BULELENG | TATKALA.CO — Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak berbaur dengan akbrab dan menyapa tamu yang hadir. Mereka adalah 37 pengurus Komunitas Perempuan Bali Utara (KPBU) yang dikukuhkan di Ruang Rapat Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Sabtu, 19 September 2026. Pengukuhan dilakukan oleh Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan menjadi penanda dimulainya kepengurusan KPBU untuk periode 2026–2031.
Acara pengukuhan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Kepengurusan KPBU, dilanjutkan prosesi pengukuhan dan penyematan pin kepada pembina, ketua, pengawas, serta seluruh anggota pengurus. Setelah itu, para pengurus membacakan ikrar KPBU yang dipimpin Ketua KPBU Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Nyoman Sukadani, S.Sos., mengatakan KPBU dibentuk atas kesadaran terhadap potensi perempuan Bali Utara untuk berkontribusi dalam pembangunan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan. Menurutnya, pengukuhan tersebut menjadi awal bagi perempuan Buleleng dan sekitarnya untuk bersatu dan bergerak.
“Pengukuhan hari ini akan menjadi langkah awal dari aksi nyata perempuan Buleleng dan sekitarnya untuk bersatu dan bergerak,” kata Sukadani dalam laporan panitia.
KPBU sebelumnya dideklarasikan pada 22 Desember 2025. Dalam sambutannya, Ketua KPBU Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa komunitas tersebut lahir dari kebutuhan akan sebuah komunitas perempuan yang independen dan berorientasi pada pemberdayaan perempuan di Bali Utara.

Sejak deklarasi, KPBU telah menjalankan sejumlah program di bidang sosial, pendidikan, serta seni dan budaya. Sonia juga menyebut KPBU telah mengesahkan pendiriannya melalui akta notaris dan mendapatkan pengesahan dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua KPBU sekaligus akademisi Undiksha itu juga menempatkan kelahiran komunitas tersebut dalam sejarah panjang gerakan perempuan di Indonesia. Ia mencoba mengaitkan dengan sejarah perjuangan perempuan di Indonesia yang berperan dalam berbagai gerakan seperti dalam pergerakan nasional, di antaranya Nyonya Sukonto, Nyi Hajar Dewantara, Suyatin, dan tokoh pers perempuan Siti Sundari.
Lanjut Sonia, gerakan perempuan di Bali juga memiliki sejarah perjuangan yang panjang. Ia menyebut Raja Perempuan Klungkung Agung Dewi Kanya dan Jero Jempiring dari Jagaraga sebagai tokoh perempuan yang mengambil peran dalam perjuangan. Ia juga mengingat Nyoman Rai Srimben, perempuan asal Buleleng yang merupakan ibunda dari Soekarno Presiden Pertama Indonesia itu.
“Tak kecil peran perempuan dalam kemajuan bangsa ini,” ucap Sonia.




Ia kemudian mengaitkan sejarah tersebut dengan pengukuhan KPBU pada 2026 ini. Menurut Sonia, pengukuhan KPBU menjadi bagian dari upaya meneruskan semangat pemberdayaan perempuan melalui sebuah komunitas yang independen dan bergerak di berbagai bidang.
“Kini di tahun 2026, kami mengukuhkan diri menjadi perkumpulan bernama Komunitas Perempuan Bali Utara yang memiliki visi menjadi perempuan yang berdaya, bermakna, dan berdampak di Bali Utara khususnya dan Indonesia umumnya,” ujarnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, KPBU membawa misi melalui program-program di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, seni budaya, dan lingkungan. Sonia mengatakan komunitas ini diharapkan menjadi wadah pemberdayaan, advokasi, dan edukasi bagi perempuan di Bali Utara.

Sonia juga mengatakan keberadaan KPBU diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan perempuan yang ikut membangun kehidupan masyarakat dari berbagai bidang. Ia juga berharap pemerintah Kabupaten Buleleng dapat mendukung langkah KPBU dalam menjalankan program-programnya.
Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra juga menyambut dengan antusias keberadaan komunitas perempuan ini, ia mengatakan perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan. Ia menyebut perempuan memiliki peran sebagai penggerak ekonomi, pendidik generasi, pemimpin, pelaku sosial, sekaligus mitra pemerintah. Karena itu, Buapti Buleleng merasa penting komunitas seperti ini ada di Kabupaten Buleleng.
“Perempuan bukan hanya sebagai pendamping suami di rumah aja, tetapi juga memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi, pendidik generasi, pemimpin, pelaku sosial, serta mitra pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Sutjidra.
Menurut Sutjidra, KPBU dapat menjadi ruang yang penting bagi perempuan di Kabupaten Buleleng untuk bersinergi, berbagi pengetahuan dan pengalaman, mengembangkan potensi, serta memperkuat kepedulian terhadap persoalan sosial di masyarakat.
Ia juga mengajak KPBU membangun kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Buleleng, dunia pendidikan, dunia usaha, dan unsur masyarakat lainnya.
“Pemerintah Kabupaten Buleleng tidak dapat bekerja sendiri. Pembangunan akan menjadi lebih kuat apabila seluruh komponen masyarakat dapat bergerak bersama,” ujarnya.
Pengukuhan kepengurusan KPBU periode 2026–2031 ini menjadi titik awal untuk memperluas kerja komunitas sebagai wadah pemberdayaan, advokasi, dan edukasi perempuan di Bali Utara. Komunitas ini membawa agenda di lima bidang utama, yakni pendidikan, ekonomi, sosial, seni budaya, dan lingkungan.

Rangkaian acara ditutup dengan fashion show yang menampilkan anggota Komunitas Perempuan Bali Utara dengan busana yang mengangkat unsur budaya Bali. Para anggota tampil dan berjalan layaknya seorang model dengan diiringi musik dan pembacaan puisi oleh Ketua KPBU. Acara lalu dilanjutkan dengan ucapan selamat, dan foto bersama.[T]
Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole






























