12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
in Esai
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya mirip Padma Buana Bali mini. Pagar spiritual itu sering disebut Pura Pangibeh yang terdiri atas Pura Melang Kaja, Pura Gunung Payung, Pura Melang Kelod, Pura Penyarikan, Pura Batu Pageh, Pura Beji, Pura Dauh Margi, Pura Beji, Pura Toyo Ning, Pura Uma Sang Hyang dengan Pura Pengubengan sebagai pusat. Selain itu, Desa Adat Kutuh juga memiliki Pura Kahyangan Tiga dan Prajapati seperti umumnya desa Adat di Bali.

 Jika menilik dari keberadaan Pura Pengubengan, tidak semua Desa Adat di Bali memiliki Pura Pengubengan sebagaimana juga tidak semua Desa Adat memiliki Pura Penataran. Selain  itu,  Desa Adat Kutuh juga memiliki dua Sekaa Unen  yaitu Sekaa Unen Ratu Ayu Manik Sari dengan penyungsung Krama Banjar Pantigiri  dan Sekaa Unen Sang Hyang Jaran di-sungsung oleh sekaa secara turun-temurun.

Ida  Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan penari legong berstana di Pura Desa Adat Kutuh sedangkan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh. Dari perspektif tempat stana, keduanya sama-sama berada di Pusat Desa. Pusat Desa sejak Mpu Kuturan menata Desa Adat di Bali adalah Pura Desa dalam konsep Kahyangan Tiga. Sebelum kedatangan Mpu Kuturan di Bali, tampaknya Desa Adat Kutuh sudah memiliki Pura Pengubengan sebagai pusat Pura Pengibeh. Hal ini diperkuat dengan adanya tradisi Ngelawad dengan memotong  babi hitam jantan (kucit butuan) di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh.

Ceceran darah kucit butuan yang disembelih di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh setara dengan tabuh rah dan dilakukan setiap tahun pada Tilem Sasih Kedasa. Ketika peralihan Sasih Kadasa ke Jyesta dari musim hujan ke musim kemarau. Dalam perspektif ke-Kutuh-an, Ngelawad sering diinterpretasikan sebagai ngewaliang ujan (mengembalikan hujan) karena sebelumnya memasuki Sasih Kalima ada tradisi Mendak Ujan (mohon hujan). Tegas sekali ritual itu berbasis agraris. Ritualnya makin marak, laku tindak budaya agraris makin terkikis. Ironis memang.

Dalam tradisi Ngelawad di Desa Adat Kutuh Delod Ceking, kucit butuan yang disembelih di Madya Mandala Pura Desa, tenggek (kepala babi) dan kedua kaki depan dihaturkan di Pura Melang Kaja, pusar babi dipersembahkan di Pura Pengubengan, ekornya di Pura Penyarikan, kaki kanan di Pura Melang Kelod, dan kaki kiri di Pura Batu Pageh. Jadi, ada enam Pura tempat melaksanakan tradisi Ngelawad di Desa Adat Kutuh. Saya memperkirakan Ngelawad ini berkaitan dengan tradisi berburu dahulu kala. Jika memperhatikan wilayah Delod Ceking pada awalnya sebagai hutan tutupan, beraneka binatang termasuk babi hidup di sini. Hasil buruan itu dipersembahkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih. Momentumnya nyaris bersamaan dengan musim panen di kebun.

Sebagaimana disebutkan di atas, Sang Hyang Jaran berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh adalah pemuliaan terhadap Ida Ratu Bagus disungsung sekaa secara turun-temurun. Hubungan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran dengan Ida Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan Tari Legong  ibarat paragraf yang padu memenuhi syarat kohesi dan koherensi. Secara kohesi, keduanya memiliki bentuk yang dapat diamati secara kasat mata, melalui penari dengan gelungan pragina (mahkota) yang dipakai hanya saat Ida Batara masolah.

Ida Ratu Ayu Manik Sari diiringi tari legong sedangkan Sang Hyang Jaran awalnya diiringi Tari Andir dan belakangan dengan tambahan genjek.  Dalam sejarahnya, kedua sekaa unen ini, pernah saling meminjam gelungan dibuktikan dengan tersimpannya gelungan Andir milik Sekaa Sang Hyang Jaran di Pelinggih Ratu Ayu Manik Sari di Pura Desa. Pada awal Tahun 2000-an, gelungan itu dituntun kembali ke Pura Pengubengan oleh Sekaa Sang Hyang Jaran.

Secara koherensi, fungsi keduanya sama yaitu diyakini sebagai penolak baya (penolak gering). Baik Ida Ratu Ayu Manik Sari maupun Ida Ratu Bagus dapat dipersonifikasikan sedang menjalankan fungsi pengobatan (dharmaning usadha) untuk keselamatan semesta sekala-niskala.  Itu pula sebabnya, sering krama Desa Adat Kutuh membayar kaul (sesangi) setelah sauh atur untuk mementaskan Tari Legong sebagai pengiring Ratu Ayu Manik Sari. Begitu pula dengan mementaskan Sang Hyang Jaran. Setelah masolah, mereka mohon tirta untuk penyembuhan.

Dari segi pujawali, keduanya juga menjadikan Tumpek Wayang sebagai tegak pujawali. Oleh karena Ida Ratu Ayu Manik Sari berstana di Pura Desa, saat mapajar dilakukan di Madya Mandala Pura Desa dengan iringan Tari Legong. Berbeda dengan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran biasanya mapajar di Jaba Sisi Pura Pengubengan ketika Pujawali berlangsung setiap Tilem Sasih Katiga. Sang Hyang Jaran juga biasa mapajar di Jaba Sisi Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kutuh, saat Pujawali yang jatuh pada Purnama Sasih Kapat. Pilihan kalangan di Jaba Sisi tidak terlepas dari penggunaan bara api sebagai pusat  arena tarian Sang Hyang Jaran.  Ngepuh api (bermain api).

Secara makna, baik Ratu Ayu Manik Sari dengan Tari Legongnya maupun Ratu Bagus dengan Sang Hyang Jarannya termasuk dalam kelompok tari wali yang sakral. Dari sudut kajian gender, kedua sekaa unen di Desa Adat Kutuh merepresentasikan kesetaraan purusa-pradana (laki-perempuan) jika diperhatikan dari sebutan yang disematkan oleh panyungsung-nya.   Sakralitas keduanya yang sesungguhnya sebagai penjaga gawang kebudayaan di Desa Adat Kutuh. Oleh karena itu, keberadaannya perlu diproteksi oleh pemerintah dengan Bantuan Keuangan Khusus tari sakral secara kontinu dan konsisten.

Sang Hyang Jaran yang berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh ditarikan oleh dua penari laki-laki umumnya sudah beristri. Dalam perkembangannya, Sang Hyang Jaran di Desa Adat Kutuh sejak 10 tahun terakhir juga diiringi genjek dengan tradisi metuakan. Sekaa genjek-nya juga  menyiapkan tuak dan diminum. Konsekuensi logis dari tambahan genjek, Sekaa Unen Sang Hyang Jaran juga dilengkapi dengan instrumen geguntagan pengiring lagu genjek. 

Selain itu, dalam 10 tahun belakangan ini,  penari Sang Hyang Jaran juga mengajak penonton/pemedek yang tangkil menari ke tengah kalangan secara bersama-sama. Mirip tarian kolosal spontanitas untuk membangun komunikasi melalui gerak tubuh. Mereka yang di-sawer biasanya tidak ada yang menolak dan menari secara alami tanpa pakem. Itulah ngayah dengan kesadaran tanpa skenario. 

Walaupun diiringi genjek, pakem awal Sang Hyang Jaran tidak ditinggalkan seperti Gending Sang Hyang. … Jaran gading pamedal pasunge kangin,

Jaran gading pamedal pasunge kangin,
angon-angonan I Suwit,
I Suwit mapajeng genta

Mambat mumbul tayungane bagus mamargi,
Pamargine luas ke doha,
Ya mamilihin wong putra doha
Ya wong doha gawok tuminan


Gusti Nyoman,
Magunting payasin badung,
Lamun karsa manunggang jaran,
Jarane dueg mapolah,
Duweg mapolah ngeregah pangkunge kangin
Angon-angonan I Suwit
I Suwit mapajeng genta

Selain tetap mempertahankan gending Sanghyang Jaran yang diwariskan secara turun-temurun oleh sekaa panyungsung, tarian Sang Hyang Jaran yang  ngepuh api (bermain api) dan ngurek (tari keris) oleh penari tetap dipertahankan. Artinya ada unsur trance (kesurupan) yang terus diiringi suara Sekaa Shanti magenjekan, tak ubahnya musik gamelan penyemangat bila ada yang pepatih yang ngurek (ngunying, matebekan, tari keris). Makin semangat tembang pengiringnya magenjekan makin semangat ngurek-nya  Keris yang dipakai pun keris pusaka khusus untuk itu. Tidak boleh keris sembarangan. Dengan kalimat lain, menggunakan keris duwe, bukan keris guwe.

 Kobaborasi Tari Sang Hyang Jaran dengan genjek, selain mempermanis dan memperpanjang pertunjukan, juga memperluas jangkauan penari yang terlibat. Sang Hyang Jaran dengan demikian juga memberikan kesempatan kepada pemedek ngayah menari secara komunal. Kolaborasi ini dibaca sebagai pengembangan Tari Sang Hyang Jaran menerima kecenderungan seni yang bersifat dinamis, apalagi tambahan genjek ini atas wangsit yang diterimapenari Sang Hyang Jaran, sebagaimana dituturkan I Wayan Senga yang menjadi anggota Sekaa Shanti sekaligus Sekaa Unen Sang Hyang Jaran Desa Adat Kutuh. [T]

Tags: desa adat kutuhgenjeksang hyang jaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

Next Post

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co