DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman di WA grup desa atau RT paling hanya dibaca oleh 30 persen anggota grup. Selebihnya scroll dan skip. Mengapa ini terjadi?
Boleh jadi, kini orang mulai dilanda trust deficit di era digital. Saat Indonesia dilanda Covid-19, banyak warga desa yang lebih mengikuti instruksi kepala desa lewat pertemuan informal ketimbang berita di Facebook. Meski Gen Z lebih melek digital, tetapi nyatanya mereka masih menjadikan kepala desa dan tokoh adat sebagai vaksin untuk melawan hoaks.
Namun benarkah kini Gen Z, baik di kota maupun di desa masih memandang penting komunikasi tradisional? Sepertinya memang berbeda dengan generasi sebelumnya. Bagi Gen Z, komunikasi tradisional seperti melihat kaset pita di zaman Spotify. Tidak relevan buat sehari-hari, tetapi mempunyai nilai lebih pada momen tertentu.
Komunikasi tradisional di mata Gen Z dianggap lambat. Mereka terbiasa menerima informasi per sekian detik lewat IG Story. Meskipun mereka juga mengakuinya, keterlambatan komunikasi tradisional justru lebih jujur, tak diedit, tidak ada filter.
Gen Z mungkin tidak menghidupkan komunikasi tradisional seperti kentongan, calung, ebeg, atau papan pengumuman yang terbuat dari kayu. Namun mereka menghidupkannya sebagai konten yang estetik. Di Jawa Tengah misalnya, banyak Gen Z yang live TikTok saat pertunjukan kesenian ebeg (kuda lumping) maupun lengger dengan ratusan ribu pemirsa. Ada pula yang menjadikannya Reels dengan jutaan views.
Masalahnya, setelah tayangan komunikasi tradisional itu viral, selesai begitu saja. Tanpa ada pertanyaan kritis, apa yang harus mereka lakukan agar semua bentuk komunikasi tradisional itu tetap hidup? Andai pun mereka hadir pada acara adat atau tradisi, alasan utamanya adalah vibe-nya beda. Saat mendengar mitos atau dongeng daerah, mereka pun merespons sebagai sesuatu yang seru untuk dibuat podcast.
Ada kemungkinan tengah terjadi konflik internal dalam diri Gen Z. Di sekolah, kampus, atau di kota, mereka takut dikatakan kampungan bila masih menggunakan bahasa daerah atau ikut rapat dengan memakai bahasa daerah halus. Tetapi di media sosial mereka juga takut dicap sebagai anak muda yang kehilangan akar budaya lantaran tak pernah posting adat dan tradisi di desanya. Jadilah komunikasi tradisional sekadar sarana identity flexing, digunakan bila diperlukan, tak digunakan bila tak dibutuhkan.
Tak Semua Ditolak
Tidak semua media komunikasi tradisional ditolak Gen Z. Mereka hanya menolak komunikasi tradisional yang hanya berjalan satu arah, ceramah tokoh masyarakat yang tidak dapat di-screenshot. Gen Z menyukai komunikasi tradisional yang memiliki visual kuat, ada unsur kejutan, dan dapat dipakai untuk konten di media sosial.
Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, misalnya; kesenian lengger, wayang maupun ebeg masih disukai Gen Z. Alasannya, secara visual kesenian tradisional itu kuat dan unik, dapat dijadikan satir politik, cinta, atau kesehatan mental. Kesenian ebeg banyak ditonton Gen Z karena telah dikomodifikasi dengan iringan musik rock, dangdut koplo maupun campursari, sehingga memunculkan fenomena “Ebeg Metal”.
Kesenian tradisional kentongan juga sudah digitalisasi di tangan Gen Z. Suaranya yang khas membuat menarik untuk dijadikan audio TikTok maupun Reels. Kentongan di tangan Gen Z dipasang speaker Bluetooth dan menjadi bagian dari kehidupan ala pemuda desa. Bahkan kentongan di Desa Melung, Banyumas dijadikan bagian dari acara pembukaan rembug desa yang melibatkan Gen Z.
Papan pengumuman di objek wisata mungkin hal yang biasa, dan jarang dibaca pengunjung. Namun papan pengumuman yang terbuat dari kayu dan ditulis mirip kaligrafi yang vintage akan segera difoto oleh Gen Z. Pengumuman “Dilarang Buang Sampah Sembarangan” di papan kayu vintage yang dipasang di spot foto akan diunggah di Feed dengan tag lokasi.
Tak Selalu Buruk
Tidak sedikit golongan orang tua yang kurang berkenan bila adat maupun tradisi dijadikan bahan konten oleh anak muda. Padahal apa yang dilakukan Gen Z tak selalu buruk. Paling tidak, Gen Z secara tidak langsung ikut melestarikan adat, tradisi, maupun bentuk komunikasi tradisional. Satu konten video TikTok tentang wayang kulit, wayang golek, joget bumbung, dan tarian Bali lainnya dapat ditonton lebih dari 500 ribu orang. Jumlah penonton itu tentu lebih banyak bila dibandingkan 10 tahun silam yang disaksikan secara langsung di lokasi pertunjukan.
Apa yang dilakukan Gen Z juga dapat menjadi arsip digital tentang komunikasi tradisional. Rekaman tentang berbagai bentuk kesenian tradisional akan menjadi jejak digital di masa depan. Bahkan bila mampu berkolaborasi dengan pemerintah daerah, konten komunikasi tradisional dapat mengundang wisatawan datang ke daerah. Dengan catatan, Gen Z tidak sekadar mengkontenkan, namun juga memakai dan memaknainya sebagai bagian dari sistem nilai kekinian.
Agar perilaku Gen Z di ruang digital tak selalu membawa dampak buruk, maka perlu pelibatan mereka; bukan hanya menjadi penonton, tetapi kreator konten untuk dokumentasi komunikasi tradisional. Gen Z perlu diberikan pemahaman tentang komunikasi tradisional, sehingga mereka tidak sekadar merekam, namun juga menarasikan dan menerjemahkan agar menjadi media edukasi bagi viewers mereka.
Memang Gen Z lebih asyik di dunia maya. Namun sejatinya mereka masih mencintai sesuatu yang bernuansa tradisional. Buktinya, pasar tradisional menjadi content playground bagi Gen Z. Mereka ke pasar tradisional bukan untuk berbelanja sesungguhnya seperti ibu rumah tangga. Pasar tradisional menjadi tempat menarik untuk membuat konten, mencicipi jajanan seharga lima ribu rupiah, mencoba tawar-menawar, atau sekadar mendengar dialek bahasa daerah para pedagang.
Komunikasi tradisional memang bukan lagi menjadi saluran informasi utama bagi Gen Z, tetapi bisa menjadi bahasa kedua. Tak dipakai, namun diperlukan untuk identitas, saat perlu konten, dan ketika Gen Z lelah dengan dunia digital yang bising.
Sesungguhnya tak perlu terlalu dikhawatirkan dengan eksistensi komunikasi tradisional. Gen Z barangkali saja tidak akan berkumpul karena bunyi kentongan di balai desa. Akan tetapi ketika mereka masih mau merekam suara kentongan itu, artinya komunikasi tradisional belum mati; hanya pindah panggung dari balai desa ke layar telepon genggam. [T]





























