26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Arief Rahzen by Arief Rahzen
August 6, 2026
in Esai
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Ilustrasi dibuat dengan AI

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang teramat patuh pada logika teknokrasi. Segala sesuatu dituntut serba efisien, terukur, terkalkulasi, dan harus menghasilkan nilai guna. Namun, di tengah kemudahan materi dan kelimpahan teknologi digital, banyak dari kita justru merasa ada yang ganjil. Ada rasa hampa yang samar, perasaan bahwa manusia modern saat ini hanyalah para pengembara yang memiliki bangunan fisik, tetapi sesungguhnya kehilangan “rumah” eksistensialnya.

Di tengah suasana keterasingan itulah seorang filsuf Jerman, Martin Heidegger, menunjuk sesuatu yang sering tersisihkan dalam peradaban teknokratis: puisi. Ia tidak menyodorkan resep politik atau keajaiban sains untuk mengobati dahaga zaman. Sebaliknya menyodorkan puisi.

Bagi Heidegger, puisi (Dichtung) bukanlah sekadar permainan kata indah, ornamen estetis untuk mengisi waktu luang, atau luapan emosi subjektif. Puisi merupakan peristiwa ontologis, sebuah momen langka di mana Keberadaan atau Ada (Sein) menyingkapkan dirinya secara utuh kepada manusia.

Untuk alur pikirannya, kita periksa dulu cara pandang tentang bahasa. Di bawah bayang-bayang tatanan teknokrasi, kita menganggap bahasa hanya sebagai alat komunikasi, hanya instrumen. Seperti mata uang atau barang dagangan. Kita memakai kata-kata hanya untuk menyampaikan pesan teknis, mengatur efisiensi, atau mentransmisikan data. Kitalah yang merasa menjadi tuan dan penguasa atas kata-kata.

Namun Heidegger membalik cermin itu. Ia menegaskan: “Die Sprache ist das Haus des Seins”. Bahasa ialah rumah dari Ada. Manusia tak menguasai bahasa, bahasalah yang memungkinkan manusia untuk berpikir dan ada. Sebelum kita mengucapkan sepatah kata pun, bahasa hadir lebih dahulu menyediakan ruang bagi realitas untuk menampakkan diri. Masalahnya, dalam cengkeraman teknokrasi, bahasa kita makin hari makin mengalami pengerdilan. Kata-kata direduksi menjadi jargon manajemen, slogan komersial, atau sekadar deretan algoritma digital. Kita kehilangan rasa takjub saat berucap.

Di sinilah penyair hadir. Penyair sejati bukanlah tukang sulap kata yang pandai bersilat lidah demi pujian. Penyair justru seorang pendengar yang tekun. Penyair mendengarkan keheningan sebelum kata lahir, lalu melakukan “penamaan asali”. Pemyair memberi nama pada hal-hal sehingga benda-benda tersebut hadir dan bermakna secara utuh untuk pertama kalinya dalam ruang kesadaran kita.

Dari mana kebenaran puisi ini berasal? Heidegger mengajak kita menengok kembali gagasan Yunani Kuno tentang kebenaran yang disebut Aletheia. Dalam pandangan modern, kebenaran sering kali diartikan sebatas kesesuaian antara rumus di kepala dengan fakta di lapangan. Namun Aletheia jauh lebih organik: proses keluar dari ketartersembunyian (unconcealment).

Bayangkan sebuah batu di tepi jalan. Dalam rutinitas harian yang serba cepat, batu itu hampir tidak pernah benar-benar ada bagi kita. Batu hanya objek mati yang kita pijak tanpa sadar. Batu itu tersembunyi di balik ketidakpedulian dan pola pikir utilitarian kita. Namun, begitu seorang penyair menuliskan tentang rasa dinginnya, tekstur kasarnya yang menyimpan jejak zaman, dan kesunyian yang dikandungnya, batu itu mendadak “hadir”. Batu itu keluar dari kegelapan.

Dalam puisi, terjadi pertarungan yang elok antara Dunia (Welt) dan Bumi (Erde). Dunia ialah tatanan makna dan kebudayaan terbuka yang dibangun manusia, sedangkan Bumi ialah materi pekat, rahasia alam yang selalu berusaha menutup diri dari penguasaan kasar manusia. Puisi mendirikan sebuah dunia makna di atas bumi.

Dalam menguji refleksinya, Heidegger terpikat pada Friedrich Hölderlin, penyair romantik Jerman dari abad ke-18. Mengapa Hölderlin? Sebab Hölderlin hidup di era yang disebutnya dürftige Zeit, masa yang miskin secara spiritual. Sebuah masa ketika rasa sakral memudar dan digantikan oleh perburuan rasionalitas yang dingin.

Dalam situasi gersang itu, penyair berdiri di garis perbatasan yang rawan. Ia menjadi perantara antara yang ilahi dan yang fana. Ia menangkap kilatan petunjuk dari langit, lalu menganyamnya ke dalam bahasa bumi agar masyarakat umum tidak kehilangan arah di tengah kegelapan zaman.

Dari Hölderlin pula Heidegger memetik baris kalimat yang amat dalam: …dichterisch wohnet der Mensch. Manusia tinggal secara puitis.

Menghuni bumi ternyata bukan sekadar urusan kepemilikan fisik, sertifikat tanah, atau kemewahan fasilitas rumah. Menghuni secara autentik ialah kemampuan manusia untuk berada dalam keselarasan dengan Empat Serangkai (Das Geviert): Bumi yang menopang pijakan, Langit yang menaungi musim, Yang Ilahi yang memantik rasa kagum, dan Yang Fana yakni kesadaran akan batas umur kita sendiri. Puisi memberi ukuran (Maß) agar manusia tahu diri dan paham posisinya yang tepat di tengah alam semesta.

Refleksi Heidegger mencapai puncaknya ketika ia menelusuri bahaya laten teknologi modern. Heidegger melihat dunia sedang dicengkeram Das Gestell (pembingkaian). Ini cara pandang teknokratis yang memaksa segala sesuatu di alam semesta untuk direduksi menjadi Bestand (cadangan bahan baku yang siap dieksploitasi).

Di bawah mata teknokrasi, hutan tidak lagi dipandang sebagai ruang keheningan yang suci, melainkan sekian kubik kayu yang siap ditebang. Sungai tidak lagi disapa sebagai aliran kehidupan, melainkan potensi daya listrik sekian megawatt. Bahkan manusia sendiri kini dijuluki sebagai “sumber daya manusia”, seolah kita ini cuma komponen mesin yang siap diperas efisiensinya demi menggerakkan roda industri global.

Di hadapan cengkeraman yang meratakan semua nilai menjadi angka dan fungsi ini, puisi hadir sebagai bentuk perlawanan yang tenang namun radikal. Puisi ialah manifestasi dari Poiesis, cara menyingkapkan dunia yang membawa hadir realitas tanpa pernah memaksa atau merusaknya.

Puisi menuntun kita menuju sikap mental yang disebut Heidegger sebagai Gelassenheit. Sikap kerelaan untuk membiarkan benda-benda berada sebagaimana adanya. Ketika seorang penyair menulis tentang sebatang pohon, ia tidak berniat menebangnya untuk kepentingan komersil. Penyair membiarkan pohon itu bernapas, menancapkan akar ke bumi, dan menjadi pohon. Puisi membebaskan kata dari dominasi fungsi, dan pada saat yang sama, membebaskan manusia dari obsesi untuk terus-menerus mengontrol realitas.

Merenungkan pandangan Heidegger tentang puisi membawa kita pada kesadaran yang hangat. Di era di mana kata-kata dapat diproduksi secara massal oleh mesin otomasi dan logika teknokrasi mengatur hampir setiap sudut hidup kita, puisi mengingatkan kita pada hakikat kemanusiaan. Puisi memanggil kita untuk kembali menjadi “penggembala Ada”, bukan penguasa yang tamak.

Barangkali, demi selamat dari kelelahan zaman yang riuh ini, kita tidak selalu membutuhkan teknologi baru atau jawaban-jawaban instan. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah melambat sejenak, meresapi sebaris puisi dalam keheningan. Juga membiarkan kata-kata membawa jiwa kita kembali pulang ke rumahnya. [T]

Tags: HeideggerPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

Next Post

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co