1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
in Ulas Buku
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Novel ‘Korpus Uterus’

  • Judul             : Korpus Uterus
  • Penulis          : Sasti Gotama
  • Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
  • Editor             : Ruth Priscilia Angelina
  • Tebal buku   : 296 halaman 

“Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.” (Korpus Uterus, hal. 150).

Kutipan itu merupakan inti utama dari novel ‘Korpus Uterus’ karya Sasti Gotama. Ia bukan sekadar dialog tokoh, tetapi pernyataan yang merangkum keseluruhan gagasan novel. Melalui kisah ini, Sasti Gotama mengajak pembaca memasuki ruang paling intim sekaligus paling diperdebatkan dalam kehidupan perempuan: tubuh, rahim, dan hak menentukan nasibnya sendiri.

Sedari halaman-halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada kenyataan yang getir. Hampir seluruh tokoh dalam novel ini memikul kisah memilukan dan luka mereka saling bertaut. Tidak ada penderitaan yang lahir begitu saja. Setiap trauma berasal dari trauma lain yang diwariskan oleh keluarga, masyarakat, bahkan sejarah yang melatarbelakanginya. Dari jalinan itulah Sasti Gotama membangun cerita yang emosional tanpa terjebak menjadi melodrama.

Tokoh utama, Luh ꟷ yang bernama lengkap Panuluh ꟷ menjadi poros dari seluruh cerita. Awalnya saya sempat mengira Luh adalah seorang perempuan karena namanya. Beruntung, sejak awal penulis menjelaskan bahwa Panuluh adalah laki-laki sehingga pembaca tidak dibuat salah menafsirkan tokoh utama. Perjalanan Luh kemudian dibangun sangat apik. Ia bukan sekadar tokoh utama, tetapi menjadi representasi seseorang yang lahir dari kekerasan dan menghabiskan hidupnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan, mengapa ia harus dilahirkan?

Sedari awal pula, pembaca langsung memahami alasan mengapa Luh tumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Penolakan yang ia terima bahkan telah dimulai sejak masih berupa janin. Kalimah, ibunya, menganggap kehadiran Luh sebagai aib.

“Baginya, anak itu hanya benih dari tahi. Oleh karena itu pasti yang lahir tahi juga…. dan tak sepatutnya tahi memiliki nama.” (hal. 9).

“Mungkin Ibu membenci Luh, tapi rahimnya tidak.” (hal. 141).

Dua kutipan tersebut memperlihatkan bagaimana novel ini membedakan antara manusia dengan tubuhnya sendiri. Seorang ibu dapat menolak anak yang dikandungnya, tetapi rahim tetap menjalankan kodratnya menjaga kehidupan. Dari sinilah rahim dalam ‘Korpus Uterus’ tidak lagi dipahami sebagai organ biologis semata, melainkan sebagai metafora sekaligus ironi. Sejatinya, rahim itulah ibu.

Selama ini orang acap menyebut rambut sebagai mahkota perempuan. Namun, ‘Korpus Uterus’ menawarkan sudut pandang berbeda. Dalam novel ini, justru rahimlah yang menjadi pusat kehidupan perempuan. Di sanalah cinta, penderitaan, trauma, dan harapan bertemu.

“Mungkin tanda cinta terbesar seorang perempuan adalah mempersembahkan rahim.” (hal. 211).

“Aku pernah membaca, rahim berasal dari kata rahima yang bermakna mengasihi. Maka, ketika perempuan mengandung, sesungguhnya itu bukti kasihnya.” (hal. 211).

Melalui dua kutipan tokoh Lara tersebut, Sasti Gotama seolah mengajak pembaca melihat rahim dari sudut pandang lebih manusiawi. Rahim bukan sekadar tempat tumbuhnya janin, tetapi ruang tempat kasih, pengorbanan, dan  kehidupan bermula.

Sasti Gotama begitu berani mengangkat isu-isu yang sensitif di Indonesia: pemerkosaan, aborsi, kehamilan tak diinginkan, hingga hak perempuan atas tubuhnya sendiri. Tema-tema itu berhasil diolah menjadi kisah autentik dengan pergulatan moral yang kompleks.

Pernyataan tokoh Lima (Kalimah) menjadi penegas gagasan tersebut.

“Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.” (hal. 150).

Kalimat itu tidak hanya berbicara tentang aborsi. Ia berbicara tentang otonomi tubuh perempuan yang selama ini acap dirampas oleh norma, agama, negara, maupun masyarakat. Novel ini tidak memaksa pembaca untuk menyetujui pandangan tersebut, tetapi mengajak melihat persoalan dari perspektif orang-orang yang benar-benar menjalaninya.

Barangkali, tak banyak penulis yang seberani Sasti Gotama mengangkat persoalan seperti ini. Dan, barangkali ada pengalaman-pengalaman tertentu yang memang terasa lebih autentik ketika dituliskan oleh perempuan pengarang. Keberanian itulah yang membuat ‘Korpus Uterus’ tampil berbeda. Ia tidak sekadar mengisahkan penderitaan perempuan, tetapi juga mempertanyakan mengapa penderitaan itu terus diwariskan.

Namun, novel ini tidak berhenti pada isu perempuan semata. Di balik kisah personal para tokohnya, Sasti Gotama juga menyisipkan kritik sosial yang tajam, mulai dari kritik terhadap lambannya kinerja aparat, kecenderungan media yang tergopoh-gopoh memberitakan suatu peristiwa, hingga budaya patriarki yang dilanggengkan. Novel ini juga menunjukkan bahwa pelaku kejahatan seksual tidak selalu berasal dari kalangan yang dianggap buruk. Mereka bisa hadir dari lintas latar belakang, profesi, bahkan orang-orang yang tampak terdidik dan terpandang. Artinya, kejahatan seksual tidak mengenal status sosial.

Selain kritik, ‘Korpus Uterus’ juga terdapat konteks sejarah. Peristiwa 1965, tragedi 1998 hadir sebagai latar sejarah yang mengiringi perjalanan para tokohnya. Dengan rentang waktu yang panjang, pembaca seolah diajak melintasi berbagai zaman dan menyaksikan bagaimana luka-luka sejarah ikut membentuk kehidupan manusia hingga hari ini.

Kehadiran latar sejarah tersebut turut memperluas cakrawala cerita bahwa luka kemanusiaan tidak pernah benar-benar selesai. Kekerasan yang terjadi pada satu masa akan meninggalkan jejak panjang pada generasi berikutnya. Dengan demikian, perjalanan Luh bukan hanya perjalanan seorang individu, melainkan juga perjalanan bangsa yang berkali-kali berhadapan dengan tragedi.

Aspek psikologis para tokohnya pun menjadi kekuatan lain. Hampir setiap karakter hadir membawa trauma dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang menjadi korban pemerkosaan, ada yang mengalami kehamilan tidak diinginkan, ada pula yang harus hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan sepanjang hidup. Menariknya, Sasti Gotama tidak hanya memperlihatkan trauma pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki, orang tua, bahkan anak-anak yang lahir dari bayang-bayang tindak kejahatan seksual. Nasib serupa itu menjadi benang merah yang menghubungkan hampir seluruh tokohnya.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, novel ini juga menyampaikan gagasan penting mengenai pendidikan seks. Selama ini, seks acap dianggap sebagai topik yang tabu dibicarakan dalam keluarga. Padahal, justru ketidaktahuan itulah yang kerap menjebak anak-anak dan remaja menjadi korban.

Pesan itu disampaikan secara lugas melalui ucapan Luh:

“Makanya banyak anak gadis teperdaya kadal jantan dan jadi pasienku. Itu karena orang tua mereka terlalu malu membahas hal-hal seperti ini.” (hal. 191).

Pendidikan seks bukanlah ajakan untuk melakukan hubungan seksual, melainkan pendidikan mengenai tubuh, batasan diri, persetujuan (consent), dan cara melindungi diri dari kejahatan seksual. Melalui ‘Korpus Uterus’, Sasti Gotama berhasil menyampaikan pesan itu tanpa terasa menggurui.

Dari segi teknik penceritaan, alur novel berjalan tenang dan tidak tergopoh-gopoh. Sasti Gotama memberi ruang bagi pembaca untuk mengenal satu demi satu tokohnya beserta luka yang mereka bawa. Setiap konflik tumbuh secara alami sehingga ketika cerita mencapai puncaknya, emosi pembaca ikut terbangun.

Ending novel ini juga menggigit. Penulis tidak sekadar menyelesaikan konflik, tetapi berhasil mengantar Luh pulang ke tempat yang sejak awal selalu ia rindukan: ibu. Atau lebih tepatnya, rahim. Penutup semacam itu membuat perjalanan Luh terasa utuh, sekaligus mengikat kembali seluruh simbol yang sejak awal ditanamkan penulis.

Ada satu hal yang terus mengendap dalam pikiran saya setelah menutup halaman terakhir novel ini. Luh adalah seorang laki-laki. Hampir semua pasien yang datang kepadanya adalah perempuan yang tengah berada pada titik paling rapuh dalam hidup. Mereka datang dengan ketakutan, rasa malu, bahkan tanpa memiliki tempat lain untuk meminta pertolongan. Di sisi lain, Luh digambarkan sebagai laki-laki yang tampan, mapan, dan memiliki kedekatan dengan banyak perempuan.

Namun, sepanjang cerita, tidak pernah sekali pun muncul niat jahat dalam dirinya memanfaatkan keadaan tersebut. Luh tidak pernah mencoba menyetubuhi pasiennya. Ia tidak pernah menggunakan relasi kuasa yang dimilikinya untuk memenuhi hasrat pribadi. Padahal, jika mengikuti logika banyak tokoh laki-laki lain dalam novel ini ꟷ yang menjadikan perempuan sebagai objek pelampiasan nafsu ꟷ Luh justru memiliki kesempatan paling besar untuk melakukan hal serupa.

Barangkali, di situlah letak keistimewaan Luh. Sebagai anak yang lahir dari kejahatan seksual, Luh memahami betul bahwa tubuh perempuan bukanlah sesuatu yang boleh dikuasai, melainkan harus dihormati. Ia menjadi antitesis dari tokoh laki-laki lain dalam novel ini. Ketika banyak tokoh laki-laki hadir sebagai sumber luka, Luh justru menjadi ruang aman bagi perempuan-perempuan yang datang kepadanya.

Menariknya, Sasti Gotama tidak menjelaskan secara eksplisit mengapa Luh mampu memiliki pengendalian diri sedemikian kuat. Apakah itu lahir dari trauma? Dari rasa bersalah karena telah dilahirkan? Atau dari keyakinannya bahwa tidak boleh ada perempuan lain mengalami nasib seperti ibunya? Novel ini membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tetap terbuka. Dan di sanalah kekuatan karakternya. Luh tidak tampil sebagai laki-laki sempurna, tetapi manusia yang memilih memutus mata rantai kekerasan yang melahirkannya.

Masih ada satu pertanyaan saya setelah membaca ‘Korpus Uterus’. Apa yang akhirnya terjadi pada Luh ketika bertemu kembali dengan Kalimah? Apakah ia benar-benar diterima, atau kembali ditolak? Sasti Gotama tidak memberikan jawaban yang benar-benar gamblang. Bagi sebagian pembaca, ruang tafsir seperti ini mungkin terasa menggantung. Namun, bagi yang lain, di situlah letak daya tarik novel ini. Open ending justru memancing berbagai pertanyaan dan diskusi lanjutan setelah selesai dibaca.

Pada akhirnya, ‘Korpus Uterus’ bukan sekadar novel tentang rahim ataupun aborsi. Ia adalah novel tentang manusia yang berusaha memahami asal-usul dirinya, tentang perempuan-perempuan yang berkali-kali dipaksa kehilangan hak atas tubuhnya sendiri, serta tentang masyarakat yang masih sering gagal menghadirkan ruang aman.

Novel setebal 296 halaman ini terasa seperti upaya mengedukasi melalui sastra. Selain menyentuh isu kesehatan reproduksi, novel ini juga berbicara tentang sejarah, trauma psikologis, hak asasi manusia, hingga pentingnya pendidikan seks. Karena itu, saya melihat ‘Korpus Uterus’ layak dibaca oleh masyarakat luas. Novel ini juga sangat baik menjadi bacaan bagi remaja dan orang dewasa (18+). Namun, karena memuat berbagai adegan, ujaran, dan pembahasan mengenai seksualitas serta kekerasan yang cukup eksplisit, novel ini jelas bukan bacaan ramah untuk anak-anak.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar ‘Korpus Uterus’ bukan hanya terletak pada keberaniannya mengangkat hal-hal sensitif, melainkan juga pada kemampuannya mengajak pembaca merenungkan kembali makna rahim. Dalam novel ini, rahim bukan sekadar organ reproduksi perempuan. Ia adalah ruang pertama tempat kehidupan bermula, tempat kasih dan luka diwariskan, serta tempat manusia terus mencari jalan pulang. [T].

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: novelSasti GotamasastraSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co