21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 30, 2026
in Esai
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

I Gusti Ngurah Darmawan dan I Gusti Ayu Kade Surayati | Foto: Istimewa

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāya
navāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |
tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny
anyāni saṃyāti navāni dehī ||

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,  seseoran memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” (Anand Krishna, Bhagavad Gita, Transkreasi Baru untuk Zaman Baru)

Senin, 28 September 2026, Genah Pengabenan Santha Swarga Setra Badung menjadi saksi sebuah peristiwa yang sederhana, tetapi menyimpan renungan yang dalam. Sepasang suami-istri menjalani upacara pengabenan pada hari dan jam yang sama. Keduanya telah menempuh kehidupan sebagai pasangan, berbagi suka dan duka, membangun keluarga, melewati waktu, dan akhirnya sampai pada satu gerbang yang pasti akan dilewati setiap manusia: kematian.

Perjalanan ke Rumah Sakit juga cukup unik. Selasa 22 September 2026, sang suami diantar ke rumah sakit karena kondisi kesehatan menurun, lalu besoknya disusul sang istri. Padahal Senin 17 Agustus 2026, masih mampu menyaksikan pernikahan cucu pertama di Jero Kaje Kangin Peliatan Ubud. Sang suami meninggalkan baju badan 24 September 2026, dan dibawa ke Jero di Jalan Tunjung Tutur, 27 September 2026, sambil menunggu jadwal pengabenan Senin 28 September 2026, pukul 11 siang. Sementara sang istri masih dalam keadaan kritis di rumah sakit. Namun saat hari Pengabenan, sekitar 02.43 sang istri menyusul kepergian sang suami sekaligus menyusul keberangkatan sang suami ke genah pengabenan Santha Swarga Setra Badung. Dua jalan berbeda , namun menuju satu tujuan Setra Badung. Sang suami berangkat dari Jero Tunjung Tutur, sang istri dari RS Wangaya.

Kita sering mendengar ungkapan “sehidup semati”. Biasanya ia digunakan sebagai ungkapan romantis untuk menggambarkan kesetiaan sepasang kekasih atau suami-istri. Namun hari itu, ungkapan tersebut terasa memperoleh makna yang jauh lebih nyata. Mereka benar-benar sehidup semati. Hidup bersama sebagai pasangan, dan ketika tubuh harus dikembalikan kepada alam, keduanya mendapat kesempatan menjalani upacara pelepasan pada hari yang sama.

Ada sesuatu yang menggetarkan dari kenyataan itu. Bukan karena kematian harus dianggap romantis, apalagi karena kesedihan keluarga menjadi sesuatu yang harus disembunyikan. Kematian tetap menghadirkan kehilangan. Rumah yang dahulu dihuni bersama mungkin tiba-tiba terasa sunyi. Suara yang biasa terdengar setiap hari tidak lagi ada. Namun di balik kesedihan itu terdapat sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: sebenarnya apakah yang mati?

Dalam pandangan Sanātana Dharma, pertanyaan tersebut membawa kita melampaui tubuh. Manusia memang mengalami kelahiran, pertumbuhan, usia tua, penyakit, dan kematian melalui tubuh. Akan tetapi, tubuh bukan keseluruhan keberadaan manusia. Bhagavad Gītā menggambarkan tubuh seperti pakaian yang pada waktunya menjadi usang dan ditinggalkan oleh penggunanya.

Kematian Bukan Akhir

Bhagavad Gītā 2.22 memberikan perumpamaan yang sangat indah. “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,  seseoran memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” (Anand Krishna, Bhagavad Gita, Transkreasi Baru untuk Zaman Baru)

Kematian, dengan demikian, tidak dipandang sebagai kehancuran keberadaan, melainkan sebagai perubahan keadaan. Perumpamaan pakaian itu sederhana, tetapi kedalamannya luar biasa. Kita tidak pernah mengatakan bahwa seseorang “mati” hanya karena ia mengganti pakaian. Yang berubah hanyalah pakaian. Demikian pula tubuh dapat dipandang sebagai pakaian bagi Jiwa. Tubuh lahir, tumbuh, mengalami perubahan, kemudian kembali kepada unsur-unsur alam. Jiwa tidak mengalami kelahiran dan kematian seperti tubuh.

Tentu saja, mengatakan bahwa kematian hanyalah “melepas baju” tidak berarti kita boleh menganggap kematian sebagai sesuatu yang ringan. Bagi manusia yang masih menjalani kehidupan, kehilangan pasangan, orang tua, anak, atau sahabat tetap merupakan pengalaman yang sangat dalam. Air mata adalah bagian dari kemanusiaan. Pelepasan bukan berarti tidak mencintai; justru karena mencintai, kita belajar melepaskan.

Di sinilah ngaben memiliki makna simbolis yang sangat kuat. Api bukan sekadar membakar jasad. Ia mengingatkan bahwa tubuh pada akhirnya kembali kepada alam. Apa yang selama hidup kita sebut “tubuhku” ternyata tidak pernah benar-benar menjadi milik kita selamanya. Kita hanya menggunakannya untuk menjalani sebuah bagian perjalanan.

Jika direnungkan melalui Pancamaya Kosha, tubuh fisik atau annamaya kosha hanyalah salah satu lapisan keberadaan manusia. Di dalam pengalaman manusia terdapat pula pranamaya kosha, manomaya kosha, vijñānamaya kosha, dan ānandamaya kosha. Kelima lapisan tersebut memberikan gambaran bahwa manusia tidak cukup dipahami hanya dari aspek jasmaninya.

Kematian jasmani karena itu dapat menjadi undangan untuk bertanya lebih jauh tentang siapa sebenarnya “aku”. Selama hidup kita sering mengatakan rumahku, tubuhku, pikiranku, perasaanku, pekerjaanku, keluargaku, bahkan kehidupanku. Tetapi siapakah yang mengatakan “milikku” itu? Pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar identitas menuju kesadaran.

Melepaskan, Bukan Kehilangan

Mungkin di sinilah makna terdalam dari “sehidup semati”. Ia bukan semata-mata keinginan untuk mati bersama pasangan. Ia adalah gambaran tentang dua manusia yang selama hidup saling menemani, tetapi pada akhirnya masing-masing harus menjalani perjalanan batinnya sendiri. Cinta dapat menemani seseorang sampai batas tertentu, tetapi perjalanan kesadaran tetap bersifat personal.

Suami tidak dapat menggantikan perjalanan istrinya. Istri tidak dapat menggantikan perjalanan suaminya. Bahkan orang tua tidak dapat menjalani perjalanan anaknya. Pada akhirnya setiap manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Kita lahir dengan tubuh masing-masing, menjalani pengalaman masing-masing, membawa kecenderungan dan pembelajaran masing-masing, lalu meninggalkan tubuh pada waktunya.

Namun Sanātana Dharma juga tidak mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia menjadi tidak berarti. Sebaliknya, hubungan merupakan bagian penting dari perjalanan kesadaran. Cinta, pelayanan, pengorbanan, kesetiaan, dan kasih sayang dapat menjadi sarana untuk melampaui ego. Ketika seseorang mencintai tanpa memiliki secara berlebihan, ia sedang belajar melepaskan keterikatan tanpa kehilangan kasih.

Karena itu, pasangan yang diaben pada hari yang sama dapat kita pandang bukan hanya sebagai kisah tentang kematian, tetapi juga sebagai cermin kehidupan. Mereka mengingatkan kita bahwa waktu bersama sangat terbatas. Kita tidak pernah tahu kapan perjumpaan terakhir dengan seseorang. Karena itu, jangan menunggu kematian untuk menyadari nilai sebuah kebersamaan.

Ada kalanya manusia terlalu sibuk mempertahankan siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang lebih berjasa, siapa yang lebih banyak memberi, atau siapa yang lebih berhak mendapatkan sesuatu. Padahal pada akhirnya semua itu akan ditinggalkan. Yang tersisa bukan jabatan, harta, popularitas, atau kemenangan dalam perdebatan. Yang lebih penting adalah kualitas kesadaran yang kita bangun selama mengenakan “pakaian” kehidupan ini.

Maka kematian sesungguhnya dapat menjadi guru yang sangat jujur. Ia tidak membedakan kaya dan miskin, terkenal dan tidak terkenal, berkuasa dan tidak berkuasa. Ia mengingatkan bahwa tubuh memiliki batas. Waktu memiliki batas. Pertemuan memiliki batas. Justru karena semuanya terbatas, kehidupan menjadi berharga.

Karena itu, “sehidup semati” tidak perlu dimaknai secara harfiah sebagai keharusan meninggal bersamaan. Makna yang lebih dalam adalah kesediaan menjalani kehidupan bersama dengan penuh kesadaran, lalu ketika saat pelepasan tiba, mampu menyerahkan apa yang memang harus dikembalikan kepada alam.

Pada akhirnya, kita semua sedang mengenakan pakaian yang berbeda-beda. Ada yang disebut tubuh, keluarga, profesi, status sosial, bahkan identitas yang kita bangun sepanjang hidup. Suatu hari pakaian itu akan dilepas. Yang menjadi pertanyaan bukan berapa mahal pakaian itu, tetapi apa yang kita lakukan ketika mengenakannya.

Pengabenan sepasang suami-istri di Setra Badung pada 28 September 2026 seolah meninggalkan sebuah pesan tanpa kata-kata: kehidupan adalah kesempatan untuk mencintai, melayani, belajar dan menyadari. Kematian bukan alasan untuk berhenti mencintai. Ia justru mengingatkan kita untuk belajar mencintai namun tanpa keterikatan, karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan pakaian ini harus dilepas.

Sehidup semati, pada akhirnya, bukan tentang mati bersama. Ia tentang hidup bersama dalam suka dan duka, dan ketika waktunya tiba, mampu melepaskan dengan penuh keikhlasan.

Selamat jalan Aji I Gusti  Ngurah Darmawan dan Ibu I Gusti Ayu Kade Surayati. Sadgati Praptir Astu, Semoga Sang Jiwa melanjutkan perjalanan dalam Damai menuju Kemuliaan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

Next Post

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co