25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

IRZI by IRZI
July 12, 2026
in Ulas Buku
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah, dan kepala dijejali istilah-istilah yang terdengar ringan tetapi efeknya menetap—brain rot, overthinking, ghosting, orbiting. Tidak ada pembukaan yang rapi. Tidak ada aba-aba untuk bersiap. Dan mungkin memang tidak perlu. Buku puisi Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam karya Chris Triwarseno sejak awal seperti mengakui satu hal sederhana: hidup hari ini jarang memberi kita kesempatan untuk benar-benar memulai dari awal.

Puisi-puisi dalam buku ini tidak mengajak pembaca berdiri di jarak aman. Ia tidak memposisikan diri sebagai refleksi dari luar, apalagi sebagai suara yang lebih tahu. Chris Triwarseno menulis dari dalam situasi yang sudah kita kenal—ruang batin yang bising, rapuh, dan terlalu sadar diri. Sebuah ruang tempat pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sudah ingin berhenti, tempat perasaan diberi nama dengan cepat agar bisa segera dilanjutkan ke hal lain.

Judul-judul puisi dalam buku ini segera menandai medan bahasa yang sangat kontemporer. Brain Rot, Joy of Missing Out, Slow Living, Orbiting, Ghosting, Overthinking, Overanalyzing, Future Tripping—kosakata yang lahir dari budaya digital, psikologi populer, dan pengalaman hidup yang terfragmentasi oleh layar. Kata-kata ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, di pesan singkat, atau di unggahan media sosial. Ia membantu kita menjelaskan perasaan secara ringkas, efisien, dan tidak terlalu berisiko. Namun dalam buku ini, istilah-istilah tersebut tidak diperlakukan sebagai hiasan zaman. Ia justru diperlakukan sebagai gejala.

Roland Barthes pernah menulis bahwa bahasa sehari-hari tidak pernah sepenuhnya netral. Kata-kata yang tampak biasa sering kali membawa cara tertentu dalam memahami dunia. Dalam konteks ini, jargon emosional hari ini bisa dibaca sebagai mitologi baru: cara cepat untuk memberi nama pada kecemasan, luka, dan relasi agar tetap bisa berfungsi. Puisi-puisi Chris Triwarseno menahan jargon-jargon itu sejenak, membiarkannya bergema, lalu memperlihatkan beban yang diam-diam ia simpan.

Puisi pembuka, “Silent Walking”, menjadi penanda arah yang tenang tetapi tegas. Waktu tidak dihadirkan sebagai ancaman, bukan pula sebagai garis finis yang harus dikejar, melainkan sebagai figur yang berjalan dengan ritmenya sendiri:

waktu adalah pejalan kaki
yang menikmati perjalanannya sendiri

Metafora ini menggeser pusat perhatian dari kecepatan menuju keberjalanan. Hidup tidak diposisikan sebagai perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan sesuatu yang terus berlangsung—bahkan ketika kita kelelahan mengikutinya. Di tengah masyarakat yang, meminjam istilah Hartmut Rosa, mengalami social acceleration—segala sesuatu harus cepat, responsif, dan selalu tersedia—baris ini terasa seperti ajakan untuk menurunkan tempo, meski hanya sedikit.

Di sini, “diam” mulai hadir bukan sebagai ketiadaan suara, melainkan sebagai sikap. Sebuah cara berada yang tidak selalu reaktif, tidak selalu menjelaskan, dan tidak selalu menuntut kesimpulan. Diam menjadi ruang kecil untuk bernapas.

Kegaduhan mental kontemporer muncul paling terbuka dalam puisi “Brain Rot”. Chris Triwarseno tidak mengutuk kecanduan digital dari posisi moral yang aman. Ia memilih masuk ke tubuh masalah itu sendiri:

Aku tak ubahnya penyintas kerumitan,
yang terbaring di instalasi rawat inap.
Rebahan. Asyik dengan konten recehan

Nada ini jujur dan nyaris tanpa jarak. Penyair tidak menempatkan diri sebagai korban murni, tetapi juga tidak berpura-pura bebas dari masalah. Ia ada di dalamnya—lelah, sadar, dan tetap terjebak. Dalam pengertian Byung-Chul Han, kelelahan semacam ini bukan akibat tekanan eksternal semata, melainkan hasil dari tuntutan internal untuk terus aktif, terus sadar, dan terus terhubung. Puisi ini tidak menawarkan jalan keluar cepat. Ia memilih mengakui keadaan apa adanya.

Tema kecemasan berulang dalam “Overanalyzing”, dengan metafora laut, kedalaman, dan tenggelam yang konsisten. Salah satu baris kuncinya berbunyi:

tidak semua pertanyaan perlu jawaban,
seringkali kedalaman pertanyaan justru menenggelamkan jawaban.

Baris ini bisa dibaca sebagai sikap dasar buku ini. Chris Triwarseno tidak berambisi menyelesaikan kecemasan, apalagi mereduksinya menjadi pesan motivasional. Ia memilih berhenti sebelum kesimpulan mengeras. Sikap ini memberi ruang napas, meski sekaligus menciptakan zona aman—tempat perenungan tidak selalu dilanjutkan ke benturan.

Dalam “Joy of Missing Out”, buku ini mulai bersikap lebih curiga terhadap narasi populer tentang ketenangan dan pelarian. Puisi ini menyelipkan pertanyaan yang mengganggu:

mungkinkah tersembunyi kepura-puraan?

Pertanyaan ini penting karena mengingatkan bahwa bahkan “diam” pun bisa menjadi performatif. Dalam dunia yang gemar mengemas ketenangan sebagai gaya hidup, keheningan bisa berubah menjadi citra. Puisi ini seolah menegaskan bahwa diam perlu diuji, bukan sekadar dirayakan.

Relasi personal dalam buku ini bergerak di wilayah antara hadir dan absen. “Orbiting” membaca dinamika cinta digital dengan ketepatan observasional:

like & comment:
adalah senyawa luka
katalis sempurna cinta

Relasi digambarkan sebagai reaksi kimia singkat, berulang, dan menyisakan residu. Metafora ini kuat, meski keserupaannya di beberapa puisi membuat efeknya perlahan melemah. Namun “Connecting Love” menghadirkan metafora yang lebih segar dan kontekstual:

rindu dan cinta serupa connecting flight:
check in aja dulu!

Cinta dipahami sebagai proses menunggu, delay, dan kemungkinan salah tujuan—tanpa janji tiba tepat waktu. Di sini, kita bisa membaca bayangan pemikiran Barthes tentang bahasa cinta sebagai fragmen: terputus, berulang, dan sering kali tidak selesai. Bedanya, fragmen-fragmen dalam buku ini adalah fragmen digital—lebih singkat, lebih cepat hilang, dan sering kali lebih sunyi.

Keberanian tematik buku ini terlihat ketika puisi-puisi bergerak keluar dari ruang batin. Dalam “Konsesi Tarik Tambang”, bahasa menjadi lugas dan politis:

tugas rakyat: mengingatkan
tugas negara: melupakan

Di sini, “diam” memperoleh makna lain—bukan kontemplasi, melainkan pembungkaman. Peralihan dari lirisisme intim ke bahasa deklaratif terasa tajam, bahkan agak kasar, tetapi justru menegaskan bahwa tidak semua keheningan layak dirayakan.

“Neraka Iklim” melangkah lebih jauh dengan memasukkan data, suhu, dan statistik kematian. Puisi ini menanggalkan keindahan demi ketepatan. Ia menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu, puisi tidak perlu berbisik; ia perlu mencatat.

Sebaliknya, puisi-puisi tentang ibu dan kehilangan bergerak dengan langkah yang paling pelan. “Ratus Kamboja” memilih aroma sebagai medium duka:

di antara wewangian kamboja
yang meratus tubuhku

Tidak ada ledakan emosi, tidak ada penjelasan panjang. Kata berhenti tepat sebelum menjadi berlebihan. Di sinilah “yang paling dalam” benar-benar terasa—ketika bahasa tahu batasnya sendiri, dan tubuh menjadi pusat pengalaman, sebagaimana dikatakan Merleau-Ponty.

Prolog ini bukan peta yang menjelaskan ke mana pembaca harus sampai. Ia lebih menyerupai langkah pertama—sebuah pintu yang dibiarkan terbuka. Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam mengajak pembaca masuk ke wilayah yang mungkin sudah dikenal, tetapi jarang disinggahi dengan sungguh-sungguh: ruang tempat kegaduhan dan keheningan berdiri berdampingan. Halaman-halaman setelah ini bergerak dengan ritmenya sendiri—kadang pelan, kadang berulang, kadang nyaris sunyi. Bukan untuk segera memberi makna, melainkan untuk memberi waktu. Di sini, diam tidak datang sebagai kekosongan, melainkan sebagai cara mendengarkan yang lain—lebih pelan, lebih sabar, dan lebih jujur. [T]

Tags: buku puisikumpulan puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Next Post

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

IRZI

IRZI

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co