16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

Chusmeru by Chusmeru
July 27, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan baliho. Pemimpin dinilai dari hasil kerjanya selama lima tahun. Kini, satu potongan video tujuh detik dapat membuat kinerja pemimpin selama lima tahun dipertanyakan.

Komunikasi politik pada hakikatnya merupakan proses penyampaian pesan, simbol, narasi oleh aktor politik ke publik untuk membangun opini, dukungan, dan legitimasi. Dahulu, komunikasi politik lebih bersifat satu arah. Kini lebih bersifat multiarah dan dialogis. Omongan pemimpin tidak serta-merta akan didengar rakyat, malah kadang langsung dibalas dengan respons nyinyir di media sosial.

Masalah muncul ketika pemimpin kekinian tak menyadari tentang pergeseran perilaku komunikasi politik masyarakat Indonesia. Mereka masih sering berkomunikasi satu arah, sibuk memamerkan capaian kerja, namun jarang mau mendengar keluhan rakyat. Pemimpin semacam itu akan dihadapkan pada krisis komunikasi publik.

Krisis komunikasi publik merupakan kondisi ketika pesan pemimpin tidak sampai, tidak dipercaya, dan memicu kemarahan publik. Krisis ini dapat memantik aksi jalanan oleh rakyat. Tak kalah seru, rakyat juga melampiaskan kemarahannya di jagat maya. Apalagi lebih dari 80 persen rakyat Indonesia sudah melek digital dan aktif di media sosial.

Pertanda krisis komunikasi publik memang sangat mudah dilacak di dunia maya. Terjadi asimetri informasi. Pemerintah sudah merasa melakukan komunikasi politik dengan baik, merasa telah menjelaskan kebijakan; akan tetapi publik tetap tak paham, tak tahu, atau salah paham. Buktinya, kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kini percakapan publik di ranah digital masih tinggi, lantaran komunikasi di awal memang buruk.

Pesan komunikasi barangkali saja sampai ke publik, tetapi tidak dipercaya, sehingga menimbulkan krisis legitimasi. Yang paling berbahaya, pesan diterima dan dimengerti, namun membuat publik marah. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “orang desa nggak pakai dolar” memicu reaksi negatif netizen.

Krisis dan Blunder

Mengapa kini banyak pemimpin yang mengalami krisis komunikasi politik dan komunikasi publik? Salah satu penyebabkan adalah perkembangan teknologi digital. Media sosial membuat segalanya berjalan begitu cepat. Jika dulu klarifikasi kebijakan bisa dilakukan 1×24 jam; kini potongan pidato pejabat viral dalam waktu kurang dari satu jam. Klarifikasi yang terlambat membuat publik sudah terlanjur marah.

Rakyat Indonesia saat ini juga bukan lagi penerima pesan yang pasif. Rakyat adalah aktor politik yang aktif pula. Mereka tersebar di berbagai pulau, aktif menafsirkan berbagai pesan, dan selalu mempertanyakan narasi yang dibuat para pemimpin. Maka, ketika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) “dipaksakan” berdiri di setiap desa dengan narasi demi kesejahteraan, rakyat mempertanyakannya serta menuding pemerintah tak mau mendengar rakyatnya.

Ekspektasi publik kepada pejabat negara kini juga sangat tinggi. Apalagi di era keterbukaan informasi. Sedikit saja pejabat salah berkomunikasi akan langsung mendapat atensi publik. Komunikasi politik dan komunikasi publik pejabat dianggap bagian dari kinerja, bukan sekadar pelengkap. Karenanya, setiap pernyataan pejabat yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat haruslah berkorelasi dengan kebijakan yang dibuatnya.

Komunikasi politik pejabat dan pemimpin yang buruk kerapkali menjadi blunder. Pernyataan bahwa melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika tidak berpengaruh terhadap perekonomian orang desa akan dianggap sebagai hilangnya empati pejabat terhadap rakyat. Publik merasakan tekanan ekonomi setiap hari, sementara pejabat tetap mengatakan ekonomi Indonesia baik-baik saja.

Klarifikasi pejabat acapkali juga terlambat yang berakibat blunder dalam komunikasi politik. Kasus pelarangan dan intimidasi terhadap pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” menjadi contoh betapa buruk komunikasi publik pemimpin. Di beberapa tempat telah terjadi pembubaran acara nonton bareng (nobar) film tersebut.

Belakangan, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mengeluarkan instruksi atau kebijakan yang melarang pemutaran maupun acara nobar film dokumenter tersebut.  Menko Yusril menyatakan bahwa pembubaran acara nobar di beberapa daerah bukanlah arahan terpusat dari pemerintah maupun aparat penegak hukum nasional.

Blunder komunikasi politik terjadi ketika pemimpin terlalu asyik berbicara dengan dirinya sendiri. Pemerintah sibuk berbicara tentang capaian MBG, tapi tak mau mendengar komentar wali murid yang ketakutan anaknya keracunan, porsi makan yang kurang, distribusi  yang terlambat, dan potensi korupsi dalam proyek MBG itu. Selalu mengeklaim MBG berhasil, meski banyak kasus menimpanya.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Puncak Harlah ke-28 PKB tanggal 23 Juli 2026 lalu juga menggambarkan blunder dan krisis komunikasi politik pemimpin. Ia menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM seperti layaknya Londo Ireng, yang merujuk pada sebutan pribumi yang berkhianat lantaran membantu penjajah Belanda. Seraya bertanya: “Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handpondmu siapa?”(CNN Indonesia, 24 Juli 2026). Tentu saja itu pernyataan dan pertanyaan yang tidak layak diucapkan oleh seorang presiden.

Wajah Komunikasi Politik Kini

Pendapat Ketua Umum Golkar yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menarik untuk disimak. Dalam satu kesempatan ia mengataakan, bahwa pejabat yang viral itu pertanda baik, tinggal bagaimana menyiasati dan memitigasi pandangan publik. Begitulah memang wajah komunikasi politik kekinian. Popularitas, dan barangkali juga elektabilitas; mengikuti gejala politik algoritma. Tidak cukup hanya mengandalkan baliho, poster, atau kinerja partai.

Algoritma menjadi tim sukses baru bagi politisi. Algoritma TikTok, Instagram, X, dan YouTube sering menyodorkan konten yang sesuai selera penonton milenial dan Gen Z. Bila penonton suka pada kritik politik, maka yang muncul di beranda adalah konten kritik terhadap pemerintah. Politik algoritma kini menjadi wajah komunikasi politik, dan dijadikan strategi aktor politik untuk membidik audiens yang sesuai dengan targetnya.

Influencerisasi politik mempunyai pengaruh yang besar ketimbang partai. Hal ini membuat politik, hiburan, dan budaya populer bercampur menjadi satu paket. Tak heran bila lagu “My Little Bolu Ketan” menjadi tren dan memenuhi beranda setiap media sosial. Orang tak lagi mempersoalkan kinerja Bahlil Lahadalia sebagai menteri. Dan tentu saja itu sangat menguntungkan bagi Bahlil dan partai politik yang dipimpinnya.

Sudah pasti wajah pemimpin yang terbentuk lantaran politik algoritma akan membawa konsekuensi. Demokrasi lantas menjadi semacam perang dunia maya. Mereka yang memiliki data serta tim informasi dan teknologi kuat dapat mengalahkan orang yang mempunyai visi namun gagap teknologi.

Potensi terjadinya filter bubble juga terbuka lebar. Orang terjebak dalam gelembung opini. Mereka yang pro penguasa hanya akan melihat konten yang pro pemerintah; begitu pun sebaliknya. Akibatnya publik kian terfragmentasi. Tidak ada lagi ruang publik bersama untuk demokrasi. Setiap orang tinggal di dunianya sendiri sesuai dengan algoritma.

Dapat disimpulkan, bahwa krisis komunikasi publik pemimpin pada masa kini merupakan manifestasi dari pergeseran paradigma demokrasi dari representative democracy menuju cyberdemocracy. Dalam tatanan baru ini, ruang publik tidak lagi dimonopoli oleh institusi formal, melainkan diproduksi ulang melalui interaksi simbolik di platform digital yang digerakkan algoritma.

Pada akhirnya, era cyberdemocracy tidak memberi ruang kedua bagi klarifikasi yang datang terlambat. Pemimpin hari ini diuji dua kali; saat bekerja untuk rakyat, dan saat menjelaskan kerja itu agar sampai kepada rakyat. Lantaran  algoritma tidak peduli niat baik, ia hanya membaca engagement. Cara pemimpin berbicara karenanya lebih menentukan nasib kebijakan daripada isi kebijakan itu sendiri

Maka, kata-kata seperti ndhasmu, emang gue pikirin, antek-antek asing, dan sebagainya yang keluar dari mulut pemimpin layak untuk dicermati secara serius. Apakah pernyataan itu terlontar sebagai candaan yang tak lucu ataukah memang bagian dari demokrasi siber untuk menggerakkan algoritma? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunikasi politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Next Post

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co