20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 1, 2026
in Esai
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan

TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan mengguncang dunia. Saat itu, serangan datang secara tiba-tiba, menghancurkan bangunan, memutus kehidupan, dan meninggalkan trauma yang mendalam. Dunia bersimpati, masyarakat bersatu, dan Bali perlahan bangkit dari luka tersebut.

Namun, lebih dari dua dekade kemudian, Bali kembali menghadapi sebuah serangan. Kali ini tidak ada suara ledakan. Tidak ada kepulan asap. Tidak ada teroris yang membawa bom. Serangan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus, lebih sistematis, bahkan sering kali dipuji sebagai simbol kemajuan. Ia datang melalui proyek-proyek raksasa, alih fungsi lahan pertanian, pembangunan yang melampaui daya dukung lingkungan, reklamasi, serta berbagai ambisi menjadikan Bali sebagai kawasan ekonomi modern dengan standar kota-kota metropolitan dunia.

Serangan semacam ini justru lebih berbahaya karena sering tidak disadari. Ketika bom Bali menghancurkan bangunan dalam hitungan detik, pembangunan yang kehilangan arah menghancurkan karakter sebuah pulau sedikit demi sedikit. Setiap hektare sawah yang hilang, setiap mata air yang mengering, setiap kawasan suci yang terdesak beton, sesungguhnya adalah serpihan identitas Bali yang ikut lenyap.

Ungkapan “Bali Under Attack” bukanlah ajakan untuk menolak pembangunan. Ia adalah sebuah metafora, sebuah alarm moral bahwa Bali sedang menghadapi ancaman terhadap ruhnya sendiri. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar lanskap fisik, melainkan warisan peradaban yang telah dibangun selama berabad-abad.

Pertanian Adalah Fondasi, Pariwisata Adalah Buah

Kesalahan terbesar dalam memahami Bali adalah menganggap bahwa pariwisata merupakan fondasi utama pulau ini. Padahal, jauh sebelum wisatawan datang dari berbagai belahan dunia, Bali telah hidup melalui sistem pertanian yang luar biasa. Sawah berundak yang menghiasi lereng-lereng bukit bukan sekadar pemandangan indah, melainkan hasil dari peradaban agraris yang matang.

Sistem Subak bukan hanya teknologi irigasi. Ia adalah sistem sosial, budaya, spiritual, dan ekologis yang menghubungkan manusia dengan alam serta dengan Tuhan. Di dalamnya terkandung nilai gotong royong, keadilan distribusi air, penghormatan terhadap tanah, dan kesadaran bahwa pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari dharma kehidupan.

Dari pertanian inilah lahir kebudayaan Bali. Upacara-upacara keagamaan mengikuti siklus musim tanam. Seni tari, gamelan, arsitektur, hingga berbagai tradisi tumbuh dari masyarakat agraris yang hidup selaras dengan alam. Ketika dunia mulai mengenal Bali pada abad ke-20, yang membuat mereka terpesona bukanlah hotel-hotel mewah atau pusat perbelanjaan, melainkan perpaduan harmonis antara alam, budaya, dan spiritualitas.

Dengan demikian, pariwisata sesungguhnya adalah buah, bukan akar. Buah hanya dapat terus muncul apabila akar tetap sehat. Bila sawah terus berubah menjadi vila, hotel, jalan tol, atau kawasan komersial, maka yang hilang bukan hanya produksi pangan, tetapi juga sumber inspirasi budaya yang selama ini menjadi magnet utama pariwisata.

Ironisnya, kini justru akar itu yang dikorbankan demi mempertahankan buah. Padahal pohon yang kehilangan akar tidak mungkin bertahan lama.

Bali Bukan Dubai

Dalam beberapa tahun terakhir muncul berbagai gagasan untuk mempercepat pembangunan Bali melalui proyek-proyek berskala besar, termasuk kawasan ekonomi khusus dan berbagai konsep yang membayangkan Bali sebagai pusat bisnis atau pusat keuangan internasional. Gagasan tersebut lahir dari semangat meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Tidak ada yang salah dengan keinginan memperkuat ekonomi. Namun persoalannya muncul ketika model pembangunan diambil dari wilayah yang memiliki karakter geografis, sosial, dan budaya yang sama sekali berbeda.

Dubai dibangun di atas lanskap gurun dengan sejarah perkembangan ekonomi yang khas. Bali tumbuh sebagai pulau kecil yang memiliki daya dukung lingkungan terbatas, budaya yang hidup, desa adat yang kuat, sistem Subak yang diakui dunia, serta filosofi Tri Hita Karana yang menempatkan keseimbangan sebagai prinsip utama kehidupan.

Keunggulan Bali justru terletak pada hal-hal yang tidak dimiliki kota-kota global: bentang sawah yang hijau, desa-desa tradisional yang masih hidup, ritual keagamaan yang menjadi bagian dari keseharian, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Bila Bali mengejar identitas kota finansial modern dengan mengorbankan karakter tersebut, maka Bali sedang bersaing dalam arena yang bukan kekuatannya.

Lebih jauh lagi, pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan berpotensi menimbulkan biaya sosial dan ekologis yang jauh lebih besar daripada manfaat ekonomi jangka pendek. Kemacetan, banjir, krisis air bersih, meningkatnya volume sampah, dan berkurangnya ruang hijau merupakan pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan pembangunan yang berkualitas.

Kemajuan tidak seharusnya diukur hanya dari banyaknya investasi yang masuk atau tingginya gedung yang dibangun. Kemajuan sejati adalah ketika pembangunan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan alam dan kebudayaan.

Ketika Alam Terluka, Budaya Kehilangan Rumahnya

Budaya tidak hidup di ruang hampa. Ia membutuhkan alam sebagai rumahnya. Ketika sawah hilang, berbagai ritual pertanian kehilangan konteksnya. Ketika sungai tercemar, nilai kesucian air ikut terancam. Ketika kawasan suci dikepung pembangunan, ruang kontemplasi perlahan berubah menjadi ruang komersial.

Kerusakan ekologis pada akhirnya selalu berujung pada kerusakan sosial. Masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat, biaya hidup meningkat, akses terhadap lahan produktif menyusut, sementara generasi muda semakin jauh dari akar kebudayaannya sendiri. Tidak mengherankan bila berbagai persoalan sosial, termasuk kesehatan mental, menjadi perhatian yang semakin serius.

Dalam perspektif Pañcamaya Kośa, manusia tidak hanya terdiri atas tubuh fisik (Annamaya Kośa), tetapi juga energi, pikiran, kebijaksanaan, dan kebahagiaan batin. Lingkungan yang rusak bukan hanya memengaruhi tubuh melalui udara atau air yang tercemar, tetapi juga memengaruhi lapisan mental dan emosional manusia. Alam yang kehilangan harmoni sering kali diikuti oleh manusia yang kehilangan ketenangan.

Pandangan ini sejalan dengan Peta Kesadaran yang dikembangkan oleh David R. Hawkins. Hawkins menggambarkan bahwa kesadaran yang didominasi rasa takut, keserakahan, dan ego cenderung menghasilkan keputusan yang destruktif. Sebaliknya, kesadaran yang bertumpu pada cinta, tanggung jawab, dan kebijaksanaan melahirkan tindakan yang menopang kehidupan.

Jika pembangunan hanya digerakkan oleh logika akumulasi modal tanpa memperhitungkan keseimbangan ekologis dan budaya, maka yang berkembang bukan hanya beton, tetapi juga krisis makna. Bali dapat menjadi semakin kaya secara statistik, tetapi semakin miskin secara spiritual.

Menyelamatkan Bali Berarti Menyelamatkan Masa Depan

Bali tidak membutuhkan romantisme yang menolak perubahan. Bali juga tidak membutuhkan pembangunan yang menghapus jati dirinya. Yang diperlukan adalah keberanian untuk memilih jalan tengah: pembangunan yang berakar pada kebudayaan, menghormati daya dukung lingkungan, memperkuat pertanian, dan menjadikan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama.

Pertanian harus kembali diposisikan sebagai sektor strategis, bukan sekadar pelengkap. Perlindungan terhadap lahan sawah produktif perlu menjadi komitmen nyata, bukan hanya slogan. Pariwisata juga perlu diarahkan pada kualitas, bukan semata-mata kuantitas, sehingga manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan pelestarian alam dan budaya.

Bali telah memberikan pelajaran kepada dunia bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan industrialisasi yang masif. Selama berabad-abad, pulau ini menunjukkan bahwa manusia dapat hidup makmur tanpa kehilangan hubungan dengan alam, tradisi, dan dimensi spiritualnya. Warisan inilah yang seharusnya menjadi arah pembangunan Bali di masa depan.

Pada akhirnya, Bali Under Attack adalah sebuah ajakan untuk merenung. Ancaman terbesar terhadap Bali mungkin bukan datang dari luar, melainkan dari keputusan-keputusan yang mengabaikan jati diri pulau ini sendiri. Bila pertanian tetap menjadi akar, budaya tetap menjadi jiwa, dan alam tetap menjadi sahabat, maka pariwisata akan terus berkembang sebagai buah yang matang. Tetapi bila akar terus dipotong demi mengejar keuntungan sesaat, maka suatu hari pohon Bali akan kehilangan daya hidupnya.

Maka, menyelamatkan Bali bukan berarti menolak investasi, bukan pula menutup pintu bagi pembangunan. Menyelamatkan Bali berarti memastikan bahwa setiap langkah pembangunan tetap berpijak pada nilai-nilai Tri Hita Karana, menghormati Subak sebagai peradaban agraris, memuliakan alam sebagai ruang suci kehidupan, dan menempatkan manusia sebagai penjaga, bukan penguasa bumi. Hanya dengan cara demikian Bali akan tetap menjadi Bali—bukan tiruan kota lain, melainkan sebuah pulau yang menginspirasi dunia karena berhasil menjaga keseimbangan antara kemajuan, kebudayaan, dan kelestarian alam.

Maka, kini saatnya kita menyuarakan kegelisahan kita, sebagaimana Prof. Dewa Palguna menyuarakannya dalam buku: Saya Sungguh Mencemaskan Bali. Apakah ada di antara kita yang pernah membacanya? [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Next Post

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails
Next Post
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co