GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter tersebut terdapat kekayaan musikal yang lebih luas. Berbagai pola, warna bunyi, tekstur, dinamika, dan hubungan antarbunyi di dalamnya menyediakan ruang untuk terus dieksplorasi. Kekayaan itulah yang menjadi titik berangkat Cipta Pagelaran Intermedium Ranu, sebuah karya karawitan inovatif yang menempatkan Gong Gede sebagai media utama penciptaan. Karya ini digarap dalam Program Hibah Penelitian, Penciptaan, Diseminasi Seni dan Desain (P2DSD) Berdampak Institut Seni Indonesia (ISI) Bali tahun 2026, dengan I Made Kartawan, S.Sn., M.Si., MA., PhDsebagai ketua pengkarya.
Pilihan terhadap Gong Gede tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan musikal. Ensambel ini memiliki hubungan yang kuat dengan Batur dan menjadi bagian dari lingkungan budaya masyarakat setempat. Karena itu, menjadikannya sebagai media utama sekaligus merupakan bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal. Di sisi lain, Ranu mengambil Rarud Batur sebagai salah satu sumber gagasan. Peristiwa perpindahan masyarakat Batur tersebut tidak sekadar hendak diceritakan kembali, tetapi diterjemahkan ke dalam pengalaman musikal. Dari sinilah pertanyaan penciptaan muncul: bagaimana kekayaan musikal Gong Gede dapat dikembangkan untuk membangun karya baru tanpa kehilangan karakter yang membuatnya tetap berakar pada tradisi Bali?
Memahami Musik dari Tradisi
Pertanyaan tersebut tidak langsung dijawab melalui penciptaan komposisi. Ia terlebih dahulu berangkat dari cara memahami dan mempelajari musik. Proses penciptaan Ranu tetap menggunakan cara belajar yang dekat dengan tradisi karawitan Bali. Materi musik dipelajari melalui meguru panggul, meguru kuping, dan meguru rasa. Meguru panggul dilakukan dengan memperhatikan pola yang dimainkan kemudian menirukannya. Meguru kuping menekankan kemampuan mendengar sebelum memainkan, sedangkan meguru rasa memberikan ruang bagi musisi untuk memahami dan merasakan pola musikal melalui pengalaman memainkan musik. Ketiga cara tersebut kemudian dipadukan dengan notasi dalam proses mewujudkan komposisi Cipta Pagelaran Intermedium Ranu.
Cara belajar tersebut penting karena eksplorasi musikal tidak mungkin dilakukan tanpa pemahaman terhadap karakter musik yang menjadi sumbernya. Pengalaman mendengar, meniru, memainkan, dan merasakan musik menjadi bekal untuk mengenali karakter Gong Gede sekaligus melihat kemungkinan yang dapat dikembangkan dari dalamnya.
Dengan demikian, penciptaan musik baru tidak harus dimulai dengan meninggalkan cara-cara belajar yang diwariskan. Justru pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung menjadi dasar untuk melakukan eksplorasi secara lebih mendalam.
Setelah gagasan musikal dirumuskan, proses penciptaan bergerak ke tahap praktik. Sebanyak 40 orang terlibat dalam proses musikal Ranu. Mereka bersama-sama menerjemahkan gagasan yang telah dirancang menjadi komposisi yang dapat dimainkan dan dipertunjukkan. Proses tersebut tidak berlangsung sekali jadi. Materi musikal dikembangkan melalui penyusunan sketsa, improvisasi, permainan langsung, uji coba, evaluasi, dan penyempurnaan secara bertahap. Apa yang telah dirancang secara konseptual kemudian diuji melalui bunyi yang benar-benar dihasilkan dalam permainan bersama.

Berangkat dari kekayaan musikal Gong Gede yang lekat dengan Batur, Cipta Pagelaran Intermedium Ranu mengembangkan berbagai unsur musikal melalui pengolahan motif, ritme, harmoni, sinkopasi, dinamika, tekstur, dan ekspresi. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi menjadi pijakan untuk membuka kemungkinan artistik dalam penciptaan karawitan masa kini.
Di sinilah eksplorasi menjadi bagian penting dari penciptaan. Sebuah gagasan yang tampak baik dalam rancangan belum tentu menghasilkan karakter yang sama ketika dimainkan. Karena itu, proses berlangsung melalui mencoba, mendengarkan, mengevaluasi, lalu memperbaiki. Motif dapat dikembangkan menjadi bagian yang lebih panjang. Pola ritmis dapat mengalami perubahan. Tekstur dapat dipadatkan atau direnggangkan. Dinamika dapat digunakan untuk membangun ketegangan maupun memberikan ruang. Teknik permainan tertentu dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karakter ekspresi yang sesuai dengan kebutuhan komposisi. Dengan demikian, yang dikembangkan bukan sekadar bunyi dalam pengertian sempit, tetapi cara berbagai unsur musikal bekerja bersama untuk membentuk pengalaman musikal.
Proses tersebut menggunakan prinsip practice-based research, yang mempertemukan riset dengan praktik artistik. Studi pustaka, telaah diskografi, observasi, serta analisis terhadap berbagai pola musikal menjadi dasar untuk menemukan kemungkinan pengembangan. Kemungkinan tersebut kemudian diuji melalui praktik musikal. Komposisi akhirnya tidak lahir dari satu gagasan yang sudah sepenuhnya selesai sejak awal. Ia berkembang melalui perjumpaan antara konsep, pengalaman, bunyi, dan respons para musisi.
Sejarah Batur Diterjemahkan ke dalam Musik
Di balik eksplorasi musikal tersebut terdapat kisah Rarud Batur. Perumusan ide dan alur karya diperkuat melalui wawancara dengan sejumlah tokoh masyarakat Batur serta penelusuran literatur dan dokumen mengenai peristiwa tersebut. Namun, informasi sejarah itu tidak disajikan sebagai cerita panjang di atas panggung. Peristiwa Rarud Batur diterjemahkan ke dalam alur musikal yang disusun secara kronologis dan dikemas secara fragmentaris.
Dengan cara tersebut, sejarah tidak hanya diceritakan, tetapi dihidupkan melalui musik. Perubahan suasana, perkembangan dramatik, dan perjalanan cerita dibangun melalui hubungan antarelemen musikal. Musik tidak sekadar menjadi latar bagi cerita, tetapi menjadi salah satu bahasa utama untuk menyampaikan gagasan karya. Cipta Pagelaran Intermedium Ranu kemudian dibangun dalam tiga bagian utama dengan durasi sekitar 45 menit.
Di titik ini, Batur memberikan konteks dan sumber gagasan, sementara Gong Gede menyediakan bahasa musikal untuk menerjemahkannya menjadi pengalaman artistik.
Karakter Gong Gede yang kuat dan monumental kemudian menjadi pijakan untuk mengembangkan motif, ritme, harmoni, sinkopasi, dinamika, tekstur, teknik permainan, dan ekspresi sesuai dengan kebutuhan komposisi.

Eksplorasi musikal tersebut kemudian diperluas melalui pertemuan Gong Gede dengan tari, teater, dan seni rupa, yang diperkuat oleh tata panggung dan pencahayaan. Dalam hubungan tersebut, musik tidak ditempatkan sekadar sebagai pengiring. Gong Gede menjadi salah satu fondasi dramaturgi pertunjukan. Perubahan musikal berhubungan dengan gerak, adegan, visual, ruang, dan cahaya. Sebaliknya, tari, teater, seni rupa, tata panggung, dan pencahayaan memberikan konteks yang memperluas pengalaman terhadap bunyi Gong Gede. Tari merespons musik melalui gerak. Teater memperkuat dimensi cerita dan karakter. Seni rupa membangun suasana visual, sementara tata panggung dan pencahayaan membantu menegaskan perubahan suasana yang dibangun melalui musik. Hubungan tersebut membuat intermedium dalam Ranu bukan sekadar pertemuan beberapa cabang seni dalam satu panggung. Masing-masing medium memiliki peran dalam membangun pengalaman pertunjukan, sementara musik tetap menjadi salah satu fondasi yang mengikat keseluruhannya.
Dengan demikian, eksplorasi Gong Gede tidak berhenti pada pengembangan unsur-unsur musikal. Ia juga membuka kemungkinan baru ketika musik ditempatkan dalam hubungan dengan gerak, drama, visual, ruang, dan cahaya.
Tradisi sebagai Ruang Kreativitas
Pada titik inilah eksplorasi musikal Gong Gede bertemu dengan persoalan tradisi dan kreativitas. Penggunaan Gong Gede memiliki makna lebih dari sekadar pilihan artistik. Sebagai salah satu ensambel gamelan Bali yang identik dengan Batur, Gong Gede menghubungkan karya dengan kearifan lokal dan lingkungan budaya yang menjadi sumber inspirasinya.
Namun, menghormati tradisi tidak berarti menghadirkan Gong Gede dalam bentuk yang selalu sama. Justru melalui eksplorasi, berbagai potensi musikal yang telah dimilikinya dapat dibuka kembali dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penciptaan masa kini.Menurut Bakan, “tradition here is conceived of as a process, in particular a process of creative transformation whose most remarkable feature is the continuity it nurtures and sustains.” Pandangan tersebut membantu melihat hubungan antara tradisi dan kreativitas secara berbeda. Tradisi tidak harus menjadi sesuatu yang beku dan selalu diulang dalam bentuk yang sama. Ia dapat mengalami transformasi kreatif selama kesinambungan dengan akar yang membentuk identitasnya tetap terjaga.
Semangat tersebut terlihat dalam Ranu. Pengembangan motif, ritme, harmoni, sinkopasi, dinamika, tekstur, teknik permainan, dan ekspresi bukan dimaksudkan untuk menghapus karakter Gong Gede. Sebaliknya, unsur-unsur tersebut dieksplorasi untuk melihat kemungkinan musikal yang dapat dikembangkan dari dalam tradisi itu sendiri. Karena itu, tradisi dan inovasi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Tradisi menjadi pijakan, sementara eksplorasi menjadi cara untuk membuatnya terus bergerak.
Cipta Pagelaran Intermedium Ranu pada akhirnya memperlihatkan satu kemungkinan dalam perkembangan karawitan Bali: tradisi dapat menjadi titik berangkat bagi kreativitas tanpa harus kehilangan akar kulturalnya. Gong Gede tetap hadir dengan karakter dan identitasnya. Namun, melalui proses penciptaan, kekayaan musikalnya ditempatkan dalam ruang eksplorasi yang memungkinkan berbagai unsur di dalamnya berkembang sesuai kebutuhan karya.
Pada saat yang sama, hubungan dengan Batur membuat eksplorasi tersebut tetap memiliki konteks budaya. Karya ini menghormati sumber tradisinya sekaligus memberikan ruang bagi generasi sekarang untuk mengalami, memahami, dan mengolahnya dengan cara yang lebih kontekstual.
Pertunjukan Ranu kemudian dipresentasikan di Jaba Pura Ulundanu Batur, Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, pada 3 Agustus 2026 sebagai bagian dari puncak peringatan 100 tahun Rarud Batur. Yang penting dari perjalanan tersebut bukan hanya pertunjukan yang akhirnya hadir di hadapan penonton, tetapi proses di baliknya: bagaimana sebuah tradisi dipelajari melalui pendengaran dan rasa, bagaimana sejarah diterjemahkan menjadi bahasa musikal, bagaimana Gong Gede dieksplorasi, dan bagaimana musik kemudian berdialog dengan tari, teater, seni rupa, tata panggung, serta pencahayaan.
Pada akhirnya, Ranu menunjukkan bahwa merawat tradisi tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama. Tradisi juga dapat dirawat dengan terus mempelajarinya, memainkannya, mengeksplorasinya, dan memberinya ruang untuk berkembang tanpa kehilangan akar kulturalnya. Gong Gede tetap berakar di Batur, tetapi melalui eksplorasi musikal, ia memperoleh ruang yang lebih luas untuk terus hidup, berkembang, dan berdialog dengan zaman.[T]
Penulis: I Made Kartawan, S.Sn., M.Si., MA., PhD
Editor: Adnyana Ole





![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-360x180.png)

























