22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Eril Paizi by Eril Paizi
June 2, 2026
in Esai
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Ilustrasi tatkala.co | Canva

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata “moderasi” riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, sorot mata publik kembali tertuju pada kabupaten di utara Pulau Dewata ini. Bukan sekadar merayakan romansa masa lalu sebagai eks-ibu kota Sunda Kecil, melainkan menantang diri: sejauh mana modal sosial bernama toleransi mampu dikonversi menjadi motor kemajuan daerah?

​Buleleng adalah anomali yang indah. Di saat lanskap pariwisata Bali kerap diidentikkan secara homogen, wilayah berjuluk Bumi Denbukit ini justru tumbuh dari silang budaya yang pekat. Di sini, istilah Nyama Kaje–Nyama Kelod (Saudara Utara-Selatan) bukan sekadar pemanis retorika politik. Ia adalah realitas sosiologis yang hidup berdampingan dalam radius hitungan kilometer.

​Lihat saja bagaimana denyut nadi di Kampung Pegayaman, sebuah kantong Muslim tua yang merawat tradisi Ngejot (saling mengantar makanan saat hari raya) dan menyelipkan nama-nama khas Bali seperti Ketut atau Wayan pada anak-anak mereka. Tak jauh dari sana, ada Kampung Kajanan dengan dinamika pesisirnya, serta vihara dan gereja tua yang berdiri kokoh memagari pusat kota Singaraja.

​Selama ini, narasi keberagaman di Buleleng kerap dikomodifikasi secara visual semata. Foto rumah ibadah yang berdampingan atau video dokumenter tentang keharmonisan saat Lebaran dan Nyepi sering kali diposisikan sebagai “produk jadi”.

​”Tantangan terbesar Buleleng ke depan adalah ego kepuasan masa lalu,” ujar salah satu pengamat sosial lokal dalam sebuah diskusi terbatas di Singaraja baru-baru ini. “Toleransi tidak boleh mandek pada level ‘kita tidak ribut’. Ia harus bertransformasi menjadi social capital yang produktif—sesuatu yang menghasilkan kesejahteraan, rasa aman, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat bawah.”

​Di sinilah sektor pariwisata masuk sebagai jembatan. Ketika Bali Selatan mulai jenuh dengan wisata massal (mass tourism) yang padat modal, Buleleng memiliki modal organik untuk menawarkan alternatif: Pariwisata Budaya yang Inklusif dan Berkelanjutan.

​

Universal Hospitality dan Kekuatan Narasi

​Dalam tren perjalanan global pasca-pandemi, wisatawan tidak lagi sekadar berburu swafoto di objek wisata yang estetis. Mereka mencari ambience—getaran spiritual dan rasa aman dari sebuah destinasi. Buleleng memiliki atmosfer itu. Keterbukaan karakter masyarakatnya yang egaliter dan blak-blakan (sano Bali utara) justru melahirkan rasa diterima bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang keyakinan.

​Potensi ekonomi terbesar justru lahir dari konsep storytelling (penceritaan). Setiap sudut Singaraja menyimpan narasi akulturasi yang “mahal”. Bagaimana sistem tata kelola air (Subak) bisa beririsan harmonis dengan petani Muslim di perbukitan, atau bagaimana arsitektur pura dan masjid tua saling memengaruhi estetika satu sama lain, adalah komoditas wisata minat khusus (cultural & heritage tourism) yang belum digarap secara maksimal. Wisatawan jenis inilah yang jeli, menghargai proses, dan biasanya rela merobohkan kocek lebih dalam untuk tinggal lebih lama.

​Jika dikelola secara serius lewat kalender budaya bersama—misalnya festival lintas budaya yang menampilkan seni sinkretisme Denbukit—Buleleng tidak hanya menjual pemandangan alam seperti lumba-lumba Lovina atau dinginnya Munduk, tetapi juga menjual “jiwa” dari toleransi itu sendiri.

​

Kerja Keras dari Barat ke Timur

​Tentu saja, mematangkan konsep ini memerlukan kerja kebijakan yang konsisten dari pemerintah daerah. Pemerataan infrastruktur dari Buleleng Barat hingga Timur menjadi harga mati agar pariwisata inklusif ini tidak timpang. Generasi muda Singaraja juga perlu diinjeksi kembali dengan literasi sejarah lokal agar mereka tidak gagap mempertahankan identitas di tengah gempuran modernisasi.

​Pancasila, di atas tanah Buleleng, tidak sedang diuji sebagai konsep hafalan. Ia sedang diuji sebagai instrumen kesejahteraan. Melalui semangat jengah, merawat Nyama Kaje-Nyama Kelod bukan lagi sekadar urusan menjaga perdamaian komunal. Ini adalah cetak biru masa depan, sebuah pembuktian bahwa dari rahim kerukunan yang tulus, kemakmuran ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Buleleng bisa dilahirkan. [T]

Penulis: Eril Paizi
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengPariwisatatoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Next Post

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Eril Paizi

Eril Paizi

Mahasiswa aktif Pendidikan Kimia di Universitas Pendidikan Ganesha yang berfokus pada riset etnosains dan memiliki rekam jejak akademik yang kuat. Berpengalaman sebagai Ketua Umum PMM Al-Hikmah dan Ketua Bidang Infokom HMI Cabang Singaraja, ia terbukti memiliki kepemimpinan adaptif serta kemampuan manajemen proyek yang solid. Dedikasinya di dunia riset ditunjukkan melalui berbagai prestasi tingkat nasional, termasuk lolos pendanaan PKM-RE serta meraih Silver Medal di Economic Invention and Innovation. Dengan kombinasi keahlian analisis data, komunikasi efektif, dan pemecahan masalah.

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

'Lambuk Baa' di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co