30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Isran Kamal by Isran Kamal
September 18, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri, melainkan karena sebuah video mengenai mindfulness dan bagaimana seseorang menghadapi derasnya berita buruk.

Secara sederhana, pesan yang disampaikan Maudy sebenarnya cukup familiar dalam psikologi bahwa kita tidak harus terus-menerus mengonsumsi informasi negatif. Membatasi paparan berita, mengambil jeda dari media sosial, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk melakukan aktivitas lain dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan psikologis.

Namun, pesan tersebut justru mendapat kritik. Sebagian orang menganggapnya tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Bagi mereka, berita buruk bukan sekadar sesuatu yang dapat ditutup dengan menekan tombol mute. Berita tersebut adalah kehidupan sehari-hari.

Di sinilah kasus Maudy menjadi menarik. Persoalannya ternyata bukan hanya mengenai mindfulness. Maudy membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar mengenai privilege, empati, moral judgment, bahkan statusnya sebagai penerima beasiswa LPDP.

Ketika ”Mindfulness” Disalahpahami sebagai Ketidakpedulian

Mindfulness sering kali dipahami secara terlalu sederhana sebagai “menenangkan diri” atau “berpikir positif”. Padahal, secara psikologis, mindfulness lebih berkaitan dengan kemampuan untuk memberikan perhatian secara sadar terhadap pengalaman saat ini tanpa secara otomatis terseret oleh pikiran dan emosi yang muncul.

Dalam konteks konsumsi berita, seseorang memang dapat mengalami information overload ketika terus-menerus terpapar informasi negatif. Media sosial bahkan memungkinkan seseorang menyaksikan berbagai tragedi yang terjadi di belahan dunia lain hanya dalam hitungan menit.

Mengetahui lebih banyak tidak selalu berarti menjadi lebih mampu bertindak. Pada titik tertentu, paparan informasi yang berlebihan justru dapat membuat seseorang merasa kewalahan, cemas, marah, atau tidak berdaya. Karena itu, mengambil jarak dari berita buruk tidak otomatis berarti tidak peduli.

Kita dapat peduli terhadap suatu persoalan tanpa harus mengonsumsi seluruh informasi tentang persoalan tersebut setiap saat. Bahkan, kemampuan untuk mengatur paparan informasi dapat membantu seseorang tetap berfungsi sehingga dirinya masih memiliki energi untuk bekerja, belajar, membantu orang lain, atau mengambil tindakan nyata.

Tetapi di sinilah terdapat persoalan penting bahwa strategi regulasi diri seseorang tidak selalu dapat digeneralisasikan kepada semua orang. Bagi sebagian orang, berita mengenai kenaikan harga, PHK, bencana alam, atau kebijakan pemerintah mungkin merupakan informasi yang dapat mereka baca lalu tinggalkan. Bagi orang lain, hal-hal tersebut merupakan bagian langsung dari kehidupan mereka.

Berita itu bukan sekadar news. Berita itu adalah realitas. Ketika privilege mengubah cara sebuah pesan terdengar Di sinilah kritik terhadap Maudy menjadi lebih mudah dipahami.

Kalimat seperti “kita bisa mengambil jeda dari berita buruk” mungkin terdengar sebagai nasihat kesehatan mental yang masuk akal bagi seseorang yang memiliki cukup kontrol atas kehidupannya. Namun, kalimat yang sama dapat terdengar sangat berbeda bagi seseorang yang kehidupan ekonominya, pekerjaannya, keluarganya, atau lingkungannya terdampak langsung oleh persoalan yang sedang diberitakan.

Kemampuan untuk mengambil jarak dari suatu masalah pada dasarnya juga merupakan bentuk sumber daya. Seseorang yang memiliki keamanan finansial, akses pendidikan, pekerjaan yang relatif stabil, dan lingkungan sosial yang mendukung mungkin mempunyai lebih banyak ruang untuk berkata, “Saya perlu berhenti mengikuti berita untuk sementara.” Tidak semua orang mempunyai kemewahan tersebut.

Karena itu, menyebut persoalan ini semata-mata sebagai “netizen terlalu sensitif” juga terlalu sederhana. Kritik terhadap pesan Maudy dapat dipahami sebagai pengingat bahwa pengalaman pribadi tidak selalu mewakili pengalaman masyarakat secara keseluruhan.

Namun demikian, kritik terhadap sebuah pesan juga tidak harus berubah menjadi penghakiman terhadap keseluruhan pribadi seseorang. Kita sering kali terlalu cepat berpindah dari “pernyataan ini kurang sensitif” menjadi “orang ini tidak punya empati”. Padahal keduanya adalah klaim yang berbeda.

Satu pernyataan yang memiliki blind spot tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seseorang tidak memiliki kepedulian. Menariknya, Maudy kemudian mengakui adanya perspektif yang belum cukup dirinya pertimbangkan dan memberikan klarifikasi mengenai hal tersebut. Kemampuan untuk menerima informasi baru dan memperbarui cara pandang justru merupakan bagian penting dari proses refleksi psikologis.

Dari ”Mindfulness” ke LPDP

Tetapi drama ini kemudian bergerak lebih jauh. Status Maudy sebagai penerima LPDP ikut menjadi bahan perdebatan.

Pertanyaannya kurang lebih menjadi: apakah seseorang yang secara ekonomi mampu membiayai pendidikannya sendiri pantas menerima beasiswa yang berasal dari dana negara, sementara masih banyak masyarakat lain yang kesulitan memperoleh pendidikan berkualitas?

Menurut saya, pertanyaan tersebut perlu dipisahkan menjadi dua hal yakni hak dan kepantasan. Secara umum, LPDP bukanlah program yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin. Warga Negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dan lolos seleksi dapat mengikuti program tersebut. Pada saat yang sama, LPDP juga memiliki skema afirmasi yang memberikan kesempatan lebih besar kepada kelompok-kelompok tertentu yang membutuhkan dukungan akses.

Dengan demikian, anggapan bahwa LPDP merupakan “beasiswa khusus orang miskin” tidak sepenuhnya menggambarkan desain programnya. Namun, pertanyaan mengenai kepantasan tetap merupakan diskusi etis yang sah. Kita memang dapat bertanya apakah seseorang yang mempunyai kemampuan finansial sangat besar sebaiknya menggunakan sumber daya beasiswa negara.

Hanya saja, dalam kasus Maudy, hanya Maudy sendiri yang dapat menjelaskan alasan personal mengapa dia memilih LPDP. Kita tidak seharusnya mengisi kekosongan tersebut dengan asumsi.

Secara umum, orang yang mampu secara finansial pun dapat memiliki berbagai alasan untuk memilih beasiswa. Bisa karena ingin belajar di institusi atau program tertentu, memperluas jejaring akademik, berkontribusi melalui ekosistem pendidikan negara, atau bahkan ingin membuktikan bahwa kesempatan tersebut diperoleh karena kompetensi, bukan semata-mata karena kemampuan finansial.

Dan ada satu hal yang penting bahwa kemampuan ekonomi dan kompetensi adalah dua hal yang berbeda. Orang kaya bisa kompeten. Orang miskin bisa kompeten. Orang terkenal bisa kompeten. Orang yang tidak dikenal publik juga bisa kompeten.

Sistem beasiswa berbasis seleksi pada akhirnya perlu menilai kandidat berdasarkan kriteria yang memang ditetapkan, bukan berdasarkan seberapa “layak secara visual” seseorang terlihat menerima bantuan di mata publik.

Jangan Sampai Maudy Membuat Kita Salah Memahami LPDP

Sebagai seseorang yang juga berada dalam proses sebagai awardee LPDP, saya melihat persoalan ini menarik karena muncul kecenderungan untuk menganggap bahwa menerima beasiswa negara berarti seseorang harus selalu menjadi representasi masyarakat.

Padahal kontribusi kepada negara tidak memiliki satu bentuk saja. Ada orang yang berkontribusi melalui penelitian. Ada yang mengajar. Ada yang bekerja di sektor kesehatan, teknologi, pemerintahan, industri, pendidikan, maupun berbagai bidang lainnya. Tidak semuanya harus menjadi aktivis, komentator politik, atau figur publik.

Pertanyaan yang lebih relevan terhadap seorang penerima beasiswa mungkin bukan “seberapa sering dirinya berbicara mengenai masalah rakyat?”, melainkan apa yang dia lakukan dengan kesempatan pendidikan yang diberikan kepadanya. Beasiswa pada dasarnya adalah investasi.

Negara memberikan kesempatan, dan penerima diharapkan mengubah kesempatan tersebut menjadi pengetahuan, karya, inovasi, pelayanan, atau kontribusi lain yang bermanfaat bagi Indonesia.

Karena itu, mengkritik penggunaan dana publik tentu merupakan hal yang sah. Tetapi kritik tersebut sebaiknya diarahkan pada mekanisme seleksi, desain program, distribusi kesempatan, dan akuntabilitas, bukan otomatis pada asumsi bahwa orang yang terlihat kaya atau terkenal tidak layak memperoleh beasiswa.

Mungkin Kita Memang Perlu Sedikit Lebih Mindful

Pada akhirnya, kasus Maudy mungkin bukan sekadar tentang apakah seseorang boleh mengambil jeda dari berita buruk. Kasus ini mengingatkan kita bahwa mindfulness tidak berarti menutup mata terhadap dunia. Tetapi mindfulness juga mengajarkan kita untuk menyadari bagaimana pengalaman kita sendiri dapat berbeda dari pengalaman orang lain.

Kita bisa mengakui bahwa seseorang memiliki privilege tanpa menganggap seluruh perkataannya otomatis tidak valid. Kita juga bisa mengkritik sebuah pernyataan tanpa harus menghakimi keseluruhan karakter pembicaranya.

Begitu pula dengan LPDP. Kita dapat mempertanyakan kepantasan penggunaan sumber daya publik tanpa menyederhanakannya menjadi anggapan bahwa beasiswa negara hanya boleh diterima oleh orang miskin.

Mungkin justru di tengah derasnya informasi, kemarahan, dan penghakiman di media sosial, kita membutuhkan sedikit lebih banyak mindfulness, bukan hanya dalam menghadapi berita buruk, tetapi juga dalam cara kita menilai orang lain.

Tags: mindfullnessPendidikanPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

Next Post

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co