DOA UNTUK TETANGGA
Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hati
mengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetangga
diberi rezeki yang banyak. Agar tidak ada lagi yang
suka berkumpul; bergosip, membicarakan
orang lain tanpa ampun.Semua hal diurusi,
seakan hidup orang menjadi urusan mereka.
Pekerjaan dan rezeki yang lancar membuat semua
bahagia. Tidak ada lagi yang perlu merasa bersaing,
dengki, dan iri hati. Hidup di kos-kosan memang berwarna.
Diam, cuek, dan masa bodoh kukira dulu baik. Ternyata
dengan itu aku dianggap sombong. Terlalu ramah dan
banyak bicara, pun tidak luput dari kemungkinan
digosipkan. Jadi, kupikir lebih baik mengambil
jalan tengah; tidak terlalu cuek sekaligus tidak terlalu ramah.
Harga tanah dan rumah yang mahal, membuat kos-kosan
menjadi pilihan banyak orang. Kos, dari ratusan ribu hingga
jutaan rupiah tersedia. Hidup di kamar dengan budaya dan
perilaku berbeda, orang-orang yang datang dari segala
penjuru tanah air. Bahkan turis pun mencari pekerjaan
di Pulau Dewata. Bali telah berubah!
Perubahan demografi, ya, ya! Banyak orang tidak siap
dengan itu. Polemik, diskusi, bahkan debat kusir kita
lihat di media sosial. Api dalam sekam. Apalagi jika
isu primordial terus dijadikan headline media online,
dan branding politikus, itu amatlah berbahaya.
Konflik terbuka bisa terjadi kapan saja.
Di beranda kos, aku mengamati Bali yang berbeda.
Dalam kajian ilmu sosial, gosip dikatakan sebagai
alat kontrol sosial. Mungkin benar; tapi kontrol
seperti apa jika kebiasaan mencampuri orang lain
kini dianggap biasa?
Lidah tak bertulang, memang. Jangan lupa, gosip
bisa menjadi racun sosial! Omongan bisa menjalar
kemana-mana, hingga mereka yang diomongkan
menjadi sakit hati; lahirlah konflik; adu mulut
bahkan adu fisik. Tetangga yang dikenal dekat
bisa bermusuhan. Lalu pindah kos, dan di tempat
kos baru menemukan ‘racun’ yang sama: gosip!
Maka itu aku mendoakan para tetangga kos agar
rezekinya lancar. Sehingga gosip akan berkurang.
Sebab perut telah kenyang dan kantong terisi.
Jika pun masih ada yang suka bergosip; ya,
memang mereka buruk. Tidak perlu aku ladeni
lebih jauh. Tutup pintu, dan hidupkan lagu,
namanya juga kos-kosan!
2026
KEPADA BUKU HARIAN
Sebuah buku kutemukan terjatuh di jalan, rupanya itu sebuah buku harian. Aku membacanya perlahan, isinya membuat hatiku bersedih. Buku itu tanpa nama, namun agaknya dari kata-kata dan kalimatnya yang tertata rapi dan mengalir baik; ia ditulis oleh seorang penulis berbakat.
Siapa dia? Aku ingin sekali bertemu dan berbincang dengan pemilik buku harian itu. Memeluknya dalam diam, menguatkan hatinya, mengajaknya berbicara tentang hal-hal yang membahagiakan. Agar ia tak larut dalam kesedihannya.
Ditemani kopi (dan mungkin sedikit rokok), di kafe pinggir pantai yang terletak di timur kota. Bisakah aku menemukan alamat tempat tinggal penulis itu? Aku masih mencari petunjuk dan identitasnya pada lembar-lembar buku harian itu. Semoga aku menemukannya.
2026
DINI HARI UNTUK JENGKI
Apa sebenarnya yang kau rasakan?
Kesetiaan hewan melebihi manusia,
yang malu disebut binatang.
Manusia, bisa jadi malaikat sekaligus
iblis, dalam waktu bersamaan.
Terlihat religius, tapi juga jahat.
Mungkin ada baiknya kita lebih percaya
pada hewan. Seperti kekasih suka memelihara
kucing, anjing, bahkan gajah. Kebun binatang
telah pindah ke lidah orang-orang; kata-kata
terucap tanpa berpikir dulu—ibarat memakan
bangkai saudara sendiri. Gosip menikam kita.
Kucingku pergi, setelah makan dan bercengkrama
denganku. Mungkin begitu juga dengan anjing-anjingmu.
Setia menjagamu, di rumah mungil tempatmu bertapa.
Tak perlu memikirkan apakah nanti kita menikah atau tidak.
Perceraian jadi hal lumrah, sebab pernikahan hanyalah
selembar kertas tak bermakna. Cinta telah mati oleh ego.
Janji tinggallah janji—omong kosong di atas kitab.
Nanti aku ingin ngopi bersamamu. Aku berpikir soal
kata ‘Kediri’ yang engkau sampaikan. ‘Kembali ke diri’.
Guru kita sampaikan itu. Sumur kebijaksanaan abadi.
2026
TUKANG POS
Ia berkeliling membawa surat,
surat yang berisikan berita sedih
juga gembira. Ia tak peduli dengan
isi surat yang ia bawa. Tugasnya
hanya mengantarkan surat-surat.
Tukang pos itu bernama Tuhan.
Ia hanyalah saksi kesedihan
dan kegembiraan yang kita rasakan.
2024-2026
CANGGU, SELEPAS HUJAN
Jarak tempuh jauh, pernah aku mengeluh soal itu.
Kau lalu bercerita tentang ratusan orang memadati
stasiun di kotamu. Berdesak-desakan setiap hari;
berangkat pagi dan pulang malam hari. Setiap hari.
Itu yang membuatmu betah di pulau ini. Bekerja
dengan tantangan dan suasana berlainan.
Tidak pulang lagi, karena masa lalu. Luka batin
masih terasa, walau telah terjadi lama sekali.
Di parkiran, aku mendengar lagu-lagu lama diputar.
Tentang hujan di bulan November. Kegamangan
yang juga kurasakan saat malam tidak bisa tidur.
Semangat dan cinta membuat kita bertahan.
Tahun depan, kita berencana menikah.
Tak ada lagi keraguan di hati ini. Sungguh.
2025-2026
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole






























