10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
in Ulas Buku
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Novel ‘Korpus Uterus’

  • Judul             : Korpus Uterus
  • Penulis          : Sasti Gotama
  • Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
  • Editor             : Ruth Priscilia Angelina
  • Tebal buku   : 296 halaman 

“Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.” (Korpus Uterus, hal. 150).

Kutipan itu merupakan inti utama dari novel ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama. Ia bukan sekadar dialog tokoh, tetapi pernyataan yang merangkum keseluruhan gagasan novel. Melalui kisah ini, Sasti Gotama mengajak pembaca memasuki ruang paling intim sekaligus paling diperdebatkan dalam kehidupan perempuan: tubuh, rahim, dan hak menentukan nasibnya sendiri.

Sedari halaman-halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada kenyataan yang getir. Hampir seluruh tokoh dalam novel ini memikul kisah memilukan dan luka mereka saling bertaut. Tidak ada penderitaan yang lahir begitu saja. Setiap trauma berasal dari trauma lain yang diwariskan oleh keluarga, masyarakat, bahkan sejarah yang melatarbelakanginya. Dari jalinan itulah Sasti Gotama membangun cerita yang emosional tanpa terjebak menjadi melodrama.

Tokoh utama, Luh ꟷ yang bernama lengkap Panuluh ꟷ menjadi poros dari seluruh cerita. Awalnya saya sempat mengira Luh adalah seorang perempuan karena namanya. Beruntung, sejak awal penulis menjelaskan bahwa Panuluh adalah laki-laki sehingga pembaca tidak dibuat salah menafsirkan tokoh utama. Perjalanan Luh kemudian dibangun sangat apik. Ia bukan sekadar tokoh utama, tetapi menjadi representasi seseorang yang lahir dari kekerasan dan menghabiskan hidupnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan, mengapa ia harus dilahirkan?

Sedari awal pula, pembaca langsung memahami alasan mengapa Luh tumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Penolakan yang ia terima bahkan telah dimulai sejak masih berupa janin. Kalimah, ibunya, menganggap kehadiran Luh sebagai aib.

“Baginya, anak itu hanya benih dari tahi. Oleh karena itu pasti yang lahir tahi juga…. dan tak sepatutnya tahi memiliki nama.” (hal. 9).

“Mungkin Ibu membenci Luh, tapi rahimnya tidak.” (hal. 141).

Dua kutipan tersebut memperlihatkan bagaimana novel ini membedakan antara manusia dengan tubuhnya sendiri. Seorang ibu dapat menolak anak yang dikandungnya, tetapi rahim tetap menjalankan kodratnya menjaga kehidupan. Dari sinilah rahim dalam ‘Korpus Uterus’ tidak lagi dipahami sebagai organ biologis semata, melainkan sebagai metafora sekaligus ironi. Sejatinya, rahim itulah ibu.

Selama ini orang acap menyebut rambut sebagai mahkota perempuan. Namun, ‘Korpus Uterus’ menawarkan sudut pandang berbeda. Dalam novel ini, justru rahimlah yang menjadi pusat kehidupan perempuan. Di sanalah cinta, penderitaan, trauma, dan harapan bertemu.

“Mungkin tanda cinta terbesar seorang perempuan adalah mempersembahkan rahim.” (hal. 211).

“Aku pernah membaca, rahim berasal dari kata rahima yang bermakna mengasihi. Maka, ketika perempuan mengandung, sesungguhnya itu bukti kasihnya.” (hal. 211).

Melalui dua kutipan tokoh Lara tersebut, Sasti Gotama seolah mengajak pembaca melihat rahim dari sudut pandang lebih manusiawi. Rahim bukan sekadar tempat tumbuhnya janin, tetapi ruang tempat kasih, pengorbanan, dan  kehidupan bermula.

Sasti Gotama begitu berani mengangkat isu-isu yang sensitif di Indonesia: pemerkosaan, aborsi, kehamilan tak diinginkan, hingga hak perempuan atas tubuhnya sendiri. Tema-tema itu berhasil diolah menjadi kisah autentik dengan pergulatan moral yang kompleks.

Pernyataan tokoh Lima (Kalimah) menjadi penegas gagasan tersebut.

“Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.” (hal. 150).

Kalimat itu tidak hanya berbicara tentang aborsi. Ia berbicara tentang otonomi tubuh perempuan yang selama ini acap dirampas oleh norma, agama, negara, maupun masyarakat. Novel ini tidak memaksa pembaca untuk menyetujui pandangan tersebut, tetapi mengajak melihat persoalan dari perspektif orang-orang yang benar-benar menjalaninya.

Barangkali, tak banyak penulis yang seberani Sasti Gotama mengangkat persoalan seperti ini. Dan, barangkali ada pengalaman-pengalaman tertentu yang memang terasa lebih autentik ketika dituliskan oleh perempuan pengarang. Keberanian itulah yang membuat ‘Korpus Uterus’ tampil berbeda. Ia tidak sekadar mengisahkan penderitaan perempuan, tetapi juga mempertanyakan mengapa penderitaan itu terus diwariskan.

Namun, novel ini tidak berhenti pada isu perempuan semata. Di balik kisah personal para tokohnya, Sasti Gotama juga menyisipkan kritik sosial yang tajam, mulai dari kritik terhadap lambannya kinerja aparat, kecenderungan media yang tergopoh-gopoh memberitakan suatu peristiwa, hingga budaya patriarki yang dilanggengkan. Novel ini juga menunjukkan bahwa pelaku kejahatan seksual tidak selalu berasal dari kalangan yang dianggap buruk. Mereka bisa hadir dari lintas latar belakang, profesi, bahkan orang-orang yang tampak terdidik dan terpandang. Artinya, kejahatan seksual tidak mengenal status sosial.

Selain kritik, ‘Korpus Uterus’ juga terdapat konteks sejarah. Peristiwa 1965, tragedi 1998 hadir sebagai latar sejarah yang mengiringi perjalanan para tokohnya. Dengan rentang waktu yang panjang, pembaca seolah diajak melintasi berbagai zaman dan menyaksikan bagaimana luka-luka sejarah ikut membentuk kehidupan manusia hingga hari ini.

Kehadiran latar sejarah tersebut turut memperluas cakrawala cerita bahwa luka kemanusiaan tidak pernah benar-benar selesai. Kekerasan yang terjadi pada satu masa akan meninggalkan jejak panjang pada generasi berikutnya. Dengan demikian, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, melainkan juga perjalanan bangsa yang berkali-kali berhadapan dengan tragedi.

Aspek psikologis para tokohnya pun menjadi kekuatan lain. Hampir setiap karakter hadir membawa trauma dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang menjadi korban pemerkosaan, ada yang mengalami kehamilan tidak diinginkan, ada pula yang harus hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan sepanjang hidup. Menariknya, Sasti Gotama tidak hanya memperlihatkan trauma pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki, orang tua, bahkan anak-anak yang lahir dari bayang-bayang tindak kejahatan seksual. Nasib serupa itu menjadi benang merah yang menghubungkan hampir seluruh tokohnya.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, novel ini juga menyampaikan gagasan penting mengenai pendidikan seks. Selama ini, seks acap dianggap sebagai topik yang tabu dibicarakan dalam keluarga. Padahal, justru ketidaktahuan itulah yang kerap menjebak anak-anak dan remaja menjadi korban.

Pesan itu disampaikan secara lugas melalui ucapan Luh:

“Makanya banyak anak gadis teperdaya kadal jantan dan jadi pasienku. Itu karena orang tua mereka terlalu malu membahas hal-hal seperti ini.” (hal. 191).

Pendidikan seks bukanlah ajakan untuk melakukan hubungan seksual, melainkan pendidikan mengenai tubuh, batasan diri, persetujuan (consent), dan cara melindungi diri dari kejahatan seksual. Melalui ‘Korpus Uterus’, Sasti Gotama berhasil menyampaikan pesan itu tanpa terasa menggurui.

Dari segi teknik penceritaan, alur novel berjalan tenang dan tidak tergopoh-gopoh. Sasti Gotama memberi ruang bagi pembaca untuk mengenal satu demi satu tokohnya beserta luka yang mereka bawa. Setiap konflik tumbuh secara alami sehingga ketika cerita mencapai puncaknya, emosi pembaca ikut terbangun.

Ending novel ini juga menggigit. Penulis tidak sekadar menyelesaikan konflik, tetapi berhasil mengantar Luh pulang ke tempat yang sejak awal selalu ia rindukan: ibu. Atau lebih tepatnya, rahim. Penutup semacam itu membuat perjalanan Luh terasa utuh, sekaligus mengikat kembali seluruh simbol yang sejak awal ditanamkan penulis.

Ada satu hal yang terus mengendap dalam pikiran saya setelah menutup halaman terakhir novel ini. Luh adalah seorang laki-laki. Hampir semua pasien yang datang kepadanya adalah perempuan yang tengah berada pada titik paling rapuh dalam hidup. Mereka datang dengan ketakutan, rasa malu, bahkan tanpa memiliki tempat lain untuk meminta pertolongan. Di sisi lain, Luh digambarkan sebagai laki-laki yang tampan, mapan, dan memiliki kedekatan dengan banyak perempuan.

Namun, sepanjang cerita, tidak pernah sekali pun muncul niat jahat dalam dirinya memanfaatkan keadaan tersebut. Luh tidak pernah mencoba menyetubuhi pasiennya. Ia tidak pernah menggunakan relasi kuasa yang dimilikinya untuk memenuhi hasrat pribadi. Padahal, jika mengikuti logika banyak tokoh laki-laki lain dalam novel ini ꟷ yang menjadikan perempuan sebagai objek pelampiasan nafsu ꟷ Luh justru memiliki kesempatan paling besar untuk melakukan hal serupa.

Barangkali, di situlah letak keistimewaan Luh. Sebagai anak yang lahir dari kejahatan seksual, Luh memahami betul bahwa tubuh perempuan bukanlah sesuatu yang boleh dikuasai, melainkan harus dihormati. Ia menjadi antitesis dari tokoh laki-laki lain dalam novel ini. Ketika banyak tokoh laki-laki hadir sebagai sumber luka, Luh justru menjadi ruang aman bagi perempuan-perempuan yang datang kepadanya.

Menariknya, Sasti Gotama tidak menjelaskan secara eksplisit mengapa Luh mampu memiliki pengendalian diri sedemikian kuat. Apakah itu lahir dari trauma? Dari rasa bersalah karena telah dilahirkan? Atau dari keyakinannya bahwa tidak boleh ada perempuan lain mengalami nasib seperti ibunya? Novel ini membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tetap terbuka. Dan di sanalah kekuatan karakternya. Luh tidak tampil sebagai laki-laki sempurna, tetapi manusia yang memilih memutus mata rantai kekerasan yang melahirkannya.

Masih ada satu pertanyaan saya setelah membaca ‘Korpus Uterus’. Apa yang akhirnya terjadi pada Luh ketika bertemu kembali dengan Kalimah? Apakah ia benar-benar diterima, atau kembali ditolak? Sasti Gotama tidak memberikan jawaban yang benar-benar gamblang. Bagi sebagian pembaca, ruang tafsir seperti ini mungkin terasa menggantung. Namun, bagi yang lain, di situlah letak daya tarik novel ini. Open ending justru memancing berbagai pertanyaan dan diskusi lanjutan setelah selesai dibaca.

Pada akhirnya, ‘Korpus Uterus’ bukan sekadar novel tentang rahim ataupun aborsi. Ia adalah novel tentang manusia yang berusaha memahami asal-usul dirinya, tentang perempuan-perempuan yang berkali-kali dipaksa kehilangan hak atas tubuhnya sendiri, serta tentang masyarakat yang masih sering gagal menghadirkan ruang aman.

Novel setebal 296 halaman ini terasa seperti upaya mengedukasi melalui sastra. Selain menyentuh isu kesehatan reproduksi, novel ini juga berbicara tentang sejarah, trauma psikologis, hak asasi manusia, hingga pentingnya pendidikan seks. Karena itu, saya melihat ‘Korpus Uterus’ layak dibaca oleh masyarakat luas. Novel ini juga sangat baik menjadi bacaan bagi remaja dan orang dewasa (18+). Namun, karena memuat berbagai adegan, ujaran, dan pembahasan mengenai seksualitas serta kekerasan yang cukup eksplisit, novel ini jelas bukan bacaan ramah untuk anak-anak.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar ‘Korpus Uterus’ bukan hanya terletak pada keberaniannya mengangkat hal-hal sensitif, melainkan juga pada kemampuannya mengajak pembaca merenungkan kembali makna rahim. Dalam novel ini, rahim bukan sekadar organ reproduksi perempuan. Ia adalah ruang pertama tempat kehidupan bermula, tempat kasih dan luka diwariskan, serta tempat manusia terus mencari jalan pulang. [T].

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: novelSasti GotamasastraSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Next Post

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co