30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
in Esai
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Petani tidak hanya mengenal kopi melalui warna buah, ukuran biji, atau waktu panen. Mereka juga membaca alam melalui tanda-tanda kecil yang muncul di kebun. Salah satunya adalah bunga kopi.

Ketika bunga kopi mulai muncul dan kemudian menguncup, sebagian petani memaknainya sebagai pertanda bahwa hujan akan segera datang. Kuncup bunga bukan sekadar bagian dari siklus biologis tanaman, melainkan juga dibaca sebagai semacam pesan alam. Bagi petani, kemunculan bunga kopi mempunyai makna yang lebih luas: ada harapan bahwa musim hujan segera tiba, tanah kembali mendapatkan air, dan pohom kopi dapat melanjutkan siklus kehidupannya.

Kepercayaan tersebut tentu tidak dapat ditempatkan begitu saja sebagai sebuah prakiraan  cuaca dalam pengertian meteorologis. Bunga kopi tumbuh dan berkembang berdasarkan berbagai faktor, terutama kondisi fisiologis tanaman, ketersediaan air, suhu, kelembapan, dan perubahan lingkungan. Namun, menariknya, pengalaman petani selama bertahun-tahun memungkinkan mereka membangun hubungan antara perubahan tanaman dan perubahan cuaca. Apa yang bagi ilmu pengetahuan dapat dijelaskan melalui mekanisme fisiologis tanaman, bagi petani dapat hadir sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan panjang terhadap alam.

Di sinilah kehidupan petani menjadi menarik untuk dipahami. Petani tidak selalu memisahkan alam menjadi kategori-kategori sebagaimana ilmu pengetahuan modern. Mereka belajar dari tanah, daun, bunga, angin, awan, hujan, dan perubahan perilaku tanaman. Pengalaman tersebut kemudian menjadi pengetahuan praktis yang digunakan untuk menentukan kapan harus melakukan pemeliharaan, pemupukan, membersihkan kebun, atau mempersiapkan masa panen.

Persoalannya muncul ketika pola alam yang selama ini mereka kenali mulai berubah. Fenomena El Niño menjadi salah satu penyebab yang dapat memperpanjang atau memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia. Musim kemarau yang lebih panjang dapat mengurangi ketersediaan air dan memberikan tekanan terhadap tanaman perkebunan, termasuk kopi. Dalam situasi demikian, petani tidak hanya berhadapan dengan persoalan produksi. Mereka juga menghadapi ketidakpastian terhadap tanda-tanda alam yang selama ini menjadi pegangan.

Ketika hujan terlambat datang, kuncup bunga kopi yang biasanya dibaca sebagai pertanda hujan menghadirkan pertanyaan baru: apakah alam masih memberikan tanda yang sama, ataukah pola musim sudah mengalami perubahan?Pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya menyimpan persoalan besar tentang masa depan perkebunan kopi di Desa Pucaksari.

Kuncup Bunga Muncul,  Pertanda Akan Hujan

Kepercayaan mengenai bunga kopi sebagai pertanda datangnya hujan merupakan bagian menarik dari hubungan antara manusia, tanaman, dan alam. Petani tidak sekadar melihat bunga sebagai organ reproduksi tanaman. Mereka membaca kemunculannya dalam konteks yang lebih luas. Bunga yang menguncup dapat dipandang sebagai tanda bahwa tanaman sedang memasuki fase tertentu dan alam sedang bergerak menuju perubahan musim.

Dalam perspektif budaya, pengetahuan seperti ini dapat disebut sebagai pengetahuan lokal. Pengetahuan tersebut tidak lahir dari laboratorium, melainkan dari pengalaman yang berulang. Seorang petani yang selama puluhan tahun mengelola kopi tentu memiliki kemampuan membaca perubahan kebun yang tidak selalu dimiliki oleh orang yang hanya melihat tanaman dari buku. Petani mengenali perubahan warna daun. Mereka mengetahui tanah yang mulai kehilangan kelembapan. Mereka memahami kapan tanaman membutuhkan perhatian. Mereka mengetahui bagaimana angin tertentu berembus dan bagaimana awan bergerak di atas perbukitan. Mereka juga menghubungkan kemunculan bunga kopi dengan kemungkinan perubahan cuaca.

Pengetahuan semacam itu tidak seharusnya langsung dianggap sebagai takhayul. Pada saat yang sama, pengetahuan lokal juga tidak harus dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Keduanya dapat ditempatkan dalam hubungan yang saling melengkapi. Ilmu meteorologi memberikan informasi mengenai pola atmosfer, curah hujan, suhu, dan kemungkinan terjadinya kondisi kering. Sementara itu, petani memberikan pengetahuan empiris tentang bagaimana perubahan tersebut benar-benar dirasakan oleh tanaman dan tanah.

Kepercayaan bahwa kuncup bunga kopi mengundang hujan, misalnya, dapat dibaca secara lebih kritis. Secara ilmiah, tentu tidak tepat mengatakan bahwa bunga kopi menyebabkan hujan. Bunga tidak mempunyai kemampuan untuk “mengundang” hujan. Akan tetapi, hubungan antara munculnya bunga dan datangnya hujan dapat memiliki dasar pengalaman ekologis tertentu.

Tanaman kopi merespons perubahan lingkungan. Perubahan ketersediaan air, kelembapan, suhu, dan kondisi fisiologis tanaman dapat berkaitan dengan proses pembungaan. Bagi petani yang terus mengamati kebunnya, kemunculan bunga dapat menjadi indikator perubahan kondisi lingkungan. Dengan demikian pengetahuan lokal   “kalau kopi mulai berbunga, hujan akan datang” tidak harus dipahami secara harfiah. Ia dapat dipahami sebagai bentuk pengetahuan ekologis yang dibangun berdasarkan pengamatan terhadap hubungan antara tanaman dan lingkungan.

El Niño Mengubah Cara Petani Membaca Alam

Petani sebelumnya mungkin memiliki kalender alam yang relatif stabil. Mereka mengenal bulan-bulan tertentu sebagai masa hujan, masa kering, masa berbunga, dan masa panen. Pengetahuan itu menjadi semacam kalender ekologis yang tidak tertulis. Namun, ketika musim menjadi semakin sulit diprediksi, kalender tersebut menghadapi tantangan.Bukan berarti pengetahuan lama kehilangan nilai. Justru sebaliknya, pengetahuan tersebut perlu diuji, didokumentasikan, dan dikembangkan. Petani perlu mengetahui apakah tanda-tanda yang selama ini mereka gunakan masih memiliki hubungan dengan kondisi cuaca sekarang.

Kuncup bunga kopi menjadi simbol yang menarik dalam konteks ini. Ia memperlihatkan bagaimana petani berada di antara dua dunia pengetahuan. Di satu sisi terdapat pengalaman turun-temurun yang mengatakan bahwa bunga kopi berkaitan dengan datangnya hujan. Di sisi lain terdapat informasi ilmiah mengenai perubahan iklim, El Niño, prakiraan musim, dan variabilitas cuaca. Kedua pengetahuan tersebut seharusnya tidak saling meniadakan. Seorang petani perlu  mengetahui  informasi prakiraan cuaca. Munculnya bunga kopi memberikan informasi berkaitan dengan musim hujan akan segera turun. Ini merupakan harapan petani di tengah musim kemarau yang panjang.

Dampak Ekonomi: Ketika Hujan Menentukan Pendapatan

Persoalan terbesar bagi petani bukanlah apakah sebuah istilah ilmiah dapat menjelaskan musim. Persoalan terbesar adalah bagaimana perubahan musim memengaruhi kehidupan keluarga mereka.Kopi merupakan komoditas yang proses produksinya berlangsung panjang. Petani tidak menanam hari ini untuk memanen besok. Ada proses pemeliharaan, pembungaan, pembentukan buah, perkembangan buah, pematangan, hingga panen. Setiap gangguan pada salah satu tahap dapat berpengaruh terhadap hasil akhir.

Musim kering yang berkepanjangan dapat menimbulkan efek berantai. Ketika tanaman mengalami tekanan air, produktivitas dapat terganggu. Ketika produksi turun, pendapatan petani ikut terpengaruh. Pada saat yang sama, biaya pemeliharaan dapat meningkat karena petani membutuhkan tenaga tambahan untuk menjaga tanaman tetap produktif.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan iklim pada dasarnya berdampak pada  persoalan ekonomi pedesaan. Bagi keluarga yang menggantungkan sebagian pendapatan pada kopi, hasil panen bukan hanya angka dalam kilogram. Hasil panen menentukan kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, membeli sarana produksi, membayar tenaga kerja, dan mempertahankan keberlanjutan kebun.

Dari Bertahan Hidup Menuju Adaptasi

Menghadapi kondisi tersebut, petani tidak cukup hanya menunggu hujan. Kemampuan bertahan harus berkembang menjadi kemampuan beradaptasi. Menunggu hujan tanpa melakukan perubahan dalam pengelolaan kebun berarti menyerahkan sepenuhnya nasib tanaman kepada ketidakpastian musim. Padahal, petani masih memiliki ruang untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh kekeringan. Adaptasi perlu dilakukan berdasarkan kondisi setiap kebun karena tidak semua lahan memiliki karakteristik yang sama. Kemiringan lahan, jenis tanah, kerapatan tanaman, usia tanaman kopi, ketersediaan sumber air, hingga keberadaan tanaman penaung dapat menentukan strategi yang paling sesuai.

Pengelolaan naungan menjadi salah satu langkah penting karena keberadaan pohon pelindung dapat membantu mengurangi paparan langsung sinar matahari dan menjaga kondisi mikroklimat di sekitar tanaman kopi. Demikian pula pemeliharaan bahan organik tanah, penggunaan mulsa, dan vegetasi penutup tanah dapat membantu mempertahankan kelembapan sekaligus mengurangi penguapan. Dalam kondisi musim kering yang semakin tidak menentu, cara-cara tersebut bukan lagi sekadar teknik budidaya tambahan, melainkan bagian dari strategi mempertahankan produktivitas kebun.

Persoalan air juga perlu ditempatkan sebagai inti dari strategi adaptasi. Selama ini air sering dipandang sebagai sesuatu yang datang dari langit dan diterima ketika hujan turun. Cara pandang semacam itu perlu diubah. Air harus diperlakukan sebagai sumber daya yang perlu ditangkap, disimpan, dan dikelola. Hujan yang turun dalam jumlah besar tetapi tidak mampu bertahan di dalam ekosistem kebun pada akhirnya hanya menjadi aliran permukaan yang meninggalkan lahan. Karena itu, kemampuan kebun menyimpan air menjadi sama pentingnya dengan jumlah hujan yang diterima. Tanah yang kaya bahan organik dapat memiliki kemampuan lebih baik dalam mempertahankan kelembapan, sementara mulsa dan vegetasi penutup dapat mengurangi penguapan serta melindungi permukaan tanah dari panas matahari dan erosi.

Pada lahan yang memungkinkan, konservasi air melalui pembuatan rorak, parit resapan, atau bentuk penampungan sederhana dapat dipertimbangkan untuk memperlambat aliran air dan memberikan kesempatan bagi air hujan meresap ke dalam tanah. Dengan pendekatan tersebut, petani tidak hanya bertanya “kapan hujan turun?”, tetapi mulai bertanya lebih jauh: “ketika hujan turun, berapa banyak air yang dapat dtahan untuk menghadapi hari-hari ketika hujantidak turun?” Pertanyaan kedua inilah yang menjadi semakin penting dalam menghadapi ketidakpastian iklim.

Pada akhirnya, adaptasi bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu musim. Ia membutuhkan perubahan cara petani mengelola kebun, perubahan cara melihat air, dan perubahan cara memahami risiko. Pengalaman petani tetap menjadi modal penting, tetapi pengalaman tersebut perlu diperkuat dengan pengetahuan mengenai iklim, konservasi tanah dan air, teknologi budidaya, serta informasi cuaca. Jika selama ini petani membaca kuncup bunga kopi sebagai pertanda hujan, maka ke depan tanda tersebut dapat menjadi salah satu indikator yang dicatat dan dibandingkan dengan data curah hujan.

Pengetahuan lokal tidak harus ditinggalkan; ia justru dapat menjadi pintu masuk untuk membangun sistem adaptasi yang lebih kontekstual. Dengan demikian, petani di Desa Pucaksari tidak lagi sekadar menjadi pihak yang menunggu perubahan cuaca, tetapi menjadi aktor yang memiliki kemampuan mengantisipasi dan mengurangi dampaknya. Menunggu hujan tetap menjadi bagian dari kehidupan petani, tetapi menunggu tidak boleh lagi berarti pasrah. Menunggu harus disertai persiapan, karena dalam menghadapi iklim yang semakin tidak pasti, yang menentukan keberlanjutan kebun bukan hanya seberapa banyak hujan yang turun, tetapi seberapa baik air yang turun itu dikelola. [T]

Penulis: Ketut Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: alam semestaDesa Pucaksarikopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

Next Post

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

Pengurus KPBU Dikukuhkan ---Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co