- Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye
Teruslah bodoh, jangan pintar,
sebab negeri ini menyukai kepala
yang mudah mengangguk
dan punggung yang mudah membungkuk.
Jika gunung dibelah,
katakan itu pembangunan.
Jika hutan digunduli,
sebut saja pertumbuhan.
Jika tanah rakyat dirampas,
percayalah
mereka sedang dibebaskan
dari beban kepemilikan.
Di ruang persidangan itu,
keadilan duduk paling belakang.
Kursinya reyot,
pakaiannya lusuh,
dan suaranya berkali-kali dipotong
oleh ketukan palu
yang telah hafal
siapa tuannya.
Di hadapannya,
sebuah perusahaan tambang
datang dengan jas paling mahal,
pengacara paling fasih,
dan dosa-dosa
yang telah disetrika rapi.
Para aktivis membawa luka,
mereka membawa tanah berlubang,
paru-paru pekerja,
air sungai yang kehilangan kejernihan,
serta nama-nama korban
yang tak pernah masuk laporan tahunan.
Tetapi kesaksian orang kecil
memang terlalu lirih
bagi telinga kekuasaan
yang disumbat lembaran uang.
Satu demi satu saksi berdiri.
Mereka mengisahkan rumah yang retak,
keluarga yang tercerai,
lubang tambang yang menganga,
dan maut yang dibiarkan
menunggu anak-anak pulang bermain.
Namun hukum sedang sibuk
menghitung keuntungan.
Hukum tidak buta.
Ia melihat semuanya dengan terang.
Hanya saja,
ia tahu kepada siapa
matanya harus dipejamkan.
Tere Liye membangun novel ini
seperti ruang sidang panjang
yang pengap dan menyesakkan.
Lebih dari sebulan perkara bergulir,
kesaksian membuka lapis demi lapis kejahatan,
sementara pembaca dipaksa duduk
sebagai juri
yang sejak awal telah mengetahui
siapa bakal memenangkan perkara.
Alurnya sederhana,
tetapi kesederhanaan itu
menyimpan kemarahan.
Kita tidak dibawa berlari
dari satu kota ke kota lain.
Kita hanya diajak menyaksikan
betapa satu ruangan
dapat memuat seluruh kebusukan negeri.
Ada korupsi.
Ada suap.
Ada tambang ilegal.
Ada pekerja yang dikorbankan.
Ada pejabat yang menjual tanda tangan.
Ada pembangunan
yang terlalu sering meminta rakyat
menjadi tumbalnya.
Semua terasa fiksi,
sampai kita membuka berita pagi
dan menemukan
tokoh-tokohnya berganti nama.
Novel ini tidak menawarkan
pahlawan berkuda putih.
Para pembela lingkungan bergerak
dengan tenaga dan dana seadanya,
sedangkan lawannya memiliki
modal, kuasa, hukum,
bahkan pintu belakang istana.
Perlawanan mereka kadang terasa
kurang meledak,
kurang menghantam,
seolah kemarahan masih ditahan
di bawah meja persidangan.
Tetapi mungkin justru di sanalah
kepedihan novel ini bekerja.
Orang-orang baik bukan tidak berani.
Mereka hanya sedang melawan raksasa
yang memelihara hakim,
membayar penjaga,
dan menulis sendiri
aturan permainannya.
Kemenangan pun jatuh
kepada mereka yang sejak awal
telah membeli garis akhir.
Jangan terkejut.
Di negeri yang tambangnya lebih berharga
daripada nyawa manusia,
kebenaran memang sering kalah
bukan kehilangan bukti,
melainkan karena tidak memiliki rekening
sebesar milik lawannya.
Lalu novel ini berbisik
dengan suara yang lebih tajam
daripada teriakan:
Teruslah bodoh, jangan pintar.
Sebab orang bodoh
tidak akan bertanya
mengapa sungai menghitam.
Orang bodoh
tidak akan menghitung
berapa nyawa terkubur
di bawah laba perusahaan.
Orang bodoh
tidak akan memeriksa
mengapa pejabat mendadak kaya
setelah menandatangani izin.
Orang bodoh akan selamat.
Ia cukup menunduk,
menerima sembako,
bertepuk tangan,
lalu pulang membawa keyakinan
bahwa semua baik-baik saja.
Sebaliknya,
orang pintar bisa hancur lebur.
Judul buku ini bukan nasihat.
Ia tamparan.
Bukan ajakan memelihara kebodohan,
melainkan gugatan kepada sistem
yang menghukum orang-orang sadar
dan memberi karpet merah
kepada penjahat berwajah sabar.
Tere Liye sedang berkata
bahwa di bawah kekuasaan
serigala berbulu domba,
kepintaran bukan sekadar kemampuan berpikir.
Kepintaran adalah keberanian
menolak lupa.
Membaca novel ini
seperti menelan bara.
Marah, sedih, kecewa,
namun sulit berhenti
sebelum halaman terakhir.
Plot twist pada ujung cerita
memang memberi kejutan,
tetapi bukan kebahagiaan.
Ia lebih menyerupai pintu darurat
yang dibuka
setelah seluruh gedung
telanjur terbakar.
Buku ini selesai dibaca,
tetapi persoalannya
tidak selesai ditutup.
Lubang tambang masih menganga.
Modal masih pandai menyamar
sebagai pembangunan.
Kuasa masih rajin berpidato
tentang kesejahteraan
di atas tanah orang-orang
yang telah kehilangan rumah.
Maka teruslah bodoh,
jika keselamatan berarti
hidup tanpa suara.
Teruslah bodoh,
jika kepintaran hanya dipakai
menghitung laba
dan melupakan manusia.
Namun jika nurani
masih mempunyai denyut,
bukalah buku ini.
Bacalah setiap kesaksian.
Dengarkan setiap korban.
Lalu putuskan sendiri:
akan menjadi bodoh
agar selamat seorang diri,
atau menjadi pintar
meski harus berdiri
di pihak yang terkebiri.
sebab terkadang,
lebih mulia hancur bersama kebenaran
daripada hidup utuh
sebagai pelayan kejahatan.
Malang, 11 September 2026
Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole




























