19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Wahyu Mahaputra by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
in Kuliner
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Kedai Es Waneng di Jalan Mawar, Gerokgak Gede, Tabanan

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di liang kerongkongan Anda. Nama minuman itu adalah Es Waneng.

Pada tiap tegukannya, es berwarna cokelat muda itu memberikan rasa manis yang berasal dari campuran gula aren dan gula pasir. Lalu setelah melewati ujung lidah, akan tercium aroma smokey dari bahan utama minuman itu, santan kelapa bakar.

Orang-orang biasanya memadukan Es Waneng dengan roti kembung tawar. Cara memadukannya adalah dengan mencelupkan roti ke dalam es, ketika roti itu menyerap es, teksturnya akan berubah lembut, berair, dan bersensasi dingin. Saat itulah saat yang tepat untuk menyantap dan membenamkannya ke dalam mulut.

Nama Es Waneng sendiri diambil dari nama perintisnya, I Nengah Waneng (alm). Ia mulai merintis es beraroma kelapa bakar itu sejak tahun 1938, saat usianya 18 tahun. Lantas, pada tahun 1998, usaha Es Waneng beralih waris ke anak bungsunya, Ni Nyoman Jumartini, setahun sebelum I Nengah Waneng meninggal dunia pada tahun 1999.

“Saya dulu hanya membantu bapak jualan, lalu sejak 1998 saya mulai meneruskan usaha ini,” ujar Jumartini sembari menjahit daun kelapa untuk persembahan.

Kadek Sastrawan Menyajikan Es Waneng | Foto: Wahyu Mahaputra

Jumartini juga menuturkan bahwa, dulu, I Nengah Waneng memulai usaha ini dengan cara berjualan keliling, dengan cara dipikul menggunakan sebilah kayu yang disemati termos es di satu sisi dan kotak kayu kecil tempat gelas di sisi yang lainnya.

Kini, jika Anda ingin mencobanya, Es Waneng bisa dijumpai di sebuah kedai kecil di pinggir Jalan Mawar, No. 25, Gerokgak Gede, Tabanan. Hanya di lokasi itulah Anda bisa mendapatkan Es Waneng; tidak ada cabang; tidak ada kedai lainnya.

Meski sudah tidak dipikul dan berkeliling lagi, kayu pikul yang digunakan I Nengah Waneng masih setia dipakai di kedai yang sekarang. Tidak hanya kayu pikul, bahkan lonceng dan serutan es balok masih ada di kedai tersebut. Alat jualan ini menjadi pengingat bagaimana cara I Nengah Waneng berjualan dahulu.

Dalam foto, Sosok I Nengah Waneng

Di kedai kecil itu, Jumartini dibantu oleh dua orang anaknya, Wayan Eka dan Kadek Sastrawan. Dua pria itulah yang kini lebih sering menuntaskan urusan dagang di kedai itu, kedai yang senantiasa ramai dengan lalu lalang manusia. Mulai dari anak sekolah dasar, sampai pegawai yang istirahat makan siang. Hampir-hampir 600 gelas bisa terjual habis dalam sehari. Meskipun demikian ramainya, kedai itu tetap tutup pukul enam sore tiap harinya, dan buka lagi pukul sepuluh di pagi harinya.

“Habis tidak habis, kami tutup pukul enam sore,” kata Eka sambil tertawa kecil.

Selain mewariskan Es Waneng, I Nengah Waneng juga mewariskan sebuah cerita tentang dirinya.

“Dulu kakek saya sempat menjadi juru masak Jepang,” ujar Eka.

Segelas Es Waneng dan Roti Kembung Tawar | Foto: Wahyu Mahaputra

Ya, menurut cerita keluarga, I Nengah Waneng pernah menjadi juru masak pada masa pendudukan Jepang. Namun, keluarga belum mengetahui secara pasti apakah ia tergabung dalam Heiho (pasukan pembantu Jepang pada saat perang dunia II) atau diperbantukan melalui jalur lain.

Sebab perkembangan usahanya, Wayan Eka juga menuturkan bahwa usaha keluarga Waneng ini sempat ditawari untuk diekspansi atau dibuatkan franchise, tapi ia menolaknya untuk menjaga warisan kakeknya itu, sampai ke generasi berikutnya.

“Sempat dulu ditawari franchise, tapi saya menolaknya,” tandas Eka dengan senyuman.

Kini, selain menjual Es Waneng, di kedai kecil itu turut menjual nasi jinggo dan lauk-pauk siap santap, harganya pun mulai dari dua ribu rupiah saja. Jadi, Anda bisa sarapan atau santap siang di sana, dengan makanan penutup Es Waneng.

Lauk-pauk Berjejer di Kedai Es Waneng | Foto: Wahyu Mahaputra

Di tengah terik jalanan dan debu akibat penataan Kota Tabanan belakangan ini, rasanya segelas Es Waneng adalah pilihan tepat untuk melepas dahaga kerongkongan dan memberi jeda pada diri di siang hari untuk kembali menikmati rasa manis yang bertahan sejak 1938. [T]

Reporter/Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole

Tags: es wanengkulinerminuman zaman dulutabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

Next Post

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

Wahyu Mahaputra

Wahyu Mahaputra

Bernama lengkap I Putu Wahyu Mahaputra, akrab dipanggil WM Putra, lahir di Gianyar, 14 Maret 2004. Masyarakat sipil biasa yang baru belajar menulis dan gemar mendengarkan nada-nada minor, sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha.

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co