1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 21, 2026
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang posisi seseorang di tengah masyarakat. Di Bali, sepeda motor keluaran terbaru mudah ditemukan berseliweran di jalan, seolah sebagian orang berlomba memilikinya. Harganya bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Saya tidak sedang mengatakan membeli sepeda motor baru adalah sesuatu yang keliru. Setiap orang memiliki kebutuhan dan kemampuan ekonomi masing-masing. Tetapi di tengah kebiasaan mengejar kendaraan terbaru, saya justru merasa baik-baik saja menggunakan sepeda motor bekas. Honda Revo, tepatnya, sebuah motor sederhana yang tidak pernah saya pilih untuk menunjukkan keberhasilan.

Bentuknya sederhana, mesinnya tidak neko-neko dan barangkali tidak akan membuat orang menoleh dua kali. Tetapi bagi saya, motor ini memiliki tempat khusus yang tidak bisa dihitung dari harga jualnya. Ia sudah terlalu lama menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Nilainya perlahan berubah dari sekadar kendaraan menjadi sesuatu yang personal.

Belasan tahun lalu, setelah selesai dirawat di rumah sakit karena skizofrenia, ibu saya berusaha membuat saya bahagia. Salah satu caranya adalah memberikan sebuah sepeda motor bekas. Mungkin ibu berpikir saya membutuhkan sesuatu yang bisa membuat saya kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Saya sendiri tidak pernah bertanya apakah ibu benar-benar berpikir motor akan membuat saya bahagia.

Ketika menjadi mahasiswa di Denpasar, saya juga menggunakan sepeda motor bekas. Honda Grand keluaran lama menemani perjalanan dari kos, kuliah, berbagai urusan kecil dan kehidupan sebagai anak muda yang belum memiliki banyak uang. Bagi saya, sepeda motor bekas bukan sesuatu yang memalukan. Ia justru menjadi bagian dari cara saya bertahan hidup.

Mungkin karena itu, ketika ibu ingin memberikan sepeda motor yang lebih baru, saya tidak terlalu memikirkan gengsi. Saya diantarkan seorang pegawai koperasi kenalan ibu ke sebuah dealer sepeda motor di kota kecil tempat kami tinggal. Mata saya menyapu deretan kendaraan yang masih mengilap. Di antara semuanya, pilihan saya jatuh pada Honda Revo.

Saya tidak ingat pertimbangan yang terlalu rumit ketika memilihnya. Mungkin bentuknya saya suka, mungkin harganya sesuai, atau mungkin saya memang hanya membutuhkan kendaraan yang bisa membawa saya ke mana-mana. Pilihan sederhana itu ternyata bertahan jauh lebih lama daripada yang saya bayangkan. Ia kemudian menjadi bagian dari banyak hal yang terjadi setelahnya.

Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan Yamadipati Seno di Mojok.co berjudul “Honda Revo adalah motor Honda paling hina, menempati kasta paling bawah yang di bawahnya lagi cuma jalan kaki padahal jadi kunci bahagia masa kini”, yang dimuat pada 20 September 2026. Judulnya membuat saya tersenyum. Honda Revo yang saya gunakan bertahun-tahun tiba-tiba ditempatkan sebagai motor yang berada di kasta paling bawah.

Tetapi Seno tidak berhenti pada lelucon itu. Ia justru membalik cara pandang terhadap Revo dengan membicarakan fungsi dan efisiensi. Motor yang sering dianggap tidak bergengsi ternyata bisa menjadi kendaraan yang rasional di tengah biaya hidup dan harga bahan bakar yang perlu diperhitungkan. Revo tidak harus terlihat hebat untuk berguna.

Di situlah tulisan tersebut terasa dekat dengan pengalaman saya. Saya tidak pernah memilih Honda Revo agar dianggap keren. Ketika berdiri di dealer bertahun-tahun lalu, saya hanya memilih kendaraan yang saya pikir bisa digunakan. Saya tidak tahu bahwa pilihan sederhana itu kelak akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya.

Tulisan Seno membuat saya tertawa sekaligus mengingat kembali alasan memilih motor tersebut. Revo mungkin memang bukan kendaraan yang akan membuat orang terpukau. Tetapi bukankah kendaraan memang diciptakan untuk membawa manusia berpindah tempat? Ia membawa kita pergi bekerja, mencari nafkah, menemui orang yang dicintai dan akhirnya pulang.

Mungkin kita terlalu sering memberikan beban tambahan kepada benda. Sepeda motor tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan mesinnya, tetapi juga dari harga, model, tahun keluaran dan kesan yang ditimbulkannya. Dari sana kendaraan perlahan menjadi simbol kelas sosial. Motor baru terlihat seperti tanda keberhasilan, sementara motor lama mudah dianggap sebagai tanda keterbatasan.

Di Bali, hal semacam itu mudah kita lihat. Sepeda motor keluaran terbaru berseliweran di jalan, digunakan untuk bekerja, bersekolah, berbelanja atau sekadar bepergian. Ada orang yang memang membutuhkan kendaraan baru karena alasan teknologi, keamanan atau kenyamanan. Ada pula yang membelinya karena menyukai model tertentu. Semuanya memiliki alasan masing-masing.

Tetapi ada pula orang yang memilih kendaraan bekas karena harus menghitung banyak hal. Terutama para perantau yang hidup di Denpasar dengan biaya kos, makan, transportasi dan kebutuhan lain yang terus berjalan. Bagi mereka, sepeda motor bisa lebih tepat dipahami sebagai alat bertahan hidup daripada simbol keberhasilan. Saya mengenal logika itu.

Sepeda motor harus bisa mengantar ke tempat kerja. Harus bisa membawa pulang belanjaan. Harus bisa digunakan ketika ada urusan mendadak. Harus cukup irit agar uang tidak terlalu banyak habis di jalan. Kalau semua itu bisa dilakukan, persoalan apakah motor tersebut keluaran terbaru atau bukan menjadi urusan berikutnya.

Honda Revo saya mendapatkan makna lain karena perjalanan yang dilaluinya. Ada soal asmara dan kebersamaan saya dengan tunangan. Ada hari-hari ketika kami sama-sama berjuang di Denpasar. Ada perjalanan menyenangkan, ada pula perjalanan yang ditempuh sambil memikirkan pekerjaan, uang dan masa depan.

Motor itu menjadi saksi bagaimana dua orang mencoba bertahan hidup di sebuah kota. Karena itu, menjualnya terasa seperti sebuah kejahatan psikologis. Bagi orang lain, mungkin ia hanya Honda Revo bekas yang dapat ditaksir berdasarkan tahun produksi, kondisi mesin dan surat-surat. Bagi saya, ada sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungan pedagang kendaraan, yakni, ingatan.

Sebuah benda bisa kehilangan nilai ekonominya dan pada saat yang sama memperoleh nilai emosional. Semakin lama digunakan, semakin banyak kejadian yang menempel padanya. Kita mungkin tidak mengingat semua perjalanan, tetapi kita mengingat perasaan yang menyertainya. Manusia memang sering memberikan ingatannya kepada benda.

Honda Grand saya dulu menyimpan cerita masa mahasiswa. Honda Revo menyimpan cerita kehidupan setelah masa yang lebih sulit. Ia juga menyimpan perjalanan bersama orang yang kemudian menjadi tunangan saya. Karena itu, menggantinya bukan sekadar perkara membeli kendaraan baru. Ada sejarah yang ikut ditinggalkan.

Saya sebenarnya bisa membeli sepeda motor baru. Kendaraan baru mungkin lebih nyaman, lebih canggih, lebih mengilap dan memiliki fitur lebih banyak. Tetapi ia harus memulai semuanya dari nol. Honda Revo tidak. Ia sudah melewati banyak jalan bersama saya dan sudah mengenal sebagian hidup yang tidak mungkin dituliskan dalam buku manual.

Di sinilah saya memahami kembali tulisan Yamadipati Seno. Yang menarik dari tulisannya bukan semata-mata pembelaan terhadap Honda Revo. Lebih dari itu, ia mengajak pembaca melihat sebuah benda dari kegunaannya, bukan semata-mata dari gengsinya. Motor yang dianggap “kasta bawah” ternyata dapat menjadi pilihan yang masuk akal bagi orang yang menghitung pengeluaran dan membutuhkan kendaraan untuk menjalani hidup.

Saya tidak tahu apakah Seno bermaksud sejauh itu ketika menulis artikelnya. Tetapi sebagai pembaca, saya mendapatkan pengalaman lain. Tulisan tentang sebuah motor membuat saya kembali mengingat ibu, masa setelah keluar dari rumah sakit, masa mahasiswa, kehidupan di Denpasar dan perjalanan bersama tunangan. Sebuah kendaraan tiba-tiba membuka pintu menuju begitu banyak ingatan.

Barangkali di situlah tulisan yang baik bekerja. Ia tidak hanya memberikan informasi tentang sesuatu yang sedang dibicarakan. Ia membuat pembaca menemukan kembali sesuatu dalam hidupnya sendiri. Artikel tentang Honda Revo itu akhirnya membuat saya membaca ulang sejarah saya melalui sebuah kendaraan yang selama ini saya anggap biasa.

Barang bekas mempunyai kehidupan kedua. Setelah berpindah tangan, ia mendapatkan cerita baru dari pemilik berikutnya. Saya menyukai gagasan bahwa sebuah benda tidak harus mati hanya karena sudah tidak baru. Manusia juga demikian. Kita hidup dengan bekas luka, kegagalan, kehilangan dan berbagai pengalaman yang membuat kita menjadi seperti sekarang.

Karena itu, saya tidak terlalu tertarik menentukan mana yang lebih bergengsi antara motor baru dan motor bekas. Keduanya memiliki fungsi dan pertimbangan masing-masing. Yang lebih menarik bagi saya adalah mengapa kita kadang merasa harus mengganti sesuatu yang masih berfungsi hanya karena lingkungan membuat kita merasa tertinggal.

Saya pun tidak selalu kebal terhadap perasaan semacam itu. Tetapi Honda Revo membuat saya belajar melihat benda secara berbeda. Tidak semua perubahan harus diwujudkan dengan membeli sesuatu yang baru. Ada benda yang justru layak dipertahankan karena telah menemani kita melewati masa yang tidak bisa dibeli kembali.

Selama masih bisa bekerja, mengantar dan membawa pulang orang yang saya cintai, saya tidak melihat alasan untuk merasa rendah karena kendaraan saya bukan keluaran terbaru. Motor tidak pernah tahu tahun produksinya. Ia hanya tahu kapan mesinnya dinyalakan dan ke mana ia harus membawa pemiliknya.

Selama Honda Revo itu masih mau menyala, saya ingin terus mengendarainya. Bukan karena saya tidak mampu membeli yang baru, melainkan karena ada beberapa hal yang terlalu berharga untuk ditukar dengan sesuatu yang sekadar lebih baru. Ada perjalanan yang tidak perlu diulang dengan kendaraan berbeda.

Mungkin tulisan Yamadipati Seno di Mojok.co membuat saya semakin memahami pilihan yang saya ambil belasan tahun lalu. Honda Revo memang bukan motor yang saya pilih untuk menunjukkan keberhasilan. Ia datang pada masa ketika seorang ibu ingin melihat anaknya kembali bahagia, lalu terus berjalan bersama saya melewati tahun-tahun berikutnya.

Bagi orang lain, ia mungkin hanya motor bekas. Bagi saya, ia adalah salah satu benda yang ikut menyimpan sejarah hidup. Ia membawa saya dari satu tempat ke tempat lain, tetapi tanpa saya sadari juga membawa sebagian masa lalu saya sampai hari ini. Sepeda motor bekas sudah cukup. Setidaknya bagi seseorang yang tahu persis ke mana motor itu pernah membawanya. [T]

Tags: sepeda motortransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Next Post

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co