21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
in Ulas Musik
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

Supertramp | Ilustrasi dibuat dengan AI

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman hidup belum dipenuhi kategori-kategori sosial yang rumit. Segala sesuatu tampak jelas: alam adalah keindahan, permainan adalah kebebasan, dan masa depan adalah kemungkinan tanpa batas.

Spirit lagu The Logical Song karya Roger Hodgson menangkap perubahan dramatis ketika seseorang meninggalkan fase itu. Liriknya menggambarkan pergeseran dari dunia yang intuitif menuju dunia yang didominasi logika sosial, di mana individu diajarkan bagaimana menjadi “rasional”, “praktis”, dan “dapat diterima”.

Namun dalam proses itu muncul pertanyaan eksistensial yang sangat mendalam: apakah rasionalitas modern benar-benar membawa manusia lebih dekat pada dirinya sendiri, atau justru menjauhkannya dari jati diri yang autentik?

Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi personal, melainkan juga kritik terhadap struktur sosial modern yang semakin menuntut keseragaman.

Pendidikan Modern dan Produksi Individu yang Patuh

Dalam perspektif filsafat sosial, kritik terhadap rasionalitas modern pernah dikemukakan oleh Michel Foucault. Ia menunjukkan bahwa institusi modern—sekolah, rumah sakit, penjara, bahkan kantor memiliki mekanisme disiplin yang membentuk individu agar sesuai dengan norma yang berlaku.

Pendidikan, dalam kerangka ini, tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku. Sekolah mengajarkan keteraturan, kepatuhan, dan standar keberhasilan tertentu. Nilai akademik menjadi indikator utama keberhasilan, sementara kreativitas dan refleksi diri sering kali berada di posisi sekunder.

Fenomena ini dapat dilihat secara jelas dalam kehidupan masyarakat kontemporer Indonesia. Banyak siswa sejak dini diarahkan untuk memilih jalur karier yang dianggap “rasional” secara ekonomi. Profesi seperti dokter, insinyur, atau pegawai negeri dianggap sebagai simbol stabilitas hidup. Sebaliknya, bidang seni atau humaniora sering dipandang kurang menjanjikan.

Dalam situasi seperti ini, individu perlahan dibentuk agar menjadi bagian dari sistem produksi sosial. Ia diharapkan menjadi manusia yang efisien, rasional, dan dapat diprediksi—bukan manusia yang mempertanyakan sistem itu sendiri.

Kritik satir dalam lirik lagu tersebut—yang menyindir individu yang dibentuk menjadi “vegetable” seolah menggambarkan proses depersonalisasi ini.

Rasionalitas Ekonomi dan Alienasi Manusia

Kritik terhadap masyarakat modern juga pernah disampaikan oleh Erich Fromm, seorang pemikir humanis yang menyoroti fenomena alienasi dalam kehidupan modern. Fromm berpendapat bahwa masyarakat industri sering kali menilai manusia berdasarkan produktivitasnya, bukan kemanusiaannya.

Dalam sistem seperti ini, manusia mudah kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Ia bekerja, menghasilkan uang, dan memenuhi tuntutan sosial, tetapi tidak selalu memahami makna dari semua aktivitas itu.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan urban masa kini. Banyak pekerja muda di kota besar menjalani rutinitas yang sangat rasional: bangun pagi, bekerja delapan hingga sepuluh jam, mengejar target karier, dan berusaha mempertahankan gaya hidup tertentu.

Namun di balik stabilitas itu sering muncul perasaan hampa. Istilah burnout atau quarter-life crisis menjadi semakin umum di kalangan generasi muda. Mereka merasa hidup berjalan seperti mesin yang terus bergerak, tetapi tanpa arah yang benar-benar dipahami.

Kondisi ini mencerminkan apa yang disebut Fromm sebagai “manusia yang terasing”, individu yang terpisah dari dirinya sendiri karena terlalu larut dalam mekanisme sosial.

Dunia Digital dan Identitas yang Terkonstruksi

Jika rasionalitas ekonomi membentuk manusia modern pada abad ke-20, maka era digital membawa dimensi baru dalam krisis identitas.

Media sosial menciptakan ruang di mana identitas tidak lagi hanya dibentuk oleh keluarga atau komunitas, tetapi juga oleh algoritma dan persepsi publik. Individu sering merasa harus menampilkan citra tertentu agar dapat diterima dalam ruang digital.

Dalam perspektif politik dan budaya, Hannah Arendt pernah menekankan pentingnya ruang publik sebagai tempat manusia menampilkan dirinya secara autentik. Namun ruang publik digital sering kali justru mendorong representasi diri yang artifisial.

Foto yang dipoles, narasi kehidupan yang disusun rapi, dan pencarian validasi melalui “like” atau “followers” menciptakan identitas yang semakin jauh dari realitas batin seseorang.

Akibatnya, banyak individu hidup dalam dua dunia sekaligus: dunia nyata yang penuh keraguan dan dunia digital yang tampak sempurna.

Kontradiksi ini memperkuat pertanyaan eksistensial yang sama seperti dalam lagu The Logical Song: ketika identitas sosial semakin kompleks, bagaimana seseorang benar-benar mengetahui siapa dirinya?

Antara Logika dan Kemanusiaan

Meskipun kritik terhadap rasionalitas modern sangat kuat, penting untuk diingat bahwa logika sendiri bukanlah musuh manusia. Rasionalitas telah memungkinkan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sistem sosial yang kompleks.

Masalah muncul ketika logika menjadi satu-satunya ukuran nilai hidup. Manusia tidak hanya terdiri dari rasio. Ia juga memiliki dimensi emosional, estetis, dan spiritual. Seni, musik, sastra, dan pengalaman cinta sering kali menghadirkan makna yang tidak dapat dijelaskan oleh logika semata.

Dalam konteks ini, lagu The Logical Song sebenarnya menawarkan refleksi yang sangat humanistik. Ia mengingatkan bahwa di balik segala tuntutan rasionalitas sosial, manusia tetap memiliki kebutuhan mendasar untuk memahami dirinya sendiri.

Pertanyaan “siapakah aku?” bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kesadaran.

Keberanian untuk Bertanya

Pada akhirnya, krisis identitas yang digambarkan dalam lagu tersebut bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Justru di sanalah awal dari refleksi yang lebih mendalam.

Sejarah pemikiran manusia menunjukkan bahwa kemajuan intelektual sering dimulai dari keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap “logis” oleh masyarakat. Filsafat lahir dari rasa heran dan keraguan, bukan dari kepastian mutlak.

Dalam dunia modern yang semakin rasional, keberanian untuk bertanya mungkin menjadi bentuk kebebasan yang paling penting.

Pertanyaan tentang makna hidup, tentang kebahagiaan, dan tentang identitas diri adalah cara manusia mempertahankan kemanusiaannya di tengah sistem yang sering kali terlalu mekanis.

Dan mungkin, seperti yang tersirat dalam lagu tersebut, perjalanan manusia bukanlah tentang menjadi sepenuhnya logis—melainkan tentang menemukan keseimbangan antara logika dan jiwa.

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya ingin hidup secara rasional.
Ia ingin hidup secara autentik.[T]

Tags: lagumusikmusik baratSupertrampulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Next Post

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co