5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
in Tualang
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

Nyoman Tingkat (penulis) di Yogyakarta

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas. Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan sebagai ruang kelas pendamping. Selanjutnya sebagai tempat widya wisata dipusatkan di SMA Negeri 2 Ngaglik Kabupaten Sleman. Sebagaimana layaknya Duta Besar sebuah negara, para Duta SMA seluruh Provinsi di Indonesia sedang menyerap informasi, ilmu, pengalaman, inspirasi di ruang kelas lalu bergerak belajar budaya ke Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan. Hasil belajar mereka diharapkan dapat menjadi inspirasi buat mereka untuk oleh-oleh di daerah masing-masing. Termasuk mengadaptasi keunggulan SMA Negeri 2 Ngaglik sebagai bahan praktik baik.

Dalam agenda kegiatan mereka, tidak tercantum acara menelusuri Jalan Malioboro yang nota bena Jalan Kebudayaan Indonesia. Namun, panitia rupanya paham Malioboro wajib dijejak para Duta SMA, walaupun di luar agenda yang tidak mengikat. Setidaknya karpet merah buat Duta SMA 2026 sudah dikebatkan. Saya tidak tahu, apakah semua Duta SMA seluruh Indonesia memanfaatkan kesempatan untuk ngeloyor merasakan denyut nadi budaya di sepanjang Jalan Malioboro sebagai Titik Nol Kota Yogyakarta. Nol itu kosong. Kosong itu suung. Suung itu sepi. Suung pisungsung. Sepi itu indah. Dari Titik Nol Yogyakartalah keindahan pekabaran dimulai dan diinisiasi melalui puisi – musik tanpa mengusik. Puisi – musik saling beradu di Malioboro. Kuliner tiada ketinggalan. Toko-toko Batik menyapa penuh simpatik.

Banyak hal unik di Jalan Malioboro. Gedung-gedung tua saksi sejarah masih alami. Ibarat lukisan dipulas, aslinya nyata abadi. Andong yang menggendong dua penumpang dengan kusir tiada terusir. Becak yang berlalu-lalang tiada terhalang, tanpa bercak di jalan. Gojek dimuliakan tidak diejek. Gocar merdeka memencar. Penumpang melempar simpul disenyum. Kuliner dengan pedagang tiada monyer. Ya, Maliobora Titik Nol yang ramah selalu melipatgandakan orang datang dan pergi menemuinya. Setiap tambahan nol di belakang angka selalu dengan kelipatan sepuluh, seratus, seribu, puluhan ribu, jutaan, milyaran, bahkan triliunan.

Begitulah cara Malioboro melipatgandakan pengunjung datang. Ia adalah panggung musik kehidupan tanpa henti. Malam minggu apalagi. Orang luar daerah selalu rindu. Memang Yogyakarta terbuat dari rindu,puisi, dan angkringan. Tempat nangkring aman dan nyaman, seperti Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sesuai dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang diluncurkan pada 12 Januari 2026. Aturan ini menggunakan pendekata humanis dan kolaboratif untuk membangun ekosistem sekolah yang inklusif dan memuliakan martabat manusia dengan keunikan dan kehebatan masing-masing.

Malioboro ibarat sekolah kehidupan yang demokratis dan inklusif. Muridnya pun beragam. Datang dan pergi tanpa mengisi presensi. Lalu-lalang lalu pulang. Lalu Umbu Landu Paranggi datang ibarat bunga yang mengundang datangnya lebah mengisap saripatinya. Di Malioboro, ia diuntit oleh Linus Suryadi, Emha Ainun Najib, Korrie Layun Rampan, Ebiet G Ade. Murid Presiden Malioboro itu masih bisa diperpanjang yang masuk dalam blantika puisi nasional. Setelah hijrah ke Bali, melalui media Bali Post, Umbu mendidik dengan turba ke kantong-kantong komunitas mendekat mencari murid :  Tusthi Edddy, Raka Kusuma, Jengki Sunarta untuk menyebut beberapa nama yang masih bisa diperpanjang seperti Sujaya dan Sri Jayantini. Ibarat juru masak, Umbu juru adon lawar yang jitu.  Meraca puisi dengan merica rasa.

Hidup menggelandang di Malioboro melalui Jalan Margo Utomo (sebelumnya Jalan Pangeran Mangkubumi Yogyakarta) tak ubahnya perjalanan mencari jati diri dengan keutamaan budi. Melalui inti sastra ke jalan puisi. Puisi yang sekarang dikenal adalah mantra purba dalam dunia sastra. Sebagai Presiden Malioboro, Umbu adalah penguasa puisi di Harian Pelopor Yogyakarta, kelak dikembangkan di Bali Post dengan pesta lapangan berjenjang : Pos Remaja hingga Pos Budaya.

Siapa pun datang ke Yogyakarta, belum lengkap tanpa menapakkan kaki ke Jalan Malioboro. Seperti wisatawan datang ke Bali, belum lengkap tanpa ke Pantai Kuta. Belum merasa makan di Bali, tanpa merasakan gurihnya ikan bakar Jimbaran. Begitu juga saya rasakan. Walaupun beberapa kali ke Yogyakarta, saya selalu ingin mendekap hingar-bingar Jalan Malioboro, Jalan Kebudayaan yang membentangkan puisi kehidupan dari Sabang hingga Merauke melalui jalur literasi tanpa henti. “Berhenti atau mundur, berarti hancur”, kata Taufiq Ismail.

Sampai hari ini, Indonesia baru melahirkan dua Presiden Penyair : Sutardji Calzoum Bachri dan Umbu Landu Paranggi. Mereka mewakili Presiden Penyair Indonesia Barat dan Presiden Penyair Indonesia tengah. Keduanya tidak pernah saling sindir membangun citra. Tanpa intrik seperti dalam politik kini. Keduanya juga berbeda tetapi satu. Memuliakan puisi. Mereka sama-sama percaya pada kekuatan kata-kata. Ia membangun literasi tanpa proyek APBN. Begitulah Presiden Penyair membangun jiwa bangsanya memenuhi janji Kemerderdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Menyeimbangkan proyek mercusuar infrastruktur dengan kekuatan beton di mana-mana.

Dari Jalan Malioboro Yogyakarta, markas Koran Pelopor, Umbu hijrah ke Jalan Kepundung Denpasar Bali, tempat Bali Post bermarkas. Ketika suatu malam saya dipanggil Umbu ke kantornya diajak ngobrol, tertangkap kesan bahwa Umbu sangat mengidolakan Ki Hadjar Dewantara. Ia ke Yogyakarta mula-mula ingin menjadi murid di Tamansiswa, tetapi tidak kesampaian. Saya yang guru seperti menerima amanah menggali pemikiran visioner Ki Hadjar Dewantara. Maka di tengah kesempitan waktu, pada Rabu Umanis Tambir, 12 Agustus 2026, sebelum ke Bandara YIA Kulonprogo untuk kembali ke Bali, saya menyempatkan diri berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara di Jalan Caleban Baru Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta.  Di sana saya diterima penjaga makam, Eko Dewantoro yang mengaku ditugaskan oleh Perguruan Tamansiswa Yogyakarta.

Makam Ki Hadjar Dewantara bernama Taman Wijaya Brata (Pasarean Langgeng) adalah tempat pemakaman khusus pendiri Tamansiswa, keluarga, serta tokoh nasional. Dari penelusuran berita on line, Taman Wijaya Brata artinya tempat untuk mencapai kemenangan. Begitu memasuki gerbang makam terdapat dua candra sangkala sebagai penanda bertuliskan, “Rinaras Trus Basukining Wiji” (suasana harmonis untuk menciptakan generasi sejahtera dan bahagia) dan “Hening Mangesthi Pambukaning Wiji” (bercita-cita tinggi untuk membawa generasi baru yang luhur).  Hadirnya dua candra Sangkala itu menunjukkan Taman Makam Wijaya Brata dibangun bertahap. Tahap I selesai pada 1963 dan tahap II selesai pada 2 Mei 1980. Jadi, pembangunan Makam ini dari dua Presiden, Soekarno dan Soeharto.

Taman Wijaya Brata berstatus Cagar Budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor Pm./Pw.007/MKP/2007, tanggal 26 Maret 2007 pada era Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Untuk menuju makam ini dari Titik Nol Yogyakarta sekitar 10 menit dengan jarak sekitar 3,2 km.  Jika dikoneksikan antara Jalan Malioboro sebagai Jalan Kebudayaan melalui Margo Utomo dan Taman Makam Wijaya Brata sebagai makam tokoh Pendidikan Nasional, dapat dilihat keterhubungannya secara kohesi  dan koherensi secara makna.

Secara kohesi, Jalan Malioboro dan Makam Ki Hadjar Dewantara, kedua-duanya basis lapangan kerjanya adalah kebudayaan. Secara koherensi, nilai-nilai yang dikembangkan di Malioboro melewati Jalan Margo Utomo adalah nilai-nilai luhur yang dicita-citakan bersama baik di Malioboro maupun Makam Ki Hadjar Dewantara yang mengutamakan keluhuran budi sebagai mana dicandrasangkalakan di pintu gerbang makam.

Penggunaan Bahasa Jawa dalam Candra Sangkala di pintu gerbang sesuai dengan semangat Ki Hadjar Dewantara yang berdiri kokoh memperkuat kepribadian yang berkebudayaan  selaras   ajaran Trikon-nya. Boleh belajar kapan saja, ke mana saja dengan siapa saja asal tidak tercerabut dari jati diri sebagai akar budaya. Ia menyatukan berbagai  gagasan untuk memperkuat kemajuan secara berkelanjutan (konsentris, konvergensi, kontinuitas). Dalam rangka menghirup aura itulah, saya beranjak dari Malioboro berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara sebelum meninggalkan Kota Gudeg dengan oleh-oleh khasnya Bakpia. Merdeka!  [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jalan Malioboro YogyakartaKi Hadjar DewantaraUmbu Landu ParanggiYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

Next Post

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails
Next Post
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co