22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

IRZI by IRZI
July 12, 2026
in Ulas Buku
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah, dan kepala dijejali istilah-istilah yang terdengar ringan tetapi efeknya menetap—brain rot, overthinking, ghosting, orbiting. Tidak ada pembukaan yang rapi. Tidak ada aba-aba untuk bersiap. Dan mungkin memang tidak perlu. Buku puisi Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam karya Chris Triwarseno sejak awal seperti mengakui satu hal sederhana: hidup hari ini jarang memberi kita kesempatan untuk benar-benar memulai dari awal.

Puisi-puisi dalam buku ini tidak mengajak pembaca berdiri di jarak aman. Ia tidak memposisikan diri sebagai refleksi dari luar, apalagi sebagai suara yang lebih tahu. Chris Triwarseno menulis dari dalam situasi yang sudah kita kenal—ruang batin yang bising, rapuh, dan terlalu sadar diri. Sebuah ruang tempat pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sudah ingin berhenti, tempat perasaan diberi nama dengan cepat agar bisa segera dilanjutkan ke hal lain.

Judul-judul puisi dalam buku ini segera menandai medan bahasa yang sangat kontemporer. Brain Rot, Joy of Missing Out, Slow Living, Orbiting, Ghosting, Overthinking, Overanalyzing, Future Tripping—kosakata yang lahir dari budaya digital, psikologi populer, dan pengalaman hidup yang terfragmentasi oleh layar. Kata-kata ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, di pesan singkat, atau di unggahan media sosial. Ia membantu kita menjelaskan perasaan secara ringkas, efisien, dan tidak terlalu berisiko. Namun dalam buku ini, istilah-istilah tersebut tidak diperlakukan sebagai hiasan zaman. Ia justru diperlakukan sebagai gejala.

Roland Barthes pernah menulis bahwa bahasa sehari-hari tidak pernah sepenuhnya netral. Kata-kata yang tampak biasa sering kali membawa cara tertentu dalam memahami dunia. Dalam konteks ini, jargon emosional hari ini bisa dibaca sebagai mitologi baru: cara cepat untuk memberi nama pada kecemasan, luka, dan relasi agar tetap bisa berfungsi. Puisi-puisi Chris Triwarseno menahan jargon-jargon itu sejenak, membiarkannya bergema, lalu memperlihatkan beban yang diam-diam ia simpan.

Puisi pembuka, “Silent Walking”, menjadi penanda arah yang tenang tetapi tegas. Waktu tidak dihadirkan sebagai ancaman, bukan pula sebagai garis finis yang harus dikejar, melainkan sebagai figur yang berjalan dengan ritmenya sendiri:

waktu adalah pejalan kaki
yang menikmati perjalanannya sendiri

Metafora ini menggeser pusat perhatian dari kecepatan menuju keberjalanan. Hidup tidak diposisikan sebagai perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan sesuatu yang terus berlangsung—bahkan ketika kita kelelahan mengikutinya. Di tengah masyarakat yang, meminjam istilah Hartmut Rosa, mengalami social acceleration—segala sesuatu harus cepat, responsif, dan selalu tersedia—baris ini terasa seperti ajakan untuk menurunkan tempo, meski hanya sedikit.

Di sini, “diam” mulai hadir bukan sebagai ketiadaan suara, melainkan sebagai sikap. Sebuah cara berada yang tidak selalu reaktif, tidak selalu menjelaskan, dan tidak selalu menuntut kesimpulan. Diam menjadi ruang kecil untuk bernapas.

Kegaduhan mental kontemporer muncul paling terbuka dalam puisi “Brain Rot”. Chris Triwarseno tidak mengutuk kecanduan digital dari posisi moral yang aman. Ia memilih masuk ke tubuh masalah itu sendiri:

Aku tak ubahnya penyintas kerumitan,
yang terbaring di instalasi rawat inap.
Rebahan. Asyik dengan konten recehan

Nada ini jujur dan nyaris tanpa jarak. Penyair tidak menempatkan diri sebagai korban murni, tetapi juga tidak berpura-pura bebas dari masalah. Ia ada di dalamnya—lelah, sadar, dan tetap terjebak. Dalam pengertian Byung-Chul Han, kelelahan semacam ini bukan akibat tekanan eksternal semata, melainkan hasil dari tuntutan internal untuk terus aktif, terus sadar, dan terus terhubung. Puisi ini tidak menawarkan jalan keluar cepat. Ia memilih mengakui keadaan apa adanya.

Tema kecemasan berulang dalam “Overanalyzing”, dengan metafora laut, kedalaman, dan tenggelam yang konsisten. Salah satu baris kuncinya berbunyi:

tidak semua pertanyaan perlu jawaban,
seringkali kedalaman pertanyaan justru menenggelamkan jawaban.

Baris ini bisa dibaca sebagai sikap dasar buku ini. Chris Triwarseno tidak berambisi menyelesaikan kecemasan, apalagi mereduksinya menjadi pesan motivasional. Ia memilih berhenti sebelum kesimpulan mengeras. Sikap ini memberi ruang napas, meski sekaligus menciptakan zona aman—tempat perenungan tidak selalu dilanjutkan ke benturan.

Dalam “Joy of Missing Out”, buku ini mulai bersikap lebih curiga terhadap narasi populer tentang ketenangan dan pelarian. Puisi ini menyelipkan pertanyaan yang mengganggu:

mungkinkah tersembunyi kepura-puraan?

Pertanyaan ini penting karena mengingatkan bahwa bahkan “diam” pun bisa menjadi performatif. Dalam dunia yang gemar mengemas ketenangan sebagai gaya hidup, keheningan bisa berubah menjadi citra. Puisi ini seolah menegaskan bahwa diam perlu diuji, bukan sekadar dirayakan.

Relasi personal dalam buku ini bergerak di wilayah antara hadir dan absen. “Orbiting” membaca dinamika cinta digital dengan ketepatan observasional:

like & comment:
adalah senyawa luka
katalis sempurna cinta

Relasi digambarkan sebagai reaksi kimia singkat, berulang, dan menyisakan residu. Metafora ini kuat, meski keserupaannya di beberapa puisi membuat efeknya perlahan melemah. Namun “Connecting Love” menghadirkan metafora yang lebih segar dan kontekstual:

rindu dan cinta serupa connecting flight:
check in aja dulu!

Cinta dipahami sebagai proses menunggu, delay, dan kemungkinan salah tujuan—tanpa janji tiba tepat waktu. Di sini, kita bisa membaca bayangan pemikiran Barthes tentang bahasa cinta sebagai fragmen: terputus, berulang, dan sering kali tidak selesai. Bedanya, fragmen-fragmen dalam buku ini adalah fragmen digital—lebih singkat, lebih cepat hilang, dan sering kali lebih sunyi.

Keberanian tematik buku ini terlihat ketika puisi-puisi bergerak keluar dari ruang batin. Dalam “Konsesi Tarik Tambang”, bahasa menjadi lugas dan politis:

tugas rakyat: mengingatkan
tugas negara: melupakan

Di sini, “diam” memperoleh makna lain—bukan kontemplasi, melainkan pembungkaman. Peralihan dari lirisisme intim ke bahasa deklaratif terasa tajam, bahkan agak kasar, tetapi justru menegaskan bahwa tidak semua keheningan layak dirayakan.

“Neraka Iklim” melangkah lebih jauh dengan memasukkan data, suhu, dan statistik kematian. Puisi ini menanggalkan keindahan demi ketepatan. Ia menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu, puisi tidak perlu berbisik; ia perlu mencatat.

Sebaliknya, puisi-puisi tentang ibu dan kehilangan bergerak dengan langkah yang paling pelan. “Ratus Kamboja” memilih aroma sebagai medium duka:

di antara wewangian kamboja
yang meratus tubuhku

Tidak ada ledakan emosi, tidak ada penjelasan panjang. Kata berhenti tepat sebelum menjadi berlebihan. Di sinilah “yang paling dalam” benar-benar terasa—ketika bahasa tahu batasnya sendiri, dan tubuh menjadi pusat pengalaman, sebagaimana dikatakan Merleau-Ponty.

Prolog ini bukan peta yang menjelaskan ke mana pembaca harus sampai. Ia lebih menyerupai langkah pertama—sebuah pintu yang dibiarkan terbuka. Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam mengajak pembaca masuk ke wilayah yang mungkin sudah dikenal, tetapi jarang disinggahi dengan sungguh-sungguh: ruang tempat kegaduhan dan keheningan berdiri berdampingan. Halaman-halaman setelah ini bergerak dengan ritmenya sendiri—kadang pelan, kadang berulang, kadang nyaris sunyi. Bukan untuk segera memberi makna, melainkan untuk memberi waktu. Di sini, diam tidak datang sebagai kekosongan, melainkan sebagai cara mendengarkan yang lain—lebih pelan, lebih sabar, dan lebih jujur. [T]

Tags: buku puisikumpulan puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Next Post

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

IRZI

IRZI

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co