28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 27, 2026
in Esai
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

Ilustrasi Canva

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional. Mereka mencari kontributor untuk wilayah Bali dan Surabaya. Syaratnya cukup akrab bagi saya, memiliki pengalaman liputan minimal satu tahun, berdomisili di wilayah terkait, mempunyai jejaring narasumber, memahami kaidah jurnalistik, dan mampu menulis feature.

Saya berhenti cukup lama pada pengumuman itu. Bukan karena baru pertama kali melihat lowongan pekerjaan, melainkan karena ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tidak tercantum batas usia maksimal. Saya membaca pengumuman itu sekali lagi, kemudian berpikir bahwa mungkin ini kesempatan yang layak dicoba.

Melamar pekerjaan pada usia 42 tahun mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Di Indonesia, kita cukup sering menemukan lowongan pekerjaan dengan batas usia 25, 27, 30, bahkan 35 tahun. Seolah-olah setelah melewati angka tertentu, seseorang dianggap semakin jauh dari usia produktif.

Padahal manusia tidak tiba-tiba kehilangan kemampuan bekerja ketika melewati usia 35 tahun. Tidak ada alarm yang berbunyi pada ulang tahun ke-36 dan mengatakan seseorang sudah tidak kreatif, tidak bisa belajar, atau tidak mampu mengikuti perubahan. Namun dalam pasar kerja, angka usia sering berbicara lebih dahulu sebelum kemampuan seseorang sempat diperiksa.

Persoalan ini bahkan mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Ketenagakerjaan menerbitkan Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/V/2025 tentang Larangan Diskriminasi dalam Proses Rekrutmen Tenaga Kerja. Aturan tersebut menegaskan larangan diskriminasi dalam proses rekrutmen dan mengatur penggunaan persyaratan usia dalam kondisi tertentu yang berkaitan dengan karakteristik pekerjaan.

Di negara lain, persoalan usia dalam pekerjaan juga mendapat perhatian. Amerika Serikat memberikan perlindungan bagi pekerja dan pelamar berusia 40 tahun ke atas dari diskriminasi usia dalam berbagai aspek pekerjaan. Jepang juga pada prinsipnya melarang pembatasan usia dalam proses perekrutan, dengan sejumlah pengecualian.

Saya tidak sedang mengatakan Indonesia harus meniru negara lain. Setiap negara mempunyai sistem hukum dan kultur kerja yang berbeda. Namun perbandingan tersebut membuat saya bertanya, mengapa usia begitu cepat dijadikan ukuran kemampuan seseorang?

Saya akhirnya mengirimkan lamaran. CV saya sertakan bersama portofolio tulisan. Ada pengalaman sebagai wartawan, berita, feature, wawancara, esai, dan berbagai pekerjaan jurnalistik yang saya lakukan selama bertahun-tahun. Bagi seorang penulis, portofolio sebenarnya merupakan riwayat hidup dalam bentuk yang lebih nyata.

CV dapat mengatakan bahwa saya berpengalaman. Portofolio menunjukkan apakah pengalaman itu benar-benar menghasilkan pekerjaan. Orang bisa menulis mampu membuat feature, memahami jurnalistik, dan memiliki pengalaman liputan. Namun kemampuan tersebut akhirnya dapat dinilai dari tulisan yang pernah dibuat.

Saya cukup percaya diri mengirimkan lamaran itu. Bukan karena merasa paling hebat dibandingkan pelamar lain. Saya hanya merasa mempunyai pengalaman yang sesuai. Jika sebuah media membutuhkan orang yang mengenal Bali, mempunyai jejaring narasumber, memahami persoalan daerah, dan mampu menulis feature, saya merasa mempunyai modal untuk mencobanya.

Tidak menunggu lama, kemarin saya mendapat email dari perusahaan media tersebut. Isinya undangan interview secara online. Astungkara. Alhamdulillah. Saya membaca email itu beberapa kali dan merasakan kegembiraan sederhana yang mungkin hanya dipahami oleh orang yang sudah cukup lama bekerja sendiri.

Saya belum tahu bagaimana hasil wawancara nanti. Saya juga tidak menganggap undangan tersebut sebagai tanda bahwa saya pasti diterima. Tetapi setidaknya CV dan portofolio saya telah dibaca. Ada kesempatan untuk berbicara. Bagi saya, itu sendiri sudah merupakan bentuk kepercayaan.

Di sinilah saya kembali memikirkan usia. Barangkali 42 tahun bukan usia yang tepat untuk memulai dari nol. Tetapi saya memang tidak sedang memulai dari nol. Saya membawa pengalaman, kesalahan, kegagalan, pengetahuan lapangan, jaringan, dan berbagai tulisan yang telah saya hasilkan.

Saya membawa ingatan tentang mengejar narasumber, menunggu jawaban melalui telepon, melakukan wawancara, mencari dokumen, memeriksa informasi, menyusun berita, mencari judul, dan menerima tulisan yang harus diperbaiki. Semua itu tidak terlihat dalam angka 42 yang tercantum di identitas saya.

Karena itu, saya tidak sedang mengajukan diri sebagai anak muda yang baru ingin belajar jurnalistik. Saya mengajukan diri sebagai wartawan yang masih ingin bekerja. Pengalaman tidak membuat seseorang otomatis lebih baik, tetapi pengalaman tetap mempunyai nilai.

Berkebalikan dengan apa yang pernah saya tulis dalam sebuah esai tentang pilihan kenyamanan menjadi wartawan lepas, saat ini saya membutuhkan penghasilan yang lebih stabil. Dulu, menjadi wartawan lepas bagi saya adalah bentuk kebebasan. Saya bisa mengatur waktu, memilih pekerjaan, melakukan liputan, lalu kembali ke kamar kos untuk menulis.

Kebebasan itu menyenangkan, tetapi mempunyai harga. Ketidakpastian penghasilan adalah salah satunya. Bulan ini ada pekerjaan, bulan berikutnya belum tentu. Hari ini tulisan dimuat, besok belum tentu ada honor. Ketika masih lebih muda, ketidakpastian seperti itu terasa sebagai bagian dari petualangan.

Sekarang saya melihatnya berbeda. Saya mulai memikirkan keberlanjutan dan kebutuhan hidup. Menjadi kontributor media nasional terasa cukup masuk akal karena saya masih dapat bekerja dari Bali, melakukan liputan ketika dibutuhkan, mencari narasumber, dan menulis dari kamar kos tanpa harus setiap hari pergi ke kantor.

Saya tidak sedang ingin meninggalkan dunia jurnalistik. Saya hanya mencari ruang yang memungkinkan pengalaman lama digunakan dengan cara yang lebih teratur. Mungkin perubahan karier tidak selalu berarti mengganti profesi. Kadang kita hanya perlu menemukan tempat baru untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah kita kenal.

Ada persoalan lain yang menarik ketika membicarakan usia, yaitu hubungan antara pekerja tua dan pekerja muda. Pekerja berusia 40-an sering dianggap terlalu tua untuk memulai pekerjaan baru. Sebaliknya, pekerja muda sering dicap mudah berpindah, tidak tahan tekanan, terlalu mengutamakan kenyamanan, dan kurang loyal.

Saya cukup sering mendengar kalimat semacam itu. Anak muda dianggap sedikit-sedikit resign. Baru beberapa bulan bekerja sudah mencari tempat lain. Mendapat tekanan sedikit langsung tidak betah. Tetapi saya kira kita perlu berhati-hati dengan kesimpulan semacam itu.

Tidak semua pekerja muda mempunyai sikap yang sama. Keputusan berpindah pekerjaan dipengaruhi banyak hal, mulai dari penghasilan, lingkungan kerja, kesempatan berkembang, jarak, kebutuhan keluarga, hingga keseimbangan kehidupan. Kita tidak selalu mengetahui cerita seseorang hanya dengan melihat bahwa ia berpindah perusahaan.

Generasi muda memasuki dunia kerja yang berbeda dari dunia kerja yang saya kenal. Mereka hidup bersama teknologi yang berubah cepat, pekerjaan digital, kerja jarak jauh, kecerdasan buatan, dan pilihan karier yang semakin beragam. Cara mereka memandang pekerjaan tentu bisa berbeda dari generasi saya.

Generasi saya cukup akrab dengan kalimat, namanya juga kerja. Kalau pekerjaan berat, dijalani. Kalau atasan marah, diam. Kalau pulang malam, dianggap biasa. Kalau honor terlambat, ditunggu. Kalau tidak nyaman, kita diminta bersabar.

Ada kebanggaan tertentu dalam kemampuan bertahan. Tetapi generasi berikutnya tidak harus mengulang semua pengalaman tersebut. Setiap generasi berhak memperbaiki cara memandang pekerjaan. Bertahan bisa menjadi kekuatan, tetapi tidak semua penderitaan perlu diwariskan sebagai ukuran loyalitas.

Saya kemudian melihat diri sendiri. Usia 42 tahun. Saya bukan pekerja muda, tetapi juga belum ingin dianggap selesai. Saya masih membaca, belajar, menulis, mengikuti perubahan media, mencoba memahami teknologi baru, membuka lowongan pekerjaan, mengirim CV, dan menunggu email.

Bagi saya, mengirim CV pada usia 42 tahun adalah pernyataan sederhana bahwa saya masih percaya mempunyai sesuatu yang berguna. Saya masih ingin bekerja. Masih ingin menulis. Masih ingin melakukan liputan. Masih ingin bertemu orang dan mendengarkan cerita mereka.

Dalam jurnalistik, pengalaman merupakan modal. Wartawan yang sudah lama bekerja mungkin mengetahui siapa yang perlu dihubungi, bagaimana mencari narasumber, membaca situasi wawancara, dan memahami konteks sebuah persoalan. Sebagian pengetahuan itu tidak bisa diperoleh hanya dari buku.

Pengalaman juga mengubah cara seseorang melihat berita. Ketika masih muda, saya mungkin lebih tertarik pada peristiwa besar dan pernyataan tokoh. Semakin lama bekerja, saya justru lebih tertarik pada hal-hal kecil, percakapan di warung, pedagang yang mengeluh, pekerja yang pulang malam, atau seseorang yang hidupnya tidak pernah masuk berita.

Mungkin usia membuat kita lebih sabar. Kita tidak lagi merasa harus selalu menjadi orang pertama yang berbicara. Kita belajar mendengarkan. Dan bagi wartawan, kemampuan mendengarkan sering kali sama pentingnya dengan kemampuan menulis.

Karena itu, ketika mengirim lamaran, saya merasa tidak hanya mengirim CV. Saya seperti mengirim sebagian perjalanan hidup. Setiap tulisan, wawancara, liputan, kesalahan, dan pengalaman menjadi bagian dari dokumen yang sekarang harus dinilai oleh orang lain.

Malam sebelum wawancara, saya membuka kembali CV yang saya kirim. Di sana bertahun-tahun kehidupan jurnalistik hanya menjadi beberapa halaman. Nama media, pengalaman kerja, pendidikan, keterampilan, dan portofolio. Begitulah CV bekerja, memadatkan kehidupan seseorang menjadi dokumen singkat.

Tidak ada kolom untuk kegagalan. Tidak ada ruang untuk menceritakan tulisan yang ditolak, narasumber yang tidak menjawab, pekerjaan yang batal, atau malam-malam panjang di depan laptop. Semua itu hanya tersimpan dalam ingatan.

Saya kemudian membaca beberapa tulisan lama. Ada yang masih saya sukai. Ada pula yang membuat saya ingin mengeditnya dari awal. Tetapi saya tidak menyesal pernah menulis semuanya. Setiap tulisan adalah tanda bahwa pada suatu waktu saya pernah mencoba memahami sesuatu.

Mungkin itu pula alasan saya masih bertahan sebagai wartawan. Saya senang bertemu orang, mendengarkan cerita, menemukan persoalan kecil, lalu mencari sudut pandang yang mungkin belum terlihat. Pekerjaan ini memang tidak selalu menghasilkan uang besar, tetapi selalu memberi kesempatan untuk melihat kehidupan dari jarak dekat.

Sekarang saya ingin membawa pengalaman tersebut ke ruang yang lebih stabil. Saya tidak tahu apakah menjadi kontributor media nasional akan mengubah kehidupan saya secara drastis. Mungkin tidak. Tetap ada tenggat, target, editor, revisi, dan tulisan yang harus diperbaiki.

Tetapi saya justru merindukan sebagian dari proses tersebut. Saya merindukan percakapan dengan editor, perdebatan kecil tentang judul, dan perasaan ketika tulisan yang dikerjakan berjam-jam akhirnya terbit. Sebagai pekerja lepas, kebebasan memang menyenangkan, tetapi terlalu lama bekerja sendirian juga bisa terasa sepi.

Karena itu, kesempatan menjadi kontributor bagi saya bukan semata-mata soal penghasilan. Ada kebutuhan untuk kembali merasa menjadi bagian dari kerja jurnalistik bersama orang lain. Saya membayangkan mendapat pesan dari editor, sebuah isu di Bali perlu diliput, kemudian saya mencari narasumber, pergi ke lapangan, mencatat, dan kembali menulis.

Rutinitas itu sebenarnya tidak asing. Yang berbeda mungkin sistem kerjanya. Saya sedang mencari titik tengah antara kebebasan sebagai pekerja lepas dan kepastian yang saya butuhkan sekarang.

Saya tidak ingin melawan usia. Saya juga tidak ingin berpura-pura masih berusia 25 tahun. Saya berusia 42 tahun dan menerima itu. Saya hanya ingin bekerja dengan apa yang saya miliki sekarang, termasuk pengalaman, keterbatasan, dan semua hal yang telah saya lewati.

Mungkin itulah yang membuat saya berani mengirim lamaran. Saya tidak lagi merasa harus membuat semua keputusan terlihat mengesankan di mata orang lain. Saya hanya ingin pekerjaan yang masuk akal, bisa saya lakukan dengan baik, memberi penghasilan, dan memungkinkan saya tetap menulis.

Setelah semua itu saya pikirkan, saya kembali melihat email undangan interview di layar laptop. Saya menarik napas. Saya bisa mempersiapkan diri, tetapi tidak bisa menentukan hasilnya. Saya bisa menjelaskan pengalaman, tetapi keputusan tetap berada di tangan orang lain.

Yang bisa saya lakukan hanyalah datang, menjawab pertanyaan sejujur mungkin, dan menunjukkan bahwa saya masih mempunyai keinginan untuk bekerja. Setelah itu, biarlah keputusan berjalan sebagaimana mestinya.

Sebab pada akhirnya, melamar pekerjaan bukan hanya tentang diterima atau ditolak. Bagi saya, ada keberanian kecil ketika seseorang berusia 42 tahun masih bersedia mengirimkan CV dan mengatakan kepada sebuah perusahaan bahwa dirinya masih ingin bekerja.

Saya teringat lagi pada pengumuman lowongan tersebut. Bali, kontributor penulis, pengalaman jurnalistik, jejaring narasumber, dan kemampuan membuat feature. Tidak ada batas usia maksimal.

Saya membaca kalimat itu lalu mengirim CV. Bukan sebagai anak muda yang sedang mencari masa depan, melainkan sebagai seseorang yang telah melewati cukup banyak masa lalu dan masih ingin mempunyai masa depan.

Barangkali melamar kerja pada usia 42 tahun bukan tentang mengejar kembali masa muda. Ini tentang meyakini bahwa kehidupan kerja belum selesai hanya karena usia bertambah.

Tidak semua pintu akan terbuka. Tidak semua lamaran akan diterima. Tidak semua wawancara berakhir dengan pekerjaan. Tetapi selama saya masih mampu menulis, belajar, bekerja, dan mencoba, saya kira saya masih mempunyai alasan untuk mengetuk.

Dan untuk sementara, saya akan menunggu. Seperti seorang wartawan menunggu jawaban narasumber, saya tidak tahu apa yang akan datang. Tetapi saya tahu satu hal, saya sudah mengetuk sebuah pintu. Sekarang tinggal menunggu apakah dari balik pintu itu ada seseorang yang menjawab.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

Next Post

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co