SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III saya membacanya – interpretasi saya, buku ini menjadi fondasi konseptual yang memperlihatkan bagaimana proses kreatif tidak pernah berdiri di ruang kosong, melainkan tumbuh dari pertemuan berbagai disiplin, teori, dan sensibilitas.
Dasar-dasar fotografi, misalnya, bukan hanya teknik menangkap cahaya, tetapi juga cara memahami dunia sebagai citra yang senantiasa bergerak. Fotografi memberi kerangka awal – bahwa karya visual lahir dari kemampuan membekukan momen, sekaligus membuka ruang tafsir atas realitas yang tertangkap.
Namun, fondasi itu segera diperluas melalui wacana ‘postmodernisme’. Dalam konteks visual kontemporer, postmodernisme menolak satu kebenaran tunggal, melainkan merayakan “pluralitas, ironi, dan permainan tanda”.
Jadi, karya seni tidak lagi sekadar ‘representasi’, melainkan medan dialog yang cair, di mana tradisi dan modernitas, lokal dan global, saling berkelindan. ‘Postmodernisme’ memberi keberanian untuk mengacak pakem, menabrak batas, dan menghadirkan karya sebagai teks terbuka.
Tafsir visual melalui ‘perspektif semiotika’ menambahkan lapisan kritis – bahwa setiap gambar adalah tanda, dan tanda selalu mengandung makna yang bisa digeser, ditafsir ulang, bahkan diperdebatkan.
Dengan ‘semiotika’, karya seni dibaca bukan hanya sebagai bentuk, tetapi sebagai bahasa yang menyimpan “kode budaya, ideologi, dan pengalaman kolektif”. Ia mengajarkan bahwa melihat adalah membaca, dan membaca adalah menafsirkan.

‘Perspektif estetika’ kemudian hadir sebagai bingkai reflektif – bagaimana keindahan, harmoni, atau bahkan ketidakindahan dipahami dalam karya seni. ‘Estetika’ bukan sekadar soal rasa indah, melainkan “cara tubuh dan pikiran beresonansi dengan karya”.
Ia menegaskan bahwa pengalaman seni adalah pengalaman emosional sekaligus intelektual, sebuah pertemuan antara ‘sensibilitas’ dan ‘refleksi’.
Semua ‘fondasi’ itu akhirnya bermuara pada proses kreatif dalam penciptaan karya ‘multisensorik’. Di sini, seni tidak lagi hanya untuk mata, tetapi juga untuk telinga, kulit, bahkan imajinasi indera lain.
‘Multisensorik’ menegaskan bahwa karya seni adalah pengalaman total, sebuah ‘orkestrasi indera’ yang mengajak kita masuk ke ruang yang lebih luas daripada sekadar visual.
Ia menuntut keberanian seniman untuk mengolah medium lintas batas, menjadikan karya sebagai pengalaman hidup yang utuh.
Lapisan terakhir, ‘ekokritisisme’, memberi dimensi etis dan ekologis. Seni visual dan fotografi tidak hanya bicara tentang bentuk, tetapi juga tentang relasi manusia dengan alam.
Ekokritisisme mengingatkan bahwa setiap karya adalah jejak ekologis, bahwa seni bisa menjadi kritik atas kerusakan lingkungan sekaligus ajakan untuk merawat bumi. Dengan demikian, proses kreatif tidak hanya estetis, tetapi juga etis.
Tulisan saya ini, ingin menunjukkan bahwa fondasi pemikiran dalam proses kreatif adalah jalinan antara teknik, teori, tafsir, estetika, pengalaman multisensorik, dan kesadaran ekologis.
Seni rupa, dalam kerangka IB Adnyana, bukan sekadar gambar. Ia adalah perjalanan yang terus bergerak, dari cahaya fotografi hingga gema ekologi, dari tanda semiotik hingga resonansi estetika, dari postmodernisme hingga multisensorik.
Sebuah fondasi yang tidak pernah selesai, tetapi justru karena itu membuka kemungkinan tak terbatas bagi penciptaan.

Buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya Ida Bagus Putra Adnyana ini dapat dibaca sebagai sebuah ‘manifesto’ yang berani: seni rupa tidak berhenti pada mata, melainkan merambat ke seluruh indera.
Esai reflektif atas buku ini mengajak kita melihat bagaimana seni rupa Bali, yang sejak lama kaya akan simbol ‘multisensorik’ dalam ritual dan upacara, berjumpa dengan wacana seni modern.
Figur tradisional, ornamen, dan simbol budaya tidak lagi hanya menjadi objek estetis, melainkan pintu masuk ke pengalaman yang lebih luas – warna yang bisa “didengar,” tekstur yang bisa “dirasakan,” simbol yang bisa “dihidupi.”
Dengan demikian, karya visual menjadi lintasan antara dunia nyata dan dunia imajiner, antara tradisi dan kontemporer, antara tubuh dan pikiran.
Adnyana juga membuka ruang intermedialitas: seni rupa berjumpa dengan musik, tari, bahkan pengalaman sehari-hari.
Ia menolak reduksi seni sebagai gambar semata, melainkan menempatkannya sebagai pengalaman multisensorik yang menggetarkan tubuh.
Di sini, seni rupa menjadi semacam jembatan: ia menghubungkan indera dengan budaya, simbol dengan pengalaman, tradisi dengan modernitas.

Refleksi atas buku ini menegaskan bahwa apresiasi seni tidak cukup berhenti pada “melihat.” Ia menuntut keterlibatan penuh: mendengar ritme warna, merasakan energi garis, menghidupi simbol yang hadir.
Dengan cara itu, seni rupa menjadi pengalaman hidup yang utuh, sebuah perjalanan yang melibatkan seluruh lapisan indera dan kesadaran.
Karya Visual dengan Multi Sensorik akhirnya dapat dibaca sebagai ajakan: bahwa seni adalah ruang yang tidak pernah selesai, selalu bergerak, selalu beresonansi.
Ia adalah panggilan untuk membuka diri, untuk membiarkan tubuh dan pikiran larut dalam ‘orkestrasi indera’ yang merangkul seluruh indera, seluruh tradisi, dan seluruh kemungkinan kontemporer. [T]
Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole































