CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di liang kerongkongan Anda. Nama minuman itu adalah Es Waneng.
Pada tiap tegukannya, es berwarna cokelat muda itu memberikan rasa manis yang berasal dari campuran gula aren dan gula pasir. Lalu setelah melewati ujung lidah, akan tercium aroma smokey dari bahan utama minuman itu, santan kelapa bakar.
Orang-orang biasanya memadukan Es Waneng dengan roti kembung tawar. Cara memadukannya adalah dengan mencelupkan roti ke dalam es, ketika roti itu menyerap es, teksturnya akan berubah lembut, berair, dan bersensasi dingin. Saat itulah saat yang tepat untuk menyantap dan membenamkannya ke dalam mulut.
Nama Es Waneng sendiri diambil dari nama perintisnya, I Nengah Waneng (alm). Ia mulai merintis es beraroma kelapa bakar itu sejak tahun 1938, saat usianya 18 tahun. Lantas, pada tahun 1998, usaha Es Waneng beralih waris ke anak bungsunya, Ni Nyoman Jumartini, setahun sebelum I Nengah Waneng meninggal dunia pada tahun 1999.
“Saya dulu hanya membantu bapak jualan, lalu sejak 1998 saya mulai meneruskan usaha ini,” ujar Jumartini sembari menjahit daun kelapa untuk persembahan.


Jumartini juga menuturkan bahwa, dulu, I Nengah Waneng memulai usaha ini dengan cara berjualan keliling, dengan cara dipikul menggunakan sebilah kayu yang disemati termos es di satu sisi dan kotak kayu kecil tempat gelas di sisi yang lainnya.
Kini, jika Anda ingin mencobanya, Es Waneng bisa dijumpai di sebuah kedai kecil di pinggir Jalan Mawar, No. 25, Gerokgak Gede, Tabanan. Hanya di lokasi itulah Anda bisa mendapatkan Es Waneng; tidak ada cabang; tidak ada kedai lainnya.
Meski sudah tidak dipikul dan berkeliling lagi, kayu pikul yang digunakan I Nengah Waneng masih setia dipakai di kedai yang sekarang. Tidak hanya kayu pikul, bahkan lonceng dan serutan es balok masih ada di kedai tersebut. Alat jualan ini menjadi pengingat bagaimana cara I Nengah Waneng berjualan dahulu.

Di kedai kecil itu, Jumartini dibantu oleh dua orang anaknya, Wayan Eka dan Kadek Sastrawan. Dua pria itulah yang kini lebih sering menuntaskan urusan dagang di kedai itu, kedai yang senantiasa ramai dengan lalu lalang manusia. Mulai dari anak sekolah dasar, sampai pegawai yang istirahat makan siang. Hampir-hampir 600 gelas bisa terjual habis dalam sehari. Meskipun demikian ramainya, kedai itu tetap tutup pukul enam sore tiap harinya, dan buka lagi pukul sepuluh di pagi harinya.
“Habis tidak habis, kami tutup pukul enam sore,” kata Eka sambil tertawa kecil.
Selain mewariskan Es Waneng, I Nengah Waneng juga mewariskan sebuah cerita tentang dirinya.
“Dulu kakek saya sempat menjadi juru masak Jepang,” ujar Eka.

Ya, menurut cerita keluarga, I Nengah Waneng pernah menjadi juru masak pada masa pendudukan Jepang. Namun, keluarga belum mengetahui secara pasti apakah ia tergabung dalam Heiho (pasukan pembantu Jepang pada saat perang dunia II) atau diperbantukan melalui jalur lain.
Sebab perkembangan usahanya, Wayan Eka juga menuturkan bahwa usaha keluarga Waneng ini sempat ditawari untuk diekspansi atau dibuatkan franchise, tapi ia menolaknya untuk menjaga warisan kakeknya itu, sampai ke generasi berikutnya.
“Sempat dulu ditawari franchise, tapi saya menolaknya,” tandas Eka dengan senyuman.
Kini, selain menjual Es Waneng, di kedai kecil itu turut menjual nasi jinggo dan lauk-pauk siap santap, harganya pun mulai dari dua ribu rupiah saja. Jadi, Anda bisa sarapan atau santap siang di sana, dengan makanan penutup Es Waneng.

Di tengah terik jalanan dan debu akibat penataan Kota Tabanan belakangan ini, rasanya segelas Es Waneng adalah pilihan tepat untuk melepas dahaga kerongkongan dan memberi jeda pada diri di siang hari untuk kembali menikmati rasa manis yang bertahan sejak 1938. [T]
Reporter/Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole






























