SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang istimewa, apalagi hendak mengikuti tren wisata kota. Hanya ingin berjalan kaki santai, sekitar tiga puluh menit, bersama istri tercinta. Sederhana saja. Jalan kaki sambil menikmati suasana kota, menghirup udara sore, melihat orang lalu-lalang, dan sesekali berhenti untuk menikmati apa yang ada di depan mata.
Belakangan ini, berjalan kaki memang menjadi bagian dari ikhtiar kecil kami untuk menjaga kebugaran. Para tenaga medis selalu mengingatkan bahwa tubuh perlu diajak bergerak. Tidak harus olahraga berat. Berjalan kaki secara teratur pun sudah merupakan kebiasaan baik. Maka, sore kemarin kesempatan itu datang. Kami pun berjalan sore.
Tiba-tiba saya teringat lagu Denny Malik, Jalan Sore. Tentu saja, perjalanan kami bukan di lintasan Melawai, Blok M, Jakarta. Kami berjalan sore-sore di lintasan Royal Baroe, Kota Serang.
Ada perasaan yang menyenangkan ketika sebuah kawasan kota berubah menjadi ruang yang membuat orang ingin berjalan kaki. Dahulu, pusat kota sering kali lebih identik dengan kendaraan, toko, kesibukan, dan lalu lintas. Sekarang, ketika pedestrian diperlebar, kabel-kabel utilitas dipindahkan ke bawah tanah, serta lampu-lampu bergaya klasik menghiasi jalan, wajah kota perlahan berubah. Kota seolah-olah sedang belajar kembali menjadi tempat bagi manusia.

Di salah satu bagian kawasan itu, ketika melintas di plang Jalan S.A. Tirtayasa, saya tiba-tiba teringat suasana Jalan Asia-Afrika dan Braga di Bandung. Terlintas pula Malioboro di Yogyakarta. Saya tentu tidak bermaksud membandingkan Royal Baroe dengan dua kawasan tersebut. Terlalu banyak perbedaan sejarah, ukuran, karakter, maupun kebudayaannya. Tetapi setidaknya ada satu nuansa yang terasa hampir sama: “jalan telah menjadi ruang perjumpaan.”
Orang datang bukan semata-mata untuk membeli sesuatu. Mereka datang untuk melihat, berjalan, bercakap-cakap, menikmati suasana, dan tentu saja berswafoto.
Plang nama jalan pun bisa berubah menjadi latar belakang cerita. Orang berdiri di depannya, tersenyum, mengambil gambar, kemudian mengunggahnya ke media sosial. Sebuah benda yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai penunjuk arah, kini dapat menjadi bagian dari pengalaman kota. Di situlah menariknya sebuah ruang publik.
Ruang publik sesungguhnya bukan hanya soal batu trotoar, lampu jalan, taman, bangunan atau ornamen kota. Ruang publik adalah tempat manusia bertemu. Tempat orang yang berbeda usia, pekerjaan, kelas sosial, bahkan mungkin berbeda pandangan hidup, berada dalam satu ruang yang sama.
Karena itu, sebuah pedestrian yang nyaman sebenarnya mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar jalan untuk pejalan kaki. Ia adalah ruang demokrasi yang sederhana. Semua orang memiliki hak yang sama untuk berjalan, duduk, melihat-lihat, dan menikmati suasana kota.
Royal Baroe tampaknya sedang menuju ke arah itu. Kawasan yang tertata lebih rapi dapat memberikan kehidupan baru bagi ekonomi sekitar. Kafe, pedagang kuliner, dan berbagai usaha kreatif memperoleh ruang untuk tumbuh. Ketika orang datang, mereka membutuhkan makanan, minuman, tempat duduk, oleh-oleh, bahkan sekadar kopi dan gorengan. Perputaran kecil semacam itu, jika terus hidup, pada akhirnya menjadi bagian dari denyut ekonomi kota.
***
Namun, sebuah kota tidak cukup hanya dibuat indah. Kota juga harus dirawat oleh warganya. Ini barangkali bagian yang sering kita lupakan. Kita senang ketika sebuah tempat baru selesai ditata. Kita senang melihat lampu-lampu menyala pada malam hari. Kita bangga memiliki kawasan yang enak dipandang dan layak menjadi latar swafoto. Tetapi setelah itu, siapa yang bertanggung jawab menjaga keindahannya?
Jawabannya sederhana: kita semua. Jangan sampai pedestrian yang baru diperlebar kembali dipenuhi sampah. Jangan sampai tempat yang dibuat nyaman untuk berjalan berubah menjadi tempat membuang bungkus makanan. Jangan pula fasilitas umum yang dibangun dengan biaya besar diperlakukan seolah-olah tidak memiliki pemilik.
Ruang publik memang milik pemerintah, tetapi sesungguhnya ia adalah milik bersama. Karena itu, datanglah ke Royal Baroe dengan kegembiraan, tetapi pulanglah dengan tanggung jawab. Jika membawa makanan dan minuman, simpan sampahnya sampai menemukan tempat sampah. Jangan merusak tanaman, jangan mencoret fasilitas, jangan memarkir kendaraan sembarangan, dan jangan mengambil ruang pedestrian sebagai tempat berdagang atau parkir tanpa memperhatikan hak pejalan kaki.
Kebersihan dan ketertiban bukan hanya tugas petugas kebersihan dan pemerintah daerah. Keduanya adalah cermin dari kebudayaan masyarakat.
Kita sering berbicara tentang kota yang maju. Padahal ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya gedung tinggi dan jalan yang lebar. Kota yang maju adalah kota yang membuat warganya merasa nyaman untuk berjalan kaki, merasa aman untuk duduk, merasa senang untuk berjumpa, dan merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat ruang bersama.
Sore itu, kami berjalan kurang lebih tiga puluh menit. Tidak ada tujuan yang terlalu penting. Tidak ada agenda besar. Hanya berjalan bersama istri, menikmati sore, melihat wajah-wajah warga yang datang dan pergi.

Tetapi dari perjalanan kecil itu saya justru merasa mendapatkan sesuatu yang besar: kesadaran bahwa kesehatan, kebahagiaan, dan keindahan kota ternyata dapat bertemu dalam sebuah aktivitas yang sangat sederhana,berjalan kaki.
Mungkin inilah makna lain dari jalan sore. Bukan sekadar menggerakkan kaki, tetapi memberi kesempatan kepada pikiran untuk berjalan. Melihat kota dari jarak yang lebih dekat. Menyaksikan orang-orang menjalani kehidupannya. Menyadari bahwa kota bukan hanya bangunan dan jalan, melainkan kumpulan manusia dengan cerita masing-masing.
Dan Royal Baroe, dengan wajah barunya, sedang mencoba menawarkan cerita itu kepada Kota Serang. Semoga kawasan ini tidak hanya menjadi tempat baru untuk berswafoto, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup, bersih, tertib, ramah, dan nyaman. Semoga lampu-lampu klasiknya tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menerangi kesadaran kita bahwa keindahan kota harus dijaga bersama.
Sebab membangun sebuah kawasan mungkin membutuhkan anggaran yang besar. Tetapi merawatnya membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: kesadaran.
Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kesadaran untuk tertib.
Kesadaran menghormati pejalan kaki. Kesadaran menjaga fasilitas umum. Dan yang paling penting, kesadaran bahwa kota ini bukan hanya tempat kita tinggal, tetapi juga ruang yang kita wariskan kepada generasi setelah kita.

Sore kemarin kami berjalan di Royal Baroe. Bukan Melawai. Bukan Braga. Bukan Malioboro. Ini Serang. Kota kita sendiri. Dan barangkali, suatu hari nanti, ketika seseorang menyebut Royal Baroe, bukan hanya lampu klasik dan spot swafotonya yang diingat, tetapi juga kenangan tentang sebuah kota yang perlahan belajar menjadi lebih manusiawi.
Kami pun pulang setelah berjalan sore. Kaki sedikit lelah, tetapi hati terasa ringan. Barangkali begitulah cara sederhana mensyukuri usia: terus bergerak selama masih diberi kesempatan, berjalan bersama orang yang dicintai, dan menikmati kota sambil berharap agar tempat yang kita tinggali menjadi semakin baik.[T]



![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-360x180.png)



























