SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun 2026 melalui LPPM ISI BALI mementaskan Fragmentari Anyar bertajuk Ranu-Saraswati-Rena di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli. Fragmentari Anyar bertajuk Ranu-Saraswati-Rena dipentaskan dalam rangka memaknai sejarah perayaan 100 tahun Rarud Batur. Selain pemaknaan terhadap peristiwa sejarah, tajuk Ranu-Saraswati-Rena oleh ISI BALI sesuai apa yang disampaikan oleh Rektor Prof. Dr. I Wayan Adnyana, M.Sn dalam sambutannya menyampaikan bahwa “Dewi Danuh dengan dasanama Ratu Ayu Mas Membah bertransformasi sebagai Saraswati. Saraswati mengalir sebagai pengetahuan konservasi lingkungan salah satunya seperti yang telah tercetuskan dalam konsep pasihan. Selain itu Rarud Batur dipandang sebagai pengetahuan mitigasi dan penanganan bencana yang dilandasi dengan prinsip kebijaksanaan. Ranu-Saraswati-Rena ialah aliran pengetahuan dari sumber kehidupan (tirta, danau, sungai, segara-laut) yang membangun peradaban.
Pelinggih Jero Panyarikan Duhuran Batur dalam sambutannya selaku pengemong Pura Ulun Danu Batur Desa Adat Batur sekaligus mewakili Pelinggih Jero Gede Duhuran Batur menyambut baik tajuk Ranu-Saraswati-Rena yang memposisikan Ida Betari Dewi Danuh sebagai entitas pengetahuan yang tidak terputus. Bahkan Pelinggih Jero Panyarikan Duhuran Batur mengajak para akademisi pendidikan tinggi di Bali agar hadir ke Batur untuk melalukan kajian-kajian mendalam yang berpijak pada peradaban kebudayaan Desa Adat Batur. Tabuh Pat Parianom adalah salah satu kekayaan pengetahuan audial yang dimiliki oleh Desa Adat Batur teraktualisasi dalam repertoar Gamelan Gong Gede yang dilaksanakan oleh tempekan jero gambel. Tabuh Pat Parianom sebagai kekayaan intelektual kraman Batur dalam bidang karawitan khususnya jenis instrumentalia dikaji secara mendalam untuk melahirkan karya karawitan instrumental garapan baru.

Karawitan sebagai instrumentalia menyajikan olahan musikal murni. Sebagai cipta komposisi gamelan, karawitan memiliki peranan penting untuk memberikan pola, gramatikal, struktur dan bentuk musikal murni. Sebagai cipta komposisi gamelan/karawitan dalam konteks ini memiliki formulasi mencipta, aransemen dan orkestrasi dalam penciptaannya. Dalam penciptaan karawitan rancang garapnya seyogyanya dapat menstimulus dan memperkuat pengembangan aransemen dan orkestrasi. Dalam cipta komposisi gamelan/karawitan dalam konteks instrumentalia yang memiliki independensi dalam pengolahan pola garap musikalnya.
Sesuai dengan perkembangannya karawitan sebagai cipta komposisi murni sudah sampai pada kebutuhan kreasi baru yang terikat oleh tema spesifik. Tema spesifik yang dimaksud adalah sudah mengerucut pada tematik khusus seperti progresi melodi. Penciptaan karya komposisi gamelan.karawitan memberikan ruang untuk mengolah progresi unik dari bagian gilak tabuh Pat Parianom gaya Batur yang disebut dengan “ngelangkahin gunung”. Tabuh Pat Parianom Batur adalah salah satu repertoar pegongan pada gamelan Gong Gede sesuai dengan dialektik musikal Desa Adat Batur. Pada bagian gending gilak sebagai struktur pekaad gending memiliki keunikan progresi melodi yang disebut dengan “ngelangkahin gunung”.
Progresi melodi melompat-lompat dari gending gilak tabuh pat Parianom sangat unik. Keunikannya dapat disimak melalui analisa mengenai progresi melodi yang melompat-lompat pada bagian gending gilak ini memiliki formulasi khusus dalam penyusunannya nada-nada. Meskipun para pendahulu tidak menjelaskan secara teoritis maupun deskriftif, namun melalui pisau bedah analisis melodi formulasi progresi melodi yang melompat lompat tersebut dapat diurai. Hasil dari mengurai progresi melodi melompat-lompat dari gilak tabuh pat Parianom dapat digunakan sebagai referensi dalam menyusun bentuk gending gilak kedepannya oleh para komposer gamelan Bali. Dalam penciptaan ini berupaya mengolah hasil analisis melodi melompat-lompat bagian gilak dari gending tabuh pat parianom. Progresi melompat-lompat inilah yang disebut dengan “ngelangkahin gunung”.

Dari keunikan unsur musikal “ngelangkahin gunung” pada bagian gending gilak dalam Tabuh Pat Parianom Batur menstimulasinya menjadi tajuk Tabuh Pategak Saraswati. Saraswati adalah lambang ilmu pengetahuan yang harus ditempa disaat masa muda. Parianom penulis maknai sebagai pari yang berarti padi dan anom berarti muda. Padi yang muda memiliki ketajaman daun yang sering dianalogikan pada anak muda yang sedang tepat untuk menangkap seluruh ilmu. Tabuh PategakSaraswati hadir sebagai sebuah hasil kajian musikal mendalam melalui analisia melodi dan struktur gending Tabuh Pat Parianom Batur.
Tabuh Pategak Saraswati
Tabuh Pategak Saraswati adalah tabuh instrumentalia atau disebut dengan tabuh pategak dengan media gamelan Gong Gede. Sebagai sebuah tabuh instrumentalia atau pategak penyajiannya murni mengolah unsur musikal yang tidak dikaitkan dengan tarian dan drama. Tabuh Pategak Saraswati merupakan karya tabuh berbasis tradisi dengan pengolahan matra, ornamentasi dan aksen baru. Tabuh Pategak Saraswati berpijak dari karya klasik tabuh pegongan tabuh Pat Parianom gaya Batur yang kemudian ditafsir baru.
Tabuh Pategak Saraswati menggunakan struktur tabuh konvesional yaitu pengawit, pengawak dan pengecet. Pada bagian pengawit disusun atas tiga bagian yaitu pengrangrang, gegenderan dan gegangsaran. Bagian pengawak mengolah dan mereintepretasi pengawak dari Tabuh Pat Parianom Gaya Batur. Terakhir bagian pengecet disusun atas gegilakan, sesimbaran dan kebyar. Secara utuh Tabuh PategakSaraswati mendedahkan perjalanan progresi melodi yang bersumber pada bagian pengawak untuk dipecah menjadi kawitan dan pengecet. Secara alami progresi melodi dari bagian pengawak mengaliri progresi melodi pada bagian kawitan dan pengecet.

Tabuh Pategak Saraswati juga memasukkan tembang gerongan. Tembang gerongan disusun pada bagian kawitan dan pengecet. Tembang gerongan selain memberikan narasi dari tema Saraswati kaitannya dengan kemulian Betari Danu yang berstana di Danau Batur juga menambah estetika warna bunyi selain gamelan. Adapun lirik dari tembang gerongan dalam Tabuh PategakSaraswati adalah sebagai berikut:
- Kawitan
“Saraswati widya suci
Betari Danu mawisesa
Ring toya urip amerta”
- Gegangsaran
“Om Sang Hyang Saraswati kasembah, make pancer sinar kaweruhan
Nuntuk buwana ring margi utama, lontar pustaka saluwir sastra
Ngupadi widya tanpa lali ngastiti Hyang
Saraswati sinar kahurian”
- Vokal Penabuh
“Hyang Betari rupa ayu nyunar galang, sujud bhakti micayang wara nugraha, Buwana genah ripah kag jagat
Carma mule raine semu sumringah, manyunarin toya danu lan segara
Mapancer sinar asih kawelas”

Adapun tim peneliti dari penciptaan Tabuh Pategak Saraswati diketuai oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn dengan anggota peneliti Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn dan I Made Dwi Andika Putra, S.Sn., M.Sn. Tembang gerongan disusun oleh Ni Komang Sekar Marheni, SSP., M.Si. Tabuh Pategak Saraswati dimainkan oleh tenaga kependidikan, mahasiswa Program Studi Karawitan, dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Selain itu tim produksi dari Tabuh Pategak Saraswati melibatkan unsur tenaga kependidikan ISI BALI. [T]



![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-360x180.png)


























