1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
in Panggung
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Penampilan sekaa balaganjur di ARMA Fest

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap yang menjadi bagian dari ARMA Fest 2026, Sabtu, 19 September 2026. Para pecinta seni baleganjur dari bebagai daerah hadir menunggu satu persatu sekaa yang tampil di atas stage tyerbuka itu.

Pada hari pertama pelaksanaan ARMA Fest, ada empat sekaa tampil mengadu kreativitas dan kepiawaian memainkan gamelan baleganjur. Mereka adalah Sekaa Baleganjur Putra Kencana, Nata Suara, Sekaa Gong Puspa Sari, dan Sekaa Gong Bina Yowana Santhi.

Para peserta ini didominasi anak-anak muda terlihat jelas di setiap penampilan. Masing-masing sekaa tampil penuh energi dan memiliki karakter tersendiri. Mereka tidak sekadar memainkan tabuh berdasarkan pakem, tetapi meracik kreativitas baru melalui permainan ritme, koreografi, ekspresi wajah, hingga penjiwaan yang kuat.

Di atas panggung, para penabuh tampak bersemangat menjaga tempo dan dinamika permainan. Pukulan kendang, ceng-ceng, dan kajar dimainkan dengan presisi di tengah tekanan waktu dan perhatian juri. Sorak penonton yang memadati arena semakin membakar semangat para peserta, membuat suasana perlombaan berlangsung meriah dan kompetitif.

“Lomba Baleganjur Ngarap ini tidak hanya menampilkan peserta di atas panggung, tetapi menjalankan prosesi ngarap hingga menuju open stage. Ini salah satu yang menjadi pembeda dari festival lainnya,” kata Ketua Panitia ARMA Fest 2026, I Made Sutama, Sutama dalam keterangan sebelum lomba berlangsung.

Penampilan sekaa balaganjur di ARMA Fest

Lomba yang belakangan semakin diminati generasi muda itu, tidak hanya mengandalkan kemampuan memainkan gending dan menyusun komposisi, tetapi juga menggabungkan teknik permainan, koreografi, ekspresi, hingga busana sebagai bagian dari pertunjukan. Baleganjur ngarap menawarkan bentuk kreativitas musikal yang lebih dinamis, tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Berbeda dengan pertunjukan baleganjur yang umumnya dimainkan dalam posisi duduk di atas panggung, konsep ngarap dalam festival ini menghadirkan prosesi yang dilakukan sambil berjalan menuju open stage. Perubahan format tersebut membuat pertunjukan terasa lebih atraktif dan dekat dengan penonton.

“Konsep yang berisi berjalan tersebut menjadi salah satu pembeda Lomba Baleganjur Ngarap tahun ini. Ada proses benar benar ngarap. Ini konsep sekaligus memberikan pengalaman kepada penonton, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat tradisi baleganjur dan proses kreatif dalam ngarap,” imbuhnya.

ARMA Fest 2026 melibatkan sembilan sekaa baleganjur dari berbagai wilayah di Bali. Setelah empat sekaa tampil pada hari pertama, maka pada hari kedua, Minggu 20 September, (hari ini) peserta yang tampil lima sekaa. Peserta itu terdiri atas Sekaa Teruna Yowana Eka Jaya, Sanggar Tari & Tabuh Semara Girang, Gamelan Sanggita, Komunitas Seni Cak Keramas, dan Sekaa Teruna Kencana. Rangkaian kegiatan juga diisi melukis spontan, workshop melukis gaya Keliki dan Komunitas Baturulang, serta dolanan dari Sanggar ARMA Kumara Sari.

Penampilan sekaa balaganjur di ARMA Fest

Selain baleganjur, ARMA Fest 2026 menghadirkan berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan anak-anak, pelajar, pemuda, hingga seniman dewasa. Program tersebut mencakup workshop megendang, pameran seni rupa, dan berbagai pertunjukan. “Seniman dan penampilnya ada anak-anak, pemuda, dan dewasa. Ada seniman lukis, ada workshop yang pesertanya siswa SD dan SMP. Mereka belajar melukis dan megendang, bermain gendang Bali. Jadi kami adakan pembelajaran di sini,” ujar Sutama.

Menurut Sutama, ARMA Fest juga menjadi bagian dari upaya Museum ARMA untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat Bali, khususnya generasi muda. Selama sekitar 30 tahun keberadaan Museum ARMA, pengunjung masih didominasi wisatawan asing. “Sejak 30 tahun ARMA Museum didirikan, pengunjung selalu warga asing. Warga kita sendiri masih sangat jarang. Jadi, supaya mereka mengenal museum ini,” ujarnya.

Sutama berharap ARMA Fest dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat lokal untuk mengenal lebih dekat Museum ARMA, koleksi seni, serta berbagai kegiatan kebudayaan yang berlangsung di dalamnya.

General Manager ARMA Museum & Resort, Made Suhartana mengatakan, penyelenggaraan ARMA Fest juga merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi budaya Bali sekaligus membuka ruang interaksi antara masyarakat dan seni.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan nilai dan kualitas pariwisata Bali, terutama melalui pengembangan pariwisata berbasis budaya. “Melestarikan tradisi budaya Bali, masyarakat berinteraksi, tertarik dengan seni dan budaya. Harapan ke depan meningkat nilai pariwisata, kualitas pariwisata,” ujarnya.

Rangkaian ARMA Fest 2026 turut menghadirkan pameran lukisan gaya Keliki. Pameran ini memberikan ruang bagi seniman lokal dari Desa Keliki untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat yang lebih luas.

Ketua Yayasan ARMA, Agung Yudi mengatakan, keberadaan ARMA tidak terlepas dari kontribusi berbagai kalangan, terutama seniman dan budayawan. “ARMA tidak hanya milik satu orang. ARMA juga besar oleh banyak kalangan, seniman, budayawan, bisa berdiri sampai sekarang usia 30 tahun ini,” ucapnya.

Menurut Agung Yudi, tantangan ARMA ke depan adalah menjaga marwah seni dan budaya Bali sekaligus tetap mampu mengikuti perkembangan zaman. Semangat tersebut menjadi salah satu dasar pengusungan tema “Living Tradition” dalam ARMA Fest 2026.

Melalui tema tersebut, ARMA Fest tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga membuka ruang bagi tradisi untuk terus hidup dan berkembang. Budayawan, seniman, komunitas, serta generasi muda dipertemukan dalam ruang yang sama untuk belajar, berinteraksi, dan berkreasi.

Penampilan sekaa balaganjur di ARMA Fest

Secara keseluruhan, ARMA Fest 2026 melibatkan hampir 1.000 seniman dari berbagai komunitas dan latar belakang seni. Lomba Baleganjur Ngarap menjadi salah satu rangkaian utama yang berlangsung selama dua hari, hingga Minggu, 20 September 2026.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: baleganjurMuseum ARMAUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

Next Post

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co