11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
in Ulas Buku
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Novel ‘Korpus Uterus’

  • Judul             : Korpus Uterus
  • Penulis          : Sasti Gotama
  • Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
  • Editor             : Ruth Priscilia Angelina
  • Tebal buku   : 296 halaman 

“Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.” (Korpus Uterus, hal. 150).

Kutipan itu merupakan inti utama dari novel ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama. Ia bukan sekadar dialog tokoh, tetapi pernyataan yang merangkum keseluruhan gagasan novel. Melalui kisah ini, Sasti Gotama mengajak pembaca memasuki ruang paling intim sekaligus paling diperdebatkan dalam kehidupan perempuan: tubuh, rahim, dan hak menentukan nasibnya sendiri.

Sedari halaman-halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada kenyataan yang getir. Hampir seluruh tokoh dalam novel ini memikul kisah memilukan dan luka mereka saling bertaut. Tidak ada penderitaan yang lahir begitu saja. Setiap trauma berasal dari trauma lain yang diwariskan oleh keluarga, masyarakat, bahkan sejarah yang melatarbelakanginya. Dari jalinan itulah Sasti Gotama membangun cerita yang emosional tanpa terjebak menjadi melodrama.

Tokoh utama, Luh ꟷ yang bernama lengkap Panuluh ꟷ menjadi poros dari seluruh cerita. Awalnya saya sempat mengira Luh adalah seorang perempuan karena namanya. Beruntung, sejak awal penulis menjelaskan bahwa Panuluh adalah laki-laki sehingga pembaca tidak dibuat salah menafsirkan tokoh utama. Perjalanan Luh kemudian dibangun sangat apik. Ia bukan sekadar tokoh utama, tetapi menjadi representasi seseorang yang lahir dari kekerasan dan menghabiskan hidupnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan, mengapa ia harus dilahirkan?

Sedari awal pula, pembaca langsung memahami alasan mengapa Luh tumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Penolakan yang ia terima bahkan telah dimulai sejak masih berupa janin. Kalimah, ibunya, menganggap kehadiran Luh sebagai aib.

“Baginya, anak itu hanya benih dari tahi. Oleh karena itu pasti yang lahir tahi juga…. dan tak sepatutnya tahi memiliki nama.” (hal. 9).

“Mungkin Ibu membenci Luh, tapi rahimnya tidak.” (hal. 141).

Dua kutipan tersebut memperlihatkan bagaimana novel ini membedakan antara manusia dengan tubuhnya sendiri. Seorang ibu dapat menolak anak yang dikandungnya, tetapi rahim tetap menjalankan kodratnya menjaga kehidupan. Dari sinilah rahim dalam ‘Korpus Uterus’ tidak lagi dipahami sebagai organ biologis semata, melainkan sebagai metafora sekaligus ironi. Sejatinya, rahim itulah ibu.

Selama ini orang acap menyebut rambut sebagai mahkota perempuan. Namun, ‘Korpus Uterus’ menawarkan sudut pandang berbeda. Dalam novel ini, justru rahimlah yang menjadi pusat kehidupan perempuan. Di sanalah cinta, penderitaan, trauma, dan harapan bertemu.

“Mungkin tanda cinta terbesar seorang perempuan adalah mempersembahkan rahim.” (hal. 211).

“Aku pernah membaca, rahim berasal dari kata rahima yang bermakna mengasihi. Maka, ketika perempuan mengandung, sesungguhnya itu bukti kasihnya.” (hal. 211).

Melalui dua kutipan tokoh Lara tersebut, Sasti Gotama seolah mengajak pembaca melihat rahim dari sudut pandang lebih manusiawi. Rahim bukan sekadar tempat tumbuhnya janin, tetapi ruang tempat kasih, pengorbanan, dan  kehidupan bermula.

Sasti Gotama begitu berani mengangkat isu-isu yang sensitif di Indonesia: pemerkosaan, aborsi, kehamilan tak diinginkan, hingga hak perempuan atas tubuhnya sendiri. Tema-tema itu berhasil diolah menjadi kisah autentik dengan pergulatan moral yang kompleks.

Pernyataan tokoh Lima (Kalimah) menjadi penegas gagasan tersebut.

“Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.” (hal. 150).

Kalimat itu tidak hanya berbicara tentang aborsi. Ia berbicara tentang otonomi tubuh perempuan yang selama ini acap dirampas oleh norma, agama, negara, maupun masyarakat. Novel ini tidak memaksa pembaca untuk menyetujui pandangan tersebut, tetapi mengajak melihat persoalan dari perspektif orang-orang yang benar-benar menjalaninya.

Barangkali, tak banyak penulis yang seberani Sasti Gotama mengangkat persoalan seperti ini. Dan, barangkali ada pengalaman-pengalaman tertentu yang memang terasa lebih autentik ketika dituliskan oleh perempuan pengarang. Keberanian itulah yang membuat ‘Korpus Uterus’ tampil berbeda. Ia tidak sekadar mengisahkan penderitaan perempuan, tetapi juga mempertanyakan mengapa penderitaan itu terus diwariskan.

Namun, novel ini tidak berhenti pada isu perempuan semata. Di balik kisah personal para tokohnya, Sasti Gotama juga menyisipkan kritik sosial yang tajam, mulai dari kritik terhadap lambannya kinerja aparat, kecenderungan media yang tergopoh-gopoh memberitakan suatu peristiwa, hingga budaya patriarki yang dilanggengkan. Novel ini juga menunjukkan bahwa pelaku kejahatan seksual tidak selalu berasal dari kalangan yang dianggap buruk. Mereka bisa hadir dari lintas latar belakang, profesi, bahkan orang-orang yang tampak terdidik dan terpandang. Artinya, kejahatan seksual tidak mengenal status sosial.

Selain kritik, ‘Korpus Uterus’ juga terdapat konteks sejarah. Peristiwa 1965, tragedi 1998 hadir sebagai latar sejarah yang mengiringi perjalanan para tokohnya. Dengan rentang waktu yang panjang, pembaca seolah diajak melintasi berbagai zaman dan menyaksikan bagaimana luka-luka sejarah ikut membentuk kehidupan manusia hingga hari ini.

Kehadiran latar sejarah tersebut turut memperluas cakrawala cerita bahwa luka kemanusiaan tidak pernah benar-benar selesai. Kekerasan yang terjadi pada satu masa akan meninggalkan jejak panjang pada generasi berikutnya. Dengan demikian, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, melainkan juga perjalanan bangsa yang berkali-kali berhadapan dengan tragedi.

Aspek psikologis para tokohnya pun menjadi kekuatan lain. Hampir setiap karakter hadir membawa trauma dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang menjadi korban pemerkosaan, ada yang mengalami kehamilan tidak diinginkan, ada pula yang harus hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan sepanjang hidup. Menariknya, Sasti Gotama tidak hanya memperlihatkan trauma pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki, orang tua, bahkan anak-anak yang lahir dari bayang-bayang tindak kejahatan seksual. Nasib serupa itu menjadi benang merah yang menghubungkan hampir seluruh tokohnya.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, novel ini juga menyampaikan gagasan penting mengenai pendidikan seks. Selama ini, seks acap dianggap sebagai topik yang tabu dibicarakan dalam keluarga. Padahal, justru ketidaktahuan itulah yang kerap menjebak anak-anak dan remaja menjadi korban.

Pesan itu disampaikan secara lugas melalui ucapan Luh:

“Makanya banyak anak gadis teperdaya kadal jantan dan jadi pasienku. Itu karena orang tua mereka terlalu malu membahas hal-hal seperti ini.” (hal. 191).

Pendidikan seks bukanlah ajakan untuk melakukan hubungan seksual, melainkan pendidikan mengenai tubuh, batasan diri, persetujuan (consent), dan cara melindungi diri dari kejahatan seksual. Melalui ‘Korpus Uterus’, Sasti Gotama berhasil menyampaikan pesan itu tanpa terasa menggurui.

Dari segi teknik penceritaan, alur novel berjalan tenang dan tidak tergopoh-gopoh. Sasti Gotama memberi ruang bagi pembaca untuk mengenal satu demi satu tokohnya beserta luka yang mereka bawa. Setiap konflik tumbuh secara alami sehingga ketika cerita mencapai puncaknya, emosi pembaca ikut terbangun.

Ending novel ini juga menggigit. Penulis tidak sekadar menyelesaikan konflik, tetapi berhasil mengantar Luh pulang ke tempat yang sejak awal selalu ia rindukan: ibu. Atau lebih tepatnya, rahim. Penutup semacam itu membuat perjalanan Luh terasa utuh, sekaligus mengikat kembali seluruh simbol yang sejak awal ditanamkan penulis.

Ada satu hal yang terus mengendap dalam pikiran saya setelah menutup halaman terakhir novel ini. Luh adalah seorang laki-laki. Hampir semua pasien yang datang kepadanya adalah perempuan yang tengah berada pada titik paling rapuh dalam hidup. Mereka datang dengan ketakutan, rasa malu, bahkan tanpa memiliki tempat lain untuk meminta pertolongan. Di sisi lain, Luh digambarkan sebagai laki-laki yang tampan, mapan, dan memiliki kedekatan dengan banyak perempuan.

Namun, sepanjang cerita, tidak pernah sekali pun muncul niat jahat dalam dirinya memanfaatkan keadaan tersebut. Luh tidak pernah mencoba menyetubuhi pasiennya. Ia tidak pernah menggunakan relasi kuasa yang dimilikinya untuk memenuhi hasrat pribadi. Padahal, jika mengikuti logika banyak tokoh laki-laki lain dalam novel ini ꟷ yang menjadikan perempuan sebagai objek pelampiasan nafsu ꟷ Luh justru memiliki kesempatan paling besar untuk melakukan hal serupa.

Barangkali, di situlah letak keistimewaan Luh. Sebagai anak yang lahir dari kejahatan seksual, Luh memahami betul bahwa tubuh perempuan bukanlah sesuatu yang boleh dikuasai, melainkan harus dihormati. Ia menjadi antitesis dari tokoh laki-laki lain dalam novel ini. Ketika banyak tokoh laki-laki hadir sebagai sumber luka, Luh justru menjadi ruang aman bagi perempuan-perempuan yang datang kepadanya.

Menariknya, Sasti Gotama tidak menjelaskan secara eksplisit mengapa Luh mampu memiliki pengendalian diri sedemikian kuat. Apakah itu lahir dari trauma? Dari rasa bersalah karena telah dilahirkan? Atau dari keyakinannya bahwa tidak boleh ada perempuan lain mengalami nasib seperti ibunya? Novel ini membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tetap terbuka. Dan di sanalah kekuatan karakternya. Luh tidak tampil sebagai laki-laki sempurna, tetapi manusia yang memilih memutus mata rantai kekerasan yang melahirkannya.

Masih ada satu pertanyaan saya setelah membaca ‘Korpus Uterus’. Apa yang akhirnya terjadi pada Luh ketika bertemu kembali dengan Kalimah? Apakah ia benar-benar diterima, atau kembali ditolak? Sasti Gotama tidak memberikan jawaban yang benar-benar gamblang. Bagi sebagian pembaca, ruang tafsir seperti ini mungkin terasa menggantung. Namun, bagi yang lain, di situlah letak daya tarik novel ini. Open ending justru memancing berbagai pertanyaan dan diskusi lanjutan setelah selesai dibaca.

Pada akhirnya, ‘Korpus Uterus’ bukan sekadar novel tentang rahim ataupun aborsi. Ia adalah novel tentang manusia yang berusaha memahami asal-usul dirinya, tentang perempuan-perempuan yang berkali-kali dipaksa kehilangan hak atas tubuhnya sendiri, serta tentang masyarakat yang masih sering gagal menghadirkan ruang aman.

Novel setebal 296 halaman ini terasa seperti upaya mengedukasi melalui sastra. Selain menyentuh isu kesehatan reproduksi, novel ini juga berbicara tentang sejarah, trauma psikologis, hak asasi manusia, hingga pentingnya pendidikan seks. Karena itu, saya melihat ‘Korpus Uterus’ layak dibaca oleh masyarakat luas. Novel ini juga sangat baik menjadi bacaan bagi remaja dan orang dewasa (18+). Namun, karena memuat berbagai adegan, ujaran, dan pembahasan mengenai seksualitas serta kekerasan yang cukup eksplisit, novel ini jelas bukan bacaan ramah untuk anak-anak.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar ‘Korpus Uterus’ bukan hanya terletak pada keberaniannya mengangkat hal-hal sensitif, melainkan juga pada kemampuannya mengajak pembaca merenungkan kembali makna rahim. Dalam novel ini, rahim bukan sekadar organ reproduksi perempuan. Ia adalah ruang pertama tempat kehidupan bermula, tempat kasih dan luka diwariskan, serta tempat manusia terus mencari jalan pulang. [T].

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: novelSasti GotamasastraSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Next Post

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails
Next Post
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co