21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
in Ulas Buku
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Novel ‘Korpus Uterus’

  • Judul             : Korpus Uterus
  • Penulis          : Sasti Gotama
  • Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
  • Editor             : Ruth Priscilia Angelina
  • Tebal buku   : 296 halaman 

“Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.” (Korpus Uterus, hal. 150).

Kutipan itu merupakan inti utama dari novel ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama. Ia bukan sekadar dialog tokoh, tetapi pernyataan yang merangkum keseluruhan gagasan novel. Melalui kisah ini, Sasti Gotama mengajak pembaca memasuki ruang paling intim sekaligus paling diperdebatkan dalam kehidupan perempuan: tubuh, rahim, dan hak menentukan nasibnya sendiri.

Sedari halaman-halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada kenyataan yang getir. Hampir seluruh tokoh dalam novel ini memikul kisah memilukan dan luka mereka saling bertaut. Tidak ada penderitaan yang lahir begitu saja. Setiap trauma berasal dari trauma lain yang diwariskan oleh keluarga, masyarakat, bahkan sejarah yang melatarbelakanginya. Dari jalinan itulah Sasti Gotama membangun cerita yang emosional tanpa terjebak menjadi melodrama.

Tokoh utama, Luh ꟷ yang bernama lengkap Panuluh ꟷ menjadi poros dari seluruh cerita. Awalnya saya sempat mengira Luh adalah seorang perempuan karena namanya. Beruntung, sejak awal penulis menjelaskan bahwa Panuluh adalah laki-laki sehingga pembaca tidak dibuat salah menafsirkan tokoh utama. Perjalanan Luh kemudian dibangun sangat apik. Ia bukan sekadar tokoh utama, tetapi menjadi representasi seseorang yang lahir dari kekerasan dan menghabiskan hidupnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan, mengapa ia harus dilahirkan?

Sedari awal pula, pembaca langsung memahami alasan mengapa Luh tumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Penolakan yang ia terima bahkan telah dimulai sejak masih berupa janin. Kalimah, ibunya, menganggap kehadiran Luh sebagai aib.

“Baginya, anak itu hanya benih dari tahi. Oleh karena itu pasti yang lahir tahi juga…. dan tak sepatutnya tahi memiliki nama.” (hal. 9).

“Mungkin Ibu membenci Luh, tapi rahimnya tidak.” (hal. 141).

Dua kutipan tersebut memperlihatkan bagaimana novel ini membedakan antara manusia dengan tubuhnya sendiri. Seorang ibu dapat menolak anak yang dikandungnya, tetapi rahim tetap menjalankan kodratnya menjaga kehidupan. Dari sinilah rahim dalam ‘Korpus Uterus’ tidak lagi dipahami sebagai organ biologis semata, melainkan sebagai metafora sekaligus ironi. Sejatinya, rahim itulah ibu.

Selama ini orang acap menyebut rambut sebagai mahkota perempuan. Namun, ‘Korpus Uterus’ menawarkan sudut pandang berbeda. Dalam novel ini, justru rahimlah yang menjadi pusat kehidupan perempuan. Di sanalah cinta, penderitaan, trauma, dan harapan bertemu.

“Mungkin tanda cinta terbesar seorang perempuan adalah mempersembahkan rahim.” (hal. 211).

“Aku pernah membaca, rahim berasal dari kata rahima yang bermakna mengasihi. Maka, ketika perempuan mengandung, sesungguhnya itu bukti kasihnya.” (hal. 211).

Melalui dua kutipan tokoh Lara tersebut, Sasti Gotama seolah mengajak pembaca melihat rahim dari sudut pandang lebih manusiawi. Rahim bukan sekadar tempat tumbuhnya janin, tetapi ruang tempat kasih, pengorbanan, dan  kehidupan bermula.

Sasti Gotama begitu berani mengangkat isu-isu yang sensitif di Indonesia: pemerkosaan, aborsi, kehamilan tak diinginkan, hingga hak perempuan atas tubuhnya sendiri. Tema-tema itu berhasil diolah menjadi kisah autentik dengan pergulatan moral yang kompleks.

Pernyataan tokoh Lima (Kalimah) menjadi penegas gagasan tersebut.

“Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.” (hal. 150).

Kalimat itu tidak hanya berbicara tentang aborsi. Ia berbicara tentang otonomi tubuh perempuan yang selama ini acap dirampas oleh norma, agama, negara, maupun masyarakat. Novel ini tidak memaksa pembaca untuk menyetujui pandangan tersebut, tetapi mengajak melihat persoalan dari perspektif orang-orang yang benar-benar menjalaninya.

Barangkali, tak banyak penulis yang seberani Sasti Gotama mengangkat persoalan seperti ini. Dan, barangkali ada pengalaman-pengalaman tertentu yang memang terasa lebih autentik ketika dituliskan oleh perempuan pengarang. Keberanian itulah yang membuat ‘Korpus Uterus’ tampil berbeda. Ia tidak sekadar mengisahkan penderitaan perempuan, tetapi juga mempertanyakan mengapa penderitaan itu terus diwariskan.

Namun, novel ini tidak berhenti pada isu perempuan semata. Di balik kisah personal para tokohnya, Sasti Gotama juga menyisipkan kritik sosial yang tajam, mulai dari kritik terhadap lambannya kinerja aparat, kecenderungan media yang tergopoh-gopoh memberitakan suatu peristiwa, hingga budaya patriarki yang dilanggengkan. Novel ini juga menunjukkan bahwa pelaku kejahatan seksual tidak selalu berasal dari kalangan yang dianggap buruk. Mereka bisa hadir dari lintas latar belakang, profesi, bahkan orang-orang yang tampak terdidik dan terpandang. Artinya, kejahatan seksual tidak mengenal status sosial.

Selain kritik, ‘Korpus Uterus’ juga terdapat konteks sejarah. Peristiwa 1965, tragedi 1998 hadir sebagai latar sejarah yang mengiringi perjalanan para tokohnya. Dengan rentang waktu yang panjang, pembaca seolah diajak melintasi berbagai zaman dan menyaksikan bagaimana luka-luka sejarah ikut membentuk kehidupan manusia hingga hari ini.

Kehadiran latar sejarah tersebut turut memperluas cakrawala cerita bahwa luka kemanusiaan tidak pernah benar-benar selesai. Kekerasan yang terjadi pada satu masa akan meninggalkan jejak panjang pada generasi berikutnya. Dengan demikian, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, melainkan juga perjalanan bangsa yang berkali-kali berhadapan dengan tragedi.

Aspek psikologis para tokohnya pun menjadi kekuatan lain. Hampir setiap karakter hadir membawa trauma dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang menjadi korban pemerkosaan, ada yang mengalami kehamilan tidak diinginkan, ada pula yang harus hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan sepanjang hidup. Menariknya, Sasti Gotama tidak hanya memperlihatkan trauma pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki, orang tua, bahkan anak-anak yang lahir dari bayang-bayang tindak kejahatan seksual. Nasib serupa itu menjadi benang merah yang menghubungkan hampir seluruh tokohnya.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, novel ini juga menyampaikan gagasan penting mengenai pendidikan seks. Selama ini, seks acap dianggap sebagai topik yang tabu dibicarakan dalam keluarga. Padahal, justru ketidaktahuan itulah yang kerap menjebak anak-anak dan remaja menjadi korban.

Pesan itu disampaikan secara lugas melalui ucapan Luh:

“Makanya banyak anak gadis teperdaya kadal jantan dan jadi pasienku. Itu karena orang tua mereka terlalu malu membahas hal-hal seperti ini.” (hal. 191).

Pendidikan seks bukanlah ajakan untuk melakukan hubungan seksual, melainkan pendidikan mengenai tubuh, batasan diri, persetujuan (consent), dan cara melindungi diri dari kejahatan seksual. Melalui ‘Korpus Uterus’, Sasti Gotama berhasil menyampaikan pesan itu tanpa terasa menggurui.

Dari segi teknik penceritaan, alur novel berjalan tenang dan tidak tergopoh-gopoh. Sasti Gotama memberi ruang bagi pembaca untuk mengenal satu demi satu tokohnya beserta luka yang mereka bawa. Setiap konflik tumbuh secara alami sehingga ketika cerita mencapai puncaknya, emosi pembaca ikut terbangun.

Ending novel ini juga menggigit. Penulis tidak sekadar menyelesaikan konflik, tetapi berhasil mengantar Luh pulang ke tempat yang sejak awal selalu ia rindukan: ibu. Atau lebih tepatnya, rahim. Penutup semacam itu membuat perjalanan Luh terasa utuh, sekaligus mengikat kembali seluruh simbol yang sejak awal ditanamkan penulis.

Ada satu hal yang terus mengendap dalam pikiran saya setelah menutup halaman terakhir novel ini. Luh adalah seorang laki-laki. Hampir semua pasien yang datang kepadanya adalah perempuan yang tengah berada pada titik paling rapuh dalam hidup. Mereka datang dengan ketakutan, rasa malu, bahkan tanpa memiliki tempat lain untuk meminta pertolongan. Di sisi lain, Luh digambarkan sebagai laki-laki yang tampan, mapan, dan memiliki kedekatan dengan banyak perempuan.

Namun, sepanjang cerita, tidak pernah sekali pun muncul niat jahat dalam dirinya memanfaatkan keadaan tersebut. Luh tidak pernah mencoba menyetubuhi pasiennya. Ia tidak pernah menggunakan relasi kuasa yang dimilikinya untuk memenuhi hasrat pribadi. Padahal, jika mengikuti logika banyak tokoh laki-laki lain dalam novel ini ꟷ yang menjadikan perempuan sebagai objek pelampiasan nafsu ꟷ Luh justru memiliki kesempatan paling besar untuk melakukan hal serupa.

Barangkali, di situlah letak keistimewaan Luh. Sebagai anak yang lahir dari kejahatan seksual, Luh memahami betul bahwa tubuh perempuan bukanlah sesuatu yang boleh dikuasai, melainkan harus dihormati. Ia menjadi antitesis dari tokoh laki-laki lain dalam novel ini. Ketika banyak tokoh laki-laki hadir sebagai sumber luka, Luh justru menjadi ruang aman bagi perempuan-perempuan yang datang kepadanya.

Menariknya, Sasti Gotama tidak menjelaskan secara eksplisit mengapa Luh mampu memiliki pengendalian diri sedemikian kuat. Apakah itu lahir dari trauma? Dari rasa bersalah karena telah dilahirkan? Atau dari keyakinannya bahwa tidak boleh ada perempuan lain mengalami nasib seperti ibunya? Novel ini membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tetap terbuka. Dan di sanalah kekuatan karakternya. Luh tidak tampil sebagai laki-laki sempurna, tetapi manusia yang memilih memutus mata rantai kekerasan yang melahirkannya.

Masih ada satu pertanyaan saya setelah membaca ‘Korpus Uterus’. Apa yang akhirnya terjadi pada Luh ketika bertemu kembali dengan Kalimah? Apakah ia benar-benar diterima, atau kembali ditolak? Sasti Gotama tidak memberikan jawaban yang benar-benar gamblang. Bagi sebagian pembaca, ruang tafsir seperti ini mungkin terasa menggantung. Namun, bagi yang lain, di situlah letak daya tarik novel ini. Open ending justru memancing berbagai pertanyaan dan diskusi lanjutan setelah selesai dibaca.

Pada akhirnya, ‘Korpus Uterus’ bukan sekadar novel tentang rahim ataupun aborsi. Ia adalah novel tentang manusia yang berusaha memahami asal-usul dirinya, tentang perempuan-perempuan yang berkali-kali dipaksa kehilangan hak atas tubuhnya sendiri, serta tentang masyarakat yang masih sering gagal menghadirkan ruang aman.

Novel setebal 296 halaman ini terasa seperti upaya mengedukasi melalui sastra. Selain menyentuh isu kesehatan reproduksi, novel ini juga berbicara tentang sejarah, trauma psikologis, hak asasi manusia, hingga pentingnya pendidikan seks. Karena itu, saya melihat ‘Korpus Uterus’ layak dibaca oleh masyarakat luas. Novel ini juga sangat baik menjadi bacaan bagi remaja dan orang dewasa (18+). Namun, karena memuat berbagai adegan, ujaran, dan pembahasan mengenai seksualitas serta kekerasan yang cukup eksplisit, novel ini jelas bukan bacaan ramah untuk anak-anak.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar ‘Korpus Uterus’ bukan hanya terletak pada keberaniannya mengangkat hal-hal sensitif, melainkan juga pada kemampuannya mengajak pembaca merenungkan kembali makna rahim. Dalam novel ini, rahim bukan sekadar organ reproduksi perempuan. Ia adalah ruang pertama tempat kehidupan bermula, tempat kasih dan luka diwariskan, serta tempat manusia terus mencari jalan pulang. [T].

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: novelSasti GotamasastraSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Next Post

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails
Next Post
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co