27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
in Ulas Musik
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Procol Harum | Gambar dibuat dengan bantuan AI

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirnya bersua dengan cakrawala yang tak kembali. Dalam balutan progresif rock yang megah dan melankolis, lagu ini bukan sekadar kisah pelaut, melainkan permenungan tentang nasib, risiko, dan batas terakhir kehidupan.

Esai ini berusaha menangkap spirit lirik tersebut: tentang laut sebagai metafora kehidupan, tentang keberangkatan yang selalu mengandung kemungkinan pulang; atau tenggelam dalam sunyi. Di sela refleksi itu, kita akan menengok beberapa musibah transportasi dalam sejarah Indonesia; peristiwa-peristiwa yang menjadikan “samudra” bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang duka kolektif.

Laut sebagai Takdir

Dalam “A Salty Dog”, laut bukan sekadar latar; ia adalah takdir. Ia luas, tak terduga, dan tak memihak. Para pelaut dalam lirik itu digambarkan lelah, kekurangan bekal, dan akhirnya pasrah pada badai. Mereka berangkat dengan tekad, tetapi berhadapan dengan kekuatan yang melampaui kendali manusia.

Begitulah kehidupan modern ia adalah pelayaran dengan teknologi sebagai kapal dan optimisme sebagai layar. Namun sejarah menunjukkan, betapapun canggih kapal atau pesawat, takdir selalu menyisakan ruang misteri.

Empat dekade silam, Indonesia berduka atas tenggelamnya KM Tampomas II pada 1981. Kapal penumpang itu terbakar di Laut Jawa sebelum akhirnya karam. Ratusan jiwa melayang. Para penumpang yang sebelumnya mungkin bercakap tentang keluarga dan tujuan pulang, mendadak dihadapkan pada kobaran api dan laut yang gelap. Seperti dalam lirik “A Salty Dog”, pelayaran berubah menjadi elegi.

Laut yang tadinya menjanjikan pertemuan berubah menjadi batas antara hidup dan mati.

Api, Air, dan Udara: Unsur-Unsur yang Menguji Kesombongan Manusia

Jika laut adalah simbol ketidakterdugaan, maka api dan udara adalah pengingat rapuhnya peradaban. Dalam tragedi KM Tampomas II, api menjadi awal kehancuran. Dalam banyak kecelakaan pesawat, udara ruang yang kita taklukkan dengan sains menjadi saksi jatuhnya harapan.

Kita mengenang berbagai kecelakaan pesawat yang mengguncang Indonesia, dari tragedi penerbangan komersial hingga pesawat militer. Setiap kali kabar “hilang kontak” terdengar, ada jeda sunyi yang sama seperti dalam lagu Procol Harum: jeda antara harapan dan kepastian pahit. Di ruang tunggu bandara, keluarga menatap layar informasi seperti pelaut menatap cakrawala, berharap bayangan kapal muncul kembali.

Demikian pula tragedi tabrakan kereta api di Bintaro pada 1987, dikenal sebagai Tragedi Bintaro. Dua rangkaian kereta bertabrakan, merenggut banyak nyawa. Rel yang seharusnya menjadi simbol keteraturan justru menjadi jalur maut. Di sana kita belajar: bahkan sistem yang tampak pasti pun menyimpan celah.

Dalam “A Salty Dog”, awak kapal digambarkan kelelahan, kehilangan arah. Bukankah itu juga metafora bagi sistem yang lalai, komunikasi yang terputus, atau keputusan yang terlambat? Tragedi transportasi kerap bukan semata takdir alam, melainkan pertemuan antara kelemahan manusia dan kerasnya dunia.

“Salty Dog”: Kesetiaan sampai Ajal

Secara idiomatik, “Salty Dog” berarti pelaut berpengalaman, seseorang yang telah lama ditempa garam laut. Namun dalam lagu ini, ia menjadi simbol kesetiaan: seseorang yang tetap setia pada panggilan laut meski tahu risikonya.

Procol Harum | Ilustrasi dibuat dengan AI

Begitulah para awak kapal penghubung antarpulau, para masinis, pilot, teknisi, dan pekerja transportasi lainnya. Mereka tahu bahaya mengintai, tetapi tetap berangkat. Ada keberanian sunyi dalam rutinitas itu. Mereka bukan pahlawan dalam sorotan, melainkan dalam keberangkatan sehari-hari.

Setiap kali kapal kecil berlayar di perairan Nusantara yang luas, menghubungkan pulau-pulau terpencil, ia membawa bukan hanya penumpang, tetapi juga doa-doa. Indonesia sebagai negara kepulauan hidup dari pelayaran. Maka setiap musibah laut bukan sekadar kecelakaan; ia adalah retakan dalam jantung kebangsaan.

“A Salty Dog” seperti menyanyikan penghormatan bagi mereka yang “hilang di laut selamanya”. Dalam konteks Indonesia, lagu itu terasa seperti doa bagi para korban yang jasadnya tak pernah ditemukan, lautnya menjadi makam.

Kesunyian sebagai Warisan

Salah satu kekuatan lagu ini adalah kesunyiannya. Meski diiringi aransemen orkestra yang megah, ada ruang hening yang mengendap di antara bait-baitnya. Kesunyian itulah yang tersisa setelah tragedi.

Setelah kapal tenggelam, setelah pesawat jatuh, setelah rel dibersihkan dari puing, yang tinggal adalah sunyi di rumah-rumah. Kursi kosong di meja makan. Seragam kerja yang tak lagi dikenakan. Tiket perjalanan yang tak sempat dipakai.

Kesunyian ini bukan hanya milik keluarga korban, tetapi juga milik bangsa. Setiap tragedi transportasi menyisakan trauma kolektif. Ia menantang kita untuk bertanya: sudahkah kita belajar? Sudahkah kita memperbaiki? Atau kita hanya melanjutkan pelayaran dengan ingatan yang perlahan pudar?

Dalam kerangka filosofis, kematian dalam perjalanan adalah simbol keterbatasan manusia modern. Kita membangun kapal lebih besar, pesawat lebih cepat, rel lebih panjang namun tak pernah sepenuhnya menguasai risiko. Modernitas memberi kita ilusi kendali, tetapi tragedi memecahkannya.

Pelayaran Hidup dan Keberanian yang Rapuh

Pada akhirnya, “A Salty Dog” bukan tentang laut saja. Ia tentang hidup itu sendiri. Kita semua adalah pelaut di samudra waktu. Kita berangkat dengan impian, membawa bekal keyakinan, namun tak pernah tahu badai mana yang menunggu.

Musibah transportasi mengingatkan bahwa setiap keberangkatan mengandung kemungkinan akhir. Namun, seperti para pelaut dalam lagu itu, manusia tetap berangkat. Ada keberanian dalam tindakan itu keberanian yang rapuh, tetapi nyata.

Barangkali makna terdalam lagu ini bukanlah pesimisme, melainkan penghormatan. Penghormatan kepada mereka yang berani hidup meski tahu risiko, kepada mereka yang bekerja di jalur-jalur sunyi, dan kepada mereka yang tak kembali.

Setiap kali kapal berlayar, pesawat lepas landas, atau kereta meninggalkan stasiun, ada doa tak terucap: semoga perjalanan ini bukan pelayaran terakhir.

Dan jika suatu hari ia menjadi yang terakhir, semoga ia dikenang seperti “A Salty Dog”, sebagai kisah keberanian di tengah badai, sebagai elegi bagi jiwa-jiwa yang setia pada perjalanan sampai akhir.

Antara Cakrawala dan Doa

Lagu ”A Salty Dog” menutup dengan rasa pasrah yang agung. Bukan kepasrahan yang lemah, melainkan kesadaran akan batas. Dalam konteks tragedi transportasi, kesadaran ini penting: bahwa teknologi harus disertai tanggung jawab, bahwa keberanian harus diimbangi kewaspadaan.

Namun lebih dari itu, lagu ini mengajarkan empati. Ia mengajak kita memandang korban bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai manusia dengan cerita, cinta, dan rumah yang menunggu.

Di negeri kepulauan seperti Indonesia, pelayaran tak akan pernah berhenti. Kereta akan terus melaju, pesawat akan terus terbang. Kita tak bisa menghentikan perjalanan, sebagaimana kita tak bisa menghentikan waktu. Tetapi kita bisa mengingat.

Dan dalam ingatan itu, setiap “Salty Dog” yang hilang di laut, di udara, atau di rel besi, tetap hidup sebagai bagian dari kisah kita bersama, kisah tentang keberanian, kehilangan, dan harapan yang selalu berlayar di antara cakrawala dan doa. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratProcol Harumulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Next Post

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

"Aji Pemalik Sumpah" dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co