15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
in Esai
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

Ilustrasi tatkala | Sumber: Canva

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini seharusnya atau bahan harus seperti ini karena ini adalah berdasarkan ideologi, paham dan keinginan yang dianut.

Sebagai contoh , ketika melakuan advokasi untuk kesejahteraan hewan, titik permulaannya sering kali berdasarkan pada aspirasi normatif seperti harus “bertindak etis terhadap hewan” dan “berbelas kasih pada hewan”. Aspirasi normatif tersebut tidak keliru. Namun ketika hal tersebut menjadi titik pangkal dan dasar kebijakan, patut  memeriksa dengan teliti dan cermat bahkan bersikap skeptis. Aspirasi normatif itu boleh jadi hanya slogan saja.

Oleh karena itu, yang harus menjadi titik pangkal adalah lima prinsip. Lima prinsip tersebut adalah:

  1. Daratan, lautan dan matahari serta organisme merupakan realitas materi. Ada kondisi materil yang mana manusia harus bertindak sesuai dengan kondisi tersebut. Sebagai contoh, adalah realitas materi bahwa tiap species hewan bahkan varietas hewan dalam satu spesies membutuhkan makanan yang tidak sama
  • Realitas materi tidak mentoleransi penipuan, delusi dan khayalan.  Niat, rasa percaya, hukum dan klaim tidak dapat melampaui realitas materi. Klaim dan kepercayaan yang keliru dapat bertahan lama, tapi konsekuensi material tak terelakkan membatasi apa yang dapat manusia capai.\
  • Untuk Menerapkan aturan dan hukum tertulis selalu membutuhkan sumber daya materi.  Setiap hukum yang tertulis membutuhkan gabungan dari manusia, waktu, pengetahuan, infrastructure, energi, uang, perlengkapan, administrasi, penegakkan , pemeliharaan dan biaya tak terduga. Penggunaan sumber daya materi yang tidak sesuai untuk penegakan hukum dan aturan dapat menjadikan hukum itu hanya tulisan di atas kertas jika masyarakat merasa hukum tidak berjalan atau membebani karena jumlah biaya materi yang dikeluarkan jauh lebih besar daripada hasil yang diharapkan. Penegakkan hukum pasti melibatkan aparat penegak hukum yang harus diberi kompensasi, tunjangan, bonus , infrastruktur jalan untuk mobil angkutan, energi listrik untuk operasi gedung, laboratorium dan energi bahan bakar untuk kendaraan.
  • Manusia adalah mahluk yang respons pada insentif dimana tindakan yang manusia lakukan itu terutama untuk mendapat sesuatu yang ia inginkan dan menghindari sesuatu yang ia inginkan. Insentif dapat berupa materi, fisik, ekonomi, sosial, politik, metafisika, psikologis , dan kehidupan setelah mati. Lembaga , organisasi dan lingkungan mempengaruhi perilaku dan sikap manusia sebagian dengan cara mengubah dan mengendalikan insentif diantara pilihan pilihan yang ada. Hukum memberikan insentif negative dimana jika manusia melanggar hukum ini akan mendapat sanksi hukum, materi bahkan sosial. Sikap masyarakat terhadap suatu hal merupakan faktor insentif juga karena jika sikap masyarakat menekankan pentingnya perlindungan hewan, orang punya insentif untuk mendapat pengakuan sosial dan keuntungan sosial dengan memperlakukan hewan dengan layak.
  • Setiap manusia hidup dalam ruang dan waktu. Maka dari itu manusia selalu punya orientasi jangka waktu. Entah itu pendek yaitu hari ini sampai lima tahun ke depan. Jangka menengah yaitu dari lima tahun sampai lima belas tahun mulai hari ini. Jangka panjang dimana dari lima belas tahun sampai tujuh puluh lima tahun dari sekarang . Jangka peradaban  yaitu tujuh puluh lima tahun sampai tiga ratus tahun dari moment pagi ini. Jangka ilaiah dan cosmos yaitu di luar estimasi manusia karena itu pada ranah metafisika dan kehidupan setelah mati

Di Indonesia Undang undang nomor 41 tahun 2014 pasal 66 mengatur lima asas kesejahteraan hewan :

  1. Bebas dari rasa lapar dan kekurangan gizi;
  2. Bebas dari ketidaknyamanan;
  3. Bebas dari rasa luka dan penyakit;
  4. Bebas dari rasa taju dan tertekan;
  5. Bebas untuk mengekspesikan pola perilaku normal.1

Ketika saya sering mendengar orang mengadvokasi kesejehteraan anjing, saya duduk dan berpikir sambil menikmati teh manis.Sambil menghilangkan haus , saya mengusulkan dua belas pertanyaan mengenai hal ini. Enam pertanyaan yang berasal dari prinsip satu dan enam pertanyaan lainnya berasal dari prinsip dua

Prinsip satu: Organisme adalah realitas materi

  1. Apakah anjing memperoleh akses ruang yang layak untuk berlari dan bermain
  2. Apakah ada tempat teduh yang layak untuk melindungi anjing dari panas matahari dan hujan badai
  3. Apakah anjing memperoleh akses terhadap air bersih untuk minum, menyegarkan dan memberishkan badannya
  4. Apakah   lingkungan fisik yang aning tempati bebas dari bahan kimia beracun, benda tajam, polusi dan penyakit rentan?
  5. Apakah anjing dapat sinar matahari cukup untuk menjaga siklus tidurnya dan peroleh cukup vitamin D dan makanan yang layak?
  6. Apakah permukaan tanah di mana anjing berjalan di atasnya aman bagi telapak kaki anjing tanpa menyebabkan cedera

Prinsip dua:  Realitas materi tidak mentoleransi penipuan, khalayan dan delusi

  • Apakah kita sedang memantau kesehatan anjing yang sesungguhnya atau hanya berhadap anjing tetap sehat?
  • Apakah anjing diberi makanan beradasarkan kesehatan dan fisik yang dibutuhkan dan cocok berdasarkan  kedokteran hewan yang terbukti ilmiah atau memberikan anjing makanan berdasarkan iklan dan keinginan manusia?
  • Apakah kita menangani kebutuhan biologis anjing yang sesungguhnya atau  memperlakukan anjing seperti manusia atau hewan lain?
  • Apakah pemilik dan perawat anjing menerima naluri alamiah anjing ali-alih menghukum anjing karena mengekspresikan perilaku normal anjing?
  • Apakah stamina fisik anjing telah diukur secara akurat melalui berat badan, energi yang dikonsumsi, dan ototnya?
  • Apakah kita memverifikasi bahwa anjing itu bebas dari rsa sakit dengan mengunakan pemeriksaan kedokteran hewan yang layak?

Jadi untuk mengadvokasi kesejahteraan hewan, niat, rasa iba dan sentimentalitas tidak cukup. Minimal harus mengetahui realitas materi dari hewan tersebut. Ini dapat menjadi suatu masukan bagi orang yang menyayangi hewan dan mengadvokasi hewan. Berlaku juga bagi yang menegakkan hukum mengenai perlindungan termasuk mencegah kekerasaan dan perlakuan tak pantas pada hewan.

Sumber:

  1. Aturan Hukum Pentingnya Memenuhi Standar Kesejahteraan Hewan Ternak. Animals Don’t Speak Human. September 3, 2022 https://animalsdontspeakhuman.org/hewan-diternak/aturan-hukum-pentingnya-memenuhi-standar-kesejahteraan-hewan-ternak/. Diakses tanggal 24 September 2026
Tags: faunahewan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

Next Post

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co