1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Surya Pratama

SINGA, si raja hutan berkeliling hutan melihat-lihat rakyatnya. Nyanyian burung dan canda tawa binatang menyambut si Singa. Apalagi, sejuknya udara dan cerahnya mentari pagi dari celah-celah lambaian daun-daun pohon.

“Sungguh damai hutan kerajaanku ini,” kata Singa dengan rasa lega dan bahagia. Si Singa melanjutkan perjalannya. Ia ingin mengelilingi seluruh hutan kerajaannya.

“Tolong! Aku terikat di sini!” terdengar suara rengekan.

Si Singa mendekati sumber suara meminta tolong itu. Tapi, ketika didekati, si Singa semakin banyak mendengar rengekan yang meminta tolong. Ternyata, ada beberapa binatang yang diikat di batang pohon.

Si Singa mendekati salah satu binatang yang terikat di pohon. “Siapa yang berani mengikat kalian di sini?” tanya si  Singa marah.

“Tidak tahu siapa yang mengikat kami di sini. Karena ketika kami sadar, kami sudah terikat di pohon ini. Kami hanya mendengar lolongan di balik gua itu,” sahut Monyet menunjuk-nunjuk  gua dengan memonyong-monyongkan mulutnya.

“Tunggu! Aku akan melepas kalian satu persatu. Kemudian, aku akan menghukum siapapun yang mengikat kalian di sini,” ucap si Singa kesal.

Namun tiba-tiba terdengar suara menggelegar.

“Tunggu Singa, Raja Hutan! Jika kamu berani melepas mereka, aku akan memakan putri tersayangmu!”

Suara lolongan menggelegar itu terdengar dari balik gua. Angin berhembus keluar dari gua gelap itu menampar si Singa.

Tubuh Singa sontak mundur satu langkah akibat hembusan angin yang keras. Si Singa meraung marah. Semua bulunya berdiri dan matanya terbelalak.

“Siapa kamu? Berani-beraninya kamu melakukan semua ini. Kamu berani menculik putri kesayanganku! Sini, hadapi aku!” tantang si Singa marah.

“Ayahanda, tolong aku!” Terdengar teriakan putri Singa dari dalam goa. Singa terhenyak. Ia hendak masuk ke dalam gua, namun dari kegelapan terdengar lagi suara menggelegar.

“Aku Srigala, si raja malam. Sini, kamu hadapi aku, jika hendak menolong putrimu! Kamu harus cepat sebelum aku makan putrimu,” ucap Srigala di balik kegelapan gua.

“Aku kuliti kau sampai habis, Srigala! Biar kau tahu keganasanku.” Singa mengeram siap menerkam Srigala dalam kegelapan.

“Cepat! Aku sudah siap melawanmu,” kata Srigala.

Tiba-tiba Singa mendengar suara dari luar. Suara yang sangat sabar.

“Sabar, rajaku, Raja Hutan! Masih ingat dengan janji Raja?” kata si Kancil entah datang darimana. Langkah Singa terhenti karena mendengar perkataan si Kancil.

“Hampir saja aku kehilangan mahkota suci ini. Padahal aku sudah bersumpah untuk tidak bertarung. Aku sudah berjanji menjadi raja yang tidak menggunakan kekerasan. Aku harus bijaksana,” gumam si Singa tersadar akan janjinya.

“Hai, mengapa kamu diam, Singa? Apa kamu sudah nyerah? Atau, takut? Haaa, aku telah menang tanpa harus bertarung,” terdengar suara sinis Srigala dalam kegelapan gua.

“Bagaimana ini, Kancil? Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mungkin mengingkari sumpahku,” tanya bingung Singa menghadapi Srigala.

“Tenang rajaku! Jangan panggil hamba Kacil si penasehat Raja kalau hamba tidak bisa menyelesaikan masalah ini,” kata Kancil. Memang, Kancil terkenal dengan kecerdasan dan kecerdikannya sehingga diangkat menjadi penasehat raja hutan.

“Hem, cuma itu keberanianmu, Singa? Mana kemampuanmu yang terkenal itu?” ucap Srigala sombong.

Si Singa yang mendengar perkataan Srigala hanya bisa menahan diri. Ia berusaha  tak terpancing oleh ucapan Srigala. “Cepat lakukan sesuatu, Kancil!” bisik Singa.

Kancil kemudian berkata kepada Srigala: “Haaa, mengapa kau harus repot-repot menantang Raja Hutan? Cukup aku saja yang menghadapimu. Kamu pasti sudah kalah. Bahkan, jika aku kalah, kamu bebas melakukan apa saja. Kamu juga bisa menjadi raja di hutan ini, tetapi kamu harus mengalahkanku terlebih dahulu, Srigala!” tantang Kancil.

“Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan, Kancil?” tanya pelan si Singa ragu.

“Hamba yakin rajaku. Hamba tak kan mengecewakan raja.”

Melihat keyakinan Kancil tanpa rasa takut sedikit pun, Singa tidak merasa harus melanggar sumpahnya. Tapi, jika rencana Kancil gagal, Singa merasa harus melakukan apapun mesti harus mengorbankan mahkota kerajaannya. Semua ini harus Singa lakukan demi menyelamatkan rakyat dan putri kesayangannya.

“Haaaa, Kancil badannya yang kecil itu melawanku? Kamu tidak pantas bertarung melawanku,” kata Srigala penuh kemenangan.

“Hem, biar badan kecil….”

“Kancil! Aku dengar kamu terkenal sebagai binatang yang cerdik. Kamu pilih saja permainan yang kamu inginkan! Kalau bertarung denganku, sekali gigit saja kau sudah mati. Haaa,” ucap Srigala meremehkan.

“Sungguh sombong kamu Srigala! Baik, aku akan mengajakmu permainan meniup. Tapi, jika kamu gagal melakukannya, semua binatang yang kamu sandera dan putri kesayangan raja harus kamu bebaskan. Kamu juga harus pergi dari hutan ini. Kamu berani?” sahut Kancil.

“Cuma main tiup. Itu kecil dan tak ada apa-apanya. Aku meniup kamu pun bisa sampai terbang,” jawab enteng Srigala.

Tiba-tiba, Srigala keluar dari kegelapan gua. Matanya bersinar menyala. Taringnya panjang. Ia melolong panjang. Kemudian, ia menarik napas panjang dan meniup ke arah Kancil. Secepat kilat Kancil berpegangan pada sebatang pohon. Daun-daun pohon mati berterbangan.

“Srigala hentikan! Bukan ini permainan yang sesungguhnya. Aku tahu kamu sangat kuat. Tapi, kekuatanmu akan terbukti jika melakukan permainan yang kumaksud,” teriak Kancil.

Mendengar perkataan Kancil, Srigala berhenti meniup Kancil. “Gimana tiupanku? Dasyat kan!” Srigala membanggakan diri.

“Ya, kamu kuat.”

“Cepat katakan apa permainannya!” Aku sudah tidak sabar lagi menunggu kamu kalah, Kancil!” perintah Srigala garang.

“Santai saja Srigala, kita akan mulai permainan yang sesungguhnya,” sahut enteng Kancil. Kancil mengusap-usap bulunya yang berantakan karena tiupan Srigala.

Lantas, Kancil mengambil botol dari kantong kain yang selalu dibawanya. Kemudian, Kancil merebahkan botol itu di atas batu besar di depan gua.

“Kancil! Kamu ingin memasukkan aku dalam botol itu? Oh, tidak bisa! Aku yang paling kuat di sini,” celetuk Srigala ketika melihat Kancil meletakkan botol itu di atas batu.

“Mana berani aku dengan kekuatan yang hebat itu? Bisa-bisa botol ini pecah nanti. Aku akan melakukan permainan yang adil,” ucap Kancil merendah.

“Oh, jadi kamu hanya mempermainkanku untuk mengulur-ulur waktu, Kancil? Berarti kamu udah siap untuk aku makan! Emm nyam-nyam, pasti enak dagingmu, Kancil!” Srigala mulai marah.

“Ah, Srigala mulai takut ya?” canda Kancil memancing kemarahan Srigala. Kancil pun mengambil potongan daun tipis kecil-kecil.

“Aku tidak pernah takut dengan siapapun. Auuuuuuuung.” Srigala marah siap menerkam Kancil.

“Oh, kamu mau menerkamku, Srigala? Permainan ini akan dimulai. Benarkan kau takut, Srigala?” ledek Kancil.

“Tidakkkkk!!!” teriak Srigala.

“Ayo kita mulai permainannya! Yang mampu meniup masuk potongan daun tipis ini ke dalam botol, dialah yang menang dalam permainan ini. Sekarang siapkan teman-teman terbaikmu!” jelas Kancil dalam aturan mainnya.

“Aku sendiri saja sudah cukup,” kata Srigala.

“Tidak bisa! Kalau kamu sendiri, permainan ini tidak akan berfungsi,” tolak Kancil.

“Bagaimana dengan kamu, Kancil? Kamu bermain dengan siapa? Kamu kan hanya bersama dengan Singa saja,” protes Srigala menunjuk-nunjuk Singa yang duduk memperhatikan mereka berdua.

“Aku kan bisa main dengan mereka yang kamu ikat, termasuk putri kesayangan Singa,” terang Kancil santai.

“Tidak akan kubiarkan itu!!” teriak Srigala.

“Bagaimana kamu dikatakan sebagai kesatria, kalau dengan sarat permainan ini saja, kamu menjadi penakut. Hem dasar Srigala….”

“Baik, aku buktikan keberanianku. Kamu boleh bermain dengan mereka yang kuikat, tapi tidak dengan putri Singa. Biarkan putri Singa itu tetap di dalam guaku. Aku tidak mau kamu tipu, Kancil!” tegas Srigala kesal.

“Baik Srigala,” sahut Kancil menyembunyikan senyumnya.

Kancil pun melepaskan ikatan Monyet, Bebek, Kambing, Ayam, Anjing, Kucing, dan binatang yang lainnya. Begitu juga, Srigala memanggil beberapa pasukannya yang sedang menjaga putri kesayangan Srigala. Mereka pun berkumpul didekat botol di atas batu itu. Mereka siap bermain.

Kancil meletakkan potongan kecil daun tipis itu di bibir mulut botol. Kemudian, satu-persatu kawanan Srigala meniup potongan kecil daun tipis itu, tetapi semuanya gagal. Kini, hanya Srigala, sang pemimpin yang belum meniup potongan daun itu.

“Kalian semua tidak berguna! Aku yang tiup potongan daun ini. Biar sekalian botolnya yang ikut terbang,” kata Srigala kesal.

Lalu, Srigala menarik napas panjang dan meniup sekencang-kencangnya potongan daun di bibir mulut botol itu. Tapi, daun itu terpental keluar dari bibir mulut botol. Srigala berulang kali mencoba meniup potongan daun itu. Namun, tetap saja gagal memasukkan daun itu.

“Ini botol pasti kamu curangi, Kancil?” Srigala kesal.

“Lihat saja sendiri!” pinta Kancil menahan tawa.

Dalam keadaan marah, Srigala melihat dan membolak-balikkan botol itu, tetapi di dalam botol tidak ada apa-apa. Kemudian, Srigala membanting botol itu hingga pecah berkeping-keping. “Botol ini tidak ada gunanya. Aku ambil saja botolku di dalam gua.” Srigala itu masuk ke gua mengambil botol.

Sedangkan, kepingan-kepingan pecahan botol itu menyatu menjadi botol kembali seperti sediakala. Lalu, botol itu menghilang.

Datanglah Srigala membawa botol dari dalam gua. “Sekarang giliranmu dan kelompokmu meniup potongan kecil daun ini, Kancil. Kalau kamu juga gagal, aku yang menentukan permainan berikutnya. Aku akan berpesta atas kekalahanmu nanti,” ucap Srigala. Srigala merebahkan botolnya di atas batu dan meletakkan potongan kecil daun tipis itu di bibir mulut botol.

Kancil hanya tersenyum mendengar perkataan Srigala. Kancil mendekati Singa. “Rajaku, kini giliran paduka yang meniup potongan daun ini,” pinta Kancil. Singa pun mendekati botol itu. Singa menarik napas panjang dan meniup potongan daun itu. Potongan daun itu pun masuk ke dalam botol. Potongan daun itu pun berputar kencang di dalam botol.

Tiba-tiba, Singa tersedot masuk ke dalam botol dan diikuti oleh Kancil.  Begitu juga, Monyet, Bebek, Kambing, Ayam, Kucing, dan binatang yang lainnya ikut tersedot masuk ke dalam botol. Mereka menghilang di dalam botol.

Srigala kaget melihat kejadian itu. “Kemana perginya mereka? Mengapa botol yang kuambil sendiri bisa ajaib begini?” heran Srigala. Srigala membolak-balikkan dan melihat dalam botol itu dengan teliti. Dan, membuat Srigala semakin bingung, ternyata pantat botol itu bolong. Srigala pun mengocok botol itu sekencang-kencannya, tetapi tidak terjadi apa-apa.

“Aku ditipuuuu! Bawa putri kesayangan Singa itu ke sini!” teriak marah Srigala.

“Tuan, Putri Singa hilang,” sahut salah satu kawanan penjaga.

Mendengar itu, Srigala semakin memuncak marahnya. Ia melolong-lolong menggetarkan pepohonan. Botol yang masih dalam gegamannya, ia lempar ke arah gua. Namun, seketika muncul pusaran angin dari dalam botol menyedot Srigala dan kawanannya.

Ketika Srigala dan para kawanannya sadar, mereka sudah berada di dalam hutan asing yang tak berpenghuni. “Kurang ajar Kancil. Kalau ketemu dia, aku akan langsung terkam tanpa memberi ampun lagi,” sumpah Srigala.

Sedangkan, Singa dan putrinya maupun rakyat yang ditawan Srigala sudah berada di dalam istana. “Oh, kita sudah ada di dalam istana. Apakah kita sudah aman dari Srigala?” kata Putri Singa takut.

“Tenang tuan putri. Kita sudah aman dari Srigala itu. Aku sudah mengirimnya ke tempat yang jauh dengan botol ajaib ini. Karena, botol ajaib ini bisa melakukan apapun yang kamu minta, tetapi harus berkata jujur,” kata Kancil.

“Kamu memang hebat dan cerdik, Kancil. Tidak sia-sia aku mengangkatmu menjadi penasehat raja. Kamu pantas mendapatkan hadiah istimewa dariku, Kancil,” kata Singa bangga.

Singa menepati janjinya memberikan permata cantik pada Kancil. Dan semenjak itu, mereka tidak pernah lagi diganggu oleh kawanan Srigala. Hutan kerajaan Singa pun menjadi damai kembali. (T)

Tags: dongeng
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Semua Berubah di Kalangan Angsoka – Tentang Seni Klasik di Pesta Kesenian Bali

Next Post

Yuk ke Buleleng: Wisata Alam Murah Meriah, Malam Bisa Nikmati GGH

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Yuk ke Buleleng: Wisata Alam Murah Meriah, Malam Bisa Nikmati GGH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co