PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas. Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan sebagai ruang kelas pendamping. Selanjutnya sebagai tempat widya wisata dipusatkan di SMA Negeri 2 Ngaglik Kabupaten Sleman. Sebagaimana layaknya Duta Besar sebuah negara, para Duta SMA seluruh Provinsi di Indonesia sedang menyerap informasi, ilmu, pengalaman, inspirasi di ruang kelas lalu bergerak belajar budaya ke Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan. Hasil belajar mereka diharapkan dapat menjadi inspirasi buat mereka untuk oleh-oleh di daerah masing-masing. Termasuk mengadaptasi keunggulan SMA Negeri 2 Ngaglik sebagai bahan praktik baik.
Dalam agenda kegiatan mereka, tidak tercantum acara menelusuri Jalan Malioboro yang nota bena Jalan Kebudayaan Indonesia. Namun, panitia rupanya paham Malioboro wajib dijejak para Duta SMA, walaupun di luar agenda yang tidak mengikat. Setidaknya karpet merah buat Duta SMA 2026 sudah dikebatkan. Saya tidak tahu, apakah semua Duta SMA seluruh Indonesia memanfaatkan kesempatan untuk ngeloyor merasakan denyut nadi budaya di sepanjang Jalan Malioboro sebagai Titik Nol Kota Yogyakarta. Nol itu kosong. Kosong itu suung. Suung itu sepi. Suung pisungsung. Sepi itu indah. Dari Titik Nol Yogyakartalah keindahan pekabaran dimulai dan diinisiasi melalui puisi – musik tanpa mengusik. Puisi – musik saling beradu di Malioboro. Kuliner tiada ketinggalan. Toko-toko Batik menyapa penuh simpatik.
Banyak hal unik di Jalan Malioboro. Gedung-gedung tua saksi sejarah masih alami. Ibarat lukisan dipulas, aslinya nyata abadi. Andong yang menggendong dua penumpang dengan kusir tiada terusir. Becak yang berlalu-lalang tiada terhalang, tanpa bercak di jalan. Gojek dimuliakan tidak diejek. Gocar merdeka memencar. Penumpang melempar simpul disenyum. Kuliner dengan pedagang tiada monyer. Ya, Maliobora Titik Nol yang ramah selalu melipatgandakan orang datang dan pergi menemuinya. Setiap tambahan nol di belakang angka selalu dengan kelipatan sepuluh, seratus, seribu, puluhan ribu, jutaan, milyaran, bahkan triliunan.

Begitulah cara Malioboro melipatgandakan pengunjung datang. Ia adalah panggung musik kehidupan tanpa henti. Malam minggu apalagi. Orang luar daerah selalu rindu. Memang Yogyakarta terbuat dari rindu,puisi, dan angkringan. Tempat nangkring aman dan nyaman, seperti Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sesuai dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang diluncurkan pada 12 Januari 2026. Aturan ini menggunakan pendekata humanis dan kolaboratif untuk membangun ekosistem sekolah yang inklusif dan memuliakan martabat manusia dengan keunikan dan kehebatan masing-masing.
Malioboro ibarat sekolah kehidupan yang demokratis dan inklusif. Muridnya pun beragam. Datang dan pergi tanpa mengisi presensi. Lalu-lalang lalu pulang. Lalu Umbu Landu Paranggi datang ibarat bunga yang mengundang datangnya lebah mengisap saripatinya. Di Malioboro, ia diuntit oleh Linus Suryadi, Emha Ainun Najib, Korrie Layun Rampan, Ebiet G Ade. Murid Presiden Malioboro itu masih bisa diperpanjang yang masuk dalam blantika puisi nasional. Setelah hijrah ke Bali, melalui media Bali Post, Umbu mendidik dengan turba ke kantong-kantong komunitas mendekat mencari murid : Tusthi Edddy, Raka Kusuma, Jengki Sunarta untuk menyebut beberapa nama yang masih bisa diperpanjang seperti Sujaya dan Sri Jayantini. Ibarat juru masak, Umbu juru adon lawar yang jitu. Meraca puisi dengan merica rasa.
Hidup menggelandang di Malioboro melalui Jalan Margo Utomo (sebelumnya Jalan Pangeran Mangkubumi Yogyakarta) tak ubahnya perjalanan mencari jati diri dengan keutamaan budi. Melalui inti sastra ke jalan puisi. Puisi yang sekarang dikenal adalah mantra purba dalam dunia sastra. Sebagai Presiden Malioboro, Umbu adalah penguasa puisi di Harian Pelopor Yogyakarta, kelak dikembangkan di Bali Post dengan pesta lapangan berjenjang : Pos Remaja hingga Pos Budaya.

Siapa pun datang ke Yogyakarta, belum lengkap tanpa menapakkan kaki ke Jalan Malioboro. Seperti wisatawan datang ke Bali, belum lengkap tanpa ke Pantai Kuta. Belum merasa makan di Bali, tanpa merasakan gurihnya ikan bakar Jimbaran. Begitu juga saya rasakan. Walaupun beberapa kali ke Yogyakarta, saya selalu ingin mendekap hingar-bingar Jalan Malioboro, Jalan Kebudayaan yang membentangkan puisi kehidupan dari Sabang hingga Merauke melalui jalur literasi tanpa henti. “Berhenti atau mundur, berarti hancur”, kata Taufiq Ismail.
Sampai hari ini, Indonesia baru melahirkan dua Presiden Penyair : Sutardji Calzoum Bachri dan Umbu Landu Paranggi. Mereka mewakili Presiden Penyair Indonesia Barat dan Presiden Penyair Indonesia tengah. Keduanya tidak pernah saling sindir membangun citra. Tanpa intrik seperti dalam politik kini. Keduanya juga berbeda tetapi satu. Memuliakan puisi. Mereka sama-sama percaya pada kekuatan kata-kata. Ia membangun literasi tanpa proyek APBN. Begitulah Presiden Penyair membangun jiwa bangsanya memenuhi janji Kemerderdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Menyeimbangkan proyek mercusuar infrastruktur dengan kekuatan beton di mana-mana.
Dari Jalan Malioboro Yogyakarta, markas Koran Pelopor, Umbu hijrah ke Jalan Kepundung Denpasar Bali, tempat Bali Post bermarkas. Ketika suatu malam saya dipanggil Umbu ke kantornya diajak ngobrol, tertangkap kesan bahwa Umbu sangat mengidolakan Ki Hadjar Dewantara. Ia ke Yogyakarta mula-mula ingin menjadi murid di Tamansiswa, tetapi tidak kesampaian. Saya yang guru seperti menerima amanah menggali pemikiran visioner Ki Hadjar Dewantara. Maka di tengah kesempitan waktu, pada Rabu Umanis Tambir, 12 Agustus 2026, sebelum ke Bandara YIA Kulonprogo untuk kembali ke Bali, saya menyempatkan diri berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara di Jalan Caleban Baru Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Di sana saya diterima penjaga makam, Eko Dewantoro yang mengaku ditugaskan oleh Perguruan Tamansiswa Yogyakarta.

Makam Ki Hadjar Dewantara bernama Taman Wijaya Brata (Pasarean Langgeng) adalah tempat pemakaman khusus pendiri Tamansiswa, keluarga, serta tokoh nasional. Dari penelusuran berita on line, Taman Wijaya Brata artinya tempat untuk mencapai kemenangan. Begitu memasuki gerbang makam terdapat dua candra sangkala sebagai penanda bertuliskan, “Rinaras Trus Basukining Wiji” (suasana harmonis untuk menciptakan generasi sejahtera dan bahagia) dan “Hening Mangesthi Pambukaning Wiji” (bercita-cita tinggi untuk membawa generasi baru yang luhur). Hadirnya dua candra Sangkala itu menunjukkan Taman Makam Wijaya Brata dibangun bertahap. Tahap I selesai pada 1963 dan tahap II selesai pada 2 Mei 1980. Jadi, pembangunan Makam ini dari dua Presiden, Soekarno dan Soeharto.
Taman Wijaya Brata berstatus Cagar Budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor Pm./Pw.007/MKP/2007, tanggal 26 Maret 2007 pada era Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Untuk menuju makam ini dari Titik Nol Yogyakarta sekitar 10 menit dengan jarak sekitar 3,2 km. Jika dikoneksikan antara Jalan Malioboro sebagai Jalan Kebudayaan melalui Margo Utomo dan Taman Makam Wijaya Brata sebagai makam tokoh Pendidikan Nasional, dapat dilihat keterhubungannya secara kohesi dan koherensi secara makna.
Secara kohesi, Jalan Malioboro dan Makam Ki Hadjar Dewantara, kedua-duanya basis lapangan kerjanya adalah kebudayaan. Secara koherensi, nilai-nilai yang dikembangkan di Malioboro melewati Jalan Margo Utomo adalah nilai-nilai luhur yang dicita-citakan bersama baik di Malioboro maupun Makam Ki Hadjar Dewantara yang mengutamakan keluhuran budi sebagai mana dicandrasangkalakan di pintu gerbang makam.

Penggunaan Bahasa Jawa dalam Candra Sangkala di pintu gerbang sesuai dengan semangat Ki Hadjar Dewantara yang berdiri kokoh memperkuat kepribadian yang berkebudayaan selaras ajaran Trikon-nya. Boleh belajar kapan saja, ke mana saja dengan siapa saja asal tidak tercerabut dari jati diri sebagai akar budaya. Ia menyatukan berbagai gagasan untuk memperkuat kemajuan secara berkelanjutan (konsentris, konvergensi, kontinuitas). Dalam rangka menghirup aura itulah, saya beranjak dari Malioboro berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara sebelum meninggalkan Kota Gudeg dengan oleh-oleh khasnya Bakpia. Merdeka! [T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole































