RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramayana. Barangkali kita dengan mudah menunjuk Rahwana hanya sebagai raksasa tanpa moral, penuh kejahatan, dan nafsu liar tak terkendali.
Prasangka ini diwariskan terus menerus sebagai narasi tunggal yang terasa benar atas eksistensi Rahwana. Namun dari sinilah pertanyaan bermula, apakah pemahaman atas Rahwana benar-benar berhenti pada bayang-bayang ini? Atau justru ada atmosfir pembacaan yang sepenuhnya berbeda?
Pembacaan terhadap Rahwana dipertunjukkan melalui garapan baleganjur yang dimainkan Sekaa Balaganjur Lengka Swara, Banjar Dinas Wates Tengah, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem, di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, 19 Juni 2026. Sekaa ini menjadi duta Kabupaten Karangasem dalam lomba baleganjuur serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026.
Baleganjur itu diberi judul Praticaya dan digarap I Komang Tri Sandyasa Putra, S.Sn. alias Nyoman Monot sebagai komposer, I Komang Adi Pranata, S.Pd.,M.Sn., dari Manubada Art sebagai koreagrafer, dan Pasek Agung Wicaksana, S.Ag sebagai konseptor.
Apa hubungan Rahwana dengan Baleganjur Praticaya yang dimainkan anak-anak dari Banjar Wates Tengah itu?

Selama ini, masyarakat Banjar Wates Tengah, Desa Duda Timur, melihat Rahwana dengan cara yang berbeda. Alih-alih sebagai sosok raksasa yang penuh nafsu liar, Rahwana justru dimuliakan sebagai sesuhunan Ida Batara Sakti Rahwana sebagai simbol perlindungan, keteguhan, keseimbangan, dan keberanian.
Realitas ini membuka ruang bagi pembacaan yang lebih utuh terhadap Sang Dasamuka . Tidak untuk tenggelam dan larut dalam prasangka, tetapi justru berani menunda prasangka untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih luas. Lebih dari itu, pemuliaan Ida Sesuhunan Batara Sakti Rahwana sebagaimana dilakukan oleh masyarakat menjadi momentum kontemplasi yang dalam, bahwa pemuliaan jiwa (atma kertih) tidak hanya dapat dimengerti melalui kisah-kisah yang telah mapan, tetapi juga melalui kearifan lokal yang berani menginterpretasi seorang figure sebagai kebijaksanaan, perlindungan, dan keseimbangan hidup.
Pada titik ini atma kertih menemukan wajah yang paling jujur. Tidak hanya pemuliaan terhadap kesempurnaan yang mudah dikagumi, melainkan pemuliaan yang lahir dari keberanian untuk memahami lebih dalam; menyingkapi apa yang selama ini telah telanjur disangkakan. Sebab jiwa yang telah sungguh mengerti kemuliaan mampu melihat cahaya di tempat terang dan gelap atau juga menemukannya di tempat yang selama ini dibiarkan gelap.
Karya seni baleganjur ini lahir dari refleksi itu. Bukan untuk menggeser Rahwana ke sisi paling terang tetapi sebagai jembatan untuk melakukan hal yang lebih jujur dan sulit yakni melihat. Sebuah undangan untuk membangun keyakinan melalui penundaan prasangka dan proses melihat sisi lain yang tidak kalah dalam. Inilah yang kemudian disebut sebagai Praticaya.
Undangan itu dituangkan melalui bahasa yang paling jujur yang kami miliki yakni bunyi, gerak, dan rasa. Fokus artistik baleganjur ini terletak pada kualitas warna bunyi, dan kolotom yang sejalan dengan interpretasi terhadap kehadiran Ida Rahwana Sakti sesuhunan mayarakat Wates Tengah. Sepuluh wajah Dasamuka, dalam karya ini dibaca sebagai simbolisasi kecerdasan yang paripurna.
Hal itu tercermin pada kolotom dibangun dalam hitungan sepuluh, setiap siklus sepuluh jalinan musikal ditegaskan melalui aksen, dinamika, dan pengembangan melodi yang berbeda. Ekspresi ini dihadirkan untuk sekali lagi menunjukkan Sang Dasamukha sebagai representasi ketegasan, kegagahan, daya cipta, dan kecerdasan.
Selain menawarkan gagasan musikal, karya ini juga menghadirkan konsep visual yang ramah lingkungan tanpa mengurangi kekuatan artistiknya. Ketegasan warna bunyi (timbre) menjadi fokus utama, sehingga perwujudannya menuntut kualitas sumber daya yang kuat, pemilihan pemain terbaik, serta yang paling mendasar adalah niat yang baik. Sebab bagi pencipta, kualitas musikal tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kesadaran batin para pelakunya
Kemudian, pada penggarapan koreografi ini bermuara pada intuisi gaya lampau yang dikemas dengan energi masa kini. Lampau dalam konteks sejarah sesolahan Ida Sesuhunan Bhatara Sakti Rahwana dalam beberapa arsip dokumentasi, dicoba diadopsi dengan style atau gaya gerak ke dalam komponen gerak balaganjur.

Hampir tidak ada narasi dalam bentang koreografinya, murni menghadirkan spirit Bhatara Sakti Rahwana dengan nilai spiritualitas masyarakat wates tengah dalam pemujaannya. Pengalaman etnografis koreografer di Banjar Wates Tengah terlihat dalam tahap penuangan materi gerak dari kehadiran pola gerak kearifan lokal seperti gerak tajen dan genjek. Tegas, agung, dan berwibawa merupakan refleksi yang dihadirkan melalui koreografi gerak Balagajur Praticaya.
Keseluruhan refleksi dan karya Baleganjur Praticaya ini menegaskan satu pesan penting, bahwa Atma Kerthi bukan tentang siapa yang dimuliakan. Melainkan bagaimana manusia belajar memuliakan jiwanya. Memuliakan jiwa berarti membebaskan diri dari kebiasaan menghakimi sebelum memahami. Sebab jiwa yang masih dipenuhi prasangka akan sulit menemukan kebijaksanaan.
Pada akhirnya, Praticaya bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah ajakan untuk memuliakan jiwa melalui keberanian memahami sebelum menghakimi. Rahwana hadir bukan untuk diperdebatkan sebagai pahlawan atau penjahat, tetapi sebagai medium refleksi agar manusia mampu melihat lebih dari satu sudut pandang. Dalam semangat Atma Kerthi, pemuliaan jiwa tumbuh ketika keyakinan lahir dari pemahaman, bukan dari prasangka. [T]
Penulis: Pasek Agung Wicaksana
Editor: Adnyana Ole






























