2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
in Esai
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya mirip Padma Buana Bali mini. Pagar spiritual itu sering disebut Pura Pangibeh yang terdiri atas Pura Melang Kaja, Pura Gunung Payung, Pura Melang Kelod, Pura Penyarikan, Pura Batu Pageh, Pura Beji, Pura Dauh Margi, Pura Beji, Pura Toyo Ning, Pura Uma Sang Hyang dengan Pura Pengubengan sebagai pusat. Selain itu, Desa Adat Kutuh juga memiliki Pura Kahyangan Tiga dan Prajapati seperti umumnya desa Adat di Bali.

 Jika menilik dari keberadaan Pura Pengubengan, tidak semua Desa Adat di Bali memiliki Pura Pengubengan sebagaimana juga tidak semua Desa Adat memiliki Pura Penataran. Selain  itu,  Desa Adat Kutuh juga memiliki dua Sekaa Unen  yaitu Sekaa Unen Ratu Ayu Manik Sari dengan penyungsung Krama Banjar Pantigiri  dan Sekaa Unen Sang Hyang Jaran di-sungsung oleh sekaa secara turun-temurun.

Ida  Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan penari legong berstana di Pura Desa Adat Kutuh sedangkan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh. Dari perspektif tempat stana, keduanya sama-sama berada di Pusat Desa. Pusat Desa sejak Mpu Kuturan menata Desa Adat di Bali adalah Pura Desa dalam konsep Kahyangan Tiga. Sebelum kedatangan Mpu Kuturan di Bali, tampaknya Desa Adat Kutuh sudah memiliki Pura Pengubengan sebagai pusat Pura Pengibeh. Hal ini diperkuat dengan adanya tradisi Ngelawad dengan memotong  babi hitam jantan (kucit butuan) di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh.

Ceceran darah kucit butuan yang disembelih di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh setara dengan tabuh rah dan dilakukan setiap tahun pada Tilem Sasih Kedasa. Ketika peralihan Sasih Kadasa ke Jyesta dari musim hujan ke musim kemarau. Dalam perspektif ke-Kutuh-an, Ngelawad sering diinterpretasikan sebagai ngewaliang ujan (mengembalikan hujan) karena sebelumnya memasuki Sasih Kalima ada tradisi Mendak Ujan (mohon hujan). Tegas sekali ritual itu berbasis agraris. Ritualnya makin marak, laku tindak budaya agraris makin terkikis. Ironis memang.

Dalam tradisi Ngelawad di Desa Adat Kutuh Delod Ceking, kucit butuan yang disembelih di Madya Mandala Pura Desa, tenggek (kepala babi) dan kedua kaki depan dihaturkan di Pura Melang Kaja, pusar babi dipersembahkan di Pura Pengubengan, ekornya di Pura Penyarikan, kaki kanan di Pura Melang Kelod, dan kaki kiri di Pura Batu Pageh. Jadi, ada enam Pura tempat melaksanakan tradisi Ngelawad di Desa Adat Kutuh. Saya memperkirakan Ngelawad ini berkaitan dengan tradisi berburu dahulu kala. Jika memperhatikan wilayah Delod Ceking pada awalnya sebagai hutan tutupan, beraneka binatang termasuk babi hidup di sini. Hasil buruan itu dipersembahkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih. Momentumnya nyaris bersamaan dengan musim panen di kebun.

Sebagaimana disebutkan di atas, Sang Hyang Jaran berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh adalah pemuliaan terhadap Ida Ratu Bagus disungsung sekaa secara turun-temurun. Hubungan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran dengan Ida Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan Tari Legong  ibarat paragraf yang padu memenuhi syarat kohesi dan koherensi. Secara kohesi, keduanya memiliki bentuk yang dapat diamati secara kasat mata, melalui penari dengan gelungan pragina (mahkota) yang dipakai hanya saat Ida Batara masolah.

Ida Ratu Ayu Manik Sari diiringi tari legong sedangkan Sang Hyang Jaran awalnya diiringi Tari Andir dan belakangan dengan tambahan genjek.  Dalam sejarahnya, kedua sekaa unen ini, pernah saling meminjam gelungan dibuktikan dengan tersimpannya gelungan Andir milik Sekaa Sang Hyang Jaran di Pelinggih Ratu Ayu Manik Sari di Pura Desa. Pada awal Tahun 2000-an, gelungan itu dituntun kembali ke Pura Pengubengan oleh Sekaa Sang Hyang Jaran.

Secara koherensi, fungsi keduanya sama yaitu diyakini sebagai penolak baya (penolak gering). Baik Ida Ratu Ayu Manik Sari maupun Ida Ratu Bagus dapat dipersonifikasikan sedang menjalankan fungsi pengobatan (dharmaning usadha) untuk keselamatan semesta sekala-niskala.  Itu pula sebabnya, sering krama Desa Adat Kutuh membayar kaul (sesangi) setelah sauh atur untuk mementaskan Tari Legong sebagai pengiring Ratu Ayu Manik Sari. Begitu pula dengan mementaskan Sang Hyang Jaran. Setelah masolah, mereka mohon tirta untuk penyembuhan.

Dari segi pujawali, keduanya juga menjadikan Tumpek Wayang sebagai tegak pujawali. Oleh karena Ida Ratu Ayu Manik Sari berstana di Pura Desa, saat mapajar dilakukan di Madya Mandala Pura Desa dengan iringan Tari Legong. Berbeda dengan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran biasanya mapajar di Jaba Sisi Pura Pengubengan ketika Pujawali berlangsung setiap Tilem Sasih Katiga. Sang Hyang Jaran juga biasa mapajar di Jaba Sisi Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kutuh, saat Pujawali yang jatuh pada Purnama Sasih Kapat. Pilihan kalangan di Jaba Sisi tidak terlepas dari penggunaan bara api sebagai pusat  arena tarian Sang Hyang Jaran.  Ngepuh api (bermain api).

Secara makna, baik Ratu Ayu Manik Sari dengan Tari Legongnya maupun Ratu Bagus dengan Sang Hyang Jarannya termasuk dalam kelompok tari wali yang sakral. Dari sudut kajian gender, kedua sekaa unen di Desa Adat Kutuh merepresentasikan kesetaraan purusa-pradana (laki-perempuan) jika diperhatikan dari sebutan yang disematkan oleh panyungsung-nya.   Sakralitas keduanya yang sesungguhnya sebagai penjaga gawang kebudayaan di Desa Adat Kutuh. Oleh karena itu, keberadaannya perlu diproteksi oleh pemerintah dengan Bantuan Keuangan Khusus tari sakral secara kontinu dan konsisten.

Sang Hyang Jaran yang berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh ditarikan oleh dua penari laki-laki umumnya sudah beristri. Dalam perkembangannya, Sang Hyang Jaran di Desa Adat Kutuh sejak 10 tahun terakhir juga diiringi genjek dengan tradisi metuakan. Sekaa genjek-nya juga  menyiapkan tuak dan diminum. Konsekuensi logis dari tambahan genjek, Sekaa Unen Sang Hyang Jaran juga dilengkapi dengan instrumen geguntagan pengiring lagu genjek. 

Selain itu, dalam 10 tahun belakangan ini,  penari Sang Hyang Jaran juga mengajak penonton/pemedek yang tangkil menari ke tengah kalangan secara bersama-sama. Mirip tarian kolosal spontanitas untuk membangun komunikasi melalui gerak tubuh. Mereka yang di-sawer biasanya tidak ada yang menolak dan menari secara alami tanpa pakem. Itulah ngayah dengan kesadaran tanpa skenario. 

Walaupun diiringi genjek, pakem awal Sang Hyang Jaran tidak ditinggalkan seperti Gending Sang Hyang. … Jaran gading pamedal pasunge kangin,

Jaran gading pamedal pasunge kangin,
angon-angonan I Suwit,
I Suwit mapajeng genta

Mambat mumbul tayungane bagus mamargi,
Pamargine luas ke doha,
Ya mamilihin wong putra doha
Ya wong doha gawok tuminan


Gusti Nyoman,
Magunting payasin badung,
Lamun karsa manunggang jaran,
Jarane dueg mapolah,
Duweg mapolah ngeregah pangkunge kangin
Angon-angonan I Suwit
I Suwit mapajeng genta

Selain tetap mempertahankan gending Sanghyang Jaran yang diwariskan secara turun-temurun oleh sekaa panyungsung, tarian Sang Hyang Jaran yang  ngepuh api (bermain api) dan ngurek (tari keris) oleh penari tetap dipertahankan. Artinya ada unsur trance (kesurupan) yang terus diiringi suara Sekaa Shanti magenjekan, tak ubahnya musik gamelan penyemangat bila ada yang pepatih yang ngurek (ngunying, matebekan, tari keris). Makin semangat tembang pengiringnya magenjekan makin semangat ngurek-nya  Keris yang dipakai pun keris pusaka khusus untuk itu. Tidak boleh keris sembarangan. Dengan kalimat lain, menggunakan keris duwe, bukan keris guwe.

 Kobaborasi Tari Sang Hyang Jaran dengan genjek, selain mempermanis dan memperpanjang pertunjukan, juga memperluas jangkauan penari yang terlibat. Sang Hyang Jaran dengan demikian juga memberikan kesempatan kepada pemedek ngayah menari secara komunal. Kolaborasi ini dibaca sebagai pengembangan Tari Sang Hyang Jaran menerima kecenderungan seni yang bersifat dinamis, apalagi tambahan genjek ini atas wangsit yang diterimapenari Sang Hyang Jaran, sebagaimana dituturkan I Wayan Senga yang menjadi anggota Sekaa Shanti sekaligus Sekaa Unen Sang Hyang Jaran Desa Adat Kutuh. [T]

Tags: desa adat kutuhgenjeksang hyang jaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

Next Post

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co