31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
in Tualang
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Situ Cipondoh bergaya Gedung Opera Sidney | Foto: Dok. Penulis

“Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita.”

KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya sederhana. Makan siang bersama keluarga di sebuah rumah makan yang sudah lama menjadi bagian dari ingatan banyak orang Tangerang: Rumah Makan Hj. Kokom. Sepiring ayam goreng yang renyah, semangkuk sayur asem yang segar dengan aroma khas kampung, dan ikan bakar yang matang sempurna menjadi alasan perjalanan itu. Kadang-kadang, rasa mampu membawa manusia melakukan perjalanan yang jauh, bukan hanya melintasi ruang, tetapi juga waktu.

Sesudah makan siang, saya berjalan perlahan menuju tepian danau. Angin sore berembus pelan. Air bergelombang kecil, seolah sedang membaca doa-doa yang diam-diam diucapkan langit. Di kejauhan, beberapa anak tertawa menaiki perahu bebek. Para pemancing duduk tenang, seakan sedang berunding dengan kesabaran. Orang-orang berlari kecil di lintasan jogging, mengejar kesehatan, sementara matahari perlahan belajar menjadi senja.

Semuanya tampak biasa. Namun justru pada hal-hal yang biasa itulah kehidupan sering menyembunyikan keajaibannya.

Entah mengapa, langkah saya tiba-tiba terasa ringan, seolah-olah waktu berhenti berjalan. Danau itu tidak berubah banyak. Airnya masih memantulkan langit, anginnya masih membawa aroma yang sama. Yang berubah hanyalah orang yang berdiri di tepinya.

Dahulu, untuk sampai ke Situ Cipondoh, kami harus mengayuh sepeda dari kampung kami di Pabuaran Kilaut. Jaraknya kurang lebih delapan kilometer. Bagi anak-anak seusia kami, delapan kilometer bukanlah perjalanan yang pendek. Namun anehnya, tidak pernah terasa melelahkan. Barangkali karena yang kami kayuh bukan hanya roda sepeda, melainkan juga rasa ingin tahu yang sedang tumbuh bersama usia.

Menu RM. Hj. Kokom Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Kami berangkat pagi-pagi, sering kali setelah matahari mulai menghangatkan pematang sawah. Sepeda-sepeda kami sederhana, bahkan sebagian sudah berkali-kali ditambal bannya. Tidak ada yang mengeluh. Di sepanjang jalan kami saling bercanda, sesekali berlomba siapa yang lebih dahulu mencapai tikungan berikutnya. Delapan kilometer itu berubah menjadi ruang persahabatan yang tidak pernah kami hitung dengan satuan jarak, melainkan dengan gelak tawa.

Ketika akhirnya sampai di tepian Situ Cipondoh, segala rasa lelah seolah lenyap begitu saja. Hamparan air yang luas, angin yang berembus lembut, dan rindangnya pepohonan menjadi hadiah yang tidak pernah gagal membuat kami ingin kembali pada pekan berikutnya.

Kini, ketika saya berdiri kembali di tepi danau itu, usia tiba-tiba kehilangan maknanya. Yang hadir bukan lagi seorang profesor, bukan pula seorang dosen yang telah puluhan tahun mengajar di ruang-ruang kuliah. Yang berdiri di sana adalah anak kecil dari Pabuaran Kilaut yang pernah mengayuh sepeda sejauh delapan kilometer hanya untuk bertemu dengan sebuah danau.

Betapa sederhana kebahagiaan masa itu. Kami tidak memiliki telepon genggam untuk memotret setiap momen. Tidak ada media sosial tempat memamerkan perjalanan. Tidak ada istilah “healing”, “selfie”, atau “konten”. Kami hanya membawa sepeda, bekal seadanya, tawa yang tidak dibuat-buat, dan rasa ingin tahu yang begitu besar kepada dunia.

Kami datang bukan untuk mencari tempat yang indah. Kami datang karena dunia masih terasa luas. Kini saya memahami bahwa pada masa kecil itu kami sesungguhnya sedang belajar tentang kebebasan. Angin yang menerpa wajah ketika mengayuh sepeda ternyata sedang mengajarkan arti perjalanan. Jalan yang panjang ternyata sedang melatih ketekunan. Dan Situ Cipondoh diam-diam sedang mengajarkan bahwa air yang tenang pun memiliki pekerjaan besar: menyimpan kehidupan.

Situ Cipondoh bergaya Gedung Opera Sidney | Foto: Dok. Penulis

Baru bertahun-tahun kemudian saya mengetahui bahwa Situ Cipondoh dibangun pada sekitar tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai tempat penampungan air, irigasi sawah, sekaligus pengendali banjir.

Ironisnya, manusia sering hanya melihat fungsi. Padahal setiap tempat juga menyimpan jiwa. Danau bukan sekadar cekungan yang dipenuhi air. Ia adalah arsip yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan waktu. Setiap riaknya membawa cerita. Setiap embus anginnya menyimpan percakapan yang pernah singgah. Ia melihat generasi datang dan pergi, tetapi tidak pernah merasa perlu menceritakan semuanya.

Danau tidak pernah berbicara. Tetapi ia tidak pernah lupa. Kini kawasan Situ Cipondoh berubah menjadi ruang publik yang hidup. Orang datang untuk berolahraga, memancing, menikmati kuliner, atau menunggu matahari tenggelam. Sebagian menyebutnya “Sydney-nya Tangerang” karena bangunan beratap di tepi danau mengingatkan pada Opera House di Australia. Julukan itu tentu menarik, tetapi sesungguhnya Situ Cipondoh tidak memerlukan perbandingan dengan kota mana pun.

Ia telah memiliki keindahannya sendiri. Keindahan yang lahir bukan dari kemegahan arsitektur, melainkan dari kesetiaannya menemani waktu.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Situ Cipondoh justru mengajarkan cara melambat. Air tidak pernah tergesa-gesa mencapai hilir. Pohon tidak pernah memaksa daunnya segera gugur. Matahari pun selalu sabar menunggu saat yang tepat untuk tenggelam.

Jogging Track Situ Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Barangkali hanya manusia yang sering terburu-buru. Kita tergesa mengejar jabatan, mengejar harta, mengejar pengakuan, seakan-akan hidup adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi kenangan dalam ingatan orang lain, sebagaimana masa kecil yang tiba-tiba datang ketika saya berdiri di tepian Situ Cipondoh.

Saya kemudian teringat satu hal yang sering dilupakan manusia. Ingatan ternyata memiliki alamat. Ia tidak tinggal di kepala, melainkan bersembunyi di tempat-tempat yang pernah kita cintai.

Sebuah jalan kampung. Sebatang pohon. Suara burung pada pagi hari. Aroma sayur asem yang baru diangkat dari tungku. Atau sebuah danau yang pernah menjadi tujuan perjalanan sepeda anak-anak pada setiap akhir pekan.

Mungkin itulah sebabnya orang sering merasa damai ketika kembali ke tempat yang pernah dikenalnya. Bukan karena tempat itu masih sama, melainkan karena sebagian dari dirinya masih tertinggal di sana.

Saya pulang menjelang senja. Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari menari di permukaan air, seolah-olah sedang menulis puisi yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang mau berhenti sejenak.

Berpose di Situ Cipondoh | Foto: Dok. Penulis

Saya datang untuk makan siang. Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih mengenyangkan daripada sepiring ayam goreng atau ikan bakar. Saya pulang membawa kembali masa kecil.

Dan saya menyadari, perjalanan yang paling jauh ternyata bukan perjalanan dari rumah menuju Situ Cipondoh. Melainkan perjalanan dari usia kita hari ini menuju anak kecil yang masih diam-diam tinggal di dalam hati.

Sebab waktu memang terus berjalan. Namun tempat-tempat yang pernah kita cintai memiliki cara yang lembut untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang berlalu benar-benar hilang. Sebagian tetap tinggal. Menunggu kita pulang.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Rumah Makan Hj. KokomSitu CipondohTangerang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

Next Post

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
0
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

Read moreDetails

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
0
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co