16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
in Ulas Buku
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Sampul buku SNERAYUZA karya GM. Sukawidana

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya. SNERAYUZA: sajak-sajak Gm. Sukawidana termasuk jenis yang kedua.

Buku ini saya terima langsung sebagai hadiah dari sahabat penyair Gm. Sukawidana, di sela diskusi membaca perjalanan artistik perupa I Ketut Suwidiarta di 5 Cafe & Gallery, Denpasar. Saat itu saya belum mengetahui bahwa pengalaman membaca buku ini akan segera bertaut dengan kehilangan yang masih sangat baru: hanya sepekan sebelumnya, 10 Juli 2026, Made Budhiana berpulang pada usia 67 tahun.

Dada masih sesak ketika membuka halaman demi halaman.

Bukan semata karena puisi-puisi Gm. Sukawidana yang liris, melainkan karena seluruh tubuh buku ini dipenuhi jejak visual Budhiana. Cover hingga halaman-halaman dalam memuat karya dari berbagai periode kreatifnya. Tanpa disadari, buku ini menjelma seperti sebuah bibliografi visual, bahkan lebih tepat disebut autobiografi yang ditulis bukan dengan kalimat, melainkan dengan garis, arang, warna, tekstur, dan ruang kosong.¹

Yang pertama menyapa adalah sampulnya.

Huruf emas bertuliskan SNERAYUZA berdiri di atas gambar-gambar yang seperti belum selesai, tetapi justru karena itu terasa hidup. Sosok-sosok manusia, burung, tubuh yang terpotong, bidang-bidang geometris, arsiran hitam, warna merah yang samar, biru yang muncul sesekali, semuanya bergerak seperti ingatan yang tidak pernah benar-benar diam.

Cover itu bukan ilustrasi. Ia sudah merupakan sebuah puisi. Atau mungkin sebuah lukisan yang diam-diam sedang membaca sajak.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa buku ini bukan kumpulan puisi yang diberi gambar, dan bukan pula katalog lukisan yang diselipi puisi. Yang lahir adalah bentuk ketiga: puisi-rupa sekaligus rupa-puisi, dua disiplin yang saling memasuki wilayah satu sama lain hingga batas keduanya menghilang.²

Nama Snerayuza sendiri ternyata bukan sekadar judul. Ia adalah nama studio Budhiana.

Namun setelah membaca keseluruhan buku, studio itu perlahan kehilangan statusnya sebagai bangunan. Ia berubah menjadi metafora.

Pada halaman belakang tampak rumah itu bersama pepohonan, burung-burung, benda-benda, ruangan, halaman yang dipenuhi artefak. Seakan-akan seluruh studio sedang berkata bahwa ruang kerja seorang seniman sesungguhnya bukan tempat membuat karya, melainkan karya itu sendiri.

Studio menjadi sajak. Halaman menjadi lanskap. Pohon menjadi kalimat. Burung menjadi metafora. Benda-benda menjadi tanda baca.

Dalam sejarah seni modern, studio sering dipahami sebagai laboratorium kreativitas. Namun pada Budhiana, studio lebih menyerupai ekologi ingatan, tempat berbagai waktu, benda, perjalanan, dan pengalaman tinggal bersama.³

Saya melihat Budhiana sebagai perupa yang memilih arah yang berbeda. Sepulang dari pendidikan seni di Yogyakarta, banyak seniman Bali bergerak menuju pusat-pusat seni kontemporer yang semakin kosmopolitan. Budhiana justru melakukan gerak sebaliknya. Ia kem-Bali.

Tetapi kepulangannya bukan nostalgia. Ia membawa cara pandang baru terhadap Bali, terutama Bali bagian timur.

Di sanalah ia menggali situs-situs budaya, menjumpai desa-desa tua, mengumpulkan benda-benda, mendengar kisah-kisah yang nyaris hilang, dan menjadikan semuanya sebagai bahasa visual. Studio Snerayuza dipenuhi benda-benda hasil perjalanan itu. Topeng tua. Kayu lapuk. Artefak. Pecahan gerabah. Akar. Batu. Potongan logam.

Semuanya tidak diperlakukan sebagai koleksi, tetapi sebagai sesama penghuni ruang kreatif. Dalam pengertian tertentu, Budhiana sedang membangun apa yang kini disebut para pemikir budaya sebagai material memory, bahwa benda menyimpan pengalaman sejarah dan ikut membentuk cara manusia berpikir.⁴

Di sinilah peran Gm. Sukawidana menjadi sangat penting. Ia tidak menjelaskan lukisan Budhiana. Ia tidak menerjemahkan visual menjadi bahasa. Sebaliknya, ia tinggal cukup lama di dalam dunia visual itu hingga puisi-puisinya tumbuh dari dalamnya.

Puisi-puisi dalam SNERAYUZA terasa seperti bayangan yang mengikuti gerak lukisan. Kadang lebih sunyi. Kadang lebih lirih. Kadang hanya beberapa kata.

Namun justru kesederhanaan itu memungkinkan pembaca memasuki ruang yang sama dengan Budhiana.

Hubungan penyair dan pelukis dalam buku ini mengingatkan pada tradisi ekfrasis, yakni puisi yang lahir dari karya visual. Bedanya, Gm. Sukawidana tidak mendeskripsikan gambar, melainkan menyerap atmosfernya. Ia membiarkan puisi menjadi gema dari garis-garis Budhiana.⁵

Keutuhan buku ini semakin terasa melalui rancangan visual SR. Alwi. Desainnya memberi ruang napas. Tidak ada halaman yang berteriak. Puisi dan gambar saling menghormati. Tipografi, ruang kosong, ritme halaman, semuanya bekerja seperti komposisi musik. Desain tidak menjadi bingkai. Ia menjadi bagian dari puisi itu sendiri.

Saya dapat katakana, buku ini tampil sebagai objek seni (artist’s book), bukan sekadar media cetak. Tradisi semacam ini telah lama berkembang dalam seni kontemporer dunia, ketika buku diperlakukan sebagai ruang artistik yang utuh, bukan hanya wadah teks.⁶

Membaca SNERAYUZA setelah kepergian Budhiana menghadirkan pengalaman yang berbeda. Setiap gambar menjadi perjumpaan terakhir. Setiap arsiran terasa seperti denyut tangan yang kini telah berhenti. Namun anehnya, justru di situlah Budhiana terasa paling hidup. Ia masih berbicara melalui garis. Melalui burung. Melalui rumah. Melalui pepohonan. Melalui studio yang telah berubah menjadi puisi.

Barangkali memang demikian cara seorang seniman tinggal setelah tubuhnya pergi. Ia tidak tinggal di museum. Ia tinggal dalam cara kita memandang dunia. Dan SNERAYUZA adalah salah satu rumah tempat Made Budhiana akan terus menetap. Terimakasi sahabat Gm. Sukawidana, telah mendedikasikan SNERAYUZA dalam sajak-sajakmu.[T]

Catatan Kaki:

  1. Jacques Derrida. (1995). Archive Fever: A Freudian Impression. University of Chicago Press; I Nyoman Darma Putra. (2011). A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. KITLV Press.
  2. W. J. T. Mitchell. (1994). Picture Theory. University of Chicago Press; Gotthold Ephraim Lessing. (1766/1984). Laocoön: An Essay upon the Limits of Painting and Poetry.
  3. Gaston Bachelard. (1958/1994). The Poetics of Space. Beacon Press; Yi-Fu Tuan. (1977). Space and Place. University of Minnesota Press.
  4. Tim Ingold. (2013). Making: Anthropology, Archaeology, Art and Architecture. Routledge; Bruno Latour. (2005). Reassembling the Social. Oxford University Press.
  5. James A. W. Heffernan. (1993). Museum of Words: The Poetics of Ekphrasis from Homer to Ashbery. University of Chicago Press.
  6. Johanna Drucker. (2004). The Century of Artists’ Books. Granary Books; Clive Phillpot. (1998). Booktrek: Selected Essays on Artists’ Books.
  7. Adrian Vickers. (2012). Bali: A Paradise Created. Tuttle Publishing; Michel Picard. (1996). Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture. Archipelago Press.

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Gm. SukawidanaSNERAYUZA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Next Post

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Bali di Persimpangan Kesadaran ------Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co