6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Arief Rahzen by Arief Rahzen
August 6, 2026
in Esai
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Ilustrasi dibuat dengan AI

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang teramat patuh pada logika teknokrasi. Segala sesuatu dituntut serba efisien, terukur, terkalkulasi, dan harus menghasilkan nilai guna. Namun, di tengah kemudahan materi dan kelimpahan teknologi digital, banyak dari kita justru merasa ada yang ganjil. Ada rasa hampa yang samar, perasaan bahwa manusia modern saat ini hanyalah para pengembara yang memiliki bangunan fisik, tetapi sesungguhnya kehilangan “rumah” eksistensialnya.

Di tengah suasana keterasingan itulah seorang filsuf Jerman, Martin Heidegger, menunjuk sesuatu yang sering tersisihkan dalam peradaban teknokratis: puisi. Ia tidak menyodorkan resep politik atau keajaiban sains untuk mengobati dahaga zaman. Sebaliknya menyodorkan puisi.

Bagi Heidegger, puisi (Dichtung) bukanlah sekadar permainan kata indah, ornamen estetis untuk mengisi waktu luang, atau luapan emosi subjektif. Puisi merupakan peristiwa ontologis, sebuah momen langka di mana Keberadaan atau Ada (Sein) menyingkapkan dirinya secara utuh kepada manusia.

Untuk alur pikirannya, kita periksa dulu cara pandang tentang bahasa. Di bawah bayang-bayang tatanan teknokrasi, kita menganggap bahasa hanya sebagai alat komunikasi, hanya instrumen. Seperti mata uang atau barang dagangan. Kita memakai kata-kata hanya untuk menyampaikan pesan teknis, mengatur efisiensi, atau mentransmisikan data. Kitalah yang merasa menjadi tuan dan penguasa atas kata-kata.

Namun Heidegger membalik cermin itu. Ia menegaskan: “Die Sprache ist das Haus des Seins”. Bahasa ialah rumah dari Ada. Manusia tak menguasai bahasa, bahasalah yang memungkinkan manusia untuk berpikir dan ada. Sebelum kita mengucapkan sepatah kata pun, bahasa hadir lebih dahulu menyediakan ruang bagi realitas untuk menampakkan diri. Masalahnya, dalam cengkeraman teknokrasi, bahasa kita makin hari makin mengalami pengerdilan. Kata-kata direduksi menjadi jargon manajemen, slogan komersial, atau sekadar deretan algoritma digital. Kita kehilangan rasa takjub saat berucap.

Di sinilah penyair hadir. Penyair sejati bukanlah tukang sulap kata yang pandai bersilat lidah demi pujian. Penyair justru seorang pendengar yang tekun. Penyair mendengarkan keheningan sebelum kata lahir, lalu melakukan “penamaan asali”. Pemyair memberi nama pada hal-hal sehingga benda-benda tersebut hadir dan bermakna secara utuh untuk pertama kalinya dalam ruang kesadaran kita.

Dari mana kebenaran puisi ini berasal? Heidegger mengajak kita menengok kembali gagasan Yunani Kuno tentang kebenaran yang disebut Aletheia. Dalam pandangan modern, kebenaran sering kali diartikan sebatas kesesuaian antara rumus di kepala dengan fakta di lapangan. Namun Aletheia jauh lebih organik: proses keluar dari ketartersembunyian (unconcealment).

Bayangkan sebuah batu di tepi jalan. Dalam rutinitas harian yang serba cepat, batu itu hampir tidak pernah benar-benar ada bagi kita. Batu hanya objek mati yang kita pijak tanpa sadar. Batu itu tersembunyi di balik ketidakpedulian dan pola pikir utilitarian kita. Namun, begitu seorang penyair menuliskan tentang rasa dinginnya, tekstur kasarnya yang menyimpan jejak zaman, dan kesunyian yang dikandungnya, batu itu mendadak “hadir”. Batu itu keluar dari kegelapan.

Dalam puisi, terjadi pertarungan yang elok antara Dunia (Welt) dan Bumi (Erde). Dunia ialah tatanan makna dan kebudayaan terbuka yang dibangun manusia, sedangkan Bumi ialah materi pekat, rahasia alam yang selalu berusaha menutup diri dari penguasaan kasar manusia. Puisi mendirikan sebuah dunia makna di atas bumi.

Dalam menguji refleksinya, Heidegger terpikat pada Friedrich Hölderlin, penyair romantik Jerman dari abad ke-18. Mengapa Hölderlin? Sebab Hölderlin hidup di era yang disebutnya dürftige Zeit, masa yang miskin secara spiritual. Sebuah masa ketika rasa sakral memudar dan digantikan oleh perburuan rasionalitas yang dingin.

Dalam situasi gersang itu, penyair berdiri di garis perbatasan yang rawan. Ia menjadi perantara antara yang ilahi dan yang fana. Ia menangkap kilatan petunjuk dari langit, lalu menganyamnya ke dalam bahasa bumi agar masyarakat umum tidak kehilangan arah di tengah kegelapan zaman.

Dari Hölderlin pula Heidegger memetik baris kalimat yang amat dalam: …dichterisch wohnet der Mensch. Manusia tinggal secara puitis.

Menghuni bumi ternyata bukan sekadar urusan kepemilikan fisik, sertifikat tanah, atau kemewahan fasilitas rumah. Menghuni secara autentik ialah kemampuan manusia untuk berada dalam keselarasan dengan Empat Serangkai (Das Geviert): Bumi yang menopang pijakan, Langit yang menaungi musim, Yang Ilahi yang memantik rasa kagum, dan Yang Fana yakni kesadaran akan batas umur kita sendiri. Puisi memberi ukuran (Maß) agar manusia tahu diri dan paham posisinya yang tepat di tengah alam semesta.

Refleksi Heidegger mencapai puncaknya ketika ia menelusuri bahaya laten teknologi modern. Heidegger melihat dunia sedang dicengkeram Das Gestell (pembingkaian). Ini cara pandang teknokratis yang memaksa segala sesuatu di alam semesta untuk direduksi menjadi Bestand (cadangan bahan baku yang siap dieksploitasi).

Di bawah mata teknokrasi, hutan tidak lagi dipandang sebagai ruang keheningan yang suci, melainkan sekian kubik kayu yang siap ditebang. Sungai tidak lagi disapa sebagai aliran kehidupan, melainkan potensi daya listrik sekian megawatt. Bahkan manusia sendiri kini dijuluki sebagai “sumber daya manusia”, seolah kita ini cuma komponen mesin yang siap diperas efisiensinya demi menggerakkan roda industri global.

Di hadapan cengkeraman yang meratakan semua nilai menjadi angka dan fungsi ini, puisi hadir sebagai bentuk perlawanan yang tenang namun radikal. Puisi ialah manifestasi dari Poiesis, cara menyingkapkan dunia yang membawa hadir realitas tanpa pernah memaksa atau merusaknya.

Puisi menuntun kita menuju sikap mental yang disebut Heidegger sebagai Gelassenheit. Sikap kerelaan untuk membiarkan benda-benda berada sebagaimana adanya. Ketika seorang penyair menulis tentang sebatang pohon, ia tidak berniat menebangnya untuk kepentingan komersil. Penyair membiarkan pohon itu bernapas, menancapkan akar ke bumi, dan menjadi pohon. Puisi membebaskan kata dari dominasi fungsi, dan pada saat yang sama, membebaskan manusia dari obsesi untuk terus-menerus mengontrol realitas.

Merenungkan pandangan Heidegger tentang puisi membawa kita pada kesadaran yang hangat. Di era di mana kata-kata dapat diproduksi secara massal oleh mesin otomasi dan logika teknokrasi mengatur hampir setiap sudut hidup kita, puisi mengingatkan kita pada hakikat kemanusiaan. Puisi memanggil kita untuk kembali menjadi “penggembala Ada”, bukan penguasa yang tamak.

Barangkali, demi selamat dari kelelahan zaman yang riuh ini, kita tidak selalu membutuhkan teknologi baru atau jawaban-jawaban instan. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah melambat sejenak, meresapi sebaris puisi dalam keheningan. Juga membiarkan kata-kata membawa jiwa kita kembali pulang ke rumahnya. [T]

Tags: HeideggerPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

Next Post

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co