11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Eril Paizi by Eril Paizi
June 2, 2026
in Esai
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Ilustrasi tatkala.co | Canva

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata “moderasi” riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, sorot mata publik kembali tertuju pada kabupaten di utara Pulau Dewata ini. Bukan sekadar merayakan romansa masa lalu sebagai eks-ibu kota Sunda Kecil, melainkan menantang diri: sejauh mana modal sosial bernama toleransi mampu dikonversi menjadi motor kemajuan daerah?

​Buleleng adalah anomali yang indah. Di saat lanskap pariwisata Bali kerap diidentikkan secara homogen, wilayah berjuluk Bumi Denbukit ini justru tumbuh dari silang budaya yang pekat. Di sini, istilah Nyama Kaje–Nyama Kelod (Saudara Utara-Selatan) bukan sekadar pemanis retorika politik. Ia adalah realitas sosiologis yang hidup berdampingan dalam radius hitungan kilometer.

​Lihat saja bagaimana denyut nadi di Kampung Pegayaman, sebuah kantong Muslim tua yang merawat tradisi Ngejot (saling mengantar makanan saat hari raya) dan menyelipkan nama-nama khas Bali seperti Ketut atau Wayan pada anak-anak mereka. Tak jauh dari sana, ada Kampung Kajanan dengan dinamika pesisirnya, serta vihara dan gereja tua yang berdiri kokoh memagari pusat kota Singaraja.

​Selama ini, narasi keberagaman di Buleleng kerap dikomodifikasi secara visual semata. Foto rumah ibadah yang berdampingan atau video dokumenter tentang keharmonisan saat Lebaran dan Nyepi sering kali diposisikan sebagai “produk jadi”.

​”Tantangan terbesar Buleleng ke depan adalah ego kepuasan masa lalu,” ujar salah satu pengamat sosial lokal dalam sebuah diskusi terbatas di Singaraja baru-baru ini. “Toleransi tidak boleh mandek pada level ‘kita tidak ribut’. Ia harus bertransformasi menjadi social capital yang produktif—sesuatu yang menghasilkan kesejahteraan, rasa aman, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat bawah.”

​Di sinilah sektor pariwisata masuk sebagai jembatan. Ketika Bali Selatan mulai jenuh dengan wisata massal (mass tourism) yang padat modal, Buleleng memiliki modal organik untuk menawarkan alternatif: Pariwisata Budaya yang Inklusif dan Berkelanjutan.

​

Universal Hospitality dan Kekuatan Narasi

​Dalam tren perjalanan global pasca-pandemi, wisatawan tidak lagi sekadar berburu swafoto di objek wisata yang estetis. Mereka mencari ambience—getaran spiritual dan rasa aman dari sebuah destinasi. Buleleng memiliki atmosfer itu. Keterbukaan karakter masyarakatnya yang egaliter dan blak-blakan (sano Bali utara) justru melahirkan rasa diterima bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang keyakinan.

​Potensi ekonomi terbesar justru lahir dari konsep storytelling (penceritaan). Setiap sudut Singaraja menyimpan narasi akulturasi yang “mahal”. Bagaimana sistem tata kelola air (Subak) bisa beririsan harmonis dengan petani Muslim di perbukitan, atau bagaimana arsitektur pura dan masjid tua saling memengaruhi estetika satu sama lain, adalah komoditas wisata minat khusus (cultural & heritage tourism) yang belum digarap secara maksimal. Wisatawan jenis inilah yang jeli, menghargai proses, dan biasanya rela merobohkan kocek lebih dalam untuk tinggal lebih lama.

​Jika dikelola secara serius lewat kalender budaya bersama—misalnya festival lintas budaya yang menampilkan seni sinkretisme Denbukit—Buleleng tidak hanya menjual pemandangan alam seperti lumba-lumba Lovina atau dinginnya Munduk, tetapi juga menjual “jiwa” dari toleransi itu sendiri.

​

Kerja Keras dari Barat ke Timur

​Tentu saja, mematangkan konsep ini memerlukan kerja kebijakan yang konsisten dari pemerintah daerah. Pemerataan infrastruktur dari Buleleng Barat hingga Timur menjadi harga mati agar pariwisata inklusif ini tidak timpang. Generasi muda Singaraja juga perlu diinjeksi kembali dengan literasi sejarah lokal agar mereka tidak gagap mempertahankan identitas di tengah gempuran modernisasi.

​Pancasila, di atas tanah Buleleng, tidak sedang diuji sebagai konsep hafalan. Ia sedang diuji sebagai instrumen kesejahteraan. Melalui semangat jengah, merawat Nyama Kaje-Nyama Kelod bukan lagi sekadar urusan menjaga perdamaian komunal. Ini adalah cetak biru masa depan, sebuah pembuktian bahwa dari rahim kerukunan yang tulus, kemakmuran ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Buleleng bisa dilahirkan. [T]

Penulis: Eril Paizi
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengPariwisatatoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Next Post

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Eril Paizi

Eril Paizi

Mahasiswa aktif Pendidikan Kimia di Universitas Pendidikan Ganesha yang berfokus pada riset etnosains dan memiliki rekam jejak akademik yang kuat. Berpengalaman sebagai Ketua Umum PMM Al-Hikmah dan Ketua Bidang Infokom HMI Cabang Singaraja, ia terbukti memiliki kepemimpinan adaptif serta kemampuan manajemen proyek yang solid. Dedikasinya di dunia riset ditunjukkan melalui berbagai prestasi tingkat nasional, termasuk lolos pendanaan PKM-RE serta meraih Silver Medal di Economic Invention and Innovation. Dengan kombinasi keahlian analisis data, komunikasi efektif, dan pemecahan masalah.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

'Lambuk Baa' di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co