1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

IRZI by IRZI
July 12, 2026
in Ulas Buku
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah, dan kepala dijejali istilah-istilah yang terdengar ringan tetapi efeknya menetap—brain rot, overthinking, ghosting, orbiting. Tidak ada pembukaan yang rapi. Tidak ada aba-aba untuk bersiap. Dan mungkin memang tidak perlu. Buku puisi Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam karya Chris Triwarseno sejak awal seperti mengakui satu hal sederhana: hidup hari ini jarang memberi kita kesempatan untuk benar-benar memulai dari awal.

Puisi-puisi dalam buku ini tidak mengajak pembaca berdiri di jarak aman. Ia tidak memposisikan diri sebagai refleksi dari luar, apalagi sebagai suara yang lebih tahu. Chris Triwarseno menulis dari dalam situasi yang sudah kita kenal—ruang batin yang bising, rapuh, dan terlalu sadar diri. Sebuah ruang tempat pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sudah ingin berhenti, tempat perasaan diberi nama dengan cepat agar bisa segera dilanjutkan ke hal lain.

Judul-judul puisi dalam buku ini segera menandai medan bahasa yang sangat kontemporer. Brain Rot, Joy of Missing Out, Slow Living, Orbiting, Ghosting, Overthinking, Overanalyzing, Future Tripping—kosakata yang lahir dari budaya digital, psikologi populer, dan pengalaman hidup yang terfragmentasi oleh layar. Kata-kata ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, di pesan singkat, atau di unggahan media sosial. Ia membantu kita menjelaskan perasaan secara ringkas, efisien, dan tidak terlalu berisiko. Namun dalam buku ini, istilah-istilah tersebut tidak diperlakukan sebagai hiasan zaman. Ia justru diperlakukan sebagai gejala.

Roland Barthes pernah menulis bahwa bahasa sehari-hari tidak pernah sepenuhnya netral. Kata-kata yang tampak biasa sering kali membawa cara tertentu dalam memahami dunia. Dalam konteks ini, jargon emosional hari ini bisa dibaca sebagai mitologi baru: cara cepat untuk memberi nama pada kecemasan, luka, dan relasi agar tetap bisa berfungsi. Puisi-puisi Chris Triwarseno menahan jargon-jargon itu sejenak, membiarkannya bergema, lalu memperlihatkan beban yang diam-diam ia simpan.

Puisi pembuka, “Silent Walking”, menjadi penanda arah yang tenang tetapi tegas. Waktu tidak dihadirkan sebagai ancaman, bukan pula sebagai garis finis yang harus dikejar, melainkan sebagai figur yang berjalan dengan ritmenya sendiri:

waktu adalah pejalan kaki
yang menikmati perjalanannya sendiri

Metafora ini menggeser pusat perhatian dari kecepatan menuju keberjalanan. Hidup tidak diposisikan sebagai perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan sesuatu yang terus berlangsung—bahkan ketika kita kelelahan mengikutinya. Di tengah masyarakat yang, meminjam istilah Hartmut Rosa, mengalami social acceleration—segala sesuatu harus cepat, responsif, dan selalu tersedia—baris ini terasa seperti ajakan untuk menurunkan tempo, meski hanya sedikit.

Di sini, “diam” mulai hadir bukan sebagai ketiadaan suara, melainkan sebagai sikap. Sebuah cara berada yang tidak selalu reaktif, tidak selalu menjelaskan, dan tidak selalu menuntut kesimpulan. Diam menjadi ruang kecil untuk bernapas.

Kegaduhan mental kontemporer muncul paling terbuka dalam puisi “Brain Rot”. Chris Triwarseno tidak mengutuk kecanduan digital dari posisi moral yang aman. Ia memilih masuk ke tubuh masalah itu sendiri:

Aku tak ubahnya penyintas kerumitan,
yang terbaring di instalasi rawat inap.
Rebahan. Asyik dengan konten recehan

Nada ini jujur dan nyaris tanpa jarak. Penyair tidak menempatkan diri sebagai korban murni, tetapi juga tidak berpura-pura bebas dari masalah. Ia ada di dalamnya—lelah, sadar, dan tetap terjebak. Dalam pengertian Byung-Chul Han, kelelahan semacam ini bukan akibat tekanan eksternal semata, melainkan hasil dari tuntutan internal untuk terus aktif, terus sadar, dan terus terhubung. Puisi ini tidak menawarkan jalan keluar cepat. Ia memilih mengakui keadaan apa adanya.

Tema kecemasan berulang dalam “Overanalyzing”, dengan metafora laut, kedalaman, dan tenggelam yang konsisten. Salah satu baris kuncinya berbunyi:

tidak semua pertanyaan perlu jawaban,
seringkali kedalaman pertanyaan justru menenggelamkan jawaban.

Baris ini bisa dibaca sebagai sikap dasar buku ini. Chris Triwarseno tidak berambisi menyelesaikan kecemasan, apalagi mereduksinya menjadi pesan motivasional. Ia memilih berhenti sebelum kesimpulan mengeras. Sikap ini memberi ruang napas, meski sekaligus menciptakan zona aman—tempat perenungan tidak selalu dilanjutkan ke benturan.

Dalam “Joy of Missing Out”, buku ini mulai bersikap lebih curiga terhadap narasi populer tentang ketenangan dan pelarian. Puisi ini menyelipkan pertanyaan yang mengganggu:

mungkinkah tersembunyi kepura-puraan?

Pertanyaan ini penting karena mengingatkan bahwa bahkan “diam” pun bisa menjadi performatif. Dalam dunia yang gemar mengemas ketenangan sebagai gaya hidup, keheningan bisa berubah menjadi citra. Puisi ini seolah menegaskan bahwa diam perlu diuji, bukan sekadar dirayakan.

Relasi personal dalam buku ini bergerak di wilayah antara hadir dan absen. “Orbiting” membaca dinamika cinta digital dengan ketepatan observasional:

like & comment:
adalah senyawa luka
katalis sempurna cinta

Relasi digambarkan sebagai reaksi kimia singkat, berulang, dan menyisakan residu. Metafora ini kuat, meski keserupaannya di beberapa puisi membuat efeknya perlahan melemah. Namun “Connecting Love” menghadirkan metafora yang lebih segar dan kontekstual:

rindu dan cinta serupa connecting flight:
check in aja dulu!

Cinta dipahami sebagai proses menunggu, delay, dan kemungkinan salah tujuan—tanpa janji tiba tepat waktu. Di sini, kita bisa membaca bayangan pemikiran Barthes tentang bahasa cinta sebagai fragmen: terputus, berulang, dan sering kali tidak selesai. Bedanya, fragmen-fragmen dalam buku ini adalah fragmen digital—lebih singkat, lebih cepat hilang, dan sering kali lebih sunyi.

Keberanian tematik buku ini terlihat ketika puisi-puisi bergerak keluar dari ruang batin. Dalam “Konsesi Tarik Tambang”, bahasa menjadi lugas dan politis:

tugas rakyat: mengingatkan
tugas negara: melupakan

Di sini, “diam” memperoleh makna lain—bukan kontemplasi, melainkan pembungkaman. Peralihan dari lirisisme intim ke bahasa deklaratif terasa tajam, bahkan agak kasar, tetapi justru menegaskan bahwa tidak semua keheningan layak dirayakan.

“Neraka Iklim” melangkah lebih jauh dengan memasukkan data, suhu, dan statistik kematian. Puisi ini menanggalkan keindahan demi ketepatan. Ia menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu, puisi tidak perlu berbisik; ia perlu mencatat.

Sebaliknya, puisi-puisi tentang ibu dan kehilangan bergerak dengan langkah yang paling pelan. “Ratus Kamboja” memilih aroma sebagai medium duka:

di antara wewangian kamboja
yang meratus tubuhku

Tidak ada ledakan emosi, tidak ada penjelasan panjang. Kata berhenti tepat sebelum menjadi berlebihan. Di sinilah “yang paling dalam” benar-benar terasa—ketika bahasa tahu batasnya sendiri, dan tubuh menjadi pusat pengalaman, sebagaimana dikatakan Merleau-Ponty.

Prolog ini bukan peta yang menjelaskan ke mana pembaca harus sampai. Ia lebih menyerupai langkah pertama—sebuah pintu yang dibiarkan terbuka. Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam mengajak pembaca masuk ke wilayah yang mungkin sudah dikenal, tetapi jarang disinggahi dengan sungguh-sungguh: ruang tempat kegaduhan dan keheningan berdiri berdampingan. Halaman-halaman setelah ini bergerak dengan ritmenya sendiri—kadang pelan, kadang berulang, kadang nyaris sunyi. Bukan untuk segera memberi makna, melainkan untuk memberi waktu. Di sini, diam tidak datang sebagai kekosongan, melainkan sebagai cara mendengarkan yang lain—lebih pelan, lebih sabar, dan lebih jujur. [T]

Tags: buku puisikumpulan puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Next Post

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

IRZI

IRZI

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails
Next Post
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co