JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata “moderasi” riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, sorot mata publik kembali tertuju pada kabupaten di utara Pulau Dewata ini. Bukan sekadar merayakan romansa masa lalu sebagai eks-ibu kota Sunda Kecil, melainkan menantang diri: sejauh mana modal sosial bernama toleransi mampu dikonversi menjadi motor kemajuan daerah?
Buleleng adalah anomali yang indah. Di saat lanskap pariwisata Bali kerap diidentikkan secara homogen, wilayah berjuluk Bumi Denbukit ini justru tumbuh dari silang budaya yang pekat. Di sini, istilah Nyama Kaje–Nyama Kelod (Saudara Utara-Selatan) bukan sekadar pemanis retorika politik. Ia adalah realitas sosiologis yang hidup berdampingan dalam radius hitungan kilometer.
Lihat saja bagaimana denyut nadi di Kampung Pegayaman, sebuah kantong Muslim tua yang merawat tradisi Ngejot (saling mengantar makanan saat hari raya) dan menyelipkan nama-nama khas Bali seperti Ketut atau Wayan pada anak-anak mereka. Tak jauh dari sana, ada Kampung Kajanan dengan dinamika pesisirnya, serta vihara dan gereja tua yang berdiri kokoh memagari pusat kota Singaraja.
Selama ini, narasi keberagaman di Buleleng kerap dikomodifikasi secara visual semata. Foto rumah ibadah yang berdampingan atau video dokumenter tentang keharmonisan saat Lebaran dan Nyepi sering kali diposisikan sebagai “produk jadi”.
”Tantangan terbesar Buleleng ke depan adalah ego kepuasan masa lalu,” ujar salah satu pengamat sosial lokal dalam sebuah diskusi terbatas di Singaraja baru-baru ini. “Toleransi tidak boleh mandek pada level ‘kita tidak ribut’. Ia harus bertransformasi menjadi social capital yang produktif—sesuatu yang menghasilkan kesejahteraan, rasa aman, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat bawah.”
Di sinilah sektor pariwisata masuk sebagai jembatan. Ketika Bali Selatan mulai jenuh dengan wisata massal (mass tourism) yang padat modal, Buleleng memiliki modal organik untuk menawarkan alternatif: Pariwisata Budaya yang Inklusif dan Berkelanjutan.
Universal Hospitality dan Kekuatan Narasi
Dalam tren perjalanan global pasca-pandemi, wisatawan tidak lagi sekadar berburu swafoto di objek wisata yang estetis. Mereka mencari ambience—getaran spiritual dan rasa aman dari sebuah destinasi. Buleleng memiliki atmosfer itu. Keterbukaan karakter masyarakatnya yang egaliter dan blak-blakan (sano Bali utara) justru melahirkan rasa diterima bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Potensi ekonomi terbesar justru lahir dari konsep storytelling (penceritaan). Setiap sudut Singaraja menyimpan narasi akulturasi yang “mahal”. Bagaimana sistem tata kelola air (Subak) bisa beririsan harmonis dengan petani Muslim di perbukitan, atau bagaimana arsitektur pura dan masjid tua saling memengaruhi estetika satu sama lain, adalah komoditas wisata minat khusus (cultural & heritage tourism) yang belum digarap secara maksimal. Wisatawan jenis inilah yang jeli, menghargai proses, dan biasanya rela merobohkan kocek lebih dalam untuk tinggal lebih lama.
Jika dikelola secara serius lewat kalender budaya bersama—misalnya festival lintas budaya yang menampilkan seni sinkretisme Denbukit—Buleleng tidak hanya menjual pemandangan alam seperti lumba-lumba Lovina atau dinginnya Munduk, tetapi juga menjual “jiwa” dari toleransi itu sendiri.
Kerja Keras dari Barat ke Timur
Tentu saja, mematangkan konsep ini memerlukan kerja kebijakan yang konsisten dari pemerintah daerah. Pemerataan infrastruktur dari Buleleng Barat hingga Timur menjadi harga mati agar pariwisata inklusif ini tidak timpang. Generasi muda Singaraja juga perlu diinjeksi kembali dengan literasi sejarah lokal agar mereka tidak gagap mempertahankan identitas di tengah gempuran modernisasi.
Pancasila, di atas tanah Buleleng, tidak sedang diuji sebagai konsep hafalan. Ia sedang diuji sebagai instrumen kesejahteraan. Melalui semangat jengah, merawat Nyama Kaje-Nyama Kelod bukan lagi sekadar urusan menjaga perdamaian komunal. Ini adalah cetak biru masa depan, sebuah pembuktian bahwa dari rahim kerukunan yang tulus, kemakmuran ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Buleleng bisa dilahirkan. [T]
Penulis: Eril Paizi
Editor: Adnyana Ole





























