22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
in Ulas Buku
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih menjadi residen psikiatri. Hari itu panas, udara ruang tunggu bercampur aroma antiseptik, dan langkah-langkah kaki bergema di koridor panjang menuju ruang pemeriksaan. Ia duduk di pojok ruangan, menunduk, memeluk buku catatan kecil. Dari cara ia menatap lantai, saya tahu ia sedang menahan sesuatu yang berat. Bukan sekadar kesedihan, tetapi semacam perlawanan terhadap dirinya sendiri.

Saya memanggil namanya perlahan. Ia mengangkat kepala dan tersenyum tipis, seolah baru saja mengingat bahwa dunia masih bisa menatapnya dengan ramah. Dalam percakapan pertama kami, suaranya pelan tapi tegas. Ia bercerita dengan runtut, namun dengan jeda panjang di antara kalimat, seperti seseorang yang sedang belajar menata ulang kepingan pikirannya yang berserakan. Saya tahu sejak awal bahwa di balik gejala yang tampak, ada jiwa yang sedang berjuang keras untuk tetap utuh.

Sebagai residen, saya sudah sering bertemu pasien dengan berbagai kondisi. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari sosok ini. Ia tidak sepenuhnya larut dalam keputusasaan. Di balik matanya yang sayu, ada cahaya kecil yang menolak padam. Cahaya itu adalah keinginan untuk mengerti dirinya sendiri. Ia tidak hanya ingin pulih, ia ingin memahami apa yang sedang terjadi di kepalanya. Dan di situlah, menurut saya, titik awal dari setiap penyembuhan.

Beberapa tahun kemudian, kami bertemu lagi. Kali ini bukan di ruang perawatan, tetapi di ruang komunitas. Ia sudah jauh lebih tenang, lebih terbuka, dan membawa banyak tulisan. Ia mengatakan bahwa menulis telah membantunya menemukan bentuk baru dari doa. Ia menulis bukan untuk dikenal, melainkan untuk pulih. Saya tersenyum. Ia tidak tahu bahwa dalam ilmu psikiatri, kami menyebut itu sebagai katarsis, pelepasan emosi yang menyehatkan. Tapi ia sudah menemukannya sendiri, tanpa harus mempelajari teori.

Buku ini adalah hasil dari perjalanan panjang itu. Ia menulis dengan bahasa yang jujur, tanpa hiasan, tanpa ingin dikasihani. Setiap kalimat di dalamnya adalah saksi dari pergulatan panjang antara rasa sakit dan keinginan untuk hidup. Membacanya seperti menyaksikan seseorang menata ulang dirinya sendiri, batu demi batu, luka demi luka, hingga akhirnya berdiri tegak lagi, meski dengan bekas luka yang tidak disembunyikan.

Dalam praktik psikiatri, saya sering belajar bahwa manusia adalah makhluk yang sangat rapuh sekaligus sangat kuat. Dua hal itu bisa hidup berdampingan dalam satu tubuh, bahkan dalam satu napas. Angga adalah salah satu contoh terbaik dari paradoks itu. Ia mengalami skizofrenia, salah satu gangguan jiwa yang sering disalahpahami masyarakat. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan kenyataan, mendengar suara yang tidak didengar orang lain, merasa dikejar oleh sesuatu yang tidak nyata. Namun ia juga tahu bagaimana rasanya bangkit perlahan dari kehancuran itu, menata hidup, dan menerima dirinya apa adanya.

Saya masih ingat saat ia pernah berkata, dengan mata menatap jauh, bahwa kadang-kadang yang paling menyakitkan bukan halusinasi atau delusi, melainkan tatapan orang-orang yang tidak mengerti. Stigma memang sering kali lebih berbahaya daripada penyakit itu sendiri. Ia bisa membunuh kepercayaan diri, memutuskan hubungan, dan menutup pintu-pintu kesempatan bagi banyak orang yang sebenarnya masih mampu berkarya. Itulah sebabnya, bagi saya, keberanian Angga untuk menulis dan berbagi kisah adalah bentuk perlawanan yang luar biasa.

Ia menulis bukan untuk mengeluh, tetapi untuk memberi pemahaman. Ia ingin dunia tahu bahwa penyintas gangguan jiwa juga manusia yang bisa mencintai, bekerja, berkarya, dan bermimpi. Ia ingin masyarakat berhenti memandang gangguan mental sebagai aib, dan mulai melihatnya sebagai bagian dari kemanusiaan yang harus diterima dengan empati. Dalam setiap bab di buku ini, saya menemukan semangat itu. Semangat untuk memulihkan, bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga cara masyarakat melihat orang-orang seperti dirinya.

Skizofrenia bukan akhir dari segalanya. Dalam banyak kasus, pasien bisa hidup stabil selama bertahun-tahun dengan pengobatan dan dukungan yang tepat. Kuncinya adalah keberlanjutan dan penerimaan. Namun di Indonesia, yang sering menjadi kendala bukan hanya obat atau fasilitas, tetapi pandangan sosial yang salah. Masih banyak keluarga yang menyembunyikan anggotanya yang sakit karena malu. Masih banyak masyarakat yang menolak menerima penyintas di lingkungan kerja atau tempat tinggal. Padahal, justru dukungan sosial itulah yang paling dibutuhkan dalam proses pemulihan.

Angga beruntung karena ia akhirnya menemukan lingkungan yang mendukungnya untuk tumbuh. Ia menulis, bekerja, dan berkumpul dengan sesama penyintas di Rumah Berdaya Denpasar. Dari sana, ia belajar bahwa kepulihan adalah perjalanan bersama. Ia bertemu banyak orang yang memiliki luka berbeda, tapi berbagi semangat yang sama. Ia menemukan makna baru dari kata pulih. Bukan bebas dari penyakit, tapi bebas dari rasa malu karena sakit.

Dalam dunia medis, kami mengenal pendekatan pemulihan yang berorientasi pada harapan. Fokusnya bukan hanya pada gejala, tetapi pada kehidupan setelah gejala itu. Pendekatan ini mengajak pasien untuk berpartisipasi aktif dalam perjalanan sembuhnya, mengambil kendali, dan menemukan makna baru dari hidupnya. Angga menerapkan semua itu tanpa ia sadari. Ia menulis, bekerja, berbagi, dan mencintai dengan penuh kesadaran bahwa dirinya tidak sempurna, tetapi cukup.

Sebagai dokter, saya selalu berusaha menyeimbangkan antara ilmu dan empati. Psikiatri bukan hanya tentang diagnosis dan resep, tetapi tentang memahami manusia dalam segala kompleksitasnya. Setiap pasien membawa cerita yang unik, dan sering kali, cerita itulah yang menjadi kunci penyembuhan. Dalam kasus Angga, ceritanya bukan hanya kunci bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang lain yang sedang berjuang dalam sunyi.

Ketika saya membaca naskah buku ini untuk pertama kali, saya sempat berhenti di tengah halaman dan menutupnya sejenak. Ada bagian yang membuat dada saya sesak, karena saya tahu betapa nyata penderitaan itu. Tapi di saat yang sama, ada kehangatan yang mengalir dari setiap paragraf. Buku ini tidak menjerit, tidak menuntut belas kasihan, melainkan berbicara dengan kelembutan. Ia tidak berusaha membujuk pembaca untuk memahami, tetapi membuat kita memahami tanpa sadar.

Saya teringat pada banyak pasien yang datang ke ruang praktik dengan ketakutan yang sama. Mereka takut dianggap gila, takut kehilangan pekerjaan, takut ditinggalkan. Mereka lupa bahwa mereka masih manusia yang berhak dicintai. Angga mengingatkan kita semua bahwa gangguan mental bukanlah kebalikan dari kewarasan, melainkan bagian dari spektrum kemanusiaan yang luas. Di antara waras dan tidak waras, ada wilayah abu-abu yang penuh pergulatan, dan di situlah banyak jiwa sedang berusaha bertahan.

Buku ini memberi pesan kuat bahwa setiap orang bisa pulih dengan caranya sendiri. Pulih tidak berarti kembali seperti dulu, tetapi menjadi seseorang yang baru dengan bekal pengalaman dan luka yang sudah diterima. Angga menulis bahwa luka itu tidak hilang, hanya belajar diam di tempatnya. Itu kalimat yang sangat dalam dan benar adanya. Dalam praktik sehari-hari, saya melihat banyak pasien yang sembuh bukan karena penyakitnya lenyap, tapi karena mereka belajar berdamai dengannya.

Saya percaya bahwa menulis bagi Angga adalah bentuk terapi yang paling murni. Ia menulis untuk menyalurkan energi, untuk menenangkan pikiran, untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Setiap kalimatnya adalah obat yang ia racik sendiri dengan penuh kesadaran. Ia membuktikan bahwa kesembuhan tidak selalu datang dari resep, tetapi bisa juga lahir dari kata. Dalam konteks itu, buku ini bukan hanya karya sastra, tetapi juga karya terapeutik.

Sebagai psikiater, saya juga belajar banyak dari perjalanannya. Ia mengajarkan bahwa tugas kami bukan sekadar menyembuhkan, melainkan menemani. Menjadi saksi bagi perjuangan orang lain kadang lebih berarti daripada memberi solusi. Dalam hubungan dokter dan pasien, kepercayaan adalah obat yang paling mujarab. Dan saya bersyukur, hubungan kami tumbuh menjadi lebih dari itu. Kami menjadi sahabat yang saling belajar tentang arti hidup, luka, dan penerimaan.

Kini, setiap kali saya melihat Angga berbicara di forum publik atau membaca puisi di depan umum, saya merasa seperti melihat kemenangan kecil yang besar artinya. Dulu ia datang sebagai pasien, kini ia berdiri sebagai inspirasi. Ia tidak lagi berbicara dari ruang isolasi, melainkan dari ruang pemahaman. Ia membantu banyak orang untuk tidak takut mencari pertolongan. Ia menunjukkan bahwa gangguan jiwa bukanlah akhir, tetapi bisa menjadi awal dari hidup yang lebih sadar.

Saya berharap buku ini bisa menjadi jembatan bagi masyarakat untuk memahami bahwa kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan manusia seutuhnya. Tidak ada yang memalukan dari mencari bantuan, tidak ada yang salah dari mengaku sedang tidak baik-baik saja. Semoga kisah Angga menjadi pelita bagi mereka yang sedang berjuang dalam gelap, agar tahu bahwa pulih itu nyata, bahwa ada harapan, dan bahwa mereka tidak sendiri.

Bagi saya pribadi, perjalanan bersama Angga adalah pelajaran tentang kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap gangguan, selalu ada jiwa yang ingin didengar. Ia membuat saya percaya bahwa keajaiban tidak selalu datang dari mukjizat besar, tetapi dari keberanian kecil untuk hidup satu hari lagi. Ia membuktikan bahwa cinta, empati, dan kata-kata bisa menjadi bentuk penyembuhan yang tak kalah kuat dari obat apa pun.

Terima kasih, Angga, karena telah menulis dengan keberanian dan kejujuran yang menular. Terima kasih karena telah menjadikan pengalamanmu bukan sebagai beban, tetapi sebagai jendela bagi banyak orang untuk melihat dunia dengan cara yang lebih lembut. Saya percaya, buku ini akan memberi kekuatan bagi siapa pun yang membacanya. Tidak hanya bagi penyintas, tetapi juga bagi keluarga, tenaga kesehatan, dan siapa saja yang pernah merasa kehilangan harapan. Pulih bukanlah garis akhir, melainkan cara baru untuk berjalan. Dan buku ini adalah langkah kecil yang berarti dalam perjalanan panjang menuju masyarakat yang lebih manusiawi. [T]

Tags: BukuUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awas Ada Pocong!

Next Post

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co