21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

Chusmeru by Chusmeru
September 21, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk mencerdaskan, melainkan alat untuk mengamankan. Mengamankan posisi, mengamankan jabatan, dan mengamankan kekuasaan. Fenomena ini melahirkan satu gaya komunikasi berupa bahasa penjilat.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, penjilat bukanlah orang bodoh. Dia adalah komunikator strategis. Para penjilat tahu persis siapa audiensnya, pesan apa yang disukai, dan saluran apa yang paling efektif. Tujuannya hanya satu: membangun kedekatan dengan pemegang kuasa; bisa presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, maupun ketua partai politik.

Keberadaan penjilat bukan produk baru; sudah ada sejak zaman kerajaan, waktu penjajahan Belanda, era Orde Baru, hingga saat ini. Raja-raja di Indonesia bukan sekadar kepala pemerintahan. Mereka adalah para “sinuhun” titisan kekuasaan yang sakral. Untuk mendekat kepada raja perlu bahasa yang santun, perlu sungkem dan sembah.

Ketika penjajah Belanda datang, mereka tidak menghapus model komunikasi dan relasi kuasa antara rakyat dan raja. Mereka justru memeliharanya. Maka lahirlah kelas priyayi dan kelas birokrat yang tugasnya ganda: menjilat ke atas kepada Gubernur Jenderal agar dapat jabatan, dan menjilat ke bawah agar dipatuhi rakyat.

Puncaknya terjadi di era Orde Baru. Kekuasaan dipusatkan pada satu orang: Presiden Soeharto. Dari istana mengalir dana, proyek, dan jabatan. Maka lahirlah istilah yang melegenda: ABS (Asal Bapak Senang). Seorang bupati tidak cukup bekerja untuk rakyatnya. Ia harus sowan ke Jakarta, memastikan dirinya masuk TVRI saat mendampingi Bapak. Para menteri tahu betul bagaimana menyenangkan Bapak, hingga setiap jumpa pers Menteri Penerangan Harmoko selalu mengatakan: “Sesuai arahan dan petunjuk Bapak Presiden”.

Di era reformasi, ABS tidak serta-merta mati. Ia hanya berganti wajah dan tempat. Jika dulu penjilatan dilakukan di ruang rapat tertutup, kini ia dilakukan di ruang publik. Jika dulu alatnya adalah pidato dan surat, kini alatnya adalah konten. Inilah sisi komunikasi dari penjilatan. Dan di sinilah ia menjadi paling berbahaya, karena ia membentuk opini publik.

Penjilat adalah Ahli Strategi Komunikasi

Penjilat itu ahli strategi komunikasi. Dia pakai bahasa bukan untuk menyampaikan kebenaran, tapi untuk membangun relasi politik, kedekatan, keamanan, dan keuntungan. Jurus utamanya adalah hiperbola pujian. Melebih-lebihkan bahasa agar penguasa merasa “satu-satunya”. Kalimat yang digunakan adalah “Keputusan Bapak Presiden sangat visioner, berani, dan belum pernah dilakukan oleh presiden mana pun di dunia”.  “Bapak Presiden sangat memikirkan rakyatnya, sehingga berkunjung ke pelosok desa”.

Dalam model komunikasi klasik Harold Lasswell: “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect”, para penjilat sangat menguasai strategi komunikasi ini. Sebagai komunikator (Who), para penjilat memposisikan sebagai bawahan yang sangat setia, bukan sebagai pejabat publik. Identitasnya melebur ke atasan. Bahasa yang muncul adalah “Hidup Mati Bersama Presiden”.

Pesan komunikasinya (Says What) wajib mengikuti dua formula, yaitu hiperbola pujian dan merendah serendah-rendahnya. Tak heran bila kemudian ada aktivis, politisi, yang kemudian menjadi birokrat berujar bahwa IQ Presiden setara dengan Albert Einstein yang sehari dapat membaca 50 buku. Ucapan itu sejatinya bertujuan membangun jarak vertikal, presiden di atas dan politisi itu di bawah.

Saluran komunikasinya (In Which Channel) pun kekinian. Jika dulu salurannya sowan dan rapat tertutup dengan penguasa, sekarang salurannya Instagram Story, TikTok, dan jumpa pers. Karena komunikasi modern menuntut bukti digital sebagai simbol loyalitas. Para penjilat akan berebut duduk atau berdiri dekat dengan penguasa, dan mengunggahnya ke media sosial agar tervalidasi. Karenanya, para penjilat adalah mereka yang rajin cari muka dan cari panggung.

Komunikan (To Whom) para penjilat ada dua, primer dan sekunder. Komunikan primer adalah penguasa, sedangkan yang sekunder adalah publik. Pesan yang sama dapat ditujukan kepada dua komunikan sekaligus dengan harapan menyenangkan penguasa dan menunjukkan ke publik bahwa ia bagian dari koalisi penguasa itu.

Pernyataan seorang bupati di hadapan presiden bahwa “Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menurunkan angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan mendongkrak kehadiran siswa di sekolah” bertujuan menyenangkan presiden. Pernyataan itu sekaligus juga ingin menunjukkan kepada publik bahwa gubernur itu adalah bagian dari tim presiden.

Semua bentuk penjilatan bukan tanpa harapan. Efek komunikasi (With What Effect) yang dikejar adalah reward dari penguasa. Efek itu dapat berupa jabatan yang dipertahankan, penambahan anggaran, maupun rasa aman dalam pemerintahan.

Para penjilat biasanya juga mempunyai kemampuan membingkai realitas dan melakukan agenda setting. Ketika ada fakta bahwa Dana Desa terserap untuk Koperasi Desa Merah Putih KDMP), seorang menteri mengatakan tak masalah, karena justru dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan perekonomian desa. Ini adalah framing, sehingga perdebatan publik bergeser dari masalah efisiensi anggaran kepada rasa bersyukur masyarakat.

Pejabat penjilat akan bekerjasama dengan media dan kaum cerdik pandai yang dapat “dijinakkan” untuk membuat agenda setting tentang apa yang penting dibicarakan publik. Maka yang dinaikkan dalam media adalah foto presiden yang sedang blusukan ke pedesaan, angka pertumbuhan ekonomi, dan berbagai seremoni. Sementara data kemiskinan, kasus korupsi, dan kritik kebijakan akan ditutup rapat. Tokoh publik yang biasanya begitu kritis pun kini berujar bahwa MBG dan KDMP tak bisa dihentikan lantaran merupakan amanat konstitusi.

Bahkan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut masalah MBG di bawah baik-baik saja, tidak ada masalah. Ia justru menuding guru, orang tua murid, wartawan, dan LSM yang membuat ramai di media sosial. Seolah ia lupa, bahwa ribuan siswa sekolah telah keracunan akibat program MBG itu. Seolah ia ingin mengatakan bahwa kebijakan presiden itu baik-baik saja.

Dampak pada Demokrasi dan Politik

Penjilat dalam lingkaran kekuasaan bukan hanya tidak elok untuk dilihat, tetapi juga merusak demokrasi dan sistem politik. Demokrasi hanya akan menjadi formalitas. Ada pemilu, ada DPR, tapi fungsi kontrolnya sangat lemah, karena semua satu garis komando. Lembaga yang semestinya melakukan kritik kebijakan pemerintah malah menjadi yang terdepan memuji-muji pemerintah. Kekuasaan absolut terjadi tanpa sadar.

Kebijakan menjadi buruk dengan tampilnya para penjilat. Mereka hanya dapat berkata “Siap!” dan “Bagus”. Semua gagasan dari penguasa selalu dianggap benar. Pun jika ada proyek yang gagal, para penjilat justru menyalahkan rakyat. Negara berjalan dengan ego, bukan dengan data yang rasional.

Dalam birokrasi pemerintahan, meritokrasi dikalahkan oleh jurus para penjilat. Promosi jabatan bukan berdasarkan kinerja, tetapi kedekatan dengan pejabat. Pegawai yang pintar dan jujur dapat dikalahkan oleh pegawai yang selalu memuji dan mengunggah aktivitas atasan ke media sosial. Alhasil, lingkaran birokrasi diisi oleh orang yang sama-sama menjilat.

Muncul apatisme dan ketidakpercayaan publik kepada negara dan pemerintahan. Rakyat setiap hari disuguhi berita media online dan televisi yang berisi pujian kepada penguasa. Padahal realitanya, jalanan di kampung dan di kota rusak parah, pejabat yang korup, dan harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik. Menteri selalu berkata fundamental ekonomi baik, tetapi ibu-ibu rumah tangga setiap hari mengeluh harga sembako naik, dan rakyat menjerit terbebani beragam pajak.

Salah satu kontribusi yang dilakukan penjilat adalah terciptanya lingkungan semu (pseudo environtment). Sebagaimana dikatakan Walter Lippmann, pemimpin hidup di lingkungan semu yang dibangun media dan bawahan. Dan penjilat adalah arsitek yang membangunnya. Mereka akan menyaring informasi yang buruk dan melebih-lebihkan informasi yang baik. Akibatnya, penguasa akan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang salah.

Penjilat adalah ahli bahasa. Dia tidak menciptakan kebijakan, tapi dia menciptakan narasi. Dia tidak menjual sembako, tapi dia membangun citra orang yang membagikan sembako. Penjilat juga produk dari sistem komunikasi yang sakit. Selama validasi dari atas masih menjadi harta berharga, maka bahasa penjilat akan terus menjadi bahasa resmi politik Indonesia. [T]

Tags: komunikasikomunikasi politikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Next Post

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails
Next Post
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co