27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Arief Rahzen by Arief Rahzen
August 6, 2026
in Esai
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Ilustrasi dibuat dengan AI

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang teramat patuh pada logika teknokrasi. Segala sesuatu dituntut serba efisien, terukur, terkalkulasi, dan harus menghasilkan nilai guna. Namun, di tengah kemudahan materi dan kelimpahan teknologi digital, banyak dari kita justru merasa ada yang ganjil. Ada rasa hampa yang samar, perasaan bahwa manusia modern saat ini hanyalah para pengembara yang memiliki bangunan fisik, tetapi sesungguhnya kehilangan “rumah” eksistensialnya.

Di tengah suasana keterasingan itulah seorang filsuf Jerman, Martin Heidegger, menunjuk sesuatu yang sering tersisihkan dalam peradaban teknokratis: puisi. Ia tidak menyodorkan resep politik atau keajaiban sains untuk mengobati dahaga zaman. Sebaliknya menyodorkan puisi.

Bagi Heidegger, puisi (Dichtung) bukanlah sekadar permainan kata indah, ornamen estetis untuk mengisi waktu luang, atau luapan emosi subjektif. Puisi merupakan peristiwa ontologis, sebuah momen langka di mana Keberadaan atau Ada (Sein) menyingkapkan dirinya secara utuh kepada manusia.

Untuk alur pikirannya, kita periksa dulu cara pandang tentang bahasa. Di bawah bayang-bayang tatanan teknokrasi, kita menganggap bahasa hanya sebagai alat komunikasi, hanya instrumen. Seperti mata uang atau barang dagangan. Kita memakai kata-kata hanya untuk menyampaikan pesan teknis, mengatur efisiensi, atau mentransmisikan data. Kitalah yang merasa menjadi tuan dan penguasa atas kata-kata.

Namun Heidegger membalik cermin itu. Ia menegaskan: “Die Sprache ist das Haus des Seins”. Bahasa ialah rumah dari Ada. Manusia tak menguasai bahasa, bahasalah yang memungkinkan manusia untuk berpikir dan ada. Sebelum kita mengucapkan sepatah kata pun, bahasa hadir lebih dahulu menyediakan ruang bagi realitas untuk menampakkan diri. Masalahnya, dalam cengkeraman teknokrasi, bahasa kita makin hari makin mengalami pengerdilan. Kata-kata direduksi menjadi jargon manajemen, slogan komersial, atau sekadar deretan algoritma digital. Kita kehilangan rasa takjub saat berucap.

Di sinilah penyair hadir. Penyair sejati bukanlah tukang sulap kata yang pandai bersilat lidah demi pujian. Penyair justru seorang pendengar yang tekun. Penyair mendengarkan keheningan sebelum kata lahir, lalu melakukan “penamaan asali”. Pemyair memberi nama pada hal-hal sehingga benda-benda tersebut hadir dan bermakna secara utuh untuk pertama kalinya dalam ruang kesadaran kita.

Dari mana kebenaran puisi ini berasal? Heidegger mengajak kita menengok kembali gagasan Yunani Kuno tentang kebenaran yang disebut Aletheia. Dalam pandangan modern, kebenaran sering kali diartikan sebatas kesesuaian antara rumus di kepala dengan fakta di lapangan. Namun Aletheia jauh lebih organik: proses keluar dari ketartersembunyian (unconcealment).

Bayangkan sebuah batu di tepi jalan. Dalam rutinitas harian yang serba cepat, batu itu hampir tidak pernah benar-benar ada bagi kita. Batu hanya objek mati yang kita pijak tanpa sadar. Batu itu tersembunyi di balik ketidakpedulian dan pola pikir utilitarian kita. Namun, begitu seorang penyair menuliskan tentang rasa dinginnya, tekstur kasarnya yang menyimpan jejak zaman, dan kesunyian yang dikandungnya, batu itu mendadak “hadir”. Batu itu keluar dari kegelapan.

Dalam puisi, terjadi pertarungan yang elok antara Dunia (Welt) dan Bumi (Erde). Dunia ialah tatanan makna dan kebudayaan terbuka yang dibangun manusia, sedangkan Bumi ialah materi pekat, rahasia alam yang selalu berusaha menutup diri dari penguasaan kasar manusia. Puisi mendirikan sebuah dunia makna di atas bumi.

Dalam menguji refleksinya, Heidegger terpikat pada Friedrich Hölderlin, penyair romantik Jerman dari abad ke-18. Mengapa Hölderlin? Sebab Hölderlin hidup di era yang disebutnya dürftige Zeit, masa yang miskin secara spiritual. Sebuah masa ketika rasa sakral memudar dan digantikan oleh perburuan rasionalitas yang dingin.

Dalam situasi gersang itu, penyair berdiri di garis perbatasan yang rawan. Ia menjadi perantara antara yang ilahi dan yang fana. Ia menangkap kilatan petunjuk dari langit, lalu menganyamnya ke dalam bahasa bumi agar masyarakat umum tidak kehilangan arah di tengah kegelapan zaman.

Dari Hölderlin pula Heidegger memetik baris kalimat yang amat dalam: …dichterisch wohnet der Mensch. Manusia tinggal secara puitis.

Menghuni bumi ternyata bukan sekadar urusan kepemilikan fisik, sertifikat tanah, atau kemewahan fasilitas rumah. Menghuni secara autentik ialah kemampuan manusia untuk berada dalam keselarasan dengan Empat Serangkai (Das Geviert): Bumi yang menopang pijakan, Langit yang menaungi musim, Yang Ilahi yang memantik rasa kagum, dan Yang Fana yakni kesadaran akan batas umur kita sendiri. Puisi memberi ukuran (Maß) agar manusia tahu diri dan paham posisinya yang tepat di tengah alam semesta.

Refleksi Heidegger mencapai puncaknya ketika ia menelusuri bahaya laten teknologi modern. Heidegger melihat dunia sedang dicengkeram Das Gestell (pembingkaian). Ini cara pandang teknokratis yang memaksa segala sesuatu di alam semesta untuk direduksi menjadi Bestand (cadangan bahan baku yang siap dieksploitasi).

Di bawah mata teknokrasi, hutan tidak lagi dipandang sebagai ruang keheningan yang suci, melainkan sekian kubik kayu yang siap ditebang. Sungai tidak lagi disapa sebagai aliran kehidupan, melainkan potensi daya listrik sekian megawatt. Bahkan manusia sendiri kini dijuluki sebagai “sumber daya manusia”, seolah kita ini cuma komponen mesin yang siap diperas efisiensinya demi menggerakkan roda industri global.

Di hadapan cengkeraman yang meratakan semua nilai menjadi angka dan fungsi ini, puisi hadir sebagai bentuk perlawanan yang tenang namun radikal. Puisi ialah manifestasi dari Poiesis, cara menyingkapkan dunia yang membawa hadir realitas tanpa pernah memaksa atau merusaknya.

Puisi menuntun kita menuju sikap mental yang disebut Heidegger sebagai Gelassenheit. Sikap kerelaan untuk membiarkan benda-benda berada sebagaimana adanya. Ketika seorang penyair menulis tentang sebatang pohon, ia tidak berniat menebangnya untuk kepentingan komersil. Penyair membiarkan pohon itu bernapas, menancapkan akar ke bumi, dan menjadi pohon. Puisi membebaskan kata dari dominasi fungsi, dan pada saat yang sama, membebaskan manusia dari obsesi untuk terus-menerus mengontrol realitas.

Merenungkan pandangan Heidegger tentang puisi membawa kita pada kesadaran yang hangat. Di era di mana kata-kata dapat diproduksi secara massal oleh mesin otomasi dan logika teknokrasi mengatur hampir setiap sudut hidup kita, puisi mengingatkan kita pada hakikat kemanusiaan. Puisi memanggil kita untuk kembali menjadi “penggembala Ada”, bukan penguasa yang tamak.

Barangkali, demi selamat dari kelelahan zaman yang riuh ini, kita tidak selalu membutuhkan teknologi baru atau jawaban-jawaban instan. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah melambat sejenak, meresapi sebaris puisi dalam keheningan. Juga membiarkan kata-kata membawa jiwa kita kembali pulang ke rumahnya. [T]

Tags: HeideggerPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

Next Post

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co