21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

Chusmeru by Chusmeru
October 21, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri (PTN). Dugaan KPK, rektor tersebut terlibat dalam praktik korupsi penerimaan mahasiswa baru dari jalur mandiri.

Seolah OTT KPK itu mengungkap sisi gelap kampus yang selama ini tertutup megahnya gedung dan indahnya taman di kampus. Apalagi banyak kampus negeri yang mendeklarasikan diri sebagai zona integritas. Spanduk atau banner bertuliskan “ Zona Integritas, Tolak Korupsi, Kolusi, Nepotisme, dan Gratifikasi” banyak dipasang di sudut-sudut kampus.

Kontan saja jagat maya riuh. Beragam komentar netizen di media sosial meramaikan OTT tersebut. Banyak netizen yang menduga bahwa korupsi terkait penerimaan mahasiswa baru terjadi bukan hanya di PTN yang rektornya diciduk KPK tersebut. Banyak perguruan tinggi negeri lain yang melakukan hal sama, dan sudah sejak dulu. Kalau pun ada rektor yang kena OTT, netizen menganggap ketiban sial belaka.

Benarkah kampus milik pemerintah sudah lama melakukan praktik korupsi penerimaan mahasiswa baru? Sulit untuk dibuktikan. Selain lantaran selama ini kampus PTN adem-adem saja, praktik korupsi di kampus juga diduga bukan hanya dilakukan oleh oknum di jajaran rektorat. Banyak aktor yang memungkinkan turut berperan dalam praktik jual beli kursi mahasiswa.

Mencermati kasus-kasus serupa, paling tidak tiga pihak turut berperan dalam kecurangan penerimaan mahasiswa baru. Pertama, makelar atau calo yang mengaku memiliki hubungan kedekatan atau jaringan ke pejabat kampus. Makelar ini bisa orang luar, dimungkinkan juga oknum dosen dan pegawai di lingkungan kampus. Bisa pula oknum pejabat pemerintah di pusat dan daerah yang memberi rekomendasi agar anaknya atau anak orang lain dapat diterima di PTN.

Kedua, pembeli kursi kampus yang terpaksa. Mereka adalah para orang tua yang ketakutan anaknya tidak lolos dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru. Menyogok, menyuap, atau membayar di luar ketentuan yang berlaku dianggap biasa, yang penting anak mereka lolos menjadi mahasiswa di PTN. Dan itu dianggap kebanggaan bila anak mereka kuliah di PTN, apalagi di fakultas atau program studi favorit.

Ketiga, adalah sang penjaga pintu. Mereka adalah oknum panitia penerimaan mahasiswa baru, bagian akademik kampus, serta jajaran rektorat yang memiliki kekuasaan untuk menetapkan kuota jalur mandiri serta otoritas untuk meng-klik siapa yang lolos dan tidak lolos dalam seleksi. Motifnya tentu keuntungan ekonomi pribadi, sehingga wajar bila KPK harus turun tangan.

Modusnya bisa macam-macam. Temuan KPK, ada yang dijanjikan diterima jalur mandiri dengan syarat membayar puluhan hingga ratusan juta; bisa dibayar di depan atau pun di belakang setelah mahasiswa dinyatakan lulus. Jalur mandiri menjadi rawan untuk jual beli kursi, karena kampus yang PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) maupun PTN BLU (Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum)  memiliki otonomi menentukan kuota dan kelulusan.

Mengapa Terjadi?

Berdasarkan Permendikbudristek No 48/2022, kampus mempunyai hak kelola antara 30%  untuk PTN-BLU hingga 50% bagi PTN-BH untuk menerima mahasiswa baru lewat jalur mandiri. Otonomi yang dimiliki kampus negeri ini membuka celah kebablasan. Kampus dapat bermain mata untuk penerimaan mahasiswa di jalur mandiri ini. Apalagi bila minim pengawasan secara eksternal.

Kampus PTN-BH juga dituntut untuk tidak menggantungkan diri dari bantuan pemerintah. Karenanya kampus harus kreatif mencari uang sendiri. Celakanya, kreativitas itu akan dapat menjadi bumerang ketika uang sumbangan dari jalur mandiri dijadikan bancakan banyak pihak.

Alih-alih untuk membangun kampus dan menyejahterakan dosen dan pegawai, sumbangan jalur mandiri bisa diatur jumlahnya sesuai hitung-hitungan oknum pejabat kampus. Bisa jadi sebagian memang diperuntukkan bagi pembangunan dan kesejahteraan kampus, namun tak mustahil juga ada yang masuk kantong pribadi oknum pejabat kampus.

Tiadanya whistleblower system di kampus membuat kanal aduan terhadap praktik jual beli kursi menjadi tertutup dan tetap terjadi. Andai pun ada Satuan Pengawas Internal (SPI) di kampus, lembaga itu atas bentukan rektor, dan tentu saja akan loyal kepada rektor. Sehingga akan terjadi dilema ketika rektor melakukan penyimpangan.

Normalisasi budaya “uang terima kasih” atau “uang pelicin” dari para orang tua membuat praktik suap di jalur mandiri sulit dihentikan. Mereka menganggap wajar bila harus mengeluarkan banyak uang agar anaknya diterima di PTN.

Dampaknya, mahasiswa miskin yang nilainya tinggi bisa kalah oleh yang nilainya rendah tetapi membayar suap. Integritas akademik kampus dipertaruhkan. Kampus juga akan mengalami krisis kepercayaan publik.

Karenanya, kampus dituntut untuk mempublikasikan passing grade dan nilai anonim peserta jalur mandiri. Libatkan Ombudsman dan Inspektorat Jenderal Kemendiktisaintek untuk melakukan audit jalur mandiri. Kampus perlu didorong untuk menyediakan hotline pelaporan makelar dan calo penerimaan mahasiswa baru yang anonim dan dilindungi. Dengan catatan, semua pejabat dan pegawai di kampus bebas dari mafia percaloan.

Komersialisasi dan Kapitalisasi Pendidikan

Maraknya korupsi jalur mandiri di kampus tak terlepas dari komersialisasi dan kapitalisasi di dunia pendidikan. Kampus dijadikan ladang dagangan. Logikanya, ada calon mahasiswa dan orang tuanya sebagai pembeli, ada kampus sebagai penjual, dan ada kursi yang bisa ditawar harganya. Semua sama-sama mencari untung. Tentu saja ini sisi gelap kampus yang sulit untuk disibak.

Kapitalisasi terjadi ketika pendidikan dijadikan sarana investasi modal. Pendidikan bukan lagi dipandang sebagai hak dasar setiap orang, namun sebagai modal untuk mendapatkan pekerjaan. Siapa yang memiliki modal besar akan mendapat akses pendidikan yang baik, dapat bekerja di tempat yang baik, dan dapat modal lebih besar lagi. Yang miskin hanya jadi penonton.

Uang Kuliah Tunggal (UKT) sering menjadi sesuatu yang tidak masuk akal bagi orang miskin. UKT di fakultas-fakultas favorit seperti kedokteran maupun teknik mencapai puluhan juta rupiah per semester. Belum lagi Iuran Pengembangan Institusi (IPI) yang jumlahnya membuat masyarakat miskin terbelalak matanya. Sistem pendidikan di perguruan tinggi sudah mereproduksi ketimpangan.

Jalur mandiri menjadi sumber pendapatan resmi dan tak resmi (yang masuk laci oknum pejabat kampus). Beragam modus komersialisasi kampus dapat dilakukan. Mahasiswa miskin dengan nilai tinggi bersaing di 50% kursi murah. Mahasiswa kaya dengan nilai pas-pasan bisa membeli 50% kursi mahal. Ini kapitalisasi paling telanjang.

Oknum pejabat kampus memang bersalah bila tersandung korupsi penerimaan mahasiswa baru. Namun menyalahkan mereka semata juga tidak adil. Sejak tahun 2000-an mulai dikenal neoliberalisme dalam dunia pendidikan. Pendidikan bukan lagi tanggung jawab negara sepenuhnya. Negara hanya menjadi regulator, bukan penyandang dana. Maka lahirlah PTN-BH yang kapitalistik.

GIGO

Tentu sangat menyakitkan bila menganalogikan kasus korupsi penerimaan jalur mandiri dengan Garbage In, Garbage Out (GIGO). Tapi itulah yang terjadi pada kampus-kampus yang tersandung kasus korupsi. Kalau yang masuk “sampah”, yang keluar pasti “sampah”. Tidak peduli gedungnya bagus, akreditasinya A,  dan rektornya bergelar profesor.

Banyak pintu untuk masuknya sampah ke dalam kampus. Diawali dengan GIGO di input.  Ada sampah jalur belakang, ketika calon mahasiswa masuk dengan membayar calo atau makelar, bukan karena nilainya yang memenuhi syarat. Mentalitasnya adalah “semua bisa dibeli”.

Entah akan menjadi seperti apa mahasiswa tersebut ketika berada di ruang kuliah dan ketika lulus nantinya. Jika masuknya saja ia lewat jalur yang culas, ia akan lulus menjadi sarjana yang culas. Bila ia masuk dengan cara yang korup, kelak akan menjadi pegawai yang korup. Masuk sampah, keluarnya pun sampah.

Lantas GIGO di proses, yaitu oknum dosen dan kurikulum yang sampah. Dosen yang sibuk jualan proyek, sibuk jadi makelar penerimaan mahasiswa baru, dan sibuk mencari tambahan, karena gaji yang dianggap tak cukup dengan mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar, membimbing, menguji, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Dosen sampah semacam ini tidak sempat update ilmu. Akibatnya, ia menjadi fundraiser, bukan ilmuwan.

Kurikulum sampah dibuat bukan berdasarkan kebutuhan industri atau pun kebutuhan masyarakat, tetapi berdasar apa yang bisa dijual. Kurikulum yang sampah akan mendorong kampus membuka program studi baru yang laku di pasar tanpa tersedianya dosen yang kompeten dan tanpa laboratorium yang memadai. Mahasiswa diajari teori tahun 1970-an untuk memecahkan masalah di tahun 2026.

Ada juga GIGO di output, berupa lulusan yang sampah. Komersialisasi, kapitalisasi, dan percaloan mahasiswa di kampus akan menghasilkan lulusan sampah, karena proses masuknya juga sampah. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,9, namun boleh jadi tidak dapat menulis deskripsi diri yang benar, tidak mampu menjawab wawancara kerja, dan tak mampu memecahkan masalah.

Menghasilkan lulusan yang memiliki integritas moral menjadi tantangan berat bagi perguruan tinggi. Apalagi mantan Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron pernah menyebutkan, bahwa sebanyak 86 persen koruptor yang ditangkap KPK berasal dari perguruan tinggi, bahkan di atas S-1 (Antaranews.com, 22/10/2021). Temuan itu seolah menyiratkan tidak ada korelasi yang signifikan atara jenjang pendidikan tinggi seseorang dengan moralitas dan mentalitas korup.

Kampus-kampus hari ini tidak kekurangan gedung mewah dan spanduk akreditasi A. Yang kurang adalah keberanian untuk berkata “tidak” pada uang sampah. Selama kursi kuliah masih diperjualbelikan lewat mafia, calo, dan makelar, selama itu pula kampus akan terus memasukkan sampah dan meluluskan sampah. Dan pada akhirnya, yang membusuk bukan hanya ijazah, tapi masa depan bangsa yang dititipkan di dalam kelas. Padahal kampus bukan tempat pengolahan sampah. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kampusPendidikanPendidikan TinggiPerguruan Tinggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

Next Post

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails
Next Post
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co