1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
in Ulas Musik
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

Gambar dibuat dengan AI

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Africa justru membuka ruang refleksi kemanusiaan yang jauh lebih luas. Lagu ini bekerja sebagai teks budaya yang memediasi empati, rasa bersalah global, dan kerinduan spiritual manusia modern terhadap dunia yang dianggap lebih otentik.

Melalui lirik yang sederhana namun simbolik, Africa memperlihatkan bagaimana musik populer dapat berfungsi bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai ritual komunikasi, arena produksi makna, dan bahkan doa sekuler lintasgenerasi.

Musik sebagai Ritual

Dalam teori komunikasi, James W. Carey membedakan dua model komunikasi: transmission view dan ritual view. Jika model transmisi melihat komunikasi sebagai pengiriman informasi, maka model ritual memahaminya sebagai proses pemeliharaan makna, nilai, dan solidaritas sosial.

Africa jelas bekerja dalam kerangka ritual. Lagu ini tidak dimaksudkan untuk “mengajarkan” fakta tentang Afrika, melainkan untuk menghadirkan pengalaman bersama, perasaan rindu, empati, dan harapan. Ketika jutaan orang menyanyikan “I bless the rains down in Africa”, mereka tidak sedang menyepakati data geografis, melainkan berpartisipasi dalam sebuah ritus simbolik.

Dalam konteks Carey, Africa menjadi media pemelihara makna kemanusiaan global: sebuah ruang di mana pendengar berbagi emosi yang sama, meski berasal dari latar budaya yang berbeda. Lagu ini merawat imajinasi kolektif tentang kepedulian, walau sering kali tanpa tindakan konkret.

Membaca Africa bersama Roland Barthes

Pendekatan semiotika Roland Barthes membantu memahami bagaimana Africa bekerja sebagai mitos budaya. Barthes memandang mitos bukan sebagai kebohongan, melainkan sebagai sistem makna tingkat kedua, di mana tanda-tanda budaya tampak alamiah dan wajar, padahal sarat ideologi.

Referensi geografis seperti Kilimanjaro, Serengeti, hujan, dan misionaris dalam Africa berfungsi sebagai tanda-tanda mitologis. Afrika dimitoskan sebagai ruang spiritual, alamiah, dan penuh makna—berlawanan dengan dunia Barat yang industrial dan rasional. Dalam kerangka Barthes, Afrika di sini bukan realitas empiris, melainkan representasi simbolik dari “yang murni” dan “yang hilang”.

Namun mitos ini bersifat ambivalen. Di satu sisi, ia berisiko meromantisasi dan menyederhanakan kompleksitas Afrika. Di sisi lain, justru karena kesederhanaan itulah mitos ini efektif menyentuh emosi pendengar global. Africa tidak memaksa keyakinan ideologis, melainkan menawarkan perasaan, dan mitos hidup dari perasaan yang terus diulang.

Paul Ricoeur dan Makna Simbol

Untuk memahami daya tahan makna Africa, hermeneutika simbolik Paul Ricoeur menjadi relevan. Ricoeur menegaskan bahwa simbol “memberi kita sesuatu untuk dipikirkan” (the symbol gives rise to thought). Simbol tidak pernah memiliki satu makna tunggal; ia selalu terbuka untuk penafsiran baru.

Gambar dibuat dengan AI

Lirik “I bless the rains down in Africa” adalah simbol hermeneutik yang kuat. Hujan, berkat, dan Afrika membentuk jaringan makna tentang kehidupan, pembaruan, dan kepasrahan. Lagu ini tidak memberi solusi atas penderitaan global, tetapi membuka ruang refleksi eksistensial: tentang keterbatasan manusia, tentang harapan yang tetap dipelihara meski rapuh.

Dalam perspektif Ricoeur, Africa memungkinkan pendengar melakukan appropriation, menarik makna simbolik lagu ke dalam pengalaman hidup masing-masing. Karena itulah lagu ini terasa personal sekaligus universal.

Antara Empati dan Representasi

Dari sudut pandang kajian poskolonial, Africa dapat dibaca secara kritis. Representasi Afrika sebagai ruang penderitaan, spiritualitas, dan ketergantungan pada figur misionaris mencerminkan pandangan Barat sebagai “pengamat” dan “penolong”. Ini berpotensi mereproduksi relasi kuasa simbolik antara pusat dan pinggiran.

Namun yang menarik, Africa tidak sepenuhnya jatuh ke dalam narasi kolonial klasik. Tokoh “aku” dalam lagu digambarkan ragu, tidak berdaulat, bahkan terbelah secara moral. Ia tidak tampil sebagai penyelamat heroik, melainkan sebagai individu yang gelisah dan sadar akan ketidakmampuannya.

Ambiguitas inilah yang membuat Africa bertahan. Ia tidak menawarkan superioritas moral, melainkan kerentanan emosional. Dalam dunia poskolonial yang penuh ketegangan representasi, kerentanan sering kali menjadi ruang etis yang lebih jujur dibanding klaim kepastian.

Katarsis Pop dan Ketulusan di Era Ironi

Secara musikal, struktur repetitif Africa menciptakan efek katarsis. Dalam dunia digital yang sinis dan ironis, ketulusan lagu ini, bahkan ketika terdengar “naif”, menjadi kekuatannya. Ketulusan tersebut memungkinkan lagu ini berfungsi sebagai ritual emosional, tempat pendengar menanggalkan sejenak skeptisisme modern.

Fenomena viral Africa di era internet menunjukkan bahwa manusia modern masih membutuhkan teks budaya yang sederhana untuk menampung perasaan kompleks. Lagu ini menjadi anthem bagi mereka yang merindukan makna, bukan karena ia menjelaskan dunia, melainkan karena ia membiarkan kita merasakannya.

Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

Dalam sintesis teori Carey, Barthes, Ricoeur, dan kajian poskolonial, Africa dapat dipahami sebagai doa sekuler dalam bentuk musik populer. Ia adalah ritual komunikasi, mitos budaya, simbol hermeneutik, sekaligus teks yang ambigu secara politis namun jujur secara emosional.

Africa bukan tentang Afrika semata. Ia adalah tentang manusia modern yang sadar akan penderitaan global, namun sering kali hanya mampu merespons melalui empati simbolik. Dan mungkin justru di sanalah nilai kemanusiaannya: dalam usaha untuk tetap peduli, bernyanyi, dan berharap meski dari kejauhan.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratTotoUlasan Bukuulasan lagu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Next Post

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co