2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
in Puisi
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
  • Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye

Teruslah bodoh, jangan pintar,
sebab negeri ini menyukai kepala
yang mudah mengangguk
dan punggung yang mudah membungkuk.

Jika gunung dibelah,
katakan itu pembangunan.
Jika hutan digunduli,
sebut saja pertumbuhan.
Jika tanah rakyat dirampas,
percayalah
mereka sedang dibebaskan
dari beban kepemilikan.

Di ruang persidangan itu,
keadilan duduk paling belakang.
Kursinya reyot,
pakaiannya lusuh,
dan suaranya berkali-kali dipotong
oleh ketukan palu
yang telah hafal
siapa tuannya.

Di hadapannya,
sebuah perusahaan tambang
datang dengan jas paling mahal,
pengacara paling fasih,
dan dosa-dosa
yang telah disetrika rapi.

Para aktivis membawa luka,
mereka membawa tanah berlubang,
paru-paru pekerja,
air sungai yang kehilangan kejernihan,
serta nama-nama korban
yang tak pernah masuk laporan tahunan.

Tetapi kesaksian orang kecil
memang terlalu lirih
bagi telinga kekuasaan
yang disumbat lembaran uang.

Satu demi satu saksi berdiri.
Mereka mengisahkan rumah yang retak,
keluarga yang tercerai,
lubang tambang yang menganga,
dan maut yang dibiarkan
menunggu anak-anak pulang bermain.

Namun hukum sedang sibuk
menghitung keuntungan.

Hukum tidak buta.
Ia melihat semuanya dengan terang.
Hanya saja,
ia tahu kepada siapa
matanya harus dipejamkan.

Tere Liye membangun novel ini
seperti ruang sidang panjang
yang pengap dan menyesakkan.
Lebih dari sebulan perkara bergulir,
kesaksian membuka lapis demi lapis kejahatan,
sementara pembaca dipaksa duduk
sebagai juri
yang sejak awal telah mengetahui
siapa bakal memenangkan perkara.

Alurnya sederhana,
tetapi kesederhanaan itu
menyimpan kemarahan.

Kita tidak dibawa berlari
dari satu kota ke kota lain.
Kita hanya diajak menyaksikan
betapa satu ruangan
dapat memuat seluruh kebusukan negeri.

Ada korupsi.
Ada suap.
Ada tambang ilegal.
Ada pekerja yang dikorbankan.
Ada pejabat yang menjual tanda tangan.
Ada pembangunan
yang terlalu sering meminta rakyat
menjadi tumbalnya.

Semua terasa fiksi,
sampai kita membuka berita pagi
dan menemukan
tokoh-tokohnya berganti nama.

Novel ini tidak menawarkan
pahlawan berkuda putih.
Para pembela lingkungan bergerak
dengan tenaga dan dana seadanya,
sedangkan lawannya memiliki
modal, kuasa, hukum,
bahkan pintu belakang istana.

Perlawanan mereka kadang terasa
kurang meledak,
kurang menghantam,
seolah kemarahan masih ditahan
di bawah meja persidangan.

Tetapi mungkin justru di sanalah
kepedihan novel ini bekerja.
Orang-orang baik bukan tidak berani.
Mereka hanya sedang melawan raksasa
yang memelihara hakim,
membayar penjaga,
dan menulis sendiri
aturan permainannya.

Kemenangan pun jatuh
kepada mereka yang sejak awal
telah membeli garis akhir.

Jangan terkejut.

Di negeri yang tambangnya lebih berharga
daripada nyawa manusia,
kebenaran memang sering kalah
bukan kehilangan bukti,
melainkan karena tidak memiliki rekening
sebesar milik lawannya.

Lalu novel ini berbisik
dengan suara yang lebih tajam
daripada teriakan:

Teruslah bodoh, jangan pintar.

Sebab orang bodoh
tidak akan bertanya
mengapa sungai menghitam.

Orang bodoh
tidak akan menghitung
berapa nyawa terkubur
di bawah laba perusahaan.

Orang bodoh
tidak akan memeriksa
mengapa pejabat mendadak kaya
setelah menandatangani izin.

Orang bodoh akan selamat.
Ia cukup menunduk,
menerima sembako,
bertepuk tangan,
lalu pulang membawa keyakinan
bahwa semua baik-baik saja.

Sebaliknya,
orang pintar bisa hancur lebur.

Judul buku ini bukan nasihat.
Ia tamparan.

Bukan ajakan memelihara kebodohan,
melainkan gugatan kepada sistem
yang menghukum orang-orang sadar
dan memberi karpet merah
kepada penjahat berwajah sabar.

Tere Liye sedang berkata
bahwa di bawah kekuasaan
serigala berbulu domba,
kepintaran bukan sekadar kemampuan berpikir.

Kepintaran adalah keberanian
menolak lupa.

Membaca novel ini
seperti menelan bara.
Marah, sedih, kecewa,
namun sulit berhenti
sebelum halaman terakhir.

Plot twist pada ujung cerita
memang memberi kejutan,
tetapi bukan kebahagiaan.
Ia lebih menyerupai pintu darurat
yang dibuka
setelah seluruh gedung
telanjur terbakar.

Buku ini selesai dibaca,
tetapi persoalannya
tidak selesai ditutup.

Lubang tambang masih menganga.
Modal masih pandai menyamar
sebagai pembangunan.
Kuasa masih rajin berpidato
tentang kesejahteraan
di atas tanah orang-orang
yang telah kehilangan rumah.

Maka teruslah bodoh,
jika keselamatan berarti
hidup tanpa suara.

Teruslah bodoh,
jika kepintaran hanya dipakai
menghitung laba
dan melupakan manusia.

Namun jika nurani
masih mempunyai denyut,
bukalah buku ini.

Bacalah setiap kesaksian.
Dengarkan setiap korban.
Lalu putuskan sendiri:

akan menjadi bodoh
agar selamat seorang diri,

atau menjadi pintar
meski harus berdiri
di pihak yang terkebiri.
sebab terkadang,
lebih mulia hancur bersama kebenaran
daripada hidup utuh
sebagai pelayan kejahatan.

Malang, 11 September 2026

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Next Post

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co