22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
in Ulas Musik
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

Gambar dibuat dengan AI

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Africa justru membuka ruang refleksi kemanusiaan yang jauh lebih luas. Lagu ini bekerja sebagai teks budaya yang memediasi empati, rasa bersalah global, dan kerinduan spiritual manusia modern terhadap dunia yang dianggap lebih otentik.

Melalui lirik yang sederhana namun simbolik, Africa memperlihatkan bagaimana musik populer dapat berfungsi bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai ritual komunikasi, arena produksi makna, dan bahkan doa sekuler lintasgenerasi.

Musik sebagai Ritual

Dalam teori komunikasi, James W. Carey membedakan dua model komunikasi: transmission view dan ritual view. Jika model transmisi melihat komunikasi sebagai pengiriman informasi, maka model ritual memahaminya sebagai proses pemeliharaan makna, nilai, dan solidaritas sosial.

Africa jelas bekerja dalam kerangka ritual. Lagu ini tidak dimaksudkan untuk “mengajarkan” fakta tentang Afrika, melainkan untuk menghadirkan pengalaman bersama, perasaan rindu, empati, dan harapan. Ketika jutaan orang menyanyikan “I bless the rains down in Africa”, mereka tidak sedang menyepakati data geografis, melainkan berpartisipasi dalam sebuah ritus simbolik.

Dalam konteks Carey, Africa menjadi media pemelihara makna kemanusiaan global: sebuah ruang di mana pendengar berbagi emosi yang sama, meski berasal dari latar budaya yang berbeda. Lagu ini merawat imajinasi kolektif tentang kepedulian, walau sering kali tanpa tindakan konkret.

Membaca Africa bersama Roland Barthes

Pendekatan semiotika Roland Barthes membantu memahami bagaimana Africa bekerja sebagai mitos budaya. Barthes memandang mitos bukan sebagai kebohongan, melainkan sebagai sistem makna tingkat kedua, di mana tanda-tanda budaya tampak alamiah dan wajar, padahal sarat ideologi.

Referensi geografis seperti Kilimanjaro, Serengeti, hujan, dan misionaris dalam Africa berfungsi sebagai tanda-tanda mitologis. Afrika dimitoskan sebagai ruang spiritual, alamiah, dan penuh makna—berlawanan dengan dunia Barat yang industrial dan rasional. Dalam kerangka Barthes, Afrika di sini bukan realitas empiris, melainkan representasi simbolik dari “yang murni” dan “yang hilang”.

Namun mitos ini bersifat ambivalen. Di satu sisi, ia berisiko meromantisasi dan menyederhanakan kompleksitas Afrika. Di sisi lain, justru karena kesederhanaan itulah mitos ini efektif menyentuh emosi pendengar global. Africa tidak memaksa keyakinan ideologis, melainkan menawarkan perasaan, dan mitos hidup dari perasaan yang terus diulang.

Paul Ricoeur dan Makna Simbol

Untuk memahami daya tahan makna Africa, hermeneutika simbolik Paul Ricoeur menjadi relevan. Ricoeur menegaskan bahwa simbol “memberi kita sesuatu untuk dipikirkan” (the symbol gives rise to thought). Simbol tidak pernah memiliki satu makna tunggal; ia selalu terbuka untuk penafsiran baru.

Gambar dibuat dengan AI

Lirik “I bless the rains down in Africa” adalah simbol hermeneutik yang kuat. Hujan, berkat, dan Afrika membentuk jaringan makna tentang kehidupan, pembaruan, dan kepasrahan. Lagu ini tidak memberi solusi atas penderitaan global, tetapi membuka ruang refleksi eksistensial: tentang keterbatasan manusia, tentang harapan yang tetap dipelihara meski rapuh.

Dalam perspektif Ricoeur, Africa memungkinkan pendengar melakukan appropriation, menarik makna simbolik lagu ke dalam pengalaman hidup masing-masing. Karena itulah lagu ini terasa personal sekaligus universal.

Antara Empati dan Representasi

Dari sudut pandang kajian poskolonial, Africa dapat dibaca secara kritis. Representasi Afrika sebagai ruang penderitaan, spiritualitas, dan ketergantungan pada figur misionaris mencerminkan pandangan Barat sebagai “pengamat” dan “penolong”. Ini berpotensi mereproduksi relasi kuasa simbolik antara pusat dan pinggiran.

Namun yang menarik, Africa tidak sepenuhnya jatuh ke dalam narasi kolonial klasik. Tokoh “aku” dalam lagu digambarkan ragu, tidak berdaulat, bahkan terbelah secara moral. Ia tidak tampil sebagai penyelamat heroik, melainkan sebagai individu yang gelisah dan sadar akan ketidakmampuannya.

Ambiguitas inilah yang membuat Africa bertahan. Ia tidak menawarkan superioritas moral, melainkan kerentanan emosional. Dalam dunia poskolonial yang penuh ketegangan representasi, kerentanan sering kali menjadi ruang etis yang lebih jujur dibanding klaim kepastian.

Katarsis Pop dan Ketulusan di Era Ironi

Secara musikal, struktur repetitif Africa menciptakan efek katarsis. Dalam dunia digital yang sinis dan ironis, ketulusan lagu ini, bahkan ketika terdengar “naif”, menjadi kekuatannya. Ketulusan tersebut memungkinkan lagu ini berfungsi sebagai ritual emosional, tempat pendengar menanggalkan sejenak skeptisisme modern.

Fenomena viral Africa di era internet menunjukkan bahwa manusia modern masih membutuhkan teks budaya yang sederhana untuk menampung perasaan kompleks. Lagu ini menjadi anthem bagi mereka yang merindukan makna, bukan karena ia menjelaskan dunia, melainkan karena ia membiarkan kita merasakannya.

Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

Dalam sintesis teori Carey, Barthes, Ricoeur, dan kajian poskolonial, Africa dapat dipahami sebagai doa sekuler dalam bentuk musik populer. Ia adalah ritual komunikasi, mitos budaya, simbol hermeneutik, sekaligus teks yang ambigu secara politis namun jujur secara emosional.

Africa bukan tentang Afrika semata. Ia adalah tentang manusia modern yang sadar akan penderitaan global, namun sering kali hanya mampu merespons melalui empati simbolik. Dan mungkin justru di sanalah nilai kemanusiaannya: dalam usaha untuk tetap peduli, bernyanyi, dan berharap meski dari kejauhan.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratTotoUlasan Bukuulasan lagu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Next Post

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co