9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Isran Kamal by Isran Kamal
September 18, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri, melainkan karena sebuah video mengenai mindfulness dan bagaimana seseorang menghadapi derasnya berita buruk.

Secara sederhana, pesan yang disampaikan Maudy sebenarnya cukup familiar dalam psikologi bahwa kita tidak harus terus-menerus mengonsumsi informasi negatif. Membatasi paparan berita, mengambil jeda dari media sosial, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk melakukan aktivitas lain dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan psikologis.

Namun, pesan tersebut justru mendapat kritik. Sebagian orang menganggapnya tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Bagi mereka, berita buruk bukan sekadar sesuatu yang dapat ditutup dengan menekan tombol mute. Berita tersebut adalah kehidupan sehari-hari.

Di sinilah kasus Maudy menjadi menarik. Persoalannya ternyata bukan hanya mengenai mindfulness. Maudy membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar mengenai privilege, empati, moral judgment, bahkan statusnya sebagai penerima beasiswa LPDP.

Ketika ”Mindfulness” Disalahpahami sebagai Ketidakpedulian

Mindfulness sering kali dipahami secara terlalu sederhana sebagai “menenangkan diri” atau “berpikir positif”. Padahal, secara psikologis, mindfulness lebih berkaitan dengan kemampuan untuk memberikan perhatian secara sadar terhadap pengalaman saat ini tanpa secara otomatis terseret oleh pikiran dan emosi yang muncul.

Dalam konteks konsumsi berita, seseorang memang dapat mengalami information overload ketika terus-menerus terpapar informasi negatif. Media sosial bahkan memungkinkan seseorang menyaksikan berbagai tragedi yang terjadi di belahan dunia lain hanya dalam hitungan menit.

Mengetahui lebih banyak tidak selalu berarti menjadi lebih mampu bertindak. Pada titik tertentu, paparan informasi yang berlebihan justru dapat membuat seseorang merasa kewalahan, cemas, marah, atau tidak berdaya. Karena itu, mengambil jarak dari berita buruk tidak otomatis berarti tidak peduli.

Kita dapat peduli terhadap suatu persoalan tanpa harus mengonsumsi seluruh informasi tentang persoalan tersebut setiap saat. Bahkan, kemampuan untuk mengatur paparan informasi dapat membantu seseorang tetap berfungsi sehingga dirinya masih memiliki energi untuk bekerja, belajar, membantu orang lain, atau mengambil tindakan nyata.

Tetapi di sinilah terdapat persoalan penting bahwa strategi regulasi diri seseorang tidak selalu dapat digeneralisasikan kepada semua orang. Bagi sebagian orang, berita mengenai kenaikan harga, PHK, bencana alam, atau kebijakan pemerintah mungkin merupakan informasi yang dapat mereka baca lalu tinggalkan. Bagi orang lain, hal-hal tersebut merupakan bagian langsung dari kehidupan mereka.

Berita itu bukan sekadar news. Berita itu adalah realitas. Ketika privilege mengubah cara sebuah pesan terdengar Di sinilah kritik terhadap Maudy menjadi lebih mudah dipahami.

Kalimat seperti “kita bisa mengambil jeda dari berita buruk” mungkin terdengar sebagai nasihat kesehatan mental yang masuk akal bagi seseorang yang memiliki cukup kontrol atas kehidupannya. Namun, kalimat yang sama dapat terdengar sangat berbeda bagi seseorang yang kehidupan ekonominya, pekerjaannya, keluarganya, atau lingkungannya terdampak langsung oleh persoalan yang sedang diberitakan.

Kemampuan untuk mengambil jarak dari suatu masalah pada dasarnya juga merupakan bentuk sumber daya. Seseorang yang memiliki keamanan finansial, akses pendidikan, pekerjaan yang relatif stabil, dan lingkungan sosial yang mendukung mungkin mempunyai lebih banyak ruang untuk berkata, “Saya perlu berhenti mengikuti berita untuk sementara.” Tidak semua orang mempunyai kemewahan tersebut.

Karena itu, menyebut persoalan ini semata-mata sebagai “netizen terlalu sensitif” juga terlalu sederhana. Kritik terhadap pesan Maudy dapat dipahami sebagai pengingat bahwa pengalaman pribadi tidak selalu mewakili pengalaman masyarakat secara keseluruhan.

Namun demikian, kritik terhadap sebuah pesan juga tidak harus berubah menjadi penghakiman terhadap keseluruhan pribadi seseorang. Kita sering kali terlalu cepat berpindah dari “pernyataan ini kurang sensitif” menjadi “orang ini tidak punya empati”. Padahal keduanya adalah klaim yang berbeda.

Satu pernyataan yang memiliki blind spot tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seseorang tidak memiliki kepedulian. Menariknya, Maudy kemudian mengakui adanya perspektif yang belum cukup dirinya pertimbangkan dan memberikan klarifikasi mengenai hal tersebut. Kemampuan untuk menerima informasi baru dan memperbarui cara pandang justru merupakan bagian penting dari proses refleksi psikologis.

Dari ”Mindfulness” ke LPDP

Tetapi drama ini kemudian bergerak lebih jauh. Status Maudy sebagai penerima LPDP ikut menjadi bahan perdebatan.

Pertanyaannya kurang lebih menjadi: apakah seseorang yang secara ekonomi mampu membiayai pendidikannya sendiri pantas menerima beasiswa yang berasal dari dana negara, sementara masih banyak masyarakat lain yang kesulitan memperoleh pendidikan berkualitas?

Menurut saya, pertanyaan tersebut perlu dipisahkan menjadi dua hal yakni hak dan kepantasan. Secara umum, LPDP bukanlah program yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin. Warga Negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dan lolos seleksi dapat mengikuti program tersebut. Pada saat yang sama, LPDP juga memiliki skema afirmasi yang memberikan kesempatan lebih besar kepada kelompok-kelompok tertentu yang membutuhkan dukungan akses.

Dengan demikian, anggapan bahwa LPDP merupakan “beasiswa khusus orang miskin” tidak sepenuhnya menggambarkan desain programnya. Namun, pertanyaan mengenai kepantasan tetap merupakan diskusi etis yang sah. Kita memang dapat bertanya apakah seseorang yang mempunyai kemampuan finansial sangat besar sebaiknya menggunakan sumber daya beasiswa negara.

Hanya saja, dalam kasus Maudy, hanya Maudy sendiri yang dapat menjelaskan alasan personal mengapa dia memilih LPDP. Kita tidak seharusnya mengisi kekosongan tersebut dengan asumsi.

Secara umum, orang yang mampu secara finansial pun dapat memiliki berbagai alasan untuk memilih beasiswa. Bisa karena ingin belajar di institusi atau program tertentu, memperluas jejaring akademik, berkontribusi melalui ekosistem pendidikan negara, atau bahkan ingin membuktikan bahwa kesempatan tersebut diperoleh karena kompetensi, bukan semata-mata karena kemampuan finansial.

Dan ada satu hal yang penting bahwa kemampuan ekonomi dan kompetensi adalah dua hal yang berbeda. Orang kaya bisa kompeten. Orang miskin bisa kompeten. Orang terkenal bisa kompeten. Orang yang tidak dikenal publik juga bisa kompeten.

Sistem beasiswa berbasis seleksi pada akhirnya perlu menilai kandidat berdasarkan kriteria yang memang ditetapkan, bukan berdasarkan seberapa “layak secara visual” seseorang terlihat menerima bantuan di mata publik.

Jangan Sampai Maudy Membuat Kita Salah Memahami LPDP

Sebagai seseorang yang juga berada dalam proses sebagai awardee LPDP, saya melihat persoalan ini menarik karena muncul kecenderungan untuk menganggap bahwa menerima beasiswa negara berarti seseorang harus selalu menjadi representasi masyarakat.

Padahal kontribusi kepada negara tidak memiliki satu bentuk saja. Ada orang yang berkontribusi melalui penelitian. Ada yang mengajar. Ada yang bekerja di sektor kesehatan, teknologi, pemerintahan, industri, pendidikan, maupun berbagai bidang lainnya. Tidak semuanya harus menjadi aktivis, komentator politik, atau figur publik.

Pertanyaan yang lebih relevan terhadap seorang penerima beasiswa mungkin bukan “seberapa sering dirinya berbicara mengenai masalah rakyat?”, melainkan apa yang dia lakukan dengan kesempatan pendidikan yang diberikan kepadanya. Beasiswa pada dasarnya adalah investasi.

Negara memberikan kesempatan, dan penerima diharapkan mengubah kesempatan tersebut menjadi pengetahuan, karya, inovasi, pelayanan, atau kontribusi lain yang bermanfaat bagi Indonesia.

Karena itu, mengkritik penggunaan dana publik tentu merupakan hal yang sah. Tetapi kritik tersebut sebaiknya diarahkan pada mekanisme seleksi, desain program, distribusi kesempatan, dan akuntabilitas, bukan otomatis pada asumsi bahwa orang yang terlihat kaya atau terkenal tidak layak memperoleh beasiswa.

Mungkin Kita Memang Perlu Sedikit Lebih Mindful

Pada akhirnya, kasus Maudy mungkin bukan sekadar tentang apakah seseorang boleh mengambil jeda dari berita buruk. Kasus ini mengingatkan kita bahwa mindfulness tidak berarti menutup mata terhadap dunia. Tetapi mindfulness juga mengajarkan kita untuk menyadari bagaimana pengalaman kita sendiri dapat berbeda dari pengalaman orang lain.

Kita bisa mengakui bahwa seseorang memiliki privilege tanpa menganggap seluruh perkataannya otomatis tidak valid. Kita juga bisa mengkritik sebuah pernyataan tanpa harus menghakimi keseluruhan karakter pembicaranya.

Begitu pula dengan LPDP. Kita dapat mempertanyakan kepantasan penggunaan sumber daya publik tanpa menyederhanakannya menjadi anggapan bahwa beasiswa negara hanya boleh diterima oleh orang miskin.

Mungkin justru di tengah derasnya informasi, kemarahan, dan penghakiman di media sosial, kita membutuhkan sedikit lebih banyak mindfulness, bukan hanya dalam menghadapi berita buruk, tetapi juga dalam cara kita menilai orang lain.

Tags: mindfullnessPendidikanPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

Next Post

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co