“Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan.”
Setiap perjalanan selalu mempunyai dua tujuan. Tujuan pertama adalah tempat yang hendak didatangi. Tujuan kedua, yang sering kali tidak disadari, adalah menemukan kembali diri sendiri. Saya selalu percaya, manusia tidak pernah benar-benar pulang dalam keadaan yang sama setelah sebuah perjalanan. Ada yang berubah, meski hanya cara memandang langit, cara menikmati secangkir kopi, atau cara memahami sepotong sejarah.
Demikian pula ketika pada pertengahan Juli 2026 saya bersama beberapa kolega akademik berangkat menuju Sumatera Barat. Secara administratif perjalanan ini adalah menghadiri The 6th AICCON – International Communication Conference, Rapat Koordinasi Nasional, dan Kongres Luar Biasa ASPIKOM yang diselenggarakan Universitas Negeri Padang pada 22–24 Juli 2026. Tetapi sebagaimana lazimnya setiap perjalanan akademik kami, selalu ada “ruang belajar” yang tidak tercantum dalam jadwal resmi konferensi.
Karena itulah kami sengaja berangkat sehari lebih awal. Orang Jawa menyebutnya mencuri start. Bukan untuk mengejar waktu, melainkan memberi kesempatan kepada hati agar lebih dahulu mengenal sebuah daerah sebelum pikiran bekerja di ruang-ruang seminar.

Tujuan kecil kami adalah Bukittinggi. Bagi saya pribadi, ini merupakan kunjungan ketiga. Namun saya selalu percaya, tidak ada perjalanan yang benar-benar sama. Gunung yang sama akan menghadirkan langit yang berbeda. Jalan yang sama akan memperlihatkan perasaan yang berbeda pula.
Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Minangkabau. Begitu kaki menjejak lantai terminal, suasana Ranah Minang langsung terasa. Alunan musik tradisional yang dimainkan secara langsung menyambut para penumpang. Musik itu bukan sekadar hiburan. Ia seperti ucapan selamat datang yang disampaikan tanpa kata-kata.
Barangkali beginilah budaya bekerja. Ia tidak berteriak memperkenalkan diri. Ia hanya hadir, lalu perlahan mengendap menjadi kesan.
Sambil menunggu kendaraan sewaan, saya menikmati alunan musik itu. Sesaat saya membayangkan bagaimana sebuah kebudayaan mampu bertahan bukan karena dipamerkan secara berlebihan, melainkan karena dirawat dengan penuh kebanggaan oleh masyarakatnya.
Perjalanan Menuju Bukittinggi Dimulai
Mobil melaju meninggalkan bandara menuju Kabupaten Tanah Datar. Tidak lama kemudian kami memasuki kawasan Lembah Anai.
Saya selalu kesulitan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan tempat ini. Indah terasa terlalu sederhana. Megah terasa terlalu dingin. Eksotik mungkin paling mendekati.
Di kiri jalan, air terjun seakan turun langsung dari langit. Air yang jernih itu mengalir begitu dekat dengan kendaraan yang melintas. Banyak pengendara sepeda motor berhenti sejenak. Ada yang sekadar menghirup udara pegunungan. Ada pula yang mengabadikan lanskap itu melalui kamera telepon genggam.
Saya memilih menikmati semuanya dengan mata. Tidak semua keindahan harus dipotret. Ada yang cukup disimpan dalam ingatan.
Namun alam selalu menyimpan dua wajah. Di balik hijaunya pepohonan dan derasnya air terjun, kami juga melihat bekas-bekas longsor yang pernah melanda kawasan tersebut. Tebing yang terluka menjadi pengingat bahwa alam bukan hanya sahabat manusia, tetapi juga guru yang mengajarkan kerendahan hati.
Manusia boleh membangun jalan membelah gunung. Tetapi gunung selalu memiliki caranya sendiri mengingatkan siapa sebenarnya yang lebih tua. Jalan terus menanjak dan berkelok.
Kami memasuki Kota Padang Panjang. Di kota berhawa sejuk inilah perjalanan berubah menjadi pengalaman kuliner. Tujuan kami adalah Sate Mak Syukur.
Nama itu sudah lama menjadi legenda. Namun sesungguhnya yang membuat makanan menjadi istimewa bukan hanya resepnya. Yang membuatnya dikenang adalah suasana ketika kita menikmatinya.
Udara pegunungan yang dingin. Secangkir teh hangat. Asap sate yang mengepul. Percakapan ringan bersama kolega. Semuanya berpadu menjadi rasa yang sulit dipisahkan.
Di meja makan, saya kembali menyadari bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan biologis. Ia adalah bahasa budaya.

Melalui makanan, sebuah masyarakat bercerita tentang sejarah, tentang tanah tempat mereka bercocok tanam, tentang rempah yang mereka kenal, bahkan tentang cara mereka memandang kehidupan.
Di Ranah Minang musim durian sedang berlangsung, kami pun tidak melewatkan kesempatan menikmati buah yang bagi sebagian orang disebut raja buah itu. Setelah itu pramusaji menawarkan kopi talua.
Perut sebenarnya sudah sangat penuh. Tetapi menolak kopi talua di Ranah Minang rasanya seperti datang ke perpustakaan tanpa membuka satu pun buku. Segelas kopi berpadu telur dan rempah itu menghadirkan sensasi yang berbeda. Nikmat. Rancak bana. Ungkapan sederhana yang terasa sangat tepat.
Dari Padang Panjang perjalanan dilanjutkan menuju Bukittinggi. Sebelum memasuki kota, kami menyempatkan singgah di sebuah rumah gadang. Rumah tradisional Minangkabau selalu menghadirkan kekaguman tersendiri. Atapnya yang menyerupai tanduk kerbau tidak hanya indah secara visual. Ia adalah simbol.
Arsitektur ternyata dapat berbicara. Rumah gadang mengajarkan bahwa sebuah bangunan bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang tempat nilai-nilai diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di sinilah kebudayaan sesungguhnya tinggal.
Sesampainya di Bukittinggi, tujuan pertama kami adalah rumah kelahiran Proklamator Mohammad Hatta. Saya berjalan perlahan memasuki setiap ruang. Teras. Ruang tamu. Ruang kerja. Kamar tidur. Dapur. Hingga garasi tempat bendi dahulu disimpan.
Rumah itu sederhana. Tidak berlebihan. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir seorang negarawan yang integritasnya masih menjadi rujukan hingga hari ini.
Saya membayangkan Bung Hatta kecil membaca buku di sudut rumah itu. Barangkali dari jendela yang sama beliau memandang langit Bukittinggi. Barangkali dari ruang yang sama tumbuh gagasan-gagasan besar tentang Indonesia.
Sejarah ternyata tidak selalu lahir dari gedung-gedung megah. Kadang ia tumbuh dari rumah sederhana yang dipenuhi kejujuran.
Dalam dunia yang hari ini sering mengukur keberhasilan dari kemewahan, rumah Bung Hatta mengajarkan pelajaran berbeda. Bahwa karakter lebih penting daripada kemegahan. Bahwa kecintaan pada ilmu lebih berharga daripada kekayaan.

Sore menjelang. Kami berjalan menuju ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang tetap berdiri anggun seperti penjaga waktu yang tidak pernah lelah mengingatkan manusia bahwa setiap detik adalah sejarah yang sedang ditulis.
Kami menikmati suasana kota, mencicipi kuliner kecil, berbincang santai dengan para pedagang. Menjelang malam kami memutuskan kembali ke Padang. Namun perjalanan belum selesai. Di pinggir kota kami singgah di sebuah kedai sederhana.
Di sana tersedia Bika Talago, kue khas berbahan tepung ketan dan parutan kelapa. Legit. Gurih. Manis. Tidak berlebihan. Secangkir kopi hitam panas menjadi pasangan yang sempurna.
Di saat seperti itu saya merasa bahwa kebahagiaan ternyata sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Bukan hotel berbintang. Bukan restoran mewah. Melainkan secangkir kopi hangat, sepotong kue tradisional, dan waktu yang berjalan tanpa tergesa-gesa.
Padang dan Sebuah Mimpi Gastronomi
Malam hari kami tiba kembali di Padang. Perjalanan hampir dua belas jam terasa tidak melelahkan. Barangkali karena perjalanan yang dilakukan dengan hati memang jarang terasa sebagai beban.
Esok paginya agenda akademik dimulai. Rapat Koordinasi Nasional ASPIKOM. Kongres Luar Biasa. The 6th AICCON.
Diskusi demi diskusi berlangsung produktif. Para akademisi komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dan negara sahabat bertemu, bertukar gagasan, sekaligus memperkuat jejaring keilmuan.
Namun satu peristiwa yang paling membekas justru berlangsung pada malam harinya. Kami menghadiri gala dinner yang diselenggarakan Pemerintah Kota Padang di Rumah Gadang Bagonjong Baiturrahmah. Bangunannya megah. Arsitekturnya memancarkan kebanggaan budaya Minangkabau.

Dalam sambutannya, Wali Kota Padang, Bapak Fadly Amran, menyampaikan sebuah cita-cita yang menurut saya sangat menarik. Beliau ingin menjadikan Padang sebagai Kota Gastronomi Indonesia.
Saya diam sejenak merenungkan kalimat itu. Gastronomi sering disalahpahami sebagai urusan makan enak. Padahal maknanya jauh lebih luas. Gastronomi adalah pertemuan antara makanan, sejarah, budaya, lingkungan, ekonomi kreatif, hingga identitas suatu bangsa.
Makanan bukan lagi sekadar sesuatu yang disantap. Ia adalah narasi. Ia adalah diplomasi. Ia adalah identitas. Dan sesungguhnya Padang telah lama memiliki modal itu.
Tidak banyak kota di Indonesia yang nama makanannya lebih terkenal daripada nama kotanya sendiri.
Orang mungkin belum pernah datang ke Padang. Namun hampir semua orang mengenal rendang. Mengenal gulai. Mengenal dendeng balado. Mengenal sate Padang. Mengenal teh talua. Mengenal berbagai kuliner yang telah menjadi bagian dari memori kolektif bangsa Indonesia.
Bahkan rumah makan Padang telah hadir hampir di setiap kota di Indonesia, bahkan di berbagai negara. Fenomena ini bukan hanya keberhasilan kuliner. Ini adalah keberhasilan komunikasi budaya. Setiap rumah makan Padang sesungguhnya adalah “duta kecil” kebudayaan Minangkabau.
Melalui sepiring nasi, orang diperkenalkan kepada cita rasa, filosofi merantau, etos kerja, serta keramahan masyarakat Minang.
Kuliner menjadi media komunikasi lintas budaya yang sangat efektif. Tanpa pidato. Tanpa seminar. Tanpa teori. Hanya melalui rasa. Karena rasa sering kali lebih mudah diterima daripada kata-kata.
Dalam perjalanan pulang gala dinner, saya terus memikirkan ucapan Wali Kota Padang. Membangun kota gastronomi bukan berarti sekadar memperbanyak restoran. Yang jauh lebih penting adalah menjaga ekosistem budaya yang melahirkan makanan itu sendiri.
Petani yang menanam rempah harus dihargai. Perempuan-perempuan yang mewariskan resep keluarga harus dihormati. Pasar tradisional harus tetap hidup. Cerita di balik setiap masakan harus terus diceritakan kepada generasi muda. Sebab ketika resep hilang, sesungguhnya yang hilang bukan hanya makanan. Yang hilang adalah sebagian ingatan sebuah bangsa.

Perjalanan ke Bukittinggi akhirnya mengajarkan satu hal yang sederhana. Manusia memang dapat mengukur jarak dengan kilometer. Tetapi makna perjalanan tidak pernah diukur oleh angka. Ia diukur oleh pengalaman. Oleh rasa syukur. Oleh sejarah yang disentuh. Oleh persahabatan yang semakin erat. Oleh secangkir kopi yang dinikmati tanpa tergesa.
Dan oleh keyakinan bahwa sebuah daerah akan selalu dikenang bukan hanya karena pemandangannya, melainkan juga karena keramahan manusianya dan kejujurannya menjaga warisan budaya.
Ranah Minang telah mengajarkan semuanya kepada kami. Mungkin itulah sebabnya setiap kali meninggalkan Sumatera Barat, saya tidak pernah merasa benar-benar pergi.
Sebagian hati selalu tertinggal di jalan berkelok Lembah Anai, di udara sejuk Padang Panjang, di rumah sederhana Bung Hatta, di bayang-bayang Jam Gadang, dan di aroma kopi yang mengepul bersama sepotong bika hangat.
Perjalanan memang selalu berakhir. Tetapi kenangan yang lahir darinya akan terus berjalan, jauh melampaui langkah-langkah kaki yang pernah menapaki tanah itu.[T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole






























