17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

Chusmeru by Chusmeru
July 27, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan baliho. Pemimpin dinilai dari hasil kerjanya selama lima tahun. Kini, satu potongan video tujuh detik dapat membuat kinerja pemimpin selama lima tahun dipertanyakan.

Komunikasi politik pada hakikatnya merupakan proses penyampaian pesan, simbol, narasi oleh aktor politik ke publik untuk membangun opini, dukungan, dan legitimasi. Dahulu, komunikasi politik lebih bersifat satu arah. Kini lebih bersifat multiarah dan dialogis. Omongan pemimpin tidak serta-merta akan didengar rakyat, malah kadang langsung dibalas dengan respons nyinyir di media sosial.

Masalah muncul ketika pemimpin kekinian tak menyadari tentang pergeseran perilaku komunikasi politik masyarakat Indonesia. Mereka masih sering berkomunikasi satu arah, sibuk memamerkan capaian kerja, namun jarang mau mendengar keluhan rakyat. Pemimpin semacam itu akan dihadapkan pada krisis komunikasi publik.

Krisis komunikasi publik merupakan kondisi ketika pesan pemimpin tidak sampai, tidak dipercaya, dan memicu kemarahan publik. Krisis ini dapat memantik aksi jalanan oleh rakyat. Tak kalah seru, rakyat juga melampiaskan kemarahannya di jagat maya. Apalagi lebih dari 80 persen rakyat Indonesia sudah melek digital dan aktif di media sosial.

Pertanda krisis komunikasi publik memang sangat mudah dilacak di dunia maya. Terjadi asimetri informasi. Pemerintah sudah merasa melakukan komunikasi politik dengan baik, merasa telah menjelaskan kebijakan; akan tetapi publik tetap tak paham, tak tahu, atau salah paham. Buktinya, kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kini percakapan publik di ranah digital masih tinggi, lantaran komunikasi di awal memang buruk.

Pesan komunikasi barangkali saja sampai ke publik, tetapi tidak dipercaya, sehingga menimbulkan krisis legitimasi. Yang paling berbahaya, pesan diterima dan dimengerti, namun membuat publik marah. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “orang desa nggak pakai dolar” memicu reaksi negatif netizen.

Krisis dan Blunder

Mengapa kini banyak pemimpin yang mengalami krisis komunikasi politik dan komunikasi publik? Salah satu penyebabkan adalah perkembangan teknologi digital. Media sosial membuat segalanya berjalan begitu cepat. Jika dulu klarifikasi kebijakan bisa dilakukan 1×24 jam; kini potongan pidato pejabat viral dalam waktu kurang dari satu jam. Klarifikasi yang terlambat membuat publik sudah terlanjur marah.

Rakyat Indonesia saat ini juga bukan lagi penerima pesan yang pasif. Rakyat adalah aktor politik yang aktif pula. Mereka tersebar di berbagai pulau, aktif menafsirkan berbagai pesan, dan selalu mempertanyakan narasi yang dibuat para pemimpin. Maka, ketika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) “dipaksakan” berdiri di setiap desa dengan narasi demi kesejahteraan, rakyat mempertanyakannya serta menuding pemerintah tak mau mendengar rakyatnya.

Ekspektasi publik kepada pejabat negara kini juga sangat tinggi. Apalagi di era keterbukaan informasi. Sedikit saja pejabat salah berkomunikasi akan langsung mendapat atensi publik. Komunikasi politik dan komunikasi publik pejabat dianggap bagian dari kinerja, bukan sekadar pelengkap. Karenanya, setiap pernyataan pejabat yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat haruslah berkorelasi dengan kebijakan yang dibuatnya.

Komunikasi politik pejabat dan pemimpin yang buruk kerapkali menjadi blunder. Pernyataan bahwa melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika tidak berpengaruh terhadap perekonomian orang desa akan dianggap sebagai hilangnya empati pejabat terhadap rakyat. Publik merasakan tekanan ekonomi setiap hari, sementara pejabat tetap mengatakan ekonomi Indonesia baik-baik saja.

Klarifikasi pejabat acapkali juga terlambat yang berakibat blunder dalam komunikasi politik. Kasus pelarangan dan intimidasi terhadap pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” menjadi contoh betapa buruk komunikasi publik pemimpin. Di beberapa tempat telah terjadi pembubaran acara nonton bareng (nobar) film tersebut.

Belakangan, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mengeluarkan instruksi atau kebijakan yang melarang pemutaran maupun acara nobar film dokumenter tersebut.  Menko Yusril menyatakan bahwa pembubaran acara nobar di beberapa daerah bukanlah arahan terpusat dari pemerintah maupun aparat penegak hukum nasional.

Blunder komunikasi politik terjadi ketika pemimpin terlalu asyik berbicara dengan dirinya sendiri. Pemerintah sibuk berbicara tentang capaian MBG, tapi tak mau mendengar komentar wali murid yang ketakutan anaknya keracunan, porsi makan yang kurang, distribusi  yang terlambat, dan potensi korupsi dalam proyek MBG itu. Selalu mengeklaim MBG berhasil, meski banyak kasus menimpanya.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Puncak Harlah ke-28 PKB tanggal 23 Juli 2026 lalu juga menggambarkan blunder dan krisis komunikasi politik pemimpin. Ia menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM seperti layaknya Londo Ireng, yang merujuk pada sebutan pribumi yang berkhianat lantaran membantu penjajah Belanda. Seraya bertanya: “Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handpondmu siapa?”(CNN Indonesia, 24 Juli 2026). Tentu saja itu pernyataan dan pertanyaan yang tidak layak diucapkan oleh seorang presiden.

Wajah Komunikasi Politik Kini

Pendapat Ketua Umum Golkar yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menarik untuk disimak. Dalam satu kesempatan ia mengataakan, bahwa pejabat yang viral itu pertanda baik, tinggal bagaimana menyiasati dan memitigasi pandangan publik. Begitulah memang wajah komunikasi politik kekinian. Popularitas, dan barangkali juga elektabilitas; mengikuti gejala politik algoritma. Tidak cukup hanya mengandalkan baliho, poster, atau kinerja partai.

Algoritma menjadi tim sukses baru bagi politisi. Algoritma TikTok, Instagram, X, dan YouTube sering menyodorkan konten yang sesuai selera penonton milenial dan Gen Z. Bila penonton suka pada kritik politik, maka yang muncul di beranda adalah konten kritik terhadap pemerintah. Politik algoritma kini menjadi wajah komunikasi politik, dan dijadikan strategi aktor politik untuk membidik audiens yang sesuai dengan targetnya.

Influencerisasi politik mempunyai pengaruh yang besar ketimbang partai. Hal ini membuat politik, hiburan, dan budaya populer bercampur menjadi satu paket. Tak heran bila lagu “My Little Bolu Ketan” menjadi tren dan memenuhi beranda setiap media sosial. Orang tak lagi mempersoalkan kinerja Bahlil Lahadalia sebagai menteri. Dan tentu saja itu sangat menguntungkan bagi Bahlil dan partai politik yang dipimpinnya.

Sudah pasti wajah pemimpin yang terbentuk lantaran politik algoritma akan membawa konsekuensi. Demokrasi lantas menjadi semacam perang dunia maya. Mereka yang memiliki data serta tim informasi dan teknologi kuat dapat mengalahkan orang yang mempunyai visi namun gagap teknologi.

Potensi terjadinya filter bubble juga terbuka lebar. Orang terjebak dalam gelembung opini. Mereka yang pro penguasa hanya akan melihat konten yang pro pemerintah; begitu pun sebaliknya. Akibatnya publik kian terfragmentasi. Tidak ada lagi ruang publik bersama untuk demokrasi. Setiap orang tinggal di dunianya sendiri sesuai dengan algoritma.

Dapat disimpulkan, bahwa krisis komunikasi publik pemimpin pada masa kini merupakan manifestasi dari pergeseran paradigma demokrasi dari representative democracy menuju cyberdemocracy. Dalam tatanan baru ini, ruang publik tidak lagi dimonopoli oleh institusi formal, melainkan diproduksi ulang melalui interaksi simbolik di platform digital yang digerakkan algoritma.

Pada akhirnya, era cyberdemocracy tidak memberi ruang kedua bagi klarifikasi yang datang terlambat. Pemimpin hari ini diuji dua kali; saat bekerja untuk rakyat, dan saat menjelaskan kerja itu agar sampai kepada rakyat. Lantaran  algoritma tidak peduli niat baik, ia hanya membaca engagement. Cara pemimpin berbicara karenanya lebih menentukan nasib kebijakan daripada isi kebijakan itu sendiri

Maka, kata-kata seperti ndhasmu, emang gue pikirin, antek-antek asing, dan sebagainya yang keluar dari mulut pemimpin layak untuk dicermati secara serius. Apakah pernyataan itu terlontar sebagai candaan yang tak lucu ataukah memang bagian dari demokrasi siber untuk menggerakkan algoritma? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunikasi politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Next Post

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co