19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
in Tualang
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

Pertigaan Royal Baroe menjadi spot swafoto warga/ Foto Dok.Penulis

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang istimewa, apalagi hendak mengikuti tren wisata kota. Hanya ingin berjalan kaki santai, sekitar tiga puluh menit, bersama istri tercinta. Sederhana saja. Jalan kaki sambil menikmati suasana kota, menghirup udara sore, melihat orang lalu-lalang, dan sesekali berhenti untuk menikmati apa yang ada di depan mata.

Belakangan ini, berjalan kaki memang menjadi bagian dari ikhtiar kecil kami untuk menjaga kebugaran. Para tenaga medis selalu mengingatkan bahwa tubuh perlu diajak bergerak. Tidak harus olahraga berat. Berjalan kaki secara teratur pun sudah merupakan kebiasaan baik. Maka, sore kemarin kesempatan itu datang. Kami pun berjalan sore.

Tiba-tiba saya teringat lagu Denny Malik, Jalan Sore. Tentu saja, perjalanan kami bukan di lintasan Melawai, Blok M, Jakarta. Kami berjalan sore-sore di lintasan Royal Baroe, Kota Serang.

Ada perasaan yang menyenangkan ketika sebuah kawasan kota berubah menjadi ruang yang membuat orang ingin berjalan kaki. Dahulu, pusat kota sering kali lebih identik dengan kendaraan, toko, kesibukan, dan lalu lintas. Sekarang, ketika pedestrian diperlebar, kabel-kabel utilitas dipindahkan ke bawah tanah, serta lampu-lampu bergaya klasik menghiasi jalan, wajah kota perlahan berubah. Kota seolah-olah sedang belajar kembali menjadi tempat bagi manusia.

Jalan Sultan Ageng Tirtayasa, “Malioboro”nya Kota Serang | Foto Dok.Penulis

Di salah satu bagian kawasan itu, ketika melintas di plang Jalan S.A. Tirtayasa, saya tiba-tiba teringat suasana Jalan Asia-Afrika dan Braga di Bandung. Terlintas pula Malioboro di Yogyakarta. Saya tentu tidak bermaksud membandingkan Royal Baroe dengan dua kawasan tersebut. Terlalu banyak perbedaan sejarah, ukuran, karakter, maupun kebudayaannya. Tetapi setidaknya ada satu nuansa yang terasa hampir sama: “jalan telah menjadi ruang perjumpaan.”

Orang datang bukan semata-mata untuk membeli sesuatu. Mereka datang untuk melihat, berjalan, bercakap-cakap, menikmati suasana, dan tentu saja berswafoto.

Plang nama jalan pun bisa berubah menjadi latar belakang cerita. Orang berdiri di depannya, tersenyum, mengambil gambar, kemudian mengunggahnya ke media sosial. Sebuah benda yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai penunjuk arah, kini dapat menjadi bagian dari pengalaman kota. Di situlah menariknya sebuah ruang publik.

Ruang publik sesungguhnya bukan hanya soal batu trotoar, lampu jalan, taman, bangunan atau ornamen kota. Ruang publik adalah tempat manusia bertemu. Tempat orang yang berbeda usia, pekerjaan, kelas sosial, bahkan mungkin berbeda pandangan hidup, berada dalam satu ruang yang sama.

Karena itu, sebuah pedestrian yang nyaman sebenarnya mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar jalan untuk pejalan kaki. Ia adalah ruang demokrasi yang sederhana. Semua orang memiliki hak yang sama untuk berjalan, duduk, melihat-lihat, dan menikmati suasana kota.

Royal Baroe tampaknya sedang menuju ke arah itu. Kawasan yang tertata lebih rapi dapat memberikan kehidupan baru bagi ekonomi sekitar. Kafe, pedagang kuliner, dan berbagai usaha kreatif memperoleh ruang untuk tumbuh. Ketika orang datang, mereka membutuhkan makanan, minuman, tempat duduk, oleh-oleh, bahkan sekadar kopi dan gorengan. Perputaran kecil semacam itu, jika terus hidup, pada akhirnya menjadi bagian dari denyut ekonomi kota.

***

Namun, sebuah kota tidak cukup hanya dibuat indah. Kota juga harus dirawat oleh warganya. Ini barangkali bagian yang sering kita lupakan. Kita senang ketika sebuah tempat baru selesai ditata. Kita senang melihat lampu-lampu menyala pada malam hari. Kita bangga memiliki kawasan yang enak dipandang dan layak menjadi latar swafoto. Tetapi setelah itu, siapa yang bertanggung jawab menjaga keindahannya?

Jawabannya sederhana: kita semua. Jangan sampai pedestrian yang baru diperlebar kembali dipenuhi sampah. Jangan sampai tempat yang dibuat nyaman untuk berjalan berubah menjadi tempat membuang bungkus makanan. Jangan pula fasilitas umum yang dibangun dengan biaya besar diperlakukan seolah-olah tidak memiliki pemilik.

Ruang publik memang milik pemerintah, tetapi sesungguhnya ia adalah milik bersama. Karena itu, datanglah ke Royal Baroe dengan kegembiraan, tetapi pulanglah dengan tanggung jawab. Jika membawa makanan dan minuman, simpan sampahnya sampai menemukan tempat sampah. Jangan merusak tanaman, jangan mencoret fasilitas, jangan memarkir kendaraan sembarangan, dan jangan mengambil ruang pedestrian sebagai tempat berdagang atau parkir tanpa memperhatikan hak pejalan kaki.

Kebersihan dan ketertiban bukan hanya tugas petugas kebersihan dan pemerintah daerah. Keduanya adalah cermin dari kebudayaan masyarakat.

Kita sering berbicara tentang kota yang maju. Padahal ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya gedung tinggi dan jalan yang lebar. Kota yang maju adalah kota yang membuat warganya merasa nyaman untuk berjalan kaki, merasa aman untuk duduk, merasa senang untuk berjumpa, dan merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat ruang bersama.

Sore itu, kami berjalan kurang lebih tiga puluh menit. Tidak ada tujuan yang terlalu penting. Tidak ada agenda besar. Hanya berjalan bersama istri, menikmati sore, melihat wajah-wajah warga yang datang dan pergi.

Duduk santai di Royal Baroe | Foto Dok.Penulis

Tetapi dari perjalanan kecil itu saya justru merasa mendapatkan sesuatu yang besar: kesadaran bahwa kesehatan, kebahagiaan, dan keindahan kota ternyata dapat bertemu dalam sebuah aktivitas yang sangat sederhana,berjalan kaki.

Mungkin inilah makna lain dari jalan sore. Bukan sekadar menggerakkan kaki, tetapi memberi kesempatan kepada pikiran untuk berjalan. Melihat kota dari jarak yang lebih dekat. Menyaksikan orang-orang menjalani kehidupannya. Menyadari bahwa kota bukan hanya bangunan dan jalan, melainkan kumpulan manusia dengan cerita masing-masing.

Dan Royal Baroe, dengan wajah barunya, sedang mencoba menawarkan cerita itu kepada Kota Serang. Semoga kawasan ini tidak hanya menjadi tempat baru untuk berswafoto, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup, bersih, tertib, ramah, dan nyaman. Semoga lampu-lampu klasiknya tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menerangi kesadaran kita bahwa keindahan kota harus dijaga bersama.

Sebab membangun sebuah kawasan mungkin membutuhkan anggaran yang besar. Tetapi merawatnya membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: kesadaran.

Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kesadaran untuk tertib.
Kesadaran menghormati pejalan kaki. Kesadaran menjaga fasilitas umum. Dan yang paling penting, kesadaran bahwa kota ini bukan hanya tempat kita tinggal, tetapi juga ruang yang kita wariskan kepada generasi setelah kita.

Kawasan pertokoan Kota Serang | Foto Dok.Penulis

Sore kemarin kami berjalan di Royal Baroe. Bukan Melawai. Bukan Braga. Bukan Malioboro. Ini Serang. Kota kita sendiri. Dan barangkali, suatu hari nanti, ketika seseorang menyebut Royal Baroe, bukan hanya lampu klasik dan spot swafotonya yang diingat, tetapi juga kenangan tentang sebuah kota yang perlahan belajar menjadi lebih manusiawi.

Kami pun pulang setelah berjalan sore. Kaki sedikit lelah, tetapi hati terasa ringan. Barangkali begitulah cara sederhana mensyukuri usia: terus bergerak selama masih diberi kesempatan, berjalan bersama orang yang dicintai, dan menikmati kota sambil berharap agar tempat yang kita tinggali menjadi semakin baik.[T]

Tags: pariwisata provinsi bantenProvinsi Banten
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Next Post

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co