12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
in Ulas Musik
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Procol Harum | Gambar dibuat dengan bantuan AI

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirnya bersua dengan cakrawala yang tak kembali. Dalam balutan progresif rock yang megah dan melankolis, lagu ini bukan sekadar kisah pelaut, melainkan permenungan tentang nasib, risiko, dan batas terakhir kehidupan.

Esai ini berusaha menangkap spirit lirik tersebut: tentang laut sebagai metafora kehidupan, tentang keberangkatan yang selalu mengandung kemungkinan pulang; atau tenggelam dalam sunyi. Di sela refleksi itu, kita akan menengok beberapa musibah transportasi dalam sejarah Indonesia; peristiwa-peristiwa yang menjadikan “samudra” bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang duka kolektif.

Laut sebagai Takdir

Dalam “A Salty Dog”, laut bukan sekadar latar; ia adalah takdir. Ia luas, tak terduga, dan tak memihak. Para pelaut dalam lirik itu digambarkan lelah, kekurangan bekal, dan akhirnya pasrah pada badai. Mereka berangkat dengan tekad, tetapi berhadapan dengan kekuatan yang melampaui kendali manusia.

Begitulah kehidupan modern ia adalah pelayaran dengan teknologi sebagai kapal dan optimisme sebagai layar. Namun sejarah menunjukkan, betapapun canggih kapal atau pesawat, takdir selalu menyisakan ruang misteri.

Empat dekade silam, Indonesia berduka atas tenggelamnya KM Tampomas II pada 1981. Kapal penumpang itu terbakar di Laut Jawa sebelum akhirnya karam. Ratusan jiwa melayang. Para penumpang yang sebelumnya mungkin bercakap tentang keluarga dan tujuan pulang, mendadak dihadapkan pada kobaran api dan laut yang gelap. Seperti dalam lirik “A Salty Dog”, pelayaran berubah menjadi elegi.

Laut yang tadinya menjanjikan pertemuan berubah menjadi batas antara hidup dan mati.

Api, Air, dan Udara: Unsur-Unsur yang Menguji Kesombongan Manusia

Jika laut adalah simbol ketidakterdugaan, maka api dan udara adalah pengingat rapuhnya peradaban. Dalam tragedi KM Tampomas II, api menjadi awal kehancuran. Dalam banyak kecelakaan pesawat, udara ruang yang kita taklukkan dengan sains menjadi saksi jatuhnya harapan.

Kita mengenang berbagai kecelakaan pesawat yang mengguncang Indonesia, dari tragedi penerbangan komersial hingga pesawat militer. Setiap kali kabar “hilang kontak” terdengar, ada jeda sunyi yang sama seperti dalam lagu Procol Harum: jeda antara harapan dan kepastian pahit. Di ruang tunggu bandara, keluarga menatap layar informasi seperti pelaut menatap cakrawala, berharap bayangan kapal muncul kembali.

Demikian pula tragedi tabrakan kereta api di Bintaro pada 1987, dikenal sebagai Tragedi Bintaro. Dua rangkaian kereta bertabrakan, merenggut banyak nyawa. Rel yang seharusnya menjadi simbol keteraturan justru menjadi jalur maut. Di sana kita belajar: bahkan sistem yang tampak pasti pun menyimpan celah.

Dalam “A Salty Dog”, awak kapal digambarkan kelelahan, kehilangan arah. Bukankah itu juga metafora bagi sistem yang lalai, komunikasi yang terputus, atau keputusan yang terlambat? Tragedi transportasi kerap bukan semata takdir alam, melainkan pertemuan antara kelemahan manusia dan kerasnya dunia.

“Salty Dog”: Kesetiaan sampai Ajal

Secara idiomatik, “Salty Dog” berarti pelaut berpengalaman, seseorang yang telah lama ditempa garam laut. Namun dalam lagu ini, ia menjadi simbol kesetiaan: seseorang yang tetap setia pada panggilan laut meski tahu risikonya.

Procol Harum | Ilustrasi dibuat dengan AI

Begitulah para awak kapal penghubung antarpulau, para masinis, pilot, teknisi, dan pekerja transportasi lainnya. Mereka tahu bahaya mengintai, tetapi tetap berangkat. Ada keberanian sunyi dalam rutinitas itu. Mereka bukan pahlawan dalam sorotan, melainkan dalam keberangkatan sehari-hari.

Setiap kali kapal kecil berlayar di perairan Nusantara yang luas, menghubungkan pulau-pulau terpencil, ia membawa bukan hanya penumpang, tetapi juga doa-doa. Indonesia sebagai negara kepulauan hidup dari pelayaran. Maka setiap musibah laut bukan sekadar kecelakaan; ia adalah retakan dalam jantung kebangsaan.

“A Salty Dog” seperti menyanyikan penghormatan bagi mereka yang “hilang di laut selamanya”. Dalam konteks Indonesia, lagu itu terasa seperti doa bagi para korban yang jasadnya tak pernah ditemukan, lautnya menjadi makam.

Kesunyian sebagai Warisan

Salah satu kekuatan lagu ini adalah kesunyiannya. Meski diiringi aransemen orkestra yang megah, ada ruang hening yang mengendap di antara bait-baitnya. Kesunyian itulah yang tersisa setelah tragedi.

Setelah kapal tenggelam, setelah pesawat jatuh, setelah rel dibersihkan dari puing, yang tinggal adalah sunyi di rumah-rumah. Kursi kosong di meja makan. Seragam kerja yang tak lagi dikenakan. Tiket perjalanan yang tak sempat dipakai.

Kesunyian ini bukan hanya milik keluarga korban, tetapi juga milik bangsa. Setiap tragedi transportasi menyisakan trauma kolektif. Ia menantang kita untuk bertanya: sudahkah kita belajar? Sudahkah kita memperbaiki? Atau kita hanya melanjutkan pelayaran dengan ingatan yang perlahan pudar?

Dalam kerangka filosofis, kematian dalam perjalanan adalah simbol keterbatasan manusia modern. Kita membangun kapal lebih besar, pesawat lebih cepat, rel lebih panjang namun tak pernah sepenuhnya menguasai risiko. Modernitas memberi kita ilusi kendali, tetapi tragedi memecahkannya.

Pelayaran Hidup dan Keberanian yang Rapuh

Pada akhirnya, “A Salty Dog” bukan tentang laut saja. Ia tentang hidup itu sendiri. Kita semua adalah pelaut di samudra waktu. Kita berangkat dengan impian, membawa bekal keyakinan, namun tak pernah tahu badai mana yang menunggu.

Musibah transportasi mengingatkan bahwa setiap keberangkatan mengandung kemungkinan akhir. Namun, seperti para pelaut dalam lagu itu, manusia tetap berangkat. Ada keberanian dalam tindakan itu keberanian yang rapuh, tetapi nyata.

Barangkali makna terdalam lagu ini bukanlah pesimisme, melainkan penghormatan. Penghormatan kepada mereka yang berani hidup meski tahu risiko, kepada mereka yang bekerja di jalur-jalur sunyi, dan kepada mereka yang tak kembali.

Setiap kali kapal berlayar, pesawat lepas landas, atau kereta meninggalkan stasiun, ada doa tak terucap: semoga perjalanan ini bukan pelayaran terakhir.

Dan jika suatu hari ia menjadi yang terakhir, semoga ia dikenang seperti “A Salty Dog”, sebagai kisah keberanian di tengah badai, sebagai elegi bagi jiwa-jiwa yang setia pada perjalanan sampai akhir.

Antara Cakrawala dan Doa

Lagu ”A Salty Dog” menutup dengan rasa pasrah yang agung. Bukan kepasrahan yang lemah, melainkan kesadaran akan batas. Dalam konteks tragedi transportasi, kesadaran ini penting: bahwa teknologi harus disertai tanggung jawab, bahwa keberanian harus diimbangi kewaspadaan.

Namun lebih dari itu, lagu ini mengajarkan empati. Ia mengajak kita memandang korban bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai manusia dengan cerita, cinta, dan rumah yang menunggu.

Di negeri kepulauan seperti Indonesia, pelayaran tak akan pernah berhenti. Kereta akan terus melaju, pesawat akan terus terbang. Kita tak bisa menghentikan perjalanan, sebagaimana kita tak bisa menghentikan waktu. Tetapi kita bisa mengingat.

Dan dalam ingatan itu, setiap “Salty Dog” yang hilang di laut, di udara, atau di rel besi, tetap hidup sebagai bagian dari kisah kita bersama, kisah tentang keberanian, kehilangan, dan harapan yang selalu berlayar di antara cakrawala dan doa. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratProcol Harumulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Next Post

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

"Aji Pemalik Sumpah" dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co