22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Agung Bawantara by Agung Bawantara
July 12, 2026
in Esai
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang Pink Floyd. Sesekali Scorpions.

Musik itu mengalun di antara kanvas-kanvas yang bersandar di dinding, rak lukisan di dekat plafon, tumpukan buku seni rupa, kaset, VCD, DVD, LaserDisc, dan piringan hitam. Di sela-selanya berdiri kaleng-kaleng bekas yang telah berubah menjadi benda seni. Studio itu bernama Znerayusa, di Jalan Bung Tomo, Ubung, Denpasar.

Rumah itu tidak pernah berusaha mengesankan siapa pun. Ia seperti tumbuh mengikuti kehidupan pemiliknya. Sebagian ruang hampir tanpa sekat. Di mana-mana berdiri atau bersandar kanvas berbagai ukuran. Di dekat plafon terdapat rak panjang tempat lukisan-lukisan disimpan, yang hanya bisa dijangkau melalui tangga besi atau tangga gantung dari tali. Saya selalu membayangkan hanya orang yang masih memiliki kelincahan seperti Budhi di masa mudanya yang sanggup naik turun dengan nyaman melalui tangga itu.

Di halaman, batu-batu diletakkan begitu saja. Atau lebih tepatnya, sengaja dibiarkan seolah-olah alam sendiri yang menaruhnya ribuan tahun silam. Rumput liar tumbuh tanpa pernah terlihat liar. Ketika kebun itu lama tak dirawat, ia tidak berubah menjadi semak yang menyedihkan. Ia justru tampak seperti lanskap yang memang memilih tumbuh demikian.

Di sisi bangunan terdapat tempat berolahraga yang ia rancang sendiri. Saya beberapa kali melihatnya bergelantungan pada dua lingkaran besi, melakukan gerakan yang mengingatkan saya pada yoga. Tubuhnya bergerak ringan, seperti masih menyimpan tenaga seorang anak muda.

Di bagian belakang berdiri sebuah jineng yang disulap menjadi kamar tamu. Di bawahnya terdapat ruang lesehan. Beberapa kursi santai menghadap ke bangunan utama, yang empernya sewaktu-waktu dapat berubah menjadi panggung. Saya membayangkan tak terhitung percakapan tentang seni, sastra, musik, atau sekadar kehidupan yang lahir di sana.

Saya datang pertama kali ke Znerayusa bukan untuk melukis. Malam itu Putu Satria Koesuma menggelar Pentas 100 Monolog. Saat itu saya masih mengelola Denpasar Film Festival yang berfokus pada pengembangan film dokumenter. Di antara para penonton saya bertemu Made Adnyana Ole bersama istri dan anaknya. Menjelang pertunjukan dimulai, saya berbincang dengan Wayan Jengki Sunarta. Saya masih ingat pernah berkata kepada Jengki bahwa Ole sebenarnya memenuhi banyak syarat untuk menginisiasi sebuah festival besar. Percakapan kecil itu mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain. Tetapi bagi saya, malam itu menjadi awal dari perkenalan dengan rumah yang kelak berkali-kali saya datangi.

Sebenarnya nama Made Budhiana sudah lebih dulu saya kenal daripada orangnya.

Bertahun-tahun sebelumnya, ketika masih tinggal di Jakarta dan bekerja di dunia media serta film, saya sering menjumpai namanya dalam tulisan-tulisan seni rupa. Saya juga mengenalnya melalui katalog-katalog pameran. Satu di antaranya lewat buku yang ditulis almarhum Ayip Budiman terbitan MataMera. Di situ saya pertama kali melihat foto Budhi. Potret hitam putih karya Rama Surya. Saya belum mengenalnya. Tetapi dari tulisan-tulisan itu saya merasa sedang membaca kisah seorang pelukis yang tak pernah benar-benar puas mengikuti jalan yang telah dibuka orang lain. Ia belajar kepada banyak pendahulu. Namun pada suatu persimpangan, ia memilih berjalan sendirian.

Made Budhiana lahir di Denpasar pada 27 Maret 1959 dan menempuh pendidikan seni rupa di ISI Yogyakarta. Karya-karyanya kemudian dipamerkan di Jerman, Swiss, Australia, Belanda, Singapura, Malaysia, dan berbagai kota di Indonesia. Ia menerima sejumlah penghargaan, termasuk Bali Art Award dan Pratisara Affandi Adhi Karya.

Namun daftar riwayat hidup itu tidak pernah cukup menjelaskan siapa Budhi.

Studio itu terasa hidup bahkan ketika tak ada orang berbicara. Orang datang silih berganti: perupa, penyair, musisi, komposer, penulis, pengamat seni, atau sekadar kawan yang ingin menghabiskan sore di sana. Saya beberapa kali berjumpa Wayan Yudane, Nyoman Erawan, Dewa Budjana, Tan Lioe Ie, Dewa Budjana, Arief B Prasetyo, almarhumah Cok Sawitri, dan banyak seniman lain dari Bali maupun luar Bali. Seniman dari luar Bali juga banyak bertandang ke sana. Ada Sutjipto Hadi, Raudal Tanjung Banua, AS Laksana, Sawung Jabo, dan banya lagi. Di lain waktu hadir wajah-wajah baru, termasuk para perupa muda yang datang untuk belajar atau sekadar berbincang.

Lama-kelamaan saya menyadari sesuatu. Hampir setiap orang yang datang ke Znerayusa merasa dirinya sahabat dekat Budhi. Dan mungkin memang begitu. Budhi tidak pernah membuat orang merasa sebagai tamu. Ia membuat setiap orang merasa menjadi bagian dari rumah itu.

Berbeda dengan banyak seniman yang menjaga jarak melalui reputasinya, Budhi justru menghapus jarak dengan percakapan. Ia lebih suka bertanya daripada bercerita tentang dirinya sendiri. Ia lebih sering mempersilakan orang lain berkarya daripada memamerkan karya-karyanya.

Setiap kali saya datang, Budhi hampir selalu mengajak saya melukis. Saya selalu menolak dengan alasan yang sama: saya bukan pelukis. Ia hanya tersenyum, seolah tahu suatu hari saya akan berhenti mengucapkannya.

*

Pada suatu siang di Rumah Sanur—creative hub yang kini sudah tutup—Budhi menjelaskan kepada saya sesuatu yang belakangan saya sadari bukan sekadar cara melukis. Itu adalah cara menjalani hidup.

Kami sedang minum kopi. Saya sudah lupa bagaimana percakapan itu bermula. Yang masih saya ingat hanyalah suaranya yang pelan.

“Melukis itu, Gung, menyelaraskan pikiran, perasaan, dan emosi.”

Ia mengatakannya tanpa nada menggurui, seolah sedang menceritakan sesuatu yang sangat sederhana.

“Mula-mula kenali dengan pikiranmu apa yang hendak kamu lukis. Kenali juga alat yang kamu pakai. Jangan merasa tahu kalau memang belum tahu. Jangan memaksakan diri menjadi orang lain.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Sesudah itu, hayati semuanya dengan perasaan. Kalau sudah, lupakan pikiran dan perasaanmu. Lukislah dengan emosi.”

Ia lalu memberi contoh yang tak pernah saya lupakan.

“Kalau kamu mendengar suara burung, lukis suara itu. Kalau ada orang ribut, lukis keributannya. Kalau ada teman datang mengeluh tentang hidupnya, jangan merasa terganggu. Dengarkan saja. Lukiskan semuanya.”

Ia tersenyum tipis.

“Nanti ketika temanmu selesai curhat, lukisanmu juga selesai.”

Bertahun-tahun kemudian saya baru mengerti, Budhi sebenarnya sedang berbicara tentang kejujuran. Bukan tentang teknik. Budhi tidak pernah terlalu tertarik pada teknik sebagai tujuan. Teknik baginya hanyalah kendaraan.

Untuk menjelaskan maksudnya, ia mengambil contoh yang sama sekali tidak berhubungan dengan seni. Motor trail.

Berkali-kali saya melihatnya datang dengan motor trail. Baginya, cara melukis tak berbeda dengan cara mengendarai motor itu.

“Kalau mau menyalip kendaraan,” katanya, “pertama kamu hitung dengan pikiranmu. Aman atau tidak. Lalu rasakan. Sesudah yakin…”

Ia membuat gerakan tangan seperti menarik gas.

“…baru tancap. Jangan lagi berpikir. Jangan lagi bermain rasa. Cukup emosi.”

  • BACA JUGA:
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Sejak percakapan itu, setiap kali saya datang ke Znerayusa, Budhi hampir selalu sudah menyiapkan kertas, cat, dan kuas. Ia tidak lagi mempersoalkan apakah saya merasa diri pelukis atau bukan. Yang penting saya mulai menggoreskan kuas.

Satu kalimat yang paling sering diulangnya hanya ini: “Tak akan ada yang salah.”

Semula saya mengira itu sekadar penyemangat. Belakangan saya paham, ia sungguh mempercayainya. Kejujuran lebih penting daripada kesempurnaan.

Budhi percaya semua yang ditangkap pancaindra dapat berpindah ke atas kanvas: suara, cahaya, bau, percakapan, bahkan kegaduhan. Karena itulah saya tak pernah benar-benar menganggap lukisan-lukisannya sebagai abstraksi. Di antara garis-garis yang bergerak saya masih melihat perahu, pura, pohon, gunung, wajah manusia, atau binatang yang sesaat muncul lalu menghilang. Budhi tidak melukis benda. Ia melukis pengalaman.

Belakangan saya mengetahui salah satu guru terpentingnya bukanlah pelukis besar. Namanya Ni Tunjung, perempuan yang hidup menyendiri di pesisir timur Bali dan oleh sebagian orang dianggap tidak waras. Setiap hari ia menggambar batu kali dan batu karang dengan kapur tulis. Budhi datang bukan untuk mengajarinya, melainkan belajar darinya. Nyonyo Esha merekam perjumpaan itu dalam sebuah film dokumenter.

Kisah itu, bagi saya, menjelaskan Budhi lebih baik daripada daftar panjang pameran internasasional dan penghargaan yang pernah diraihnya. Di tengah reputasinya, ia justru memilih berguru kepada seseorang yang nyaris tak dikenal dunia seni. Ia tidak mencari legitimasi. Ia mencari kejujuran.

*

Empat tahun terakhir saya semakin jarang datang ke Znerayusa.

Istri saya berjuang melawan kanker payudara. Sebagian besar waktu, tenaga, dan pikiran saya tercurah untuk merawatnya. Saya masih mengikuti kabar Budhi melalui media sosial. Hampir setiap kali saya mengunggah sesuatu, ia menyempatkan memberi komentar. Saya pun selalu menikmati unggahan-unggahannya; kadang sebuah lukisan yang baru selesai, kadang sekadar potongan peristiwa sehari-hari yang ia pandang dengan mata seorang seniman.

Saya bahkan tidak sempat menghadiri pameran Pinara Pitu di Santrian Gallery, Sanur. Pameran itu mempertemukan kembali tujuh anggota Kelompok 7 Sanggar Dewata Indonesia angkatan 1990, sebuah kelompok yang memiliki tempat penting dalam perjalanan seni rupa Bali. Saya hanya mengikuti kabarnya dari jauh dan berjanji, suatu saat nanti saya akan kembali lebih sering datang ke studionya.

Janji itu baru terasa penting setelah istri saya berpulang. Dua bulan lebih saya memilih berdiam di rumah. Dunia di luar terasa berjalan terlalu cepat. Ketika perlahan saya mulai merasa siap kembali bekerja dan bertemu orang-orang, ada satu tempat yang paling ingin saya datangi. Znerayusa.

Saya membayangkan kembali duduk di sana. Menulis, mengedit video, lalu sesekali mengambil kuas ketika Budhi mengajak melukis. Saya bahkan sudah membuat semacam janji kecil kepada diri sendiri: setidaknya seminggu sekali saya akan datang.

Rencana itu ternyata terlambat.

  • BACA JUGA:
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

Ketika saya menjenguknya di rumah sakit, Budhi masih melukis. Selang infus menempel di lengannya, tetapi kuas tetap berada di tangannya. Saya sempat merekamnya dengan telepon genggam. Ia bahkan memperlihatkan video yang dibuatnya sendiri ketika dipindahkan dari ruang UGD menuju ruang perawatan.

Saya sempat mengantarnya menjalani operasi kedua. Saat itulah saya mendengar dugaan bahwa kanker telah menjalar ke organ dalamnya. Sesudah operasi itu, saya lebih banyak mengikuti kabarnya melalui Alwy yang setia menemaninya bersama Muda Wijaya dan Nuryana Asmaudi.

Jumat subuh, 10 Juli 2026, dalam perjalanan pulang dari Surabaya, saya mengirim pesan kepada Alwy untuk menanyakan keadaan Budhi. Tak lama kemudian ia mengirim foto selasar ruang ICU. Saya memandangnya cukup lama dan memutuskan akan langsung menjenguk Budhi setiba di Bali.

Pukul sebelas siang, sebelum niat itu sempat saya lakukan, Wayan Jengki Sunarta mengabarkan bahwa Budhi telah berpulang.

Saya terdiam.

Yang terlintas bukanlah pelukis yang pernah berpameran di Jerman, Australia, Belanda, Swiss, Singapura, atau Malaysia. Bukan pula penerima berbagai penghargaan itu. Yang saya ingat justru sebuah studio di Jalan Bung Tomo, musik The Doors yang diputar keras-keras, cat dan kuas yang selalu sudah disiapkan, serta seorang lelaki yang tak pernah lelah mengajak saya melukis.

Saya tidak pernah sempat memenuhi janji kepada diri sendiri untuk kembali lebih sering datang ke Znerayusa. Mungkin memang begitulah cara seorang guru tetap tinggal. Ia tidak lagi membuka pintu studio atau menyodorkan kuas.

“Tak akan ada yang salah.” [T]

Tags: Made BudhianaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Next Post

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails
Next Post
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  ---Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co