8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya? Di banyak kedai penjual makanan, lalat yang terlalu rajin ngang-ngeng, biasanya berakhir di telapak tangan atau ditapok, atau menempel ketat di kertas lem perangkap lalat. Persoalannya, bagaimana jika yang diusik bukan makanan, melainkan kebijakan publik?

Pada pertengahan September 2026, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyoroti ramainya persoalan MBG dan menyebut guru, orang tua, wartawan, serta sejumlah oknum LSM sebagai pihak yang ikut membuat isu tersebut ramai. Pernyataan itu kemudian menuai berbagai respons. Nah, sepertinya kita tahu siapa sebagai lalat-lalat ini dan siapa penjual makanannya.

Tapi kita tenang dulu, jangan buru-buru menentukan siapa yang paling benar, melainkan untuk mengajukan pertanyaan yang sebenarnya wajar saja. Mengapa dalam sebuah negara demokratis, pihak yang mengungkap persoalan kadang justru dipandang sebagai sumber persoalan? Pertanyaan ini menyeret kita kepada istilah yang sudah lama dikenal dalam filsafat, yaitu gadfly, sang lalat pengganggu.

Lalat Kecil dan Kuda Besar Athena

Gadfly bukan istilah baru dalam perdebatan tentang kekuasaan. Ia berakar pada filsafat Yunani Kuno, tepatnya pada pembelaan Socrates di hadapan pengadilan Athena. Dalam Apology, sebagaimana dicatat Plato, Socrates mengibaratkan dirinya sebagai lalat pengganggu yang ditempelkan dewa pada seekor kuda besar dan mulia. Kuda itu, karena tubuhnya yang besar, cenderung lamban dan perlu dibangunkan dengan sengatan. Socrates menganggap Athena membutuhkan dirinya untuk terus mengusik, membangunkan, dan mengingatkan warga agar tidak terlena.

Metafora ini menarik karena Socrates tidak menggambarkan dirinya sebagai penguasa yang lebih besar daripada Athena. Ia justru kecil, tidak memiliki pasukan, anggaran, atau jabatan. Senjatanya adalah pertanyaan. Ia mengusik orang-orang yang merasa sudah mengetahui apa yang baik, adil, dan benar. Bagi Socrates, kehidupan yang tidak diperiksa secara kritis, tidak layak dijalani. Karena itu, gadfly bukan sekadar pembuat gaduh, bikin ramai. Ia adalah pengusik kesadaran.

Tentu, dalam kehidupan sehari-hari, lalat tidak memiliki reputasi sebaik itu. Di kedai makanan, lalat yang hinggap di meja atau mendekati hidangan biasanya segera diusir. Kalau terlalu bandel, ya, ditepak. Tidak ada pemilik warung yang berkata, “Mari kita dengarkan dulu yuk, aspirasi lalat ini.”  Pun demikian, demokrasi tidak boleh bekerja seperti kedai yang menganggap semua yang mengganggu harus ditapok.

Ketika Kritik Dianggap sebagai Sumber Keramaian

Polemik MBG memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada satu pernyataan pejabat. Ia menyiratkan cara kekuasaan memandang kritik. Dalam pemberitaan yang memuat pernyataan Sudaryono, persoalan MBG disebut ramai karena sorotan guru, orang tua siswa, wartawan, dan sejumlah oknum LSM. Ia juga menyebut adanya nuansa ideologis dan politis dalam keramaian tersebut. Tak dapat dipungkiri, pada saat yang sama, pemberitaan lain mencatat bahwa BGN melakukan penertiban terhadap sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk penutupan dapur yang dinilai bermasalah dan rencana pemberian sanksi.

Jadi harus dipisahkan. Menilai pernyataan pejabat tidak sama dengan menolak seluruh tindakan pembenahan yang dilakukan lembaganya. Begitu pula, mengkritik pelaksanaan MBG tidak otomatis berarti menolak tujuan program tersebut. Justru di sinilah persoalan pentingnya untuk menilik, apakah kritik diperlakukan sebagai informasi yang perlu diperiksa, atau cuma sebagai gangguan yang harus dijelaskan dengan dugaan motif pengkritiknya? 

Misalnya, seorang ibu mengeluhkan anaknya mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan program. Seorang guru menyampaikan kekhawatiran karena mendengar laporan serupa. Wartawan terus memberitakan kejadian tersebut dan wajar LSM lalu meminta transparansi.

Tentu, semua laporan itu harus diverifikasi. Tidak setiap keluhan otomatis membuktikan kesalahan penyelenggara. Namun, verifikasi terhadap fakta tidak boleh digantikan oleh kecurigaan terhadap orang yang menyampaikan fakta. Pertanyaan yang semestinya muncul adalah, apa yang terjadi, di mana, kapan, bagaimana mekanisme pengawasannya, dan apa tindakan korektifnya? Bukan pada, siapa yang membuatnya jadi ramai.

Gadfly dan Demokrasi yang Tidak Mengantuk

John Stuart Mill, dalam On Liberty, memberikan alasan penting mengapa pendapat yang berlawanan perlu diberikan ruang. Ia mengingatkan bahwa, pendapat yang dibungkam mungkin saja benar. Kalaupun keliru, pendapat itu bisa juga mengandung kebenaran. Bahkan, pendapat yang benar pun punya risiko berubah menjadi dogma kosong, jika tidak pernah diuji melalui perdebatan.  Gagasan Mill ini saya kira relevan untuk memahami fungsi gadfly. Pengkritik tidak harus selalu benar agar keberadaannya berguna. Yang penting, ada ruang bagi argumennya untuk dicek. Ini yang kita butuhkan sekarang.

Jadi demokrasi, bukan cuma bikin sistem untuk memilih siapa yang bakal memerintah. Ia juga merupakan sistem yang memungkinkan keputusan publik dipertanyakan, diperdebatkan, dan dikoreksi.  Jürgen Habermas, lewat pemikirannya tentang demokrasi deliberatif dan ruang publik, menekankan pentingnya komunikasi politik yang memungkinkan masyarakat sipil memberikan feed back kepada kekuasaan.

Dalam kajiannya tentang komunikasi politik, ia menekankan, proses legitimasi demokratis membutuhkan ruang publik, media yang independen, dan masyarakat sipil yang responsif bukan yang mlempem.  Dalam kerangka itu, guru, orang tua, wartawan, dan LSM bukan sekadar aktor yang “meramaikan” persoalan. Justeru mereka merupakan bagian dari sistem sensor sosial yang membantu negara mengetahui apa-apa yang tidak selalu terlihat dari kacamata pengambil kebijakan.

Karena guru adalah yang paling mengetahui dinamika sekolah. Orang tua paham betul  soal pengalaman anak di rumah. Wartawan lalu menghubungkan peristiwa dengan pengetahuan publik. Di sisi lain LSM mengorganisasi advokasi dan pengawasan. Masing-masing memiliki keterbatasan, tetapi justru karena itulah suara mereka perlu diuji, bukan otomatis ditapok seperti lalat.

Posisi Lalat yang Pas

Namun, membela fungsi gadfly tidak berarti memberikan kekebalan kepada siapa pun yang mengaku sebagai pengkritik.  Wartawan dituntut harus memverifikasi informasi. LSM juga tetap harus transparan mengenai data dan kepentingannya. Orang tua juga perlu membedakan pengalaman pribadi dari kesimpulan umum. Guru pun perlu berhati-hati agar informasi yang belum teruji tidak bikin panik.  Jadi bukan soal kritik yang paling keras, tapi kritik yang paling dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi perlu hati-hati, untuk dapat membedakan dua hal yang sering tercampur. Kritik terhadap substansi dan penilaian terhadap motif. Jika suatu laporan ternyata keliru, bisa dibantah dengan data. Jika ada informasi palsu, bisa diluruskan dengan bukti. Jika memang terdapat kepentingan politik, bisa diungkapkan dengan jelas dan relevan. Sayangnya, dalam kasus ini, sepertinya dugaan motif jadi jalan pintas untuk menghindari pertanyaan yang memang substantif.

Fair saja, orang yang memiliki kepentingan politik pun bisa menyampaikan kritik yang benar. Sebaliknya, orang yang mengaku netral, pun bisa keliru. Jadi jelas, kebenaran sebuah laporan tidak lantas ditentukan oleh identitas atau motif orang yang menyampaikannya.

Jangan Mematikan Lalat, Periksa Mengapa Ia Datang

Pada akhirnya, persoalan MBG ini membuat kita bisa mengintip watak pelayanan publik ini. Sebuah program yang menyangkut makanan anak tidak hanya membutuhkan dapur, anggaran, dan distribusi. Ia juga membutuhkan legitimasi yang wujudnya adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak dibangun dengan meminta masyarakat berhenti bertanya. Kepercayaan tumbuh saat pertanyaan dijawab, keluhan diperiksa, kesalahan diakui, dan perbaikan dapat dilihat.

Kalau ada kritik yang keliru, pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk meluruskannya. Kalau ada kritik yang benar, pemerintah bertanggung jawab yang lebih menindaklanjutinya.  Maka, barangkali kita perlu membalik metafora tadi.  Di kedai makanan, lalat memang perlu diusir agar makanan tetap higienis. Tetapi dalam demokrasi, suara yang mengusik tidak selalu perlu diusir, kadang malahan perlu didengarkan agar kebijakan tetap sehat.

Socrates menyebut dirinya gadfly karena ia ingin Athena tidak tertidur dalam kebesarannya sendiri. Sekarang kita membutuhkan orang-orang yang berani mengingatkan bahwa program publik bukan milik pejabat, bukan pula milik lembaga pelaksana, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada warga. Tabik. [T]

Tags: makanan bergiziMBG
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Next Post

Menulis Kok Seperti Muntah?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails
Next Post
Menulis Kok Seperti Muntah?

Menulis Kok Seperti Muntah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co