21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

Chusmeru by Chusmeru
September 30, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman di WA grup desa atau RT paling hanya dibaca oleh 30 persen anggota grup. Selebihnya scroll dan skip. Mengapa ini terjadi?

Boleh jadi, kini orang mulai dilanda trust deficit di era digital. Saat Indonesia dilanda Covid-19, banyak warga desa yang lebih mengikuti instruksi kepala desa lewat pertemuan informal ketimbang berita di Facebook. Meski Gen Z lebih melek digital, tetapi nyatanya mereka masih menjadikan kepala desa dan tokoh adat sebagai vaksin untuk melawan hoaks.

Namun benarkah kini Gen Z, baik di kota maupun di desa masih memandang penting komunikasi tradisional? Sepertinya memang berbeda dengan generasi sebelumnya. Bagi Gen Z, komunikasi tradisional seperti melihat kaset pita di zaman Spotify. Tidak relevan buat sehari-hari, tetapi mempunyai nilai lebih pada momen tertentu.

Komunikasi tradisional di mata Gen Z dianggap lambat. Mereka terbiasa menerima informasi per sekian detik lewat IG Story. Meskipun mereka juga mengakuinya, keterlambatan komunikasi tradisional justru lebih jujur, tak diedit, tidak ada filter.

Gen Z mungkin tidak menghidupkan komunikasi tradisional seperti kentongan, calung, ebeg, atau papan pengumuman yang terbuat dari kayu. Namun mereka menghidupkannya sebagai konten yang estetik. Di Jawa Tengah misalnya, banyak Gen Z yang live TikTok saat pertunjukan kesenian ebeg (kuda lumping) maupun lengger dengan ratusan ribu pemirsa. Ada pula yang menjadikannya Reels dengan jutaan views.

Masalahnya, setelah tayangan komunikasi tradisional itu viral, selesai begitu saja. Tanpa ada pertanyaan kritis, apa yang harus mereka lakukan agar semua bentuk komunikasi tradisional itu tetap hidup? Andai pun mereka hadir pada acara adat atau tradisi, alasan utamanya adalah vibe-nya beda. Saat mendengar mitos atau dongeng daerah, mereka pun merespons sebagai sesuatu yang seru untuk dibuat podcast.

Ada kemungkinan tengah terjadi konflik internal dalam diri Gen Z. Di sekolah, kampus, atau di kota, mereka takut dikatakan kampungan bila masih menggunakan bahasa daerah atau ikut rapat dengan memakai bahasa daerah halus. Tetapi di media sosial mereka juga takut dicap sebagai anak muda yang kehilangan akar budaya lantaran tak pernah posting adat dan tradisi di desanya. Jadilah komunikasi tradisional sekadar sarana identity flexing, digunakan bila diperlukan, tak digunakan bila tak dibutuhkan.

Tak Semua Ditolak

Tidak semua media komunikasi tradisional ditolak Gen Z. Mereka hanya menolak komunikasi tradisional yang hanya berjalan satu arah, ceramah tokoh masyarakat yang tidak dapat di-screenshot. Gen Z menyukai komunikasi tradisional yang memiliki visual kuat, ada unsur kejutan, dan dapat dipakai untuk konten di media sosial.

Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, misalnya; kesenian lengger, wayang maupun ebeg masih disukai Gen Z. Alasannya, secara visual kesenian tradisional itu kuat dan unik, dapat dijadikan satir politik, cinta, atau kesehatan mental. Kesenian ebeg banyak ditonton Gen Z karena telah dikomodifikasi dengan iringan musik rock, dangdut koplo maupun campursari, sehingga memunculkan fenomena “Ebeg Metal”.

Kesenian tradisional kentongan juga sudah digitalisasi di tangan Gen Z. Suaranya yang khas membuat menarik untuk dijadikan audio TikTok maupun Reels. Kentongan di tangan Gen Z dipasang speaker Bluetooth dan menjadi bagian dari kehidupan ala pemuda desa. Bahkan kentongan di Desa Melung, Banyumas dijadikan bagian dari acara pembukaan rembug desa yang melibatkan Gen Z.

Papan pengumuman di objek wisata mungkin hal yang biasa, dan jarang dibaca pengunjung. Namun papan pengumuman yang terbuat dari kayu dan ditulis mirip kaligrafi yang vintage akan segera difoto oleh Gen Z. Pengumuman “Dilarang Buang Sampah Sembarangan” di papan kayu vintage yang dipasang di spot foto akan diunggah di Feed dengan tag lokasi.

Tak Selalu Buruk

Tidak sedikit golongan orang tua yang kurang berkenan bila adat maupun tradisi dijadikan bahan konten oleh anak muda. Padahal apa yang dilakukan Gen Z tak selalu buruk. Paling tidak, Gen Z secara tidak langsung ikut melestarikan adat, tradisi, maupun bentuk komunikasi tradisional. Satu konten video TikTok tentang wayang kulit, wayang golek, joget bumbung, dan tarian Bali lainnya dapat ditonton lebih dari 500 ribu orang. Jumlah penonton itu tentu lebih banyak bila dibandingkan 10 tahun silam yang disaksikan secara langsung di lokasi pertunjukan.

Apa yang dilakukan Gen Z juga dapat menjadi arsip digital tentang komunikasi tradisional. Rekaman tentang berbagai bentuk kesenian tradisional akan menjadi jejak digital di masa depan. Bahkan bila mampu berkolaborasi dengan pemerintah daerah, konten komunikasi tradisional dapat mengundang wisatawan datang ke daerah. Dengan catatan, Gen Z tidak sekadar mengkontenkan, namun juga memakai dan memaknainya sebagai bagian dari sistem nilai kekinian.

Agar perilaku Gen Z di ruang digital tak selalu membawa dampak buruk, maka perlu pelibatan mereka; bukan hanya menjadi penonton, tetapi kreator konten untuk dokumentasi komunikasi tradisional. Gen Z perlu diberikan pemahaman tentang komunikasi tradisional, sehingga mereka tidak sekadar merekam, namun juga menarasikan dan menerjemahkan agar menjadi media edukasi bagi viewers mereka.

Memang Gen Z lebih asyik di dunia maya. Namun sejatinya mereka masih mencintai sesuatu yang bernuansa tradisional. Buktinya, pasar tradisional menjadi content playground bagi Gen Z. Mereka ke pasar tradisional bukan untuk berbelanja sesungguhnya seperti ibu rumah tangga. Pasar tradisional menjadi tempat menarik untuk membuat konten, mencicipi jajanan seharga lima ribu rupiah, mencoba tawar-menawar, atau sekadar mendengar dialek bahasa daerah para pedagang.

Komunikasi tradisional memang bukan lagi menjadi saluran informasi utama bagi Gen Z, tetapi bisa menjadi bahasa kedua. Tak dipakai, namun diperlukan untuk identitas, saat perlu konten, dan ketika Gen Z lelah dengan dunia digital yang bising.

Sesungguhnya tak perlu terlalu dikhawatirkan dengan eksistensi komunikasi tradisional. Gen Z barangkali saja tidak akan berkumpul karena bunyi kentongan di balai desa. Akan tetapi ketika mereka masih mau merekam suara kentongan itu, artinya komunikasi tradisional belum mati; hanya pindah panggung dari balai desa ke layar telepon genggam. [T]

Tags: Gen Zkomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

Next Post

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails
Next Post
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co