9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Pasek Agung Wicaksana by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
in Ulas Musik
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Aksi panggung Sekaa Balaganjur Lengka Swara, Banjar Dinas Wates Tengah, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem | Foto: Ist

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramayana. Barangkali kita dengan mudah menunjuk Rahwana hanya sebagai raksasa tanpa moral, penuh kejahatan, dan nafsu liar tak terkendali.

Prasangka ini diwariskan terus menerus sebagai narasi tunggal yang terasa benar atas eksistensi Rahwana. Namun dari sinilah pertanyaan bermula, apakah pemahaman atas Rahwana benar-benar berhenti pada bayang-bayang ini? Atau justru ada atmosfir pembacaan yang sepenuhnya berbeda?

Pembacaan terhadap Rahwana dipertunjukkan melalui garapan baleganjur yang dimainkan Sekaa Balaganjur Lengka Swara, Banjar Dinas Wates Tengah, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem, di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar,  19 Juni 2026.  Sekaa ini menjadi duta Kabupaten Karangasem dalam lomba baleganjuur serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026.

Baleganjur itu diberi judul Praticaya dan digarap I Komang Tri Sandyasa Putra, S.Sn. alias Nyoman Monot sebagai komposer, I Komang Adi Pranata, S.Pd.,M.Sn., dari Manubada Art sebagai koreagrafer, dan Pasek Agung Wicaksana, S.Ag sebagai konseptor.

Apa hubungan Rahwana dengan Baleganjur Praticaya yang dimainkan anak-anak dari Banjar Wates Tengah itu?

Aksi panggung Sekaa Balaganjur Lengka Swara, Banjar Dinas Wates Tengah, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem | Foto: Ist

Selama ini, masyarakat Banjar Wates Tengah, Desa Duda Timur, melihat Rahwana dengan cara yang berbeda. Alih-alih sebagai sosok raksasa yang penuh nafsu liar, Rahwana justru dimuliakan sebagai sesuhunan Ida Batara Sakti Rahwana sebagai simbol perlindungan, keteguhan, keseimbangan, dan keberanian.

Realitas ini membuka ruang bagi pembacaan yang lebih utuh terhadap Sang Dasamuka . Tidak untuk tenggelam dan larut dalam prasangka, tetapi justru berani menunda prasangka untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih luas. Lebih dari itu, pemuliaan Ida Sesuhunan Batara Sakti Rahwana sebagaimana dilakukan oleh masyarakat menjadi momentum kontemplasi yang dalam, bahwa pemuliaan jiwa (atma kertih) tidak hanya dapat dimengerti melalui kisah-kisah yang telah mapan, tetapi juga melalui kearifan lokal yang berani menginterpretasi seorang figure sebagai kebijaksanaan, perlindungan, dan keseimbangan hidup.

Pada titik ini atma kertih menemukan wajah yang paling jujur. Tidak hanya pemuliaan terhadap kesempurnaan yang mudah dikagumi, melainkan pemuliaan yang lahir dari keberanian untuk memahami lebih dalam; menyingkapi apa yang selama ini telah telanjur disangkakan. Sebab jiwa yang telah sungguh mengerti kemuliaan mampu melihat cahaya di tempat terang dan gelap atau juga menemukannya di tempat yang selama ini dibiarkan gelap.

Karya seni baleganjur ini lahir dari refleksi itu. Bukan untuk menggeser Rahwana ke sisi paling terang tetapi sebagai jembatan untuk melakukan hal yang lebih jujur dan sulit yakni melihat. Sebuah undangan untuk membangun keyakinan melalui penundaan prasangka dan proses melihat sisi lain yang tidak kalah dalam. Inilah yang kemudian disebut sebagai Praticaya.

Undangan itu dituangkan melalui bahasa yang paling jujur yang kami miliki yakni bunyi, gerak, dan rasa. Fokus artistik baleganjur ini terletak pada kualitas warna bunyi, dan kolotom yang sejalan dengan interpretasi terhadap kehadiran Ida Rahwana Sakti sesuhunan mayarakat Wates Tengah. Sepuluh wajah Dasamuka, dalam karya ini dibaca sebagai simbolisasi kecerdasan yang paripurna.

Hal itu tercermin pada kolotom dibangun dalam hitungan sepuluh, setiap siklus sepuluh jalinan musikal ditegaskan melalui aksen, dinamika, dan pengembangan melodi yang berbeda. Ekspresi ini dihadirkan untuk sekali lagi menunjukkan Sang Dasamukha sebagai representasi ketegasan, kegagahan, daya cipta, dan kecerdasan.

Selain menawarkan gagasan musikal, karya ini juga menghadirkan konsep visual yang ramah lingkungan tanpa mengurangi kekuatan artistiknya. Ketegasan warna bunyi (timbre) menjadi fokus utama, sehingga perwujudannya menuntut kualitas sumber daya yang kuat, pemilihan pemain terbaik, serta yang paling mendasar adalah niat yang baik. Sebab bagi pencipta, kualitas musikal tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kesadaran batin para pelakunya

Kemudian, pada penggarapan koreografi ini bermuara pada intuisi gaya lampau yang dikemas dengan energi masa kini. Lampau dalam konteks sejarah sesolahan Ida Sesuhunan Bhatara Sakti Rahwana dalam beberapa arsip dokumentasi, dicoba diadopsi dengan style atau gaya gerak ke dalam komponen gerak balaganjur.

Aksi panggung Sekaa Balaganjur Lengka Swara, Banjar Dinas Wates Tengah, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem | Foto: Ist

Hampir tidak  ada narasi dalam bentang koreografinya, murni menghadirkan spirit Bhatara Sakti Rahwana dengan nilai spiritualitas masyarakat wates tengah dalam pemujaannya. Pengalaman etnografis koreografer di Banjar Wates Tengah terlihat dalam tahap penuangan materi gerak dari kehadiran pola gerak kearifan lokal seperti gerak tajen dan genjek.  Tegas, agung, dan berwibawa merupakan refleksi yang dihadirkan melalui koreografi gerak Balagajur Praticaya.

Keseluruhan refleksi dan karya Baleganjur Praticaya ini menegaskan satu pesan penting, bahwa Atma Kerthi bukan tentang siapa yang dimuliakan. Melainkan bagaimana manusia belajar memuliakan jiwanya. Memuliakan jiwa berarti membebaskan diri dari kebiasaan menghakimi sebelum memahami. Sebab jiwa yang masih dipenuhi prasangka akan sulit menemukan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, Praticaya bukan sekadar komposisi musik, melainkan sebuah ajakan untuk memuliakan jiwa melalui keberanian memahami sebelum menghakimi. Rahwana hadir bukan untuk diperdebatkan sebagai pahlawan atau penjahat, tetapi sebagai medium refleksi agar manusia mampu melihat lebih dari satu sudut pandang. Dalam semangat Atma Kerthi, pemuliaan jiwa tumbuh ketika keyakinan lahir dari pemahaman, bukan dari prasangka. [T]

Penulis: Pasek Agung Wicaksana
Editor: Adnyana Ole

Tags: baleganjurBanjar Wates TengahDesa Duda TimurkarangasemKecamatan Selat Karangasemlomba baleganjurPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Next Post

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

Pasek Agung Wicaksana

Pasek Agung Wicaksana

Lahir di Banjar Wates Tengah, Karangasem, tahun 1999. Bekerja tidak tetap. Pernah jadi pemateri kepemimpinan, pernah diundang ke Jepang sebagai narasumber tentang penanggulangan bencana gunung berapi, Kadang jadi event organizer juga,

Related Posts

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co