27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Andi Wirambara by Andi Wirambara
June 27, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Andi Wirambara

KUCING

aku seekor kucing yang memanjat jendelamu
kau penghuni yang selalu menutupnya,
bersantai menenteng cangkir teh yang pekat.

aku mengeong dan mengamuk, mendesis,
mencakar-cakar jendela, memperingatkan
hal yang bisa saja kulakukan pada halus pipimu
yang ditumbuhi mungil jerawat biji wijen.

kau masih santai, membukakan pintu
dengan gerutu kukatakan aku membencimu
sembari melompat ke tempatmu duduk
melingkar, menanti telapakmu mengelus
memperdengarkan dengus napasku
yang mendengkur sepanjang mencintai pangkuanmu.

(2026)
 
MUNGIL SENYUMMU

kutemui mungil senyummu
di deretan pohon itu

sempat kutanyakan apakah lambaian daun
mampu menangkap senyuman itu. yang
berlompatan dari satu ranting, ke denting
lain. dari satu kata, ke mata lain. lalu
membiarkannya menggelinding, terselip
ke dalam permukaan serabut.

kutemui mungil senyummu
di geletar senandung suara-suara

kukira suara itu memanggil namaku, yang
terjebak di dalam botol minuman yang berisi
berliter-liter kehangatan. saat kau rentangkan
suara-suara itu lalu mendawainya bagai harpa
dalam diafragma yang sunyi, menjadikannya
syal dari rajutan bulumata yang empuk

kutemui mungil senyummu
di antara catatan harianmu yang berserakan

mengeja senyum-senyum lain
mengalimatkan senyumku tanpa sengaja

 
SEBUAH SENYUM DI LANTAI 5

Memasuki lantai ini, begitu
pintu lift terbuka
di luar telah mengantre
debar-debar yang begitu panjang

Senyummu duduk di bawah
jam dinding, dan menyambutmu
dengan serumpun bayang yang
membuatku merangkak melupakan luka
bertahun-tahun ke belakang

Senyummu barangkali sehelai
dari bulumata pelangi
yang tanggal dan meninggalkan
rindu merah jambu di dadaku

Dan aku memungutinya
sebagai pelengkap rindu yang bisa
menemanimu duduk di balik meja
sejak embun menyapa napasmu

hingga senja datang mengetuk jendela. 

DI LUAR GEDUNG INI

di luar gedung ini
pohon-pohon membiarkan
dedaunannya ranggas
seperti senyum yang ikhlas
melepas, dan merayakan kepergian

di luar gedung ini
angin telah menggembala
awan-awan untuk datang
ke atas kepalamu
lalu mengembuskan lagu-lagu
dengan ketukan santai
tanpa hujan, tanpa gerimis
hanya guyuran reminisensi
penuh ritmis

di luar gedung ini
terik mengintip ke dalam
melihat aku
melihat kau
menggaung-gaungkan rindu
yang panjang

di gedung ini
di relung ini.

 
KAU HENDAK MENANAM POHON CINTA NAMUN AKU HANYA SEBUAH SENDOK

hai,
bolehkah aku sedikit berguna bagimu?

(2026)
 
MEMANDANGI HANNI : TERSAKITI

dengan sepasang kuncir
di kanan dan kiri rambutmu
kau tempatkan wajahmu di depan kamera
dekat sekali, terlalu dekat
lensanya sedikit retak, teramat halus
seperti gurat selaput sayap capung
yang terbang gelisah,
mencari kolam demi menceburkan
debar yang tak siap
dan menyembunyikan segala sipu
yang lemahkan penerbangannya
hingga jatuh menukik ke permukaan
mimpi-mimpi indah

sementara kau hanya ingin bicara
melontarkan monolog yang kelu
“aku tak ingin menjadi yang tersakiti,”
namun kamera itu tak juga menyala
tombolnya terlalu gugup
menghadapi kantung matamu
kaupun sendu, merasa kamera
menyakitimu

.

Penulis: Andi Wirambara
Editor: Adnyana Ole

tak jauh dari tempatmu, aku permukaan kolam
tempat capung-capung jatuh memakamkan diri
sejak tadi menunggumu datang
mungkin saja kau berpikir untuk
mendekatkan wajahmu di sana

lalu aku mempersiapkan isyarat
tentang bagaimana mungkin
kau akan disakiti, bahkan aku
tak berani menjumpai tatapan kuyu itu
memilih menghitung berapa banyak karet
yang dibutuhkan untuk melilit kunciranmu
hanya aku tak pernah berhasil mendapatkan jumlah

dengan segala waswas dan gamang
aku hanya mampu membuat riak mungil
yang tak akan pernah cukup
untuk menyakiti
apapun yang kaucemaskan.

(2026)

 
HANNI DAN MIE INSTAN

hanni jadi model iklan produk mie instan
di sesi pemotretan, hanni tersenyum sungkan

sepiring mie di tangannya telah didekorasi
lebih cantik dari kamar apartemennya
aromanya tanpa permisi masuk dan mencari
bunyi-bunyian di belantara lambungnya

hanni semakin gelisah
lidah dan salivanya juga gelisah
aku juga gelisah
sebagai tukang rebus di balik dapur
yang tak pernah ia tahu letaknya.

nanti, jika hanni akhirnya memakan mie instan itu
dan mengeluhkan rasa manis yang berlebih
percayalah, aku sudah memberi asin yang cukup
lebih kecut dari segala air mata yang mendidih.

jadi jangan menyalahkanku,
itu pasti dari senyumnya
pasti senyumnya!

(2026)
 
BANDANA SUPERNATURAL

kau sering menyembunyikan keningmu
—setidak-tidaknya saat aku ingin mencatatnya
berkali-kali kau menutupi dengan bermacam bandana
yang putih menempel lekat, pas di kening
yang biru pun sama, bedanya hanya
lebih lebar hingga menutup tempurung rambutmu
pernah sekali bandanamu tertinggal, keningmu
kaututupi dengan kacamata hitam
sebelum aku menyadari apapun.

mungkinkah hal magis bersemayam di sana
yang menampakkan rindu-rindu malang
dan hanya terpanggil dengan ritual-ritual
di sudut paling lembab lorong perkotaan?
atau bandanamu ialah perisai paling jitu
mementalkan segala yang asing mendaratkan
segala bentuk sapaan di keningmu?

kau tahu, bandara memang tempat untuk
lepas landas dan mendarat, bukan?
meski kau di sana, aku tetap menahan diri
sebagai baling-baling pesawat
yang mungkin menerbangkan bandanamu

namun aku masihlah segala asing
yang terus tertolak oleh keningmu
barangkali sebaiknya aku menanti tidurmu saja
yang membuka keningmu mempersilakan rindu
turun bertabur seperti semburat lampu-lampu kota

hingga kau mengerti bahwa aku tidak seasing
piring terbang yang kukendarai mengitarimu
di langit, berputar-putar berhari-hari cahaya
menanti kening terbaik untuk menjatuhkan diri
tanpa perlu membangunkan kenyataan apapun.

(2026)

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Next Post

Takut Galungan

Andi Wirambara

Andi Wirambara

Lahir tanggal 24 September di Ambon. Berdomisili di Malang. Berkecimpung pada dunia praktisi hukum. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Karya-karyanya telah termuat dalam sejumlah media dan antologi bersama serta telah mengeluarkan 2 buku kumpulan puisi tunggal.

Related Posts

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails
Next Post
Takut Galungan

Takut Galungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan
Esai

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten,...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Takut Galungan
Dongeng

Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu
Puisi

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

by Andi Wirambara
June 27, 2026
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?
Esai

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
Melepas Dunia, Mengetuk Langit
Ulas Musik

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co