap metafora sebagai hiasan bahasa yang digunakan penyair atau penulis sastra. Padahal, metafora justru banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat biasa, terutama mereka yang memiliki hubungan intens dengan alam. Petani, nelayan, dan masyarakat adat sering menggunakan metafora untuk mengungkapkan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman panjang.
Karena itu, ungkapan mematan yuyu tidak seharusnya dipandang sebagai istilah sederhana yang hanya menggambarkan kemiripan bentuk. Di dalamnya tersimpan cara masyarakat Bali membaca alam, membangun pengetahuan, dan mewariskan pengalaman melalui bahasa.
Sebuah mata ketam mungkin hanya bagian kecil dari tubuh seekor hewan. Namun, bagi masyarakat petani kopi di Desa Pucaksari, bagian kecil itu dapat menjadi jendela untuk memahami perubahan pada buah kopi. Di sinilah keistimewaan bahasa lokal: alam tidak hanya dilihat, tetapi juga ditafsirkan; tidak hanya diamati, tetapi diberi makna melalui kata-kata.[T]



























