12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Agung Bawantara by Agung Bawantara
July 12, 2026
in Esai
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Made Budhiana

HAL pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras di studionya. Kadang Pink Floyd. Sesekali Scorpions. Musik itu mengalun di antara kanvas-kanvas yang bersandar di dinding, rak lukisan di dekat plafon, tumpukan buku seni rupa, kaset, VCD, DVD, LaserDisc, dan piringan hitam. Di sela-selanya berdiri kaleng-kaleng bekas yang telah berubah menjadi benda seni. Studio itu bernama Znerayusa, di Jalan Bung Tomo, Ubung, Denpasar.

Rumah itu tidak pernah berusaha mengesankan siapa pun. Ia seperti tumbuh mengikuti kehidupan pemiliknya. Sebagian ruang hampir tanpa sekat. Di mana-mana berdiri atau bersandar kanvas berbagai ukuran. Di dekat plafon terdapat rak panjang tempat lukisan-lukisan disimpan, yang hanya bisa dijangkau melalui tangga besi atau tangga gantung dari tali. Saya selalu membayangkan hanya orang yang masih memiliki kelincahan seperti Budhi di masa mudanya yang sanggup naik turun dengan nyaman melalui tangga itu.

Di halaman, batu-batu diletakkan begitu saja. Atau lebih tepatnya, sengaja dibiarkan seolah-olah alam sendiri yang menaruhnya ribuan tahun silam. Rumput liar tumbuh tanpa pernah terlihat liar. Ketika kebun itu lama tak dirawat, ia tidak berubah menjadi semak yang menyedihkan. Ia justru tampak seperti lanskap yang memang memilih tumbuh demikian.

Di sisi bangunan terdapat tempat berolahraga yang ia rancang sendiri. Saya beberapa kali melihatnya bergelantungan pada dua lingkaran besi, melakukan gerakan yang mengingatkan saya pada yoga. Tubuhnya bergerak ringan, seperti masih menyimpan tenaga seorang anak muda.

Di bagian belakang berdiri sebuah jineng yang disulap menjadi kamar tamu. Di bawahnya terdapat ruang lesehan. Beberapa kursi santai menghadap ke bangunan utama, yang empernya sewaktu-waktu dapat berubah menjadi panggung. Saya membayangkan tak terhitung percakapan tentang seni, sastra, musik, atau sekadar kehidupan yang lahir di sana.

Saya datang pertama kali ke Znerayusa bukan untuk melukis. Malam itu Putu Satria Koesuma menggelar Pentas 100 Monolog. Saat itu saya masih mengelola Denpasar Film Festival yang berfokus pada pengembangan film dokumenter. Di antara para penonton saya bertemu Made Adnyana Ole bersama istri dan anaknya. Menjelang pertunjukan dimulai, saya berbincang dengan Wayan Jengki Sunarta. Saya masih ingat pernah berkata kepada Jengki bahwa Ole sebenarnya memenuhi banyak syarat untuk menginisiasi sebuah festival besar. Percakapan kecil itu mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain. Tetapi bagi saya, malam itu menjadi awal dari perkenalan dengan rumah yang kelak berkali-kali saya datangi.

Sebenarnya nama Made Budhiana sudah lebih dulu saya kenal daripada orangnya.

Bertahun-tahun sebelumnya, ketika masih tinggal di Jakarta dan bekerja di dunia media serta film, saya sering menjumpai namanya dalam tulisan-tulisan seni rupa. Saya juga mengenalnya melalui katalog-katalog pameran. Satu di antaranya lewat buku yang ditulis almarhum Ayip Budiman terbitan MataMera. Di situ saya pertama kali melihat foto Budhi. Potret hitam putih karya Rama Surya. Saya belum mengenalnya. Tetapi dari tulisan-tulisan itu saya merasa sedang membaca kisah seorang pelukis yang tak pernah benar-benar puas mengikuti jalan yang telah dibuka orang lain. Ia belajar kepada banyak pendahulu. Namun pada suatu persimpangan, ia memilih berjalan sendirian.

Made Budhiana lahir di Denpasar pada 27 Maret 1959 dan menempuh pendidikan seni rupa di ISI Yogyakarta. Karya-karyanya kemudian dipamerkan di Jerman, Swiss, Australia, Belanda, Singapura, Malaysia, dan berbagai kota di Indonesia. Ia menerima sejumlah penghargaan, termasuk Bali Art Award dan Pratisara Affandi Adhi Karya.

Saya belum pernah bertamu ke rumah seorang pelukis yang perpustakaannya dipenuhi buku-buku seni rupa. Di rak-rak lain tersusun rapi kaset, VCD, DVD, LaserDisc, hingga piringan hitam yang bahkan diburu para kolektor. Di sela-selanya berdiri benda-benda seni, berdampingan dengan kaleng-kaleng bekas yang telah disentuh kreativitasnya hingga kehilangan fungsi semula.

Studio itu terasa hidup bahkan ketika tak ada orang berbicara. Orang datang silih berganti. Perupa, penyair, musisi, komposer, pengamat seni, penulis, atau sekadar kawan yang ingin menghabiskan sore di sana. Saya beberapa kali berjumpa Wayan Yudane, Nyoman Erawan, Wayan Suardika, Ayu Weda, Sugi Lanus, GM Sukawidana, Rudi Waisnawa, Tan Lioe Ie, Dewa Budjana, Arief B Prasetyo, dan almarhumah Cok Sawitri. Seniman dari luar Bali juga banyak bertandang ke sana. Ada Sutjipto Hadi, Raudal Tanjung Banua, AS Laksana, Sawung Jabo, dan banya lagi. Di lain waktu hadir wajah-wajah baru, termasuk para perupa muda yang datang untuk belajar atau sekadar berbincang.

Lama-kelamaan saya menyadari sesuatu. Hampir setiap orang yang datang ke Znerayusa merasa dirinya sahabat dekat Budhi. Dan mungkin memang begitu. Budhi tidak pernah membuat orang merasa sebagai tamu. Ia membuat setiap orang merasa menjadi bagian dari rumah itu.

Berbeda dengan banyak seniman yang menjaga jarak melalui reputasinya, Budhi justru menghapus jarak dengan percakapan. Ia lebih suka bertanya daripada bercerita tentang dirinya sendiri. Ia lebih sering mempersilakan orang lain berkarya daripada memamerkan karya-karyanya.

Setiap kali saya datang, Budhi hampir selalu mengajak saya melukis. Saya selalu menolak dengan alasan yang sama: saya bukan pelukis. Ia hanya tersenyum, seolah tahu suatu hari saya akan berhenti mengucapkannya.

*

Pada suatu siang di Rumah Sanur—creative hub yang kini sudah tutup—Budhi menjelaskan kepada saya sesuatu yang belakangan saya sadari bukan sekadar cara melukis. Itu adalah cara menjalani hidup.

Kami sedang minum kopi. Saya sudah lupa bagaimana percakapan itu bermula. Yang masih saya ingat hanyalah suaranya yang pelan.

“Melukis itu, Gung, menyelaraskan pikiran, perasaan, dan emosi.”

Ia mengatakannya tanpa nada menggurui, seolah sedang menceritakan sesuatu yang sangat sederhana.

“Mula-mula kenali dengan pikiranmu apa yang hendak kamu lukis. Kenali juga alat yang kamu pakai. Jangan merasa tahu kalau memang belum tahu. Jangan memaksakan diri menjadi orang lain.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Sesudah itu, hayati semuanya dengan perasaan. Kalau sudah, lupakan pikiran dan perasaanmu. Lukislah dengan emosi.”

Ia lalu memberi contoh yang tak pernah saya lupakan.

“Kalau kamu mendengar suara burung, lukis suara itu. Kalau ada orang ribut, lukis keributannya. Kalau ada teman datang mengeluh tentang hidupnya, jangan merasa terganggu. Dengarkan saja. Lukiskan semuanya.”

Ia tersenyum tipis.

“Nanti ketika temanmu selesai curhat, lukisanmu juga selesai.”

Bertahun-tahun kemudian saya baru mengerti, Budhi sebenarnya sedang berbicara tentang kejujuran. Bukan tentang teknik. Budhi tidak pernah terlalu tertarik pada teknik sebagai tujuan. Teknik baginya hanyalah kendaraan.

Untuk menjelaskan maksudnya, ia mengambil contoh yang sama sekali tidak berhubungan dengan seni. Motor trail.

Berkali-kali saya melihatnya datang dengan motor trail. Baginya, cara melukis tak berbeda dengan cara mengendarai motor itu.

“Kalau mau menyalip kendaraan,” katanya, “pertama kamu hitung dengan pikiranmu. Aman atau tidak. Lalu rasakan. Sesudah yakin…”

Ia membuat gerakan tangan seperti menarik gas.

“…baru tancap. Jangan lagi berpikir. Jangan lagi bermain rasa. Cukup emosi.”

  • BACA JUGA:
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Sejak percakapan itu, setiap kali saya datang ke Znerayusa, Budhi hampir selalu sudah menyiapkan kertas, cat, dan kuas. Ia tidak lagi mempersoalkan apakah saya merasa diri pelukis atau bukan. Yang penting saya mulai menggoreskan kuas.

Satu kalimat yang paling sering diulangnya hanya ini: “Tak akan ada yang salah.”

Semula saya mengira itu sekadar penyemangat. Belakangan saya paham, ia sungguh mempercayainya. Kejujuran lebih penting daripada kesempurnaan.

Budhi percaya semua yang ditangkap pancaindra dapat berpindah ke atas kanvas: suara, cahaya, bau, percakapan, bahkan kegaduhan. Karena itulah saya tak pernah benar-benar menganggap lukisan-lukisannya sebagai abstraksi. Di antara garis-garis yang bergerak saya masih melihat perahu, pura, pohon, gunung, wajah manusia, atau binatang yang sesaat muncul lalu menghilang. Budhi tidak melukis benda. Ia melukis pengalaman.

Belakangan saya mengetahui salah satu guru terpentingnya bukanlah pelukis besar. Namanya Ni Tunjung, perempuan yang hidup menyendiri di pesisir timur Bali dan oleh sebagian orang dianggap tidak waras. Setiap hari ia menggambar batu kali dan batu karang dengan kapur tulis. Budhi datang bukan untuk mengajarinya, melainkan belajar darinya. Nyonyo Esha merekam perjumpaan itu dalam sebuah film dokumenter.

Kisah itu, bagi saya, menjelaskan Budhi lebih baik daripada daftar panjang pameran internasasional dan penghargaan yang pernah diraihnya. Di tengah reputasinya, ia justru memilih berguru kepada seseorang yang nyaris tak dikenal dunia seni. Ia tidak mencari legitimasi. Ia mencari kejujuran.

*

Empat tahun terakhir saya semakin jarang datang ke Znerayusa.

Istri saya berjuang melawan kanker payudara. Sebagian besar waktu, tenaga, dan pikiran saya tercurah untuk merawatnya. Saya masih mengikuti kabar Budhi melalui media sosial. Hampir setiap kali saya mengunggah sesuatu, ia menyempatkan memberi komentar. Saya pun selalu menikmati unggahan-unggahannya; kadang sebuah lukisan yang baru selesai, kadang sekadar potongan peristiwa sehari-hari yang ia pandang dengan mata seorang seniman.

Saya bahkan tidak sempat menghadiri pameran Pinara Pitu di Santrian Gallery, Sanur. Pameran itu mempertemukan kembali tujuh anggota Kelompok 7 Sanggar Dewata Indonesia angkatan 1990, sebuah kelompok yang memiliki tempat penting dalam perjalanan seni rupa Bali. Saya hanya mengikuti kabarnya dari jauh dan berjanji, suatu saat nanti saya akan kembali lebih sering datang ke studionya.

Janji itu baru terasa penting setelah istri saya berpulang. Dua bulan lebih saya memilih berdiam di rumah. Dunia di luar terasa berjalan terlalu cepat. Ketika perlahan saya mulai merasa siap kembali bekerja dan bertemu orang-orang, ada satu tempat yang paling ingin saya datangi. Znerayusa.

Saya membayangkan kembali duduk di sana. Menulis, mengedit video, lalu sesekali mengambil kuas ketika Budhi mengajak melukis. Saya bahkan sudah membuat semacam janji kecil kepada diri sendiri: setidaknya seminggu sekali saya akan datang.

Rencana itu ternyata terlambat.

  • BACA JUGA:
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

Ketika saya menjenguknya di rumah sakit, Budhi masih melukis. Selang infus menempel di lengannya, tetapi kuas tetap berada di tangannya. Saya sempat merekamnya dengan telepon genggam. Ia bahkan memperlihatkan video yang dibuatnya sendiri ketika dipindahkan dari ruang UGD menuju ruang perawatan.

Saya sempat mengantarnya menjalani operasi kedua. Saat itulah saya mendengar dugaan bahwa kanker telah menjalar ke organ dalamnya. Sesudah operasi itu, saya lebih banyak mengikuti kabarnya melalui Alwy yang setia menemaninya bersama Muda Wijaya dan Nuryana Asmaudi.

Jumat subuh, 10 Juli 2026, dalam perjalanan pulang dari Surabaya, saya mengirim pesan kepada Alwy untuk menanyakan keadaan Budhi. Tak lama kemudian ia mengirim foto selasar ruang ICU. Saya memandangnya cukup lama dan memutuskan akan langsung menjenguk Budhi setiba di Bali.

Pukul sebelas siang, sebelum niat itu sempat saya lakukan, Wayan Jengki Sunarta mengabarkan bahwa Budhi telah berpulang.

Saya terdiam.

Yang terlintas bukanlah pelukis yang pernah berpameran di Jerman, Australia, Belanda, Swiss, Singapura, atau Malaysia. Bukan pula penerima berbagai penghargaan itu. Yang saya ingat justru sebuah studio di Jalan Bung Tomo, musik The Doors yang diputar keras-keras, cat dan kuas yang selalu sudah disiapkan, serta seorang lelaki yang tak pernah lelah mengajak saya melukis.

Saya tidak pernah sempat memenuhi janji kepada diri sendiri untuk kembali lebih sering datang ke Znerayusa. Mungkin memang begitulah cara seorang guru tetap tinggal. Ia tidak lagi membuka pintu studio atau menyodorkan kuas.

“Tak akan ada yang salah.” [T]

Tags: Made BudhianaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Next Post

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

by Satria Aditya
July 7, 2026
0
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

Read moreDetails

Era Chatting Telah Berlalu

by Angga Wijaya
July 7, 2026
0
Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

Read moreDetails

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
0
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

Read moreDetails
Next Post
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  ---Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

HAL pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co