10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
in Tualang
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Situ Cipondoh bergaya Gedung Opera Sidney | Foto: Dok. Penulis

“Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita.”

KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya sederhana. Makan siang bersama keluarga di sebuah rumah makan yang sudah lama menjadi bagian dari ingatan banyak orang Tangerang: Rumah Makan Hj. Kokom. Sepiring ayam goreng yang renyah, semangkuk sayur asem yang segar dengan aroma khas kampung, dan ikan bakar yang matang sempurna menjadi alasan perjalanan itu. Kadang-kadang, rasa mampu membawa manusia melakukan perjalanan yang jauh, bukan hanya melintasi ruang, tetapi juga waktu.

Sesudah makan siang, saya berjalan perlahan menuju tepian danau. Angin sore berembus pelan. Air bergelombang kecil, seolah sedang membaca doa-doa yang diam-diam diucapkan langit. Di kejauhan, beberapa anak tertawa menaiki perahu bebek. Para pemancing duduk tenang, seakan sedang berunding dengan kesabaran. Orang-orang berlari kecil di lintasan jogging, mengejar kesehatan, sementara matahari perlahan belajar menjadi senja.

Semuanya tampak biasa. Namun justru pada hal-hal yang biasa itulah kehidupan sering menyembunyikan keajaibannya.

Entah mengapa, langkah saya tiba-tiba terasa ringan, seolah-olah waktu berhenti berjalan. Danau itu tidak berubah banyak. Airnya masih memantulkan langit, anginnya masih membawa aroma yang sama. Yang berubah hanyalah orang yang berdiri di tepinya.

Dahulu, untuk sampai ke Situ Cipondoh, kami harus mengayuh sepeda dari kampung kami di Pabuaran Kilaut. Jaraknya kurang lebih delapan kilometer. Bagi anak-anak seusia kami, delapan kilometer bukanlah perjalanan yang pendek. Namun anehnya, tidak pernah terasa melelahkan. Barangkali karena yang kami kayuh bukan hanya roda sepeda, melainkan juga rasa ingin tahu yang sedang tumbuh bersama usia.

Menu RM. Hj. Kokom Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Kami berangkat pagi-pagi, sering kali setelah matahari mulai menghangatkan pematang sawah. Sepeda-sepeda kami sederhana, bahkan sebagian sudah berkali-kali ditambal bannya. Tidak ada yang mengeluh. Di sepanjang jalan kami saling bercanda, sesekali berlomba siapa yang lebih dahulu mencapai tikungan berikutnya. Delapan kilometer itu berubah menjadi ruang persahabatan yang tidak pernah kami hitung dengan satuan jarak, melainkan dengan gelak tawa.

Ketika akhirnya sampai di tepian Situ Cipondoh, segala rasa lelah seolah lenyap begitu saja. Hamparan air yang luas, angin yang berembus lembut, dan rindangnya pepohonan menjadi hadiah yang tidak pernah gagal membuat kami ingin kembali pada pekan berikutnya.

Kini, ketika saya berdiri kembali di tepi danau itu, usia tiba-tiba kehilangan maknanya. Yang hadir bukan lagi seorang profesor, bukan pula seorang dosen yang telah puluhan tahun mengajar di ruang-ruang kuliah. Yang berdiri di sana adalah anak kecil dari Pabuaran Kilaut yang pernah mengayuh sepeda sejauh delapan kilometer hanya untuk bertemu dengan sebuah danau.

Betapa sederhana kebahagiaan masa itu. Kami tidak memiliki telepon genggam untuk memotret setiap momen. Tidak ada media sosial tempat memamerkan perjalanan. Tidak ada istilah “healing”, “selfie”, atau “konten”. Kami hanya membawa sepeda, bekal seadanya, tawa yang tidak dibuat-buat, dan rasa ingin tahu yang begitu besar kepada dunia.

Kami datang bukan untuk mencari tempat yang indah. Kami datang karena dunia masih terasa luas. Kini saya memahami bahwa pada masa kecil itu kami sesungguhnya sedang belajar tentang kebebasan. Angin yang menerpa wajah ketika mengayuh sepeda ternyata sedang mengajarkan arti perjalanan. Jalan yang panjang ternyata sedang melatih ketekunan. Dan Situ Cipondoh diam-diam sedang mengajarkan bahwa air yang tenang pun memiliki pekerjaan besar: menyimpan kehidupan.

Situ Cipondoh bergaya Gedung Opera Sidney | Foto: Dok. Penulis

Baru bertahun-tahun kemudian saya mengetahui bahwa Situ Cipondoh dibangun pada sekitar tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai tempat penampungan air, irigasi sawah, sekaligus pengendali banjir.

Ironisnya, manusia sering hanya melihat fungsi. Padahal setiap tempat juga menyimpan jiwa. Danau bukan sekadar cekungan yang dipenuhi air. Ia adalah arsip yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan waktu. Setiap riaknya membawa cerita. Setiap embus anginnya menyimpan percakapan yang pernah singgah. Ia melihat generasi datang dan pergi, tetapi tidak pernah merasa perlu menceritakan semuanya.

Danau tidak pernah berbicara. Tetapi ia tidak pernah lupa. Kini kawasan Situ Cipondoh berubah menjadi ruang publik yang hidup. Orang datang untuk berolahraga, memancing, menikmati kuliner, atau menunggu matahari tenggelam. Sebagian menyebutnya “Sydney-nya Tangerang” karena bangunan beratap di tepi danau mengingatkan pada Opera House di Australia. Julukan itu tentu menarik, tetapi sesungguhnya Situ Cipondoh tidak memerlukan perbandingan dengan kota mana pun.

Ia telah memiliki keindahannya sendiri. Keindahan yang lahir bukan dari kemegahan arsitektur, melainkan dari kesetiaannya menemani waktu.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Situ Cipondoh justru mengajarkan cara melambat. Air tidak pernah tergesa-gesa mencapai hilir. Pohon tidak pernah memaksa daunnya segera gugur. Matahari pun selalu sabar menunggu saat yang tepat untuk tenggelam.

Jogging Track Situ Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Barangkali hanya manusia yang sering terburu-buru. Kita tergesa mengejar jabatan, mengejar harta, mengejar pengakuan, seakan-akan hidup adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi kenangan dalam ingatan orang lain, sebagaimana masa kecil yang tiba-tiba datang ketika saya berdiri di tepian Situ Cipondoh.

Saya kemudian teringat satu hal yang sering dilupakan manusia. Ingatan ternyata memiliki alamat. Ia tidak tinggal di kepala, melainkan bersembunyi di tempat-tempat yang pernah kita cintai.

Sebuah jalan kampung. Sebatang pohon. Suara burung pada pagi hari. Aroma sayur asem yang baru diangkat dari tungku. Atau sebuah danau yang pernah menjadi tujuan perjalanan sepeda anak-anak pada setiap akhir pekan.

Mungkin itulah sebabnya orang sering merasa damai ketika kembali ke tempat yang pernah dikenalnya. Bukan karena tempat itu masih sama, melainkan karena sebagian dari dirinya masih tertinggal di sana.

Saya pulang menjelang senja. Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari menari di permukaan air, seolah-olah sedang menulis puisi yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang mau berhenti sejenak.

Berpose di Situ Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Saya datang untuk makan siang. Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih mengenyangkan daripada sepiring ayam goreng atau ikan bakar. Saya pulang membawa kembali masa kecil.

Dan saya menyadari, perjalanan yang paling jauh ternyata bukan perjalanan dari rumah menuju Situ Cipondoh. Melainkan perjalanan dari usia kita hari ini menuju anak kecil yang masih diam-diam tinggal di dalam hati.

Sebab waktu memang terus berjalan. Namun tempat-tempat yang pernah kita cintai memiliki cara yang lembut untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang berlalu benar-benar hilang. Sebagian tetap tinggal. Menunggu kita pulang.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Rumah Makan Hj. KokomSitu CipondohTangerang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co