15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah menjadi kanker yang menggerogoti bangsa ini. Karena realita dalam kasus korupsi, pelakunya adalah orang yang tahu bahwa tindakannya salah, tetapi tetap saja melakukannya. Mereka sadar kalau salah, namun main-main sistem gimana caranya agar terlihat benar secara administratif.

Duduk persoalannya, korupsi di mana pun termasuk di Indonesia, tidak dilakukan oleh orang yang tidak tahu bahwa korupsi itu buruk. Sebaliknya, banyak pelakunya justru sangat paham hukum, mengerti prosedur, hafal pasal, mengetahui celah administrasi, dan punya cukup banyak orang dalam circle-nya untuk memastikan sebuah tindakan ilegal terlihat rapi secara hukum.

Barangkali karena itulah, pemberantasan korupsi tidak pernah cukup hanya dengan menambah aturan saja. Sebab orang yang berniat menyimpang pasti belajar aturan. Tak jarang, belajar aturan justru untuk mencari jalan memutarnya.

Etik adalah Kunci

Kita bisa lihat sebuah perdebatan yang menarik mengenai hubungan antara legalitas dan moralitas. Mahfud MD, dalam pernyataan yang diberitakan sejumlah media pada September 2026, menyatakan bahwa terpilihnya Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka secara konstitusional sudah selesai dan sah. Sementara Mahfud juga menyebut proses yang melatarbelakangi Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 itu, memiliki persoalan moral, setelah adanya putusan MKMK mengenai pelanggaran etik hakim.

Di sini kita belajar adanya paradoks yang sebenarnya sangat penting bagi kehidupan bernegara. Suatu putusan dapat tetap mempunyai akibat hukum, sementara proses yang melahirkannya masih dipersoalkan secara etik. Hal ini memang karena hukum membutuhkan kepastian. Putusan pengadilan, terutama putusan yang final dan mengikat, tidak dapat terus-menerus dibuka hanya karena di belakang hari kemudian muncul persoalan terhadap hakim yang membuatnya.

 Kalau setiap keputusan dapat dibatalkan tanpa ada batas, sistem hukum juga akan kehilangan kepastian.  Tetapi bagaimana pun, di sisi lain, banyak pertanyaan galau dari masyarakat yang tidak bisa dijawab hanya dengan kata “ini sudah final.” Nah, persoalan etik adalah kunci alias biang dari hukum yang layak, yang mengikat hajat hidup orang banyak.

Yang Penting Ada Alasannya, Nurani Bisa Minggir Dulu

Yang menarik di sini, seseorang tidak harus kehilangan pengetahuan moral untuk melakukan korupsi.  Cukup menemukan alasan untuk menyingkirkan suara moralnya, maka korupsi bakalan jalan. Tengok saja ungkapan-ungkapan seperi:  “Semua orang juga begitu.” “Ini cuma uang terima kasih.” “Kalau saya tidak ambil, orang lain yang mengambil.” “Secara administrasi tidak ada masalah.” “Tidak ada pasal yang secara eksplisit melarang.” Nah, kalimat terakhir ini mungkin yang paling berbahaya. Karena perlahan-lahan kita dapat berpindah dari apakah ini benar, mejadi apakah ini legal.

Perpindahan rel dalam cara berpikir itu dapat menghasilkan persoalan besar dalam kehidupan bernegara. Sebab hukum pada dasarnya dibuat untuk melindungi keadilan dan kepentingan publik. Tetapi manusianya bisa memperlakukan hukum sebagai semacam buku petunjuk. Jadi bukan untuk mengetahui apa yang patut, melainkan untuk mengetahui sampai mana ia dapat berjalan tanpa tertangkap.Di sini hukum berubah dari kompas menjadi pagar. Yang dicari bukan lagi arah yang benar. Yang dicari adalah batas terakhir sebelum terkena hukuman.

Nurani yang Tak Laku

Kita tentu membutuhkan hukum. Kita juga membutuhkan KPK, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, auditor, transparansi anggaran, pengawasan publik, dan pers yang kritis. Semua itu adalah perangkat penting agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol. Tetapi toh semua itu memiliki satu keterbatasan mendasar, bahwasanya mereka bekerja terutama dari luar diri manusia; tugasnya mengawasi, memeriksa, menghukum, mencegah. Semua dari luar dan mekanistis.

Sementara moral bekerja dari dalam. Yang justru berbicara ketika tidak ada kamera, auditor, atau atasan. Yang memperingatkan, saat seseorang mempunyai kesempatan mengambil sesuatu dan dia yakin tidak akan ketahuan. Inilah bedanya, ada orang yang tidak korup karena takut ditangkap, ada orang yang tidak korup karena dia merasa tidak berhak. Yang pertama membutuhkan pengawasan, yang kedua sudah membawa pengawasan ke dalam dirinya sendiri. Dan sebuah masyarakat yang sehat membutuhkan keduanya.

Toh, kita sebenarnya tidak kekurangan bahasa tentang integritas. KPK terus menjalankan pendidikan dan penguatan integritas. Pada 2026, misalnya, KPK melakukan berbagai program pembekalan pejabat daerah dan pelatihan integritas di lingkungan peradilan serta sektor pertanahan. Bahkan KPK menekankan bahwa integritas perlu terus “dilatih” dan dibiasakan.

Jadi bukan soal apakah kita tidak tahu bahwa korupsi itu buruk. Kita semua sudah tahu. Dari anak sekolah, mahasiswa, pegawai negeri tahu, pengusaha tahu, politisi, apalagi hakim dan penegak hukum, semua tahu. Lalu mengapa korupsi masih muncul? Mungkin karena pengetahuan moral tidak otomatis menjadi keberanian moral.

Kita bisa tanda tangan pakta integritas, dan memasang slogan integritas di dinding kantor. Tetapi saat  integritas justru membuat seseorang harus menolak tawaran yang sangat menguntungkan, hanya nurani sebagai benteng terakhir. Kembali ke pindah rel di atas ketika kesempatan datang dengan nama yang lebih sopan seperti komisi, fee, uang terima kasih, fasilitas, titipan, atau “tanda persahabatan”.  

Di situlah pendidikan moral dari masa kanak-kanak benar-benar diuji. Bukan dari soal tahu jawabannya. Melainkan saat kita berani bayar harga untuk menjalankan jawaban tersebut. Waktu kecil, masih mempan kalau dibilang “Awas Tuhan marah, lho. Itu dosa”. Sudah dewasa mana takut. Udah gede kok ga mau korupsi karena takut Tuhan marah, emang anak kecil?

Angka Boleh Dihitung, Tetapi Nurani Tidak Masuk Statistik

Transparency International dalam Corruption Perceptions Index 2025 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100 dan peringkat 109 dari 182 negara. Indeks tersebut mengukur persepsi terhadap korupsi sektor publik berdasarkan 13 sumber data independen, sehingga ia bukan hitungan langsung seluruh kasus korupsi yang terjadi.

Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh angka. Berapa banyak orang yang sebenarnya punya kesempatan untuk korupsi tetapi memilih tidak korupsi? Tidak ada statistik yang  menghitungnya. Padahal mungkin justru merekalah penjaga sebuah negara. Bukan soal seberapa banyak berhasil menangkap koruptor. Negara yang sehat adalah negara yang memiliki cukup banyak orang yang tidak perlu ditangkap karena sadar memilih tidak korupsi.

Jika ini terdengar idealistis dan naif, bahkan utopis. Biarlah. Sebab kalau kita membuang moral hanya karena moral tidak pernah sempurna, kita akan sampai pada kesimpulan yang sangat berbahaya. Menormalisasi bahwa manusia memang pada dasarnya akan curang dan tugas negara hanyalah menangkap sebagian dari mereka kalau ketahuan. Sidang pembaca yang budiman, please, saya kira kita tidak boleh sampai di sana.

Kita Butuh Manusia yang Tahu Patut

Barangkali inilah pekerjaan besar pendidikan Indonesia ke depan. Bukan sekadar menghasilkan manusia yang pintar membaca aturan. Tetapi manusia yang mampu berefleksi, untuk menilai yang bisa dilakukan, apakah masih patut dilakukan.  Pertanyaan sederhana itu sebenarnya sangat radikal. Sebab ia mengembalikan moral ke tempat yang semestinya, yaitu posisi sebelum hukum.

Hukum mengatakan apa yang dilarang. Moral mengajarkan meski tidak dilarang bukan berarti pantas dilakukan. Hukum menetapkan batas minimum. Moral mendorong kita dengan elegan tidak mendekati batas minimum itu. Karena itu pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti pada pembangunan sistem pengawasan.

Kita membutuhkan sistem yang baik, tentu saja. Tetapi kita juga membutuhkan manusia yang baik dalam sistem tersebut. Sistem tanpa moral bisa menjadi mesin yang sangat canggih untuk mencari celah. Moral tanpa sistem mungkin hanya menjadi niat baik yang mudah dirobohkan. Keduanya harus berjalan bersama. Inilah pekerjaan yang paling sulit, yaitu membangun manusia yang merasa malu melakukan sesuatu yang salah, meski tidak ada pasal hukumnya.

Sebab pada akhirnya, persoalan terbesar sebuah bangsa adalah ketika masyarakat mulai kehilangan kemampuan mampu berbuat patut.  Seolah naif, tetapi justru di sanalah peradaban dimulai. Sebab jika hukum adalah pagar pembatas, moral mengajarkan kita untuk tidak curang mencari lubang, atau melubangi pagar semaunya. Mau korupsi? Awas, Tuhan marah. Anak kecil aja tahu. Tabik. [T]

Tags: Anti Korupsietika
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

Next Post

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co