12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

Chusmeru by Chusmeru
September 21, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk mencerdaskan, melainkan alat untuk mengamankan. Mengamankan posisi, mengamankan jabatan, dan mengamankan kekuasaan. Fenomena ini melahirkan satu gaya komunikasi berupa bahasa penjilat.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, penjilat bukanlah orang bodoh. Dia adalah komunikator strategis. Para penjilat tahu persis siapa audiensnya, pesan apa yang disukai, dan saluran apa yang paling efektif. Tujuannya hanya satu: membangun kedekatan dengan pemegang kuasa; bisa presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, maupun ketua partai politik.

Keberadaan penjilat bukan produk baru; sudah ada sejak zaman kerajaan, waktu penjajahan Belanda, era Orde Baru, hingga saat ini. Raja-raja di Indonesia bukan sekadar kepala pemerintahan. Mereka adalah para “sinuhun” titisan kekuasaan yang sakral. Untuk mendekat kepada raja perlu bahasa yang santun, perlu sungkem dan sembah.

Ketika penjajah Belanda datang, mereka tidak menghapus model komunikasi dan relasi kuasa antara rakyat dan raja. Mereka justru memeliharanya. Maka lahirlah kelas priyayi dan kelas birokrat yang tugasnya ganda: menjilat ke atas kepada Gubernur Jenderal agar dapat jabatan, dan menjilat ke bawah agar dipatuhi rakyat.

Puncaknya terjadi di era Orde Baru. Kekuasaan dipusatkan pada satu orang: Presiden Soeharto. Dari istana mengalir dana, proyek, dan jabatan. Maka lahirlah istilah yang melegenda: ABS (Asal Bapak Senang). Seorang bupati tidak cukup bekerja untuk rakyatnya. Ia harus sowan ke Jakarta, memastikan dirinya masuk TVRI saat mendampingi Bapak. Para menteri tahu betul bagaimana menyenangkan Bapak, hingga setiap jumpa pers Menteri Penerangan Harmoko selalu mengatakan: “Sesuai arahan dan petunjuk Bapak Presiden”.

Di era reformasi, ABS tidak serta-merta mati. Ia hanya berganti wajah dan tempat. Jika dulu penjilatan dilakukan di ruang rapat tertutup, kini ia dilakukan di ruang publik. Jika dulu alatnya adalah pidato dan surat, kini alatnya adalah konten. Inilah sisi komunikasi dari penjilatan. Dan di sinilah ia menjadi paling berbahaya, karena ia membentuk opini publik.

Penjilat adalah Ahli Strategi Komunikasi

Penjilat itu ahli strategi komunikasi. Dia pakai bahasa bukan untuk menyampaikan kebenaran, tapi untuk membangun relasi politik, kedekatan, keamanan, dan keuntungan. Jurus utamanya adalah hiperbola pujian. Melebih-lebihkan bahasa agar penguasa merasa “satu-satunya”. Kalimat yang digunakan adalah “Keputusan Bapak Presiden sangat visioner, berani, dan belum pernah dilakukan oleh presiden mana pun di dunia”.  “Bapak Presiden sangat memikirkan rakyatnya, sehingga berkunjung ke pelosok desa”.

Dalam model komunikasi klasik Harold Lasswell: “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect”, para penjilat sangat menguasai strategi komunikasi ini. Sebagai komunikator (Who), para penjilat memposisikan sebagai bawahan yang sangat setia, bukan sebagai pejabat publik. Identitasnya melebur ke atasan. Bahasa yang muncul adalah “Hidup Mati Bersama Presiden”.

Pesan komunikasinya (Says What) wajib mengikuti dua formula, yaitu hiperbola pujian dan merendah serendah-rendahnya. Tak heran bila kemudian ada aktivis, politisi, yang kemudian menjadi birokrat berujar bahwa IQ Presiden setara dengan Albert Einstein yang sehari dapat membaca 50 buku. Ucapan itu sejatinya bertujuan membangun jarak vertikal, presiden di atas dan politisi itu di bawah.

Saluran komunikasinya (In Which Channel) pun kekinian. Jika dulu salurannya sowan dan rapat tertutup dengan penguasa, sekarang salurannya Instagram Story, TikTok, dan jumpa pers. Karena komunikasi modern menuntut bukti digital sebagai simbol loyalitas. Para penjilat akan berebut duduk atau berdiri dekat dengan penguasa, dan mengunggahnya ke media sosial agar tervalidasi. Karenanya, para penjilat adalah mereka yang rajin cari muka dan cari panggung.

Komunikan (To Whom) para penjilat ada dua, primer dan sekunder. Komunikan primer adalah penguasa, sedangkan yang sekunder adalah publik. Pesan yang sama dapat ditujukan kepada dua komunikan sekaligus dengan harapan menyenangkan penguasa dan menunjukkan ke publik bahwa ia bagian dari koalisi penguasa itu.

Pernyataan seorang bupati di hadapan presiden bahwa “Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menurunkan angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan mendongkrak kehadiran siswa di sekolah” bertujuan menyenangkan presiden. Pernyataan itu sekaligus juga ingin menunjukkan kepada publik bahwa gubernur itu adalah bagian dari tim presiden.

Semua bentuk penjilatan bukan tanpa harapan. Efek komunikasi (With What Effect) yang dikejar adalah reward dari penguasa. Efek itu dapat berupa jabatan yang dipertahankan, penambahan anggaran, maupun rasa aman dalam pemerintahan.

Para penjilat biasanya juga mempunyai kemampuan membingkai realitas dan melakukan agenda setting. Ketika ada fakta bahwa Dana Desa terserap untuk Koperasi Desa Merah Putih KDMP), seorang menteri mengatakan tak masalah, karena justru dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan perekonomian desa. Ini adalah framing, sehingga perdebatan publik bergeser dari masalah efisiensi anggaran kepada rasa bersyukur masyarakat.

Pejabat penjilat akan bekerjasama dengan media dan kaum cerdik pandai yang dapat “dijinakkan” untuk membuat agenda setting tentang apa yang penting dibicarakan publik. Maka yang dinaikkan dalam media adalah foto presiden yang sedang blusukan ke pedesaan, angka pertumbuhan ekonomi, dan berbagai seremoni. Sementara data kemiskinan, kasus korupsi, dan kritik kebijakan akan ditutup rapat. Tokoh publik yang biasanya begitu kritis pun kini berujar bahwa MBG dan KDMP tak bisa dihentikan lantaran merupakan amanat konstitusi.

Bahkan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut masalah MBG di bawah baik-baik saja, tidak ada masalah. Ia justru menuding guru, orang tua murid, wartawan, dan LSM yang membuat ramai di media sosial. Seolah ia lupa, bahwa ribuan siswa sekolah telah keracunan akibat program MBG itu. Seolah ia ingin mengatakan bahwa kebijakan presiden itu baik-baik saja.

Dampak pada Demokrasi dan Politik

Penjilat dalam lingkaran kekuasaan bukan hanya tidak elok untuk dilihat, tetapi juga merusak demokrasi dan sistem politik. Demokrasi hanya akan menjadi formalitas. Ada pemilu, ada DPR, tapi fungsi kontrolnya sangat lemah, karena semua satu garis komando. Lembaga yang semestinya melakukan kritik kebijakan pemerintah malah menjadi yang terdepan memuji-muji pemerintah. Kekuasaan absolut terjadi tanpa sadar.

Kebijakan menjadi buruk dengan tampilnya para penjilat. Mereka hanya dapat berkata “Siap!” dan “Bagus”. Semua gagasan dari penguasa selalu dianggap benar. Pun jika ada proyek yang gagal, para penjilat justru menyalahkan rakyat. Negara berjalan dengan ego, bukan dengan data yang rasional.

Dalam birokrasi pemerintahan, meritokrasi dikalahkan oleh jurus para penjilat. Promosi jabatan bukan berdasarkan kinerja, tetapi kedekatan dengan pejabat. Pegawai yang pintar dan jujur dapat dikalahkan oleh pegawai yang selalu memuji dan mengunggah aktivitas atasan ke media sosial. Alhasil, lingkaran birokrasi diisi oleh orang yang sama-sama menjilat.

Muncul apatisme dan ketidakpercayaan publik kepada negara dan pemerintahan. Rakyat setiap hari disuguhi berita media online dan televisi yang berisi pujian kepada penguasa. Padahal realitanya, jalanan di kampung dan di kota rusak parah, pejabat yang korup, dan harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik. Menteri selalu berkata fundamental ekonomi baik, tetapi ibu-ibu rumah tangga setiap hari mengeluh harga sembako naik, dan rakyat menjerit terbebani beragam pajak.

Salah satu kontribusi yang dilakukan penjilat adalah terciptanya lingkungan semu (pseudo environtment). Sebagaimana dikatakan Walter Lippmann, pemimpin hidup di lingkungan semu yang dibangun media dan bawahan. Dan penjilat adalah arsitek yang membangunnya. Mereka akan menyaring informasi yang buruk dan melebih-lebihkan informasi yang baik. Akibatnya, penguasa akan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang salah.

Penjilat adalah ahli bahasa. Dia tidak menciptakan kebijakan, tapi dia menciptakan narasi. Dia tidak menjual sembako, tapi dia membangun citra orang yang membagikan sembako. Penjilat juga produk dari sistem komunikasi yang sakit. Selama validasi dari atas masih menjadi harta berharga, maka bahasa penjilat akan terus menjadi bahasa resmi politik Indonesia. [T]

Tags: komunikasikomunikasi politikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Next Post

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co