10 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
in Panggung
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi buku “Rumah” karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 “Rumah itu sebenarnya apa?”

Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Saya datang sebagai pembedah dengan bekal pembacaan terhadap novel tersebut. Namun, selama diskusi berlangsung, percakapan berkembang jauh melampaui pembahasan sastra. Rumah dibicarakan dari berbagai perspektif ꟷ sebagai ruang luka, tempat pengampunan, sekaligus perjalanan manusia untuk pulang.

Pagi itu, Minggu, 5 Juli 2026, halaman timur Gedong Kirtya dipenuhi pembaca, pegiat literasi, akademisi, dan masyarakat umum yang ingin mendengar langsung kisah di balik lahirnya novel Rumah. Bersama J.S. Khairen selaku penulis dan Puja Savitri sebagai moderator, kami membincangkan sebuah novel yang dekat dengan kehidupan banyak orang: keluarga, trauma, pengampunan, pencarian jati diri, hingga perjalanan spiritual.

Novel Rumah berangkat dari kisah Ria, seorang luxury travel planner yang telah menjelajahi berbagai belahan dunia, tetapi tak pernah benar-benar menemukan tempat untuk pulang. Di balik karier yang gemilang, ia membawa luka masa kecil akibat relasi yang retak dengan kedua orang tuanya. Pengalaman itulah yang membuat kata ‘rumah’ tidak menghadirkan rasa aman, melainkan kenangan yang ingin dijauhi.

J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 

Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan bahwa kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada cara J.S. Khairen menggeser makna pulang. Rumah tidak berhenti sebagai bangunan fisik, tetapi berkembang menjadi tempat seseorang berdamai dengan diri sendiri, keluarga, masa lalu, bahkan dengan Tuhan. Pergeseran makna itu membuat Rumah bergerak melampaui kisah keluarga biasa dan menjelma menjadi perjalanan batin yang relevan bagi banyak pembaca.

Menurut saya, novel ini berhasil menghindari kecenderungan banyak cerita bertema keluarga yang tergopoh-gopoh menyelesaikan konflik. J.S. Khairen membiarkan sejumlah pertanyaan tetap terbuka hingga halaman-halaman terakhir. Alih-alih melemahkan cerita, pilihan tersebut justru membuat novel terasa lebih dekat. Sebab, hidup memang tidak selalu menghadirkan jawaban yang lengkap. Ada ruang yang harus dimaknai sendiri oleh pembacanya.

Ketika mendapat kesempatan berbicara, J.S. Khairen mengisahkan proses kreatif di balik penulisan novel tersebut. Ia mengatakan bahwa gagasan tentang pulang lahir melalui riset panjang. Ketika diundang ke sejumlah pesantren, ia berbincang dengan banyak santri yang datang dengan latar belakang berbeda. Ada yang memilih pesantren atas keinginan sendiri, ada pula yang datang karena dorongan orang tua. Pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian dipadukan dengan pengalaman pribadinya saat menunaikan ibadah umrah.

Diskusi buku “Rumah” karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Jombang Santani Khairen atau yang lebih dikenal sebagai J.S. Khairen merupakan penulis kelahiran Padang yang produktif. Nama dan karya-karyanya telah dikenal luas, terutama di kalangan pembaca remaja hingga dewasa. Ia telah menerbitkan puluhan judul buku. Sejumlah novelnya yang populer antara lain Melangkah, Kado Terbaik, Dompet Ayah Sepatu Ibu, Bungkam Suara, serta Rumah yang menjadi bahan perbincangan dalam forum tersebut.

Bagi J.S. Khairen, setiap orang memiliki perjalanan pulangnya masing-masing. “Rumah bisa berarti banyak hal. Bisa keluarga, bisa tempat kita dibesarkan, atau bahkan perjalanan kembali kepada Tuhan,” ujarnya. Gagasan itulah yang kemudian menjadi salah satu benang merah dalam novel Rumah.

Diskusi semakin hidup ketika Director sekaligus Founder Singaraja Literary Festival, Sonia Piscayanti, turut memberikan tanggapan. Menurutnya, kekuatan Rumah terletak pada kemampuannya menyentuh pembaca tanpa terasa menghakimi.

“Saya membacanya sebagai seorang ibu. Banyak bagian yang membuat saya berhenti sejenak dan melihat kembali hubungan antara orang tua dan anak,” katanya.

Momen paling berkesan ketika Sonia membacakan beberapa penggalan novel dengan penghayatan yang kuat. Kalimat-kalimat yang sebelumnya hanya hadir sebagai teks memperoleh daya hidup berbeda. J.S. Khairen tampak tersenyum sambil menggeleng pelan. Ia mengaku baru menyadari bahwa kalimat-kalimat yang ditulisnya dapat menghadirkan daya emosional berbeda ketika dihidupkan melalui pembacaan yang tepat.

Diskusi buku “Rumah” karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Sepanjang diskusi, pembicaraan berulang kali kembali pada relasi anak dan orang tua. Novel Rumah tidak menggambarkan keluarga sebagai ruang yang selalu menghadirkan kehangatan. Sebaliknya, keluarga juga dapat menjadi sumber luka yang membentuk perjalanan hidup seseorang. Namun, luka bukan akhir dari segalanya. Novel ini memperlihatkan bahwa memaafkan tidak identik dengan melupakan, melainkan membuka kemungkinan untuk melihat masa lalu dari sudut pandang berbeda. Tema-tema itulah yang sedari awal menjadi pokok pembahasan dalam diskusi buku tersebut.

Dalam pembacaan saya terhadap novel tersebut, salah satu bagian yang paling menarik adalah keberanian J.S. Khairen menghadirkan pertanyaan yang jarang diucapkan secara terbuka: “Kalau ada anak durhaka, mengapa tidak ada orang tua durhaka?”. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menghakimi salah satu pihak. Sebaliknya, ia mengajak pembaca melihat relasi dalam keluarga secara lebih adil dan manusiawi. Novel ini memperlihatkan bahwa setiap orang pasti membawa luka dan pergulatannya masing-masing.

Sesi foto bersama pada diskusi buku “Rumah” karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Selama hampir satu setengah jam, percakapan terus bergerak dari sastra menuju kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta tidak lagi berhenti pada tokoh, alur, atau teknik penceritaan. Banyak di antaranya berbagi pengalaman tentang keluarga, tentang rumah yang dirindukan, juga rumah yang ingin mereka tinggalkan. Pada titik itu, novel tidak lagi sekadar menjadi bahan diskusi, tetapi menjadi jembatan untuk mempercakapkan pengalaman-pengalaman yang acap kali sulit diungkapkan.

Sebagai pembedah, saya datang untuk membicarakan sebuah karya sastra. Namun, diskusi pagi itu memperlihatkan bahwa yang dibicarakan sesungguhnya bukan hanya sebuah novel. Yang hadir dalam percakapan adalah pengalaman banyak orang tentang keluarga, luka, pengampunan, dan kerinduan untuk pulang.

Barangkali itulah yang membuat Rumah terasa dekat dengan banyak pembaca. Sebab, hampir setiap orang pernah mencari tempat untuk kembali. Hanya saja, tidak semua sedang mencari alamat yang sama. Ada yang ingin pulang kepada keluarganya. Ada yang sedang berdamai dengan masa lalunya. Ada pula yang sedang menempuh perjalanan pulang kepada Tuhan.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: JS KhairennovelSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

Next Post

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co