16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Arief Rahzen by Arief Rahzen
August 6, 2026
in Esai
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

Ilustrasi dibuat dengan AI

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang teramat patuh pada logika teknokrasi. Segala sesuatu dituntut serba efisien, terukur, terkalkulasi, dan harus menghasilkan nilai guna. Namun, di tengah kemudahan materi dan kelimpahan teknologi digital, banyak dari kita justru merasa ada yang ganjil. Ada rasa hampa yang samar, perasaan bahwa manusia modern saat ini hanyalah para pengembara yang memiliki bangunan fisik, tetapi sesungguhnya kehilangan “rumah” eksistensialnya.

Di tengah suasana keterasingan itulah seorang filsuf Jerman, Martin Heidegger, menunjuk sesuatu yang sering tersisihkan dalam peradaban teknokratis: puisi. Ia tidak menyodorkan resep politik atau keajaiban sains untuk mengobati dahaga zaman. Sebaliknya menyodorkan puisi.

Bagi Heidegger, puisi (Dichtung) bukanlah sekadar permainan kata indah, ornamen estetis untuk mengisi waktu luang, atau luapan emosi subjektif. Puisi merupakan peristiwa ontologis, sebuah momen langka di mana Keberadaan atau Ada (Sein) menyingkapkan dirinya secara utuh kepada manusia.

Untuk alur pikirannya, kita periksa dulu cara pandang tentang bahasa. Di bawah bayang-bayang tatanan teknokrasi, kita menganggap bahasa hanya sebagai alat komunikasi, hanya instrumen. Seperti mata uang atau barang dagangan. Kita memakai kata-kata hanya untuk menyampaikan pesan teknis, mengatur efisiensi, atau mentransmisikan data. Kitalah yang merasa menjadi tuan dan penguasa atas kata-kata.

Namun Heidegger membalik cermin itu. Ia menegaskan: “Die Sprache ist das Haus des Seins”. Bahasa ialah rumah dari Ada. Manusia tak menguasai bahasa, bahasalah yang memungkinkan manusia untuk berpikir dan ada. Sebelum kita mengucapkan sepatah kata pun, bahasa hadir lebih dahulu menyediakan ruang bagi realitas untuk menampakkan diri. Masalahnya, dalam cengkeraman teknokrasi, bahasa kita makin hari makin mengalami pengerdilan. Kata-kata direduksi menjadi jargon manajemen, slogan komersial, atau sekadar deretan algoritma digital. Kita kehilangan rasa takjub saat berucap.

Di sinilah penyair hadir. Penyair sejati bukanlah tukang sulap kata yang pandai bersilat lidah demi pujian. Penyair justru seorang pendengar yang tekun. Penyair mendengarkan keheningan sebelum kata lahir, lalu melakukan “penamaan asali”. Pemyair memberi nama pada hal-hal sehingga benda-benda tersebut hadir dan bermakna secara utuh untuk pertama kalinya dalam ruang kesadaran kita.

Dari mana kebenaran puisi ini berasal? Heidegger mengajak kita menengok kembali gagasan Yunani Kuno tentang kebenaran yang disebut Aletheia. Dalam pandangan modern, kebenaran sering kali diartikan sebatas kesesuaian antara rumus di kepala dengan fakta di lapangan. Namun Aletheia jauh lebih organik: proses keluar dari ketartersembunyian (unconcealment).

Bayangkan sebuah batu di tepi jalan. Dalam rutinitas harian yang serba cepat, batu itu hampir tidak pernah benar-benar ada bagi kita. Batu hanya objek mati yang kita pijak tanpa sadar. Batu itu tersembunyi di balik ketidakpedulian dan pola pikir utilitarian kita. Namun, begitu seorang penyair menuliskan tentang rasa dinginnya, tekstur kasarnya yang menyimpan jejak zaman, dan kesunyian yang dikandungnya, batu itu mendadak “hadir”. Batu itu keluar dari kegelapan.

Dalam puisi, terjadi pertarungan yang elok antara Dunia (Welt) dan Bumi (Erde). Dunia ialah tatanan makna dan kebudayaan terbuka yang dibangun manusia, sedangkan Bumi ialah materi pekat, rahasia alam yang selalu berusaha menutup diri dari penguasaan kasar manusia. Puisi mendirikan sebuah dunia makna di atas bumi.

Dalam menguji refleksinya, Heidegger terpikat pada Friedrich Hölderlin, penyair romantik Jerman dari abad ke-18. Mengapa Hölderlin? Sebab Hölderlin hidup di era yang disebutnya dürftige Zeit, masa yang miskin secara spiritual. Sebuah masa ketika rasa sakral memudar dan digantikan oleh perburuan rasionalitas yang dingin.

Dalam situasi gersang itu, penyair berdiri di garis perbatasan yang rawan. Ia menjadi perantara antara yang ilahi dan yang fana. Ia menangkap kilatan petunjuk dari langit, lalu menganyamnya ke dalam bahasa bumi agar masyarakat umum tidak kehilangan arah di tengah kegelapan zaman.

Dari Hölderlin pula Heidegger memetik baris kalimat yang amat dalam: …dichterisch wohnet der Mensch. Manusia tinggal secara puitis.

Menghuni bumi ternyata bukan sekadar urusan kepemilikan fisik, sertifikat tanah, atau kemewahan fasilitas rumah. Menghuni secara autentik ialah kemampuan manusia untuk berada dalam keselarasan dengan Empat Serangkai (Das Geviert): Bumi yang menopang pijakan, Langit yang menaungi musim, Yang Ilahi yang memantik rasa kagum, dan Yang Fana yakni kesadaran akan batas umur kita sendiri. Puisi memberi ukuran (Maß) agar manusia tahu diri dan paham posisinya yang tepat di tengah alam semesta.

Refleksi Heidegger mencapai puncaknya ketika ia menelusuri bahaya laten teknologi modern. Heidegger melihat dunia sedang dicengkeram Das Gestell (pembingkaian). Ini cara pandang teknokratis yang memaksa segala sesuatu di alam semesta untuk direduksi menjadi Bestand (cadangan bahan baku yang siap dieksploitasi).

Di bawah mata teknokrasi, hutan tidak lagi dipandang sebagai ruang keheningan yang suci, melainkan sekian kubik kayu yang siap ditebang. Sungai tidak lagi disapa sebagai aliran kehidupan, melainkan potensi daya listrik sekian megawatt. Bahkan manusia sendiri kini dijuluki sebagai “sumber daya manusia”, seolah kita ini cuma komponen mesin yang siap diperas efisiensinya demi menggerakkan roda industri global.

Di hadapan cengkeraman yang meratakan semua nilai menjadi angka dan fungsi ini, puisi hadir sebagai bentuk perlawanan yang tenang namun radikal. Puisi ialah manifestasi dari Poiesis, cara menyingkapkan dunia yang membawa hadir realitas tanpa pernah memaksa atau merusaknya.

Puisi menuntun kita menuju sikap mental yang disebut Heidegger sebagai Gelassenheit. Sikap kerelaan untuk membiarkan benda-benda berada sebagaimana adanya. Ketika seorang penyair menulis tentang sebatang pohon, ia tidak berniat menebangnya untuk kepentingan komersil. Penyair membiarkan pohon itu bernapas, menancapkan akar ke bumi, dan menjadi pohon. Puisi membebaskan kata dari dominasi fungsi, dan pada saat yang sama, membebaskan manusia dari obsesi untuk terus-menerus mengontrol realitas.

Merenungkan pandangan Heidegger tentang puisi membawa kita pada kesadaran yang hangat. Di era di mana kata-kata dapat diproduksi secara massal oleh mesin otomasi dan logika teknokrasi mengatur hampir setiap sudut hidup kita, puisi mengingatkan kita pada hakikat kemanusiaan. Puisi memanggil kita untuk kembali menjadi “penggembala Ada”, bukan penguasa yang tamak.

Barangkali, demi selamat dari kelelahan zaman yang riuh ini, kita tidak selalu membutuhkan teknologi baru atau jawaban-jawaban instan. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah melambat sejenak, meresapi sebaris puisi dalam keheningan. Juga membiarkan kata-kata membawa jiwa kita kembali pulang ke rumahnya. [T]

Tags: HeideggerPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

Next Post

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co