“Rumah itu sebenarnya apa?”
Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Saya datang sebagai pembedah dengan bekal pembacaan terhadap novel tersebut. Namun, selama diskusi berlangsung, percakapan berkembang jauh melampaui pembahasan sastra. Rumah dibicarakan dari berbagai perspektif ꟷ sebagai ruang luka, tempat pengampunan, sekaligus perjalanan manusia untuk pulang.
Pagi itu, Minggu, 5 Juli 2026, halaman timur Gedong Kirtya dipenuhi pembaca, pegiat literasi, akademisi, dan masyarakat umum yang ingin mendengar langsung kisah di balik lahirnya novel Rumah. Bersama J.S. Khairen selaku penulis dan Puja Savitri sebagai moderator, kami membincangkan sebuah novel yang dekat dengan kehidupan banyak orang: keluarga, trauma, pengampunan, pencarian jati diri, hingga perjalanan spiritual.
Novel Rumah berangkat dari kisah Ria, seorang luxury travel planner yang telah menjelajahi berbagai belahan dunia, tetapi tak pernah benar-benar menemukan tempat untuk pulang. Di balik karier yang gemilang, ia membawa luka masa kecil akibat relasi yang retak dengan kedua orang tuanya. Pengalaman itulah yang membuat kata ‘rumah’ tidak menghadirkan rasa aman, melainkan kenangan yang ingin dijauhi.

Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan bahwa kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada cara J.S. Khairen menggeser makna pulang. Rumah tidak berhenti sebagai bangunan fisik, tetapi berkembang menjadi tempat seseorang berdamai dengan diri sendiri, keluarga, masa lalu, bahkan dengan Tuhan. Pergeseran makna itu membuat Rumah bergerak melampaui kisah keluarga biasa dan menjelma menjadi perjalanan batin yang relevan bagi banyak pembaca.
Menurut saya, novel ini berhasil menghindari kecenderungan banyak cerita bertema keluarga yang tergopoh-gopoh menyelesaikan konflik. J.S. Khairen membiarkan sejumlah pertanyaan tetap terbuka hingga halaman-halaman terakhir. Alih-alih melemahkan cerita, pilihan tersebut justru membuat novel terasa lebih dekat. Sebab, hidup memang tidak selalu menghadirkan jawaban yang lengkap. Ada ruang yang harus dimaknai sendiri oleh pembacanya.
Ketika mendapat kesempatan berbicara, J.S. Khairen mengisahkan proses kreatif di balik penulisan novel tersebut. Ia mengatakan bahwa gagasan tentang pulang lahir melalui riset panjang. Ketika diundang ke sejumlah pesantren, ia berbincang dengan banyak santri yang datang dengan latar belakang berbeda. Ada yang memilih pesantren atas keinginan sendiri, ada pula yang datang karena dorongan orang tua. Pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian dipadukan dengan pengalaman pribadinya saat menunaikan ibadah umrah.


Jombang Santani Khairen atau yang lebih dikenal sebagai J.S. Khairen merupakan penulis kelahiran Padang yang produktif. Nama dan karya-karyanya telah dikenal luas, terutama di kalangan pembaca remaja hingga dewasa. Ia telah menerbitkan puluhan judul buku. Sejumlah novelnya yang populer antara lain Melangkah, Kado Terbaik, Dompet Ayah Sepatu Ibu, Bungkam Suara, serta Rumah yang menjadi bahan perbincangan dalam forum tersebut.
Bagi J.S. Khairen, setiap orang memiliki perjalanan pulangnya masing-masing. “Rumah bisa berarti banyak hal. Bisa keluarga, bisa tempat kita dibesarkan, atau bahkan perjalanan kembali kepada Tuhan,” ujarnya. Gagasan itulah yang kemudian menjadi salah satu benang merah dalam novel Rumah.
Diskusi semakin hidup ketika Director sekaligus Founder Singaraja Literary Festival, Sonia Piscayanti, turut memberikan tanggapan. Menurutnya, kekuatan Rumah terletak pada kemampuannya menyentuh pembaca tanpa terasa menghakimi.
“Saya membacanya sebagai seorang ibu. Banyak bagian yang membuat saya berhenti sejenak dan melihat kembali hubungan antara orang tua dan anak,” katanya.
Momen paling berkesan ketika Sonia membacakan beberapa penggalan novel dengan penghayatan yang kuat. Kalimat-kalimat yang sebelumnya hanya hadir sebagai teks memperoleh daya hidup berbeda. J.S. Khairen tampak tersenyum sambil menggeleng pelan. Ia mengaku baru menyadari bahwa kalimat-kalimat yang ditulisnya dapat menghadirkan daya emosional berbeda ketika dihidupkan melalui pembacaan yang tepat.


Sepanjang diskusi, pembicaraan berulang kali kembali pada relasi anak dan orang tua. Novel Rumah tidak menggambarkan keluarga sebagai ruang yang selalu menghadirkan kehangatan. Sebaliknya, keluarga juga dapat menjadi sumber luka yang membentuk perjalanan hidup seseorang. Namun, luka bukan akhir dari segalanya. Novel ini memperlihatkan bahwa memaafkan tidak identik dengan melupakan, melainkan membuka kemungkinan untuk melihat masa lalu dari sudut pandang berbeda. Tema-tema itulah yang sedari awal menjadi pokok pembahasan dalam diskusi buku tersebut.
Dalam pembacaan saya terhadap novel tersebut, salah satu bagian yang paling menarik adalah keberanian J.S. Khairen menghadirkan pertanyaan yang jarang diucapkan secara terbuka: “Kalau ada anak durhaka, mengapa tidak ada orang tua durhaka?”. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menghakimi salah satu pihak. Sebaliknya, ia mengajak pembaca melihat relasi dalam keluarga secara lebih adil dan manusiawi. Novel ini memperlihatkan bahwa setiap orang pasti membawa luka dan pergulatannya masing-masing.

Selama hampir satu setengah jam, percakapan terus bergerak dari sastra menuju kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta tidak lagi berhenti pada tokoh, alur, atau teknik penceritaan. Banyak di antaranya berbagi pengalaman tentang keluarga, tentang rumah yang dirindukan, juga rumah yang ingin mereka tinggalkan. Pada titik itu, novel tidak lagi sekadar menjadi bahan diskusi, tetapi menjadi jembatan untuk mempercakapkan pengalaman-pengalaman yang acap kali sulit diungkapkan.
Sebagai pembedah, saya datang untuk membicarakan sebuah karya sastra. Namun, diskusi pagi itu memperlihatkan bahwa yang dibicarakan sesungguhnya bukan hanya sebuah novel. Yang hadir dalam percakapan adalah pengalaman banyak orang tentang keluarga, luka, pengampunan, dan kerinduan untuk pulang.
Barangkali itulah yang membuat Rumah terasa dekat dengan banyak pembaca. Sebab, hampir setiap orang pernah mencari tempat untuk kembali. Hanya saja, tidak semua sedang mencari alamat yang sama. Ada yang ingin pulang kepada keluarganya. Ada yang sedang berdamai dengan masa lalunya. Ada pula yang sedang menempuh perjalanan pulang kepada Tuhan.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































