15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu.

ADA sesuatu yang menarik setiap kali kita melihat seseorang bertato. Mata kita segera tertuju pada gambar yang menempel di kulit: burung, bunga, naga, wajah seseorang, tulisan, tanggal, atau garis-garis geometris. Kita lalu membuat penilaian. Tato itu indah, keren, aneh, berlebihan. Dalam pandangan yang masih hidup di sebagian masyarakat, tato bahkan identik dengan kenakalan atau pemberontakan.

Tetapi barangkali kita terlalu cepat menilai. Sebab sebuah tato mungkin bukan sekadar gambar. Ia bisa menjadi nama seseorang yang pernah dicintai, tanggal kelahiran atau kematian, simbol perjalanan hidup, pengingat luka, tanda keberhasilan melewati masa sulit, atau sekadar pilihan estetis. Dengan kata lain, tato mungkin bukan terutama tentang apa yang kita lihat, melainkan tentang apa yang dialami oleh orang yang memilikinya.

Di situlah tato menjadi menarik secara fenomenologis. Fenomenologi mengajak kita menunda penilaian dan kembali kepada pengalaman sebagaimana dialami manusia. Pertanyaannya bukan lagi sekadar mengapa orang mau merajah tubuhnya, melainkan: apa arti tubuh bagi seseorang sehingga ia merasa perlu menuliskan sesuatu di atasnya? Dan mungkin pertanyaan yang lebih dalam: mengapa manusia rela menahan sakit untuk membuat sesuatu yang fana menjadi tanda yang bertahan lama?

Tubuh yang Ditulisi

Tato memiliki sejarah jauh lebih panjang daripada yang sering kita bayangkan. Pada tubuh Ötzi, manusia yang hidup sekitar 5.300 tahun lalu dan ditemukan membeku di Pegunungan Alpen, ditemukan 61 tanda tato. Sebagian berada di dekat bagian tubuh yang menunjukkan degenerasi sendi dan tulang belakang. Karena itu, tato Ötzi pernah ditafsirkan mungkin berkaitan dengan fungsi terapeutik, meskipun makna pastinya tidak dapat dipastikan.

Yang jelas, jauh sebelum menjadi mode, tubuh manusia telah digunakan sebagai tempat menyimpan tanda. Di berbagai masyarakat, tato berfungsi sebagai penanda identitas kelompok, status sosial, ritual kedewasaan, keberanian, spiritualitas, peristiwa hidup, bahkan perlindungan. Dalam tradisi Polinesia, tato berkembang menjadi sistem visual yang kompleks dan kemudian dikenal luas di Eropa melalui perjalanan James Cook ke Tahiti pada abad ke-18. Istilah tattoo dalam bahasa Inggris umumnya dikaitkan dengan kata Polinesia seperti tatau atau tattau.

Di Jepang tato berkembang dalam tradisi visualnya sendiri. Di Nusantara pun praktik merajah tubuh bukan hal baru. Pada sejumlah masyarakat adat, tato berkaitan dengan identitas, nilai sosial, pengalaman hidup, dan dimensi sakral. Kajian mengenai Dayak Salako, misalnya, menunjukkan bahwa motif tato menyimpan nilai dan makna dalam kehidupan masyarakat. Kajian mengenai Dayak Ngaju juga memperlihatkan fungsi tato sebagai ekspresi emosional, sosial, simbolik, penanda status, sekaligus bagian dari pengalaman sakral.

Dengan demikian, manusia telah lama menjadikan tubuh sebagai arsip kehidupan. Yang berubah pada masyarakat modern adalah konteksnya: tato bergerak dari ruang ritual dan komunal menuju ruang yang semakin personal dan individual.

Dari Ritual ke Identias

Di dunia modern, seseorang dapat memilih sendiri gambar, ukuran, warna, lokasi, bahkan waktu untuk membuat tato. Tubuh menjadi wilayah keputusan personal. Pada titik ini tato dapat dibaca sebagai pernyataan sederhana: “Tubuh ini adalah milikku.”

Ada dimensi kebebasan di sana. Tubuh yang selama ini diatur oleh norma keluarga, agama, lingkungan sosial, profesi, dan standar kecantikan menjadi ruang yang dapat ditafsirkan serta dibentuk oleh pemiliknya sendiri. Tato dapat menjadi tindakan agency: cara seseorang menyatakan sesuatu tentang dirinya melalui tubuh.

Penelitian psikologis menunjukkan bahwa motivasi memiliki tato sangat beragam. Pada sebagian orang, body art membantu ekspresi diri, rasa unik, dan pengalaman menjadi diri sendiri. Penelitian lain menemukan bahwa setelah tato pertama, sebagian peserta mengalami peningkatan apresiasi terhadap tubuh dan self-esteem. Namun temuan semacam ini harus dibaca hati-hati. Tato tidak otomatis membuat seseorang lebih percaya diri, sebagaimana orang bertato tidak otomatis memiliki persoalan psikologis.

Studi terhadap ratusan orang juga menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam kepuasan hidup, self-esteem, dan penilaian kesehatan mental antara mereka yang memiliki modifikasi tubuh dan mereka yang tidak. Karena itu, tato seharusnya tidak dipakai sebagai alat diagnosis moral.

Orang bertato tidak otomatis pemberontak. Orang bertato tidak otomatis sedang mengalami krisis. Orang yang tidak bertato pun tidak otomatis lebih matang atau lebih baik. Makna tato harus dikembalikan kepada manusia yang menjalaninya.

Tubuh Bukan Sekadar Kulit

Di sinilah pemikiran Maurice Merleau-Ponty menjadi relevan. Dalam fenomenologi persepsi, tubuh bukan sekadar objek biologis yang kita miliki. Tubuh adalah cara kita hadir di dunia. Kita bukan hanya mempunyai tubuh; dalam arti tertentu, kita adalah tubuh itu.

Tangan, misalnya, secara biologis terdiri atas tulang, otot, saraf, dan kulit. Tetapi tangan yang sama dapat menjadi tangan seorang ibu yang menggenggam anaknya, tangan seorang pekerja, musisi, atau kekasih. Tubuh bukan hanya objek. Tubuh menyimpan pengalaman.

Karena itu, ketika seseorang menato tubuhnya, ia tidak sekadar menambahkan gambar pada benda biologis. Ia menambahkan sesuatu pada tubuh yang dialaminya. Inilah yang membuat tato berbeda dari lukisan di dinding.

Lukisan dapat dipindahkan. Tato ikut bergerak bersama kita. Ia ikut mandi, tidur, menua, berkeriput, menyaksikan perubahan usia, pekerjaan, cinta, kehilangan, dan seluruh perjalanan hidup pemiliknya. Tato menjadi semacam biografi yang ditulis pada tubuh.

Sebuah Tanda, Sebuah Cerita

Jika fenomenologi membantu memahami pengalaman tubuh, semiotika membantu membaca bagaimana tato bekerja sebagai tanda. Sebuah tato tidak pernah hanya berarti gambar itu sendiri. Burung secara denotatif adalah burung, tetapi secara konotatif dapat berarti kebebasan. Jangkar bisa berarti laut, tetapi juga rumah, keteguhan, atau seseorang yang menjadi tempat kembali. Tanggal bisa terlihat sebagai angka biasa, sementara bagi pemiliknya mungkin merupakan tanggal pernikahan, kelahiran, kematian, atau sebuah titik balik kehidupan.

Dalam perspektif Roland Barthes, tanda tidak berhenti pada makna denotatif. Ia dapat memasuki lapisan konotasi dan menjadi bagian dari sistem makna yang lebih luas. Tato menarik karena hidup dalam dua dunia sekaligus: makna privat dan makna publik. Orang lain hanya menangkap tanda. Pemiliknya menyimpan cerita.

Dalam kerangka Charles Sanders Peirce, tato bahkan dapat bekerja sekaligus sebagai ikon, indeks, dan simbol. Ia menjadi ikon ketika menyerupai sesuatu; indeks ketika menunjuk pada peristiwa atau hubungan tertentu; dan simbol ketika maknanya dibentuk oleh kesepakatan budaya.

Namun tato tidak hanya menyampaikan identitas. Ia juga dapat ikut menciptakan identitas. Ketika seseorang berkata, “Ini bagian dari diriku,” tato telah masuk ke dalam cara ia memahami dirinya.

Karena itu, motif budaya tidak selalu bisa diperlakukan sebagai sekadar “gambar bagus”. Di baliknya mungkin terdapat sejarah, identitas, otoritas, dan ingatan sebuah komunitas. Ada kemungkinan sejarah ikut tergores bersama tinta.

Mengapa Harus Permanen?

Barangkali pertanyaan paling menarik tentang tato bukan mengapa seseorang memilih gambar tertentu, melainkan: mengapa harus permanen? Di zaman ketika hampir semua hal dapat diedit, dihapus, diganti, dan diperbarui, tato melakukan hal sebaliknya. Ia seolah berkata: ini tidak akan saya hapus.

Manusia hidup dalam waktu. Wajah berubah, relasi berubah, pekerjaan berubah, pandangan hidup berubah. Orang yang hari ini kita pikir akan selalu bersama kita pun suatu hari dapat pergi. Tetapi ingatan tidak selalu ingin mengikuti perubahan itu.

Maka manusia menciptakan tanda: foto, surat, cincin, batu nisan, monumen, dan mungkin tato. Tato adalah monumen yang paling dekat dengan diri sendiri. Ia tidak berdiri di tanah. Ia berjalan bersama pemiliknya. Karena itu, tato dapat dipahami sebagai perlawanan kecil terhadap lupa: usaha agar sesuatu yang pernah berarti tidak hilang tanpa jejak.

Survei Pew Research Center terhadap 8.480 orang dewasa Amerika pada 2023 menemukan bahwa 32 persen responden memiliki tato. Di antara mereka yang bertato, 69 persen menyebut mengenang atau menghormati seseorang atau sesuatu sebagai salah satu alasan memiliki tato, sementara 47 persen menyebut keinginan menyampaikan sesuatu tentang apa yang mereka yakini.

Angka itu menarik karena memperlihatkan bahwa tato tidak selalu lahir dari dorongan untuk tampil. Banyak tato justru lahir dari dorongan untuk mengingat. Ada perbedaan besar antara keduanya. Tampil membutuhkan mata orang lain. Mengingat tidak selalu membutuhkannya.

Luka yang Diubah Menjadi Makna

Psikologi memberi lapisan pembacaan lain. Sebagian orang menato tubuh setelah melewati pengalaman besar: kehilangan, perceraian, penyakit, kecelakaan, perubahan hidup, atau masa yang ingin mereka tandai.

Penelitian mengenai praktisi modifikasi tubuh menemukan bahwa sebagian peserta mengaitkan modifikasi tubuh dengan peristiwa biografis yang menentukan. Ini tentu tidak berarti semua tato merupakan respons terhadap trauma. Tetapi ia membantu kita memahami bahwa tubuh dapat menjadi tempat manusia mengolah pengalaman.

Sesuatu yang semula hanya berada dalam ingatan kemudian diberi bentuk. Yang abstrak menjadi konkret. Yang tidak terlihat menjadi terlihat. Yang sulit diceritakan menjadi gambar.

Dalam perspektif psikologis, tindakan tersebut dapat dibaca sebagai meaning-making: usaha manusia memberi struktur dan makna terhadap pengalaman hidup. Tato mungkin berkata, “Aku pernah mengalami ini.” Tetapi kadang-kadang ia juga berkata, “Aku berhasil melewati ini.”

Karena itu, beberapa tato terasa seperti luka yang berubah menjadi karya seni. Bukan karena lukanya hilang, melainkan karena luka itu kini memiliki narasi. Namun maknanya tetap tidak tunggal. Bagi seseorang tato adalah ekspresi emosi; bagi yang lain ia merupakan bentuk self-creation. Tato adalah pintu, dan di balik pintu itu terdapat manusia dengan pengalaman yang berbeda-beda.

Ketika Tato Menjadi Komoditas

Ada paradoks lain yang perlu diperhatikan. Tato yang dahulu merupakan tanda identitas kelompok, spiritualitas, keberanian, ritual, atau peristiwa hidup kini juga menjadi bagian dari industri gaya hidup. Ia hadir di media sosial, fashion, citra tubuh, dan katalog desain.

Pada titik tertentu, sesuatu yang sangat personal dapat berubah menjadi komoditas.Kita pun perlu bertanya: apakah kita benar-benar menggunakan tubuh untuk menyatakan diri, atau tubuh kita sedang digunakan industri untuk menjual gagasan tentang bagaimana seharusnya seseorang tampil?

Masyarakat modern memiliki paradoks: kita merasa semakin bebas menentukan identitas, tetapi pada saat yang sama semakin banyak identitas ditawarkan untuk kita konsumsi. Pilihan tato mungkin dibentuk oleh influencer, selebritas, komunitas, tren desain, atau estetika populer. Kebebasan dan konstruksi sosial akhirnya bertemu di permukaan kulit.

Tato bisa menjadi bentuk pemberontakan, tetapi bisa pula menjadi konformitas baru. Ia dapat berkata, “Aku berbeda.” Namun ketika jutaan orang menggunakan simbol yang sama untuk mengatakan “Aku berbeda”, bukankah perbedaan itu mulai menjadi seragam? Di sinilah semiotika menjadi kritis. Sebuah tanda tidak pernah hidup sendirian. Ia hidup dalam jaringan budaya, pasar, dan tatapan orang lain yang menafsirkannya.

Tato dan Tubuh yang Menjadi Tua

Ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan tentang tato: waktu. Hari ini seseorang mungkin melihat tubuhnya sebagai kanvas. Tetapi kanvas itu akan berubah. Kulit menua, garis melonggar, warna memudar. Tubuh sepuluh, dua puluh, atau empat puluh tahun mendatang tidak akan sama dengan tubuh hari ini. Tato pun ikut berubah bersamanya.

Di situlah tato menjadi sangat fenomenologis. Ia mengingatkan bahwa tubuh bukan benda mati. Tubuh adalah proses. Kita hidup dalam tubuh yang terus berubah, sementara tanda yang kita letakkan di atasnya berusaha bertahan.

Ada ironi yang indah: manusia ingin mengabadikan sesuatu pada tubuh yang justru tidak pernah abadi. Tato menjadi pertemuan antara keabadian yang kita inginkan dan kefanaan yang tidak dapat kita hindari. Dan pada akhirnya, tinta pun akan menua bersama kita.

Tubuh sebagai Arsip Kehidupan

Jika kembali kepada Merleau-Ponty, tubuh adalah cara kita hadir, bergerak, mengalami, dan berhubungan dengan dunia. Ia selalu berada dalam hubungan dengan ruang, orang lain, masa lalu, dan kemungkinan masa depan.

Maka tato dapat dipahami sebagai sedimentasi pengalaman: sesuatu yang pernah terjadi lalu menetap pada tubuh. Ia menjadi arsip yang tidak disimpan dalam lemari, tetapi dibawa ke mana-mana.

Barangkali itulah mengapa tato menarik sebagai fenomena budaya. Ia memperlihatkan bagaimana manusia menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat tua: siapakah aku? Sebagian menjawabnya melalui pekerjaan, keluarga, agama, pakaian, atau komunitas. Sebagian lainnya melalui gambar yang mereka pilih untuk tinggal di kulit.

Karena itu, ketika melihat seseorang bertato, mungkin kita tidak perlu segera bertanya, “Kenapa kamu melakukan itu?” Pertanyaan yang lebih manusiawi adalah: “Cerita apa yang ada di baliknya?”

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang kita lihat. Seekor burung mungkin bukan burung. Sebuah nama mungkin bukan sekadar nama. Sebuah tanggal mungkin bukan angka. Sebuah garis mungkin bukan garis. Sebuah tato yang bagi kita tampak sederhana mungkin merupakan seluruh hidup seseorang yang diringkas menjadi beberapa sentimeter kulit.

Pada akhirnya, tato barangkali adalah salah satu cara manusia berbicara ketika kata-kata tidak lagi cukup. Ia berbicara tentang siapa kita, dari mana kita datang, siapa yang pernah kita cintai, luka yang pernah kita tanggung, keyakinan yang ingin kita pegang, dan kebebasan yang ingin kita miliki.

Dan mungkin juga tentang sesuatu yang paling manusiawi: ketakutan bahwa apa yang pernah begitu berarti bagi kita suatu hari akan dilupakan. Maka manusia menuliskannya. Bukan di kertas. Bukan di batu. Melainkan di kulitnya sendiri.

Dan mungkin itulah alasan paling dalam mengapa tato tidak pernah sekadar gambar. Ia adalah ingatan yang memilih untuk tinggal di tubuh. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupTato
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Next Post

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co