Kelambu
Suatu hari, aku bicara dengan kelambu
Dia berkeluh kesah tentang
malam itu doa-doaku
tidak sengaja tersangkut di ketiaknya
Ia bilang ia khilaf dan karena ibu
tidak mau mencucinya lagi,
Mungkin ia sebentar lagi bakal ditinggalkan
oleh kasur, bantal, dan aku
Dan barangkali juga setan
yang demen meninduriku malam jumat
“Tenanglah, kamu tidak tergantikan
Aku yang bakal tergantikan
oleh suruk waktu leha-lehaku
sedangkan kau mungkin harus menyuguhkan
malam perpisahan yang gamblang
dengan purnama atau api lilin kecil
yang mencair di matamu”
Malam ini, kelambu berjanji melepaskan
mimpi-mimpiku yang berteduh diketiaknya
Ia sebenarnya masih ingin berteman
mimpi-mimpiku yang rewel dan belia
Mengajaknya minum kopi, mengejek
nyamuk dan menertawai bau keringatku
Tapi kini mimpi-mimpiku sudah harus pergi
Kelambu kian meregangkan pelukannya
yang lembab malam ini
Esok hari, mereka bakal lari
dan aku akan mengejarnya
sampai dapat
Dompetku
Pagi ini, dompetku
mengumpat terlalu semrawut
Katanya aku menafkahinya dengan uang recehan
yang bahkan bisa kabur
lewat lubuk saku celanaku
yang menyimpan misteri dan bau jabat tangan,
semerbak yang tak bisa diingat
secara baik dan terhormat
Dompetku mengingatkan bahwa bulan lalu
ia kenyang makan uang pinjaman
dan beberapa hari ini ada uang kertas
yang cair dari judi online
Tapi sejak dia diperkosa oleh
tangan yang bau pistol dan puntung peluru,
Ia meminta haknya
buang air besar selembar foto perempuan
dan ktp yang nomornya sudah kadaluawarsa
dalam antrian baru kartu keluarga
Dapur
Lapar yang tidak dirahasiakan
lidah selalu tersulut
di tungku ini :
yang terkapar di depan tanda serumu
yang melalak
yang dibolak-balikkan
dan tidak mungkin alpa berharap
kau lupa resep masakanmu
kemarin malam
Tanda serumu adalah kayu bakarku
Setiap aku harus menyalakan tungku,
mereka luput satu-satu
Ibu, apabila dapurmu sudah tua,
langit-langitnya terasa goyah
dan legam
Atapnya lubang
dan menunggu ditelisik hujan
tungkumu adalah altar pengorbanan
dan kau terus mengeraskannya dengan api
seperti mengeraskan hati dengan sepi,
belajar menyendiri dengan keadaan
Suatu saat nanti
aku akan melihat dapurmu jatuh sakit
lalu menjelma tiada
segala iba bagi ibu
segala abu dari ibu
Semut
Manusia itu semut
mereka merongrong kota-kota kosong
Kota yang subur dan tidak tuntas dibangun
selalu menuntut perpecahan
dari gelas kaca bening yang kapan hari
dicat warna-warni
Toh yang minum pun
tidak masalah selagi isinya
gula, air, dan bubuk kopi
dan keheningan yang berkelahi dengan hati
Kudeta selalu di mulai dari bawah tanah
Jika tidak, namanya demokrasi
atau demo dan kreasi
yang masyhur sesekali
yang ditertawakan lain kali
yang dilawan pikun dan lupa pura-pura
bahwa ada yang mengaku melawan lupa
tapi jaman bahkan tidak kenal dia siapa
Manusia itu semut
Presiden adalah ratu
Koloni adalah negara
Pohon adalah bumi
Tanah adalah semesta
dan penebangnya adalah Tuhan
yang bosan seperti bosannya
lagu Ebiet G. Ade
Barangkali di sana ada jawabnya
Barangkali di sana
ada harta dan ada takhta
dan ada kamu
.
Penulis: Muammar Qadafi Muhajir
Editor: Adnyana Ole





























