17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
in Tualang
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

Sate Mak Syukur, Padang Panjang / Foto Dok.Penulis

“Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan.”

Setiap perjalanan selalu mempunyai dua tujuan. Tujuan pertama adalah tempat yang hendak didatangi. Tujuan kedua, yang sering kali tidak disadari, adalah menemukan kembali diri sendiri. Saya selalu percaya, manusia tidak pernah benar-benar pulang dalam keadaan yang sama setelah sebuah perjalanan. Ada yang berubah, meski hanya cara memandang langit, cara menikmati secangkir kopi, atau cara memahami sepotong sejarah.

Demikian pula ketika pada pertengahan Juli 2026 saya bersama beberapa kolega akademik berangkat menuju Sumatera Barat. Secara administratif perjalanan ini adalah menghadiri The 6th AICCON – International Communication Conference, Rapat Koordinasi Nasional, dan Kongres Luar Biasa ASPIKOM yang diselenggarakan Universitas Negeri Padang pada 22–24 Juli 2026. Tetapi sebagaimana lazimnya setiap perjalanan akademik kami, selalu ada “ruang belajar” yang tidak tercantum dalam jadwal resmi konferensi.

Karena itulah kami sengaja berangkat sehari lebih awal. Orang Jawa menyebutnya mencuri start. Bukan untuk mengejar waktu, melainkan memberi kesempatan kepada hati agar lebih dahulu mengenal sebuah daerah sebelum pikiran bekerja di ruang-ruang seminar.

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta | Foto Dok.Penulis

Tujuan kecil kami adalah Bukittinggi. Bagi saya pribadi, ini merupakan kunjungan ketiga. Namun saya selalu percaya, tidak ada perjalanan yang benar-benar sama. Gunung yang sama akan menghadirkan langit yang berbeda. Jalan yang sama akan memperlihatkan perasaan yang berbeda pula.

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Minangkabau. Begitu kaki menjejak lantai terminal, suasana Ranah Minang langsung terasa. Alunan musik tradisional yang dimainkan secara langsung menyambut para penumpang. Musik itu bukan sekadar hiburan. Ia seperti ucapan selamat datang yang disampaikan tanpa kata-kata.

Barangkali beginilah budaya bekerja. Ia tidak berteriak memperkenalkan diri. Ia hanya hadir, lalu perlahan mengendap menjadi kesan.

Sambil menunggu kendaraan sewaan, saya menikmati alunan musik itu. Sesaat saya membayangkan bagaimana sebuah kebudayaan mampu bertahan bukan karena dipamerkan secara berlebihan, melainkan karena dirawat dengan penuh kebanggaan oleh masyarakatnya.

Perjalanan Menuju Bukittinggi Dimulai

Mobil melaju meninggalkan bandara menuju Kabupaten Tanah Datar. Tidak lama kemudian kami memasuki kawasan Lembah Anai.

Saya selalu kesulitan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan tempat ini. Indah terasa terlalu sederhana. Megah terasa terlalu dingin. Eksotik mungkin paling mendekati.

Di kiri jalan, air terjun seakan turun langsung dari langit. Air yang jernih itu mengalir begitu dekat dengan kendaraan yang melintas. Banyak pengendara sepeda motor berhenti sejenak. Ada yang sekadar menghirup udara pegunungan. Ada pula yang mengabadikan lanskap itu melalui kamera telepon genggam.

Saya memilih menikmati semuanya dengan mata. Tidak semua keindahan harus dipotret. Ada yang cukup disimpan dalam ingatan.

Namun alam selalu menyimpan dua wajah. Di balik hijaunya pepohonan dan derasnya air terjun, kami juga melihat bekas-bekas longsor yang pernah melanda kawasan tersebut. Tebing yang terluka menjadi pengingat bahwa alam bukan hanya sahabat manusia, tetapi juga guru yang mengajarkan kerendahan hati.

Manusia boleh membangun jalan membelah gunung. Tetapi gunung selalu memiliki caranya sendiri mengingatkan siapa sebenarnya yang lebih tua. Jalan terus menanjak dan berkelok.

Kami memasuki Kota Padang Panjang. Di kota berhawa sejuk inilah perjalanan berubah menjadi pengalaman kuliner. Tujuan kami adalah Sate Mak Syukur.

Nama itu sudah lama menjadi legenda. Namun sesungguhnya yang membuat makanan menjadi istimewa bukan hanya resepnya. Yang membuatnya dikenang adalah suasana ketika kita menikmatinya.

Udara pegunungan yang dingin. Secangkir teh hangat. Asap sate yang mengepul. Percakapan ringan bersama kolega. Semuanya berpadu menjadi rasa yang sulit dipisahkan.

Di meja makan, saya kembali menyadari bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan biologis. Ia adalah bahasa budaya.

Ragam Menu Masakan di RM Lamun Ombak | Foto Dok.Penulis

 

Melalui makanan, sebuah masyarakat bercerita tentang sejarah, tentang tanah tempat mereka bercocok tanam, tentang rempah yang mereka kenal, bahkan tentang cara mereka memandang kehidupan.

Di Ranah Minang musim durian sedang berlangsung, kami pun tidak melewatkan kesempatan menikmati buah yang bagi sebagian orang disebut raja buah itu. Setelah itu pramusaji menawarkan kopi talua.

Perut sebenarnya sudah sangat penuh. Tetapi menolak kopi talua di Ranah Minang rasanya seperti datang ke perpustakaan tanpa membuka satu pun buku. Segelas kopi berpadu telur dan rempah itu menghadirkan sensasi yang berbeda. Nikmat. Rancak bana. Ungkapan sederhana yang terasa sangat tepat.

Dari Padang Panjang perjalanan dilanjutkan menuju Bukittinggi. Sebelum memasuki kota, kami menyempatkan singgah di sebuah rumah gadang. Rumah tradisional Minangkabau selalu menghadirkan kekaguman tersendiri. Atapnya yang menyerupai tanduk kerbau tidak hanya indah secara visual. Ia adalah simbol.

Arsitektur ternyata dapat berbicara. Rumah gadang mengajarkan bahwa sebuah bangunan bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang tempat nilai-nilai diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di sinilah kebudayaan sesungguhnya tinggal.

Sesampainya di Bukittinggi, tujuan pertama kami adalah rumah kelahiran Proklamator Mohammad Hatta. Saya berjalan perlahan memasuki setiap ruang. Teras. Ruang tamu. Ruang kerja. Kamar tidur. Dapur. Hingga garasi tempat bendi dahulu disimpan.

Rumah itu sederhana. Tidak berlebihan. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir seorang negarawan yang integritasnya masih menjadi rujukan hingga hari ini.

Saya membayangkan Bung Hatta kecil membaca buku di sudut rumah itu. Barangkali dari jendela yang sama beliau memandang langit Bukittinggi. Barangkali dari ruang yang sama tumbuh gagasan-gagasan besar tentang Indonesia.

Sejarah ternyata tidak selalu lahir dari gedung-gedung megah. Kadang ia tumbuh dari rumah sederhana yang dipenuhi kejujuran.

Dalam dunia yang hari ini sering mengukur keberhasilan dari kemewahan, rumah Bung Hatta mengajarkan pelajaran berbeda. Bahwa karakter lebih penting daripada kemegahan. Bahwa kecintaan pada ilmu lebih berharga daripada kekayaan.

Sudut Ruangan Rumah Bung Hatta | Foto Dok.Penulis

Sore menjelang. Kami berjalan menuju ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang tetap berdiri anggun seperti penjaga waktu yang tidak pernah lelah mengingatkan manusia bahwa setiap detik adalah sejarah yang sedang ditulis.

Kami menikmati suasana kota, mencicipi kuliner kecil, berbincang santai dengan para pedagang. Menjelang malam kami memutuskan kembali ke Padang. Namun perjalanan belum selesai. Di pinggir kota kami singgah di sebuah kedai sederhana.

Di sana tersedia Bika Talago, kue khas berbahan tepung ketan dan parutan kelapa. Legit. Gurih. Manis. Tidak berlebihan. Secangkir kopi hitam panas menjadi pasangan yang sempurna.

Di saat seperti itu saya merasa bahwa kebahagiaan ternyata sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Bukan hotel berbintang. Bukan restoran mewah. Melainkan secangkir kopi hangat, sepotong kue tradisional, dan waktu yang berjalan tanpa tergesa-gesa.

Padang dan Sebuah Mimpi Gastronomi

Malam hari kami tiba kembali di Padang. Perjalanan hampir dua belas jam terasa tidak melelahkan. Barangkali karena perjalanan yang dilakukan dengan hati memang jarang terasa sebagai beban.

Esok paginya agenda akademik dimulai. Rapat Koordinasi Nasional ASPIKOM. Kongres Luar Biasa. The 6th AICCON.

Diskusi demi diskusi berlangsung produktif. Para akademisi komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dan negara sahabat bertemu, bertukar gagasan, sekaligus memperkuat jejaring keilmuan.

Namun satu peristiwa yang paling membekas justru berlangsung pada malam harinya. Kami menghadiri gala dinner yang diselenggarakan Pemerintah Kota Padang di Rumah Gadang Bagonjong Baiturrahmah. Bangunannya megah. Arsitekturnya memancarkan kebanggaan budaya Minangkabau.

Rumah Gadang Bagonjong Baiturahma, Kota Padang | Foto Dok.Penulis

Dalam sambutannya, Wali Kota Padang, Bapak Fadly Amran, menyampaikan sebuah cita-cita yang menurut saya sangat menarik. Beliau ingin menjadikan Padang sebagai Kota Gastronomi Indonesia.

Saya diam sejenak merenungkan kalimat itu. Gastronomi sering disalahpahami sebagai urusan makan enak. Padahal maknanya jauh lebih luas. Gastronomi adalah pertemuan antara makanan, sejarah, budaya, lingkungan, ekonomi kreatif, hingga identitas suatu bangsa.

Makanan bukan lagi sekadar sesuatu yang disantap. Ia adalah narasi. Ia adalah diplomasi. Ia adalah identitas. Dan sesungguhnya Padang telah lama memiliki modal itu.

Tidak banyak kota di Indonesia yang nama makanannya lebih terkenal daripada nama kotanya sendiri.

Orang mungkin belum pernah datang ke Padang. Namun hampir semua orang mengenal rendang. Mengenal gulai. Mengenal dendeng balado. Mengenal sate Padang. Mengenal teh talua. Mengenal berbagai kuliner yang telah menjadi bagian dari memori kolektif bangsa Indonesia.

Bahkan rumah makan Padang telah hadir hampir di setiap kota di Indonesia, bahkan di berbagai negara. Fenomena ini bukan hanya keberhasilan kuliner. Ini adalah keberhasilan komunikasi budaya. Setiap rumah makan Padang sesungguhnya adalah “duta kecil” kebudayaan Minangkabau.

Melalui sepiring nasi, orang diperkenalkan kepada cita rasa, filosofi merantau, etos kerja, serta keramahan masyarakat Minang.

Kuliner menjadi media komunikasi lintas budaya yang sangat efektif. Tanpa pidato. Tanpa seminar. Tanpa teori. Hanya melalui rasa. Karena rasa sering kali lebih mudah diterima daripada kata-kata.

Dalam perjalanan pulang gala dinner, saya terus memikirkan ucapan Wali Kota Padang. Membangun kota gastronomi bukan berarti sekadar memperbanyak restoran. Yang jauh lebih penting adalah menjaga ekosistem budaya yang melahirkan makanan itu sendiri.

Petani yang menanam rempah harus dihargai. Perempuan-perempuan yang mewariskan resep keluarga harus dihormati. Pasar tradisional harus tetap hidup. Cerita di balik setiap masakan harus terus diceritakan kepada generasi muda. Sebab ketika resep hilang, sesungguhnya yang hilang bukan hanya makanan. Yang hilang adalah sebagian ingatan sebuah bangsa.

Jam Gadang Kota Bukittinggi | Foto Dok.Penulis

 

Perjalanan ke Bukittinggi akhirnya mengajarkan satu hal yang sederhana. Manusia memang dapat mengukur jarak dengan kilometer. Tetapi makna perjalanan tidak pernah diukur oleh angka. Ia diukur oleh pengalaman. Oleh rasa syukur. Oleh sejarah yang disentuh. Oleh persahabatan yang semakin erat. Oleh secangkir kopi yang dinikmati tanpa tergesa.

Dan oleh keyakinan bahwa sebuah daerah akan selalu dikenang bukan hanya karena pemandangannya, melainkan juga karena keramahan manusianya dan kejujurannya menjaga warisan budaya.

Ranah Minang telah mengajarkan semuanya kepada kami. Mungkin itulah sebabnya setiap kali meninggalkan Sumatera Barat, saya tidak pernah merasa benar-benar pergi.

Sebagian hati selalu tertinggal di jalan berkelok Lembah Anai, di udara sejuk Padang Panjang, di rumah sederhana Bung Hatta, di bayang-bayang Jam Gadang, dan di aroma kopi yang mengepul bersama sepotong bika hangat.

Perjalanan memang selalu berakhir. Tetapi kenangan yang lahir darinya akan terus berjalan, jauh melampaui langkah-langkah kaki yang pernah menapaki tanah itu.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalananKota PadangMinangkabau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

Next Post

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co