30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
in Tualang
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Situ Cipondoh bergaya Gedung Opera Sidney | Foto: Dok. Penulis

“Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita.”

KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya sederhana. Makan siang bersama keluarga di sebuah rumah makan yang sudah lama menjadi bagian dari ingatan banyak orang Tangerang: Rumah Makan Hj. Kokom. Sepiring ayam goreng yang renyah, semangkuk sayur asem yang segar dengan aroma khas kampung, dan ikan bakar yang matang sempurna menjadi alasan perjalanan itu. Kadang-kadang, rasa mampu membawa manusia melakukan perjalanan yang jauh, bukan hanya melintasi ruang, tetapi juga waktu.

Sesudah makan siang, saya berjalan perlahan menuju tepian danau. Angin sore berembus pelan. Air bergelombang kecil, seolah sedang membaca doa-doa yang diam-diam diucapkan langit. Di kejauhan, beberapa anak tertawa menaiki perahu bebek. Para pemancing duduk tenang, seakan sedang berunding dengan kesabaran. Orang-orang berlari kecil di lintasan jogging, mengejar kesehatan, sementara matahari perlahan belajar menjadi senja.

Semuanya tampak biasa. Namun justru pada hal-hal yang biasa itulah kehidupan sering menyembunyikan keajaibannya.

Entah mengapa, langkah saya tiba-tiba terasa ringan, seolah-olah waktu berhenti berjalan. Danau itu tidak berubah banyak. Airnya masih memantulkan langit, anginnya masih membawa aroma yang sama. Yang berubah hanyalah orang yang berdiri di tepinya.

Dahulu, untuk sampai ke Situ Cipondoh, kami harus mengayuh sepeda dari kampung kami di Pabuaran Kilaut. Jaraknya kurang lebih delapan kilometer. Bagi anak-anak seusia kami, delapan kilometer bukanlah perjalanan yang pendek. Namun anehnya, tidak pernah terasa melelahkan. Barangkali karena yang kami kayuh bukan hanya roda sepeda, melainkan juga rasa ingin tahu yang sedang tumbuh bersama usia.

Menu RM. Hj. Kokom Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Kami berangkat pagi-pagi, sering kali setelah matahari mulai menghangatkan pematang sawah. Sepeda-sepeda kami sederhana, bahkan sebagian sudah berkali-kali ditambal bannya. Tidak ada yang mengeluh. Di sepanjang jalan kami saling bercanda, sesekali berlomba siapa yang lebih dahulu mencapai tikungan berikutnya. Delapan kilometer itu berubah menjadi ruang persahabatan yang tidak pernah kami hitung dengan satuan jarak, melainkan dengan gelak tawa.

Ketika akhirnya sampai di tepian Situ Cipondoh, segala rasa lelah seolah lenyap begitu saja. Hamparan air yang luas, angin yang berembus lembut, dan rindangnya pepohonan menjadi hadiah yang tidak pernah gagal membuat kami ingin kembali pada pekan berikutnya.

Kini, ketika saya berdiri kembali di tepi danau itu, usia tiba-tiba kehilangan maknanya. Yang hadir bukan lagi seorang profesor, bukan pula seorang dosen yang telah puluhan tahun mengajar di ruang-ruang kuliah. Yang berdiri di sana adalah anak kecil dari Pabuaran Kilaut yang pernah mengayuh sepeda sejauh delapan kilometer hanya untuk bertemu dengan sebuah danau.

Betapa sederhana kebahagiaan masa itu. Kami tidak memiliki telepon genggam untuk memotret setiap momen. Tidak ada media sosial tempat memamerkan perjalanan. Tidak ada istilah “healing”, “selfie”, atau “konten”. Kami hanya membawa sepeda, bekal seadanya, tawa yang tidak dibuat-buat, dan rasa ingin tahu yang begitu besar kepada dunia.

Kami datang bukan untuk mencari tempat yang indah. Kami datang karena dunia masih terasa luas. Kini saya memahami bahwa pada masa kecil itu kami sesungguhnya sedang belajar tentang kebebasan. Angin yang menerpa wajah ketika mengayuh sepeda ternyata sedang mengajarkan arti perjalanan. Jalan yang panjang ternyata sedang melatih ketekunan. Dan Situ Cipondoh diam-diam sedang mengajarkan bahwa air yang tenang pun memiliki pekerjaan besar: menyimpan kehidupan.

Situ Cipondoh bergaya Gedung Opera Sidney | Foto: Dok. Penulis

Baru bertahun-tahun kemudian saya mengetahui bahwa Situ Cipondoh dibangun pada sekitar tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai tempat penampungan air, irigasi sawah, sekaligus pengendali banjir.

Ironisnya, manusia sering hanya melihat fungsi. Padahal setiap tempat juga menyimpan jiwa. Danau bukan sekadar cekungan yang dipenuhi air. Ia adalah arsip yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan waktu. Setiap riaknya membawa cerita. Setiap embus anginnya menyimpan percakapan yang pernah singgah. Ia melihat generasi datang dan pergi, tetapi tidak pernah merasa perlu menceritakan semuanya.

Danau tidak pernah berbicara. Tetapi ia tidak pernah lupa. Kini kawasan Situ Cipondoh berubah menjadi ruang publik yang hidup. Orang datang untuk berolahraga, memancing, menikmati kuliner, atau menunggu matahari tenggelam. Sebagian menyebutnya “Sydney-nya Tangerang” karena bangunan beratap di tepi danau mengingatkan pada Opera House di Australia. Julukan itu tentu menarik, tetapi sesungguhnya Situ Cipondoh tidak memerlukan perbandingan dengan kota mana pun.

Ia telah memiliki keindahannya sendiri. Keindahan yang lahir bukan dari kemegahan arsitektur, melainkan dari kesetiaannya menemani waktu.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Situ Cipondoh justru mengajarkan cara melambat. Air tidak pernah tergesa-gesa mencapai hilir. Pohon tidak pernah memaksa daunnya segera gugur. Matahari pun selalu sabar menunggu saat yang tepat untuk tenggelam.

Jogging Track Situ Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Barangkali hanya manusia yang sering terburu-buru. Kita tergesa mengejar jabatan, mengejar harta, mengejar pengakuan, seakan-akan hidup adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi kenangan dalam ingatan orang lain, sebagaimana masa kecil yang tiba-tiba datang ketika saya berdiri di tepian Situ Cipondoh.

Saya kemudian teringat satu hal yang sering dilupakan manusia. Ingatan ternyata memiliki alamat. Ia tidak tinggal di kepala, melainkan bersembunyi di tempat-tempat yang pernah kita cintai.

Sebuah jalan kampung. Sebatang pohon. Suara burung pada pagi hari. Aroma sayur asem yang baru diangkat dari tungku. Atau sebuah danau yang pernah menjadi tujuan perjalanan sepeda anak-anak pada setiap akhir pekan.

Mungkin itulah sebabnya orang sering merasa damai ketika kembali ke tempat yang pernah dikenalnya. Bukan karena tempat itu masih sama, melainkan karena sebagian dari dirinya masih tertinggal di sana.

Saya pulang menjelang senja. Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari menari di permukaan air, seolah-olah sedang menulis puisi yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang mau berhenti sejenak.

Berpose di Situ Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Saya datang untuk makan siang. Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih mengenyangkan daripada sepiring ayam goreng atau ikan bakar. Saya pulang membawa kembali masa kecil.

Dan saya menyadari, perjalanan yang paling jauh ternyata bukan perjalanan dari rumah menuju Situ Cipondoh. Melainkan perjalanan dari usia kita hari ini menuju anak kecil yang masih diam-diam tinggal di dalam hati.

Sebab waktu memang terus berjalan. Namun tempat-tempat yang pernah kita cintai memiliki cara yang lembut untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang berlalu benar-benar hilang. Sebagian tetap tinggal. Menunggu kita pulang.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Rumah Makan Hj. KokomSitu CipondohTangerang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

Next Post

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co