12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 21, 2026
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang posisi seseorang di tengah masyarakat. Di Bali, sepeda motor keluaran terbaru mudah ditemukan berseliweran di jalan, seolah sebagian orang berlomba memilikinya. Harganya bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Saya tidak sedang mengatakan membeli sepeda motor baru adalah sesuatu yang keliru. Setiap orang memiliki kebutuhan dan kemampuan ekonomi masing-masing. Tetapi di tengah kebiasaan mengejar kendaraan terbaru, saya justru merasa baik-baik saja menggunakan sepeda motor bekas. Honda Revo, tepatnya, sebuah motor sederhana yang tidak pernah saya pilih untuk menunjukkan keberhasilan.

Bentuknya sederhana, mesinnya tidak neko-neko dan barangkali tidak akan membuat orang menoleh dua kali. Tetapi bagi saya, motor ini memiliki tempat khusus yang tidak bisa dihitung dari harga jualnya. Ia sudah terlalu lama menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Nilainya perlahan berubah dari sekadar kendaraan menjadi sesuatu yang personal.

Belasan tahun lalu, setelah selesai dirawat di rumah sakit karena skizofrenia, ibu saya berusaha membuat saya bahagia. Salah satu caranya adalah memberikan sebuah sepeda motor bekas. Mungkin ibu berpikir saya membutuhkan sesuatu yang bisa membuat saya kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Saya sendiri tidak pernah bertanya apakah ibu benar-benar berpikir motor akan membuat saya bahagia.

Ketika menjadi mahasiswa di Denpasar, saya juga menggunakan sepeda motor bekas. Honda Grand keluaran lama menemani perjalanan dari kos, kuliah, berbagai urusan kecil dan kehidupan sebagai anak muda yang belum memiliki banyak uang. Bagi saya, sepeda motor bekas bukan sesuatu yang memalukan. Ia justru menjadi bagian dari cara saya bertahan hidup.

Mungkin karena itu, ketika ibu ingin memberikan sepeda motor yang lebih baru, saya tidak terlalu memikirkan gengsi. Saya diantarkan seorang pegawai koperasi kenalan ibu ke sebuah dealer sepeda motor di kota kecil tempat kami tinggal. Mata saya menyapu deretan kendaraan yang masih mengilap. Di antara semuanya, pilihan saya jatuh pada Honda Revo.

Saya tidak ingat pertimbangan yang terlalu rumit ketika memilihnya. Mungkin bentuknya saya suka, mungkin harganya sesuai, atau mungkin saya memang hanya membutuhkan kendaraan yang bisa membawa saya ke mana-mana. Pilihan sederhana itu ternyata bertahan jauh lebih lama daripada yang saya bayangkan. Ia kemudian menjadi bagian dari banyak hal yang terjadi setelahnya.

Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan Yamadipati Seno di Mojok.co berjudul “Honda Revo adalah motor Honda paling hina, menempati kasta paling bawah yang di bawahnya lagi cuma jalan kaki padahal jadi kunci bahagia masa kini”, yang dimuat pada 20 September 2026. Judulnya membuat saya tersenyum. Honda Revo yang saya gunakan bertahun-tahun tiba-tiba ditempatkan sebagai motor yang berada di kasta paling bawah.

Tetapi Seno tidak berhenti pada lelucon itu. Ia justru membalik cara pandang terhadap Revo dengan membicarakan fungsi dan efisiensi. Motor yang sering dianggap tidak bergengsi ternyata bisa menjadi kendaraan yang rasional di tengah biaya hidup dan harga bahan bakar yang perlu diperhitungkan. Revo tidak harus terlihat hebat untuk berguna.

Di situlah tulisan tersebut terasa dekat dengan pengalaman saya. Saya tidak pernah memilih Honda Revo agar dianggap keren. Ketika berdiri di dealer bertahun-tahun lalu, saya hanya memilih kendaraan yang saya pikir bisa digunakan. Saya tidak tahu bahwa pilihan sederhana itu kelak akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya.

Tulisan Seno membuat saya tertawa sekaligus mengingat kembali alasan memilih motor tersebut. Revo mungkin memang bukan kendaraan yang akan membuat orang terpukau. Tetapi bukankah kendaraan memang diciptakan untuk membawa manusia berpindah tempat? Ia membawa kita pergi bekerja, mencari nafkah, menemui orang yang dicintai dan akhirnya pulang.

Mungkin kita terlalu sering memberikan beban tambahan kepada benda. Sepeda motor tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan mesinnya, tetapi juga dari harga, model, tahun keluaran dan kesan yang ditimbulkannya. Dari sana kendaraan perlahan menjadi simbol kelas sosial. Motor baru terlihat seperti tanda keberhasilan, sementara motor lama mudah dianggap sebagai tanda keterbatasan.

Di Bali, hal semacam itu mudah kita lihat. Sepeda motor keluaran terbaru berseliweran di jalan, digunakan untuk bekerja, bersekolah, berbelanja atau sekadar bepergian. Ada orang yang memang membutuhkan kendaraan baru karena alasan teknologi, keamanan atau kenyamanan. Ada pula yang membelinya karena menyukai model tertentu. Semuanya memiliki alasan masing-masing.

Tetapi ada pula orang yang memilih kendaraan bekas karena harus menghitung banyak hal. Terutama para perantau yang hidup di Denpasar dengan biaya kos, makan, transportasi dan kebutuhan lain yang terus berjalan. Bagi mereka, sepeda motor bisa lebih tepat dipahami sebagai alat bertahan hidup daripada simbol keberhasilan. Saya mengenal logika itu.

Sepeda motor harus bisa mengantar ke tempat kerja. Harus bisa membawa pulang belanjaan. Harus bisa digunakan ketika ada urusan mendadak. Harus cukup irit agar uang tidak terlalu banyak habis di jalan. Kalau semua itu bisa dilakukan, persoalan apakah motor tersebut keluaran terbaru atau bukan menjadi urusan berikutnya.

Honda Revo saya mendapatkan makna lain karena perjalanan yang dilaluinya. Ada soal asmara dan kebersamaan saya dengan tunangan. Ada hari-hari ketika kami sama-sama berjuang di Denpasar. Ada perjalanan menyenangkan, ada pula perjalanan yang ditempuh sambil memikirkan pekerjaan, uang dan masa depan.

Motor itu menjadi saksi bagaimana dua orang mencoba bertahan hidup di sebuah kota. Karena itu, menjualnya terasa seperti sebuah kejahatan psikologis. Bagi orang lain, mungkin ia hanya Honda Revo bekas yang dapat ditaksir berdasarkan tahun produksi, kondisi mesin dan surat-surat. Bagi saya, ada sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungan pedagang kendaraan, yakni, ingatan.

Sebuah benda bisa kehilangan nilai ekonominya dan pada saat yang sama memperoleh nilai emosional. Semakin lama digunakan, semakin banyak kejadian yang menempel padanya. Kita mungkin tidak mengingat semua perjalanan, tetapi kita mengingat perasaan yang menyertainya. Manusia memang sering memberikan ingatannya kepada benda.

Honda Grand saya dulu menyimpan cerita masa mahasiswa. Honda Revo menyimpan cerita kehidupan setelah masa yang lebih sulit. Ia juga menyimpan perjalanan bersama orang yang kemudian menjadi tunangan saya. Karena itu, menggantinya bukan sekadar perkara membeli kendaraan baru. Ada sejarah yang ikut ditinggalkan.

Saya sebenarnya bisa membeli sepeda motor baru. Kendaraan baru mungkin lebih nyaman, lebih canggih, lebih mengilap dan memiliki fitur lebih banyak. Tetapi ia harus memulai semuanya dari nol. Honda Revo tidak. Ia sudah melewati banyak jalan bersama saya dan sudah mengenal sebagian hidup yang tidak mungkin dituliskan dalam buku manual.

Di sinilah saya memahami kembali tulisan Yamadipati Seno. Yang menarik dari tulisannya bukan semata-mata pembelaan terhadap Honda Revo. Lebih dari itu, ia mengajak pembaca melihat sebuah benda dari kegunaannya, bukan semata-mata dari gengsinya. Motor yang dianggap “kasta bawah” ternyata dapat menjadi pilihan yang masuk akal bagi orang yang menghitung pengeluaran dan membutuhkan kendaraan untuk menjalani hidup.

Saya tidak tahu apakah Seno bermaksud sejauh itu ketika menulis artikelnya. Tetapi sebagai pembaca, saya mendapatkan pengalaman lain. Tulisan tentang sebuah motor membuat saya kembali mengingat ibu, masa setelah keluar dari rumah sakit, masa mahasiswa, kehidupan di Denpasar dan perjalanan bersama tunangan. Sebuah kendaraan tiba-tiba membuka pintu menuju begitu banyak ingatan.

Barangkali di situlah tulisan yang baik bekerja. Ia tidak hanya memberikan informasi tentang sesuatu yang sedang dibicarakan. Ia membuat pembaca menemukan kembali sesuatu dalam hidupnya sendiri. Artikel tentang Honda Revo itu akhirnya membuat saya membaca ulang sejarah saya melalui sebuah kendaraan yang selama ini saya anggap biasa.

Barang bekas mempunyai kehidupan kedua. Setelah berpindah tangan, ia mendapatkan cerita baru dari pemilik berikutnya. Saya menyukai gagasan bahwa sebuah benda tidak harus mati hanya karena sudah tidak baru. Manusia juga demikian. Kita hidup dengan bekas luka, kegagalan, kehilangan dan berbagai pengalaman yang membuat kita menjadi seperti sekarang.

Karena itu, saya tidak terlalu tertarik menentukan mana yang lebih bergengsi antara motor baru dan motor bekas. Keduanya memiliki fungsi dan pertimbangan masing-masing. Yang lebih menarik bagi saya adalah mengapa kita kadang merasa harus mengganti sesuatu yang masih berfungsi hanya karena lingkungan membuat kita merasa tertinggal.

Saya pun tidak selalu kebal terhadap perasaan semacam itu. Tetapi Honda Revo membuat saya belajar melihat benda secara berbeda. Tidak semua perubahan harus diwujudkan dengan membeli sesuatu yang baru. Ada benda yang justru layak dipertahankan karena telah menemani kita melewati masa yang tidak bisa dibeli kembali.

Selama masih bisa bekerja, mengantar dan membawa pulang orang yang saya cintai, saya tidak melihat alasan untuk merasa rendah karena kendaraan saya bukan keluaran terbaru. Motor tidak pernah tahu tahun produksinya. Ia hanya tahu kapan mesinnya dinyalakan dan ke mana ia harus membawa pemiliknya.

Selama Honda Revo itu masih mau menyala, saya ingin terus mengendarainya. Bukan karena saya tidak mampu membeli yang baru, melainkan karena ada beberapa hal yang terlalu berharga untuk ditukar dengan sesuatu yang sekadar lebih baru. Ada perjalanan yang tidak perlu diulang dengan kendaraan berbeda.

Mungkin tulisan Yamadipati Seno di Mojok.co membuat saya semakin memahami pilihan yang saya ambil belasan tahun lalu. Honda Revo memang bukan motor yang saya pilih untuk menunjukkan keberhasilan. Ia datang pada masa ketika seorang ibu ingin melihat anaknya kembali bahagia, lalu terus berjalan bersama saya melewati tahun-tahun berikutnya.

Bagi orang lain, ia mungkin hanya motor bekas. Bagi saya, ia adalah salah satu benda yang ikut menyimpan sejarah hidup. Ia membawa saya dari satu tempat ke tempat lain, tetapi tanpa saya sadari juga membawa sebagian masa lalu saya sampai hari ini. Sepeda motor bekas sudah cukup. Setidaknya bagi seseorang yang tahu persis ke mana motor itu pernah membawanya. [T]

Tags: sepeda motortransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Next Post

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co