7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
in Tualang
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Sate Mak Syukur, Padang Panjang / Foto Dok.Penulis

“Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan.”

Setiap perjalanan selalu mempunyai dua tujuan. Tujuan pertama adalah tempat yang hendak didatangi. Tujuan kedua, yang sering kali tidak disadari, adalah menemukan kembali diri sendiri. Saya selalu percaya, manusia tidak pernah benar-benar pulang dalam keadaan yang sama setelah sebuah perjalanan. Ada yang berubah, meski hanya cara memandang langit, cara menikmati secangkir kopi, atau cara memahami sepotong sejarah.

Demikian pula ketika pada pertengahan Juli 2026 saya bersama beberapa kolega akademik berangkat menuju Sumatera Barat. Secara administratif perjalanan ini adalah menghadiri The 6th AICCON – International Communication Conference, Rapat Koordinasi Nasional, dan Kongres Luar Biasa ASPIKOM yang diselenggarakan Universitas Negeri Padang pada 22–24 Juli 2026. Tetapi sebagaimana lazimnya setiap perjalanan akademik kami, selalu ada “ruang belajar” yang tidak tercantum dalam jadwal resmi konferensi.

Karena itulah kami sengaja berangkat sehari lebih awal. Orang Jawa menyebutnya mencuri start. Bukan untuk mengejar waktu, melainkan memberi kesempatan kepada hati agar lebih dahulu mengenal sebuah daerah sebelum pikiran bekerja di ruang-ruang seminar.

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta | Foto Dok.Penulis

Tujuan kecil kami adalah Bukittinggi. Bagi saya pribadi, ini merupakan kunjungan ketiga. Namun saya selalu percaya, tidak ada perjalanan yang benar-benar sama. Gunung yang sama akan menghadirkan langit yang berbeda. Jalan yang sama akan memperlihatkan perasaan yang berbeda pula.

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Minangkabau. Begitu kaki menjejak lantai terminal, suasana Ranah Minang langsung terasa. Alunan musik tradisional yang dimainkan secara langsung menyambut para penumpang. Musik itu bukan sekadar hiburan. Ia seperti ucapan selamat datang yang disampaikan tanpa kata-kata.

Barangkali beginilah budaya bekerja. Ia tidak berteriak memperkenalkan diri. Ia hanya hadir, lalu perlahan mengendap menjadi kesan.

Sambil menunggu kendaraan sewaan, saya menikmati alunan musik itu. Sesaat saya membayangkan bagaimana sebuah kebudayaan mampu bertahan bukan karena dipamerkan secara berlebihan, melainkan karena dirawat dengan penuh kebanggaan oleh masyarakatnya.

Perjalanan Menuju Bukittinggi Dimulai

Mobil melaju meninggalkan bandara menuju Kabupaten Tanah Datar. Tidak lama kemudian kami memasuki kawasan Lembah Anai.

Saya selalu kesulitan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan tempat ini. Indah terasa terlalu sederhana. Megah terasa terlalu dingin. Eksotik mungkin paling mendekati.

Di kiri jalan, air terjun seakan turun langsung dari langit. Air yang jernih itu mengalir begitu dekat dengan kendaraan yang melintas. Banyak pengendara sepeda motor berhenti sejenak. Ada yang sekadar menghirup udara pegunungan. Ada pula yang mengabadikan lanskap itu melalui kamera telepon genggam.

Saya memilih menikmati semuanya dengan mata. Tidak semua keindahan harus dipotret. Ada yang cukup disimpan dalam ingatan.

Namun alam selalu menyimpan dua wajah. Di balik hijaunya pepohonan dan derasnya air terjun, kami juga melihat bekas-bekas longsor yang pernah melanda kawasan tersebut. Tebing yang terluka menjadi pengingat bahwa alam bukan hanya sahabat manusia, tetapi juga guru yang mengajarkan kerendahan hati.

Manusia boleh membangun jalan membelah gunung. Tetapi gunung selalu memiliki caranya sendiri mengingatkan siapa sebenarnya yang lebih tua. Jalan terus menanjak dan berkelok.

Kami memasuki Kota Padang Panjang. Di kota berhawa sejuk inilah perjalanan berubah menjadi pengalaman kuliner. Tujuan kami adalah Sate Mak Syukur.

Nama itu sudah lama menjadi legenda. Namun sesungguhnya yang membuat makanan menjadi istimewa bukan hanya resepnya. Yang membuatnya dikenang adalah suasana ketika kita menikmatinya.

Udara pegunungan yang dingin. Secangkir teh hangat. Asap sate yang mengepul. Percakapan ringan bersama kolega. Semuanya berpadu menjadi rasa yang sulit dipisahkan.

Di meja makan, saya kembali menyadari bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan biologis. Ia adalah bahasa budaya.

Ragam Menu Masakan di RM Lamun Ombak | Foto Dok.Penulis

 

Melalui makanan, sebuah masyarakat bercerita tentang sejarah, tentang tanah tempat mereka bercocok tanam, tentang rempah yang mereka kenal, bahkan tentang cara mereka memandang kehidupan.

Di Ranah Minang musim durian sedang berlangsung, kami pun tidak melewatkan kesempatan menikmati buah yang bagi sebagian orang disebut raja buah itu. Setelah itu pramusaji menawarkan kopi talua.

Perut sebenarnya sudah sangat penuh. Tetapi menolak kopi talua di Ranah Minang rasanya seperti datang ke perpustakaan tanpa membuka satu pun buku. Segelas kopi berpadu telur dan rempah itu menghadirkan sensasi yang berbeda. Nikmat. Rancak bana. Ungkapan sederhana yang terasa sangat tepat.

Dari Padang Panjang perjalanan dilanjutkan menuju Bukittinggi. Sebelum memasuki kota, kami menyempatkan singgah di sebuah rumah gadang. Rumah tradisional Minangkabau selalu menghadirkan kekaguman tersendiri. Atapnya yang menyerupai tanduk kerbau tidak hanya indah secara visual. Ia adalah simbol.

Arsitektur ternyata dapat berbicara. Rumah gadang mengajarkan bahwa sebuah bangunan bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang tempat nilai-nilai diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di sinilah kebudayaan sesungguhnya tinggal.

Sesampainya di Bukittinggi, tujuan pertama kami adalah rumah kelahiran Proklamator Mohammad Hatta. Saya berjalan perlahan memasuki setiap ruang. Teras. Ruang tamu. Ruang kerja. Kamar tidur. Dapur. Hingga garasi tempat bendi dahulu disimpan.

Rumah itu sederhana. Tidak berlebihan. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir seorang negarawan yang integritasnya masih menjadi rujukan hingga hari ini.

Saya membayangkan Bung Hatta kecil membaca buku di sudut rumah itu. Barangkali dari jendela yang sama beliau memandang langit Bukittinggi. Barangkali dari ruang yang sama tumbuh gagasan-gagasan besar tentang Indonesia.

Sejarah ternyata tidak selalu lahir dari gedung-gedung megah. Kadang ia tumbuh dari rumah sederhana yang dipenuhi kejujuran.

Dalam dunia yang hari ini sering mengukur keberhasilan dari kemewahan, rumah Bung Hatta mengajarkan pelajaran berbeda. Bahwa karakter lebih penting daripada kemegahan. Bahwa kecintaan pada ilmu lebih berharga daripada kekayaan.

Sudut Ruangan Rumah Bung Hatta | Foto Dok.Penulis

Sore menjelang. Kami berjalan menuju ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang tetap berdiri anggun seperti penjaga waktu yang tidak pernah lelah mengingatkan manusia bahwa setiap detik adalah sejarah yang sedang ditulis.

Kami menikmati suasana kota, mencicipi kuliner kecil, berbincang santai dengan para pedagang. Menjelang malam kami memutuskan kembali ke Padang. Namun perjalanan belum selesai. Di pinggir kota kami singgah di sebuah kedai sederhana.

Di sana tersedia Bika Talago, kue khas berbahan tepung ketan dan parutan kelapa. Legit. Gurih. Manis. Tidak berlebihan. Secangkir kopi hitam panas menjadi pasangan yang sempurna.

Di saat seperti itu saya merasa bahwa kebahagiaan ternyata sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Bukan hotel berbintang. Bukan restoran mewah. Melainkan secangkir kopi hangat, sepotong kue tradisional, dan waktu yang berjalan tanpa tergesa-gesa.

Padang dan Sebuah Mimpi Gastronomi

Malam hari kami tiba kembali di Padang. Perjalanan hampir dua belas jam terasa tidak melelahkan. Barangkali karena perjalanan yang dilakukan dengan hati memang jarang terasa sebagai beban.

Esok paginya agenda akademik dimulai. Rapat Koordinasi Nasional ASPIKOM. Kongres Luar Biasa. The 6th AICCON.

Diskusi demi diskusi berlangsung produktif. Para akademisi komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dan negara sahabat bertemu, bertukar gagasan, sekaligus memperkuat jejaring keilmuan.

Namun satu peristiwa yang paling membekas justru berlangsung pada malam harinya. Kami menghadiri gala dinner yang diselenggarakan Pemerintah Kota Padang di Rumah Gadang Bagonjong Baiturrahmah. Bangunannya megah. Arsitekturnya memancarkan kebanggaan budaya Minangkabau.

Rumah Gadang Bagonjong Baiturahma, Kota Padang | Foto Dok.Penulis

Dalam sambutannya, Wali Kota Padang, Bapak Fadly Amran, menyampaikan sebuah cita-cita yang menurut saya sangat menarik. Beliau ingin menjadikan Padang sebagai Kota Gastronomi Indonesia.

Saya diam sejenak merenungkan kalimat itu. Gastronomi sering disalahpahami sebagai urusan makan enak. Padahal maknanya jauh lebih luas. Gastronomi adalah pertemuan antara makanan, sejarah, budaya, lingkungan, ekonomi kreatif, hingga identitas suatu bangsa.

Makanan bukan lagi sekadar sesuatu yang disantap. Ia adalah narasi. Ia adalah diplomasi. Ia adalah identitas. Dan sesungguhnya Padang telah lama memiliki modal itu.

Tidak banyak kota di Indonesia yang nama makanannya lebih terkenal daripada nama kotanya sendiri.

Orang mungkin belum pernah datang ke Padang. Namun hampir semua orang mengenal rendang. Mengenal gulai. Mengenal dendeng balado. Mengenal sate Padang. Mengenal teh talua. Mengenal berbagai kuliner yang telah menjadi bagian dari memori kolektif bangsa Indonesia.

Bahkan rumah makan Padang telah hadir hampir di setiap kota di Indonesia, bahkan di berbagai negara. Fenomena ini bukan hanya keberhasilan kuliner. Ini adalah keberhasilan komunikasi budaya. Setiap rumah makan Padang sesungguhnya adalah “duta kecil” kebudayaan Minangkabau.

Melalui sepiring nasi, orang diperkenalkan kepada cita rasa, filosofi merantau, etos kerja, serta keramahan masyarakat Minang.

Kuliner menjadi media komunikasi lintas budaya yang sangat efektif. Tanpa pidato. Tanpa seminar. Tanpa teori. Hanya melalui rasa. Karena rasa sering kali lebih mudah diterima daripada kata-kata.

Dalam perjalanan pulang gala dinner, saya terus memikirkan ucapan Wali Kota Padang. Membangun kota gastronomi bukan berarti sekadar memperbanyak restoran. Yang jauh lebih penting adalah menjaga ekosistem budaya yang melahirkan makanan itu sendiri.

Petani yang menanam rempah harus dihargai. Perempuan-perempuan yang mewariskan resep keluarga harus dihormati. Pasar tradisional harus tetap hidup. Cerita di balik setiap masakan harus terus diceritakan kepada generasi muda. Sebab ketika resep hilang, sesungguhnya yang hilang bukan hanya makanan. Yang hilang adalah sebagian ingatan sebuah bangsa.

Jam Gadang Kota Bukittinggi | Foto Dok.Penulis

 

Perjalanan ke Bukittinggi akhirnya mengajarkan satu hal yang sederhana. Manusia memang dapat mengukur jarak dengan kilometer. Tetapi makna perjalanan tidak pernah diukur oleh angka. Ia diukur oleh pengalaman. Oleh rasa syukur. Oleh sejarah yang disentuh. Oleh persahabatan yang semakin erat. Oleh secangkir kopi yang dinikmati tanpa tergesa.

Dan oleh keyakinan bahwa sebuah daerah akan selalu dikenang bukan hanya karena pemandangannya, melainkan juga karena keramahan manusianya dan kejujurannya menjaga warisan budaya.

Ranah Minang telah mengajarkan semuanya kepada kami. Mungkin itulah sebabnya setiap kali meninggalkan Sumatera Barat, saya tidak pernah merasa benar-benar pergi.

Sebagian hati selalu tertinggal di jalan berkelok Lembah Anai, di udara sejuk Padang Panjang, di rumah sederhana Bung Hatta, di bayang-bayang Jam Gadang, dan di aroma kopi yang mengepul bersama sepotong bika hangat.

Perjalanan memang selalu berakhir. Tetapi kenangan yang lahir darinya akan terus berjalan, jauh melampaui langkah-langkah kaki yang pernah menapaki tanah itu.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalananKota PadangMinangkabau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

Next Post

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
0
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

Read moreDetails

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
0
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails
Next Post
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co