30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 30, 2026
in Esai
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

I Gusti Ngurah Darmawan dan I Gusti Ayu Kade Surayati | Foto: Istimewa

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāya
navāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |
tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny
anyāni saṃyāti navāni dehī ||

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,  seseoran memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” (Anand Krishna, Bhagavad Gita, Transkreasi Baru untuk Zaman Baru)

Senin, 28 September 2026, Genah Pengabenan Santha Swarga Setra Badung menjadi saksi sebuah peristiwa yang sederhana, tetapi menyimpan renungan yang dalam. Sepasang suami-istri menjalani upacara pengabenan pada hari dan jam yang sama. Keduanya telah menempuh kehidupan sebagai pasangan, berbagi suka dan duka, membangun keluarga, melewati waktu, dan akhirnya sampai pada satu gerbang yang pasti akan dilewati setiap manusia: kematian.

Perjalanan ke Rumah Sakit juga cukup unik. Selasa 22 September 2026, sang suami diantar ke rumah sakit karena kondisi kesehatan menurun, lalu besoknya disusul sang istri. Padahal Senin 17 Agustus 2026, masih mampu menyaksikan pernikahan cucu pertama di Jero Kaje Kangin Peliatan Ubud. Sang suami meninggalkan baju badan 24 September 2026, dan dibawa ke Jero di Jalan Tunjung Tutur, 27 September 2026, sambil menunggu jadwal pengabenan Senin 28 September 2026, pukul 11 siang. Sementara sang istri masih dalam keadaan kritis di rumah sakit. Namun saat hari Pengabenan, sekitar 02.43 sang istri menyusul kepergian sang suami sekaligus menyusul keberangkatan sang suami ke genah pengabenan Santha Swarga Setra Badung. Dua jalan berbeda , namun menuju satu tujuan Setra Badung. Sang suami berangkat dari Jero Tunjung Tutur, sang istri dari RS Wangaya.

Kita sering mendengar ungkapan “sehidup semati”. Biasanya ia digunakan sebagai ungkapan romantis untuk menggambarkan kesetiaan sepasang kekasih atau suami-istri. Namun hari itu, ungkapan tersebut terasa memperoleh makna yang jauh lebih nyata. Mereka benar-benar sehidup semati. Hidup bersama sebagai pasangan, dan ketika tubuh harus dikembalikan kepada alam, keduanya mendapat kesempatan menjalani upacara pelepasan pada hari yang sama.

Ada sesuatu yang menggetarkan dari kenyataan itu. Bukan karena kematian harus dianggap romantis, apalagi karena kesedihan keluarga menjadi sesuatu yang harus disembunyikan. Kematian tetap menghadirkan kehilangan. Rumah yang dahulu dihuni bersama mungkin tiba-tiba terasa sunyi. Suara yang biasa terdengar setiap hari tidak lagi ada. Namun di balik kesedihan itu terdapat sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: sebenarnya apakah yang mati?

Dalam pandangan Sanātana Dharma, pertanyaan tersebut membawa kita melampaui tubuh. Manusia memang mengalami kelahiran, pertumbuhan, usia tua, penyakit, dan kematian melalui tubuh. Akan tetapi, tubuh bukan keseluruhan keberadaan manusia. Bhagavad Gītā menggambarkan tubuh seperti pakaian yang pada waktunya menjadi usang dan ditinggalkan oleh penggunanya.

Kematian Bukan Akhir

Bhagavad Gītā 2.22 memberikan perumpamaan yang sangat indah. “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,  seseoran memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” (Anand Krishna, Bhagavad Gita, Transkreasi Baru untuk Zaman Baru)

Kematian, dengan demikian, tidak dipandang sebagai kehancuran keberadaan, melainkan sebagai perubahan keadaan. Perumpamaan pakaian itu sederhana, tetapi kedalamannya luar biasa. Kita tidak pernah mengatakan bahwa seseorang “mati” hanya karena ia mengganti pakaian. Yang berubah hanyalah pakaian. Demikian pula tubuh dapat dipandang sebagai pakaian bagi Jiwa. Tubuh lahir, tumbuh, mengalami perubahan, kemudian kembali kepada unsur-unsur alam. Jiwa tidak mengalami kelahiran dan kematian seperti tubuh.

Tentu saja, mengatakan bahwa kematian hanyalah “melepas baju” tidak berarti kita boleh menganggap kematian sebagai sesuatu yang ringan. Bagi manusia yang masih menjalani kehidupan, kehilangan pasangan, orang tua, anak, atau sahabat tetap merupakan pengalaman yang sangat dalam. Air mata adalah bagian dari kemanusiaan. Pelepasan bukan berarti tidak mencintai; justru karena mencintai, kita belajar melepaskan.

Di sinilah ngaben memiliki makna simbolis yang sangat kuat. Api bukan sekadar membakar jasad. Ia mengingatkan bahwa tubuh pada akhirnya kembali kepada alam. Apa yang selama hidup kita sebut “tubuhku” ternyata tidak pernah benar-benar menjadi milik kita selamanya. Kita hanya menggunakannya untuk menjalani sebuah bagian perjalanan.

Jika direnungkan melalui Pancamaya Kosha, tubuh fisik atau annamaya kosha hanyalah salah satu lapisan keberadaan manusia. Di dalam pengalaman manusia terdapat pula pranamaya kosha, manomaya kosha, vijñānamaya kosha, dan ānandamaya kosha. Kelima lapisan tersebut memberikan gambaran bahwa manusia tidak cukup dipahami hanya dari aspek jasmaninya.

Kematian jasmani karena itu dapat menjadi undangan untuk bertanya lebih jauh tentang siapa sebenarnya “aku”. Selama hidup kita sering mengatakan rumahku, tubuhku, pikiranku, perasaanku, pekerjaanku, keluargaku, bahkan kehidupanku. Tetapi siapakah yang mengatakan “milikku” itu? Pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar identitas menuju kesadaran.

Melepaskan, Bukan Kehilangan

Mungkin di sinilah makna terdalam dari “sehidup semati”. Ia bukan semata-mata keinginan untuk mati bersama pasangan. Ia adalah gambaran tentang dua manusia yang selama hidup saling menemani, tetapi pada akhirnya masing-masing harus menjalani perjalanan batinnya sendiri. Cinta dapat menemani seseorang sampai batas tertentu, tetapi perjalanan kesadaran tetap bersifat personal.

Suami tidak dapat menggantikan perjalanan istrinya. Istri tidak dapat menggantikan perjalanan suaminya. Bahkan orang tua tidak dapat menjalani perjalanan anaknya. Pada akhirnya setiap manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Kita lahir dengan tubuh masing-masing, menjalani pengalaman masing-masing, membawa kecenderungan dan pembelajaran masing-masing, lalu meninggalkan tubuh pada waktunya.

Namun Sanātana Dharma juga tidak mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia menjadi tidak berarti. Sebaliknya, hubungan merupakan bagian penting dari perjalanan kesadaran. Cinta, pelayanan, pengorbanan, kesetiaan, dan kasih sayang dapat menjadi sarana untuk melampaui ego. Ketika seseorang mencintai tanpa memiliki secara berlebihan, ia sedang belajar melepaskan keterikatan tanpa kehilangan kasih.

Karena itu, pasangan yang diaben pada hari yang sama dapat kita pandang bukan hanya sebagai kisah tentang kematian, tetapi juga sebagai cermin kehidupan. Mereka mengingatkan kita bahwa waktu bersama sangat terbatas. Kita tidak pernah tahu kapan perjumpaan terakhir dengan seseorang. Karena itu, jangan menunggu kematian untuk menyadari nilai sebuah kebersamaan.

Ada kalanya manusia terlalu sibuk mempertahankan siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang lebih berjasa, siapa yang lebih banyak memberi, atau siapa yang lebih berhak mendapatkan sesuatu. Padahal pada akhirnya semua itu akan ditinggalkan. Yang tersisa bukan jabatan, harta, popularitas, atau kemenangan dalam perdebatan. Yang lebih penting adalah kualitas kesadaran yang kita bangun selama mengenakan “pakaian” kehidupan ini.

Maka kematian sesungguhnya dapat menjadi guru yang sangat jujur. Ia tidak membedakan kaya dan miskin, terkenal dan tidak terkenal, berkuasa dan tidak berkuasa. Ia mengingatkan bahwa tubuh memiliki batas. Waktu memiliki batas. Pertemuan memiliki batas. Justru karena semuanya terbatas, kehidupan menjadi berharga.

Karena itu, “sehidup semati” tidak perlu dimaknai secara harfiah sebagai keharusan meninggal bersamaan. Makna yang lebih dalam adalah kesediaan menjalani kehidupan bersama dengan penuh kesadaran, lalu ketika saat pelepasan tiba, mampu menyerahkan apa yang memang harus dikembalikan kepada alam.

Pada akhirnya, kita semua sedang mengenakan pakaian yang berbeda-beda. Ada yang disebut tubuh, keluarga, profesi, status sosial, bahkan identitas yang kita bangun sepanjang hidup. Suatu hari pakaian itu akan dilepas. Yang menjadi pertanyaan bukan berapa mahal pakaian itu, tetapi apa yang kita lakukan ketika mengenakannya.

Pengabenan sepasang suami-istri di Setra Badung pada 28 September 2026 seolah meninggalkan sebuah pesan tanpa kata-kata: kehidupan adalah kesempatan untuk mencintai, melayani, belajar dan menyadari. Kematian bukan alasan untuk berhenti mencintai. Ia justru mengingatkan kita untuk belajar mencintai namun tanpa keterikatan, karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan pakaian ini harus dilepas.

Sehidup semati, pada akhirnya, bukan tentang mati bersama. Ia tentang hidup bersama dalam suka dan duka, dan ketika waktunya tiba, mampu melepaskan dengan penuh keikhlasan.

Selamat jalan Aji I Gusti  Ngurah Darmawan dan Ibu I Gusti Ayu Kade Surayati. Sadgati Praptir Astu, Semoga Sang Jiwa melanjutkan perjalanan dalam Damai menuju Kemuliaan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co