PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar tidak lagi berlangsung secara utuh. Di tengah kehadiran gawai yang nyaris selalu menyertai aktivitas murid, menjaga perhatian menjadi tantangan yang semakin nyata bagi sekolah.
Dari persoalan itulah lahir Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembatasan penggunaan gawai di sekolah. Kebijakan ini tidak melarang teknologi, melainkan mengatur penggunaannya agar tetap mendukung pembelajaran. Tujuannya jelas demi meningkatkan konsentrasi belajar, menjaga kualitas interaksi di lingkungan sekolah, serta melindungi murid dari risiko adiksi digital.
Pembatasan penggunaan gawai juga bukanlah langkah mundur di tengah arus digitalisasi pendidikan. Sebaliknya, kebijakan ini mengingatkan kembali bahwa teknologi merupakan sarana, bukan tujuan. Sekolah tidak sedang menjauhkan murid dari perkembangan zaman, melainkan berupaya memastikan bahwa teknologi digunakan secara tepat, proporsional, dan menyokong tumbuhnya pengalaman belajar yang bermakna.
Selama beberapa tahun terakhir, gawai telah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja. Perangkat ini membuka akses terhadap informasi, pengetahuan, dan berbagai sumber belajar yang sebelumnya sulit dijangkau. Murid dapat mencari referensi dalam hitungan detik, mengikuti kelas daring, berdiskusi melalui berbagai platform, hingga mengembangkan keterampilan baru secara mandiri. Kemajuan ini patut disyukuri karena memperluas kesempatan belajar tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Namun, setiap kemajuan juga menghadirkan tantangan. Di ruang kelas, gawai tidak hanya menjadi alat belajar, tetapi juga membawa berbagai distraksi. Notifikasi media sosial, games, video pendek, hingga arus informasi yang terus mengalir memperebutkan perhatian murid. Ketika perhatian berpindah dari proses belajar ke layar, kemampuan untuk menyimak, memahami, dan mengolah informasi ikut menurun. Belajar tidak lagi berlangsung secara mendalam, melainkan sekadar berpindah dari satu stimulus ke stimulus berikutnya.
Di sinilah letak pentingnya kebijakan pembatasan penggunaan gawai. Yang diatur bukan keberadaan teknologinya, melainkan waktu, tempat, dan tujuan penggunaannya. Gawai tetap memiliki ruang dalam pembelajaran ketika benar-benar dibutuhkan, misalnya untuk mencari referensi, mengakses bahan ajar digital, atau mengerjakan proyek berbasis teknologi. Di luar kebutuhan tersebut, sekolah berupaya menciptakan lingkungan belajar yang memberi ruang lebih besar bagi perhatian, dialog, dan keterlibatan murid.
Hakikat pendidikan memang tidak pernah hanya soal menguasai informasi. Pendidikan adalah proses membangun cara berpikir, membentuk karakter, dan mengembangkan kemampuan hidup. Semua itu membutuhkan keterlibatan. Murid perlu mendengarkan dengan saksama, mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, menerima perbedaan, serta belajar bekerja sama. Pengalaman seperti ini tidak dapat digantikan oleh layar, secanggih apa pun teknologinya.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur dari seberapa sering teknologi digunakan di dalam kelas. Ukurannya adalah apakah teknologi benar-benar membuat murid belajar lebih baik. Jika penggunaan gawai justru mengurangi perhatian, menghambat interaksi, dan melemahkan keterlibatan dalam pembelajaran, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya cara murid menggunakan gawai, tetapi juga cara sekolah mengelola kehadiran teknologi di lingkungan belajar.
Pembatasan gawai juga merupakan bagian dari pendidikan literasi digital. Literasi digital tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat atau mencari informasi di internet. Literasi digital mencakup kemampuan mengendalikan penggunaan teknologi, memilih informasi secara kritis, serta memahami kapan seseorang perlu terhubung dan kapan perlu memberi ruang bagi dirinya. Kemampuan inilah yang semakin dibutuhkan di tengah derasnya arus informasi.
Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin menegaskan bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan lagi sekadar mengakses informasi. AI mampu menyusun ringkasan, menjawab pertanyaan, menerjemahkan teks, bahkan membantu menulis dalam hitungan detik. Kemampuan tersebut dapat memperkaya pembelajaran apabila digunakan secara tepat. Dengan pendampingan guru, AI dapat menjadi mitra belajar yang membantu murid memahami materi, mengeksplorasi ide, dan memperluas wawasan.
Di masa depan, dunia kerja tetap membutuhkan generasi yang menguasai teknologi. Akan tetapi, penguasaan teknologi saja tidak cukup. Dunia juga membutuhkan individu yang mampu berkonsentrasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi secara efektif, dan bekerja sama dengan orang lain. Keterampilan tersebut tumbuh melalui pengalaman belajar yang utuh, bukan melalui paparan layar tanpa batas.
Pada akhirnya, meredupkan layar bukan berarti meredupkan masa depan. Sebaliknya, ketika layar ditempatkan secara proporsional, ruang belajar menjadi lebih hidup. Murid memiliki kesempatan untuk terlibat sepenuhnya di kelas. Sebab, pembelajaran yang paling berharga bukan hanya yang terjadi di hadapan layar, melainkan yang tumbuh dalam pengalaman hidup itu sendiri.[T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























