BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di kamar kos ukuran 3×4 meter. Memiliki rumah sendiri masih sebatas cita-cita yang entah sampai kapan terwujud. Bagi Dara yang berusia 25 tahun, andai pun ia punya rumah, ia akan bekerja di kamarnya juga.
Sendirian bekerja di dalam kamar kos bukan sesuatu yang asing bagi Dara. Ia memang seorang introvert. Kesendirian bukan siksaan. Apalagi baru dua bulan Dara putus cinta dengan Abigail, kekasihnya. Ia menikmati pekerjaannya sendiri, bahkan sampai larut malam. Itu pun lantaran Dara juga penderita insomnia, sulit tidur awal. Bahkan Dara sering terbangun tengah malam, dan sulit untuk tidur kembali.
Dara merasa nyaman tinggal di tempat kosnya. Meski ada 15 kamar kos, namun penghuninya jarang terlihat, apalagi saling mengobrol. Semua sibuk dengan pekerjaannya, berangkat pagi pulang malam. Nyaris tak pernah Dara bercakap-cakap dengan penghuni kos lain.
Satu kelemahan yang hingga kini sulit diatasi Dara adalah ia sering tidak percaya dengan ingatannya sendiri. Dara sering lupa menaruh barang atau sesuatu yang sedang ia perlukan. Setelah dicari-cari ternyata ada di satu tempat yang menurutnya aneh, karena ia tidak merasa menaruh barang di tempat itu.
Suatu malam saat Dara baru menempati tempat kosnya, ia terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam di ponselnya, pukul 02:45. Di tengah kesadaran yang belum sepenuhnya kuat, ia mendengar suara lirih berasal dari dalam lemari tua di kamar kosnya: “Jangan tidur..”. Dara terkejut. Benarkah suara itu datang dari dalam lemari?
Dara tidak segera bergegas menuju lemari di kamarnya. Ia masih ragu dengan apa yang didengarnya. Mungkin saja ia salah dengar atau sekadar halusinasi. Sebagai seorang arsitek ia yakin betul, tak mungkin ada suara manusia dari dalam lemari. Dara mengambil segelas air putih. Meminumnya dan tidur kembali.
Malam berikutnya, Dara kembali terbangun dari tidurnya. Sama dengan malam sebelumnya, jam di ponsel menunjukkan pukul 02.45 Matanya masih terasa berat, namun ia terbangun. Terdengar kembali suara bisikan dari dalam lemari: “Jangan tidur..”. Dara merinding. Kali ini ia percaya suara itu datang dari dalam lemari.
Bukan hanya sekali. Suara dari dalam lemari itu terdengar berulang kali. Diambilnya ponsel yang ada di dekatnya. Dara mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati lemari tua itu. Dara merekam suara bisikan dari dalam lemari untuk memastikan bahwa yang ia dengar benar-benar suara manusia, bukan khayalannya. Namun sungguh mengejutkan. Ketika diputar ulang di ponselnya tidak terdengar suara apa pun.
Perasaan takut mulai berkecamuk. Kamar kos Dara mulai terasa mencekam. Dara merasa yakin betul mendengar suara itu. Tapi mengapa di rekaman ponselnya tak muncul suara apa-apa? Merasa penasaran, Dara mengecek CCTV tempat kosnya. Tidak tampak ada orang masuk.
Didorong rasa cemas dan penasaran, Dara membuka lemarinya. Betapa kaget dan merinding. Di balik pintu kamar terdapat goresan tulisan: “Keluar”. Tampak goresan itu masih baru. Padahal Dara merasa telah mengunci lemari itu setiap malam sebelum tidur. Lantas siapa yang membuat goresan tulisan itu? Bulu kuduk Dara berdiri. Ia tak dapat tidur lagi hingga pagi tiba.
***
Suasana di tempat kos mulai tidak terasa nyaman bagi Dara. Meski begitu ia tidak mau bercerita kepada tetangga kosnya. Kalau pun ia bercerita, pasti tidak ada yang percaya. Bisa saja Dara ditertawakan, atau malah dianggap memiliki kelainan jiwa. Mana mungkin ada suara manusia dari dalam lemari di era digital saat ini.
Ketakutan Dara semakin memuncak. Setelah capai bekerja seharian, Dara tertidur nyenyak. Namun pukul 02:45 Dara terbangun. Suara dari dalam lemari kian jelas dan keras terdengar. Kali ini bukan bisikan lagi, tapi suara Dara sendiri yang sedang mengobrol. Percakapan itu membicarakan tentang Dara di masa lalu. “Ingat nggak waktu kamu selingkuh dua tahun lalu?”.
Antara merinding, takut, dan geram Dara memandangi lemari itu. Bagaimana mungkin suaranya sendiri ada di dalam lemari? Lebih menjengkelkan lagi, suara itu seolah mengungkit masa lalu, ketika Dara masih menjalin hubungan dengan Abigail, dan di saat yang sama ia juga menjalin hubungan asmara dengan Erlando, seorang pengusaha muda yang menggunakan jasa arsiteknya.
Kecurigaan lain muncul pada Dara. Ia menduga apa yang ia alami selama ini ada kaitan dengan rekayasa teknologi yang dilakukan Abigail, mantan kekasihnya. Kecurigaan itu semakin menguat ketika suatu sore ia mendapat kiriman paket dari Abigail. Setelah dibuka isinya jam weker yang sudah diset pukul 02:45.
Namun kecurigaan itu belum begitu meyakinkan Dara. Mungkin saja hanya kebetulan jam weker itu diset Abigail pukul 02:45. Bisa jadi Abigail memang masih menaruh perhatian kepada Dara, sehingga mengirim paket jam weker. Atau barangkali Abigail ingin mengingatkan Dara tentang dosa masa lalunya. Ia kepergok oleh Abigail sedang berada di sebuah klub malam bersama Erlando pada pukul 02:45. Jika ini benar, tentu saja Dara dongkol dengan ulah Abigail yang seolah dendam pada perselingkuhannya.
Dengan menahan ketakutan dan kejengkelannya Dara menemui ibu kos. Ia menceritakan apa yang dialaminya, teror suara dari dalam lemari di kamarnya. Dara terkejut dan sedikit lemas ketika ibu kos bercerita tentang peristiwa yang terjadi di tempat kos itu sepuluh tahun silam.
“Dulu di kamar itu ada mahasiswi yang tewas misterius. Mayatnya ditemukan di dalam lemari pada pukul 02:45,” kata ibu kos dengan wajah ketakutan.
Tentu saja Dara terkejut. Benarkah suara yang keluar dari dalam lemari adalah hantu penghuni kos yang tewas misterius itu? Mengapa ibu kos tidak menceritakannya sejak awal? Ditatapnya lemari tua itu sambil membayangkan wajah mahasiswi yang tewas di dalam lemari. Agak sedikit merinding.
Dara mencoba menggunakan akal sehatnya. Memang banyak film horor yang bercerita tentang arwah penasaran. Namun secara logika apakah mungkin orang yang sudah meninggal dapat berbicara di tempat ia ditemukan menghembuskan napas terakhirnya? Dara mulai labil dan emosional.
Diterpa rasa takut dan penasaran, Dara sengaja tidak tidur semalam. Ia ingin membuktikan sendiri tentang cerita ibu kos itu. Dara membuka lemari pada pukul 02:43. Kosong. Ia tidak menemukan atau melihat sosok apa pun. Namun tepat pukul 02:45 tiba-tiba pintu lemari menutup sendiri. Terdengar hembusan napas dari dalam lemari.
Dara mundur selangkah. Keringat dingin ia rasakan mengalir dari keningnya. Bergegas ia minum segelas air putih, lalu rebahan di ranjang. Matanya tak dapat ia pejamkan. Dadanya berdegup kencang. Malam yang melelahkan dan menyeramkan bagi Dara.
***
Kehidupan Dara mulai tak teratur. Kadang ia bisa tidak tidur semalaman. Hanya memikirkan suara dari dalam lemari. Bahkan kadang ia baru tidur setelah pukul 02:45, menunggu datangnya suara dari lemari. Dara menjadi semakin insomnia. Tenaga dan pikirannya banyak terkuras di kamar kosnya. Padahal ia harus mengerjakan banyak pesanan desain rumah dari rekan bisnisnya.
Dara mencoba mendatangi psikolog untuk berkonsultasi. Hasilnya semakin membuat ia bingung. Dara didiagnosis mengalami Dissociative Identity Disorder, kondisi kesehatan mental kompleks di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian atau identitas berbeda yang mengendalikan tubuh secara bergantian. Itu terjadi karena trauma putus cinta dan bekerja yang berlebihan.
“Suara di lemari itu alter ego kamu. Alter ego itu muncul setiap pukul 02:45, karena pada waktu itu kamu ketahuan selingkuh, sehingga menimbulkan trauma,” ujar psikilog membuat Dara tak tahu harus berbuat apa.
“Upaya sementara yang dapat kamu coba lakukan, pindah kos ke tempat yang lebih nyaman, yang tidak mengundang persepsi traumatis. Coba pindah ke apartemen,” saran psikolog.
Dara memutuskan untuk mengikuti saran psikolog itu. Ia berencana untuk pindah kos ke apartemen yang dekat dengan pusat perdagangan. Namun Dara dibuat terkejut. Seorang tukang yang membantu mengemas barang-barang untuk pindah ke apartemen menemukan tulisan di tembok belakang lemari: “ Aku di sini sebelum kamu ada”. Tulisan itu sudah kusam, seperti ditulis beberapa tahun lalu.
Tekad Dara untuk segera pindah ke apartemen semakin kuat. Ia ingin segera meninggalkan tempat yang penuh teror terhadapnya. Dara menempati kamar di lantai 2 apartemen. Kamarnya lebih lebar dari kamar kos yang menakutkan itu. Perabotan di apartemen juga masih baru semua. Meski harga sewa kamar di apartemen lebih mahal dari kamar kos, tapi Dara merasa lebih nyaman.
Seminggu menempati kamar di apartemen Dara bisa tidur nyenyak. Beberapa pekerjaannya juga dapat diselesaikan tepat waktu. Saran psikilog agar Dara pindah ke apartemen tampaknya benar. Dara kembali stabil dan tidak lagi emosional. Ia memang ingin melupakan semua peristiwa yang ia alami di kamar kosnya.
Hingga suatu malam, Dara terbangun tepat pukul 02:45. Terdengar pelan suara ketukan dari dalam lemari apartemennya. Tok..tok.. tok.. Suara itu terdengar jelas di telinga Dara, meski pelan. Kemudian ia mendengar suaranya sendiri dari dalam lemari: “Hai Dara.. kangen..?”.
Dara tertegun. Diam agak lama. Mendadak merinding. Ia tak dapat menyembunyikan ketakutannya. Cermin di lemari itu tampak berembun. Dara mencubit lengannya sendiri. Sakit ia rasakan. Ini bukan mimpi, kata Dara dalam hati. Lalu ia ingin menangis. Ingin mengeluh dan mengadu pada seseorang.[T]


























