30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya? Di banyak kedai penjual makanan, lalat yang terlalu rajin ngang-ngeng, biasanya berakhir di telapak tangan atau ditapok, atau menempel ketat di kertas lem perangkap lalat. Persoalannya, bagaimana jika yang diusik bukan makanan, melainkan kebijakan publik?

Pada pertengahan September 2026, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyoroti ramainya persoalan MBG dan menyebut guru, orang tua, wartawan, serta sejumlah oknum LSM sebagai pihak yang ikut membuat isu tersebut ramai. Pernyataan itu kemudian menuai berbagai respons. Nah, sepertinya kita tahu siapa sebagai lalat-lalat ini dan siapa penjual makanannya.

Tapi kita tenang dulu, jangan buru-buru menentukan siapa yang paling benar, melainkan untuk mengajukan pertanyaan yang sebenarnya wajar saja. Mengapa dalam sebuah negara demokratis, pihak yang mengungkap persoalan kadang justru dipandang sebagai sumber persoalan? Pertanyaan ini menyeret kita kepada istilah yang sudah lama dikenal dalam filsafat, yaitu gadfly, sang lalat pengganggu.

Lalat Kecil dan Kuda Besar Athena

Gadfly bukan istilah baru dalam perdebatan tentang kekuasaan. Ia berakar pada filsafat Yunani Kuno, tepatnya pada pembelaan Socrates di hadapan pengadilan Athena. Dalam Apology, sebagaimana dicatat Plato, Socrates mengibaratkan dirinya sebagai lalat pengganggu yang ditempelkan dewa pada seekor kuda besar dan mulia. Kuda itu, karena tubuhnya yang besar, cenderung lamban dan perlu dibangunkan dengan sengatan. Socrates menganggap Athena membutuhkan dirinya untuk terus mengusik, membangunkan, dan mengingatkan warga agar tidak terlena.

Metafora ini menarik karena Socrates tidak menggambarkan dirinya sebagai penguasa yang lebih besar daripada Athena. Ia justru kecil, tidak memiliki pasukan, anggaran, atau jabatan. Senjatanya adalah pertanyaan. Ia mengusik orang-orang yang merasa sudah mengetahui apa yang baik, adil, dan benar. Bagi Socrates, kehidupan yang tidak diperiksa secara kritis, tidak layak dijalani. Karena itu, gadfly bukan sekadar pembuat gaduh, bikin ramai. Ia adalah pengusik kesadaran.

Tentu, dalam kehidupan sehari-hari, lalat tidak memiliki reputasi sebaik itu. Di kedai makanan, lalat yang hinggap di meja atau mendekati hidangan biasanya segera diusir. Kalau terlalu bandel, ya, ditepak. Tidak ada pemilik warung yang berkata, “Mari kita dengarkan dulu yuk, aspirasi lalat ini.”  Pun demikian, demokrasi tidak boleh bekerja seperti kedai yang menganggap semua yang mengganggu harus ditapok.

Ketika Kritik Dianggap sebagai Sumber Keramaian

Polemik MBG memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada satu pernyataan pejabat. Ia menyiratkan cara kekuasaan memandang kritik. Dalam pemberitaan yang memuat pernyataan Sudaryono, persoalan MBG disebut ramai karena sorotan guru, orang tua siswa, wartawan, dan sejumlah oknum LSM. Ia juga menyebut adanya nuansa ideologis dan politis dalam keramaian tersebut. Tak dapat dipungkiri, pada saat yang sama, pemberitaan lain mencatat bahwa BGN melakukan penertiban terhadap sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk penutupan dapur yang dinilai bermasalah dan rencana pemberian sanksi.

Jadi harus dipisahkan. Menilai pernyataan pejabat tidak sama dengan menolak seluruh tindakan pembenahan yang dilakukan lembaganya. Begitu pula, mengkritik pelaksanaan MBG tidak otomatis berarti menolak tujuan program tersebut. Justru di sinilah persoalan pentingnya untuk menilik, apakah kritik diperlakukan sebagai informasi yang perlu diperiksa, atau cuma sebagai gangguan yang harus dijelaskan dengan dugaan motif pengkritiknya? 

Misalnya, seorang ibu mengeluhkan anaknya mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan program. Seorang guru menyampaikan kekhawatiran karena mendengar laporan serupa. Wartawan terus memberitakan kejadian tersebut dan wajar LSM lalu meminta transparansi.

Tentu, semua laporan itu harus diverifikasi. Tidak setiap keluhan otomatis membuktikan kesalahan penyelenggara. Namun, verifikasi terhadap fakta tidak boleh digantikan oleh kecurigaan terhadap orang yang menyampaikan fakta. Pertanyaan yang semestinya muncul adalah, apa yang terjadi, di mana, kapan, bagaimana mekanisme pengawasannya, dan apa tindakan korektifnya? Bukan pada, siapa yang membuatnya jadi ramai.

Gadfly dan Demokrasi yang Tidak Mengantuk

John Stuart Mill, dalam On Liberty, memberikan alasan penting mengapa pendapat yang berlawanan perlu diberikan ruang. Ia mengingatkan bahwa, pendapat yang dibungkam mungkin saja benar. Kalaupun keliru, pendapat itu bisa juga mengandung kebenaran. Bahkan, pendapat yang benar pun punya risiko berubah menjadi dogma kosong, jika tidak pernah diuji melalui perdebatan.  Gagasan Mill ini saya kira relevan untuk memahami fungsi gadfly. Pengkritik tidak harus selalu benar agar keberadaannya berguna. Yang penting, ada ruang bagi argumennya untuk dicek. Ini yang kita butuhkan sekarang.

Jadi demokrasi, bukan cuma bikin sistem untuk memilih siapa yang bakal memerintah. Ia juga merupakan sistem yang memungkinkan keputusan publik dipertanyakan, diperdebatkan, dan dikoreksi.  Jürgen Habermas, lewat pemikirannya tentang demokrasi deliberatif dan ruang publik, menekankan pentingnya komunikasi politik yang memungkinkan masyarakat sipil memberikan feed back kepada kekuasaan.

Dalam kajiannya tentang komunikasi politik, ia menekankan, proses legitimasi demokratis membutuhkan ruang publik, media yang independen, dan masyarakat sipil yang responsif bukan yang mlempem.  Dalam kerangka itu, guru, orang tua, wartawan, dan LSM bukan sekadar aktor yang “meramaikan” persoalan. Justeru mereka merupakan bagian dari sistem sensor sosial yang membantu negara mengetahui apa-apa yang tidak selalu terlihat dari kacamata pengambil kebijakan.

Karena guru adalah yang paling mengetahui dinamika sekolah. Orang tua paham betul  soal pengalaman anak di rumah. Wartawan lalu menghubungkan peristiwa dengan pengetahuan publik. Di sisi lain LSM mengorganisasi advokasi dan pengawasan. Masing-masing memiliki keterbatasan, tetapi justru karena itulah suara mereka perlu diuji, bukan otomatis ditapok seperti lalat.

Posisi Lalat yang Pas

Namun, membela fungsi gadfly tidak berarti memberikan kekebalan kepada siapa pun yang mengaku sebagai pengkritik.  Wartawan dituntut harus memverifikasi informasi. LSM juga tetap harus transparan mengenai data dan kepentingannya. Orang tua juga perlu membedakan pengalaman pribadi dari kesimpulan umum. Guru pun perlu berhati-hati agar informasi yang belum teruji tidak bikin panik.  Jadi bukan soal kritik yang paling keras, tapi kritik yang paling dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi perlu hati-hati, untuk dapat membedakan dua hal yang sering tercampur. Kritik terhadap substansi dan penilaian terhadap motif. Jika suatu laporan ternyata keliru, bisa dibantah dengan data. Jika ada informasi palsu, bisa diluruskan dengan bukti. Jika memang terdapat kepentingan politik, bisa diungkapkan dengan jelas dan relevan. Sayangnya, dalam kasus ini, sepertinya dugaan motif jadi jalan pintas untuk menghindari pertanyaan yang memang substantif.

Fair saja, orang yang memiliki kepentingan politik pun bisa menyampaikan kritik yang benar. Sebaliknya, orang yang mengaku netral, pun bisa keliru. Jadi jelas, kebenaran sebuah laporan tidak lantas ditentukan oleh identitas atau motif orang yang menyampaikannya.

Jangan Mematikan Lalat, Periksa Mengapa Ia Datang

Pada akhirnya, persoalan MBG ini membuat kita bisa mengintip watak pelayanan publik ini. Sebuah program yang menyangkut makanan anak tidak hanya membutuhkan dapur, anggaran, dan distribusi. Ia juga membutuhkan legitimasi yang wujudnya adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak dibangun dengan meminta masyarakat berhenti bertanya. Kepercayaan tumbuh saat pertanyaan dijawab, keluhan diperiksa, kesalahan diakui, dan perbaikan dapat dilihat.

Kalau ada kritik yang keliru, pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk meluruskannya. Kalau ada kritik yang benar, pemerintah bertanggung jawab yang lebih menindaklanjutinya.  Maka, barangkali kita perlu membalik metafora tadi.  Di kedai makanan, lalat memang perlu diusir agar makanan tetap higienis. Tetapi dalam demokrasi, suara yang mengusik tidak selalu perlu diusir, kadang malahan perlu didengarkan agar kebijakan tetap sehat.

Socrates menyebut dirinya gadfly karena ia ingin Athena tidak tertidur dalam kebesarannya sendiri. Sekarang kita membutuhkan orang-orang yang berani mengingatkan bahwa program publik bukan milik pejabat, bukan pula milik lembaga pelaksana, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada warga. Tabik. [T]

Tags: makanan bergiziMBG
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Next Post

Menulis Kok Seperti Muntah?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Menulis Kok Seperti Muntah?

Menulis Kok Seperti Muntah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co