Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini berisi 27 cerpen yang ditulis pada rentang waktu 2004 sampai 2021. Kumpulan cerpen ini seperti monumen atas proses kreatif Ragdi F Daye selama lebih dari 25 tahun dalam menulis karya sastra.
Cerpen-cerpen yang tergabung dalam buku kumpulan cerpen Singkarak, Riang dan Sendunya ini bukan hanya tentang cerita yang lahir dari imajinasi Ragdi F Daye akan tetapi merupakan memori kolektif masyarakat tentang Solok secara khusus tentang Minangkabau secara umum. Ragdi F Daye mencatat fenomena sosial, budaya, dan agama yang tumbuh dalam masyarakat Minangkabau melalui cerpen-cerpennya.
Ragdi F Daye sendiri tentu bukan nama yang asing bagi pembaca karya sastra di Indonesia. Ragdi F Daye adalah nama pena dari Ade Efdira, seorang sastrawan Minangkabau kelahiran Solok, Sumatera Barat. Mendengar nama Ragdi F Daye ini muncul ingatan tentang ia seorang sastrawan Minang, ia merupakan alumni Fakultas Sastra Unand, ia penggerak literasi, dan belakangan dia juga dikenal sebagai ASN pada Dinas Kebudayaan, Provinsi Sumatera Barat.
Pada karya-karyanya, orang bisa membaca identitas Ragdi F Daye itu seperti pada beberapa kutipan yang sering dia pilih dalam karya-karyanya. Mungkin tidak serta-merta menunjukkan jati dirinya, tapi bisa membuat pembaca menduga-duga begitulah ia mengidentifikasi dirinya. Hal ini seperti dapat dilihat pada kutipan “Lelaki murung yang pemberang” (Hal: 38), “Laki-laki yang menghormati ibunya dan mencintai bumi yang ia pijak” (Hal: 21), dan “Lelaki yang dibuang dan membuang diri” (Hal: 55). Terlepas dari bagaimana orang akan mengenalnya, tentu saja pembaca boleh menginterpretasikan sesuai dengan pembacaan mereka.
Terkait Kumpulan Cerpen Singkarak, Riang dan Sendunya ini, ada tiga hal yang menjadi catatan saya. Pertama, membaca cerpen-cerpen ini, pembaca bisa melihat benang merah yang tegas, yaitu bagaimana pengarang menuliskan kehilangan dalam kisah-kisah indah dan megah dalam sebuah karya sastra. Secara umum, cerpen Ragdi F. Daye menceritakan kehilangan sang tokoh di dalam ceritanya. Kehilangan dalam hal ini baik secara tersirat maupun secara tersurat. Kehilangan yang benar-benar hilang, sesuatu yang tidak akan kembali pada tokoh dalam cerita. Kehilangan yang tidak akan didapatkan kembali, karena pilihan sadar untuk meninggalkannya.
Kehilangan yang menjadi tema-tema dalam cerpen Ragdi F Daye ini diantaranya adalah kehilangan anak-anak karena merantau sebagaimana menjadi tradisi masyarakat Minangkabau secara umum. Hal ini seperti dialami Mak Leha tokoh dalam cerpen “Rumah Lumut” di mana Mak Leha kehilangan anak-anaknya satu per satu karena mereka pergi merantau dan tidak kembali ke kampung halaman mereka. Tema yang hampir sama muncul dalam cerpen “Imam” yang menceritakan tentang Gaek Rusin dan Rubana, sepasang lansia yang kehilangan anak-anak mereka karena pergi merantau dan tak kembali. “Imam” menceritakan kerinduan orang tua atas anak-anak mereka yang pergi merantau.
Selain dua cerpen tersebut, kehilangan karena dipisahkan tanah rantau juga muncul dalam cerpen “Jarak”. Dalam cerpen ini, rantau dilihat dari sudut pandang berbeda: tokoh Attar yang kehilangan jalan pulang dan kehilangan kerinduannya pada kampung halaman. Cerita ini tentang rindu dendam pada kampung halaman yang tak terbayar lunas, mewakili kisah-kisah perasaan anak Minang perantauan pada kampung halamannya.
Selain kehilangan rumah dan kampung halaman karena jarak dan rantau, kisah-kisah dalam cerpen ini juga menceritakan kehilangan yang sebenar-benarnya hilang, seperti tokoh Aku dalam cerpen “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan”, yang memilih menjadi istri kedua Tan Mulo daripada menerima pinangan kekasihnya, Lelaki Panyakalan, yang sudah menjadi anak kuliahan di Padang. Atau seperti cinta Kael yang tidak mungkin dilanjutkan karena Ilanur adalah istri orang dalam cerpen “Lekuk Teluk”.
Kehilangan lain dalam kumpulan cerpen ini dapat kita lihat pada cerpen “Pemburu Babi” tentang perempuan kecil yang kehilangan kegadisannya, “Perempuan Bawang” tentang Mak penjual bawang yang kehilangan tempat hidupnya, “Punggung” tentang Ca yang kehilangan laki-laki yang dicintainya, Abrar, ayahnya, dan cucunya Fauzi karena PRRI dan semangat pemberontakan. Selain itu kehilangan juga muncul sebagai makna simbolis seperti dalam cerpen “Seekor Anjing yang Menangis” yang menggambarkan kehilangan simpati para pemimpin pada rakyak kecil, “Kelakar Seekor Sapi’ tentang Capa yang kehilangan sapinya, pada dasarnya menceritakan bagaimana kemiskinan mencekik kehidupan mereka.
Cerpen-cerpen lain menggambarkan dinamika sosial Ranah Minang seperti cerpen “Kucing Tua” tentang relasi budaya hubungan menantu dan mertua, tentang Mak Rasai yang merasa tersisih dari anak dan menantunya. Cerpen “Mungkin Jibril Asyik Berzapin” tentang Soka yang seolah kehilangan Ibrahim suaminya, karena suaminya lebih memilih menjadi pendakwah daripada menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga. “Lelaki Kayu” cerpen yang menceritakan bagaimana orang-orang yang sudah kehilangan empati. Maskulinitas kaku yang mematikan rasa. Duda yang kehilangan istri dan anaknya yang berusaha membangun relasi baru, namun terperangkap dalam jalan yang dianggap salah dalam kehidupan sosial.
Kehilangan-kehilangan simbolik juga muncul dalam cerpen “Empat Meter dari Pangkal”, “Barangkali Telah Kau Seka Namaku”, “Takut”, “Cinta Sepasang Malam”, “Mural yang Gemetar” dan beberapa cerpen lainnya. Sementara itu, Ragdi F Daye juga menceritakan tentang kehilangan alam dan lingkungan seperti dalam cerpen “Pelepah Ikan” dan “Bukan Cinta yang Beracun di Dalam”.
Catatan kedua, kumpulan cerpen Singkarak, Riang, dan Sendunya karya Ragdi F Daye ini adalah cerpen-cerpen yang memuat memori kolektif masyarakat Minangkabau. Konsep memori kolektif berakar pada pemikiran Maurice Halbwach yang menegaskan bahwa ingatan tidak pernah sepenuhnya individual. Ingatan selalu dibentuk secara sosial, hidup dalam bahasa, simbol, dan narasi serta diwariskan lintas generasi melalui media budaya. Dalam konteks ini, cerpen berfungsi sebagai arsip kultural nonresmi, ia bukan catatan sejarah negara, melainkan sejarah emosional masyarakat. Cerpen-cerpen Ragdi F Daye tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi menyimpan bekasnya.
Karya Ragdi F Daye berfungsi sebagai media memori kolektif yang merekam paradoks emosional masyarakat Minangkabau, antara keindahan dan kehilangan. Melalui narasi personal yang menyimpan trauma sosial, nostalgia kritis, dan ingatan budaya yang tak tertampung dalam sejarah resmi.
Keseluruhan cerpen dalam buku Singkarak, Riang dan Sendunya ini membentuk satu medan memori kolektif yang memusat pada pengalaman kehilangan. Kehilangan tubuh, rumah, cinta, iman, alam, dan kehilangan identitas yang direpresentasikan melalui ruang lokal Singkarak sebagai arsip emosional masyarakat.
Cerpen Ragdi F Daye menggambarkan puitika kehilangan di mana ia memperlihatkan bagaimana trauma sosial pascakolonial bekerja bukan melalui peristiwa spektakuler, melainkan melalui kehilangan perlahan atas tubuh, ruang hidup, relasi sosial, dan harapan yang dialami oleh subjek-subjek tanpa mekanisme pemulihan.
Ketiga, catatan atas kumpulan cerpen Singkarak Riang dan Sendunya ini adalah tentang bahasa Minang, bahasa lokal yang menjadi medium memori kolektif masyarakat Minangkabau. Cerpen-cerpen ini lahir dari bahasa yang tumbuh pada lidah penduduknya, bahkan bahasa-bahasa yang berisi kekeraskepalaan romantik khas Kubuang Tigo Baleh. Pada beberapa cerpen Ragdi F Daye bertebaran bahasa-bahasa Minang seperti labuah, bungo lado, puro, kodek, lapau, taragak, litak, menggedudu, parak, kuduk, badaceh, menegah, bersobok, lampu togok dan banyak kosakata lainnya.
Kehadiran bahasa lokal dalam sebuah cerpen bisa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, dia memberi keunggulan pada sebuah karya sastra; di sisi lain, dia memberikan nilai kurang untuk karya sastra tersebut. Bagi Ragdi F Daye, bumbu-bumbu kosakata Minang dalam cerpennya bisa saja cara mengungkapkan sesuatu yang tidak tergantikan, mungkin pengarang berharap bahasa lokal untuk karya yang global itu menjadi pelengkap indahnya karya sastra. Namun, di sisi lain, bahasa lokal membuat cita rasa bahasa berkurang bagi pembaca yang tidak berasal dari bahasa yang sama. Walaupun ada catatan kaki, hal ini akan membuat pembaca terganggu karena harus merujuk ke bagian kaki tulisan untuk memahami kata-kata yang ganjil tersebut.
Selain bermunculannya bahasa-bahasa Minang dalam kumpulan cerpen ini, ciri khas bahasa yang digunakan Ragdi F Daye adalah bahasa-bahasa yang tumbuh dari pengalaman bersentuhan dengan kehidupan sosial dan alam Minangkabau. Pada beberapa cerpennya, Ragdi F Daye sering menggambarkan betapa perihnya kaki ketika menginjak tunas ilalang. Saya yakin pembaca tidak akan paham bagaimana sakitnya terinjak tunas ilalang ini kalau pembaca tidak pernah merasakan bersentuhan dengan ladang-ladang ilalang, di tempat tumbuhnya, tunas ilalang yang tajam membuat kaki telanjang akan kesakitan jika menginjaknya.
Ragdi F Daye sebagai seorang anak ladang, tahu persis bagaimana sakit dan perihnya kaki telanjang yang menginjak tunas ilalang ini. Oleh sebab itu, persentuhannya dengan peristiwa alam itu dia rasakan sangat membekas dalam dirinya. Berbeda rasa bahasa yang dia tuliskan itu dengan pembaca yang tidak pernah merasakan atau tidak pernah tahu bagaimana bentuk tunas ilalang itu.
Begitulah pembacaan saya atas kumpulan cerpen Singkarak Riang dan Sendunya ini. Jika merujuk pada Roland Barthes (1967) yang menulis “The Death of The Author”, tentu ini adalah pembacaan yang sah-sah saja. Secara umum, dalam cerpen ini saya melihat Ragdi F Daye menuliskan luka-luka dalam cerpennya. Baginya, luka adalah mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang patah (seperti ditulis pada halaman pembuka kumpulan cerpen). Ragdi F Daye mengubah kepahitan dan luka-luka menjadi keindahan dalam karya sastra yang lahir dari jemarinya. [T]
Jakarta, 12 Juli 2026






























