SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya. SNERAYUZA: sajak-sajak Gm. Sukawidana termasuk jenis yang kedua.
Buku ini saya terima langsung sebagai hadiah dari sahabat penyair Gm. Sukawidana, di sela diskusi membaca perjalanan artistik perupa I Ketut Suwidiarta di 5 Cafe & Gallery, Denpasar. Saat itu saya belum mengetahui bahwa pengalaman membaca buku ini akan segera bertaut dengan kehilangan yang masih sangat baru: hanya sepekan sebelumnya, 10 Juli 2026, Made Budhiana berpulang pada usia 67 tahun.
Dada masih sesak ketika membuka halaman demi halaman.
Bukan semata karena puisi-puisi Gm. Sukawidana yang liris, melainkan karena seluruh tubuh buku ini dipenuhi jejak visual Budhiana. Cover hingga halaman-halaman dalam memuat karya dari berbagai periode kreatifnya. Tanpa disadari, buku ini menjelma seperti sebuah bibliografi visual, bahkan lebih tepat disebut autobiografi yang ditulis bukan dengan kalimat, melainkan dengan garis, arang, warna, tekstur, dan ruang kosong.¹

Yang pertama menyapa adalah sampulnya.
Huruf emas bertuliskan SNERAYUZA berdiri di atas gambar-gambar yang seperti belum selesai, tetapi justru karena itu terasa hidup. Sosok-sosok manusia, burung, tubuh yang terpotong, bidang-bidang geometris, arsiran hitam, warna merah yang samar, biru yang muncul sesekali, semuanya bergerak seperti ingatan yang tidak pernah benar-benar diam.
Cover itu bukan ilustrasi. Ia sudah merupakan sebuah puisi. Atau mungkin sebuah lukisan yang diam-diam sedang membaca sajak.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa buku ini bukan kumpulan puisi yang diberi gambar, dan bukan pula katalog lukisan yang diselipi puisi. Yang lahir adalah bentuk ketiga: puisi-rupa sekaligus rupa-puisi, dua disiplin yang saling memasuki wilayah satu sama lain hingga batas keduanya menghilang.²
Nama Snerayuza sendiri ternyata bukan sekadar judul. Ia adalah nama studio Budhiana.
Namun setelah membaca keseluruhan buku, studio itu perlahan kehilangan statusnya sebagai bangunan. Ia berubah menjadi metafora.

Pada halaman belakang tampak rumah itu bersama pepohonan, burung-burung, benda-benda, ruangan, halaman yang dipenuhi artefak. Seakan-akan seluruh studio sedang berkata bahwa ruang kerja seorang seniman sesungguhnya bukan tempat membuat karya, melainkan karya itu sendiri.
Studio menjadi sajak. Halaman menjadi lanskap. Pohon menjadi kalimat. Burung menjadi metafora. Benda-benda menjadi tanda baca.
Dalam sejarah seni modern, studio sering dipahami sebagai laboratorium kreativitas. Namun pada Budhiana, studio lebih menyerupai ekologi ingatan, tempat berbagai waktu, benda, perjalanan, dan pengalaman tinggal bersama.³
Saya melihat Budhiana sebagai perupa yang memilih arah yang berbeda. Sepulang dari pendidikan seni di Yogyakarta, banyak seniman Bali bergerak menuju pusat-pusat seni kontemporer yang semakin kosmopolitan. Budhiana justru melakukan gerak sebaliknya. Ia kem-Bali.

Tetapi kepulangannya bukan nostalgia. Ia membawa cara pandang baru terhadap Bali, terutama Bali bagian timur.
Di sanalah ia menggali situs-situs budaya, menjumpai desa-desa tua, mengumpulkan benda-benda, mendengar kisah-kisah yang nyaris hilang, dan menjadikan semuanya sebagai bahasa visual. Studio Snerayuza dipenuhi benda-benda hasil perjalanan itu. Topeng tua. Kayu lapuk. Artefak. Pecahan gerabah. Akar. Batu. Potongan logam.
Semuanya tidak diperlakukan sebagai koleksi, tetapi sebagai sesama penghuni ruang kreatif. Dalam pengertian tertentu, Budhiana sedang membangun apa yang kini disebut para pemikir budaya sebagai material memory, bahwa benda menyimpan pengalaman sejarah dan ikut membentuk cara manusia berpikir.⁴

Di sinilah peran Gm. Sukawidana menjadi sangat penting. Ia tidak menjelaskan lukisan Budhiana. Ia tidak menerjemahkan visual menjadi bahasa. Sebaliknya, ia tinggal cukup lama di dalam dunia visual itu hingga puisi-puisinya tumbuh dari dalamnya.
Puisi-puisi dalam SNERAYUZA terasa seperti bayangan yang mengikuti gerak lukisan. Kadang lebih sunyi. Kadang lebih lirih. Kadang hanya beberapa kata.
Namun justru kesederhanaan itu memungkinkan pembaca memasuki ruang yang sama dengan Budhiana.
Hubungan penyair dan pelukis dalam buku ini mengingatkan pada tradisi ekfrasis, yakni puisi yang lahir dari karya visual. Bedanya, Gm. Sukawidana tidak mendeskripsikan gambar, melainkan menyerap atmosfernya. Ia membiarkan puisi menjadi gema dari garis-garis Budhiana.⁵

Keutuhan buku ini semakin terasa melalui rancangan visual SR. Alwi. Desainnya memberi ruang napas. Tidak ada halaman yang berteriak. Puisi dan gambar saling menghormati. Tipografi, ruang kosong, ritme halaman, semuanya bekerja seperti komposisi musik. Desain tidak menjadi bingkai. Ia menjadi bagian dari puisi itu sendiri.
Saya dapat katakana, buku ini tampil sebagai objek seni (artist’s book), bukan sekadar media cetak. Tradisi semacam ini telah lama berkembang dalam seni kontemporer dunia, ketika buku diperlakukan sebagai ruang artistik yang utuh, bukan hanya wadah teks.⁶
Membaca SNERAYUZA setelah kepergian Budhiana menghadirkan pengalaman yang berbeda. Setiap gambar menjadi perjumpaan terakhir. Setiap arsiran terasa seperti denyut tangan yang kini telah berhenti. Namun anehnya, justru di situlah Budhiana terasa paling hidup. Ia masih berbicara melalui garis. Melalui burung. Melalui rumah. Melalui pepohonan. Melalui studio yang telah berubah menjadi puisi.

Barangkali memang demikian cara seorang seniman tinggal setelah tubuhnya pergi. Ia tidak tinggal di museum. Ia tinggal dalam cara kita memandang dunia. Dan SNERAYUZA adalah salah satu rumah tempat Made Budhiana akan terus menetap. Terimakasi sahabat Gm. Sukawidana, telah mendedikasikan SNERAYUZA dalam sajak-sajakmu.[T]
Catatan Kaki:
- Jacques Derrida. (1995). Archive Fever: A Freudian Impression. University of Chicago Press; I Nyoman Darma Putra. (2011). A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. KITLV Press.
- W. J. T. Mitchell. (1994). Picture Theory. University of Chicago Press; Gotthold Ephraim Lessing. (1766/1984). Laocoön: An Essay upon the Limits of Painting and Poetry.
- Gaston Bachelard. (1958/1994). The Poetics of Space. Beacon Press; Yi-Fu Tuan. (1977). Space and Place. University of Minnesota Press.
- Tim Ingold. (2013). Making: Anthropology, Archaeology, Art and Architecture. Routledge; Bruno Latour. (2005). Reassembling the Social. Oxford University Press.
- James A. W. Heffernan. (1993). Museum of Words: The Poetics of Ekphrasis from Homer to Ashbery. University of Chicago Press.
- Johanna Drucker. (2004). The Century of Artists’ Books. Granary Books; Clive Phillpot. (1998). Booktrek: Selected Essays on Artists’ Books.
- Adrian Vickers. (2012). Bali: A Paradise Created. Tuttle Publishing; Michel Picard. (1996). Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture. Archipelago Press.
Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto






























