31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 1, 2026
in Esai
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan

TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan mengguncang dunia. Saat itu, serangan datang secara tiba-tiba, menghancurkan bangunan, memutus kehidupan, dan meninggalkan trauma yang mendalam. Dunia bersimpati, masyarakat bersatu, dan Bali perlahan bangkit dari luka tersebut.

Namun, lebih dari dua dekade kemudian, Bali kembali menghadapi sebuah serangan. Kali ini tidak ada suara ledakan. Tidak ada kepulan asap. Tidak ada teroris yang membawa bom. Serangan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus, lebih sistematis, bahkan sering kali dipuji sebagai simbol kemajuan. Ia datang melalui proyek-proyek raksasa, alih fungsi lahan pertanian, pembangunan yang melampaui daya dukung lingkungan, reklamasi, serta berbagai ambisi menjadikan Bali sebagai kawasan ekonomi modern dengan standar kota-kota metropolitan dunia.

Serangan semacam ini justru lebih berbahaya karena sering tidak disadari. Ketika bom Bali menghancurkan bangunan dalam hitungan detik, pembangunan yang kehilangan arah menghancurkan karakter sebuah pulau sedikit demi sedikit. Setiap hektare sawah yang hilang, setiap mata air yang mengering, setiap kawasan suci yang terdesak beton, sesungguhnya adalah serpihan identitas Bali yang ikut lenyap.

Ungkapan “Bali Under Attack” bukanlah ajakan untuk menolak pembangunan. Ia adalah sebuah metafora, sebuah alarm moral bahwa Bali sedang menghadapi ancaman terhadap ruhnya sendiri. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar lanskap fisik, melainkan warisan peradaban yang telah dibangun selama berabad-abad.

Pertanian Adalah Fondasi, Pariwisata Adalah Buah

Kesalahan terbesar dalam memahami Bali adalah menganggap bahwa pariwisata merupakan fondasi utama pulau ini. Padahal, jauh sebelum wisatawan datang dari berbagai belahan dunia, Bali telah hidup melalui sistem pertanian yang luar biasa. Sawah berundak yang menghiasi lereng-lereng bukit bukan sekadar pemandangan indah, melainkan hasil dari peradaban agraris yang matang.

Sistem Subak bukan hanya teknologi irigasi. Ia adalah sistem sosial, budaya, spiritual, dan ekologis yang menghubungkan manusia dengan alam serta dengan Tuhan. Di dalamnya terkandung nilai gotong royong, keadilan distribusi air, penghormatan terhadap tanah, dan kesadaran bahwa pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari dharma kehidupan.

Dari pertanian inilah lahir kebudayaan Bali. Upacara-upacara keagamaan mengikuti siklus musim tanam. Seni tari, gamelan, arsitektur, hingga berbagai tradisi tumbuh dari masyarakat agraris yang hidup selaras dengan alam. Ketika dunia mulai mengenal Bali pada abad ke-20, yang membuat mereka terpesona bukanlah hotel-hotel mewah atau pusat perbelanjaan, melainkan perpaduan harmonis antara alam, budaya, dan spiritualitas.

Dengan demikian, pariwisata sesungguhnya adalah buah, bukan akar. Buah hanya dapat terus muncul apabila akar tetap sehat. Bila sawah terus berubah menjadi vila, hotel, jalan tol, atau kawasan komersial, maka yang hilang bukan hanya produksi pangan, tetapi juga sumber inspirasi budaya yang selama ini menjadi magnet utama pariwisata.

Ironisnya, kini justru akar itu yang dikorbankan demi mempertahankan buah. Padahal pohon yang kehilangan akar tidak mungkin bertahan lama.

Bali Bukan Dubai

Dalam beberapa tahun terakhir muncul berbagai gagasan untuk mempercepat pembangunan Bali melalui proyek-proyek berskala besar, termasuk kawasan ekonomi khusus dan berbagai konsep yang membayangkan Bali sebagai pusat bisnis atau pusat keuangan internasional. Gagasan tersebut lahir dari semangat meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Tidak ada yang salah dengan keinginan memperkuat ekonomi. Namun persoalannya muncul ketika model pembangunan diambil dari wilayah yang memiliki karakter geografis, sosial, dan budaya yang sama sekali berbeda.

Dubai dibangun di atas lanskap gurun dengan sejarah perkembangan ekonomi yang khas. Bali tumbuh sebagai pulau kecil yang memiliki daya dukung lingkungan terbatas, budaya yang hidup, desa adat yang kuat, sistem Subak yang diakui dunia, serta filosofi Tri Hita Karana yang menempatkan keseimbangan sebagai prinsip utama kehidupan.

Keunggulan Bali justru terletak pada hal-hal yang tidak dimiliki kota-kota global: bentang sawah yang hijau, desa-desa tradisional yang masih hidup, ritual keagamaan yang menjadi bagian dari keseharian, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Bila Bali mengejar identitas kota finansial modern dengan mengorbankan karakter tersebut, maka Bali sedang bersaing dalam arena yang bukan kekuatannya.

Lebih jauh lagi, pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan berpotensi menimbulkan biaya sosial dan ekologis yang jauh lebih besar daripada manfaat ekonomi jangka pendek. Kemacetan, banjir, krisis air bersih, meningkatnya volume sampah, dan berkurangnya ruang hijau merupakan pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan pembangunan yang berkualitas.

Kemajuan tidak seharusnya diukur hanya dari banyaknya investasi yang masuk atau tingginya gedung yang dibangun. Kemajuan sejati adalah ketika pembangunan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan alam dan kebudayaan.

Ketika Alam Terluka, Budaya Kehilangan Rumahnya

Budaya tidak hidup di ruang hampa. Ia membutuhkan alam sebagai rumahnya. Ketika sawah hilang, berbagai ritual pertanian kehilangan konteksnya. Ketika sungai tercemar, nilai kesucian air ikut terancam. Ketika kawasan suci dikepung pembangunan, ruang kontemplasi perlahan berubah menjadi ruang komersial.

Kerusakan ekologis pada akhirnya selalu berujung pada kerusakan sosial. Masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat, biaya hidup meningkat, akses terhadap lahan produktif menyusut, sementara generasi muda semakin jauh dari akar kebudayaannya sendiri. Tidak mengherankan bila berbagai persoalan sosial, termasuk kesehatan mental, menjadi perhatian yang semakin serius.

Dalam perspektif Pañcamaya Kośa, manusia tidak hanya terdiri atas tubuh fisik (Annamaya Kośa), tetapi juga energi, pikiran, kebijaksanaan, dan kebahagiaan batin. Lingkungan yang rusak bukan hanya memengaruhi tubuh melalui udara atau air yang tercemar, tetapi juga memengaruhi lapisan mental dan emosional manusia. Alam yang kehilangan harmoni sering kali diikuti oleh manusia yang kehilangan ketenangan.

Pandangan ini sejalan dengan Peta Kesadaran yang dikembangkan oleh David R. Hawkins. Hawkins menggambarkan bahwa kesadaran yang didominasi rasa takut, keserakahan, dan ego cenderung menghasilkan keputusan yang destruktif. Sebaliknya, kesadaran yang bertumpu pada cinta, tanggung jawab, dan kebijaksanaan melahirkan tindakan yang menopang kehidupan.

Jika pembangunan hanya digerakkan oleh logika akumulasi modal tanpa memperhitungkan keseimbangan ekologis dan budaya, maka yang berkembang bukan hanya beton, tetapi juga krisis makna. Bali dapat menjadi semakin kaya secara statistik, tetapi semakin miskin secara spiritual.

Menyelamatkan Bali Berarti Menyelamatkan Masa Depan

Bali tidak membutuhkan romantisme yang menolak perubahan. Bali juga tidak membutuhkan pembangunan yang menghapus jati dirinya. Yang diperlukan adalah keberanian untuk memilih jalan tengah: pembangunan yang berakar pada kebudayaan, menghormati daya dukung lingkungan, memperkuat pertanian, dan menjadikan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama.

Pertanian harus kembali diposisikan sebagai sektor strategis, bukan sekadar pelengkap. Perlindungan terhadap lahan sawah produktif perlu menjadi komitmen nyata, bukan hanya slogan. Pariwisata juga perlu diarahkan pada kualitas, bukan semata-mata kuantitas, sehingga manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan pelestarian alam dan budaya.

Bali telah memberikan pelajaran kepada dunia bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan industrialisasi yang masif. Selama berabad-abad, pulau ini menunjukkan bahwa manusia dapat hidup makmur tanpa kehilangan hubungan dengan alam, tradisi, dan dimensi spiritualnya. Warisan inilah yang seharusnya menjadi arah pembangunan Bali di masa depan.

Pada akhirnya, Bali Under Attack adalah sebuah ajakan untuk merenung. Ancaman terbesar terhadap Bali mungkin bukan datang dari luar, melainkan dari keputusan-keputusan yang mengabaikan jati diri pulau ini sendiri. Bila pertanian tetap menjadi akar, budaya tetap menjadi jiwa, dan alam tetap menjadi sahabat, maka pariwisata akan terus berkembang sebagai buah yang matang. Tetapi bila akar terus dipotong demi mengejar keuntungan sesaat, maka suatu hari pohon Bali akan kehilangan daya hidupnya.

Maka, menyelamatkan Bali bukan berarti menolak investasi, bukan pula menutup pintu bagi pembangunan. Menyelamatkan Bali berarti memastikan bahwa setiap langkah pembangunan tetap berpijak pada nilai-nilai Tri Hita Karana, menghormati Subak sebagai peradaban agraris, memuliakan alam sebagai ruang suci kehidupan, dan menempatkan manusia sebagai penjaga, bukan penguasa bumi. Hanya dengan cara demikian Bali akan tetap menjadi Bali—bukan tiruan kota lain, melainkan sebuah pulau yang menginspirasi dunia karena berhasil menjaga keseimbangan antara kemajuan, kebudayaan, dan kelestarian alam.

Maka, kini saatnya kita menyuarakan kegelisahan kita, sebagaimana Prof. Dewa Palguna menyuarakannya dalam buku: Saya Sungguh Mencemaskan Bali. Apakah ada di antara kita yang pernah membacanya? [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Next Post

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails
Next Post
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co