DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional. Mereka mencari kontributor untuk wilayah Bali dan Surabaya. Syaratnya cukup akrab bagi saya, memiliki pengalaman liputan minimal satu tahun, berdomisili di wilayah terkait, mempunyai jejaring narasumber, memahami kaidah jurnalistik, dan mampu menulis feature.
Saya berhenti cukup lama pada pengumuman itu. Bukan karena baru pertama kali melihat lowongan pekerjaan, melainkan karena ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tidak tercantum batas usia maksimal. Saya membaca pengumuman itu sekali lagi, kemudian berpikir bahwa mungkin ini kesempatan yang layak dicoba.
Melamar pekerjaan pada usia 42 tahun mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Di Indonesia, kita cukup sering menemukan lowongan pekerjaan dengan batas usia 25, 27, 30, bahkan 35 tahun. Seolah-olah setelah melewati angka tertentu, seseorang dianggap semakin jauh dari usia produktif.
Padahal manusia tidak tiba-tiba kehilangan kemampuan bekerja ketika melewati usia 35 tahun. Tidak ada alarm yang berbunyi pada ulang tahun ke-36 dan mengatakan seseorang sudah tidak kreatif, tidak bisa belajar, atau tidak mampu mengikuti perubahan. Namun dalam pasar kerja, angka usia sering berbicara lebih dahulu sebelum kemampuan seseorang sempat diperiksa.
Persoalan ini bahkan mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Ketenagakerjaan menerbitkan Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/V/2025 tentang Larangan Diskriminasi dalam Proses Rekrutmen Tenaga Kerja. Aturan tersebut menegaskan larangan diskriminasi dalam proses rekrutmen dan mengatur penggunaan persyaratan usia dalam kondisi tertentu yang berkaitan dengan karakteristik pekerjaan.
Di negara lain, persoalan usia dalam pekerjaan juga mendapat perhatian. Amerika Serikat memberikan perlindungan bagi pekerja dan pelamar berusia 40 tahun ke atas dari diskriminasi usia dalam berbagai aspek pekerjaan. Jepang juga pada prinsipnya melarang pembatasan usia dalam proses perekrutan, dengan sejumlah pengecualian.
Saya tidak sedang mengatakan Indonesia harus meniru negara lain. Setiap negara mempunyai sistem hukum dan kultur kerja yang berbeda. Namun perbandingan tersebut membuat saya bertanya, mengapa usia begitu cepat dijadikan ukuran kemampuan seseorang?
Saya akhirnya mengirimkan lamaran. CV saya sertakan bersama portofolio tulisan. Ada pengalaman sebagai wartawan, berita, feature, wawancara, esai, dan berbagai pekerjaan jurnalistik yang saya lakukan selama bertahun-tahun. Bagi seorang penulis, portofolio sebenarnya merupakan riwayat hidup dalam bentuk yang lebih nyata.
CV dapat mengatakan bahwa saya berpengalaman. Portofolio menunjukkan apakah pengalaman itu benar-benar menghasilkan pekerjaan. Orang bisa menulis mampu membuat feature, memahami jurnalistik, dan memiliki pengalaman liputan. Namun kemampuan tersebut akhirnya dapat dinilai dari tulisan yang pernah dibuat.
Saya cukup percaya diri mengirimkan lamaran itu. Bukan karena merasa paling hebat dibandingkan pelamar lain. Saya hanya merasa mempunyai pengalaman yang sesuai. Jika sebuah media membutuhkan orang yang mengenal Bali, mempunyai jejaring narasumber, memahami persoalan daerah, dan mampu menulis feature, saya merasa mempunyai modal untuk mencobanya.
Tidak menunggu lama, kemarin saya mendapat email dari perusahaan media tersebut. Isinya undangan interview secara online. Astungkara. Alhamdulillah. Saya membaca email itu beberapa kali dan merasakan kegembiraan sederhana yang mungkin hanya dipahami oleh orang yang sudah cukup lama bekerja sendiri.
Saya belum tahu bagaimana hasil wawancara nanti. Saya juga tidak menganggap undangan tersebut sebagai tanda bahwa saya pasti diterima. Tetapi setidaknya CV dan portofolio saya telah dibaca. Ada kesempatan untuk berbicara. Bagi saya, itu sendiri sudah merupakan bentuk kepercayaan.
Di sinilah saya kembali memikirkan usia. Barangkali 42 tahun bukan usia yang tepat untuk memulai dari nol. Tetapi saya memang tidak sedang memulai dari nol. Saya membawa pengalaman, kesalahan, kegagalan, pengetahuan lapangan, jaringan, dan berbagai tulisan yang telah saya hasilkan.
Saya membawa ingatan tentang mengejar narasumber, menunggu jawaban melalui telepon, melakukan wawancara, mencari dokumen, memeriksa informasi, menyusun berita, mencari judul, dan menerima tulisan yang harus diperbaiki. Semua itu tidak terlihat dalam angka 42 yang tercantum di identitas saya.
Karena itu, saya tidak sedang mengajukan diri sebagai anak muda yang baru ingin belajar jurnalistik. Saya mengajukan diri sebagai wartawan yang masih ingin bekerja. Pengalaman tidak membuat seseorang otomatis lebih baik, tetapi pengalaman tetap mempunyai nilai.
Berkebalikan dengan apa yang pernah saya tulis dalam sebuah esai tentang pilihan kenyamanan menjadi wartawan lepas, saat ini saya membutuhkan penghasilan yang lebih stabil. Dulu, menjadi wartawan lepas bagi saya adalah bentuk kebebasan. Saya bisa mengatur waktu, memilih pekerjaan, melakukan liputan, lalu kembali ke kamar kos untuk menulis.
Kebebasan itu menyenangkan, tetapi mempunyai harga. Ketidakpastian penghasilan adalah salah satunya. Bulan ini ada pekerjaan, bulan berikutnya belum tentu. Hari ini tulisan dimuat, besok belum tentu ada honor. Ketika masih lebih muda, ketidakpastian seperti itu terasa sebagai bagian dari petualangan.
Sekarang saya melihatnya berbeda. Saya mulai memikirkan keberlanjutan dan kebutuhan hidup. Menjadi kontributor media nasional terasa cukup masuk akal karena saya masih dapat bekerja dari Bali, melakukan liputan ketika dibutuhkan, mencari narasumber, dan menulis dari kamar kos tanpa harus setiap hari pergi ke kantor.
Saya tidak sedang ingin meninggalkan dunia jurnalistik. Saya hanya mencari ruang yang memungkinkan pengalaman lama digunakan dengan cara yang lebih teratur. Mungkin perubahan karier tidak selalu berarti mengganti profesi. Kadang kita hanya perlu menemukan tempat baru untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah kita kenal.
Ada persoalan lain yang menarik ketika membicarakan usia, yaitu hubungan antara pekerja tua dan pekerja muda. Pekerja berusia 40-an sering dianggap terlalu tua untuk memulai pekerjaan baru. Sebaliknya, pekerja muda sering dicap mudah berpindah, tidak tahan tekanan, terlalu mengutamakan kenyamanan, dan kurang loyal.
Saya cukup sering mendengar kalimat semacam itu. Anak muda dianggap sedikit-sedikit resign. Baru beberapa bulan bekerja sudah mencari tempat lain. Mendapat tekanan sedikit langsung tidak betah. Tetapi saya kira kita perlu berhati-hati dengan kesimpulan semacam itu.
Tidak semua pekerja muda mempunyai sikap yang sama. Keputusan berpindah pekerjaan dipengaruhi banyak hal, mulai dari penghasilan, lingkungan kerja, kesempatan berkembang, jarak, kebutuhan keluarga, hingga keseimbangan kehidupan. Kita tidak selalu mengetahui cerita seseorang hanya dengan melihat bahwa ia berpindah perusahaan.
Generasi muda memasuki dunia kerja yang berbeda dari dunia kerja yang saya kenal. Mereka hidup bersama teknologi yang berubah cepat, pekerjaan digital, kerja jarak jauh, kecerdasan buatan, dan pilihan karier yang semakin beragam. Cara mereka memandang pekerjaan tentu bisa berbeda dari generasi saya.
Generasi saya cukup akrab dengan kalimat, namanya juga kerja. Kalau pekerjaan berat, dijalani. Kalau atasan marah, diam. Kalau pulang malam, dianggap biasa. Kalau honor terlambat, ditunggu. Kalau tidak nyaman, kita diminta bersabar.
Ada kebanggaan tertentu dalam kemampuan bertahan. Tetapi generasi berikutnya tidak harus mengulang semua pengalaman tersebut. Setiap generasi berhak memperbaiki cara memandang pekerjaan. Bertahan bisa menjadi kekuatan, tetapi tidak semua penderitaan perlu diwariskan sebagai ukuran loyalitas.
Saya kemudian melihat diri sendiri. Usia 42 tahun. Saya bukan pekerja muda, tetapi juga belum ingin dianggap selesai. Saya masih membaca, belajar, menulis, mengikuti perubahan media, mencoba memahami teknologi baru, membuka lowongan pekerjaan, mengirim CV, dan menunggu email.
Bagi saya, mengirim CV pada usia 42 tahun adalah pernyataan sederhana bahwa saya masih percaya mempunyai sesuatu yang berguna. Saya masih ingin bekerja. Masih ingin menulis. Masih ingin melakukan liputan. Masih ingin bertemu orang dan mendengarkan cerita mereka.
Dalam jurnalistik, pengalaman merupakan modal. Wartawan yang sudah lama bekerja mungkin mengetahui siapa yang perlu dihubungi, bagaimana mencari narasumber, membaca situasi wawancara, dan memahami konteks sebuah persoalan. Sebagian pengetahuan itu tidak bisa diperoleh hanya dari buku.
Pengalaman juga mengubah cara seseorang melihat berita. Ketika masih muda, saya mungkin lebih tertarik pada peristiwa besar dan pernyataan tokoh. Semakin lama bekerja, saya justru lebih tertarik pada hal-hal kecil, percakapan di warung, pedagang yang mengeluh, pekerja yang pulang malam, atau seseorang yang hidupnya tidak pernah masuk berita.
Mungkin usia membuat kita lebih sabar. Kita tidak lagi merasa harus selalu menjadi orang pertama yang berbicara. Kita belajar mendengarkan. Dan bagi wartawan, kemampuan mendengarkan sering kali sama pentingnya dengan kemampuan menulis.
Karena itu, ketika mengirim lamaran, saya merasa tidak hanya mengirim CV. Saya seperti mengirim sebagian perjalanan hidup. Setiap tulisan, wawancara, liputan, kesalahan, dan pengalaman menjadi bagian dari dokumen yang sekarang harus dinilai oleh orang lain.
Malam sebelum wawancara, saya membuka kembali CV yang saya kirim. Di sana bertahun-tahun kehidupan jurnalistik hanya menjadi beberapa halaman. Nama media, pengalaman kerja, pendidikan, keterampilan, dan portofolio. Begitulah CV bekerja, memadatkan kehidupan seseorang menjadi dokumen singkat.
Tidak ada kolom untuk kegagalan. Tidak ada ruang untuk menceritakan tulisan yang ditolak, narasumber yang tidak menjawab, pekerjaan yang batal, atau malam-malam panjang di depan laptop. Semua itu hanya tersimpan dalam ingatan.
Saya kemudian membaca beberapa tulisan lama. Ada yang masih saya sukai. Ada pula yang membuat saya ingin mengeditnya dari awal. Tetapi saya tidak menyesal pernah menulis semuanya. Setiap tulisan adalah tanda bahwa pada suatu waktu saya pernah mencoba memahami sesuatu.
Mungkin itu pula alasan saya masih bertahan sebagai wartawan. Saya senang bertemu orang, mendengarkan cerita, menemukan persoalan kecil, lalu mencari sudut pandang yang mungkin belum terlihat. Pekerjaan ini memang tidak selalu menghasilkan uang besar, tetapi selalu memberi kesempatan untuk melihat kehidupan dari jarak dekat.
Sekarang saya ingin membawa pengalaman tersebut ke ruang yang lebih stabil. Saya tidak tahu apakah menjadi kontributor media nasional akan mengubah kehidupan saya secara drastis. Mungkin tidak. Tetap ada tenggat, target, editor, revisi, dan tulisan yang harus diperbaiki.
Tetapi saya justru merindukan sebagian dari proses tersebut. Saya merindukan percakapan dengan editor, perdebatan kecil tentang judul, dan perasaan ketika tulisan yang dikerjakan berjam-jam akhirnya terbit. Sebagai pekerja lepas, kebebasan memang menyenangkan, tetapi terlalu lama bekerja sendirian juga bisa terasa sepi.
Karena itu, kesempatan menjadi kontributor bagi saya bukan semata-mata soal penghasilan. Ada kebutuhan untuk kembali merasa menjadi bagian dari kerja jurnalistik bersama orang lain. Saya membayangkan mendapat pesan dari editor, sebuah isu di Bali perlu diliput, kemudian saya mencari narasumber, pergi ke lapangan, mencatat, dan kembali menulis.
Rutinitas itu sebenarnya tidak asing. Yang berbeda mungkin sistem kerjanya. Saya sedang mencari titik tengah antara kebebasan sebagai pekerja lepas dan kepastian yang saya butuhkan sekarang.
Saya tidak ingin melawan usia. Saya juga tidak ingin berpura-pura masih berusia 25 tahun. Saya berusia 42 tahun dan menerima itu. Saya hanya ingin bekerja dengan apa yang saya miliki sekarang, termasuk pengalaman, keterbatasan, dan semua hal yang telah saya lewati.
Mungkin itulah yang membuat saya berani mengirim lamaran. Saya tidak lagi merasa harus membuat semua keputusan terlihat mengesankan di mata orang lain. Saya hanya ingin pekerjaan yang masuk akal, bisa saya lakukan dengan baik, memberi penghasilan, dan memungkinkan saya tetap menulis.
Setelah semua itu saya pikirkan, saya kembali melihat email undangan interview di layar laptop. Saya menarik napas. Saya bisa mempersiapkan diri, tetapi tidak bisa menentukan hasilnya. Saya bisa menjelaskan pengalaman, tetapi keputusan tetap berada di tangan orang lain.
Yang bisa saya lakukan hanyalah datang, menjawab pertanyaan sejujur mungkin, dan menunjukkan bahwa saya masih mempunyai keinginan untuk bekerja. Setelah itu, biarlah keputusan berjalan sebagaimana mestinya.
Sebab pada akhirnya, melamar pekerjaan bukan hanya tentang diterima atau ditolak. Bagi saya, ada keberanian kecil ketika seseorang berusia 42 tahun masih bersedia mengirimkan CV dan mengatakan kepada sebuah perusahaan bahwa dirinya masih ingin bekerja.
Saya teringat lagi pada pengumuman lowongan tersebut. Bali, kontributor penulis, pengalaman jurnalistik, jejaring narasumber, dan kemampuan membuat feature. Tidak ada batas usia maksimal.
Saya membaca kalimat itu lalu mengirim CV. Bukan sebagai anak muda yang sedang mencari masa depan, melainkan sebagai seseorang yang telah melewati cukup banyak masa lalu dan masih ingin mempunyai masa depan.
Barangkali melamar kerja pada usia 42 tahun bukan tentang mengejar kembali masa muda. Ini tentang meyakini bahwa kehidupan kerja belum selesai hanya karena usia bertambah.
Tidak semua pintu akan terbuka. Tidak semua lamaran akan diterima. Tidak semua wawancara berakhir dengan pekerjaan. Tetapi selama saya masih mampu menulis, belajar, bekerja, dan mencoba, saya kira saya masih mempunyai alasan untuk mengetuk.
Dan untuk sementara, saya akan menunggu. Seperti seorang wartawan menunggu jawaban narasumber, saya tidak tahu apa yang akan datang. Tetapi saya tahu satu hal, saya sudah mengetuk sebuah pintu. Sekarang tinggal menunggu apakah dari balik pintu itu ada seseorang yang menjawab.[T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole






























