9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Surya Pratama

SINGA, si raja hutan berkeliling hutan melihat-lihat rakyatnya. Nyanyian burung dan canda tawa binatang menyambut si Singa. Apalagi, sejuknya udara dan cerahnya mentari pagi dari celah-celah lambaian daun-daun pohon.

“Sungguh damai hutan kerajaanku ini,” kata Singa dengan rasa lega dan bahagia. Si Singa melanjutkan perjalannya. Ia ingin mengelilingi seluruh hutan kerajaannya.

“Tolong! Aku terikat di sini!” terdengar suara rengekan.

Si Singa mendekati sumber suara meminta tolong itu. Tapi, ketika didekati, si Singa semakin banyak mendengar rengekan yang meminta tolong. Ternyata, ada beberapa binatang yang diikat di batang pohon.

Si Singa mendekati salah satu binatang yang terikat di pohon. “Siapa yang berani mengikat kalian di sini?” tanya si  Singa marah.

“Tidak tahu siapa yang mengikat kami di sini. Karena ketika kami sadar, kami sudah terikat di pohon ini. Kami hanya mendengar lolongan di balik gua itu,” sahut Monyet menunjuk-nunjuk  gua dengan memonyong-monyongkan mulutnya.

“Tunggu! Aku akan melepas kalian satu persatu. Kemudian, aku akan menghukum siapapun yang mengikat kalian di sini,” ucap si Singa kesal.

Namun tiba-tiba terdengar suara menggelegar.

“Tunggu Singa, Raja Hutan! Jika kamu berani melepas mereka, aku akan memakan putri tersayangmu!”

Suara lolongan menggelegar itu terdengar dari balik gua. Angin berhembus keluar dari gua gelap itu menampar si Singa.

Tubuh Singa sontak mundur satu langkah akibat hembusan angin yang keras. Si Singa meraung marah. Semua bulunya berdiri dan matanya terbelalak.

“Siapa kamu? Berani-beraninya kamu melakukan semua ini. Kamu berani menculik putri kesayanganku! Sini, hadapi aku!” tantang si Singa marah.

“Ayahanda, tolong aku!” Terdengar teriakan putri Singa dari dalam goa. Singa terhenyak. Ia hendak masuk ke dalam gua, namun dari kegelapan terdengar lagi suara menggelegar.

“Aku Srigala, si raja malam. Sini, kamu hadapi aku, jika hendak menolong putrimu! Kamu harus cepat sebelum aku makan putrimu,” ucap Srigala di balik kegelapan gua.

“Aku kuliti kau sampai habis, Srigala! Biar kau tahu keganasanku.” Singa mengeram siap menerkam Srigala dalam kegelapan.

“Cepat! Aku sudah siap melawanmu,” kata Srigala.

Tiba-tiba Singa mendengar suara dari luar. Suara yang sangat sabar.

“Sabar, rajaku, Raja Hutan! Masih ingat dengan janji Raja?” kata si Kancil entah datang darimana. Langkah Singa terhenti karena mendengar perkataan si Kancil.

“Hampir saja aku kehilangan mahkota suci ini. Padahal aku sudah bersumpah untuk tidak bertarung. Aku sudah berjanji menjadi raja yang tidak menggunakan kekerasan. Aku harus bijaksana,” gumam si Singa tersadar akan janjinya.

“Hai, mengapa kamu diam, Singa? Apa kamu sudah nyerah? Atau, takut? Haaa, aku telah menang tanpa harus bertarung,” terdengar suara sinis Srigala dalam kegelapan gua.

“Bagaimana ini, Kancil? Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mungkin mengingkari sumpahku,” tanya bingung Singa menghadapi Srigala.

“Tenang rajaku! Jangan panggil hamba Kacil si penasehat Raja kalau hamba tidak bisa menyelesaikan masalah ini,” kata Kancil. Memang, Kancil terkenal dengan kecerdasan dan kecerdikannya sehingga diangkat menjadi penasehat raja hutan.

“Hem, cuma itu keberanianmu, Singa? Mana kemampuanmu yang terkenal itu?” ucap Srigala sombong.

Si Singa yang mendengar perkataan Srigala hanya bisa menahan diri. Ia berusaha  tak terpancing oleh ucapan Srigala. “Cepat lakukan sesuatu, Kancil!” bisik Singa.

Kancil kemudian berkata kepada Srigala: “Haaa, mengapa kau harus repot-repot menantang Raja Hutan? Cukup aku saja yang menghadapimu. Kamu pasti sudah kalah. Bahkan, jika aku kalah, kamu bebas melakukan apa saja. Kamu juga bisa menjadi raja di hutan ini, tetapi kamu harus mengalahkanku terlebih dahulu, Srigala!” tantang Kancil.

“Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan, Kancil?” tanya pelan si Singa ragu.

“Hamba yakin rajaku. Hamba tak kan mengecewakan raja.”

Melihat keyakinan Kancil tanpa rasa takut sedikit pun, Singa tidak merasa harus melanggar sumpahnya. Tapi, jika rencana Kancil gagal, Singa merasa harus melakukan apapun mesti harus mengorbankan mahkota kerajaannya. Semua ini harus Singa lakukan demi menyelamatkan rakyat dan putri kesayangannya.

“Haaaa, Kancil badannya yang kecil itu melawanku? Kamu tidak pantas bertarung melawanku,” kata Srigala penuh kemenangan.

“Hem, biar badan kecil….”

“Kancil! Aku dengar kamu terkenal sebagai binatang yang cerdik. Kamu pilih saja permainan yang kamu inginkan! Kalau bertarung denganku, sekali gigit saja kau sudah mati. Haaa,” ucap Srigala meremehkan.

“Sungguh sombong kamu Srigala! Baik, aku akan mengajakmu permainan meniup. Tapi, jika kamu gagal melakukannya, semua binatang yang kamu sandera dan putri kesayangan raja harus kamu bebaskan. Kamu juga harus pergi dari hutan ini. Kamu berani?” sahut Kancil.

“Cuma main tiup. Itu kecil dan tak ada apa-apanya. Aku meniup kamu pun bisa sampai terbang,” jawab enteng Srigala.

Tiba-tiba, Srigala keluar dari kegelapan gua. Matanya bersinar menyala. Taringnya panjang. Ia melolong panjang. Kemudian, ia menarik napas panjang dan meniup ke arah Kancil. Secepat kilat Kancil berpegangan pada sebatang pohon. Daun-daun pohon mati berterbangan.

“Srigala hentikan! Bukan ini permainan yang sesungguhnya. Aku tahu kamu sangat kuat. Tapi, kekuatanmu akan terbukti jika melakukan permainan yang kumaksud,” teriak Kancil.

Mendengar perkataan Kancil, Srigala berhenti meniup Kancil. “Gimana tiupanku? Dasyat kan!” Srigala membanggakan diri.

“Ya, kamu kuat.”

“Cepat katakan apa permainannya!” Aku sudah tidak sabar lagi menunggu kamu kalah, Kancil!” perintah Srigala garang.

“Santai saja Srigala, kita akan mulai permainan yang sesungguhnya,” sahut enteng Kancil. Kancil mengusap-usap bulunya yang berantakan karena tiupan Srigala.

Lantas, Kancil mengambil botol dari kantong kain yang selalu dibawanya. Kemudian, Kancil merebahkan botol itu di atas batu besar di depan gua.

“Kancil! Kamu ingin memasukkan aku dalam botol itu? Oh, tidak bisa! Aku yang paling kuat di sini,” celetuk Srigala ketika melihat Kancil meletakkan botol itu di atas batu.

“Mana berani aku dengan kekuatan yang hebat itu? Bisa-bisa botol ini pecah nanti. Aku akan melakukan permainan yang adil,” ucap Kancil merendah.

“Oh, jadi kamu hanya mempermainkanku untuk mengulur-ulur waktu, Kancil? Berarti kamu udah siap untuk aku makan! Emm nyam-nyam, pasti enak dagingmu, Kancil!” Srigala mulai marah.

“Ah, Srigala mulai takut ya?” canda Kancil memancing kemarahan Srigala. Kancil pun mengambil potongan daun tipis kecil-kecil.

“Aku tidak pernah takut dengan siapapun. Auuuuuuuung.” Srigala marah siap menerkam Kancil.

“Oh, kamu mau menerkamku, Srigala? Permainan ini akan dimulai. Benarkan kau takut, Srigala?” ledek Kancil.

“Tidakkkkk!!!” teriak Srigala.

“Ayo kita mulai permainannya! Yang mampu meniup masuk potongan daun tipis ini ke dalam botol, dialah yang menang dalam permainan ini. Sekarang siapkan teman-teman terbaikmu!” jelas Kancil dalam aturan mainnya.

“Aku sendiri saja sudah cukup,” kata Srigala.

“Tidak bisa! Kalau kamu sendiri, permainan ini tidak akan berfungsi,” tolak Kancil.

“Bagaimana dengan kamu, Kancil? Kamu bermain dengan siapa? Kamu kan hanya bersama dengan Singa saja,” protes Srigala menunjuk-nunjuk Singa yang duduk memperhatikan mereka berdua.

“Aku kan bisa main dengan mereka yang kamu ikat, termasuk putri kesayangan Singa,” terang Kancil santai.

“Tidak akan kubiarkan itu!!” teriak Srigala.

“Bagaimana kamu dikatakan sebagai kesatria, kalau dengan sarat permainan ini saja, kamu menjadi penakut. Hem dasar Srigala….”

“Baik, aku buktikan keberanianku. Kamu boleh bermain dengan mereka yang kuikat, tapi tidak dengan putri Singa. Biarkan putri Singa itu tetap di dalam guaku. Aku tidak mau kamu tipu, Kancil!” tegas Srigala kesal.

“Baik Srigala,” sahut Kancil menyembunyikan senyumnya.

Kancil pun melepaskan ikatan Monyet, Bebek, Kambing, Ayam, Anjing, Kucing, dan binatang yang lainnya. Begitu juga, Srigala memanggil beberapa pasukannya yang sedang menjaga putri kesayangan Srigala. Mereka pun berkumpul didekat botol di atas batu itu. Mereka siap bermain.

Kancil meletakkan potongan kecil daun tipis itu di bibir mulut botol. Kemudian, satu-persatu kawanan Srigala meniup potongan kecil daun tipis itu, tetapi semuanya gagal. Kini, hanya Srigala, sang pemimpin yang belum meniup potongan daun itu.

“Kalian semua tidak berguna! Aku yang tiup potongan daun ini. Biar sekalian botolnya yang ikut terbang,” kata Srigala kesal.

Lalu, Srigala menarik napas panjang dan meniup sekencang-kencangnya potongan daun di bibir mulut botol itu. Tapi, daun itu terpental keluar dari bibir mulut botol. Srigala berulang kali mencoba meniup potongan daun itu. Namun, tetap saja gagal memasukkan daun itu.

“Ini botol pasti kamu curangi, Kancil?” Srigala kesal.

“Lihat saja sendiri!” pinta Kancil menahan tawa.

Dalam keadaan marah, Srigala melihat dan membolak-balikkan botol itu, tetapi di dalam botol tidak ada apa-apa. Kemudian, Srigala membanting botol itu hingga pecah berkeping-keping. “Botol ini tidak ada gunanya. Aku ambil saja botolku di dalam gua.” Srigala itu masuk ke gua mengambil botol.

Sedangkan, kepingan-kepingan pecahan botol itu menyatu menjadi botol kembali seperti sediakala. Lalu, botol itu menghilang.

Datanglah Srigala membawa botol dari dalam gua. “Sekarang giliranmu dan kelompokmu meniup potongan kecil daun ini, Kancil. Kalau kamu juga gagal, aku yang menentukan permainan berikutnya. Aku akan berpesta atas kekalahanmu nanti,” ucap Srigala. Srigala merebahkan botolnya di atas batu dan meletakkan potongan kecil daun tipis itu di bibir mulut botol.

Kancil hanya tersenyum mendengar perkataan Srigala. Kancil mendekati Singa. “Rajaku, kini giliran paduka yang meniup potongan daun ini,” pinta Kancil. Singa pun mendekati botol itu. Singa menarik napas panjang dan meniup potongan daun itu. Potongan daun itu pun masuk ke dalam botol. Potongan daun itu pun berputar kencang di dalam botol.

Tiba-tiba, Singa tersedot masuk ke dalam botol dan diikuti oleh Kancil.  Begitu juga, Monyet, Bebek, Kambing, Ayam, Kucing, dan binatang yang lainnya ikut tersedot masuk ke dalam botol. Mereka menghilang di dalam botol.

Srigala kaget melihat kejadian itu. “Kemana perginya mereka? Mengapa botol yang kuambil sendiri bisa ajaib begini?” heran Srigala. Srigala membolak-balikkan dan melihat dalam botol itu dengan teliti. Dan, membuat Srigala semakin bingung, ternyata pantat botol itu bolong. Srigala pun mengocok botol itu sekencang-kencannya, tetapi tidak terjadi apa-apa.

“Aku ditipuuuu! Bawa putri kesayangan Singa itu ke sini!” teriak marah Srigala.

“Tuan, Putri Singa hilang,” sahut salah satu kawanan penjaga.

Mendengar itu, Srigala semakin memuncak marahnya. Ia melolong-lolong menggetarkan pepohonan. Botol yang masih dalam gegamannya, ia lempar ke arah gua. Namun, seketika muncul pusaran angin dari dalam botol menyedot Srigala dan kawanannya.

Ketika Srigala dan para kawanannya sadar, mereka sudah berada di dalam hutan asing yang tak berpenghuni. “Kurang ajar Kancil. Kalau ketemu dia, aku akan langsung terkam tanpa memberi ampun lagi,” sumpah Srigala.

Sedangkan, Singa dan putrinya maupun rakyat yang ditawan Srigala sudah berada di dalam istana. “Oh, kita sudah ada di dalam istana. Apakah kita sudah aman dari Srigala?” kata Putri Singa takut.

“Tenang tuan putri. Kita sudah aman dari Srigala itu. Aku sudah mengirimnya ke tempat yang jauh dengan botol ajaib ini. Karena, botol ajaib ini bisa melakukan apapun yang kamu minta, tetapi harus berkata jujur,” kata Kancil.

“Kamu memang hebat dan cerdik, Kancil. Tidak sia-sia aku mengangkatmu menjadi penasehat raja. Kamu pantas mendapatkan hadiah istimewa dariku, Kancil,” kata Singa bangga.

Singa menepati janjinya memberikan permata cantik pada Kancil. Dan semenjak itu, mereka tidak pernah lagi diganggu oleh kawanan Srigala. Hutan kerajaan Singa pun menjadi damai kembali. (T)

Tags: dongeng
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Semua Berubah di Kalangan Angsoka – Tentang Seni Klasik di Pesta Kesenian Bali

Next Post

Yuk ke Buleleng: Wisata Alam Murah Meriah, Malam Bisa Nikmati GGH

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Yuk ke Buleleng: Wisata Alam Murah Meriah, Malam Bisa Nikmati GGH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co