12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
in Ulas Musik
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Procol Harum | Gambar dibuat dengan bantuan AI

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirnya bersua dengan cakrawala yang tak kembali. Dalam balutan progresif rock yang megah dan melankolis, lagu ini bukan sekadar kisah pelaut, melainkan permenungan tentang nasib, risiko, dan batas terakhir kehidupan.

Esai ini berusaha menangkap spirit lirik tersebut: tentang laut sebagai metafora kehidupan, tentang keberangkatan yang selalu mengandung kemungkinan pulang; atau tenggelam dalam sunyi. Di sela refleksi itu, kita akan menengok beberapa musibah transportasi dalam sejarah Indonesia; peristiwa-peristiwa yang menjadikan “samudra” bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang duka kolektif.

Laut sebagai Takdir

Dalam “A Salty Dog”, laut bukan sekadar latar; ia adalah takdir. Ia luas, tak terduga, dan tak memihak. Para pelaut dalam lirik itu digambarkan lelah, kekurangan bekal, dan akhirnya pasrah pada badai. Mereka berangkat dengan tekad, tetapi berhadapan dengan kekuatan yang melampaui kendali manusia.

Begitulah kehidupan modern ia adalah pelayaran dengan teknologi sebagai kapal dan optimisme sebagai layar. Namun sejarah menunjukkan, betapapun canggih kapal atau pesawat, takdir selalu menyisakan ruang misteri.

Empat dekade silam, Indonesia berduka atas tenggelamnya KM Tampomas II pada 1981. Kapal penumpang itu terbakar di Laut Jawa sebelum akhirnya karam. Ratusan jiwa melayang. Para penumpang yang sebelumnya mungkin bercakap tentang keluarga dan tujuan pulang, mendadak dihadapkan pada kobaran api dan laut yang gelap. Seperti dalam lirik “A Salty Dog”, pelayaran berubah menjadi elegi.

Laut yang tadinya menjanjikan pertemuan berubah menjadi batas antara hidup dan mati.

Api, Air, dan Udara: Unsur-Unsur yang Menguji Kesombongan Manusia

Jika laut adalah simbol ketidakterdugaan, maka api dan udara adalah pengingat rapuhnya peradaban. Dalam tragedi KM Tampomas II, api menjadi awal kehancuran. Dalam banyak kecelakaan pesawat, udara ruang yang kita taklukkan dengan sains menjadi saksi jatuhnya harapan.

Kita mengenang berbagai kecelakaan pesawat yang mengguncang Indonesia, dari tragedi penerbangan komersial hingga pesawat militer. Setiap kali kabar “hilang kontak” terdengar, ada jeda sunyi yang sama seperti dalam lagu Procol Harum: jeda antara harapan dan kepastian pahit. Di ruang tunggu bandara, keluarga menatap layar informasi seperti pelaut menatap cakrawala, berharap bayangan kapal muncul kembali.

Demikian pula tragedi tabrakan kereta api di Bintaro pada 1987, dikenal sebagai Tragedi Bintaro. Dua rangkaian kereta bertabrakan, merenggut banyak nyawa. Rel yang seharusnya menjadi simbol keteraturan justru menjadi jalur maut. Di sana kita belajar: bahkan sistem yang tampak pasti pun menyimpan celah.

Dalam “A Salty Dog”, awak kapal digambarkan kelelahan, kehilangan arah. Bukankah itu juga metafora bagi sistem yang lalai, komunikasi yang terputus, atau keputusan yang terlambat? Tragedi transportasi kerap bukan semata takdir alam, melainkan pertemuan antara kelemahan manusia dan kerasnya dunia.

“Salty Dog”: Kesetiaan sampai Ajal

Secara idiomatik, “Salty Dog” berarti pelaut berpengalaman, seseorang yang telah lama ditempa garam laut. Namun dalam lagu ini, ia menjadi simbol kesetiaan: seseorang yang tetap setia pada panggilan laut meski tahu risikonya.

Procol Harum | Ilustrasi dibuat dengan AI

Begitulah para awak kapal penghubung antarpulau, para masinis, pilot, teknisi, dan pekerja transportasi lainnya. Mereka tahu bahaya mengintai, tetapi tetap berangkat. Ada keberanian sunyi dalam rutinitas itu. Mereka bukan pahlawan dalam sorotan, melainkan dalam keberangkatan sehari-hari.

Setiap kali kapal kecil berlayar di perairan Nusantara yang luas, menghubungkan pulau-pulau terpencil, ia membawa bukan hanya penumpang, tetapi juga doa-doa. Indonesia sebagai negara kepulauan hidup dari pelayaran. Maka setiap musibah laut bukan sekadar kecelakaan; ia adalah retakan dalam jantung kebangsaan.

“A Salty Dog” seperti menyanyikan penghormatan bagi mereka yang “hilang di laut selamanya”. Dalam konteks Indonesia, lagu itu terasa seperti doa bagi para korban yang jasadnya tak pernah ditemukan, lautnya menjadi makam.

Kesunyian sebagai Warisan

Salah satu kekuatan lagu ini adalah kesunyiannya. Meski diiringi aransemen orkestra yang megah, ada ruang hening yang mengendap di antara bait-baitnya. Kesunyian itulah yang tersisa setelah tragedi.

Setelah kapal tenggelam, setelah pesawat jatuh, setelah rel dibersihkan dari puing, yang tinggal adalah sunyi di rumah-rumah. Kursi kosong di meja makan. Seragam kerja yang tak lagi dikenakan. Tiket perjalanan yang tak sempat dipakai.

Kesunyian ini bukan hanya milik keluarga korban, tetapi juga milik bangsa. Setiap tragedi transportasi menyisakan trauma kolektif. Ia menantang kita untuk bertanya: sudahkah kita belajar? Sudahkah kita memperbaiki? Atau kita hanya melanjutkan pelayaran dengan ingatan yang perlahan pudar?

Dalam kerangka filosofis, kematian dalam perjalanan adalah simbol keterbatasan manusia modern. Kita membangun kapal lebih besar, pesawat lebih cepat, rel lebih panjang namun tak pernah sepenuhnya menguasai risiko. Modernitas memberi kita ilusi kendali, tetapi tragedi memecahkannya.

Pelayaran Hidup dan Keberanian yang Rapuh

Pada akhirnya, “A Salty Dog” bukan tentang laut saja. Ia tentang hidup itu sendiri. Kita semua adalah pelaut di samudra waktu. Kita berangkat dengan impian, membawa bekal keyakinan, namun tak pernah tahu badai mana yang menunggu.

Musibah transportasi mengingatkan bahwa setiap keberangkatan mengandung kemungkinan akhir. Namun, seperti para pelaut dalam lagu itu, manusia tetap berangkat. Ada keberanian dalam tindakan itu keberanian yang rapuh, tetapi nyata.

Barangkali makna terdalam lagu ini bukanlah pesimisme, melainkan penghormatan. Penghormatan kepada mereka yang berani hidup meski tahu risiko, kepada mereka yang bekerja di jalur-jalur sunyi, dan kepada mereka yang tak kembali.

Setiap kali kapal berlayar, pesawat lepas landas, atau kereta meninggalkan stasiun, ada doa tak terucap: semoga perjalanan ini bukan pelayaran terakhir.

Dan jika suatu hari ia menjadi yang terakhir, semoga ia dikenang seperti “A Salty Dog”, sebagai kisah keberanian di tengah badai, sebagai elegi bagi jiwa-jiwa yang setia pada perjalanan sampai akhir.

Antara Cakrawala dan Doa

Lagu ”A Salty Dog” menutup dengan rasa pasrah yang agung. Bukan kepasrahan yang lemah, melainkan kesadaran akan batas. Dalam konteks tragedi transportasi, kesadaran ini penting: bahwa teknologi harus disertai tanggung jawab, bahwa keberanian harus diimbangi kewaspadaan.

Namun lebih dari itu, lagu ini mengajarkan empati. Ia mengajak kita memandang korban bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai manusia dengan cerita, cinta, dan rumah yang menunggu.

Di negeri kepulauan seperti Indonesia, pelayaran tak akan pernah berhenti. Kereta akan terus melaju, pesawat akan terus terbang. Kita tak bisa menghentikan perjalanan, sebagaimana kita tak bisa menghentikan waktu. Tetapi kita bisa mengingat.

Dan dalam ingatan itu, setiap “Salty Dog” yang hilang di laut, di udara, atau di rel besi, tetap hidup sebagai bagian dari kisah kita bersama, kisah tentang keberanian, kehilangan, dan harapan yang selalu berlayar di antara cakrawala dan doa. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratProcol Harumulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Next Post

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

"Aji Pemalik Sumpah" dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co