Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara pertama yang diperebutkan. Ajang seni dan budaya keagamaan Hindu tersebut resmi ditutup Gubernur Bali Wayan Koster di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Rabu (16/9).
Badung menjadi daerah dengan perolehan gelar juara pertama terbanyak. Karangasem mengoleksi lima gelar, Gianyar empat, Denpasar tiga, sedangkan Bangli dan Tabanan masing-masing dua gelar.
UDG Bali XXXIII berlangsung pada 11-16 September 2026 dengan mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, yang dimaknai sebagai “Menuntun Jiwa Menuju Kesucian”. Sebanyak 331 peserta ambil bagian dalam 37 kategori perlombaan yang terbagi ke dalam 11 bidang, mulai dari kelompok anak-anak, remaja hingga dewasa.
Keterlibatan lintas generasi menjadi salah satu hal yang disoroti Koster saat menutup kegiatan. Menurutnya, kehadiran peserta dari kelompok anak-anak hingga dewasa menunjukkan proses regenerasi budaya Bali masih berjalan.
“Jadi dari segi tingkat usia, anak-anak, remaja, dewasa, tiang melihat itu tidak ada yang putus dalam generasinya ini. Jadi kalau peminatnya cuma dewasa doang, berarti kita ada yang putus dan itu ancaman. Ini ada yang remaja, dan yang di hulunya lagi ada anak-anak,” ujar Koster.
Ia menilai keberadaan peserta dari berbagai kelompok usia penting karena keberlanjutan budaya tidak hanya ditentukan oleh materi yang diwariskan, tetapi juga oleh generasi yang mempelajari dan menjalankannya.
“Budaya itu syarat mutlak harus ada pelakunya. Siapa pelaku utamanya? Kita,” tegasnya.
Tiga Bahasa, dari Lokal hingga Global
Koster juga menyoroti penggunaan tiga bahasa dalam pelaksanaan UDG, yakni Bahasa Bali, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Menurut dia, penggunaan tiga bahasa menunjukkan bahwa peserta tidak hanya dituntut memahami kearifan lokal, tetapi juga memiliki kemampuan mengomunikasikannya dalam lingkup yang lebih luas.
“Jadi tiga bahasa Bali, Indonesia, Inggris. Ah, keren ini. Jadi lengkap, lokal, nasional, global,” kata Koster.
Ia menyebut Bahasa Bali sebagai akar budaya, sementara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menjadi sarana untuk berinteraksi di lingkup nasional dan global.
Koster mengatakan perkembangan modernisasi dan teknologi digital tidak otomatis menghilangkan budaya Bali. Menurutnya, selama masyarakat tetap menjadi pelaku dan menjaga nilai-nilai yang diwariskan, budaya lokal tetap dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman.
“Jadi karena itu, enggak perlu kita khawatir bahwa perkembangan dunia modernisasi global, dipercepat dengan teknologi digital, itu tidak akan pernah mematikan budaya kita di Bali,” ujarnya.
Ia menambahkan, fenomena global justru dapat berjalan berdampingan dengan kearifan lokal.
“Ketika berkembang fenomena global, apa dampaknya terhadap kearifan lokal kita, budaya kita di Bali? Ternyata tidak tergerus. Tetap hidup,” tutur Koster.
Koster Kritik Piala: Jangan Ribet
Selain mengapresiasi pelaksanaan UDG, Koster memberikan sejumlah catatan untuk penyelenggaraan berikutnya. Salah satunya menyangkut desain piala bagi para pemenang.
Koster meminta desain piala dibuat lebih sederhana, praktis, nyaman dipegang, tetapi tetap menarik dan berkualitas. Ia mengkritik penggunaan material kaca serta finishing piala yang dinilai belum memberikan kenyamanan bagi penerima.
“Jangan bikin piala yang ribet-ribet kayak gitu. Megangnya aja enggak nyaman. Mesti kaca, gores bedik bisa terluka. Sudah gitu belum finishing,” kritiknya.
Untuk pelaksanaan mendatang, ia meminta penghargaan menggunakan produk lokal Bali. Menurut Koster, piala tidak sekadar menjadi simbol penghargaan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya mengangkat produk daerah.
“Bikin yang simpel, yang menarik, yang praktis, tapi berkualitas. Produk lokal Bali,” ucapnya.
Hadiah Diminta Naik Tahun Depan
Koster juga meminta besaran hadiah bagi para pemenang UDG ditingkatkan pada pelaksanaan tahun depan.
Pada UDG Bali XXXIII, hadiah kategori tunggal ditetapkan Rp5 juta untuk juara pertama, Rp4 juta juara kedua dan Rp3 juta juara ketiga. Sementara kategori grup mendapatkan Rp15 juta untuk juara pertama, Rp14 juta juara kedua dan Rp13 juta juara ketiga.
Peserta yang meraih juara harapan tidak mendapatkan hadiah uang.
Koster meminta skema penghargaan tersebut dievaluasi agar kompetisi tahun berikutnya berlangsung lebih hidup sekaligus memberikan apresiasi yang lebih besar kepada peserta.
“Jadi karena itu, tahun depan kita akan selenggarakan lebih hidup lagi. Saya akan panggil Kadisnya supaya hadiahnya dinaikin. Hadiah yang utama, duit! Duit. Duit!” katanya.
Ia kemudian membandingkan besaran hadiah UDG dengan kegiatan Bulan Bung Karno yang disebutnya memberikan hadiah lebih besar dan berlangsung lebih meriah.
“Lebih meriah yang di Wredhi Budaya (Art Center) yang dilaksanakan oleh PDI Perjuangan, Bulan Bung Karno. Wah keren kalau itu, Rp20 juta, Rp10 juta. Gede dia, meriah, hidup sekali suasananya,” kata Koster.
Koster juga mengingatkan agar hadiah yang diterima pemenang tidak dipotong.
“Jangan pula ada potongan-potongan nanti. Jangan ada potongan-potongan. Nanti kalau sampai ada potongan-potongan, lapor,” tegasnya.
Dominasi Badung terlihat di sejumlah bidang perlombaan.
Pada Membaca Sloka, Badung meraih juara pertama kategori anak-anak putra, dewasa putri dan dewasa putra. Karangasem menjadi juara pertama anak-anak putri, Bangli juara pertama remaja putri dan Denpasar juara pertama remaja putra.
Di Membaca Palawakya, Badung menyapu bersih empat gelar juara pertama melalui kategori remaja putri, remaja putra, dewasa putra dan dewasa putri.
Pada Membaca Kakawin, Badung meraih dua juara pertama melalui kategori remaja putri dan dewasa putra. Gianyar meraih juara pertama remaja putra, sedangkan Bangli menjadi juara pertama dewasa putri.
Untuk Membaca Gaguritan, Badung kembali meraih dua gelar juara pertama melalui kategori anak-anak putri dan anak-anak putra.
Dominasi juga terlihat pada Dharmawacana Bahasa Bali. Badung meraih lima gelar juara pertama, yakni kategori anak-anak putri, anak-anak putra, remaja putri, dewasa putri dan dewasa putra. Sementara kategori remaja putra dimenangkan Denpasar.
Pada Dharmawacana Bahasa Inggris, Karangasem meraih tiga gelar juara pertama melalui kategori remaja putri, remaja putra dan dewasa putri. Badung meraih juara pertama kategori dewasa putra.
Sementara pada Menghafal Sloka, Badung meraih juara pertama anak-anak putri dan dewasa putra. Karangasem menjadi juara pertama anak-anak putra, Gianyar pada remaja putri, serta Tabanan pada remaja putra dan dewasa putri.
Pada Dharmawiwada, Badung menjadi juara pertama, disusul Jembrana dan Denpasar. Sedangkan pada Nyanyian Keagamaan Hindu, Badung kembali meraih juara pertama, diikuti Gianyar dan Tabanan.
Adapun pada Dharmacarita, Gianyar mendominasi dua kategori anak-anak, yakni anak-anak putri dan anak-anak putra.
Secara keseluruhan, dari 37 gelar juara pertama yang diperebutkan, Badung mengamankan 21 gelar, Karangasem lima, Gianyar empat, Denpasar tiga, serta Bangli dan Tabanan masing-masing dua gelar.
Perolehan tersebut menempatkan Badung sebagai juara umum UDG Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026. [T]































