WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya mirip Padma Buana Bali mini. Pagar spiritual itu sering disebut Pura Pangibeh yang terdiri atas Pura Melang Kaja, Pura Gunung Payung, Pura Melang Kelod, Pura Penyarikan, Pura Batu Pageh, Pura Beji, Pura Dauh Margi, Pura Beji, Pura Toyo Ning, Pura Uma Sang Hyang dengan Pura Pengubengan sebagai pusat. Selain itu, Desa Adat Kutuh juga memiliki Pura Kahyangan Tiga dan Prajapati seperti umumnya desa Adat di Bali.
Jika menilik dari keberadaan Pura Pengubengan, tidak semua Desa Adat di Bali memiliki Pura Pengubengan sebagaimana juga tidak semua Desa Adat memiliki Pura Penataran. Selain itu, Desa Adat Kutuh juga memiliki dua Sekaa Unen yaitu Sekaa Unen Ratu Ayu Manik Sari dengan penyungsung Krama Banjar Pantigiri dan Sekaa Unen Sang Hyang Jaran di-sungsung oleh sekaa secara turun-temurun.
Ida Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan penari legong berstana di Pura Desa Adat Kutuh sedangkan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh. Dari perspektif tempat stana, keduanya sama-sama berada di Pusat Desa. Pusat Desa sejak Mpu Kuturan menata Desa Adat di Bali adalah Pura Desa dalam konsep Kahyangan Tiga. Sebelum kedatangan Mpu Kuturan di Bali, tampaknya Desa Adat Kutuh sudah memiliki Pura Pengubengan sebagai pusat Pura Pengibeh. Hal ini diperkuat dengan adanya tradisi Ngelawad dengan memotong babi hitam jantan (kucit butuan) di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh.
Ceceran darah kucit butuan yang disembelih di Madya Mandala Pura Desa Adat Kutuh setara dengan tabuh rah dan dilakukan setiap tahun pada Tilem Sasih Kedasa. Ketika peralihan Sasih Kadasa ke Jyesta dari musim hujan ke musim kemarau. Dalam perspektif ke-Kutuh-an, Ngelawad sering diinterpretasikan sebagai ngewaliang ujan (mengembalikan hujan) karena sebelumnya memasuki Sasih Kalima ada tradisi Mendak Ujan (mohon hujan). Tegas sekali ritual itu berbasis agraris. Ritualnya makin marak, laku tindak budaya agraris makin terkikis. Ironis memang.
Dalam tradisi Ngelawad di Desa Adat Kutuh Delod Ceking, kucit butuan yang disembelih di Madya Mandala Pura Desa, tenggek (kepala babi) dan kedua kaki depan dihaturkan di Pura Melang Kaja, pusar babi dipersembahkan di Pura Pengubengan, ekornya di Pura Penyarikan, kaki kanan di Pura Melang Kelod, dan kaki kiri di Pura Batu Pageh. Jadi, ada enam Pura tempat melaksanakan tradisi Ngelawad di Desa Adat Kutuh. Saya memperkirakan Ngelawad ini berkaitan dengan tradisi berburu dahulu kala. Jika memperhatikan wilayah Delod Ceking pada awalnya sebagai hutan tutupan, beraneka binatang termasuk babi hidup di sini. Hasil buruan itu dipersembahkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih. Momentumnya nyaris bersamaan dengan musim panen di kebun.

Sebagaimana disebutkan di atas, Sang Hyang Jaran berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh adalah pemuliaan terhadap Ida Ratu Bagus disungsung sekaa secara turun-temurun. Hubungan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran dengan Ida Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan Tari Legong ibarat paragraf yang padu memenuhi syarat kohesi dan koherensi. Secara kohesi, keduanya memiliki bentuk yang dapat diamati secara kasat mata, melalui penari dengan gelungan pragina (mahkota) yang dipakai hanya saat Ida Batara masolah.
Ida Ratu Ayu Manik Sari diiringi tari legong sedangkan Sang Hyang Jaran awalnya diiringi Tari Andir dan belakangan dengan tambahan genjek. Dalam sejarahnya, kedua sekaa unen ini, pernah saling meminjam gelungan dibuktikan dengan tersimpannya gelungan Andir milik Sekaa Sang Hyang Jaran di Pelinggih Ratu Ayu Manik Sari di Pura Desa. Pada awal Tahun 2000-an, gelungan itu dituntun kembali ke Pura Pengubengan oleh Sekaa Sang Hyang Jaran.
Secara koherensi, fungsi keduanya sama yaitu diyakini sebagai penolak baya (penolak gering). Baik Ida Ratu Ayu Manik Sari maupun Ida Ratu Bagus dapat dipersonifikasikan sedang menjalankan fungsi pengobatan (dharmaning usadha) untuk keselamatan semesta sekala-niskala. Itu pula sebabnya, sering krama Desa Adat Kutuh membayar kaul (sesangi) setelah sauh atur untuk mementaskan Tari Legong sebagai pengiring Ratu Ayu Manik Sari. Begitu pula dengan mementaskan Sang Hyang Jaran. Setelah masolah, mereka mohon tirta untuk penyembuhan.
Dari segi pujawali, keduanya juga menjadikan Tumpek Wayang sebagai tegak pujawali. Oleh karena Ida Ratu Ayu Manik Sari berstana di Pura Desa, saat mapajar dilakukan di Madya Mandala Pura Desa dengan iringan Tari Legong. Berbeda dengan Ida Ratu Bagus dengan iringan Sang Hyang Jaran biasanya mapajar di Jaba Sisi Pura Pengubengan ketika Pujawali berlangsung setiap Tilem Sasih Katiga. Sang Hyang Jaran juga biasa mapajar di Jaba Sisi Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kutuh, saat Pujawali yang jatuh pada Purnama Sasih Kapat. Pilihan kalangan di Jaba Sisi tidak terlepas dari penggunaan bara api sebagai pusat arena tarian Sang Hyang Jaran. Ngepuh api (bermain api).
Secara makna, baik Ratu Ayu Manik Sari dengan Tari Legongnya maupun Ratu Bagus dengan Sang Hyang Jarannya termasuk dalam kelompok tari wali yang sakral. Dari sudut kajian gender, kedua sekaa unen di Desa Adat Kutuh merepresentasikan kesetaraan purusa-pradana (laki-perempuan) jika diperhatikan dari sebutan yang disematkan oleh panyungsung-nya. Sakralitas keduanya yang sesungguhnya sebagai penjaga gawang kebudayaan di Desa Adat Kutuh. Oleh karena itu, keberadaannya perlu diproteksi oleh pemerintah dengan Bantuan Keuangan Khusus tari sakral secara kontinu dan konsisten.
Sang Hyang Jaran yang berstana di Pura Pengubengan Desa Adat Kutuh ditarikan oleh dua penari laki-laki umumnya sudah beristri. Dalam perkembangannya, Sang Hyang Jaran di Desa Adat Kutuh sejak 10 tahun terakhir juga diiringi genjek dengan tradisi metuakan. Sekaa genjek-nya juga menyiapkan tuak dan diminum. Konsekuensi logis dari tambahan genjek, Sekaa Unen Sang Hyang Jaran juga dilengkapi dengan instrumen geguntagan pengiring lagu genjek.
Selain itu, dalam 10 tahun belakangan ini, penari Sang Hyang Jaran juga mengajak penonton/pemedek yang tangkil menari ke tengah kalangan secara bersama-sama. Mirip tarian kolosal spontanitas untuk membangun komunikasi melalui gerak tubuh. Mereka yang di-sawer biasanya tidak ada yang menolak dan menari secara alami tanpa pakem. Itulah ngayah dengan kesadaran tanpa skenario.
Walaupun diiringi genjek, pakem awal Sang Hyang Jaran tidak ditinggalkan seperti Gending Sang Hyang. … Jaran gading pamedal pasunge kangin,
Jaran gading pamedal pasunge kangin,
angon-angonan I Suwit,
I Suwit mapajeng genta
Mambat mumbul tayungane bagus mamargi,
Pamargine luas ke doha,
Ya mamilihin wong putra doha
Ya wong doha gawok tuminan
Gusti Nyoman,
Magunting payasin badung,
Lamun karsa manunggang jaran,
Jarane dueg mapolah,
Duweg mapolah ngeregah pangkunge kangin
Angon-angonan I Suwit
I Suwit mapajeng genta
Selain tetap mempertahankan gending Sanghyang Jaran yang diwariskan secara turun-temurun oleh sekaa panyungsung, tarian Sang Hyang Jaran yang ngepuh api (bermain api) dan ngurek (tari keris) oleh penari tetap dipertahankan. Artinya ada unsur trance (kesurupan) yang terus diiringi suara Sekaa Shanti magenjekan, tak ubahnya musik gamelan penyemangat bila ada yang pepatih yang ngurek (ngunying, matebekan, tari keris). Makin semangat tembang pengiringnya magenjekan makin semangat ngurek-nya Keris yang dipakai pun keris pusaka khusus untuk itu. Tidak boleh keris sembarangan. Dengan kalimat lain, menggunakan keris duwe, bukan keris guwe.
Kobaborasi Tari Sang Hyang Jaran dengan genjek, selain mempermanis dan memperpanjang pertunjukan, juga memperluas jangkauan penari yang terlibat. Sang Hyang Jaran dengan demikian juga memberikan kesempatan kepada pemedek ngayah menari secara komunal. Kolaborasi ini dibaca sebagai pengembangan Tari Sang Hyang Jaran menerima kecenderungan seni yang bersifat dinamis, apalagi tambahan genjek ini atas wangsit yang diterimapenari Sang Hyang Jaran, sebagaimana dituturkan I Wayan Senga yang menjadi anggota Sekaa Shanti sekaligus Sekaa Unen Sang Hyang Jaran Desa Adat Kutuh. [T]

























![Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/09/sihab.-supertramp-350x250.png)




