8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
in Esai
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

Ilustrasi ꟷ para murid SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar saat ujian menggunakan gawai

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar tidak lagi berlangsung secara utuh. Di tengah kehadiran gawai yang nyaris selalu menyertai aktivitas murid, menjaga perhatian menjadi tantangan yang semakin nyata bagi sekolah.

Dari persoalan itulah lahir Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembatasan penggunaan gawai di sekolah. Kebijakan ini tidak melarang teknologi, melainkan mengatur penggunaannya agar tetap mendukung pembelajaran. Tujuannya jelas demi meningkatkan konsentrasi belajar, menjaga kualitas interaksi di lingkungan sekolah, serta melindungi murid dari risiko adiksi digital.

Pembatasan penggunaan gawai juga bukanlah langkah mundur di tengah arus digitalisasi pendidikan. Sebaliknya, kebijakan ini mengingatkan kembali bahwa teknologi merupakan sarana, bukan tujuan. Sekolah tidak sedang menjauhkan murid dari perkembangan zaman, melainkan berupaya memastikan bahwa teknologi digunakan secara tepat, proporsional, dan menyokong tumbuhnya pengalaman belajar yang bermakna.

Selama beberapa tahun terakhir, gawai telah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja. Perangkat ini membuka akses terhadap informasi, pengetahuan, dan berbagai sumber belajar yang sebelumnya sulit dijangkau. Murid dapat mencari referensi dalam hitungan detik, mengikuti kelas daring, berdiskusi melalui berbagai platform, hingga mengembangkan keterampilan baru secara mandiri. Kemajuan ini patut disyukuri karena memperluas kesempatan belajar tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Namun, setiap kemajuan juga menghadirkan tantangan. Di ruang kelas, gawai tidak hanya menjadi alat belajar, tetapi juga membawa berbagai distraksi. Notifikasi media sosial, games, video pendek, hingga arus informasi yang terus mengalir memperebutkan perhatian murid. Ketika perhatian berpindah dari proses belajar ke layar, kemampuan untuk menyimak, memahami, dan mengolah informasi ikut menurun. Belajar tidak lagi berlangsung secara mendalam, melainkan sekadar berpindah dari satu stimulus ke stimulus berikutnya.

Di sinilah letak pentingnya kebijakan pembatasan penggunaan gawai. Yang diatur bukan keberadaan teknologinya, melainkan waktu, tempat, dan tujuan penggunaannya. Gawai tetap memiliki ruang dalam pembelajaran ketika benar-benar dibutuhkan, misalnya untuk mencari referensi, mengakses bahan ajar digital, atau mengerjakan proyek berbasis teknologi. Di luar kebutuhan tersebut, sekolah berupaya menciptakan lingkungan belajar yang memberi ruang lebih besar bagi perhatian, dialog, dan keterlibatan murid.

Hakikat pendidikan memang tidak pernah hanya soal menguasai informasi. Pendidikan adalah proses membangun cara berpikir, membentuk karakter, dan mengembangkan kemampuan hidup. Semua itu membutuhkan keterlibatan. Murid perlu mendengarkan dengan saksama, mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, menerima perbedaan, serta belajar bekerja sama. Pengalaman seperti ini tidak dapat digantikan oleh layar, secanggih apa pun teknologinya.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur dari seberapa sering teknologi digunakan di dalam kelas. Ukurannya adalah apakah teknologi benar-benar membuat murid belajar lebih baik. Jika penggunaan gawai justru mengurangi perhatian, menghambat interaksi, dan melemahkan keterlibatan dalam pembelajaran, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya cara murid menggunakan gawai, tetapi juga cara sekolah mengelola kehadiran teknologi di lingkungan belajar.

Pembatasan gawai juga merupakan bagian dari pendidikan literasi digital. Literasi digital tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat atau mencari informasi di internet. Literasi digital mencakup kemampuan mengendalikan penggunaan teknologi, memilih informasi secara kritis, serta memahami kapan seseorang perlu terhubung dan kapan perlu memberi ruang bagi dirinya. Kemampuan inilah yang semakin dibutuhkan di tengah derasnya arus informasi.

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin menegaskan bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan lagi sekadar mengakses informasi. AI mampu menyusun ringkasan, menjawab pertanyaan, menerjemahkan teks, bahkan membantu menulis dalam hitungan detik. Kemampuan tersebut dapat memperkaya pembelajaran apabila digunakan secara tepat. Dengan pendampingan guru, AI dapat menjadi mitra belajar yang membantu murid memahami materi, mengeksplorasi ide, dan memperluas wawasan.

Di masa depan, dunia kerja tetap membutuhkan generasi yang menguasai teknologi. Akan tetapi, penguasaan teknologi saja tidak cukup. Dunia juga membutuhkan individu yang mampu berkonsentrasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi secara efektif, dan bekerja sama dengan orang lain. Keterampilan tersebut tumbuh melalui pengalaman belajar yang utuh, bukan melalui paparan layar tanpa batas.

Pada akhirnya, meredupkan layar bukan berarti meredupkan masa depan. Sebaliknya, ketika layar ditempatkan secara proporsional, ruang belajar menjadi lebih hidup. Murid memiliki kesempatan untuk terlibat sepenuhnya di kelas. Sebab, pembelajaran yang paling berharga bukan hanya yang terjadi di hadapan layar, melainkan yang tumbuh dalam pengalaman hidup itu sendiri.[T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: handphonemedia sosialPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

Next Post

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co