1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

Chusmeru by Chusmeru
September 21, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk mencerdaskan, melainkan alat untuk mengamankan. Mengamankan posisi, mengamankan jabatan, dan mengamankan kekuasaan. Fenomena ini melahirkan satu gaya komunikasi berupa bahasa penjilat.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, penjilat bukanlah orang bodoh. Dia adalah komunikator strategis. Para penjilat tahu persis siapa audiensnya, pesan apa yang disukai, dan saluran apa yang paling efektif. Tujuannya hanya satu: membangun kedekatan dengan pemegang kuasa; bisa presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, maupun ketua partai politik.

Keberadaan penjilat bukan produk baru; sudah ada sejak zaman kerajaan, waktu penjajahan Belanda, era Orde Baru, hingga saat ini. Raja-raja di Indonesia bukan sekadar kepala pemerintahan. Mereka adalah para “sinuhun” titisan kekuasaan yang sakral. Untuk mendekat kepada raja perlu bahasa yang santun, perlu sungkem dan sembah.

Ketika penjajah Belanda datang, mereka tidak menghapus model komunikasi dan relasi kuasa antara rakyat dan raja. Mereka justru memeliharanya. Maka lahirlah kelas priyayi dan kelas birokrat yang tugasnya ganda: menjilat ke atas kepada Gubernur Jenderal agar dapat jabatan, dan menjilat ke bawah agar dipatuhi rakyat.

Puncaknya terjadi di era Orde Baru. Kekuasaan dipusatkan pada satu orang: Presiden Soeharto. Dari istana mengalir dana, proyek, dan jabatan. Maka lahirlah istilah yang melegenda: ABS (Asal Bapak Senang). Seorang bupati tidak cukup bekerja untuk rakyatnya. Ia harus sowan ke Jakarta, memastikan dirinya masuk TVRI saat mendampingi Bapak. Para menteri tahu betul bagaimana menyenangkan Bapak, hingga setiap jumpa pers Menteri Penerangan Harmoko selalu mengatakan: “Sesuai arahan dan petunjuk Bapak Presiden”.

Di era reformasi, ABS tidak serta-merta mati. Ia hanya berganti wajah dan tempat. Jika dulu penjilatan dilakukan di ruang rapat tertutup, kini ia dilakukan di ruang publik. Jika dulu alatnya adalah pidato dan surat, kini alatnya adalah konten. Inilah sisi komunikasi dari penjilatan. Dan di sinilah ia menjadi paling berbahaya, karena ia membentuk opini publik.

Penjilat adalah Ahli Strategi Komunikasi

Penjilat itu ahli strategi komunikasi. Dia pakai bahasa bukan untuk menyampaikan kebenaran, tapi untuk membangun relasi politik, kedekatan, keamanan, dan keuntungan. Jurus utamanya adalah hiperbola pujian. Melebih-lebihkan bahasa agar penguasa merasa “satu-satunya”. Kalimat yang digunakan adalah “Keputusan Bapak Presiden sangat visioner, berani, dan belum pernah dilakukan oleh presiden mana pun di dunia”.  “Bapak Presiden sangat memikirkan rakyatnya, sehingga berkunjung ke pelosok desa”.

Dalam model komunikasi klasik Harold Lasswell: “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect”, para penjilat sangat menguasai strategi komunikasi ini. Sebagai komunikator (Who), para penjilat memposisikan sebagai bawahan yang sangat setia, bukan sebagai pejabat publik. Identitasnya melebur ke atasan. Bahasa yang muncul adalah “Hidup Mati Bersama Presiden”.

Pesan komunikasinya (Says What) wajib mengikuti dua formula, yaitu hiperbola pujian dan merendah serendah-rendahnya. Tak heran bila kemudian ada aktivis, politisi, yang kemudian menjadi birokrat berujar bahwa IQ Presiden setara dengan Albert Einstein yang sehari dapat membaca 50 buku. Ucapan itu sejatinya bertujuan membangun jarak vertikal, presiden di atas dan politisi itu di bawah.

Saluran komunikasinya (In Which Channel) pun kekinian. Jika dulu salurannya sowan dan rapat tertutup dengan penguasa, sekarang salurannya Instagram Story, TikTok, dan jumpa pers. Karena komunikasi modern menuntut bukti digital sebagai simbol loyalitas. Para penjilat akan berebut duduk atau berdiri dekat dengan penguasa, dan mengunggahnya ke media sosial agar tervalidasi. Karenanya, para penjilat adalah mereka yang rajin cari muka dan cari panggung.

Komunikan (To Whom) para penjilat ada dua, primer dan sekunder. Komunikan primer adalah penguasa, sedangkan yang sekunder adalah publik. Pesan yang sama dapat ditujukan kepada dua komunikan sekaligus dengan harapan menyenangkan penguasa dan menunjukkan ke publik bahwa ia bagian dari koalisi penguasa itu.

Pernyataan seorang bupati di hadapan presiden bahwa “Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menurunkan angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan mendongkrak kehadiran siswa di sekolah” bertujuan menyenangkan presiden. Pernyataan itu sekaligus juga ingin menunjukkan kepada publik bahwa gubernur itu adalah bagian dari tim presiden.

Semua bentuk penjilatan bukan tanpa harapan. Efek komunikasi (With What Effect) yang dikejar adalah reward dari penguasa. Efek itu dapat berupa jabatan yang dipertahankan, penambahan anggaran, maupun rasa aman dalam pemerintahan.

Para penjilat biasanya juga mempunyai kemampuan membingkai realitas dan melakukan agenda setting. Ketika ada fakta bahwa Dana Desa terserap untuk Koperasi Desa Merah Putih KDMP), seorang menteri mengatakan tak masalah, karena justru dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan perekonomian desa. Ini adalah framing, sehingga perdebatan publik bergeser dari masalah efisiensi anggaran kepada rasa bersyukur masyarakat.

Pejabat penjilat akan bekerjasama dengan media dan kaum cerdik pandai yang dapat “dijinakkan” untuk membuat agenda setting tentang apa yang penting dibicarakan publik. Maka yang dinaikkan dalam media adalah foto presiden yang sedang blusukan ke pedesaan, angka pertumbuhan ekonomi, dan berbagai seremoni. Sementara data kemiskinan, kasus korupsi, dan kritik kebijakan akan ditutup rapat. Tokoh publik yang biasanya begitu kritis pun kini berujar bahwa MBG dan KDMP tak bisa dihentikan lantaran merupakan amanat konstitusi.

Bahkan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut masalah MBG di bawah baik-baik saja, tidak ada masalah. Ia justru menuding guru, orang tua murid, wartawan, dan LSM yang membuat ramai di media sosial. Seolah ia lupa, bahwa ribuan siswa sekolah telah keracunan akibat program MBG itu. Seolah ia ingin mengatakan bahwa kebijakan presiden itu baik-baik saja.

Dampak pada Demokrasi dan Politik

Penjilat dalam lingkaran kekuasaan bukan hanya tidak elok untuk dilihat, tetapi juga merusak demokrasi dan sistem politik. Demokrasi hanya akan menjadi formalitas. Ada pemilu, ada DPR, tapi fungsi kontrolnya sangat lemah, karena semua satu garis komando. Lembaga yang semestinya melakukan kritik kebijakan pemerintah malah menjadi yang terdepan memuji-muji pemerintah. Kekuasaan absolut terjadi tanpa sadar.

Kebijakan menjadi buruk dengan tampilnya para penjilat. Mereka hanya dapat berkata “Siap!” dan “Bagus”. Semua gagasan dari penguasa selalu dianggap benar. Pun jika ada proyek yang gagal, para penjilat justru menyalahkan rakyat. Negara berjalan dengan ego, bukan dengan data yang rasional.

Dalam birokrasi pemerintahan, meritokrasi dikalahkan oleh jurus para penjilat. Promosi jabatan bukan berdasarkan kinerja, tetapi kedekatan dengan pejabat. Pegawai yang pintar dan jujur dapat dikalahkan oleh pegawai yang selalu memuji dan mengunggah aktivitas atasan ke media sosial. Alhasil, lingkaran birokrasi diisi oleh orang yang sama-sama menjilat.

Muncul apatisme dan ketidakpercayaan publik kepada negara dan pemerintahan. Rakyat setiap hari disuguhi berita media online dan televisi yang berisi pujian kepada penguasa. Padahal realitanya, jalanan di kampung dan di kota rusak parah, pejabat yang korup, dan harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik. Menteri selalu berkata fundamental ekonomi baik, tetapi ibu-ibu rumah tangga setiap hari mengeluh harga sembako naik, dan rakyat menjerit terbebani beragam pajak.

Salah satu kontribusi yang dilakukan penjilat adalah terciptanya lingkungan semu (pseudo environtment). Sebagaimana dikatakan Walter Lippmann, pemimpin hidup di lingkungan semu yang dibangun media dan bawahan. Dan penjilat adalah arsitek yang membangunnya. Mereka akan menyaring informasi yang buruk dan melebih-lebihkan informasi yang baik. Akibatnya, penguasa akan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang salah.

Penjilat adalah ahli bahasa. Dia tidak menciptakan kebijakan, tapi dia menciptakan narasi. Dia tidak menjual sembako, tapi dia membangun citra orang yang membagikan sembako. Penjilat juga produk dari sistem komunikasi yang sakit. Selama validasi dari atas masih menjadi harta berharga, maka bahasa penjilat akan terus menjadi bahasa resmi politik Indonesia. [T]

Tags: komunikasikomunikasi politikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

Next Post

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co