29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

I Made Kartawan by I Made Kartawan
August 16, 2026
in Ulas Musik
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter tersebut terdapat kekayaan musikal yang lebih luas. Berbagai pola, warna bunyi, tekstur, dinamika, dan hubungan antarbunyi di dalamnya menyediakan ruang untuk terus dieksplorasi. Kekayaan itulah yang menjadi titik berangkat Cipta Pagelaran Intermedium Ranu, sebuah karya karawitan inovatif yang menempatkan Gong Gede sebagai media utama penciptaan. Karya ini digarap dalam Program Hibah Penelitian, Penciptaan, Diseminasi Seni dan Desain (P2DSD) Berdampak Institut Seni Indonesia (ISI) Bali tahun 2026, dengan I Made Kartawan, S.Sn., M.Si., MA., PhDsebagai ketua pengkarya.

Pilihan terhadap Gong Gede tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan musikal. Ensambel ini memiliki hubungan yang kuat dengan Batur dan menjadi bagian dari lingkungan budaya masyarakat setempat. Karena itu, menjadikannya sebagai media utama sekaligus merupakan bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal. Di sisi lain, Ranu mengambil Rarud Batur sebagai salah satu sumber gagasan. Peristiwa perpindahan masyarakat Batur tersebut tidak sekadar hendak diceritakan kembali, tetapi diterjemahkan ke dalam pengalaman musikal. Dari sinilah pertanyaan penciptaan muncul: bagaimana kekayaan musikal Gong Gede dapat dikembangkan untuk membangun karya baru tanpa kehilangan karakter yang membuatnya tetap berakar pada tradisi Bali?

Memahami Musik dari Tradisi

Pertanyaan tersebut tidak langsung dijawab melalui penciptaan komposisi. Ia terlebih dahulu berangkat dari cara memahami dan mempelajari musik. Proses penciptaan Ranu tetap menggunakan cara belajar yang dekat dengan tradisi karawitan Bali. Materi musik dipelajari melalui meguru panggul, meguru kuping, dan meguru rasa. Meguru panggul dilakukan dengan memperhatikan pola yang dimainkan kemudian menirukannya. Meguru kuping menekankan kemampuan mendengar sebelum memainkan, sedangkan meguru rasa memberikan ruang bagi musisi untuk memahami dan merasakan pola musikal melalui pengalaman memainkan musik. Ketiga cara tersebut kemudian dipadukan dengan notasi dalam proses mewujudkan komposisi Cipta Pagelaran Intermedium Ranu.

Cara belajar tersebut penting karena eksplorasi musikal tidak mungkin dilakukan tanpa pemahaman terhadap karakter musik yang menjadi sumbernya. Pengalaman mendengar, meniru, memainkan, dan merasakan musik menjadi bekal untuk mengenali karakter Gong Gede sekaligus melihat kemungkinan yang dapat dikembangkan dari dalamnya.

Dengan demikian, penciptaan musik baru tidak harus dimulai dengan meninggalkan cara-cara belajar yang diwariskan. Justru pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung menjadi dasar untuk melakukan eksplorasi secara lebih mendalam.

Setelah gagasan musikal dirumuskan, proses penciptaan bergerak ke tahap praktik. Sebanyak 40 orang terlibat dalam proses musikal Ranu. Mereka bersama-sama menerjemahkan gagasan yang telah dirancang menjadi komposisi yang dapat dimainkan dan dipertunjukkan. Proses tersebut tidak berlangsung sekali jadi. Materi musikal dikembangkan melalui penyusunan sketsa, improvisasi, permainan langsung, uji coba, evaluasi, dan penyempurnaan secara bertahap. Apa yang telah dirancang secara konseptual kemudian diuji melalui bunyi yang benar-benar dihasilkan dalam permainan bersama.

Berangkat dari kekayaan musikal Gong Gede yang lekat dengan Batur, Cipta Pagelaran Intermedium Ranu mengembangkan berbagai unsur musikal melalui pengolahan motif, ritme, harmoni, sinkopasi, dinamika, tekstur, dan ekspresi. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi menjadi pijakan untuk membuka kemungkinan artistik dalam penciptaan karawitan masa kini.

Di sinilah eksplorasi menjadi bagian penting dari penciptaan. Sebuah gagasan yang tampak baik dalam rancangan belum tentu menghasilkan karakter yang sama ketika dimainkan. Karena itu, proses berlangsung melalui mencoba, mendengarkan, mengevaluasi, lalu memperbaiki. Motif dapat dikembangkan menjadi bagian yang lebih panjang. Pola ritmis dapat mengalami perubahan. Tekstur dapat dipadatkan atau direnggangkan. Dinamika dapat digunakan untuk membangun ketegangan maupun memberikan ruang. Teknik permainan tertentu dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karakter ekspresi yang sesuai dengan kebutuhan komposisi. Dengan demikian, yang dikembangkan bukan sekadar bunyi dalam pengertian sempit, tetapi cara berbagai unsur musikal bekerja bersama untuk membentuk pengalaman musikal.

Proses tersebut menggunakan prinsip practice-based research, yang mempertemukan riset dengan praktik artistik. Studi pustaka, telaah diskografi, observasi, serta analisis terhadap berbagai pola musikal menjadi dasar untuk menemukan kemungkinan pengembangan. Kemungkinan tersebut kemudian diuji melalui praktik musikal.  Komposisi akhirnya tidak lahir dari satu gagasan yang sudah sepenuhnya selesai sejak awal. Ia berkembang melalui perjumpaan antara konsep, pengalaman, bunyi, dan respons para musisi.

Sejarah Batur Diterjemahkan ke dalam Musik

Di balik eksplorasi musikal tersebut terdapat kisah Rarud Batur. Perumusan ide dan alur karya diperkuat melalui wawancara dengan sejumlah tokoh masyarakat Batur serta penelusuran literatur dan dokumen mengenai peristiwa tersebut. Namun, informasi sejarah itu tidak disajikan sebagai cerita panjang di atas panggung. Peristiwa Rarud Batur diterjemahkan ke dalam alur musikal yang disusun secara kronologis dan dikemas secara fragmentaris.

Dengan cara tersebut, sejarah tidak hanya diceritakan, tetapi dihidupkan melalui musik. Perubahan suasana, perkembangan dramatik, dan perjalanan cerita dibangun melalui hubungan antarelemen musikal. Musik tidak sekadar menjadi latar bagi cerita, tetapi menjadi salah satu bahasa utama untuk menyampaikan gagasan karya. Cipta Pagelaran Intermedium Ranu kemudian dibangun dalam tiga bagian utama dengan durasi sekitar 45 menit.

Di titik ini, Batur memberikan konteks dan sumber gagasan, sementara Gong Gede menyediakan bahasa musikal untuk menerjemahkannya menjadi pengalaman artistik.

Karakter Gong Gede yang kuat dan monumental kemudian menjadi pijakan untuk mengembangkan motif, ritme, harmoni, sinkopasi, dinamika, tekstur, teknik permainan, dan ekspresi sesuai dengan kebutuhan komposisi.

Eksplorasi musikal tersebut kemudian diperluas melalui pertemuan Gong Gede dengan tari, teater, dan seni rupa, yang diperkuat oleh tata panggung dan pencahayaan. Dalam hubungan tersebut, musik tidak ditempatkan sekadar sebagai pengiring. Gong Gede menjadi salah satu fondasi dramaturgi pertunjukan. Perubahan musikal berhubungan dengan gerak, adegan, visual, ruang, dan cahaya. Sebaliknya, tari, teater, seni rupa, tata panggung, dan pencahayaan memberikan konteks yang memperluas pengalaman terhadap bunyi Gong Gede. Tari merespons musik melalui gerak. Teater memperkuat dimensi cerita dan karakter. Seni rupa membangun suasana visual, sementara tata panggung dan pencahayaan membantu menegaskan perubahan suasana yang dibangun melalui musik. Hubungan tersebut membuat intermedium dalam Ranu bukan sekadar pertemuan beberapa cabang seni dalam satu panggung. Masing-masing medium memiliki peran dalam membangun pengalaman pertunjukan, sementara musik tetap menjadi salah satu fondasi yang mengikat keseluruhannya.

Dengan demikian, eksplorasi Gong Gede tidak berhenti pada pengembangan unsur-unsur musikal. Ia juga membuka kemungkinan baru ketika musik ditempatkan dalam hubungan dengan gerak, drama, visual, ruang, dan cahaya.

Tradisi sebagai Ruang Kreativitas

Pada titik inilah eksplorasi musikal Gong Gede bertemu dengan persoalan tradisi dan kreativitas. Penggunaan Gong Gede memiliki makna lebih dari sekadar pilihan artistik. Sebagai salah satu ensambel gamelan Bali yang identik dengan Batur, Gong Gede menghubungkan karya dengan kearifan lokal dan lingkungan budaya yang menjadi sumber inspirasinya.

Namun, menghormati tradisi tidak berarti menghadirkan Gong Gede dalam bentuk yang selalu sama. Justru melalui eksplorasi, berbagai potensi musikal yang telah dimilikinya dapat dibuka kembali dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penciptaan masa kini.Menurut Bakan, “tradition here is conceived of as a process, in particular a process of creative transformation whose most remarkable feature is the continuity it nurtures and sustains.”  Pandangan tersebut membantu melihat hubungan antara tradisi dan kreativitas secara berbeda. Tradisi tidak harus menjadi sesuatu yang beku dan selalu diulang dalam bentuk yang sama. Ia dapat mengalami transformasi kreatif selama kesinambungan dengan akar yang membentuk identitasnya tetap terjaga.

Semangat tersebut terlihat dalam Ranu. Pengembangan motif, ritme, harmoni, sinkopasi, dinamika, tekstur, teknik permainan, dan ekspresi bukan dimaksudkan untuk menghapus karakter Gong Gede. Sebaliknya, unsur-unsur tersebut dieksplorasi untuk melihat kemungkinan musikal yang dapat dikembangkan dari dalam tradisi itu sendiri. Karena itu, tradisi dan inovasi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Tradisi menjadi pijakan, sementara eksplorasi menjadi cara untuk membuatnya terus bergerak.

Cipta Pagelaran Intermedium Ranu pada akhirnya memperlihatkan satu kemungkinan dalam perkembangan karawitan Bali: tradisi dapat menjadi titik berangkat bagi kreativitas tanpa harus kehilangan akar kulturalnya. Gong Gede tetap hadir dengan karakter dan identitasnya. Namun, melalui proses penciptaan, kekayaan musikalnya ditempatkan dalam ruang eksplorasi yang memungkinkan berbagai unsur di dalamnya berkembang sesuai kebutuhan karya.

Pada saat yang sama, hubungan dengan Batur membuat eksplorasi tersebut tetap memiliki konteks budaya. Karya ini menghormati sumber tradisinya sekaligus memberikan ruang bagi generasi sekarang untuk mengalami, memahami, dan mengolahnya dengan cara yang lebih kontekstual.

Pertunjukan Ranu kemudian dipresentasikan di Jaba Pura Ulundanu Batur, Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, pada 3 Agustus 2026 sebagai bagian dari puncak peringatan 100 tahun Rarud Batur.  Yang penting dari perjalanan tersebut bukan hanya pertunjukan yang akhirnya hadir di hadapan penonton, tetapi proses di baliknya: bagaimana sebuah tradisi dipelajari melalui pendengaran dan rasa, bagaimana sejarah diterjemahkan menjadi bahasa musikal, bagaimana Gong Gede dieksplorasi, dan bagaimana musik kemudian berdialog dengan tari, teater, seni rupa, tata panggung, serta pencahayaan.

Pada akhirnya, Ranu menunjukkan bahwa merawat tradisi tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama. Tradisi juga dapat dirawat dengan terus mempelajarinya, memainkannya, mengeksplorasinya, dan memberinya ruang untuk berkembang tanpa kehilangan akar kulturalnya. Gong Gede tetap berakar di Batur, tetapi melalui eksplorasi musikal, ia memperoleh ruang yang lebih luas untuk terus hidup, berkembang, dan berdialog dengan zaman.[T]

Penulis: I Made Kartawan, S.Sn., M.Si., MA., PhD
Editor: Adnyana Ole

Tags: gong gedeISI Balikarawitankarawitan balimusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

Next Post

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

I Made Kartawan

I Made Kartawan

I Made Kartawan, S.Sn.M.Si.,MA., PhD., dosen di Program Studi Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails
Next Post
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ------Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co