1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
in Ulas Musik
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Supertramp | Ilustrasi dibuat dengan AI

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman hidup belum dipenuhi kategori-kategori sosial yang rumit. Segala sesuatu tampak jelas: alam adalah keindahan, permainan adalah kebebasan, dan masa depan adalah kemungkinan tanpa batas.

Spirit lagu The Logical Song karya Roger Hodgson menangkap perubahan dramatis ketika seseorang meninggalkan fase itu. Liriknya menggambarkan pergeseran dari dunia yang intuitif menuju dunia yang didominasi logika sosial, di mana individu diajarkan bagaimana menjadi “rasional”, “praktis”, dan “dapat diterima”.

Namun dalam proses itu muncul pertanyaan eksistensial yang sangat mendalam: apakah rasionalitas modern benar-benar membawa manusia lebih dekat pada dirinya sendiri, atau justru menjauhkannya dari jati diri yang autentik?

Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi personal, melainkan juga kritik terhadap struktur sosial modern yang semakin menuntut keseragaman.

Pendidikan Modern dan Produksi Individu yang Patuh

Dalam perspektif filsafat sosial, kritik terhadap rasionalitas modern pernah dikemukakan oleh Michel Foucault. Ia menunjukkan bahwa institusi modern—sekolah, rumah sakit, penjara, bahkan kantor memiliki mekanisme disiplin yang membentuk individu agar sesuai dengan norma yang berlaku.

Pendidikan, dalam kerangka ini, tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku. Sekolah mengajarkan keteraturan, kepatuhan, dan standar keberhasilan tertentu. Nilai akademik menjadi indikator utama keberhasilan, sementara kreativitas dan refleksi diri sering kali berada di posisi sekunder.

Fenomena ini dapat dilihat secara jelas dalam kehidupan masyarakat kontemporer Indonesia. Banyak siswa sejak dini diarahkan untuk memilih jalur karier yang dianggap “rasional” secara ekonomi. Profesi seperti dokter, insinyur, atau pegawai negeri dianggap sebagai simbol stabilitas hidup. Sebaliknya, bidang seni atau humaniora sering dipandang kurang menjanjikan.

Dalam situasi seperti ini, individu perlahan dibentuk agar menjadi bagian dari sistem produksi sosial. Ia diharapkan menjadi manusia yang efisien, rasional, dan dapat diprediksi—bukan manusia yang mempertanyakan sistem itu sendiri.

Kritik satir dalam lirik lagu tersebut—yang menyindir individu yang dibentuk menjadi “vegetable” seolah menggambarkan proses depersonalisasi ini.

Rasionalitas Ekonomi dan Alienasi Manusia

Kritik terhadap masyarakat modern juga pernah disampaikan oleh Erich Fromm, seorang pemikir humanis yang menyoroti fenomena alienasi dalam kehidupan modern. Fromm berpendapat bahwa masyarakat industri sering kali menilai manusia berdasarkan produktivitasnya, bukan kemanusiaannya.

Dalam sistem seperti ini, manusia mudah kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Ia bekerja, menghasilkan uang, dan memenuhi tuntutan sosial, tetapi tidak selalu memahami makna dari semua aktivitas itu.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan urban masa kini. Banyak pekerja muda di kota besar menjalani rutinitas yang sangat rasional: bangun pagi, bekerja delapan hingga sepuluh jam, mengejar target karier, dan berusaha mempertahankan gaya hidup tertentu.

Namun di balik stabilitas itu sering muncul perasaan hampa. Istilah burnout atau quarter-life crisis menjadi semakin umum di kalangan generasi muda. Mereka merasa hidup berjalan seperti mesin yang terus bergerak, tetapi tanpa arah yang benar-benar dipahami.

Kondisi ini mencerminkan apa yang disebut Fromm sebagai “manusia yang terasing”, individu yang terpisah dari dirinya sendiri karena terlalu larut dalam mekanisme sosial.

Dunia Digital dan Identitas yang Terkonstruksi

Jika rasionalitas ekonomi membentuk manusia modern pada abad ke-20, maka era digital membawa dimensi baru dalam krisis identitas.

Media sosial menciptakan ruang di mana identitas tidak lagi hanya dibentuk oleh keluarga atau komunitas, tetapi juga oleh algoritma dan persepsi publik. Individu sering merasa harus menampilkan citra tertentu agar dapat diterima dalam ruang digital.

Dalam perspektif politik dan budaya, Hannah Arendt pernah menekankan pentingnya ruang publik sebagai tempat manusia menampilkan dirinya secara autentik. Namun ruang publik digital sering kali justru mendorong representasi diri yang artifisial.

Foto yang dipoles, narasi kehidupan yang disusun rapi, dan pencarian validasi melalui “like” atau “followers” menciptakan identitas yang semakin jauh dari realitas batin seseorang.

Akibatnya, banyak individu hidup dalam dua dunia sekaligus: dunia nyata yang penuh keraguan dan dunia digital yang tampak sempurna.

Kontradiksi ini memperkuat pertanyaan eksistensial yang sama seperti dalam lagu The Logical Song: ketika identitas sosial semakin kompleks, bagaimana seseorang benar-benar mengetahui siapa dirinya?

Antara Logika dan Kemanusiaan

Meskipun kritik terhadap rasionalitas modern sangat kuat, penting untuk diingat bahwa logika sendiri bukanlah musuh manusia. Rasionalitas telah memungkinkan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sistem sosial yang kompleks.

Masalah muncul ketika logika menjadi satu-satunya ukuran nilai hidup. Manusia tidak hanya terdiri dari rasio. Ia juga memiliki dimensi emosional, estetis, dan spiritual. Seni, musik, sastra, dan pengalaman cinta sering kali menghadirkan makna yang tidak dapat dijelaskan oleh logika semata.

Dalam konteks ini, lagu The Logical Song sebenarnya menawarkan refleksi yang sangat humanistik. Ia mengingatkan bahwa di balik segala tuntutan rasionalitas sosial, manusia tetap memiliki kebutuhan mendasar untuk memahami dirinya sendiri.

Pertanyaan “siapakah aku?” bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kesadaran.

Keberanian untuk Bertanya

Pada akhirnya, krisis identitas yang digambarkan dalam lagu tersebut bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Justru di sanalah awal dari refleksi yang lebih mendalam.

Sejarah pemikiran manusia menunjukkan bahwa kemajuan intelektual sering dimulai dari keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap “logis” oleh masyarakat. Filsafat lahir dari rasa heran dan keraguan, bukan dari kepastian mutlak.

Dalam dunia modern yang semakin rasional, keberanian untuk bertanya mungkin menjadi bentuk kebebasan yang paling penting.

Pertanyaan tentang makna hidup, tentang kebahagiaan, dan tentang identitas diri adalah cara manusia mempertahankan kemanusiaannya di tengah sistem yang sering kali terlalu mekanis.

Dan mungkin, seperti yang tersirat dalam lagu tersebut, perjalanan manusia bukanlah tentang menjadi sepenuhnya logis—melainkan tentang menemukan keseimbangan antara logika dan jiwa.

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya ingin hidup secara rasional.
Ia ingin hidup secara autentik.[T]

Tags: lagumusikmusik baratSupertrampulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Next Post

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails
Next Post
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co