1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Agung Bawantara by Agung Bawantara
July 12, 2026
in Esai
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang Pink Floyd. Sesekali Scorpions.

Musik itu mengalun di antara kanvas-kanvas yang bersandar di dinding, rak lukisan di dekat plafon, tumpukan buku seni rupa, kaset, VCD, DVD, LaserDisc, dan piringan hitam. Di sela-selanya berdiri kaleng-kaleng bekas yang telah berubah menjadi benda seni. Studio itu bernama Znerayusa, di Jalan Bung Tomo, Ubung, Denpasar.

Rumah itu tidak pernah berusaha mengesankan siapa pun. Ia seperti tumbuh mengikuti kehidupan pemiliknya. Sebagian ruang hampir tanpa sekat. Di mana-mana berdiri atau bersandar kanvas berbagai ukuran. Di dekat plafon terdapat rak panjang tempat lukisan-lukisan disimpan, yang hanya bisa dijangkau melalui tangga besi atau tangga gantung dari tali. Saya selalu membayangkan hanya orang yang masih memiliki kelincahan seperti Budhi di masa mudanya yang sanggup naik turun dengan nyaman melalui tangga itu.

Di halaman, batu-batu diletakkan begitu saja. Atau lebih tepatnya, sengaja dibiarkan seolah-olah alam sendiri yang menaruhnya ribuan tahun silam. Rumput liar tumbuh tanpa pernah terlihat liar. Ketika kebun itu lama tak dirawat, ia tidak berubah menjadi semak yang menyedihkan. Ia justru tampak seperti lanskap yang memang memilih tumbuh demikian.

Di sisi bangunan terdapat tempat berolahraga yang ia rancang sendiri. Saya beberapa kali melihatnya bergelantungan pada dua lingkaran besi, melakukan gerakan yang mengingatkan saya pada yoga. Tubuhnya bergerak ringan, seperti masih menyimpan tenaga seorang anak muda.

Di bagian belakang berdiri sebuah jineng yang disulap menjadi kamar tamu. Di bawahnya terdapat ruang lesehan. Beberapa kursi santai menghadap ke bangunan utama, yang empernya sewaktu-waktu dapat berubah menjadi panggung. Saya membayangkan tak terhitung percakapan tentang seni, sastra, musik, atau sekadar kehidupan yang lahir di sana.

Saya datang pertama kali ke Znerayusa bukan untuk melukis. Malam itu Putu Satria Koesuma menggelar Pentas 100 Monolog. Saat itu saya masih mengelola Denpasar Film Festival yang berfokus pada pengembangan film dokumenter. Di antara para penonton saya bertemu Made Adnyana Ole bersama istri dan anaknya. Menjelang pertunjukan dimulai, saya berbincang dengan Wayan Jengki Sunarta. Saya masih ingat pernah berkata kepada Jengki bahwa Ole sebenarnya memenuhi banyak syarat untuk menginisiasi sebuah festival besar. Percakapan kecil itu mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain. Tetapi bagi saya, malam itu menjadi awal dari perkenalan dengan rumah yang kelak berkali-kali saya datangi.

Sebenarnya nama Made Budhiana sudah lebih dulu saya kenal daripada orangnya.

Bertahun-tahun sebelumnya, ketika masih tinggal di Jakarta dan bekerja di dunia media serta film, saya sering menjumpai namanya dalam tulisan-tulisan seni rupa. Saya juga mengenalnya melalui katalog-katalog pameran. Satu di antaranya lewat buku yang ditulis almarhum Ayip Budiman terbitan MataMera. Di situ saya pertama kali melihat foto Budhi. Potret hitam putih karya Rama Surya. Saya belum mengenalnya. Tetapi dari tulisan-tulisan itu saya merasa sedang membaca kisah seorang pelukis yang tak pernah benar-benar puas mengikuti jalan yang telah dibuka orang lain. Ia belajar kepada banyak pendahulu. Namun pada suatu persimpangan, ia memilih berjalan sendirian.

Made Budhiana lahir di Denpasar pada 27 Maret 1959 dan menempuh pendidikan seni rupa di ISI Yogyakarta. Karya-karyanya kemudian dipamerkan di Jerman, Swiss, Australia, Belanda, Singapura, Malaysia, dan berbagai kota di Indonesia. Ia menerima sejumlah penghargaan, termasuk Bali Art Award dan Pratisara Affandi Adhi Karya.

Namun daftar riwayat hidup itu tidak pernah cukup menjelaskan siapa Budhi.

Studio itu terasa hidup bahkan ketika tak ada orang berbicara. Orang datang silih berganti: perupa, penyair, musisi, komposer, penulis, pengamat seni, atau sekadar kawan yang ingin menghabiskan sore di sana. Saya beberapa kali berjumpa Wayan Yudane, Nyoman Erawan, Dewa Budjana, Tan Lioe Ie, Dewa Budjana, Arief B Prasetyo, almarhumah Cok Sawitri, dan banyak seniman lain dari Bali maupun luar Bali. Seniman dari luar Bali juga banyak bertandang ke sana. Ada Sutjipto Hadi, Raudal Tanjung Banua, AS Laksana, Sawung Jabo, dan banya lagi. Di lain waktu hadir wajah-wajah baru, termasuk para perupa muda yang datang untuk belajar atau sekadar berbincang.

Lama-kelamaan saya menyadari sesuatu. Hampir setiap orang yang datang ke Znerayusa merasa dirinya sahabat dekat Budhi. Dan mungkin memang begitu. Budhi tidak pernah membuat orang merasa sebagai tamu. Ia membuat setiap orang merasa menjadi bagian dari rumah itu.

Berbeda dengan banyak seniman yang menjaga jarak melalui reputasinya, Budhi justru menghapus jarak dengan percakapan. Ia lebih suka bertanya daripada bercerita tentang dirinya sendiri. Ia lebih sering mempersilakan orang lain berkarya daripada memamerkan karya-karyanya.

Setiap kali saya datang, Budhi hampir selalu mengajak saya melukis. Saya selalu menolak dengan alasan yang sama: saya bukan pelukis. Ia hanya tersenyum, seolah tahu suatu hari saya akan berhenti mengucapkannya.

*

Pada suatu siang di Rumah Sanur—creative hub yang kini sudah tutup—Budhi menjelaskan kepada saya sesuatu yang belakangan saya sadari bukan sekadar cara melukis. Itu adalah cara menjalani hidup.

Kami sedang minum kopi. Saya sudah lupa bagaimana percakapan itu bermula. Yang masih saya ingat hanyalah suaranya yang pelan.

“Melukis itu, Gung, menyelaraskan pikiran, perasaan, dan emosi.”

Ia mengatakannya tanpa nada menggurui, seolah sedang menceritakan sesuatu yang sangat sederhana.

“Mula-mula kenali dengan pikiranmu apa yang hendak kamu lukis. Kenali juga alat yang kamu pakai. Jangan merasa tahu kalau memang belum tahu. Jangan memaksakan diri menjadi orang lain.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Sesudah itu, hayati semuanya dengan perasaan. Kalau sudah, lupakan pikiran dan perasaanmu. Lukislah dengan emosi.”

Ia lalu memberi contoh yang tak pernah saya lupakan.

“Kalau kamu mendengar suara burung, lukis suara itu. Kalau ada orang ribut, lukis keributannya. Kalau ada teman datang mengeluh tentang hidupnya, jangan merasa terganggu. Dengarkan saja. Lukiskan semuanya.”

Ia tersenyum tipis.

“Nanti ketika temanmu selesai curhat, lukisanmu juga selesai.”

Bertahun-tahun kemudian saya baru mengerti, Budhi sebenarnya sedang berbicara tentang kejujuran. Bukan tentang teknik. Budhi tidak pernah terlalu tertarik pada teknik sebagai tujuan. Teknik baginya hanyalah kendaraan.

Untuk menjelaskan maksudnya, ia mengambil contoh yang sama sekali tidak berhubungan dengan seni. Motor trail.

Berkali-kali saya melihatnya datang dengan motor trail. Baginya, cara melukis tak berbeda dengan cara mengendarai motor itu.

“Kalau mau menyalip kendaraan,” katanya, “pertama kamu hitung dengan pikiranmu. Aman atau tidak. Lalu rasakan. Sesudah yakin…”

Ia membuat gerakan tangan seperti menarik gas.

“…baru tancap. Jangan lagi berpikir. Jangan lagi bermain rasa. Cukup emosi.”

  • BACA JUGA:
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Sejak percakapan itu, setiap kali saya datang ke Znerayusa, Budhi hampir selalu sudah menyiapkan kertas, cat, dan kuas. Ia tidak lagi mempersoalkan apakah saya merasa diri pelukis atau bukan. Yang penting saya mulai menggoreskan kuas.

Satu kalimat yang paling sering diulangnya hanya ini: “Tak akan ada yang salah.”

Semula saya mengira itu sekadar penyemangat. Belakangan saya paham, ia sungguh mempercayainya. Kejujuran lebih penting daripada kesempurnaan.

Budhi percaya semua yang ditangkap pancaindra dapat berpindah ke atas kanvas: suara, cahaya, bau, percakapan, bahkan kegaduhan. Karena itulah saya tak pernah benar-benar menganggap lukisan-lukisannya sebagai abstraksi. Di antara garis-garis yang bergerak saya masih melihat perahu, pura, pohon, gunung, wajah manusia, atau binatang yang sesaat muncul lalu menghilang. Budhi tidak melukis benda. Ia melukis pengalaman.

Belakangan saya mengetahui salah satu guru terpentingnya bukanlah pelukis besar. Namanya Ni Tunjung, perempuan yang hidup menyendiri di pesisir timur Bali dan oleh sebagian orang dianggap tidak waras. Setiap hari ia menggambar batu kali dan batu karang dengan kapur tulis. Budhi datang bukan untuk mengajarinya, melainkan belajar darinya. Nyonyo Esha merekam perjumpaan itu dalam sebuah film dokumenter.

Kisah itu, bagi saya, menjelaskan Budhi lebih baik daripada daftar panjang pameran internasasional dan penghargaan yang pernah diraihnya. Di tengah reputasinya, ia justru memilih berguru kepada seseorang yang nyaris tak dikenal dunia seni. Ia tidak mencari legitimasi. Ia mencari kejujuran.

*

Empat tahun terakhir saya semakin jarang datang ke Znerayusa.

Istri saya berjuang melawan kanker payudara. Sebagian besar waktu, tenaga, dan pikiran saya tercurah untuk merawatnya. Saya masih mengikuti kabar Budhi melalui media sosial. Hampir setiap kali saya mengunggah sesuatu, ia menyempatkan memberi komentar. Saya pun selalu menikmati unggahan-unggahannya; kadang sebuah lukisan yang baru selesai, kadang sekadar potongan peristiwa sehari-hari yang ia pandang dengan mata seorang seniman.

Saya bahkan tidak sempat menghadiri pameran Pinara Pitu di Santrian Gallery, Sanur. Pameran itu mempertemukan kembali tujuh anggota Kelompok 7 Sanggar Dewata Indonesia angkatan 1990, sebuah kelompok yang memiliki tempat penting dalam perjalanan seni rupa Bali. Saya hanya mengikuti kabarnya dari jauh dan berjanji, suatu saat nanti saya akan kembali lebih sering datang ke studionya.

Janji itu baru terasa penting setelah istri saya berpulang. Dua bulan lebih saya memilih berdiam di rumah. Dunia di luar terasa berjalan terlalu cepat. Ketika perlahan saya mulai merasa siap kembali bekerja dan bertemu orang-orang, ada satu tempat yang paling ingin saya datangi. Znerayusa.

Saya membayangkan kembali duduk di sana. Menulis, mengedit video, lalu sesekali mengambil kuas ketika Budhi mengajak melukis. Saya bahkan sudah membuat semacam janji kecil kepada diri sendiri: setidaknya seminggu sekali saya akan datang.

Rencana itu ternyata terlambat.

  • BACA JUGA:
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

Ketika saya menjenguknya di rumah sakit, Budhi masih melukis. Selang infus menempel di lengannya, tetapi kuas tetap berada di tangannya. Saya sempat merekamnya dengan telepon genggam. Ia bahkan memperlihatkan video yang dibuatnya sendiri ketika dipindahkan dari ruang UGD menuju ruang perawatan.

Saya sempat mengantarnya menjalani operasi kedua. Saat itulah saya mendengar dugaan bahwa kanker telah menjalar ke organ dalamnya. Sesudah operasi itu, saya lebih banyak mengikuti kabarnya melalui Alwy yang setia menemaninya bersama Muda Wijaya dan Nuryana Asmaudi.

Jumat subuh, 10 Juli 2026, dalam perjalanan pulang dari Surabaya, saya mengirim pesan kepada Alwy untuk menanyakan keadaan Budhi. Tak lama kemudian ia mengirim foto selasar ruang ICU. Saya memandangnya cukup lama dan memutuskan akan langsung menjenguk Budhi setiba di Bali.

Pukul sebelas siang, sebelum niat itu sempat saya lakukan, Wayan Jengki Sunarta mengabarkan bahwa Budhi telah berpulang.

Saya terdiam.

Yang terlintas bukanlah pelukis yang pernah berpameran di Jerman, Australia, Belanda, Swiss, Singapura, atau Malaysia. Bukan pula penerima berbagai penghargaan itu. Yang saya ingat justru sebuah studio di Jalan Bung Tomo, musik The Doors yang diputar keras-keras, cat dan kuas yang selalu sudah disiapkan, serta seorang lelaki yang tak pernah lelah mengajak saya melukis.

Saya tidak pernah sempat memenuhi janji kepada diri sendiri untuk kembali lebih sering datang ke Znerayusa. Mungkin memang begitulah cara seorang guru tetap tinggal. Ia tidak lagi membuka pintu studio atau menyodorkan kuas.

“Tak akan ada yang salah.” [T]

Tags: Made BudhianaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Next Post

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  ---Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co