KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen. Dalam waktu singkat, unggahan tersebut menjadi bahan perbincangan luas di media sosial, bukan karena pesan itu dianggap keliru, melainkan karena dianggap datang pada momentum penyampaian yang dinilai kurang peka terhadap realitas sosial masyarakat.
Publik yang sedang dihimpit kekhawatiran ekonomi dan ketidakpastian sosial merasa diajak untuk “menenangkan diri” pada saat mereka justru sedang mencari cara untuk bertahan. Fenomena ini dapat dipahami secara mendalam melalui pendekatan hierarki kebutuhan Abraham Maslow.
Dalam teori Maslow, kebutuhan manusia tersusun secara bertingkat, dimulai dari kebutuhan fisiologis dan rasa aman di tingkat dasar, berlanjut ke kebutuhan sosial dan penghargaan diri, hingga aktualisasi diri serta pengolahan kesadaran emosional (mindfulness) di tingkat teratas. Logika hierarki ini menegaskan bahwa seseorang baru dapat secara utuh mengejar kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi apabila kebutuhan pada tingkat di bawahnya telah relatif terpenuhi.
Dengan kata lain, kemampuan untuk merenung, mengelola emosi, dan menata kesadaran diri adalah sebuah kemewahan psikologis yang hanya dapat dinikmati secara penuh oleh mereka yang tidak lagi disibukkan oleh persoalan bertahan hidup.
Mindfulness—sebagai bentuk kontrol atas respons mental—mengandaikan hadirnya stabilitas dan jarak dari krisis. Namun, ketika masyarakat sedang dihimpit oleh krisis ekonomi, kebijakan yang merugikan, atau ancaman hidup riil seperti pemutusan hubungan kerja, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga ketidakpastian lapangan pekerjaan, fokus utama mereka berada pada tingkatan paling dasar: bertahan hidup dan mencari rasa aman. Bagi kelompok ini, anjuran untuk berjarak dari berita buruk bukanlah solusi, melainkan pengingat akan jurang yang memisahkan pengalaman hidup mereka dengan pengalaman hidup sang penyampai pesan.
Pada titik inilah ketimpangan terjadi. Mengimbau masyarakat yang sedang berjuang di tingkat kebutuhan dasar untuk mempraktikkan mindfulness menciptakan jurang empati yang nyata. Seperti yang disuarakan oleh netizen, manusia sulit saling memahami jika tidak merasakan penderitaan yang sama.
Anjuran untuk sekadar “menarik diri” atau mengelola informasi terasa absurd bagi mereka yang tidak memiliki kemewahan untuk terlepas dari dampak berita buruk tersebut, sebab bagi banyak orang, berita buruk itu bukan sekadar informasi yang mengganggu ketenangan batin, melainkan realitas yang secara langsung memengaruhi keberlangsungan hidup mereka esok hari.
Kesimpulannya, pesan edukasi Maudy Ayunda tidak salah secara konsep. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan pengelolaan respons emosional tetap relevan bagi siapa pun. Namun, penyampaiannya pada waktu yang kurang tepat memperlihatkan bagaimana pesan yang niatnya baik dapat dipersepsikan sebagai sikap nirempati.
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa sebelum mengajak masyarakat mengolah ketenangan di tingkat atas, penting untuk terlebih dahulu berempati terhadap rasa sakit dan ketidakpastian yang dialami masyarakat di tingkat dasar.
Bagi figur publik maupun konten kreator kesehatan mental, peristiwa ini dapat menjadi bahan refleksi bahwa efektivitas sebuah pesan tidak semata-mata ditentukan oleh substansinya, tetapi juga oleh kepekaan terhadap konteks sosial saat pesan itu disampaikan. Empati terhadap kondisi struktural masyarakat perlu mendahului ajakan untuk menata batin, agar pesan kebaikan tidak justru terdengar seperti privilese yang dipamerkan di tengah kesulitan bersama.[T]
Penulis: Gema Pertiwi
Editor: Adnyana Ole




























