21 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
in Ulas Musik
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Procol Harum | Gambar dibuat dengan bantuan AI

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirnya bersua dengan cakrawala yang tak kembali. Dalam balutan progresif rock yang megah dan melankolis, lagu ini bukan sekadar kisah pelaut, melainkan permenungan tentang nasib, risiko, dan batas terakhir kehidupan.

Esai ini berusaha menangkap spirit lirik tersebut: tentang laut sebagai metafora kehidupan, tentang keberangkatan yang selalu mengandung kemungkinan pulang; atau tenggelam dalam sunyi. Di sela refleksi itu, kita akan menengok beberapa musibah transportasi dalam sejarah Indonesia; peristiwa-peristiwa yang menjadikan “samudra” bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang duka kolektif.

Laut sebagai Takdir

Dalam “A Salty Dog”, laut bukan sekadar latar; ia adalah takdir. Ia luas, tak terduga, dan tak memihak. Para pelaut dalam lirik itu digambarkan lelah, kekurangan bekal, dan akhirnya pasrah pada badai. Mereka berangkat dengan tekad, tetapi berhadapan dengan kekuatan yang melampaui kendali manusia.

Begitulah kehidupan modern ia adalah pelayaran dengan teknologi sebagai kapal dan optimisme sebagai layar. Namun sejarah menunjukkan, betapapun canggih kapal atau pesawat, takdir selalu menyisakan ruang misteri.

Empat dekade silam, Indonesia berduka atas tenggelamnya KM Tampomas II pada 1981. Kapal penumpang itu terbakar di Laut Jawa sebelum akhirnya karam. Ratusan jiwa melayang. Para penumpang yang sebelumnya mungkin bercakap tentang keluarga dan tujuan pulang, mendadak dihadapkan pada kobaran api dan laut yang gelap. Seperti dalam lirik “A Salty Dog”, pelayaran berubah menjadi elegi.

Laut yang tadinya menjanjikan pertemuan berubah menjadi batas antara hidup dan mati.

Api, Air, dan Udara: Unsur-Unsur yang Menguji Kesombongan Manusia

Jika laut adalah simbol ketidakterdugaan, maka api dan udara adalah pengingat rapuhnya peradaban. Dalam tragedi KM Tampomas II, api menjadi awal kehancuran. Dalam banyak kecelakaan pesawat, udara ruang yang kita taklukkan dengan sains menjadi saksi jatuhnya harapan.

Kita mengenang berbagai kecelakaan pesawat yang mengguncang Indonesia, dari tragedi penerbangan komersial hingga pesawat militer. Setiap kali kabar “hilang kontak” terdengar, ada jeda sunyi yang sama seperti dalam lagu Procol Harum: jeda antara harapan dan kepastian pahit. Di ruang tunggu bandara, keluarga menatap layar informasi seperti pelaut menatap cakrawala, berharap bayangan kapal muncul kembali.

Demikian pula tragedi tabrakan kereta api di Bintaro pada 1987, dikenal sebagai Tragedi Bintaro. Dua rangkaian kereta bertabrakan, merenggut banyak nyawa. Rel yang seharusnya menjadi simbol keteraturan justru menjadi jalur maut. Di sana kita belajar: bahkan sistem yang tampak pasti pun menyimpan celah.

Dalam “A Salty Dog”, awak kapal digambarkan kelelahan, kehilangan arah. Bukankah itu juga metafora bagi sistem yang lalai, komunikasi yang terputus, atau keputusan yang terlambat? Tragedi transportasi kerap bukan semata takdir alam, melainkan pertemuan antara kelemahan manusia dan kerasnya dunia.

“Salty Dog”: Kesetiaan sampai Ajal

Secara idiomatik, “Salty Dog” berarti pelaut berpengalaman, seseorang yang telah lama ditempa garam laut. Namun dalam lagu ini, ia menjadi simbol kesetiaan: seseorang yang tetap setia pada panggilan laut meski tahu risikonya.

Procol Harum | Ilustrasi dibuat dengan AI

Begitulah para awak kapal penghubung antarpulau, para masinis, pilot, teknisi, dan pekerja transportasi lainnya. Mereka tahu bahaya mengintai, tetapi tetap berangkat. Ada keberanian sunyi dalam rutinitas itu. Mereka bukan pahlawan dalam sorotan, melainkan dalam keberangkatan sehari-hari.

Setiap kali kapal kecil berlayar di perairan Nusantara yang luas, menghubungkan pulau-pulau terpencil, ia membawa bukan hanya penumpang, tetapi juga doa-doa. Indonesia sebagai negara kepulauan hidup dari pelayaran. Maka setiap musibah laut bukan sekadar kecelakaan; ia adalah retakan dalam jantung kebangsaan.

“A Salty Dog” seperti menyanyikan penghormatan bagi mereka yang “hilang di laut selamanya”. Dalam konteks Indonesia, lagu itu terasa seperti doa bagi para korban yang jasadnya tak pernah ditemukan, lautnya menjadi makam.

Kesunyian sebagai Warisan

Salah satu kekuatan lagu ini adalah kesunyiannya. Meski diiringi aransemen orkestra yang megah, ada ruang hening yang mengendap di antara bait-baitnya. Kesunyian itulah yang tersisa setelah tragedi.

Setelah kapal tenggelam, setelah pesawat jatuh, setelah rel dibersihkan dari puing, yang tinggal adalah sunyi di rumah-rumah. Kursi kosong di meja makan. Seragam kerja yang tak lagi dikenakan. Tiket perjalanan yang tak sempat dipakai.

Kesunyian ini bukan hanya milik keluarga korban, tetapi juga milik bangsa. Setiap tragedi transportasi menyisakan trauma kolektif. Ia menantang kita untuk bertanya: sudahkah kita belajar? Sudahkah kita memperbaiki? Atau kita hanya melanjutkan pelayaran dengan ingatan yang perlahan pudar?

Dalam kerangka filosofis, kematian dalam perjalanan adalah simbol keterbatasan manusia modern. Kita membangun kapal lebih besar, pesawat lebih cepat, rel lebih panjang namun tak pernah sepenuhnya menguasai risiko. Modernitas memberi kita ilusi kendali, tetapi tragedi memecahkannya.

Pelayaran Hidup dan Keberanian yang Rapuh

Pada akhirnya, “A Salty Dog” bukan tentang laut saja. Ia tentang hidup itu sendiri. Kita semua adalah pelaut di samudra waktu. Kita berangkat dengan impian, membawa bekal keyakinan, namun tak pernah tahu badai mana yang menunggu.

Musibah transportasi mengingatkan bahwa setiap keberangkatan mengandung kemungkinan akhir. Namun, seperti para pelaut dalam lagu itu, manusia tetap berangkat. Ada keberanian dalam tindakan itu keberanian yang rapuh, tetapi nyata.

Barangkali makna terdalam lagu ini bukanlah pesimisme, melainkan penghormatan. Penghormatan kepada mereka yang berani hidup meski tahu risiko, kepada mereka yang bekerja di jalur-jalur sunyi, dan kepada mereka yang tak kembali.

Setiap kali kapal berlayar, pesawat lepas landas, atau kereta meninggalkan stasiun, ada doa tak terucap: semoga perjalanan ini bukan pelayaran terakhir.

Dan jika suatu hari ia menjadi yang terakhir, semoga ia dikenang seperti “A Salty Dog”, sebagai kisah keberanian di tengah badai, sebagai elegi bagi jiwa-jiwa yang setia pada perjalanan sampai akhir.

Antara Cakrawala dan Doa

Lagu ”A Salty Dog” menutup dengan rasa pasrah yang agung. Bukan kepasrahan yang lemah, melainkan kesadaran akan batas. Dalam konteks tragedi transportasi, kesadaran ini penting: bahwa teknologi harus disertai tanggung jawab, bahwa keberanian harus diimbangi kewaspadaan.

Namun lebih dari itu, lagu ini mengajarkan empati. Ia mengajak kita memandang korban bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai manusia dengan cerita, cinta, dan rumah yang menunggu.

Di negeri kepulauan seperti Indonesia, pelayaran tak akan pernah berhenti. Kereta akan terus melaju, pesawat akan terus terbang. Kita tak bisa menghentikan perjalanan, sebagaimana kita tak bisa menghentikan waktu. Tetapi kita bisa mengingat.

Dan dalam ingatan itu, setiap “Salty Dog” yang hilang di laut, di udara, atau di rel besi, tetap hidup sebagai bagian dari kisah kita bersama, kisah tentang keberanian, kehilangan, dan harapan yang selalu berlayar di antara cakrawala dan doa. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratProcol Harumulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Next Post

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails
Next Post
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

"Aji Pemalik Sumpah" dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026
KLAKSON
Esai

KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

by Hartanto
June 20, 2026
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

by Chusmeru
June 20, 2026
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan
Ulas Pentas

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya
Panggung

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik
Esai

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

by Agung Sudarsa
June 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co