20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
in Tualang
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Situ Cipondoh bergaya Gedung Opera Sidney | Foto: Dok. Penulis

“Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita.”

KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya sederhana. Makan siang bersama keluarga di sebuah rumah makan yang sudah lama menjadi bagian dari ingatan banyak orang Tangerang: Rumah Makan Hj. Kokom. Sepiring ayam goreng yang renyah, semangkuk sayur asem yang segar dengan aroma khas kampung, dan ikan bakar yang matang sempurna menjadi alasan perjalanan itu. Kadang-kadang, rasa mampu membawa manusia melakukan perjalanan yang jauh, bukan hanya melintasi ruang, tetapi juga waktu.

Sesudah makan siang, saya berjalan perlahan menuju tepian danau. Angin sore berembus pelan. Air bergelombang kecil, seolah sedang membaca doa-doa yang diam-diam diucapkan langit. Di kejauhan, beberapa anak tertawa menaiki perahu bebek. Para pemancing duduk tenang, seakan sedang berunding dengan kesabaran. Orang-orang berlari kecil di lintasan jogging, mengejar kesehatan, sementara matahari perlahan belajar menjadi senja.

Semuanya tampak biasa. Namun justru pada hal-hal yang biasa itulah kehidupan sering menyembunyikan keajaibannya.

Entah mengapa, langkah saya tiba-tiba terasa ringan, seolah-olah waktu berhenti berjalan. Danau itu tidak berubah banyak. Airnya masih memantulkan langit, anginnya masih membawa aroma yang sama. Yang berubah hanyalah orang yang berdiri di tepinya.

Dahulu, untuk sampai ke Situ Cipondoh, kami harus mengayuh sepeda dari kampung kami di Pabuaran Kilaut. Jaraknya kurang lebih delapan kilometer. Bagi anak-anak seusia kami, delapan kilometer bukanlah perjalanan yang pendek. Namun anehnya, tidak pernah terasa melelahkan. Barangkali karena yang kami kayuh bukan hanya roda sepeda, melainkan juga rasa ingin tahu yang sedang tumbuh bersama usia.

Menu RM. Hj. Kokom Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Kami berangkat pagi-pagi, sering kali setelah matahari mulai menghangatkan pematang sawah. Sepeda-sepeda kami sederhana, bahkan sebagian sudah berkali-kali ditambal bannya. Tidak ada yang mengeluh. Di sepanjang jalan kami saling bercanda, sesekali berlomba siapa yang lebih dahulu mencapai tikungan berikutnya. Delapan kilometer itu berubah menjadi ruang persahabatan yang tidak pernah kami hitung dengan satuan jarak, melainkan dengan gelak tawa.

Ketika akhirnya sampai di tepian Situ Cipondoh, segala rasa lelah seolah lenyap begitu saja. Hamparan air yang luas, angin yang berembus lembut, dan rindangnya pepohonan menjadi hadiah yang tidak pernah gagal membuat kami ingin kembali pada pekan berikutnya.

Kini, ketika saya berdiri kembali di tepi danau itu, usia tiba-tiba kehilangan maknanya. Yang hadir bukan lagi seorang profesor, bukan pula seorang dosen yang telah puluhan tahun mengajar di ruang-ruang kuliah. Yang berdiri di sana adalah anak kecil dari Pabuaran Kilaut yang pernah mengayuh sepeda sejauh delapan kilometer hanya untuk bertemu dengan sebuah danau.

Betapa sederhana kebahagiaan masa itu. Kami tidak memiliki telepon genggam untuk memotret setiap momen. Tidak ada media sosial tempat memamerkan perjalanan. Tidak ada istilah “healing”, “selfie”, atau “konten”. Kami hanya membawa sepeda, bekal seadanya, tawa yang tidak dibuat-buat, dan rasa ingin tahu yang begitu besar kepada dunia.

Kami datang bukan untuk mencari tempat yang indah. Kami datang karena dunia masih terasa luas. Kini saya memahami bahwa pada masa kecil itu kami sesungguhnya sedang belajar tentang kebebasan. Angin yang menerpa wajah ketika mengayuh sepeda ternyata sedang mengajarkan arti perjalanan. Jalan yang panjang ternyata sedang melatih ketekunan. Dan Situ Cipondoh diam-diam sedang mengajarkan bahwa air yang tenang pun memiliki pekerjaan besar: menyimpan kehidupan.

Situ Cipondoh bergaya Gedung Opera Sidney | Foto: Dok. Penulis

Baru bertahun-tahun kemudian saya mengetahui bahwa Situ Cipondoh dibangun pada sekitar tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai tempat penampungan air, irigasi sawah, sekaligus pengendali banjir.

Ironisnya, manusia sering hanya melihat fungsi. Padahal setiap tempat juga menyimpan jiwa. Danau bukan sekadar cekungan yang dipenuhi air. Ia adalah arsip yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan waktu. Setiap riaknya membawa cerita. Setiap embus anginnya menyimpan percakapan yang pernah singgah. Ia melihat generasi datang dan pergi, tetapi tidak pernah merasa perlu menceritakan semuanya.

Danau tidak pernah berbicara. Tetapi ia tidak pernah lupa. Kini kawasan Situ Cipondoh berubah menjadi ruang publik yang hidup. Orang datang untuk berolahraga, memancing, menikmati kuliner, atau menunggu matahari tenggelam. Sebagian menyebutnya “Sydney-nya Tangerang” karena bangunan beratap di tepi danau mengingatkan pada Opera House di Australia. Julukan itu tentu menarik, tetapi sesungguhnya Situ Cipondoh tidak memerlukan perbandingan dengan kota mana pun.

Ia telah memiliki keindahannya sendiri. Keindahan yang lahir bukan dari kemegahan arsitektur, melainkan dari kesetiaannya menemani waktu.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Situ Cipondoh justru mengajarkan cara melambat. Air tidak pernah tergesa-gesa mencapai hilir. Pohon tidak pernah memaksa daunnya segera gugur. Matahari pun selalu sabar menunggu saat yang tepat untuk tenggelam.

Jogging Track Situ Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Barangkali hanya manusia yang sering terburu-buru. Kita tergesa mengejar jabatan, mengejar harta, mengejar pengakuan, seakan-akan hidup adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi kenangan dalam ingatan orang lain, sebagaimana masa kecil yang tiba-tiba datang ketika saya berdiri di tepian Situ Cipondoh.

Saya kemudian teringat satu hal yang sering dilupakan manusia. Ingatan ternyata memiliki alamat. Ia tidak tinggal di kepala, melainkan bersembunyi di tempat-tempat yang pernah kita cintai.

Sebuah jalan kampung. Sebatang pohon. Suara burung pada pagi hari. Aroma sayur asem yang baru diangkat dari tungku. Atau sebuah danau yang pernah menjadi tujuan perjalanan sepeda anak-anak pada setiap akhir pekan.

Mungkin itulah sebabnya orang sering merasa damai ketika kembali ke tempat yang pernah dikenalnya. Bukan karena tempat itu masih sama, melainkan karena sebagian dari dirinya masih tertinggal di sana.

Saya pulang menjelang senja. Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari menari di permukaan air, seolah-olah sedang menulis puisi yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang mau berhenti sejenak.

Berpose di Situ Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Saya datang untuk makan siang. Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih mengenyangkan daripada sepiring ayam goreng atau ikan bakar. Saya pulang membawa kembali masa kecil.

Dan saya menyadari, perjalanan yang paling jauh ternyata bukan perjalanan dari rumah menuju Situ Cipondoh. Melainkan perjalanan dari usia kita hari ini menuju anak kecil yang masih diam-diam tinggal di dalam hati.

Sebab waktu memang terus berjalan. Namun tempat-tempat yang pernah kita cintai memiliki cara yang lembut untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang berlalu benar-benar hilang. Sebagian tetap tinggal. Menunggu kita pulang.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Rumah Makan Hj. KokomSitu CipondohTangerang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

Next Post

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae
Pop

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
Ramai Penulis Menjadi Pelukis
Esai

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

by Angga Wijaya
September 19, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co