7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

Chusmeru by Chusmeru
July 27, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan baliho. Pemimpin dinilai dari hasil kerjanya selama lima tahun. Kini, satu potongan video tujuh detik dapat membuat kinerja pemimpin selama lima tahun dipertanyakan.

Komunikasi politik pada hakikatnya merupakan proses penyampaian pesan, simbol, narasi oleh aktor politik ke publik untuk membangun opini, dukungan, dan legitimasi. Dahulu, komunikasi politik lebih bersifat satu arah. Kini lebih bersifat multiarah dan dialogis. Omongan pemimpin tidak serta-merta akan didengar rakyat, malah kadang langsung dibalas dengan respons nyinyir di media sosial.

Masalah muncul ketika pemimpin kekinian tak menyadari tentang pergeseran perilaku komunikasi politik masyarakat Indonesia. Mereka masih sering berkomunikasi satu arah, sibuk memamerkan capaian kerja, namun jarang mau mendengar keluhan rakyat. Pemimpin semacam itu akan dihadapkan pada krisis komunikasi publik.

Krisis komunikasi publik merupakan kondisi ketika pesan pemimpin tidak sampai, tidak dipercaya, dan memicu kemarahan publik. Krisis ini dapat memantik aksi jalanan oleh rakyat. Tak kalah seru, rakyat juga melampiaskan kemarahannya di jagat maya. Apalagi lebih dari 80 persen rakyat Indonesia sudah melek digital dan aktif di media sosial.

Pertanda krisis komunikasi publik memang sangat mudah dilacak di dunia maya. Terjadi asimetri informasi. Pemerintah sudah merasa melakukan komunikasi politik dengan baik, merasa telah menjelaskan kebijakan; akan tetapi publik tetap tak paham, tak tahu, atau salah paham. Buktinya, kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kini percakapan publik di ranah digital masih tinggi, lantaran komunikasi di awal memang buruk.

Pesan komunikasi barangkali saja sampai ke publik, tetapi tidak dipercaya, sehingga menimbulkan krisis legitimasi. Yang paling berbahaya, pesan diterima dan dimengerti, namun membuat publik marah. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “orang desa nggak pakai dolar” memicu reaksi negatif netizen.

Krisis dan Blunder

Mengapa kini banyak pemimpin yang mengalami krisis komunikasi politik dan komunikasi publik? Salah satu penyebabkan adalah perkembangan teknologi digital. Media sosial membuat segalanya berjalan begitu cepat. Jika dulu klarifikasi kebijakan bisa dilakukan 1×24 jam; kini potongan pidato pejabat viral dalam waktu kurang dari satu jam. Klarifikasi yang terlambat membuat publik sudah terlanjur marah.

Rakyat Indonesia saat ini juga bukan lagi penerima pesan yang pasif. Rakyat adalah aktor politik yang aktif pula. Mereka tersebar di berbagai pulau, aktif menafsirkan berbagai pesan, dan selalu mempertanyakan narasi yang dibuat para pemimpin. Maka, ketika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) “dipaksakan” berdiri di setiap desa dengan narasi demi kesejahteraan, rakyat mempertanyakannya serta menuding pemerintah tak mau mendengar rakyatnya.

Ekspektasi publik kepada pejabat negara kini juga sangat tinggi. Apalagi di era keterbukaan informasi. Sedikit saja pejabat salah berkomunikasi akan langsung mendapat atensi publik. Komunikasi politik dan komunikasi publik pejabat dianggap bagian dari kinerja, bukan sekadar pelengkap. Karenanya, setiap pernyataan pejabat yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat haruslah berkorelasi dengan kebijakan yang dibuatnya.

Komunikasi politik pejabat dan pemimpin yang buruk kerapkali menjadi blunder. Pernyataan bahwa melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika tidak berpengaruh terhadap perekonomian orang desa akan dianggap sebagai hilangnya empati pejabat terhadap rakyat. Publik merasakan tekanan ekonomi setiap hari, sementara pejabat tetap mengatakan ekonomi Indonesia baik-baik saja.

Klarifikasi pejabat acapkali juga terlambat yang berakibat blunder dalam komunikasi politik. Kasus pelarangan dan intimidasi terhadap pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” menjadi contoh betapa buruk komunikasi publik pemimpin. Di beberapa tempat telah terjadi pembubaran acara nonton bareng (nobar) film tersebut.

Belakangan, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mengeluarkan instruksi atau kebijakan yang melarang pemutaran maupun acara nobar film dokumenter tersebut.  Menko Yusril menyatakan bahwa pembubaran acara nobar di beberapa daerah bukanlah arahan terpusat dari pemerintah maupun aparat penegak hukum nasional.

Blunder komunikasi politik terjadi ketika pemimpin terlalu asyik berbicara dengan dirinya sendiri. Pemerintah sibuk berbicara tentang capaian MBG, tapi tak mau mendengar komentar wali murid yang ketakutan anaknya keracunan, porsi makan yang kurang, distribusi  yang terlambat, dan potensi korupsi dalam proyek MBG itu. Selalu mengeklaim MBG berhasil, meski banyak kasus menimpanya.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Puncak Harlah ke-28 PKB tanggal 23 Juli 2026 lalu juga menggambarkan blunder dan krisis komunikasi politik pemimpin. Ia menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM seperti layaknya Londo Ireng, yang merujuk pada sebutan pribumi yang berkhianat lantaran membantu penjajah Belanda. Seraya bertanya: “Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handpondmu siapa?”(CNN Indonesia, 24 Juli 2026). Tentu saja itu pernyataan dan pertanyaan yang tidak layak diucapkan oleh seorang presiden.

Wajah Komunikasi Politik Kini

Pendapat Ketua Umum Golkar yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menarik untuk disimak. Dalam satu kesempatan ia mengataakan, bahwa pejabat yang viral itu pertanda baik, tinggal bagaimana menyiasati dan memitigasi pandangan publik. Begitulah memang wajah komunikasi politik kekinian. Popularitas, dan barangkali juga elektabilitas; mengikuti gejala politik algoritma. Tidak cukup hanya mengandalkan baliho, poster, atau kinerja partai.

Algoritma menjadi tim sukses baru bagi politisi. Algoritma TikTok, Instagram, X, dan YouTube sering menyodorkan konten yang sesuai selera penonton milenial dan Gen Z. Bila penonton suka pada kritik politik, maka yang muncul di beranda adalah konten kritik terhadap pemerintah. Politik algoritma kini menjadi wajah komunikasi politik, dan dijadikan strategi aktor politik untuk membidik audiens yang sesuai dengan targetnya.

Influencerisasi politik mempunyai pengaruh yang besar ketimbang partai. Hal ini membuat politik, hiburan, dan budaya populer bercampur menjadi satu paket. Tak heran bila lagu “My Little Bolu Ketan” menjadi tren dan memenuhi beranda setiap media sosial. Orang tak lagi mempersoalkan kinerja Bahlil Lahadalia sebagai menteri. Dan tentu saja itu sangat menguntungkan bagi Bahlil dan partai politik yang dipimpinnya.

Sudah pasti wajah pemimpin yang terbentuk lantaran politik algoritma akan membawa konsekuensi. Demokrasi lantas menjadi semacam perang dunia maya. Mereka yang memiliki data serta tim informasi dan teknologi kuat dapat mengalahkan orang yang mempunyai visi namun gagap teknologi.

Potensi terjadinya filter bubble juga terbuka lebar. Orang terjebak dalam gelembung opini. Mereka yang pro penguasa hanya akan melihat konten yang pro pemerintah; begitu pun sebaliknya. Akibatnya publik kian terfragmentasi. Tidak ada lagi ruang publik bersama untuk demokrasi. Setiap orang tinggal di dunianya sendiri sesuai dengan algoritma.

Dapat disimpulkan, bahwa krisis komunikasi publik pemimpin pada masa kini merupakan manifestasi dari pergeseran paradigma demokrasi dari representative democracy menuju cyberdemocracy. Dalam tatanan baru ini, ruang publik tidak lagi dimonopoli oleh institusi formal, melainkan diproduksi ulang melalui interaksi simbolik di platform digital yang digerakkan algoritma.

Pada akhirnya, era cyberdemocracy tidak memberi ruang kedua bagi klarifikasi yang datang terlambat. Pemimpin hari ini diuji dua kali; saat bekerja untuk rakyat, dan saat menjelaskan kerja itu agar sampai kepada rakyat. Lantaran  algoritma tidak peduli niat baik, ia hanya membaca engagement. Cara pemimpin berbicara karenanya lebih menentukan nasib kebijakan daripada isi kebijakan itu sendiri

Maka, kata-kata seperti ndhasmu, emang gue pikirin, antek-antek asing, dan sebagainya yang keluar dari mulut pemimpin layak untuk dicermati secara serius. Apakah pernyataan itu terlontar sebagai candaan yang tak lucu ataukah memang bagian dari demokrasi siber untuk menggerakkan algoritma? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunikasi politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Next Post

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co