LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali kulit berwarna coklat yang melilit di pergelangan lengan kirinya. Bahkan, di kedua daun telinganya tak tampak perhiasan anting.
Bagi perempuan yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, Lasmi bisa saja mengenakan berbagai perhiasan emas sebagai simbol orang berpunya. Namun ia sadar, ia tidak suka pamer materi di tengah masyarakat di desanya yang mayoritas hidup kekurangan.
Lasmi mempunyai rasa empatik terhadap orang-orang yang nasibnya tidak seberuntung dirinya, dan ia tak segan mengekspresikan empatinya dengan perbuatan yang kongkret, seperti mengajar anak-anak kecil di beranda tiap pagi, serta menyelenggarakan program menuju melek huruf bagi orang dewasa di sore harinya.
Setelah menikah dengan Sutikno—pemuda yang menjadi guru tugas di kampungnya—, Lasmi mendirikan taman kanak-kanak yang diberi nama TK Tunas. Dalam masa pengembangan, ia mengalami kesulitan pendanaan untuk pembiayaan operasional sekolahnya. Lasmi kemudian bertemu dengan aktivis Gerwani. Dan dari sinilah kisah pergerakan Lasmi dimulai.
***
Keterlibatan Lasmi dengan Gerwani sebenarnya untuk menyalurkan berbagai gagasan sosialnya. Sehingga warga yang sebelumnya hanya diajarkan cara membaca dan menulis, kemudian juga membahas perkara-perkara yang diangap penting, Semisal memperjuangkan prosentase bagi hasil bagi para petani penggarap, dan lain sebagainya.
Begitu juga dengan sekolah taman kanak-kanak yang dirintisnya, Lasmi mengambil keputusan untuk menggabungkannya dengan Yayasan Melati yang berafiliasi dengan Gerwani. Sebagai konsekuens, sekolah yang sebelumnya bernama TK Tunas berubah menjadi TK Melati.
Aktivitas Lasmi di Gerwani semakin intens. Ia makin sering meninggalkan rumah untuk mengahadiri berbagai pertemuan dan rapat-rapat. Tak jarang ia dikirim sebagai wakil dari kabupaten untuk menghadiri sejumlah pertemuan di tingkat provinsi bahkan pernah di tingkat nasional. Untung saja, Lasmi memiliki Suami yang sangat pengertian, memberikan keleluasaan bagi aktivitas sang istri, karena ia meyakini hal itu untuk kepentingan orang banyak.
Kisah berlanjut. Bagian tragis sekaligus sedih dari novel ini ialah ketika situasi tiba-tiba berubah pasca tragedi 30 September. Dalam waktu yang singkat, di daerah-daerah sudah terbentuk KAP Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September 30). Apalagi, kabar yang beredar di Radio, pelaku pembunuhan para jendral adalah bukan nama seseorang melainkan organisasi Gerwani dan Pemuda Rakyat yang keduanya merupakan underbow PKI.
Tak berselang lama, dalam sebuah malam, TK Melati dilempari oleh segerombolan orang yang membawa pentungan dan klewang. Bangunan sekolah itu jelas menjadi sasaran. Sebab di depan bangunan terpampang tiga papan nama TK Melati, Gerwani, dan BTI.
Akhirnya, Lasmi beserta suami dan anaknya dengan cepat menyelamatkan diri meninggalkan rumah mereka. Jelas, massa sedang memburu Lasmi sebagai penggerak utama organisasi Gerwani dan BTI di kampungnya.
Dalam persembunyian di rumah pamannya, ia mendapat kabar jika teman-teman seperjuangan di kampungnya sudah diculik, dibunuh dengan cara-cara keji. Yang paling mengharukan, ada anak berusia lima tahun memanggil-manggil ibunya karena kelaparan, sementara ibunya tergantung dikerekan sumur. Perempuan tersebut diduga dibunuh karena ia anggota Gerwani.
Tak sampai di situ, saat berpindah-pindah dalam persembunyian, anak Lasmi, Bagong Dewandaru yang berusia 5 tahun, jatuh sakit dan akhirnya meninggal.
Dalam situasi seperti itu, Lasmi semakin murung dan pilu, sebab ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk anak tercintanya karena keadaan yang tertekan. Dalam kemurungannya, tiba-tiba Lasmi mengambil keputusan untuk menyerahkan diri. Suami yang begitu menyayanginya terkejut dengan sikap Lasmi itu, namun ia tak bisa menghalangi. Bagi Lasmi, ini bukan menyerah, tapi sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Satu syarat yang diajukan Lasmi saat hendak dieksekusi aparat, ia minta semua pengurus organisasi-organisasi yang berada di kecamatan tempat tinggalnya untuk dihadirkan menyaksikan dirinya dieksekusi. Ia ingin mati dengan sisa harga diri. Lasmi menemui takdirnya, mayatnya dilempar ke sumur kering, lantas ditimbunnya dengan tanah, batu, dedaunan serta serpihan reruntuhan. Ia dieksekusi dipenghujung tahun 1965, dalam usia yang belum genap 33 tahun.
Sementara itu, sang suami menemukan kertas surat Lasmi yang ditujukan ke dirinya, bagitu panjang Lasmi mengurai permohonan maaf dan alasan kenapa ia harus menyerahkan diri.
“Aku tak pernah menyangka sama sekali bahwa menjadi bagian dari Gerwani kemudian bisa dikategorikan sebagai dosa sosial. Andaikan aku tahu, Sut, tentu aku tidak ingin terlibat. Andaikan aku bisa meramalkannya, Sut, aku tak ingin mengambil risiko sebesar itu. Sungguh, engkau pun tahu, aku menyukai kegiatan yang membuat masyarakat jadi lebih pintar dan mandiri, namun aku bukan orang yang berani mempertaruhkan nyawa anak kita.” (Hal.210)
“Dengan nasib warga desa yang menjadi seburuk itu lantaran pengaruhku, maka adalah aib bila aku terus terusan bersembunyi dan melarikan diri. Adalah tidak adil bila orang-orang yang perannya jauh lebih kecil dari peranku harus mati, sementara aku tetap hidup. Adalah tidak adil apabila orang-orang yang sekadar mengikuti jejakku harus menderita dan binasa, sementara aku yang mereka anggap sebagai orang yang bertanggungjawab atas keikutsertaan mereka tetap hidup.” (Hal.213)
Meski novel (berdasar kisah nyata) yang ditulis Nusya Kuswantin ini terbit pada tahun 2009, namun sangat menarik untuk dijadikan media menyentuh sisi kemanusiaan pembaca. Paling tidak, penulis novel ingin menggugah rasa kemanusiaan, rasa keadilan, dan menggugah rasa keadaban. Penggambaran tentang sosok Lasmi dalam novel ini untuk memunculkan kisah yang terkalahkan dari narasi besar bunuh-membunuh pasca tragedi September 1965. Lasmi yang secara personal sangat disegani dan dihormati karena telah berbuat banyak untuk memajukan kampungnya, harus terhempas dan tertumpas karena ia tergabung dalam organiasi sayap sebuah partai yang dituduh melakukan aksi kudeta di Jakarta.[T]
Penulis: Abdul Karim Abraham
Editor: Jaswanto






























