6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Arief Rahzen by Arief Rahzen
August 6, 2026
in Esai
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Ilustrasi dibuat dengan AI

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang teramat patuh pada logika teknokrasi. Segala sesuatu dituntut serba efisien, terukur, terkalkulasi, dan harus menghasilkan nilai guna. Namun, di tengah kemudahan materi dan kelimpahan teknologi digital, banyak dari kita justru merasa ada yang ganjil. Ada rasa hampa yang samar, perasaan bahwa manusia modern saat ini hanyalah para pengembara yang memiliki bangunan fisik, tetapi sesungguhnya kehilangan “rumah” eksistensialnya.

Di tengah suasana keterasingan itulah seorang filsuf Jerman, Martin Heidegger, menunjuk sesuatu yang sering tersisihkan dalam peradaban teknokratis: puisi. Ia tidak menyodorkan resep politik atau keajaiban sains untuk mengobati dahaga zaman. Sebaliknya menyodorkan puisi.

Bagi Heidegger, puisi (Dichtung) bukanlah sekadar permainan kata indah, ornamen estetis untuk mengisi waktu luang, atau luapan emosi subjektif. Puisi merupakan peristiwa ontologis, sebuah momen langka di mana Keberadaan atau Ada (Sein) menyingkapkan dirinya secara utuh kepada manusia.

Untuk alur pikirannya, kita periksa dulu cara pandang tentang bahasa. Di bawah bayang-bayang tatanan teknokrasi, kita menganggap bahasa hanya sebagai alat komunikasi, hanya instrumen. Seperti mata uang atau barang dagangan. Kita memakai kata-kata hanya untuk menyampaikan pesan teknis, mengatur efisiensi, atau mentransmisikan data. Kitalah yang merasa menjadi tuan dan penguasa atas kata-kata.

Namun Heidegger membalik cermin itu. Ia menegaskan: “Die Sprache ist das Haus des Seins”. Bahasa ialah rumah dari Ada. Manusia tak menguasai bahasa, bahasalah yang memungkinkan manusia untuk berpikir dan ada. Sebelum kita mengucapkan sepatah kata pun, bahasa hadir lebih dahulu menyediakan ruang bagi realitas untuk menampakkan diri. Masalahnya, dalam cengkeraman teknokrasi, bahasa kita makin hari makin mengalami pengerdilan. Kata-kata direduksi menjadi jargon manajemen, slogan komersial, atau sekadar deretan algoritma digital. Kita kehilangan rasa takjub saat berucap.

Di sinilah penyair hadir. Penyair sejati bukanlah tukang sulap kata yang pandai bersilat lidah demi pujian. Penyair justru seorang pendengar yang tekun. Penyair mendengarkan keheningan sebelum kata lahir, lalu melakukan “penamaan asali”. Pemyair memberi nama pada hal-hal sehingga benda-benda tersebut hadir dan bermakna secara utuh untuk pertama kalinya dalam ruang kesadaran kita.

Dari mana kebenaran puisi ini berasal? Heidegger mengajak kita menengok kembali gagasan Yunani Kuno tentang kebenaran yang disebut Aletheia. Dalam pandangan modern, kebenaran sering kali diartikan sebatas kesesuaian antara rumus di kepala dengan fakta di lapangan. Namun Aletheia jauh lebih organik: proses keluar dari ketartersembunyian (unconcealment).

Bayangkan sebuah batu di tepi jalan. Dalam rutinitas harian yang serba cepat, batu itu hampir tidak pernah benar-benar ada bagi kita. Batu hanya objek mati yang kita pijak tanpa sadar. Batu itu tersembunyi di balik ketidakpedulian dan pola pikir utilitarian kita. Namun, begitu seorang penyair menuliskan tentang rasa dinginnya, tekstur kasarnya yang menyimpan jejak zaman, dan kesunyian yang dikandungnya, batu itu mendadak “hadir”. Batu itu keluar dari kegelapan.

Dalam puisi, terjadi pertarungan yang elok antara Dunia (Welt) dan Bumi (Erde). Dunia ialah tatanan makna dan kebudayaan terbuka yang dibangun manusia, sedangkan Bumi ialah materi pekat, rahasia alam yang selalu berusaha menutup diri dari penguasaan kasar manusia. Puisi mendirikan sebuah dunia makna di atas bumi.

Dalam menguji refleksinya, Heidegger terpikat pada Friedrich Hölderlin, penyair romantik Jerman dari abad ke-18. Mengapa Hölderlin? Sebab Hölderlin hidup di era yang disebutnya dürftige Zeit, masa yang miskin secara spiritual. Sebuah masa ketika rasa sakral memudar dan digantikan oleh perburuan rasionalitas yang dingin.

Dalam situasi gersang itu, penyair berdiri di garis perbatasan yang rawan. Ia menjadi perantara antara yang ilahi dan yang fana. Ia menangkap kilatan petunjuk dari langit, lalu menganyamnya ke dalam bahasa bumi agar masyarakat umum tidak kehilangan arah di tengah kegelapan zaman.

Dari Hölderlin pula Heidegger memetik baris kalimat yang amat dalam: …dichterisch wohnet der Mensch. Manusia tinggal secara puitis.

Menghuni bumi ternyata bukan sekadar urusan kepemilikan fisik, sertifikat tanah, atau kemewahan fasilitas rumah. Menghuni secara autentik ialah kemampuan manusia untuk berada dalam keselarasan dengan Empat Serangkai (Das Geviert): Bumi yang menopang pijakan, Langit yang menaungi musim, Yang Ilahi yang memantik rasa kagum, dan Yang Fana yakni kesadaran akan batas umur kita sendiri. Puisi memberi ukuran (Maß) agar manusia tahu diri dan paham posisinya yang tepat di tengah alam semesta.

Refleksi Heidegger mencapai puncaknya ketika ia menelusuri bahaya laten teknologi modern. Heidegger melihat dunia sedang dicengkeram Das Gestell (pembingkaian). Ini cara pandang teknokratis yang memaksa segala sesuatu di alam semesta untuk direduksi menjadi Bestand (cadangan bahan baku yang siap dieksploitasi).

Di bawah mata teknokrasi, hutan tidak lagi dipandang sebagai ruang keheningan yang suci, melainkan sekian kubik kayu yang siap ditebang. Sungai tidak lagi disapa sebagai aliran kehidupan, melainkan potensi daya listrik sekian megawatt. Bahkan manusia sendiri kini dijuluki sebagai “sumber daya manusia”, seolah kita ini cuma komponen mesin yang siap diperas efisiensinya demi menggerakkan roda industri global.

Di hadapan cengkeraman yang meratakan semua nilai menjadi angka dan fungsi ini, puisi hadir sebagai bentuk perlawanan yang tenang namun radikal. Puisi ialah manifestasi dari Poiesis, cara menyingkapkan dunia yang membawa hadir realitas tanpa pernah memaksa atau merusaknya.

Puisi menuntun kita menuju sikap mental yang disebut Heidegger sebagai Gelassenheit. Sikap kerelaan untuk membiarkan benda-benda berada sebagaimana adanya. Ketika seorang penyair menulis tentang sebatang pohon, ia tidak berniat menebangnya untuk kepentingan komersil. Penyair membiarkan pohon itu bernapas, menancapkan akar ke bumi, dan menjadi pohon. Puisi membebaskan kata dari dominasi fungsi, dan pada saat yang sama, membebaskan manusia dari obsesi untuk terus-menerus mengontrol realitas.

Merenungkan pandangan Heidegger tentang puisi membawa kita pada kesadaran yang hangat. Di era di mana kata-kata dapat diproduksi secara massal oleh mesin otomasi dan logika teknokrasi mengatur hampir setiap sudut hidup kita, puisi mengingatkan kita pada hakikat kemanusiaan. Puisi memanggil kita untuk kembali menjadi “penggembala Ada”, bukan penguasa yang tamak.

Barangkali, demi selamat dari kelelahan zaman yang riuh ini, kita tidak selalu membutuhkan teknologi baru atau jawaban-jawaban instan. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah melambat sejenak, meresapi sebaris puisi dalam keheningan. Juga membiarkan kata-kata membawa jiwa kita kembali pulang ke rumahnya. [T]

Tags: HeideggerPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

Next Post

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co