12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

IRZI by IRZI
July 12, 2026
in Ulas Buku
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah, dan kepala dijejali istilah-istilah yang terdengar ringan tetapi efeknya menetap—brain rot, overthinking, ghosting, orbiting. Tidak ada pembukaan yang rapi. Tidak ada aba-aba untuk bersiap. Dan mungkin memang tidak perlu. Buku puisi Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam karya Chris Triwarseno sejak awal seperti mengakui satu hal sederhana: hidup hari ini jarang memberi kita kesempatan untuk benar-benar memulai dari awal.

Puisi-puisi dalam buku ini tidak mengajak pembaca berdiri di jarak aman. Ia tidak memposisikan diri sebagai refleksi dari luar, apalagi sebagai suara yang lebih tahu. Chris Triwarseno menulis dari dalam situasi yang sudah kita kenal—ruang batin yang bising, rapuh, dan terlalu sadar diri. Sebuah ruang tempat pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sudah ingin berhenti, tempat perasaan diberi nama dengan cepat agar bisa segera dilanjutkan ke hal lain.

Judul-judul puisi dalam buku ini segera menandai medan bahasa yang sangat kontemporer. Brain Rot, Joy of Missing Out, Slow Living, Orbiting, Ghosting, Overthinking, Overanalyzing, Future Tripping—kosakata yang lahir dari budaya digital, psikologi populer, dan pengalaman hidup yang terfragmentasi oleh layar. Kata-kata ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, di pesan singkat, atau di unggahan media sosial. Ia membantu kita menjelaskan perasaan secara ringkas, efisien, dan tidak terlalu berisiko. Namun dalam buku ini, istilah-istilah tersebut tidak diperlakukan sebagai hiasan zaman. Ia justru diperlakukan sebagai gejala.

Roland Barthes pernah menulis bahwa bahasa sehari-hari tidak pernah sepenuhnya netral. Kata-kata yang tampak biasa sering kali membawa cara tertentu dalam memahami dunia. Dalam konteks ini, jargon emosional hari ini bisa dibaca sebagai mitologi baru: cara cepat untuk memberi nama pada kecemasan, luka, dan relasi agar tetap bisa berfungsi. Puisi-puisi Chris Triwarseno menahan jargon-jargon itu sejenak, membiarkannya bergema, lalu memperlihatkan beban yang diam-diam ia simpan.

Puisi pembuka, “Silent Walking”, menjadi penanda arah yang tenang tetapi tegas. Waktu tidak dihadirkan sebagai ancaman, bukan pula sebagai garis finis yang harus dikejar, melainkan sebagai figur yang berjalan dengan ritmenya sendiri:

waktu adalah pejalan kaki
yang menikmati perjalanannya sendiri

Metafora ini menggeser pusat perhatian dari kecepatan menuju keberjalanan. Hidup tidak diposisikan sebagai perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan sesuatu yang terus berlangsung—bahkan ketika kita kelelahan mengikutinya. Di tengah masyarakat yang, meminjam istilah Hartmut Rosa, mengalami social acceleration—segala sesuatu harus cepat, responsif, dan selalu tersedia—baris ini terasa seperti ajakan untuk menurunkan tempo, meski hanya sedikit.

Di sini, “diam” mulai hadir bukan sebagai ketiadaan suara, melainkan sebagai sikap. Sebuah cara berada yang tidak selalu reaktif, tidak selalu menjelaskan, dan tidak selalu menuntut kesimpulan. Diam menjadi ruang kecil untuk bernapas.

Kegaduhan mental kontemporer muncul paling terbuka dalam puisi “Brain Rot”. Chris Triwarseno tidak mengutuk kecanduan digital dari posisi moral yang aman. Ia memilih masuk ke tubuh masalah itu sendiri:

Aku tak ubahnya penyintas kerumitan,
yang terbaring di instalasi rawat inap.
Rebahan. Asyik dengan konten recehan

Nada ini jujur dan nyaris tanpa jarak. Penyair tidak menempatkan diri sebagai korban murni, tetapi juga tidak berpura-pura bebas dari masalah. Ia ada di dalamnya—lelah, sadar, dan tetap terjebak. Dalam pengertian Byung-Chul Han, kelelahan semacam ini bukan akibat tekanan eksternal semata, melainkan hasil dari tuntutan internal untuk terus aktif, terus sadar, dan terus terhubung. Puisi ini tidak menawarkan jalan keluar cepat. Ia memilih mengakui keadaan apa adanya.

Tema kecemasan berulang dalam “Overanalyzing”, dengan metafora laut, kedalaman, dan tenggelam yang konsisten. Salah satu baris kuncinya berbunyi:

tidak semua pertanyaan perlu jawaban,
seringkali kedalaman pertanyaan justru menenggelamkan jawaban.

Baris ini bisa dibaca sebagai sikap dasar buku ini. Chris Triwarseno tidak berambisi menyelesaikan kecemasan, apalagi mereduksinya menjadi pesan motivasional. Ia memilih berhenti sebelum kesimpulan mengeras. Sikap ini memberi ruang napas, meski sekaligus menciptakan zona aman—tempat perenungan tidak selalu dilanjutkan ke benturan.

Dalam “Joy of Missing Out”, buku ini mulai bersikap lebih curiga terhadap narasi populer tentang ketenangan dan pelarian. Puisi ini menyelipkan pertanyaan yang mengganggu:

mungkinkah tersembunyi kepura-puraan?

Pertanyaan ini penting karena mengingatkan bahwa bahkan “diam” pun bisa menjadi performatif. Dalam dunia yang gemar mengemas ketenangan sebagai gaya hidup, keheningan bisa berubah menjadi citra. Puisi ini seolah menegaskan bahwa diam perlu diuji, bukan sekadar dirayakan.

Relasi personal dalam buku ini bergerak di wilayah antara hadir dan absen. “Orbiting” membaca dinamika cinta digital dengan ketepatan observasional:

like & comment:
adalah senyawa luka
katalis sempurna cinta

Relasi digambarkan sebagai reaksi kimia singkat, berulang, dan menyisakan residu. Metafora ini kuat, meski keserupaannya di beberapa puisi membuat efeknya perlahan melemah. Namun “Connecting Love” menghadirkan metafora yang lebih segar dan kontekstual:

rindu dan cinta serupa connecting flight:
check in aja dulu!

Cinta dipahami sebagai proses menunggu, delay, dan kemungkinan salah tujuan—tanpa janji tiba tepat waktu. Di sini, kita bisa membaca bayangan pemikiran Barthes tentang bahasa cinta sebagai fragmen: terputus, berulang, dan sering kali tidak selesai. Bedanya, fragmen-fragmen dalam buku ini adalah fragmen digital—lebih singkat, lebih cepat hilang, dan sering kali lebih sunyi.

Keberanian tematik buku ini terlihat ketika puisi-puisi bergerak keluar dari ruang batin. Dalam “Konsesi Tarik Tambang”, bahasa menjadi lugas dan politis:

tugas rakyat: mengingatkan
tugas negara: melupakan

Di sini, “diam” memperoleh makna lain—bukan kontemplasi, melainkan pembungkaman. Peralihan dari lirisisme intim ke bahasa deklaratif terasa tajam, bahkan agak kasar, tetapi justru menegaskan bahwa tidak semua keheningan layak dirayakan.

“Neraka Iklim” melangkah lebih jauh dengan memasukkan data, suhu, dan statistik kematian. Puisi ini menanggalkan keindahan demi ketepatan. Ia menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu, puisi tidak perlu berbisik; ia perlu mencatat.

Sebaliknya, puisi-puisi tentang ibu dan kehilangan bergerak dengan langkah yang paling pelan. “Ratus Kamboja” memilih aroma sebagai medium duka:

di antara wewangian kamboja
yang meratus tubuhku

Tidak ada ledakan emosi, tidak ada penjelasan panjang. Kata berhenti tepat sebelum menjadi berlebihan. Di sinilah “yang paling dalam” benar-benar terasa—ketika bahasa tahu batasnya sendiri, dan tubuh menjadi pusat pengalaman, sebagaimana dikatakan Merleau-Ponty.

Prolog ini bukan peta yang menjelaskan ke mana pembaca harus sampai. Ia lebih menyerupai langkah pertama—sebuah pintu yang dibiarkan terbuka. Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam mengajak pembaca masuk ke wilayah yang mungkin sudah dikenal, tetapi jarang disinggahi dengan sungguh-sungguh: ruang tempat kegaduhan dan keheningan berdiri berdampingan. Halaman-halaman setelah ini bergerak dengan ritmenya sendiri—kadang pelan, kadang berulang, kadang nyaris sunyi. Bukan untuk segera memberi makna, melainkan untuk memberi waktu. Di sini, diam tidak datang sebagai kekosongan, melainkan sebagai cara mendengarkan yang lain—lebih pelan, lebih sabar, dan lebih jujur. [T]

Tags: buku puisikumpulan puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

IRZI

IRZI

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/

Related Posts

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

HAL pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co