29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Azwar by Azwar
July 17, 2026
in Ulas Buku
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

“Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini berisi 27 cerpen yang ditulis pada rentang waktu 2004 sampai 2021. Kumpulan cerpen ini seperti monumen atas proses kreatif Ragdi F Daye selama lebih dari 25 tahun dalam menulis karya sastra.

Cerpen-cerpen yang tergabung dalam buku kumpulan cerpen Singkarak, Riang dan Sendunya ini bukan hanya tentang cerita yang lahir dari imajinasi Ragdi F Daye akan tetapi merupakan memori kolektif masyarakat tentang Solok secara khusus tentang Minangkabau secara umum. Ragdi F Daye mencatat fenomena sosial, budaya, dan agama yang tumbuh dalam masyarakat Minangkabau melalui cerpen-cerpennya.

Ragdi F Daye sendiri tentu bukan nama yang asing bagi pembaca karya sastra di Indonesia. Ragdi F Daye adalah nama pena dari Ade Efdira, seorang sastrawan Minangkabau kelahiran Solok, Sumatera Barat. Mendengar nama Ragdi F Daye ini muncul ingatan tentang ia seorang sastrawan Minang, ia merupakan alumni Fakultas Sastra Unand, ia penggerak literasi, dan belakangan dia juga dikenal sebagai ASN pada Dinas Kebudayaan, Provinsi Sumatera Barat.

Pada karya-karyanya, orang bisa membaca identitas Ragdi F Daye itu seperti pada beberapa kutipan yang sering dia pilih dalam karya-karyanya. Mungkin tidak serta-merta menunjukkan jati dirinya, tapi bisa membuat pembaca menduga-duga begitulah ia mengidentifikasi dirinya. Hal ini seperti dapat dilihat pada kutipan “Lelaki murung yang pemberang” (Hal: 38), “Laki-laki yang menghormati ibunya dan mencintai bumi yang ia pijak” (Hal: 21), dan “Lelaki yang dibuang dan membuang diri” (Hal: 55). Terlepas dari bagaimana orang akan mengenalnya, tentu saja pembaca boleh menginterpretasikan sesuai dengan pembacaan mereka.

Terkait Kumpulan Cerpen Singkarak, Riang dan Sendunya ini, ada tiga hal yang menjadi catatan saya. Pertama, membaca cerpen-cerpen ini, pembaca bisa melihat benang merah yang tegas, yaitu bagaimana pengarang menuliskan kehilangan dalam kisah-kisah indah dan megah dalam sebuah karya sastra. Secara umum, cerpen Ragdi F. Daye menceritakan kehilangan sang tokoh di dalam ceritanya. Kehilangan dalam hal ini baik secara tersirat maupun secara tersurat. Kehilangan yang benar-benar hilang, sesuatu yang tidak akan kembali pada tokoh dalam cerita. Kehilangan yang tidak akan didapatkan kembali, karena pilihan sadar untuk meninggalkannya.

Kehilangan yang menjadi tema-tema dalam cerpen Ragdi F Daye ini diantaranya adalah kehilangan anak-anak karena merantau sebagaimana menjadi tradisi masyarakat Minangkabau secara umum. Hal ini seperti dialami Mak Leha tokoh dalam cerpen “Rumah Lumut” di mana Mak Leha kehilangan anak-anaknya satu per satu karena mereka pergi merantau dan tidak kembali ke kampung halaman mereka. Tema yang hampir sama muncul dalam cerpen “Imam” yang menceritakan tentang Gaek Rusin dan Rubana, sepasang lansia yang kehilangan anak-anak mereka karena pergi merantau dan tak kembali. “Imam” menceritakan kerinduan orang tua atas anak-anak mereka yang pergi merantau.

Selain dua cerpen tersebut, kehilangan karena dipisahkan tanah rantau juga muncul dalam cerpen “Jarak”. Dalam cerpen ini, rantau dilihat dari sudut pandang berbeda: tokoh Attar yang kehilangan jalan pulang dan kehilangan kerinduannya pada kampung halaman. Cerita ini tentang rindu dendam pada kampung halaman yang tak terbayar lunas, mewakili kisah-kisah perasaan anak Minang perantauan pada kampung halamannya.

Selain kehilangan rumah dan kampung halaman karena jarak dan rantau, kisah-kisah dalam cerpen ini juga menceritakan kehilangan yang sebenar-benarnya hilang, seperti tokoh Aku dalam cerpen “Di Solok Aku Akan Mati Perlahan”, yang memilih menjadi istri kedua Tan Mulo daripada menerima pinangan kekasihnya, Lelaki Panyakalan, yang sudah menjadi anak kuliahan di Padang. Atau seperti cinta Kael yang tidak mungkin dilanjutkan karena Ilanur adalah istri orang dalam cerpen “Lekuk Teluk”.

Kehilangan lain dalam kumpulan cerpen ini dapat kita lihat pada cerpen “Pemburu Babi” tentang perempuan kecil yang kehilangan kegadisannya, “Perempuan Bawang” tentang Mak penjual bawang yang kehilangan tempat hidupnya, “Punggung” tentang Ca yang kehilangan laki-laki yang dicintainya, Abrar, ayahnya, dan cucunya Fauzi karena PRRI dan semangat pemberontakan. Selain itu kehilangan juga muncul sebagai makna simbolis seperti dalam cerpen “Seekor Anjing yang Menangis” yang menggambarkan kehilangan simpati para pemimpin pada rakyak kecil, “Kelakar Seekor Sapi’ tentang Capa yang kehilangan sapinya, pada dasarnya menceritakan bagaimana kemiskinan mencekik kehidupan mereka.

Cerpen-cerpen lain menggambarkan dinamika sosial Ranah Minang seperti cerpen “Kucing Tua” tentang relasi budaya hubungan menantu dan mertua, tentang Mak Rasai yang merasa tersisih dari anak dan menantunya. Cerpen “Mungkin Jibril Asyik Berzapin” tentang Soka yang seolah kehilangan Ibrahim suaminya, karena suaminya lebih memilih menjadi pendakwah daripada menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga. “Lelaki Kayu” cerpen yang menceritakan bagaimana orang-orang yang sudah kehilangan empati. Maskulinitas kaku yang mematikan rasa. Duda yang kehilangan istri dan anaknya yang berusaha membangun relasi baru, namun terperangkap dalam jalan yang dianggap salah dalam kehidupan sosial.

Kehilangan-kehilangan simbolik juga muncul dalam cerpen “Empat Meter dari Pangkal”, “Barangkali Telah Kau Seka Namaku”, “Takut”, “Cinta Sepasang Malam”, “Mural yang Gemetar” dan beberapa cerpen lainnya. Sementara itu, Ragdi F Daye juga menceritakan tentang kehilangan alam dan lingkungan seperti dalam cerpen “Pelepah Ikan” dan “Bukan Cinta yang Beracun di Dalam”.

Catatan kedua, kumpulan cerpen Singkarak, Riang, dan Sendunya karya Ragdi F Daye ini adalah cerpen-cerpen yang memuat memori kolektif masyarakat Minangkabau. Konsep memori kolektif berakar pada pemikiran Maurice Halbwach yang menegaskan bahwa ingatan tidak pernah sepenuhnya individual. Ingatan selalu dibentuk secara sosial, hidup dalam bahasa, simbol, dan narasi serta diwariskan lintas generasi melalui media budaya. Dalam konteks ini, cerpen berfungsi sebagai arsip kultural nonresmi, ia bukan catatan sejarah negara, melainkan sejarah emosional masyarakat. Cerpen-cerpen Ragdi F Daye tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi menyimpan bekasnya.

Karya Ragdi F Daye berfungsi sebagai media memori kolektif yang merekam paradoks emosional masyarakat Minangkabau, antara keindahan dan kehilangan. Melalui narasi personal yang menyimpan trauma sosial, nostalgia kritis, dan ingatan budaya yang tak tertampung dalam sejarah resmi.

Keseluruhan cerpen dalam buku Singkarak, Riang dan Sendunya ini membentuk satu medan memori kolektif yang memusat pada pengalaman kehilangan. Kehilangan tubuh, rumah, cinta, iman, alam, dan kehilangan identitas yang direpresentasikan melalui ruang lokal Singkarak sebagai arsip emosional masyarakat.

Cerpen Ragdi F Daye menggambarkan puitika kehilangan di mana ia memperlihatkan bagaimana trauma sosial pascakolonial bekerja bukan melalui peristiwa spektakuler, melainkan melalui kehilangan perlahan atas tubuh, ruang hidup, relasi sosial, dan harapan yang dialami oleh subjek-subjek tanpa mekanisme pemulihan.

Ketiga, catatan atas kumpulan cerpen Singkarak Riang dan Sendunya ini adalah tentang bahasa Minang, bahasa lokal yang menjadi medium memori kolektif masyarakat Minangkabau. Cerpen-cerpen ini lahir dari bahasa yang tumbuh pada lidah penduduknya, bahkan bahasa-bahasa yang berisi kekeraskepalaan romantik khas Kubuang Tigo Baleh. Pada beberapa cerpen Ragdi F Daye bertebaran bahasa-bahasa Minang seperti labuah, bungo lado, puro, kodek, lapau, taragak, litak, menggedudu, parak, kuduk, badaceh, menegah, bersobok, lampu togok dan banyak kosakata lainnya.

Kehadiran bahasa lokal dalam sebuah cerpen bisa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, dia memberi keunggulan pada sebuah karya sastra; di sisi lain, dia memberikan nilai kurang untuk karya sastra tersebut. Bagi Ragdi F Daye, bumbu-bumbu kosakata Minang dalam cerpennya bisa saja cara mengungkapkan sesuatu yang tidak tergantikan, mungkin pengarang berharap bahasa lokal untuk karya yang global itu menjadi pelengkap indahnya karya sastra. Namun, di sisi lain, bahasa lokal membuat cita rasa bahasa berkurang bagi pembaca yang tidak berasal dari bahasa yang sama. Walaupun ada catatan kaki, hal ini akan membuat pembaca terganggu karena harus merujuk ke bagian kaki tulisan untuk memahami kata-kata yang ganjil tersebut.

Selain bermunculannya bahasa-bahasa Minang dalam kumpulan cerpen ini, ciri khas bahasa yang digunakan Ragdi F Daye adalah bahasa-bahasa yang tumbuh dari pengalaman bersentuhan dengan kehidupan sosial dan alam Minangkabau. Pada beberapa cerpennya, Ragdi F Daye sering menggambarkan betapa perihnya kaki ketika menginjak tunas ilalang. Saya yakin pembaca tidak akan paham bagaimana sakitnya terinjak tunas ilalang ini kalau pembaca tidak pernah merasakan bersentuhan dengan ladang-ladang ilalang, di tempat tumbuhnya, tunas ilalang yang tajam membuat kaki telanjang akan kesakitan jika menginjaknya.

Ragdi F Daye sebagai seorang anak ladang, tahu persis bagaimana sakit dan perihnya kaki telanjang yang menginjak tunas ilalang ini. Oleh sebab itu, persentuhannya dengan peristiwa alam itu dia rasakan sangat membekas dalam dirinya. Berbeda rasa bahasa yang dia tuliskan itu dengan pembaca yang tidak pernah merasakan atau tidak pernah tahu bagaimana bentuk tunas ilalang itu.

Begitulah pembacaan saya atas kumpulan cerpen Singkarak Riang dan Sendunya ini. Jika merujuk pada Roland Barthes (1967) yang menulis “The Death of The Author”, tentu ini adalah pembacaan yang sah-sah saja. Secara umum, dalam cerpen ini saya melihat Ragdi F Daye menuliskan luka-luka dalam cerpennya. Baginya, luka adalah mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang patah (seperti ditulis pada halaman pembuka kumpulan cerpen). Ragdi F Daye mengubah kepahitan dan luka-luka menjadi keindahan dalam karya sastra yang lahir dari jemarinya. [T]

Jakarta, 12 Juli 2026

Tags: buku kumpulan cerpenDanau Singkarakkumpulan cerpenRagdi F Dayesastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

Next Post

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Azwar

Azwar

Penulis dan akademisi. Saat ini ia menjadi dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, UPN Veteran Jakarta. Beberapa karyanya adalah novel Bunian Musnahnya Sebuah Peradaban (2009), novel Hidup adalah Perjuangan (2012), novel Cindaku (2014) dan novel Cinta Seribu Nyawa (2018). Ia juga menulis buku Membaca Sastra Membaca Dunia (Basa Basi, 2016), Teori Kritis dalam Studi Komunikasi (Prenada Media, 2024).

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co