17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
in Ulas Buku
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Sampul buku SNERAYUZA karya GM. Sukawidana

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya. SNERAYUZA: sajak-sajak Gm. Sukawidana termasuk jenis yang kedua.

Buku ini saya terima langsung sebagai hadiah dari sahabat penyair Gm. Sukawidana, di sela diskusi membaca perjalanan artistik perupa I Ketut Suwidiarta di 5 Cafe & Gallery, Denpasar. Saat itu saya belum mengetahui bahwa pengalaman membaca buku ini akan segera bertaut dengan kehilangan yang masih sangat baru: hanya sepekan sebelumnya, 10 Juli 2026, Made Budhiana berpulang pada usia 67 tahun.

Dada masih sesak ketika membuka halaman demi halaman.

Bukan semata karena puisi-puisi Gm. Sukawidana yang liris, melainkan karena seluruh tubuh buku ini dipenuhi jejak visual Budhiana. Cover hingga halaman-halaman dalam memuat karya dari berbagai periode kreatifnya. Tanpa disadari, buku ini menjelma seperti sebuah bibliografi visual, bahkan lebih tepat disebut autobiografi yang ditulis bukan dengan kalimat, melainkan dengan garis, arang, warna, tekstur, dan ruang kosong.¹

Yang pertama menyapa adalah sampulnya.

Huruf emas bertuliskan SNERAYUZA berdiri di atas gambar-gambar yang seperti belum selesai, tetapi justru karena itu terasa hidup. Sosok-sosok manusia, burung, tubuh yang terpotong, bidang-bidang geometris, arsiran hitam, warna merah yang samar, biru yang muncul sesekali, semuanya bergerak seperti ingatan yang tidak pernah benar-benar diam.

Cover itu bukan ilustrasi. Ia sudah merupakan sebuah puisi. Atau mungkin sebuah lukisan yang diam-diam sedang membaca sajak.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa buku ini bukan kumpulan puisi yang diberi gambar, dan bukan pula katalog lukisan yang diselipi puisi. Yang lahir adalah bentuk ketiga: puisi-rupa sekaligus rupa-puisi, dua disiplin yang saling memasuki wilayah satu sama lain hingga batas keduanya menghilang.²

Nama Snerayuza sendiri ternyata bukan sekadar judul. Ia adalah nama studio Budhiana.

Namun setelah membaca keseluruhan buku, studio itu perlahan kehilangan statusnya sebagai bangunan. Ia berubah menjadi metafora.

Pada halaman belakang tampak rumah itu bersama pepohonan, burung-burung, benda-benda, ruangan, halaman yang dipenuhi artefak. Seakan-akan seluruh studio sedang berkata bahwa ruang kerja seorang seniman sesungguhnya bukan tempat membuat karya, melainkan karya itu sendiri.

Studio menjadi sajak. Halaman menjadi lanskap. Pohon menjadi kalimat. Burung menjadi metafora. Benda-benda menjadi tanda baca.

Dalam sejarah seni modern, studio sering dipahami sebagai laboratorium kreativitas. Namun pada Budhiana, studio lebih menyerupai ekologi ingatan, tempat berbagai waktu, benda, perjalanan, dan pengalaman tinggal bersama.³

Saya melihat Budhiana sebagai perupa yang memilih arah yang berbeda. Sepulang dari pendidikan seni di Yogyakarta, banyak seniman Bali bergerak menuju pusat-pusat seni kontemporer yang semakin kosmopolitan. Budhiana justru melakukan gerak sebaliknya. Ia kem-Bali.

Tetapi kepulangannya bukan nostalgia. Ia membawa cara pandang baru terhadap Bali, terutama Bali bagian timur.

Di sanalah ia menggali situs-situs budaya, menjumpai desa-desa tua, mengumpulkan benda-benda, mendengar kisah-kisah yang nyaris hilang, dan menjadikan semuanya sebagai bahasa visual. Studio Snerayuza dipenuhi benda-benda hasil perjalanan itu. Topeng tua. Kayu lapuk. Artefak. Pecahan gerabah. Akar. Batu. Potongan logam.

Semuanya tidak diperlakukan sebagai koleksi, tetapi sebagai sesama penghuni ruang kreatif. Dalam pengertian tertentu, Budhiana sedang membangun apa yang kini disebut para pemikir budaya sebagai material memory, bahwa benda menyimpan pengalaman sejarah dan ikut membentuk cara manusia berpikir.⁴

Di sinilah peran Gm. Sukawidana menjadi sangat penting. Ia tidak menjelaskan lukisan Budhiana. Ia tidak menerjemahkan visual menjadi bahasa. Sebaliknya, ia tinggal cukup lama di dalam dunia visual itu hingga puisi-puisinya tumbuh dari dalamnya.

Puisi-puisi dalam SNERAYUZA terasa seperti bayangan yang mengikuti gerak lukisan. Kadang lebih sunyi. Kadang lebih lirih. Kadang hanya beberapa kata.

Namun justru kesederhanaan itu memungkinkan pembaca memasuki ruang yang sama dengan Budhiana.

Hubungan penyair dan pelukis dalam buku ini mengingatkan pada tradisi ekfrasis, yakni puisi yang lahir dari karya visual. Bedanya, Gm. Sukawidana tidak mendeskripsikan gambar, melainkan menyerap atmosfernya. Ia membiarkan puisi menjadi gema dari garis-garis Budhiana.⁵

Keutuhan buku ini semakin terasa melalui rancangan visual SR. Alwi. Desainnya memberi ruang napas. Tidak ada halaman yang berteriak. Puisi dan gambar saling menghormati. Tipografi, ruang kosong, ritme halaman, semuanya bekerja seperti komposisi musik. Desain tidak menjadi bingkai. Ia menjadi bagian dari puisi itu sendiri.

Saya dapat katakana, buku ini tampil sebagai objek seni (artist’s book), bukan sekadar media cetak. Tradisi semacam ini telah lama berkembang dalam seni kontemporer dunia, ketika buku diperlakukan sebagai ruang artistik yang utuh, bukan hanya wadah teks.⁶

Membaca SNERAYUZA setelah kepergian Budhiana menghadirkan pengalaman yang berbeda. Setiap gambar menjadi perjumpaan terakhir. Setiap arsiran terasa seperti denyut tangan yang kini telah berhenti. Namun anehnya, justru di situlah Budhiana terasa paling hidup. Ia masih berbicara melalui garis. Melalui burung. Melalui rumah. Melalui pepohonan. Melalui studio yang telah berubah menjadi puisi.

Barangkali memang demikian cara seorang seniman tinggal setelah tubuhnya pergi. Ia tidak tinggal di museum. Ia tinggal dalam cara kita memandang dunia. Dan SNERAYUZA adalah salah satu rumah tempat Made Budhiana akan terus menetap. Terimakasi sahabat Gm. Sukawidana, telah mendedikasikan SNERAYUZA dalam sajak-sajakmu.[T]

Catatan Kaki:

  1. Jacques Derrida. (1995). Archive Fever: A Freudian Impression. University of Chicago Press; I Nyoman Darma Putra. (2011). A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. KITLV Press.
  2. W. J. T. Mitchell. (1994). Picture Theory. University of Chicago Press; Gotthold Ephraim Lessing. (1766/1984). Laocoön: An Essay upon the Limits of Painting and Poetry.
  3. Gaston Bachelard. (1958/1994). The Poetics of Space. Beacon Press; Yi-Fu Tuan. (1977). Space and Place. University of Minnesota Press.
  4. Tim Ingold. (2013). Making: Anthropology, Archaeology, Art and Architecture. Routledge; Bruno Latour. (2005). Reassembling the Social. Oxford University Press.
  5. James A. W. Heffernan. (1993). Museum of Words: The Poetics of Ekphrasis from Homer to Ashbery. University of Chicago Press.
  6. Johanna Drucker. (2004). The Century of Artists’ Books. Granary Books; Clive Phillpot. (1998). Booktrek: Selected Essays on Artists’ Books.
  7. Adrian Vickers. (2012). Bali: A Paradise Created. Tuttle Publishing; Michel Picard. (1996). Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture. Archipelago Press.

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Gm. SukawidanaSNERAYUZA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Next Post

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails
Next Post
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Bali di Persimpangan Kesadaran ------Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co